Share

Bab 20

Penulis: Piemar
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-01 22:11:08
Malam itu Danar menjadi gelisah hingga ia enggan memejamkan mata. Ia tengah membayangkan hari esok yang akan dilalui oleh putra kecilnya. Isi kepala pria itu hanya putranya!

Karena tak bisa tidur, pria berwajah dingin itu bangun lalu berjalan menuju nakas. Sekotak rokok yang tergolek di atas nakas menarik perhatiannya. Pria itu pun mengambil sebatang benda candu itu lalu berjalan menuju pintu balkon.

Duduk bersilang kaki di atas kursi rotan, ia pun menyalakannya dan mulai menghisapnya sembari menatap hujan yang turun dari langit dengan begitu derasnya. Setidaknya, gulungan tembakau itu bisa mengurangi rasa frustrasi yang menderanya saat ini.

Namun, udara malam itu sangat dingin akibat hujan besar disertai angin kencang. Rasa dinginnya sampai menusuk hingga ke tulang belulang. Ia pun memilih mengusak rokok terakhir itu ke dalam asbak, menyudahi kegiatannya menatap kesunyian malam dan masuk kembali ke dalam kamarnya.

Danar pun membuka layar ponselnya. Ia membuka rekaman CCTV di kamar put
Piemar

Hi, makasih sudah baca kisah Embun. Jangan lupa support novelnya ya dan tinggalkan ulasan. Moga rezeki kalian melimpah. Amin.

| 11
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Hanung Adja
klo liat sikap mu yg kek gini ..jd kliatan tampan ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 21

    Embun menghela nafas pelan. Ia bersyukur karena bisa selamat. Hum, apalagi yang menyelamatkannya itu adalah pria dingin itu. Ia menjadi berpikir jika pria itu masih memiliki hati. Jika tidak, mungkin ia akan membiarkannya mati kedinginan karena terserang hipotermia di bawah rinai hujan.Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Air mata kembali menetes di ujung matanya. Embun teringat bayinya. Ia sangat mengkhawatirkannya. Tak berselang lama setelah kepergian Danar, seorang perawat datang menghampiri Embun.“Sus, aku ingin pulang. Aku sudah baikan. Aku cuma demam,” kata Embun. Ia tidak ingin berlama-lama berada di ruangan itu. Ia akan pulang ke apartemen Yasmin. Seperti tujuan awalnya ia akan pergi mencari pekerjaan lain dan melanjutkan hidupnya. Perawat hanya tersenyum menatap Embun lalu menggelengkan kepalanya pelan. Dengan cekatan, ia memeriksa labu infusan.“Mbak, boleh pulang kalau cairan infusannya habis,” jawab perawat kemudian pergi meninggalkan Embun.Embun hanya pasrah, l

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-01
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 22

    Waktu seakan merangkak lamban. Detik detik demi detik terasa lama. Namun Embun tak bisa melarikan diri dari kondisi canggung itu. Wajahnya menunduk dalam, tatapannya tertuju pada piring keramik bermotif bunga krisan di pinggirnya. Ia berusaha mengolah perasaannya yang menegang saat berada satu meja dengan pria itu—mantan suami yang begitu dipujanya. Entahlah, perasaan apa yang dimilikinya saat ini terhadapnya.“Setelah makan, kita bicara,” ujar Danar bernada singkat. Pria itu langsung menikmati sarapan siangnya. Ia mengalasi piring miliknya dengan nasi dan lauk pauk serta tumis sayuran.Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berdenting dan beradu. Pria tampan itu makan tanpa suara dan tampak anggun. Kali ini ia sama sekali tidak merasa terusik akan kehadiran Embun.Embun hanya menghela nafas pelan. Ingatannya berputar begitu saja. Setiap kali Danar pulang ke villa, ia selalu menyambut pria itu di luar rumah. Diciumnya punggung tangannya dengan takzim.Embun yang memang sama pendi

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-02
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 23

