Bian langsung menerobos masuk tanpa permisi ke ruangan Liam. Liam yang melihat kedatangan sang sepupu dalam keadaan kedua tangan terkepal dan napas memburu, seketika penasaran. "Liam, jawab aku. Apakah Kalista sedang hamil?"Liam menjatuhkan pulpen yang ia pegang sedari tadi. Kedua bibirnya terbuka dengan raut wajah yang jelas penuh pertimbangan. "Jawab aku. Jawab, Lian!" Akhirnya Bian berteriak. Liam berusaha untuk tetap tenang. Ia katupkan kembali kedua bibirnya dan memungut pulpennya yang jatuh. "Iya. Dia hamil," jawab Liam. Bian mencengkeram tepian meja dengan bulir air mata yang kembali turun. "Apa itu anakku?" tanya Bian sekali lagi dengan sedikit suara gemetar. "Memangnya mengapa? Jangan katakan bila kau ingin membujuknya lagi untuk rujuk. Well, dia sudah sangat bahagia tanpamu." Sorot mata Liam tajam menatap obsidian sayu milik Bian yang begitu putus asa. "Jika itu anakku, artinya ketika sedang cerai berlangsung, dia sedang hamil. Aku ingin bertanggung jawab pada darah
Hari minggu jam dua siang saat itu, sesuai janji, Liam dan Kalista pergi membeli sabun. "Oke. Elit sekali kita membeli sabun cuci saja harus ke mall," seloroh Kalista yang berjalan disamping Liam. "Kal, pegang lenganku. Ibu hamil jangan berjalan tanpa pegangan." Liam mempersilakan Kalista memegangi lengannya. Kalista pun melakukannya, karena ia tidak merasa percaya diri berjalan bersisian. Ditambah sudah lama tidak ke mall, maka Kalista khawatir akan tersesat, meski sebenarnya itu semua tidak ada kemungkinan terjadi. "Mau makan dulu, Kal? Isi bensin dulu biar bumil kuat," ajak Liam yang langsung dianggukki persetujuan dari Kalista. Meski Kalista sudah makan di rumah, tetap saja Kalista tidak akan menolak bila ditawari makan lagi. Ayolah, Shooky butuh asupan yang melimpah di dalam sana! "Jangan makan ini," ujar Liam menunjuk sushi dengan matanya. Kalista hanya tersenyum manis, karena ia sudah tahu bila wanita hamil seperti dirinya harus mengonsumsi makanan matang. "Kal, kenapa
Jihan memandang penuh tanda tanya pada Liam yang menggenggam erat jemari Kalista. Tidak sampai disitu, Jihan juga bertanya-tanya, mengapa Liam dan Kalista keluar dari toko perlengkapan bayi? Lalu, tatapan penuh selidik Jihan turun pada perut Kalista yang membucit. Jihan tidak bodoh untuk menyimpulkan bila Kalista sama-sama berbadan dua seperti dirinya. Namun Kalista hamil anak siapa? Dilihat dari ukuran perutnya, itu bukan kehamilan trimester pertama. Kemungkinan besar trimester kedua, pikir Jihan. Apakah mungkin anak Bian? Tapi, benarkah? Bian sama terpakunya ketika menatap Liam yang berani-beraninya menggenggam tangan Kalista. Jelas Bian tidak suka, tetapi ia sadar untuk tidak langsung memisahkan keduanya. Jika melihat kedekatan Liam dan Kalista secara langsung seperti sekarang, mendadak saja, Bian mengingat perkataan Nevan di chat tempo hari. Apakah benar Liam dan Kalista sudah berpacaran? Sejak kapan? Apa benar sebelum ia dan Kalista bercerai? Oh, t
Kalista dan Liam sudah tiba di depan loket. "Kau tunggu di sini," pinta Liam yang dengan berat hati melepaskan gandengannya. Liam mengerti bila suasana hati dan pikiran Kalista sedang kacau. Semoga saja dengan mengajaknya menonton film, Kalista akan sedikit membaik. Setelah selesai mengurus berbagai macam tetek bengeknya, Liam pun menuntun Kalista ke studio pemutaran film dan memilih tempat duduk yang tidak dekat dengan speaker. Selain itu, Liam juga memilih film yang bertema ringan dan sederhana. Mengingat Kalista yang sedang hamil, tentu Liam tidak ingin wanita itu tiba-tiba shock atau bahkan pingsan lagi bila dipilihkan film yang ada jumpscare-nya. "Kal, semoga filmnya bisa menghiburmu. Maaf atas kejadian tadi. Andai aku tidak merengek pada penjaga toko untuk menukar warna pakaian, pasti kita ke sini lebih cepat sehingga tidak harus bertemu dengan Jihan dan Bian.""Val, jangan meminta maaf." Kalista merasa tidak enak sekali lagi de
"Pasti banyak orang yang tidak percaya bila laki-laki sepertimu tidak pernah berciuman," ujar Kalista yang semakin membuat Liam menciut. Tidak pernah rasanya Liam merasa malu hanya karena perihal pernah berciuman atau tidak selama hidupnya. Sedangkan Kalista malah tampak santai saja dan masih mengunyah pop corn-nya. "Memangnya aneh ya kalau ada manusia dewasa yang belum pernah berciuman?" "Tentu tidak. Kalau aku jodohmu, aku akan sangat senang bila mendapatkan suami sepertimu. Sudah tampan, baik hati, tidak pernah disentuh wanita lain lagi. Mungkin kau definisi lelaki idaman yang sebenarnya." Kalista terkekeh pada akhirnya. Tanpa ia sadari, lelaki di sampingnya menyembunyikan semburat merah pada pipinya. Liam rasanya ingin berguling-guling di tangga saking senangnya. Liam merasa ketularan jatuh cinta seperti kedua mantan suami Kalista. "Aku jadi penasaran, siapa jodohmu. Aku jadi ingat Likha. Kau mau tahu rahasia, tidak?"
