Share

Nahas

Author: Sity Mariah
last update Last Updated: 2024-09-26 11:16:03

"APA? Dinikahi Bang Fahad? Enggak! Gak bisa! Chiara ini calon istriku. Aku gak setuju Bang Fahad menggantikan posisiku hari ini!"

PLAKKK!

Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Rakana dari sang Papa. "Tutup mulutmu! Siapa yang minta pendapatmu? Belum puas mencoreng nama baik keluarga dengan kelakukan menjijikkanmu itu, hah? Lebih kamu diam! Karena tidak ada yang meminta pendapat kamu di sini!" teriak Om Hans di depan wajah putra bungsunya itu.

"Pokoknya aku tetap gak setuju! Chiara calon istriku, Bang Fahad tidak boleh menikahinya!"

"Diam kamu! Sudah benar seharusnya kamu memang diam! Kamu harusnya bertanggungjawab atas kehamilanku ini, Raka!" Faula bersuara dengan lantang.

Terdengar Rakana mendecih. "Dengar, Fau. Kamu jangan merusak hari bahagiaku dengan Chia. Aku tahu kamu memang terobsesi padaku selama ini. Kamu coba menikung Chia dari belakang untuk mendapatkanku. Tapi aku tidak mungkin sampai membuat kamu hamil! Bayi yang ada dalam perut kamu itu bukan anakku!" bantah Rakana.

Plak!

"Kurang ajar kamu Raka! Mulutmu bisa berkelit, tapi aku punya bukti kalau aku memang mengandung anakmu!" Faula berucap dengan menggebu setelah menampar Rakana. Dia mengambil ponselnya dan mengutak-atik gawai di tangannya itu.

"Lihat ini! Foto kita di kamar hotel. Berapa kali selama satu tahun belakang ini kamu mengajakku check in, hah? Berapa kali? Tidak terhitung!"

Faula memperlihatkan layar ponselnya pada semua orang yang sedang melingkari meja. Foto-foto dalam galeri ponselnya yang memuat kemesraan mereka di atas tempat tidur. Dan itu memang Faula bersama Raka.

"Kamu mau mengelak? Kamu mau mengatakan ini bukan kamu? Kamu ingin mengatakan kalau yang bersamaku dalam foto ini adalah setan? Begitu? Kamu lupa? Kamu yang selalu datang padaku. Bermanja dan meminta ini itu. Karena apa? Karena Chia tidak bisa memberikannya. Karena Chia terlalu kaku dan kuno selama kalian berpacaran. Karena kamu tidak bisa menyentuh Chia seliar kamu menyentuhku!" Faula berujar dengan berapi-api. Hingga dapat kudengar bisik-bisik cemoohan dari orang-orang yang sudah mengisi kursi tamu.

Satu kenyataan terungkap. Raka berselingkuh dan mengkhianatiku hanya karena aku tidak pernah mau disentuhnya?

Apa yang salah? Apa yang keliru jika aku tidak mau disentuh lebih dari sekedar berpegangan tangan dan mencium kening?

Raka pun bungkam.

"Batalkan pernikahanmu dengan Chia. Kamu harus menikahiku! Atau ...." Faula mengacungkan pisau dengan ujung mata berkilau.

"Aku akan mati di sini bersama bayiku. Dan akan aku hantui kalian semua sampai kalian juga mati!" ancamnya sambil mengarahkan mata pisau itu dan bergerak memutar. Tentu hal itu membuat kami semua mundur dan kaget.

"Cukup, Raka! Cukup! Berhenti mengelak dan segera bertanggungjawab atas perbuatan gilamu ini! Jangan membuat kami lebih malu!" teriak Tante Tari yang terlihat melemah. Tubuhnya lunglai dan berhasil didudukkan. Tante Tari pun mulai terisak.

"Hentikan keributan ini. Nikahkan dulu manusia tidak bermoral itu dengan perempuannya. Setelah itu, aku yang akan menikahi Chia!" Suara Bang Fahad terdengar tajam.

Nampak Om Hans bernegosiasi dengan Papa dan Mama. Sedangkan aku sendiri masih kesulitan mencerna apa yang sedang terjadi detik ini.

"Tidak ada pilihan lain, Chi. Raka harus bertanggungjawab pada Faula. Dan kamu, akan menikah dengan Fahad. Sekarang, biarkan penghulu menikahkan dulu Raka dan Faula. Baru setelah itu, Fahad yang akan mengucap ijab qobul. Kita duduk dulu, biarkan Om Hans menyelesaikan masalah yang ditimbulkan bungsunya yang brengsek itu." Papa berbicara dengan tegas. Kemudian menuntunku agar duduk lebih dulu di kursi yang berjarak satu meter dari meja ijab qobul.

