Share

Bab 2

Author: Hana Pangestu
Aku kira dia akan marah dan mengataiku serakah. Tapi siapa sangka, dia hanya terdiam sejenak, lalu menjawab, "Baiklah, sampai jumpa malam ini."

Tiga tahun lalu, kami berdua bersama-sama mendirikan merek fashion bernama Vezzo Studio yang kini berkembang pesat.

Saat itu, Steve menyediakan modal, sementara aku berperan sebagai desainer. Bagiku, ini seperti mendapatkan segalanya tanpa mengeluarkan modal apapun.

Sekarang, perusahaan ini bernilai triliunan dan siap untuk go public. Masa depannya sangat cerah, tapi demi bersama Dewita, dia rela memberikannya kepadaku begitu saja.

Sepertinya mereka memang cinta sejati ...

Aku bangun dan melihat seluruh ruangan penuh dengan dekorasi pernikahan. Rasanya begitu menusuk mata dan ingin membakarnya hingga tak tersisa.

Aku memanggil beberapa orang dan memerintahkan mereka untuk mengemasi semua barang yang berhubungan dengan pria itu dari rumah ini.

Syukurlah! Untungnya aku bersikeras untuk tidak tidur bersamanya sebelum malam pernikahan. Jika tidak, aku bukan hanya kehilangan harga diri, tetapi juga akan merasa jijik.

Setelah semuanya beres, aku mengganti pakaian dan merias wajah. Baru saja selesai, suara mesin mobil terdengar dari halaman.

Steve sudah kembali.

Namun, dia tidak sendirian. Dia datang bersama ibunya, Sarah Liam.

Aku sedikit terkejut.

Apa Steve takut akan dirugikan, jadi membawa ibunya sebagai bala bantuan?

"Sudah pulang?" ujarku tetap duduk di sofa, tidak berdiri untuk menyambutnya. Setelah menyapa Steve, aku mengalihkan pandangan ke arah Sarah, "Tante juga datang rupanya."

Sarah tampak canggung. Dia tersenyum dan berkata, "Bukankah kamu sudah mulai memanggilku ibu? Kenapa sekarang kembali memanggilku tante?"

Aku tersenyum tipis dan menjawab langsung, "Ibuku sudah lama meninggal."

Dengan kata lain, dia tak pantas dipanggil begitu.

Seketika, ekspresi wajah Sarah terlihat membeku dan pucat.

Steve tampak tidak senang. Dia melangkah mendekat dan berkata, "Nora, aku yang mengkhianatimu, jangan salahkan ibuku."

"Dosa anak ditanggung ayah, oh jadi maksudmu, aku harus menyalahkan ayahmu?"

"Nora Tira!" ujar Steve dengan nada tinggi, jelas sekali dia marah.

Aku hanya mengangkat alis dengan santai dan tidak peduli.

Sarah menarik lengan putranya dan berbisik, "Bicarakan dengan baik, jangan bertengkar."

Steve akhirnya mengendalikan emosinya, lalu duduk di sofa seberangku. Dia mengeluarkan dokumen dan mendorongnya ke hadapanku.

"Sesuai keinginanmu, seluruh perusahaan ini menjadi milikmu dan pernikahan kita akan dibatalkan."

Aku meraih kontrak itu dan membacanya dengan cermat.

"Baik, masalah perusahaan selesai, tapi kamu juga mengambil gaun pengantinku, bukankah seharusnya kamu membayarnya juga?" tanyaku dengan tenang sambil menatapnya.

Steve mengernyit, tampaknya tidak menyangka aku akan begitu perhitungan.

"Berapa harganya?" tanyanya.

"Harga spesial, dua miliar."

Sarah terkejut, menjawab, "Nora, kamu mau merampok?"

"Tante, semua harga karyaku di dunia fashion sudah jelas, coba tanyakan pada anakmu saja?" jawabku sambil meliriknya dengan dingin.

Mereka berdua langsung terdiam.

"Lagian, kalian bisa saja nggak mengambilnya," lanjutku sambil mengangkat bahu santai, lalu menambahkan lagi, "Tapi aku yakin Dewita pasti mau gaun ini, jadi berapapun harganya, Steve pasti akan membelinya."

Steve menatapku dengan ekspresi terkejut.

Aku tahu, tebakanku pasti benar.

Sejak Dewita memasuki Keluarga Tira, apa pun yang aku inginkan, bahkan jika itu hanya sekedar sampah, dia pasti akan berusaha merebutnya dariku.