    “Halo, Baby! Lagi apa?”Malam hari, Mita baru saja pulang dari rumah ke dua orang tuanya. Ia langsung mendatangi ruang kerja suaminya yang berada di lantai tiga. Danar tengah menatap layar laptop dengan tatapan serius.Danar bahkan tidak menyadari kepulangan istrinya—yang sesuka hatinya. Pedih, bahkan Mita tidak memperdulikan putra mereka.Menaruh tas mahalnya di atas meja, Mita berjalan berlenggak-lenggok mendekati suaminya. Ia bahkan tiba-tiba saja menyingkirkan laptop dari pangkuan suaminya, kemudian ia duduk di atas pangkuan suaminya dengan ke dua tangan yang mengalung pada leher suaminya. Wanita cantik itu memeluk suaminya dengan erat.“Mita, Mas masih punya pekerjaan. Tolong, awas dulu!” peringat Danar yang merasa tak nyaman karena istrinya itu menduduki miliknya. Seharusnya, ia tidak mengganggunya saat ini. Bukan waktu yang tepat. Suasana hati pria itu juga sedang buruk.Raut wajah Mita langsung kecut saat mendapat penolakan dari Danar. Ia kecewa dan langsung turun dari pangku

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-02
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 24

    “Tuan Danar, saya mau melapor,” ucap Gilang ketika ia sudah bertemu langsung dengan majikannya. Pemuda tampan itu langsung duduk di sofa seberang Danar di ruang kerjanya. Ia pun menaruh berkas laporan keuangan di atas meja.Danar hanya mengangguk sebagai jawaban.“Saya sudah menyelesaikan tugas saya, mengurus gaji para pekerja di sini. Termasuk, ibu susu Den Sagara,” ucapnya dengan sudut bibir yang tertarik hingga membentuk senyum samar saat menyebut ‘ibu susu Den Sagara’. Jelas, Danar bisa menangkap maksudnya.Danar menatap tajam ke arah Gilang. Rasanya, ia tidak senang melihat perhatian Gilang pada sosok mantan istrinya.“Saya harap kau harus bersikap profesional, Gilang!” peringat Danar dengan singkat, jelas dan padat. “Siap, Tuan. Ah, ya, satu lagi, saya telat memberikan gaji pada Mbak Embun. Oleh karena itu saya meminta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan itu,” imbuh Gilang terdengar serius.“Kenapa? Alasan?” tukas Danar didera rasa ingin tahu yang besar.Danar sudah berpik

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-02
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 25

    Setiap subuh, Sagara selalu terbangun minta ASI. Mau tak mau Embun yang kini menempati kamar yang bersebelahan dengan Sagara, langsung datang ke sana saat menerima telepon dari Maya. Senyum terbit di wajahnya setiap kali mendengar nada dering khusus dari Maya—pertanda bayinya menginginkan dirinya.Beruntung, pukul tiga pagi Embun sudah terbangun. Ia sudah mandi dan menikmati sepertiga malamnya. Wanita itu bahkan selalu berdandan dan memakai pakaian yang terbaik saat menyambut bayinya. Bahkan ia sudah menyemprotkan parfum beraroma lembut pada tubuhnya. Ia ingin anaknya merasa nyaman saat bersamanya dan mengingatnya sebagai ibu—yang begitu mencintainya. “Mbak, mau kemana?” tanya Maya yang sudah menyambut kedatangan Embun di bibir pintu. Wanita muda itu memindai penampilan Embun dari pucuk kepala hingga ujung kaki. Kemudian ia terkekeh pelan. “Memang beda ya kalau menyusui anak sultan,” katanya lagi dengan tanpa rasa canggung. Gadis itu bicara ceplas-ceplos. Embun hanya tersenyum tak te

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-03
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 26

    Sepulang kuliah, Yasmin buru-buru pulang ke apartemennya. Ia merasa senang karena ke dua orang tuanya mengunjunginya. “Mama bawa ayam kecap kesukaanku ‘kan?”Yasmin langsung menggelayut mesra pada lengan ibunya. Ia menyambut kedatangan ibunya dengan penuh sukacita.Indira menatap putrinya sesaat lalu menjawab. “Enggak! Ibu capek, Yasmin. Ibu harus bantuin Ayah lembur nulis laporan hasil penjualan kebun kopi kita.”Indira sengaja berpura-pura. Ia dan suaminya saling melempar pandang, menunggu reaksi putrinya yang manja akan marah.Benar saja, dugaan mereka. Yasmin langsung melepas rangkulan tangannya pada ibunya. Ia berjalan meninggalkan mereka dan duduk di sofa untuk kemudian menyalakan layar televisi 21 Inchi. Ia duduk dengan wajah yang kecut.“Tad da!”Indira memperlihatkan satu box kontainer dari dalam goody bag yang dibawanya. Sontak, mata Yasmin langsung tertuju pada kotak itu kemudian memalingkan wajahnya kembali pada layar televisi.“Hei, yakin gak mau makan siang ayam kecap b