Mama, Mbak Lin dan Papa mengelilingiku. Memberikanku kekuatan meski mereka pun sama terlukanya sepertiku. Seandainya hal ini terungkap sebelum hari ini, mungkin pesta ini tidak akan pernah berlangsung. Aku akan membatalkan hari ini sebelumnya. Tapi ... semua benar-benar mengejutkan.

Raka dan Faula mencurangiku. Dua orang yang begitu aku percayai, ternyata tidak lebih dari pengkhianat. Demi apapun, aku tidak pernah menyangka mereka bisa berlaku menjijikan seperti itu di belakangku.

Akh, atau ... aku yang terlalu polos selama ini? Aku yang terlalu naif sampai tidak sedikit pun mencurigai mereka?

Entahlah.

Yang jelas aku merasa begitu hancur hari ini. Pernikahan yang aku rancang, pernikahan yang aku impikan, justru kacau balau. Lelaki yang seharusnya menjadi pasanganku, lelaki yang selama tujuh tahun menjalin kasih denganku, justru harus menikah dan menjadi suami dari sahabatku sendiri.

Ah, tidak, tidak. Sudah tidak pantas aku menyebutnya sahabat.

Kepalaku begitu pening. Rasanya berat sekali. Pandangan juga tiba-tiba buram. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Sampai rasanya limbung dan aku tidak tahu apa lagi yang terjadi.

********

"Sudah sadar, Chi?" tanya Mba Lin yang tampak berjongkok di sebelahku.

Aku mengerjapkan mata berulang. Entah apa yang sudah aku alami, tapi saat ini aku mencoba untuk tersadar dan setelah aku sadari, aku berhasil mengingatnya.

Pernikahanku ....

Aku bangkit dan Mba Lin dengan sigap mendekapku, sehingga tangisku tumpah ruah sejadi-jadinya.

"Mba ... Rakana jahat, Mba. Aku gagal menikah, Mba. Aku malu ...." Aku terisak di pelukan kakak perempuanku satu-satunya.

Tangan lembut Mba Lin terasa mengusap punggung ini. Seolah memberi kekuatan dan menyalurkan energi ketegaran.

"Mba tahu ini pasti menyakitkan kamu, Chi. Tapi Papa dan Mama, Om Hans dan Tante Tari sudah sepakat untuk tetap melanjutkan acara ini. Sebentar lagi para tamu akan datang. Kolega dan kerabat jauh Papa Mama juga akan datang. Kamu akan tetap menikah, Chi," ujar Mba Lin membuatku refleks memundurkan badan. Melepaskan dekapan yang semula begitu erat.

"Menikah dengan siapa, Mba? Sudah jelas sekali Rakana itu selingkuh. Aku gak mungkin meneruskan pernikahan dengan dia," jawabku lemah.

"Memang bukan dengan Rakana, Chi. Tapi ... dengan Fahad!" tegas Mba Lin membuat kedua netraku membola sempurna.

*******************

"SAH!!!"

Aku hanya bisa memejamkan mata. Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya Rakana resmi menikahi Faula. Bahkan mahar yang sudah Rakana siapkan pun, menjadi maharnya menikah dengan Faula.

Ya Tuhan, dosa apa aku ini?

Aku tidak punya pilihan lain. Menikah dengan Rakana sudah tidak mungkin. Membatalkan pesta pun juga bukan jalan keluar.

Satu-satunya pilihan hanyalah menikah dengan Bang Fahad, lelaki yang seharusnya menjadi kakak iparku.

"Papa minta, kamu tidak perlu ada di aula. Pergi saja ke mana kamu mau. Biarkan pernikahan Fahad dan Chia berlangsung sekarang!" tegas Om Hans pada anak lelakinya itu.

"Tapi, Pah. Aku juga berhak ada di sini—"

"Jangan banyak bicara. Masih punya muka kamu ada di aula ini setelah kamu lemparkan kotoran pada kami? Urus saja perempuan yang sudah kamu tiduri itu." Terdengar Bang Fahad menghardik sang adik.

Terlihat Raka meremas rambutnya. Rahangnya pun mengeras lalu bergegas pergi menjauh dari meja ijab qobul. Disusul Faula yang membawa kotak mahar berisi satu set perhiasan emas 24 karat juga uang tunai yang mana nominalnya sama dengan hari pernikahan ini. Hingga meja tampak kosong dan tak berselang lama, tim WO mengisi kembali meja tersebut dengan benda yang entah apa.

Mama dan Mba Lin lantas menuntunku menuju meja akad. Aku didudukkan bersebalahan dengan Bang Fahad. Lelaki yang nyaris tidak aku kenali sekalipun ia adalah kakak kandung dari Rakana.

