“Mandul?” tanya Arhan Bahtiar Rajastra pada dokter kandungan yang ada di hadapannya.
Arhan Bahtiar Rajastra, pria kaya raya berusia 32 tahun. Pria tampan pemilik hidung mancung itu saat ini sedang mengambil hasil pemeriksaan kesuburan dirinya dan sang istri. Namun ia dikejutkan oleh hasil yang diberikan dokter. Pria pemilik perusahaan Datvil property itu membolakan mata dengan tangan bergetar saat memegang kertas hasil pemeriksaan. “Tidak, tidak mungkin. Ini pasti salah,” racaunya tak percaya. “Hasil pengujian ini sudah akurat, Pak. Jika Anda masih ragu bisa lakukan pemeriksaan ulang. Tapi seperti yang Anda tahu, ini sudah yang ke tiga kalinya Anda memeriksakan kesuburan Anda dan istri,” balas Dokter di hadapannya. Arhan meremas kertas tersebut dengan rahang mengeras dan keluar dari ruangan dokter. Langkah pria itu terkesan angkuh saat meninggalkan rumah sakit sambil memegang kertas yang sangat ia benci. Arhan berkendara dengan menggila, mobil yang ia kemudikan membelah jalan raya tanpa memikirkan keselamatan diri juga pengguna jalan lainnya. “Berengsek! Kalau seperti ini bagaimana aku bisa punya anak?!” makinya, berulang kali memukul kemudi mobil. Pria bermata coklat itu kembali ke rumah bak istana yang ia bangun bersama sang Ibu. Begitu sampai ia langsung mencari keberadaan sang istri, Lula Faradhisa, gadis desa yang ia pinang dua tahun lalu. “Mi. mana Lula?” tanya Arhan dengan nada tak bersahabat. “Lula pergi, mungkin sebentar lagi pulang. Ada apa?” tanya Edna Aurora, Ibu kandung Arhan. “Kamu dari rumah sakit kan? Gimana hasilnya? Kalian semua subur kan? Bisa kasih Mami keturunan kan?” tanya Edna terkesan menuntut penuh harap. Arhan tak langsung menjawabnya, ia mengepalkan tangan sambil mengulas senyum pahit. Tatapan Edna pun seolah menuntut jawaban yang hanya ia inginkan. Membuat Arhan merasa tertekan dan takut dengan apa yang akan dilakukan Edna jika tahu mereka tidak akan pernah bisa mendapat keturunan. “Kami tidak bisa punya anak, Mi,” balasnya dengan suara bergetar. “Apa?! Jadi selama ini Lula mandul?!” tanya Edna memperjelas ucapan Arhan. Arhan tersenyum getir dengan lidah keluh, enggan untuk membalas pertayaan sang Ibu. Membuat Edna yang terkenal dengan perangai buruknya seketika mengubah raut wajah. Ia tersenyum tipis, namun tangannya terkepal seolah menahan gejolak amarah di hatinya. “Sudahlah, Mi. Jangan bicarakan anak terus, aku pusing,” pinta Arhan sambil melonggarkan dasinya, lalu berjalan melintasi Edna dengan langkah gontai. * * * Tak berselang lama Lula, wanita yang telah dinikahi Arhan dua tahun lalu pulang dengan beberapa paper bag di tangannya. Wanita cantik berusia 27 tahun itu melenggang dengan santai menuju kamar. Ia pun tersenyum saat melihat sang suami sudah berada di rumah. Bersantai dengan tab di tangannya sambil bersandar di atas tempat tidur mereka. “Sayang... Kamu sudah pulang? Kirain aku kamu masih di kantor,” sapa Lula seraya mengecup kedua punggung tangan juga pipi suaminya. Arhan terdiam, tak membalas kecupan yang biasa mereka lakukan saat bertemu, baik di rumah ataupun di luar rumah. Lula mengerenyit heran pada sikap tak biasa suaminya. Ia duduk di samping Arhan dan merangkul lengan sang suami dengan manja. “Kamu capek ya?” tanya Lula. “Hmm….” Lula menghela napas, ia kembali