Hanya sebuah gaun pengantin, bisa dibeli di mana saja.

Namun, Steve tetap memilih mengambil gaun yang kubuat sendiri. Bukankah itu berarti itu kemauan Dewita?

Ternyata benar, setelah ragu sejenak, akhirnya Steve mengangguk dan menjawab, "Baiklah, sepakat dua miliar."

Sarah menatap anaknya dengan kaget, memarahinya, "Kamu gila? Uangmu kebanyakan?"

"Bu, jangan ikut campur urusan ini." Steve mengabaikan protes ibunya, lalu kembali menatapku, dia menambahkan, "Dewita sedang sakit parah, jadi dia nggak bisa memilih sendiri perhiasan untuk pernikahan. Dia bilang kamu sudah pilih semuanya, jadi lebih baik pakai punyamu saja."

Meski aku sudah menduga hal ini, tetap saja aku terkejut.

"Steve Joan, kalau Dewita menginginkan nyawaku, apa kamu juga akan menyewa pembunuh untuk mengambilnya?" Aku tak bisa menahan diri untuk mencibir.

Steve buru-buru menyangkal, "Nora, Dewita bukan orang seperti itu, kamu jangan salah paham padanya. Dia memang sakit parah dan nggak bisa mengurus pernikahannya sendiri, lagipula kamu juga sudah nggak membutuhkannya lagi."

Aku menatapnya diam-diam, lalu tersenyum sinis, "Steve, kamu masih ingat janjimu padaku dulu?"

Dia pernah bilang bahwa aku telah menyelamatkan nyawanya dan dia tak akan pernah mengkhianatiku, hanya akan mencintaiku seorang seumur hidupnya.

Tatapan Steve terlihat gelisah, seolah merasa bersalah. Dengan ragu, dia berkata, "Nora, tentu saja aku mencintaimu. Aku ... hanya merasa kasihan padanya. Dia masih begitu muda, lebih muda dua tahun darimu dan malah mengidap penyakit mematikan. Waktunya nggak banyak lagi. Dia juga adikmu, kamu nggak sedih sedikitpun?"

Aku teringat masa kecil, ketika Dewita sering merusak bajuku, memasukkan benda kotor ke kasurku, lalu tertawa melihatku ketakutan.

Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku mengejarnya dengan benda menjijikkan itu, mencoba memasukkannya ke mulutnya, hingga dia terjatuh dari tangga.

Aku dipukuli habis-habisan oleh ayah dan ibu tiriku, tapi aku tidak tinggal diam. Aku diam-diam merobek semua pakaian mereka hingga tak bersisa.

Bertahun-tahun aku bertarung dengan Keluarga Tira, aku bahkan menderita, tetapi mereka juga tidak hidup dengan nyaman. Namun, aku tetap sendirian melawan mereka.

Tidak akan ada yang tahu betapa bencinya aku pada Dewita dan ibunya.

Jadi, bagaimana mungkin aku sedih mendengar Dewita akan mati?

Aku tertawa sinis dan menjawab, "Ya, kasihan sekali, bunga yang baru saja mekar, tapi sudah layu. Ibu tiriku pasti sangat sedih, benar-benar menyedihkan!"

Mereka tidak peka bahwa diriku sedang menyindir, malah mulai terlihat murung.

"Benar ... " Tatapan Sarah memerah, air mata mengalir begitu saja. Dia melanjutkan, "Anak itu bagaikan darah daging seorang ibu, bagaimana mungkin ibunya nggak sedih? Kalau saja bisa menggantikannya untuk mati, ibunya pasti akan rela melakukannya."

"Bu ... jantungmu nggak sehat, dokter bilang nggak boleh terlalu bersedih," ujar Steve segera menenangkan ibunya, lalu menoleh ke arahhku dengan nada yang jauh lebih lembut, "Nora, aku akan menikahi Dewita dulu untuk memenuhi keinginannya sebelum meninggal. Setelah itu ... aku pasti akan memberimu pernikahan yang lebih megah dan istimewa."

Ucapan tak tahu malu itu membuatku tercengang.

Apa maksudnya?

"Maksudmu ... kamu mau menikahi Dewita dulu, lalu setelah dia meninggal, aku akan menjadi istri keduamu?" tanyaku memastikannya dengan begitu terkejut, bahkan hampir tertawa.