Sampai mataku tertuju pada kotak mika di hadapanku dan entah apa isinya,

Tanpa bertanya apa-apa lagi padaku, Papa langsung berjabatan tangan dengan lelaki di sebelahku ini. Diarahkan penghulu, Papa memulai proses ijab.

"Saya terima nikah dan kawinnya Chiara Nesyana binti Ruslan Munandar dengan mas kawin logam mulia seberat lima puluh gram tunai!"

Aku melongo mendengar mahar yang aku dapat. Cukup fantastis dan mahar itu diberikan tanpa perundingan denganku dulu. Masih dilanda rasa tidak percaya dan terkejut, terdengar doa yang mulai dibacakan. Sampai selesai dan aku diminta bersalaman dengan Bang Fahad.

Ijab qobul selesai, acara dilanjutkan pada sungkeman. Sesi yang harusnya penuh haru biru ini, sama sekali tidak kurasakan. Hatiku seperti kosong. Air mata seperti enggan untuk keluar. Tidak ada perasaan haru dan bersedih karena aku sudah menjadi istri orang.

Selanjutnya acara resepsi. Aku mengisi pelaminan bersama lelaki asing di sebelahku. Sementara Rakana, tidak kulihat batang hidungnya berkeliaran di aula ini.

Pesta ini benar-benar tetap berjalan. Tamu berdatangan silih berganti. Teman-teman kantor tempatku bekerja seakan syok karena mempelai pria di sampingku bukanlah Rakana.

Kolega Papa, kerabat jauh dari kedua orang tuaku pun turut hadir dan memberikan ucapan selamat. Pesta memang berjalan dengan semestinya. Tidak ada yang batal dari tiap rangkaian acaranya.

Gaun-gaun pengantin pilihanku bergantian dipasang di tubuh ini. Fotografer profesional berulangkali memotretku bersama sang pengantin pria.

Tapi nahas, hatiku tidak bahagia.

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Buktikan Malam Ini

    Aku termenung. Kepala menunduk menatap sandal selop bulu yang membungkus kaki. Duduk sendirian di ujung tempat tidur entah sudah berapa lama.Pesta selesai pukul lima sore tadi, lepas itu keluarga lantas berunding, dan keputusan finalnya ialah Bang Fahad memboyongku ke rumah miliknya satu jam kemudian. Papa dan Mama tentu tidak bisa menolak atau menghalangi, karena sekarang aku sudah menjadi istri orang. Kewajiban keduanya sudah selesai.Setibanya di rumah Bang Fahad, ia langsung menunjukkan kamar utama yang akan menjadi kamar kami katanya. Kamar utama ini didominasi warna putih dengan barang-barang berwarna hitam.Hingga perlahan kepalaku mendongak, kemudian menoleh ke belakang dan menatap jam weker di atas nakas yang sudah menunjuk di angka tujuh.Aku masih tidak tahu harus berbuat apa. Andai pernikahanku dan Rakana tidak batal, sudah tentu aku akan serumah dengannya. Melayaninya sebagai suami, seperti yang selalu aku bayangkan sebelum-sebelumnya.Apalagi di luar sedang diguyur huja

    Last Updated : 2024-09-26
  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Body Shaming

    "Si—siapa takut?!"Dia jual, aku borong lah!Entah seperti apa nantinya, yang jelas aku bisa membuktikan dan mematahkan tuduhan liarnya itu terhadapku.Bang Fahad tersenyum asimetris seraya menatapku tajam. Perlahan wajahnya kian diturunkan, aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku. Bang Fahad makin menunduk, aku mulai merasakan sentuhan pada daun telingaku. Pun terpaan napas hangat yang membuatku merasa geli.Sialan.Dia benar-benar ingin membuktikannya malam ini juga?Detik berikutnya kulit pipiku yang merasakan sentuhan. Ujung hidungnya seolah mengabsen tiap inchi pipiku ini. Astaga, kenapa rasanya merinding?Aku tidak bisa mencegahnya. Kedua tanganku ditahan. Hingga saat ini, kepala Bang Fahad semakin turun seperti menyusup di cerukan leherku.Lagi dan lagi, napasnya terasa hangat menyentuh kulitku. Dan itu, berhasil membuat bulu kudukku meremang.Sebenarnya aku tidak siap dan ... tidak rela andai mahkotaku harus diserahkan malam ini. Apalagi dilakukan dengan orang y

    Last Updated : 2024-09-26
  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Tak Berkutik