"Val, terima kasih. Tidak menyangka kita malah keterusan jalan sampai malam." Mereka sudah tiba di kediaman Kalista. Liam juga diajak mampir, karena dibujuki Kalista untuk makan sate telur puyuh, makanan yang Kalista beli saat tak sengaja melihat angkringan tepi jalan ketika dalam perjalanan pulang. "Apa sungguh tidak masalah bila aku mampir? Siapa tahu kau tidak terima tamu di malam hari.""Kau bukan tamu. Kau itu temanku, Val. Lagipula sebentar lagi hujan. Aroma basah sudah tercium. Jadi lebih baik mampir dulu menemaniku makan sate telur puyuh." Kalista menutup pintu kemudian meletakkan sate telur puyuhnya di atas meja makan. Liam mengambil piring kosong di kabinet dapur dan membuka bungkusan plastik sate telur puyuhnya untuk dihidangkan. "Aku tinggal sebentar dulu. Aku ingin buang air kecil," ucap Kalista yang setelah kembali sudah mengenakan setelan baju tidur lucu bermotif biskuit coklat yang tertawa lebar hingga satu gigi besarn
Hujan deras dan angin kencang di luar semakin menderu ribut. Bahkan petir semakin sering menggema. Akan tetapi, Kalista tidak takut lagi. Berada di pelukan Liam adalah rasa aman yang sesungguhnya. ***Aroma petrikor selalu membuat rileks bagi mereka yang menyukainya. Namun, aroma itu tidak bisa dirasakan oleh kedua insan yang berpelukan di tempat tidur dengan hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya. Kalista membuka matanya lebih dulu. Tentu pemandangan yang ia tatap pertama kali adalah wajah rupawan Liam yang malam tadi terlihat seratus kali lebih tampan dari biasanya. Jemari Kalista menelusuri garis rahang Liam yang ditumbuhi bulu-bulu tipis yang memberikan sensasi menggelitik nikmat ketika bersentuhan dengan gundukan dadanya malam tadi. Masih terbayang betapa lembutnya Liam memperlakukannya malam tadi. Ditambah setiap pujian yang ia lontarkan, semakin membuat Kalista lupa bila dirinya sedang berhubungan
Mengapa malah Kalista yang lebih dulu mengajaknya menikah? Bukankah harusnya dirinya yang melamar lebih dulu? Mengapa Liam rasanya selalu kalah start dari Kalista? Bahkan berciuman saja, juga Kalista yang memulai. Melihat ekspresi Liam, malah membuat Kalista mencubit pipinya hingga Liam mengaduh kesakitan. "Val, aku boleh bertanya?" Liam menyimak dengan baik, apapun pertanyaan yang akan diberikan oleh Kalista, akan berusaha Liam jawab. "Kita ini apa? Setelah yang kita lalui sebelum ini, status hubungan kita apa?" Liam terdiam. Ia pikir sekarang dirinya dan Kalista adalah sepasang kekasih. Bukankah sudah jelas dengan apa yang dikatakannya berulang kali di tengah pergelutan tempat tidur malam tadi? "Kita pacaran." Liam menyebutkannya hati-hati sekali. Mengapa rasanya aneh mengatakan ini? Apalagi melihat ekspresi Kalista yang seperti tampak kecewa? Apa jawabannya salah? Liam kembali berpikir. Apa Kalista in