Aku adalah putri dari Keluarga Tira. Meski tidak begitu dipedulikan oleh keluarga, tapi kecantikan, kepintaran, kemampuan dan karirku menjadikanku salah satu wanita terpandang di kalangan sosial di Kota Belian.

Steve pikir siapa dirinya? Setelah membuangku, dia masih mengira aku akan menunggunya dan rela menjadi istri keduanya?

Kalaupun aku mau menikah, bukankah banyak para pria sukses dan berpengaruh di kota ini yang bisa kupilih sesukaku?

Melihat wajahku yang terkejut bukan main, ekspresi Steve semakin terlihat canggung. Namun, dia tetap mengatakan sesuatu yang lebih menjijikkan, "Kamulah wanita yang paling kucintai, tentu saja aku ingin menikahimu. Jangan bicara seperti itu, bagiku, kamu adalah istriku satu-satunya."

Bueeekkkk ...

Aku benar-benar tak tahan lagi dan langsung menarik kontrak itu, lalu menandatanganinya.

"Mau perhiasan, 'kan? Boleh, tapi tambah dua miliar lagi. Transfer uangnya ke rekeningku, besok aku sendiri yang akan mengantarkan semua perhiasan itu ke rumah sakit. Sekaligus menjenguk adik tersayangku itu."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 3

    Usai bicara, aku melemparkan kontrak itu tepat ke wajahnya, lalu berdiri dan mengusir mereka, "Aku mau istirahat, kalian minggat sekarang! Oh iya, jangan lupa bawa semua sampahmu pergi juga!"Aku masih tidak percaya, pria yang sudah kusukai sejak umur enam belas tahun, delapan tahun menyukainya, enam tahun berpacaran dan baru hari ini aku benar-benar melihat siapa dia sebenarnya!Aku harus berterima kasih pada Dewita. Jika bukan karena dia, aku pasti akan menikah dengan pria menjijikkan dan munafik ini. Hidupku pasti akan sangat menyedihkan!Sarah langsung marah karena ucapanku. Dia berdiri dan berkata, "Nora, ini semua salahmu! Kamu yang terlalu emosian! Lihatlah Dewita, dia begitu lembut, patuh, berpendidikan dan beretika. Setiap kali melihatku, dia selalu bersikap sopan, nggak seperti dirimu ... "Aku menahan rasa jijik yang hampir meluap dan kebetulan melihat anjing peliharaanku lewat di ruang tamu. Aku pun berbalik dan memanggilnya, "Bagel, gigit mereka!""Guk! Guk guk!" Bagel san

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 4

    Steve membeku, tidak bersuara.Sari langsung meninggikan suara, "Akhirnya kata-katamu bisa lebih manusiawi. Kita ini satu keluarga, bukankah sudah seharusnya kakak mengalah untuk adiknya? Anggap saja ini hadiah pernikahan darimu untuk adikmu."Aku tertawa dingin, menatap ibu tiri ini, lalu tiba-tiba berkata lembut, "Kalau begitu, aku harus memberikan satu hadiah lagi.""Hadiah apa?" tanya Sari.Aku menjawab, "Sebuah peti mati untuk diletakkan di tempat pernikahan.""Nora Tira!" Sari langsung naik pitam, wajahnya memuram karena marah, menatapku dengan penuh kebencian.Aku tersenyum dan menjelaskan dengan lembut, "Di zaman dulu, saat seorang wanita menikah, biasanya keluarga memasukkan peti mati dalam mas kawin. Pada hari pernikahan, peti itu dibawa bersama pengantin ke rumah suaminya. Sebagai kakak, hadiah pernikahan yang kuberikan ini sangat sesuai dengan tradisi, 'kan?"Kata-kataku masuk akal, mereka bahkan tak bisa membantah, hanya bisa menahan amarah dan menelannya.Sama seperti saa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 5