memeluk tubuh sang suami yang selalu memanjakannya itu dengan mesra. Namun pergerakan Lula ditampis oleh Arhan meski dengan gerakan lembut. “Aku lelah, aku mau istirahat,” ucap Arhan malas, lalu membaringkan diri di tempat tidur, bahkan memunggungi istrinya. Lula hanya tersenyum sambil mengangguk meski ia merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya. Lula Faradisha, dua tahun lalu ia hanya seorang gadis lugu berasal dari desa. Keberuntungan hidup menjadikannya Cinderella di dunia nyata. Harta, cinta, bahkan perhatian dari keluarga Arhan telah ia dapatkan tanpa kekurangan sedikit pun. Bibir mungil wanita itu tersenyum meski samar, lalu beranjak dari tempatnya untuk membersihkan diri. Mengganti pakaian dan duduk di samping Arhan. “Sayang… Aku tahu kalau kamu sedang berpura-pura lelah. Cerita dong kamu kenapa? Lagi ada masalah ya di kantor?” tanya Lula sambil mengusap rambut Arhan dengan lembut. “Aku lelah sayang." Arhan sedikit acuh tanpa mau membuka matanya. “Lelah banget? Yaudah deh kalau gitu, padahal aku mau cerita sama kamu kalau Kakak aku di kampung sudah lahiran. Nanti kita ke kampung ya, aku kangen banget pengen ketemu sama keponakan aku.” Arhan langsung membuka matanya, ia menegakkan tubuh dan duduk bersejajar di samping istrinya. Kata anak yang keluar dari mulut Lula kembali membakar api di hati yang sudah hampir padam. Namun kekesalan di wajah Arhan tak disadari oleh Lula, wanita itu pun tersenyum dan kembali bergelayut manja di lengan suaminya. “Nggak!” balas Arhan dengan ketus. Lula terkejut dengan nada bicara Arhan, ia melepaskan tangannya dan menatap wajah sang suami dengan lekat. “Kok gitu? Oh iya… kamu pasti sibuk banget ya, yaudah deh, aku sendiri aja yang ke sana.” Lula masih berusaha berpikir positif akan perubahan suaminya. Arhan mengusap wajah dengan gusar sambil menghela napas. “Terserah kamu, malam ini aku pergi ke luar kota. Ada kerjaan mendadak selama dua bulan,” balasnya. Lula mulai merasa tak tenang, tak biasanya Arhan bersikap acuh dan kasar padanya. Bahkan pria itu selalu menghindari tatapan mata sang istri. Arhan beranjak dan mengemasi pakaian ke dalam koper seorang diri. Padahal selama dua tahun ini semua kebutuhannya, Lula sendiri yang menyiapkannya. Lula langsung mengejar langkah Arhan ke dalam walk in closet yang ada di dalam kamar mereka. “Aku aja yang siapin, kamu istirahat aja.” cegah Lula saat Arhan hendak memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Arhan tak menolak, ia menjatuhkan setelan jas yang sudah diambilnya begitu saja ke lantai, lalu pergi dari hadapan istrinya. Jantung Lula bergemuruh saat melihat sikap acuh suaminya. Mata jernihnya pun mulai berkaca-kaca. “Sayang… kamu kenapa sih? Aku ada salah apa sama kamu?” lirihnya sambil memeluk pakaian Arhan yang tadi dijatuhkan. Lula menangis tanpa tahu apa yang terjadi. Meski begitu ia tetap mengemasi keperluan suaminya sambil terisak. Begitu selesai Lula keluar dan mencari keberadaan Arhan. Langkah kakinya terhenti saat ia melihat keberadaan Arhan di balkon kamarnya. Lula ingin kembali melangkah, namun langkah itu tertahan karena percakapan Arhan di telepon yang masih bisa didengarnya. Terlebih pria itu menyebutkan namanya dalam percakapan mereka. “Aku minta jangan beri tahu Lula, biar aku saja yang