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-03
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 27

    Sore itu Danar dan Embun pergi ke dokter anak langganan keluarga Danar. Ia datang ke sana karena rekomendasi dari tante dari ibunya yang tinggal di Jakarta. Suasana menjadi terasa canggung di dalam mobil itu. Pasalnya, Danar hanya mengajak Embun dan Sagara, tanpa ke dua babysitternya. Ia juga mengemudikan kendaraannya sendiri. Sepintas orang akan menganggap mereka sepasang suami istri yang harmonis. Keluarga kecil yang sedang menikmati sebagai orang tua baru. Namun, sebaliknya, Embun begitu khawatir. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Embun berinisiatif mengenakan masker agar tidak bisa dikenali siapapun terutama Mita yang mungkin saja bisa bertemu di luar.Sepanjang perjalanan menuju klinik dokter anak, tidak ada percakapan yang berarti. Sagara juga begitu mudah tertidur dalam pangkuan ibunya. Empat puluh menit kemudian, akhirnya mereka tiba di depan sebuah klinik. Danar segera memarkirkan mobilnya lalu membukakan pintu untuk Embun. Mereka pun berjalan bersisian layaknya

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-03
  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 28

    Pukul sepuluh malam Danar menghabiskan waktunya di depan kamarnya. Ia duduk di atas kursi rotan di balkon kamar sembari menghisap gulungan tembakau. Ketika ia sedang stress dan banyak pikiran, ia akan melampiaskannya dengan benda yang membuatnya merasakan ekstasi sesaat itu.Dersik angin malam terasa dingin menusuk-nusuk tubuh. Namun ia tidak beranjak sedikitpun dari sana. Pria dingin itu sedang menunggu kepulangan istrinya. Tak berselang lama, sebuah mobil Mercedes Benz berwarna merah tampak bergerak memasuki halaman rumah. Suara deru mesin yang halus sama sekali tidak mengusik penghuni rumah yang sudah berbaring istirahat malam itu. Security rumah langsung menyambut kedatangan Nyonya rumah. Dari atas balkon kamarnya, Danar bisa melihat wanitanya turun dari mobilnya lalu masuk rumah dengan jalan berlenggak lenggok. Pria dingin itu kemudian masuk dan memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bahkan lampu utama sudah dimatikan. Yang tersisa hanyalah temaram lampu tidur.“Malam, S

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04

Bab terbaru

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 414

    Di kediaman Sulis, suasana menjadi tegang. Sulis hampir saja menjatuhkan gelas tehnya saat seorang polisi mengetuk pintu rumahnya. Dengan wajah cemas, ia buru-buru membuka pintu dan mendapati dua petugas kepolisian berdiri tegap.“Bu Sulis? Kami dari kepolisian ingin berbicara dengan putra Anda, Alby. Ada laporan insiden perkelahian yang melibatkan dirinya.”Sulis merasakan jantungnya hampir berhenti. “Perkelahian? Alby? Tidak mungkin. Dia pianis, bukan petarung jalanan!”Salah satu polisi menunjukkan dokumen laporan. “Kami hanya menjalankan tugas, Bu. Menurut laporan, putra Anda terlibat dalam baku hantam dengan seorang pria bernama Roger, di sebuah pantai di Bali.”Sulis memijit pelipisnya, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba meledak ini. “Ini pasti ada kesalahpahaman. Alby tidak mungkin mencari gara-gara.”Semalam Alby baru pulang namun ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan tidak menceritakan apapun soal kejadian di Bali.“Kami akan tetap membutuhkan keterangannya. Bisa kami