    Aku tertawa sinis, mengalihkan pandangan ke jalan yang ramai. Setelah menenangkan diri beberapa saat, aku menoleh kembali dan menyindirnya, "Steve, aku bukan tempat daur ulang sampah. Nggak peduli seberapa besar aku mencintaimu dulu atau seberapa banyak aku berkorban untukmu, sejak hari kamu memilih untuk mengkhianatiku, kamu sudah nggak pantas menerima cintaku lagi."Aku berbalik hendak pergi, tetapi tak bisa menahan diri untuk menoleh lagi dan menambahkan, "Sekalipun semua pria di dunia ini lenyap, aku tetap nggak akan sudi melihatmu lagi, sungguh menjijikkan."Mungkin sikapku yang begitu tegas sedikit melukai hati Steve. Tiba-tiba, dia melangkah maju, meraih tanganku dan mulai memohon, "Nora, aku mencintaimu. Aku sangat menghargai enam tahun kebersamaan kita. Tapi, Dewita sudah mau meninggal, dia begitu menyedihkan dan malang. Permintaan terakhirnya sebelum meninggal hanyalah ... " "Lepaskan aku!""Nora, aku bersumpah, setelah Dewita ... "Aku tak membiarkannya menyelesaikan omong

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 6

    "Nora, kalau sampai terjadi sesuatu pada Dewita, kamu harus tanggung jawab!" Steve memperingatkanku dengan wajah muramnya sebelum bergegas pergi, menggendong Dewita dalam pelukannya.Aku terpaku di tempat untuk waktu yang lama, pikiranku dipenuhi dengan ekspresi kejam dan kemarahan Steve padaku.Janji-janji setia di masa lalu kini terasa sangat menusuk. Sejak kapan dia berubah? Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?Aku larut dalam kesedihan, sampai akhirnya Angel masuk dan bertanya dengan cemas apakah aku baik-baik saja. Barulah aku tersadar dari lamunan.Meratapi pria brengsek seperti itu tidak ada gunanya. Aku menguatkan diri dan kembali fokus pada pekerjaan.Menjelang siang, ponselku berdering.Melihat nama Sari di layar, aku langsung menolak panggilan itu.Tak lama kemudian, ponselku berdering lagi.Kali ini dari ayahku.Aku mulai curiga, apa mungkin Dewita sudah meninggal?Setelah ragu sejenak, akhirnya aku pun mengangkat telepon itu.Namun, begitu aku mendekatkan ponsel ke t

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 7

    Aku menutupi mata yang perih dengan sapu tangan, menarik napas dalam-dalam, tak ingin tahu siapa yang duduk di sebelahku.Namun tiba-tiba, ayahku muncul dengan nada sangat hormat dan rendah hati, "Pak Billy, maaf atas ketidaknyamanannya, kursi VIP ada di sana, duduk di sana akan lebih nyaman.""Nggak perlu, aku duduk di sini saja," jawab pria yang dipanggil Billy itu dengan tenang, tapi tetap penuh wibawa.Ayahku masih ingin mengatakan sesuatu, tapi MC sudah memanggil masing-masing orang tua pengantin naik ke panggung. Sari segera datang dan menariknya pergi.Aku mendongak, menenangkan diri dan belum sempat mengembalikan sapu tangan itu, langsung terdengar suara menggema di seluruh aula, "Ayo, kita persilakan saksi pernikahan hari ini, Bu Nora Tira untuk naik ke atas panggung!"Seketika, lampu sorot menyala ke arahku. Aku terkejut dan tidak siap.Keributan yang tadinya memenuhi ruangan langsung mereda, membuat suasana sunyi senyap. Aku tahu, semua tamu terkejut dan heran. Ada yang mera

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 8

    Dewita menatapku dengan mata berkaca-kaca, bahkan terisak saat mulai berbicara.Mendengar setengahnya saja, aku sudah paham. Dia sedang menjual kesedihan di depan semua orang, memainkan trik manipulasi!"Terima kasih kepada kakakku karena telah merestui cinta antara aku dan Kak Steve. Terima kasih karena dia telah membuat diriku bisa pergi dari dunia ini tanpa penyesalan. Aku berharap kalian nggak mengejek kakakku, dia adalah kakak terbaik di dunia."Dewita menangis saat mengucapkan kata-kata itu. Aula yang tadinya penuh dengan ejekan dan suara riuh mendadak sunyi. Semua tamu kini benar-benar serius menatap ke arah panggung. Tidak ada lagi yang tertawa dan mencemooh.Aku juga melirik ke arah para tamu. Entah hanya khayalanku atau tidak, tapi aku menangkap sosok seorang pria tampan dengan mata setajam bintang di malam hari. Bibir tipisnya melengkung.Dia seperti tersenyum, tapi tidak sepenuhnya. Seakan sama sekali tidak tersentuh oleh aksi dramatis Dewita.Dewita berbalik menatapku deng