memberitahu hasilnya,” ucap Arhan membuat kening Lula mengerenyit bingung. “Ah ya satu lagi, setelah pulang dinas aku akan melakukan pengecekan lagi. Aku tidak yakin dengan hasil kemarin. Pasti ada kesalahan,” sambungnya. Lula masih mendengarkan percakapan suaminya entah dengan siapa. Tanpa senaja wanita itu menyenggol vas bunga yang ada di dekat pintu. “Astaga, untung tidak jatuh,” gumamnya sambil menangkap vas bunga tersebut dengan satu tangan. Arhan mendengar suara Lula, ia langsung bergegas dan mengambil alih vas bunga yang ada di tangan istrinya. “Kamu nggakpapa?” tanya Arhan menunjukkan perhatiannya. Hati Lula menghangat saat menerima perhatian tersebut. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum hingga lesung pipinya terlihat. “Nggakpapa kok, tadi hanya tidak sengaja kesenggol,” balas Lula. “Syukurlah kalau begitu, lain kali hati-hati,” ucap Arhan kembali dengan sikap dingin. Lula merasa bingung dengan perubahan sikap Arhan yang tak bisa ia mengerti. Ia pun merasa penasaran dengan percakapan sang suami di telepon tadi. “Sayang… tadi kamu nelpon siapa?” tanya Lula mencari tahu. “Bukan siapa-siapa,” balas Arhan acuh lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Pria yang biasa dipanggil Arhan itu masih belum mepercayai hasil lab yang ia lihat tadi. Ia masih belum percaya jika mereka tidak bisa memiliki keturunan. Hatinya merasa sedih, seolah ada ribuan jarum yang menusuknya. Ia pun merasa bingung harus bagaimana mengatakannya pada sang istri. ‘Sudahlah, nanti akan aku beri tahu setelah pulang dinas,’ batinnya. “Tapi kok kamu nyebutin nama aku sih? Apa yang nggak boleh aku tahu?” tanya Lula penasaran. “Jangan banyak tanya, kepalaku sakit. Lebih baik buatkan aku kopi.” Lula membungkam mulutnya, ia tersenyum getir sambil menerka apa yang sebenarnya terjadi. Wanita itu keluar dari kamar dengan langkah tak fokus hingga hampir terjatuh dari tangga. “Astaga… apa yang aku pikirkan? Mungkin suamiku sedang banyak pikiran karena perkerjaannya yang menumpuk. Ayolah La, berpikir positif aja,” gumamnya berusaha menenangkan diri. Lula membuatkan kopi untuk Arhan di dapur. Setelah siap ia langsung kembali ke kamarnya dengan semangat. Namun semangat itu berganti dengan kecemasan juga keterkejutan ketika Ibu mertua yang biasa bersikap lembut melontarkan makian untuknya. “Menantu tak berguna!” Maki Edna membuat jantung Lula bergemuruh hebat dan hampir menjatuhkan gelas yang ia pegang.“Kenapa liatin saya kayak gitu? Heran kenapa saya bersikap seperti ini? Sia-sia saya menikahkanmu dengan Arhan, benar-benar menantu pembawa sial!” maki Edna lagi lalu pergi meninggalkan Lula yang kini tengah mematung. Lula benar-benar tak paham dengan apa yang terjadi. Kakinya nampak tak bertenaga hingga ia langsung terduduk di bangku yang ada di dekatnya. Matanya berkaca-kaca sambil menatap punggung Ibu mertua yang kian menjauh. “M-mami kenapa ngomongnya gitu? Aku salah apa?” lirihnya tak bertenaga. Tangan Lula masih bergetar, namun ia memaksakan diri untuk menormalkan kembali kondisinya. Wanita itu kembali melanjutkan langkah dengan beribu tanya di kepala. Tatapannya nampak kosong bahkan sampai masuk ke dalam kamar. Lula melihat Arhan di balkon kamar. Pria bertubuh tegap itu tengah asik menghisap rokoknya sambil menatap langit. “Ini kopinya.” Lula meletakkan kopi di meja bundar kecil yang ada di samping suaminya. Tatapan mata wanita itu masih saja hampa hingga membuat