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 413

    Setelah konser selesai, Levina berpikir mereka akan langsung pulang. Namun, Alby malah berbelok ke arah pantai. Tentu saja, pemuda itu tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamanya. Ia tahu, sangat sulit mengajak Levina pergi berdua. Dan, ini adalah kesempatan emas baginya. “Aku mau pulang ke hotel,” kata Levina dengan ekspresi datarnya.Alby menoleh sambil tersenyum. “Kau serius? Setelah menghabiskan tiga jam mendengarkan konser tanpa ekspresi, aku yakin kau butuh udara segar.”Levina mendengus. “Konsernya bagus, hanya saja terlalu lama.”Alby terkekeh. “Oh? Lalu kenapa kau ketiduran?”Levina mendelik. “Aku tidak ketiduran.”“Aku harus menyenggolmu supaya kau tidak jatuh dari kursi,” balas Alby sambil menggoda.Levina mendecak, malas berdebat. Mereka berjalan menyusuri pasir pantai yang dingin, diterangi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Suara deburan ombak menemani langkah mereka.Dari kejauhan, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu berduaan.Alby

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 412

    Levina baru saja selesai minum obat ketika pintu kamar klinik terbuka. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Roger berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh penyesalan.“Levina…” suara Roger terdengar berat. “Aku minta maaf.”Levina terdiam. Perasaannya bercampur aduk. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Roger, dalam keadaan mabuk, mencoba melecehkannya di pantai. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang masih mengendap.Sebelum Levina sempat merespons, sebuah bayangan melesat di hadapannya.BUGH!Alby, yang tadinya duduk santai di kursi dekat tempat tidur, kini telah menerjang Roger dengan tinjunya.Roger terhuyung ke belakang, terkejut. “Apa-apaan kau?!”Alby, yang biasanya penuh candaan, kini tampak berbeda. Rahangnya mengeras, matanya tajam menatap Roger dengan penuh kebencian. “Kau masih punya muka buat datang ke sini setelah apa yang kau lakukan pada Levina?”Levina terkesiap. Ia tidak menyangka Alby akan bereaksi seperti ini.Roger men

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 411

    Tiba-tiba, seseorang menangkap tangan Levina.Levina refleks ingin menyerang, tapi pandangannya berputar. Dunia seolah bergoyang, napasnya pendek dan berat. Matanya bertemu dengan sepasang mata tajam milik Alby.“Levina!” suara Alby penuh kepanikan.Levina mencoba mengatakan sesuatu, tapi suaranya tersendat di tenggorokan. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak bicara. Namun ini untuk pertama kalinya, Levina yang terkenal kuat, dingin dan misterius itu merasa ketakutan dan kepanikan. Jantungnya masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena takut—melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. Ia tidak menyangka jika Roger akan melecehkannya. Ia sangat syok. Insiden yang baru saja terjadi mengingatkannya pada memori tempo dulu yang pernah ia alami.Saat Levina masih duduk di bangku sekolah dasar, ia dilecehkan oleh gurunya di sekolah. Sejak saat itu ia berusaha mati-matian belajar bela diri.“Alby...?”Dalam hitungan detik, tubuh Levina ambruk ke tanah. Alby pun merasa panik. “Levina!” p

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 410

    Levina menikmati suasana pantai di balkon kamar hotelnya. Ombak berderu pelan, langit keemasan mencerminkan kehangatan yang seharusnya ia rasakan di dalam hatinya. Namun, kenyataannya ia justru merasa gelisah. Sejak pertemuan pertamanya dengan Roger, putra teman ayahnya, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.Roger memang tampan, berpakaian necis, dan memiliki senyum yang bisa membuat wanita jatuh hati dalam hitungan detik. Tapi Levina tahu, di balik pesona itu ada sesuatu yang tidak beres. Dari cara Roger berbicara, dari tatapan matanya yang terlalu tajam dan gerakan tangannya yang selalu berusaha menyentuhnya, Levina merasa ia harus tetap waspada.Hari itu, Roger mengundangnya untuk makan malam di restoran seafood mewah di tepi pantai. Awalnya, Levina ingin menolak, tapi Roger terlalu gigih. “Hanya makan malam santai, Levina. Kau bisa anggap ini sebagai pertemanan,” ujarnya dengan nada santai.Levina akhirnya mengiyakan, namun tetap membatasi diri. Ia mengenakan dress biru sederha