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 9

    Situasi di tempat resepsi mendadak menjadi kacau balau. Para tamu mengangkat ponsel mereka, sibuk merekam dan mengambil foto.Aku sendirian dan jelas berada dalam posisi yang lemah. Untungnya, orang tua Steve masih tahu malu, mereka buru-buru naik ke atas panggung untuk melerai."Pak Gaius! Bu Sari! Ini pernikahan anak-anak kita, banyak tamu yang melihat! Hentikan!""Jangan halangi aku! Aku harus menghajar anak durhaka ini hari ini! Dasar pembawa sial! Kelahiranmu hanya mendatangkan sial untukku!"Gaius benar-benar kehilangan kendali, wajahnya tampak ganas. Bahkan orang tua Steve tak sanggup menariknya pergi.Tiba-tiba, Sari berteriak, "Hentikan! Dewita pingsan! Cepat, tolong dia!"Gaius langsung terhenti. Dia menoleh dan tanpa pikir panjang mendorongku ke samping, lalu berlari ke arah putri kesayangannya. Dengan panik, dia berkata, "Apa yang terjadi? Cepat panggil ambulans!"Orang-orang yang tadi mengelilingiku langsung bubar. Semua berlari menuju pengantin yang kini tergeletak tak sa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 10

    Kenapa dia bisa datang ke pernikahan aku dan Steve?Aku benar-benar tak habis pikir, apa mungkin ada kesalahan?Tapi, mengingat orang itu jarang muncul di hadapan publik dan sekali muncul justru menyaksikan drama besar seperti ini, sepertinya perjalanannya kali ini tidak sia-sia.Tiba-tiba ponselku berdering, menarikku kembali dari pikiran yang berantakan.Dari ujung telepon, terdengar suara Wenny yang penuh kemarahan dan emosi, "Steve dan Dewita benar-benar menjijikkan! Aku hampir saja melempar ponselku saking kesalnya! Untung saja kamu nggak takut dan balas menyerang mereka! Mantap! Biar mereka kapok!"Aku menghela napas, bersandar di kursi dengan satu tangan menutupi dahi, "Jangan bilang ini sudah tersebar di seluruh media sosial?""Menurutmu? Drama langka seperti ini sulit ditemukan, bahkan sinetron paling dramatis pun nggak akan bisa mengalahkannya. Netizen sekarang terpecah jadi dua kubu, saling hujat dengan sengit."Aku memejamkan mata, kepalaku semakin sakit.Aku memang ingin m

Latest chapter

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 100

    Meskipun aku tidak menyukai mereka sekeluarga, bagaimanapun dia adalah orang yang lebih tua, demi kesopanan, aku tetap tersenyum dan menyapa, "Halo, tante.""Nora, jadi kamu benar-benar sudah bersama Pak Billy? Dia nggak tahu kamu itu janda? Statusmu ini jelas ... ""Ibu, bukan janda, dia bahkan belum resmi cerai dengan kakak! Kalau sekarang bersama Pak Billy, itu namanya selingkuh!"Ujar Stefi dengan wajah penuh penghinaan dan kemarahan, lalu menggerutu, "Ada apa sih dengan Pak Billy? Kok bisa tertarik dengannya? Selain cantik, apa lagi yang bisa dibanggakan?"Aku bahkan belum mengucapkan satu kata pun, tapi mereka sudah menempelkan label selingkuh padaku. Benar-benar tidak masuk akal.Aku tertawa sinis, "Stefi, otak itu hal yang bagus, sayangnya kamu nggak punya. Kalau kamu mau tahu siapa yang sebenarnya selingkuh, bagaimana kalau kita tanya orang-orang di sini?"Saat itu, peristiwa pernikahan konyol itu sudah jadi bahan tertawaan di seluruh kota. Semua orang tahu kalau Keluarga Joan

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 99

    Namun, di hadapan Jeff saat ini, situasinya tidak memungkinkan. Aku hanya bisa mencari kesempatan lain.Melihat aku sangat canggung, Billy segera membantuku keluar dari situasi ini, "Ayo, para tamu hampir semua sudah datang, pesta bakalan segera dimulai."Aku mengikuti Billy memasuki aula pesta dan sekali lagi mendapat pemahaman baru tentang arti sebenarnya dari kekuasaan dan status sosial.Di dalam Vila Solene terdapat sebuah bangunan bergaya barat tiga lantai yang berdiri sendiri. Bangunan ini memiliki aula pesta besar, ruang konferensi multifungsi dan klub rekreasi. Banunan ini terpisah dari bangunan utama rumahnya, Sehingga dapat memberikan tingkat privasi yang sangat baik bagi pemiliknya.Dekorasi seluruh bangunan tampak sederhana, tetapi sangat berkelas. Bahkan hiasan yang terlihat sepele pun merupakan koleksi seni bernilai tinggi.Saat ini, aula pesta sudah penuh dengan tamu. Suasana meriah dengan obrolan santai dan tawa para tamu yang jelas berasal dari kalangan atas.Aku melih