"Ayo masuk Baby...." ajak pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Lula. "A-apa yang kau lakukan?! Lepas! Lepaskan aku!" Lula melakukan pemberontakan, namun sayangnya tenaga yang ia keluarkan tak sebanding dengan tenaga pria itu. Kepanikan mulai melanda hati, tubuhnya bergetar hebat saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Lula berteriak bahkan sampai pintu itu hendak ditutup. Lula berusaha meraih pintu dan mencengkeramnya dengan erat untuk mempertahankan diri agar tak masuk lebih dalam lagi ke dalam kamar tersebut. Ia pun berteriak meminta pertolongan Edna, namun sayangnya semua itu sia-sia. "Mi!... Mami!" teriak Lula panik saat Edna hanya tersenyum sambil bersedekap dada, seolah menikmati ketakutan di wajah Lula. Edna mengulas seringai, lalu pergi dari sana sambil bersenandung, kemudian menemui teman-temannya di restoran yang ada di hotel tersebut. Sedangkan Lula, wanita malang itu tengah dilanda ketakutan yang sangat luar biasa. Dengan tangan berg
"Dasar menantu sialan! Beginilah kalau keseringan dimanja, lelet!" kakinya. Edna duduk di sofa, mengacuhkan kesedihan juga kesengsaraan Lula saat ini. Lula dengan tubuh yang masih terasa sakit melilit tubuhnya dengan selimut dan meraih pakaiannya sambil terisak. Ia tersenyum miris dan berjalan sambil memperhatikan Edna yang tengah asik dengan ponselnya. Bahkan wanita paruh baya itu tertawa terbahak-bahak, entah apa yang membuatnya bahagia. Tak berselang lama Lula keluar dengan mengenakan pakaiannya semula, namun tidak dengan riasan wajah karena ia tak membawa itu semua. Edna menoleh, lalu mencebikkan bibirnya saat melihat kesedihan dan jejak air mata di wajah menantunya. Pria sialan itu juga nampaknya tak ingin merugi hingga meninggalkan banyak jejak merah hingga membiru di leher juga di lengan Lula yang sangat ketara. Lula berusaha menutupi tanda merah itu dengan rambut panjangnya, namun sayangnya tanda itu tak bisa ditutupi dengan sempurna. "Kenapa tidak merias diri?" tanya
“Lama sekali, cepatlah. Seperti tidak pernah melakukan itu saja. Tidak usah manja,” ucap Edna sinis pada menantunya. Lula mengangguk tanpa ekspresi. Ia berusaha menerka apa yang membuat Ibu mertua tega melakukan hal keji ini padanya. Dalam diam Lula mengikuti langkah Edna dari belakang dan masuk ke dalam mobil. Tubuhnya terlihat kaku dan takut karena Edna tak juga menunjukkan sikap lembutnya. “M-mi, kalau aku ada salah aku minta maaf,” lirihnya berusaha membuka pembicaraan. “Hmm." Edna masih acuh dan hanya berdeham untuk membalas ucapan Lula. Lula menelan kepahitan hidup, tanpa sadar air matanya menetes dan berusaha membuang pandangannya ke luar jendela. Mati-matian Lula menahan sesak di hati meski terasa sangat sulit. Perjalanan kembali hening, tak ada satupun dari mereka yang membuka suaranya. Begitu sampai Edna langsung masuk ke kamar dan mengisitirahatkan diri dengan nyaman. Namun tidak dengan Lula yang kini sedang meringkuk di samping kasur sambil menangis. Ia membi