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 409

    Langit sore berpendar jingga ketika Alby memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ana. Ia keluar dengan langkah ringan, meski ada kegelisahan yang bersembunyi di balik tatapan matanya. Rindu dalam dadanya tak bisa lagi ia bendung. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Levina, pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Ia ingin mengajaknya pergi, mungkin sekadar mengobrol sambil menikmati kopi di kafe favoritnya.Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Ana akhirnya membukakan pintu dengan senyum ramah. Namun, ekspresi wajahnya sedikit berubah ketika melihat Alby berdiri di ambang pintu.“Alby? Ada apa?” tanya Ana, meski sudah bisa menebak alasan kedatangannya.Alby mengusap tengkuknya, sedikit canggung. “Aku mau ketemu Levina, Tante. Dia ada?”Ana tersenyum tipis, lalu menghela napas pelan. “Levina sedang pulang kampung. Dia izin libur beberapa hari untuk mengunjungi keluarganya.”Alby tertegun. Matanya berkedip beberapa kali, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 408

    Ana mulai mencurigai sesuatu. Beberapa kali ia melihat Alby dan Levina berbincang diam-diam. Tidak seperti biasanya. Mata Ana mengerut curiga, tetapi ia memilih diam. Hanya mengamati dari jauh.Pertama Alby mau menjemput Jeena di bandara. Tunggu, bukan pertama kali. Tapi setahun yang lalu, Alby juga mengantar Jeena ke bandara! Tentu saja, bukan karena tidak ada supir. Alby memang tengah melakukan pendekatan pada Levina. Seperti saat ini, saat yang lain sibuk mengobrol dengan Jeena di ruang tamu, di taman belakang, Alby dan Levina tengah berdiri berhadapan. Seperti biasa, perdebatan kecil pun terjadi di antara mereka.“Kau terlalu keras kepala,” ucap Alby sambil menyilangkan tangan.“Dan kau terlalu sok tahu,” balas Levina, menghela napas panjang.Alby mengangkat dagunya. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau tidak bisa terus bersembunyi di balik sikap dinginmu.”Levina terdiam. Tatapan matanya lebih lembut dari biasanya. “Alby, kenapa kau selalu ingin mengorek isi kepalaku?”“Kar

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 407

    Levina menundukkan wajahnya, merasakan telapak tangannya yang mulai berkeringat. Ia tidak menyangka Alby akan mengatakannya secara gamblang seperti ini. Hatinya bergetar, tetapi pikirannya menolak. Ia tidak boleh percaya pada pria seperti Alby. Tidak boleh.Makan siang itu berakhir dalam keheningan. Jeena yang kembali dari toilet hanya mengangkat alis melihat atmosfer yang berbeda antara Levina dan Alby. Namun, ia memilih diam. Tidak mau mengusik apa yang sedang terjadi di antara mereka.Saat mereka kembali ke mobil, Levina tetap menjaga jarak dari Alby. Namun, pria itu tidak menyerah. Bahkan ketika mereka sudah tiba di depan rumah Ana, Alby masih bersikeras ingin berbicara.“Lev, aku serius dengan perasaanku,” ujarnya pelan, tetapi tegas.Levina menatapnya tajam. “Jangan buang waktumu, Alby. Aku tidak akan berubah pikiran.”“Aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku akan menunggumu,” Alby tersenyum tipis. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan tetap ada. Sampai kapan pun.”Levina mena

  • Dicampakkan Setelah Melahirkan   Bab 406

    Setahun berlaluBandara Internasional Soekarno-HattaJeena menghela napas lega saat pesawat mendarat dengan mulus di landasan. Setelah setahun di Manhattan, akhirnya ia pulang ke Indonesia. Selama ini ia hanya pulang beberapa kali ke Indo, selebihnya keluarganya yang rutin menjenguknya. Di sebelahnya, Levina tampak sibuk mengecek ponselnya, memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat.“Akhirnya, pulang juga,” gumam Jeena sambil meregangkan tubuhnya. “Aku sudah kangen makanan Indonesia.”Levina hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Sebenarnya, hatinya sedang sedikit gelisah, meski ia sendiri enggan mengakuinya. Kenapa? Karena orang yang menjemput mereka bukan sembarang orang.Alby.Pria itu sudah menunggu mereka di pintu kedatangan, bersandar santai di mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Dari kejauhan, ia terlihat seperti tokoh dalam film, menunggu dengan ekspresi tenang namun penuh keyakinan.Saat Jeena melihatnya, ia langsung tersenyum penuh arti. “Wah, wah…

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status