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 98

    "Bagaimana kamu menjelaskannya?""Bilang saja nggak ada apa-apa di antara kita. Aku nggak tidur denganmu, kamu juga nggak tidur denganku.""Kamu, seorang gadis menjelaskan hal seperti ini? Bukankah itu malah membuatku terlihat lebih tidak berani bertanggung jawab?""Aku ... " Aku hampir putus asa, malu bukan main dan bertanya, "Jadi harus bagaimana?"Saat kami sedang pusing memikirkan solusi, tiba-tiba terdengar suara seseorang, "Billy, kudengar kamu keluar khusus untuk menjemput tamu penting. Putri keluarga mana yang begitu kamu hormati?"Aku menoleh ke arah suara itu. Dari belakang Billy, seorang pria tinggi dan gagah melangkah mendekat. Aura karismatiknya terpancar jelas.Sebelum Billy berbalik, ekspresinya sudah semakin rumit."Datang juga orangnya," gumam Billy pelan.Mataku membelalak.Apa? Jadi dia ... Jeff Yosi?Aku tidak mengenalnya.Bagaimanapun, Keluarga Yosi dan Keluarga Solene berada di tingkat yang sama, sedangkan Keluarga Tira jelas berbeda kelas, kami tidak pernah berhu

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 97

    "Nggak, nggak! Bukan ... " Aku buru-buru melambaikan tangan, melangkah lebih cepat ke depan, tapi tetap saja tak bisa menahan diri untuk melirik Billy beberapa kali.Dalam hati, aku berdoa semoga saja orang yang mengendarai Bentley malam itu bukan Jeff.Sayangnya, doaku tidak terkabul.Melihat ekspresiku yang aneh dan tampak ragu-ragu, setelah berpikir sejenak, Billy bertanya, "Kamu bertemu Jeff akhir-akhir ini?"Begitu mendengar pertanyaannya, aku langsung paham.Aaaa ... aku ingin lenyap saja dari dunia ini!"Jadi ... apa yang Pak Jeff bilang padamu?" tanyaku pasrah, memutuskan untuk menghadapinya secara langsung.Billy menyipitkan matanya sedikit, lalu menampilkan ekspresi yang sulit dijelaskan, seperti malu tapi juga geli."Maksudmu ... tentang pertengkaranmu dengan Steve? Kamu bilang sudah tidur denganku dan bukan hanya sekali?"Aku langsung tersandung dan hampir saja terjatuh."Hati-hati!" Untung saja Billy sigap menarik lenganku.Wajahku langsung panas membara, sekujur tubuhku t

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 96

    Aku berputar beberapa kali di depan cermin dan merasa cukup puas dengan penampilanku.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku mengambilnya dan melihat nama Billy Solene di layar."Halo, Pak Billy.""Nora, sekitar sepuluh menit lagi, sopir bakal tiba di depan apartemenmu.""Iya, aku sudah siap juga, bakal turun sebentar lagi," jawabku dengan ringan, lalu menambahkan dengan sedikit sungkan, "Benar-benar merepotkanmu harus mengirim sopir untuk menjemputku.""Nggak masalah, jalanan di pegunungan kurang aman di malam hari. Karena aku yang mengundangmu, tentu aku juga harus memastikan keselamatanmu."Sikapnya selalu begitu penuh perhatian dan detail, seolah tak pernah meninggalkan celah.Setelah menutup telepon, aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu mengecek kembali apakah aku sudah membawa lipstik dan bedak. Setelah memastikan semuanya beres, aku pun berangkat.Di sepanjang perjalanan, perasaanku melambung, tegang sekaligus penuh ekspektasi,Saat ini, aku sudah melupakan semua keraguan yang s