“Lama sekali, cepatlah. Seperti tidak pernah melakukan itu saja. Tidak usah manja,” ucap Edna sinis pada menantunya. Lula mengangguk tanpa ekspresi. Ia berusaha menerka apa yang membuat Ibu mertua tega melakukan hal keji ini padanya. Dalam diam Lula mengikuti langkah Edna dari belakang dan masuk ke dalam mobil. Tubuhnya terlihat kaku dan takut karena Edna tak juga menunjukkan sikap lembutnya. “M-mi, kalau aku ada salah aku minta maaf,” lirihnya berusaha membuka pembicaraan. “Hmm." Edna masih acuh dan hanya berdeham untuk membalas ucapan Lula. Lula menelan kepahitan hidup, tanpa sadar air matanya menetes dan berusaha membuang pandangannya ke luar jendela. Mati-matian Lula menahan sesak di hati meski terasa sangat sulit. Perjalanan kembali hening, tak ada satupun dari mereka yang membuka suaranya. Begitu sampai Edna langsung masuk ke kamar dan mengisitirahatkan diri dengan nyaman. Namun tidak dengan Lula yang kini sedang meringkuk di samping kasur sambil menangis. Ia membi
"Cepatlah masuk," pinta Edna berusaha bersikap lembut untuk mengelabui Lula. Edna menarik paksa Lula hingga wanita itu memasuki mobilnya. Lula merasa panik, ia berusaha melarikan diri namun sikap Edna kembali mengecohnya. Wanita paruh baya itu bersikap lembut, tersenyum seperti biasa hingga Lula teringat tentang kebaikan mertuanya. "Tenanglah, apa yang kau takutkan, hem? Aku hanya ingin mengantarmu, apakah ada yang salah? Aku juga ingin bertemu dengan ibumu," ucap Edna dengan nada setenang mungkin. Lula mengerenyit heran, ia memperhatikan wajah Edna dengan seksama. "T-tapi, Mi. Mami serius mau ikut ke kampung juga?" tanya Lula memastikan. Namun sedetik kemudian kening Lula mengerenyit heran, merasa curiga pada niat Edna yang sebenarnya. 'Rasanya aku tidak percaya Mami mau ke kampung. Tidak mungkin juga Mami tidak membawa pakaian ganti, atau jangan-jangan....' batin Lula kembali cemas, namun sialnya sudah terlambat karena Edna telah menjalankan mobilnya. Wanita berambut pan
"Tempat apa ini?" tanya Lula seraya memperhatikan sekitar. Rumah yang ia tapaki terlihat begitu mewah. Barang-barang yang ada di dalamnya pun nampak memukau matanya. Namun sayangnya kemewahan itu tak membuat Lula senang. Ia bergidik ngeri saat beberapa pasang pria dan wanita melintasinya sambil bercium*n. "Aku rasa kau bukan wanita bodoh, seharusnya kau tahu ini tempat apa," balas Lucia sinis. Lula menelan air liurnya sendiri. Ia pun kini telah masuk ke dalam kamar yang terlihat begitu rapi, bersih dan elagan. Sprei putih juga dekorasi serba putih telihat begitu menenangkan layaknya desain hotel mewah. Lucia mengambil pakaian dari dalam lemari dan melemparnya pada Lula. "Pakai itu, setelahnya aku akan merias wajahmu. Sepuluh menit lagi aku akan kembali," perintah Lucia lalu keluar dari kamar Lula. Lula terperangah dengan gaun merah yang terlihat sangat minim. Gaun dengan lengan spageti, juga potongan rendah di bagian bawah membuat Lula enggan untuk memakainya. "Tidak,
"Aku bukan pria bodoh sayang... Mana mungkin aku mempertaruhkan hidupku untuk melawan Stella. Yang aku butuhkan hanya kepuasan, dan kau harus memuaskanku sekarang juga," balas pria bertubuh tambun dengan seringai di wajahnya. Lula pikir pria itu mau membantu karena ekspresi yang dikeluarkannya. Namun nyatanya pemikiran itu salah, Lula kembali jatuh ke dalam lubang yang sama seperti semalam. Pria tambun itu memaksakan kehendaknya dan memperlakukan Lula seperti wanita-wanita lain yang ada di rumah itu. Lula berteriak, menjerit bahkan memukuli pria itu, namun bukan kebebasan yang ia dapatkan. Melainkan pukulan demi pukulan juga penyiksaan terhadap tubuhnya. "Tidak!...." teriak Lula frustasi. Pria tambun yang sudah terbakar gairah itu tak ingin menghentikan apa yang sudah ia mulai. Lula terus berteriak dan menangis ketika menerima sentuhannya. Pria itu langsung tersenyum puas dan keluar dari kamar begitu mendapatkan kepuasannya. Tapi tidak dengan Lula yang kini meringkuk di kasur
Teriakan Lula terdengar sampai ke luar rumah, menarik perhatian beberapa tetangga yang sedang melintas. Ibu Lula segera masuk ke kamar dengan napas tersengal, menemukan putrinya berdiri gemetar, dengan tangan mencengkeram sisi ranjang. "Lula, Nak... tenang, Ibu di sini," ujar ibunya lembut, mencoba mendekati. Namun, Lula mundur ke sudut kamar, tubuhnya berguncang hebat. "Mereka semua jahat, Bu... mereka bicara di belakangku, mereka bilang aku lemah... aku... aku tidak butuh mereka!" Matanya penuh air mata, suaranya melengking penuh rasa sakit. Ayah Lula menyusul masuk, wajahnya tegang. "Apa yang terjadi, Bu?" tanyanya sambil menatap putrinya yang mulai tersedu-sedu. "Lula mendengar sesuatu, Pak... mungkin tentang gosip itu," jawab istrinya, suaranya bergetar. "Diam semua! Jangan mendekat!" Lula berteriak lagi, matanya liar memandang orang tuanya. Ia seperti terjebak dalam pikirannya sendiri, mengingat kembali kejadian-kejadian yang menghancurkan dirinya. Ayah Lula mengepalkan ta
"Aku harus menemui Lula, aku nggak bisa kehilangan dia," racau Arhan sambil menatap punggung ayah mertuanya yang kian menjauh. Langkah Arhan terasa berat saat ia mengikuti ayah mertuanya yang berjalan cepat menuju kamar Lula. Tubuhnya terasa lemas, tidak hanya karena kelelahan fisik tetapi juga karena beban emosional yang terus menekan dadanya. Setiap langkah seolah menjadi pengingat atas kesalahan-kesalahan yang ia biarkan terjadi. Sesampainya di depan pintu kamar Lula, Arhan memberanikan diri untuk berbicara. "Pak, saya mohon… izinkan saya melihat Lula. Saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," pintanya dengan suara parau, penuh harap. Namun, ayah Lula menatapnya dengan dingin, lalu menggeleng tegas. "Kamu nggak berhak menemui Lula. Cukup sudah. Jangan tambah beban hidupnya," ucapnya keras. Arhan menunduk, air mata mengalir di wajahnya. Ia tidak bisa melawan keputusan itu, hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu. Saat pintu kamar tertutup, ia melangkah mundur, menatap
"Pak, sebenarnya apa yang terjadi dengan Lula?" tanya ibu Lula sambil terisak. "Bapak juga nggak tahu, Bu. Semoga bukan hal buruk, semoga Lula hanya bermimpi," balasnya penuh harap, berharap keadaan putrinya tak seburuk yang ia pikirkan. Setelah perawat memberikan Lula obat penenang, suasana di ruang rawat perlahan kembali sunyi. Kedua orang tua Lula duduk di kursi dekat tempat tidur dengan wajah penuh kecemasan. Sang ibu terus menggenggam tangan anaknya yang terkulai lemah, sementara sang ayah hanya bisa mondar-mandir dengan ekspresi penuh ketegangan. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Berjam-jam mereka menunggu Lula sadarkan diri, perasaan khawatir semakin menghimpit dada. Hingga akhirnya, saat malam mulai larut, Lula perlahan membuka matanya. Tubuhnya yang lemah bergerak sedikit, dan air mata mulai mengalir di sudut matanya. "Lula... Nak, kamu sudah sadar?" tanya ibunya dengan suara penuh haru. Ia segera mendekat, menggenggam tangan putrinya. "Ibu... Bapak..." suara Lula be