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 95

    Aku baru sadar, tidak heran Steve terlihat begitu lesu dan muram, wajahnya pun tampak pucat."Nora, tolong bantu Dewita. Semua kesalahan di masa lalu itu ulah kami, Aku minta maaf padamu, ya? Kumohon, kasihanilah dia, pergi ke rumah sakit dan bantu dia ... "Sari maju dan meraih tanganku dengan erat. Gerakannya yang tiba-tiba itu sampai membuat anjingku terkejut dan melompat mundur ke belakangku.Keningku semakin berkerut, aku menatap Sari sambil tertawa dingin dalam hati."Benar-benar langka, tak kusangka aku bisa mendengar permintaan maaf darimu dalam hidup ini," kataku dengan nada menyindir."Aku minta maaf padamu, Nora. Aku bakal turuti apapun yang kamu mau, asal kamu mau selamatkan Dewita. Bagaimanapun, dia itu adik kandungmu, dia itu manusia yang hidupnya berharga ... " ujar Sari mulai menangis, tampak benar-benar tidak rela kehilangan putrinya.Sebagai seorang ibu, dia memang terlihat sangat menyayangi anaknya. Dewita pun bisa dibilang beruntung dalam hal ini.Namun, pikiranku m

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 94

    Tak disangka, ternyata Billy juga mengetahuinya.Hal ini membuat suasana jadi agak canggung, terutama karena aku berbohong pada Billy, mengatakan bahwa aku sudah tidur dengan pria di hadapanku ini, bahkan berkali-kali. Memikirkan itu saja sudah membuat lidahku nyaris kelu."Ehm ... dia nggak mau cerai denganku, jadi aku hanya bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Sidangnya akan digelar tanggal 6 bulan depan," ujarku menjelaskan, merasa sedikit bersalah dan tidak berani menatap Billy."Tanggal 6 bulan depan? Masih ada setengah bulan.""Iya, ini sudah sesuai jadwal dari pengadilan, jadi nggak ada pilihan lain.""Iya, nggak perlu terburu-buru," ujarnya menenangkanku, lalu menambahkan, "Tapi dalam kasus gugatan cerai, biasanya sidang pertama itu mediasi, jadi kemungkinan besar nggak akan langsung dikabulkan. Biasanya harus menunggu enam bulan untuk mengajukan gugatan kedua, barulah hakin cenderung mengabulkan perceraian.""Iya, pengacaraku juga sudah mengatakan hal yang sama. Aku harus be

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 93

    Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diriku sendiri, hanya benar-benar malu sampai tidak bisa mengangkat kepala di depannya.Billy melihat betapa malunya aku, seolah ingin mencari lubang untuk bersembunyi. Dengan sangat sopan, dia menghiburku, "Sesekali bersenang-senang dengan teman-teman itu hal yang baik. Bisa melepaskan rasa penat dan stres di hati. Lagipula, soal kejadian malam itu, selain aku, nggak ada orang lain yang tahu. Jadi tenang saja, aku akan merahasiakannya."Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan nada bercanda dan di matanya seperti ada sedikit ... keakraban yang samar.Aku menatapnya dengan ekspresi canggung dan membeku.Beberapa saat kemudian, rasa canggung itu semakin menjadi-jadi, pipiku terasa panas seperti terbakar.Jantungku kembali berdebar kencang dan pikiranku mulai berkelana ke arah yang tidak seharusnya.Insting wanita membertahuku bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam hubungan kami, benar-benar tidak biasa.Tapi, aku tidak bisa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 92

    Wajahku terasa semakin panas.Orang mabuk muntah itu menjijikkan, baunya juga tidak enak.Dan dia, seorang pria kaya raya yang terbiasa hidup bersih dan elegan, malah harus mengurus aku yang muntah-muntah?!Tidak heran saat aku bangun keesokan paginya, tempat sampah sudah bersih.Ternyata dia yang membersihkannya malam itu."Aku baru sadar saat sampai di rumah, tapi ... aku nggak berani meneleponmu. Hari ini malah merepotkanmu, kamu sampai repot-repot mengantarnya ke sini," katanya santai, sepertinya tidak sadar betapa malunya aku saat ini.Kata-kata itu seolah menggelitik saraf kecanggunganku. Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya polos, "Kamu ... nggak berani meneleponku?"Billy tersenyum, matanya seakan bersinar dan wajahnya terlihat agak malu."Iya, aku takut kalau kamu melihat jam tangan itu, kamu bakal mengira aku sengaja meninggalkannya sebagai alasan untuk menghubungimu lagi. Sebelumnya, sepertinya ada kesalahpahaman antara kita, hubungan kita juga jadi agak renggang, jadi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status