"Semua ini salahku. Ini semua salahku," racau Arhan sambil memukuli tembok. Tangisan Arhan pecah di depan ruang tindakan. Tubuhnya bergetar hebat, dan rasa bersalah mulai menyelimuti pikirannya. Ia teringat pada Lula, wajah istrinya yang ceria, suara lembutnya, dan setiap kenangan yang mereka bagi. Semua itu terasa seperti mimpi yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Dokter yang tadi berbicara dengan Arhan segera masuk kembali ke ruang tindakan, sementara beberapa perawat yang membawa tandu keluar dari ruangan itu terlihat sibuk menuju koridor lain. Arhan terus memandangi pintu ruang tindakan, berharap ada keajaiban yang datang. Orang tua Lula pun hanya bisa diam, tak berani berkata banyak melihat kondisi Arhan yang semakin kacau. Tak lama, salah satu dokter keluar lagi dari ruang tindakan. Kali ini, ekspresi wajahnya terlihat sedikit lega meskipun tetap serius. "Pak, istri Anda selamat. Kami berhasil menghentikan pendarahannya, tetapi... maafkan kami. Kami tidak bisa menyelama
"Dokter! Cepat bantu wanita ini! Cepat!" teriak Pak tua yang menolong Lula. Pria itu menggendong Lula dengan sisa tenaga yang ia miliki, meski dengan langkah tertatih. Beberapa petugas kesehatan pun mulai berlari ke arahnya, mengambil alih tubuh Lula. "Selamatkan dia, saya mohon," pinta Pak tua tak tega dengan nasib Lula. Lula terbaring lemah di ruang rumah sakit, tubuhnya dipenuhi luka-luka dan pendarahan yang cukup parah. Dokter yang memeriksa dengan cepat memberi tahu pria tua yang menolongnya, bahwa ada tulang lengan Lula yang patah. Selain itu, pendarahan yang terjadi sangat mengkhawatirkan, yang akhirnya mengonfirmasi bahwa janin di rahim Lula telah keguguran. "Apa? Separah itu?!" tanyanya Terkejut. "Ya, sepertinya dia terkena benturan keras. Kalau Anda bilang menemukannya di jalan, bisa saja dia tertabrak kendaraan yang melintas," balas Dokter dengan wajah serius. Pria tua itu meluruhkan pundaknya, menatap nanar pada ruang tindakan yang ada di hadapannya. "Anda bisa
"Cepat periksa semua ruangan, kepung mereka agar tidak ada yang bisa melarikan diri!" teriak komandan polisi. Polisi sudah mulai menggeledah rumah itu. Mereka masuk ke setiap ruangan, membuka pintu-pintu tersembunyi, bahkan merekam segala aktivitas aneh yang ditemukan. Beberapa wanita tampak ketakutan, tapi tak ada jejak Lula. Arhan langsung mencari Stella, perempuan yang dulu mengelola tempat ini. Tentu ia tahu nama mucikari itu dari Frans yang telah menceritakan segalanya. Dia berdiri di ruang tamu dengan wajah santai seolah tak ada yang salah. “Stella!” Arhan mendekat dengan langkah cepat. “Di mana Lula?!” suaranya keras, penuh amarah. Stella hanya mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. “Aku nggak tahu siapa yang kamu cari.” “Jangan pura-pura bodoh!” Arhan menunjuk wajahnya. “Kamu pasti tahu sesuatu! Katakan di mana dia!” Stella terkekeh pelan. “Serius. Sudah lama aku nggak urus bisnis kayak gini. Tempat ini udah bersih. Nggak ada yang namanya perdagangan perempuan lagi.”
"Cepat bawa dia ke rumah sakit! Tunggu apa lagi?" seru Lula akhirnya dengan nada dingin. Arhan segera membawa tubuh ibunya yang tak sadarkan diri ke sofa. Wajahnya terlihat panik, sementara Lula hanya berdiri mematung seolah tak bersimpatik. Namun, naluri kemanusiaannya tak bisa ditahan lebih lama. Tanpa menunggu lebih lama, Arhan mengangkat tubuh Edna dan membawanya ke mobil. Lula mengikuti dengan langkah santai, meskipun hatinya masih penuh kebencian. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil kembali dipenuhi ketegangan. Arhan fokus mengemudi dengan wajah penuh kecemasan, sesekali melirik ibunya yang terkulai lemah di kursi belakang. Sesampainya di rumah sakit, Arhan segera memanggil bantuan. Tim medis dengan sigap membawa Edna ke ruang gawat darurat, meninggalkan Arhan dan Lula menunggu di luar. Arhan terlihat mondar-mandir di koridor, wajahnya penuh kekhawatiran. "La," panggilnya pelan, menghentikan langkahnya. Lula menatapnya dengan ragu. "Apa?" "Ma
"Apa syaratnya, La?" tanya Arhan lagi. “Aku tidak mau bertemu dengan Edna. Aku tak ingin melihat wajahnya lagi.” Bahkan Lula sudah enggan memanggil wanita itu dengan panggilan Ibu. Arhan terdiam mendengar permintaan itu. Ia tahu betul perasaan Lula. Edna, ibunya, adalah orang yang selama ini menipu dan menghancurkan hidup Lula. Bahkan, wanita itu adalah orang yang tega menjualnya, mempermainkan perasaan dan hidupnya demi keuntungan pribadi. Lula menatap Arhan dengan tatapan yang penuh kebencian, meskipun di dalam dirinya ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan. “Jangan bawa aku berdekatan dengan wanita itu. Aku tak bisa melihatnya. Aku benci dia.” Arhan menghela napas panjang. Hatinya terasa terjepit di antara dua pilihan yang tak mudah. Di satu sisi, Edna adalah ibunya, wanita yang sudah melahirkannya, meski perbuatannya tak terampuni. Namun, di sisi lain, Lula adalah istrinya, orang yang begitu ia cintai, dan ia tahu betul betapa dalam luka yang ditinggalkan oleh Edna di hati L
"La, a-aku...." ucapnya terbata kerena tak tega dengan nasib istrinya saat ini. Arhan melangkah mendekat, langkahnya ragu-ragu namun dipenuhi harapan. Matanya tak lepas dari sosok Lula yang berdiri diam di ambang pintu kamar. Ketika jaraknya cukup dekat, ia mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangan wanita itu. Namun, Lula dengan lembut menepis uluran tangannya. Bukan dengan kasar, melainkan seperti seseorang yang tak ingin terhubung kembali dengan masa lalu. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan lebih dulu menuju sofa, meninggalkan Arhan terpaku. Lula duduk dengan tenang, tangannya terlipat di pangkuan. Matanya menatap lurus ke depan, dingin dan datar. Meski hatinya terasa seperti diiris, tak ada air mata yang keluar. Ia sudah terlalu lama menangis hingga kini semua itu terasa percuma. Arhan mengikutinya, berdiri di hadapannya dengan wajah penuh penyesalan. Ia menghela napas, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bicara. “La,” panggilnya, suaranya berat dan