    "Raka! Apa-apaan kamu? Minggir atau aku akan teriak!" ancamku seketika.Rakana menatapku sayu. "Teriak yang kencang, Chi. Semua ruangan di rumah Abang ini kedap suara. Teriak sampai urat lehermu putus, gak akan ada yang denger," jelasnya dengan suara terdengar lemah."Mau apa kamu?!" Aku bertanya ketus. Tidak mempedulikan jika ancamanku gagal karena aku pun baru tahu kalau ruangan-ruangan di rumah ini kedap suara.Rakana merangsek maju. Refleks aku mundur sampai punggungku membentur dinginnya dinding kamar mandi. Jujur aku takut Rakana berbuat macam-macam terhadapku."Aku gak mau apa-apa, Chi," ucapnya bersama wajah memelas. "Aku cuma mau tanya, kenapa kamu mau saat Bang Fahad menggantikan aku menikahi kamu? Kenapa, Chi? Pesta hari ini adalah pesta untuk kita. Pesta yang kita berdua siapkan dan rancang bersama-sama. Kenapa kamu membiarkan justru Bang Fahad yang menjadi suami kamu?" cecarnya tanpa rasa berdosa.Mataku membola. Memandangnya diikuti gelengan kepala."Masih bisa kamu tany

    Last Updated : 2024-10-11
  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Bukan Barang

    "Aku diusir Papa, Chi. Makanya aku ke sini. Mobilku juga disita Papa karena itu memang masih miliknya. Aku hanya mendapat motor butut untuk bisa datang ke sini. Rumah impian kita, sudah Papamu over kredit pada orang lain. Uang muka yang sudah masuk, dibayarkan sepenuhnya, tapi semuanya diambil Papamu, Chi. Aku tidak kebagian sepeserpun. Padahal kamu ingat 'kan, DP rumah itu tujuh puluh lima persennya adalah uangku. Tapi aku hanya gigit jari. Aku kehilangan semuanya, termasuk kamu. Cintaku ...." Rakana berucap dengan lirih. Dagunya terasa bersarang di bahuku. Bohong jika aku merasa biasa saja. Bohong jika aku baik-baik saja. Rakana membuatku kesulitan menentukan sikap.Aku masih mematung. Aku pun baru tahu, kalau rumah di salah satu cluster itu sudah Papa urus. Enam bulan yang lalu, aku dan Rakana memang menandai satu rumah dengan uang muka sebagai tanda jadi. Rumah itu akan kami cicil setelah kami menikah dan langsung menempatinya. Namun rencana tinggalah rencana. Kenyataan tak seinda

    Last Updated : 2024-10-11
  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Kita Bercerai Saja

    "Kenapa kamu diam? Tidak mau? Tidak berani 'kan membuktikannya? Kamu takut kalau apa yang saya katakan adalah kebenaran? Artinya, kamu memang sudah tidak pe ra wan!" tegasnya menekan kata yang terakhir karena aku tidak menjawab tantangannya. Jika semula aku marah dan kesal, kali ini aku bertekad akan melawan ucapannya yang hanya tuduhan. "Anda ingin dilayani malam ini?" tanyaku tak gentar seraya menatap sepasang matanya. Bang Fahad mengangguk. "Huum." "Di mana otak Anda? Setelah menghina-hina, merendahkan dan menyudutkan, sekarang Anda meminta untuk dilayani? Ck," aku mendecak. "Jangan harap!" Kurasakan kedua tangan Bang Fahad di sisi tubuhku itu berubah mengepal. Bodo amat kalau dia kesal dengan ucapanku barusan. "Sudah saya duga. Kamu memang sudah tidak perawan! Benar-benar merugikan. Pesta mewah, uang untuk mahar, dan terikat dalam pernikahan, tapi hanya dapat bekas orang. Benar-benar nasib buruk!" cibirnya dengan wajah meledek. Aku tersenyum miring. "Terserah! Terserah

    Last Updated : 2024-10-11
  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Rasa Itu Masih Sama

    Jari telunjukku masih berada di dalam mulut Bang Fahad, sampai pelan-pelan dikeluarkan dan cairan merah yang mengucur memang telah berkurang.Bang Fahad berlalu dan aku lagi-lagi mengibaskan jariku yang terasa perih sekarang.Bruk!Tak lama Bang Fahad datang, menghempas kotak P3K di atas kitchen set dan kembali mengambil tanganku."Nasib ... nasib kawin sama bocah ingusan!" gerutu Bang Fahad sambil berlalu membawa kotak P3K usai mengobati jariku. Kini, telunjuk tangan kiriku sudah dibalut kassa tipis.Entah obat apa saja yang tadi Bang Fahad gunakan, tapi memang mampu meredakan rasa perih yang biasanya terasa karena luka sayatan."Buruan dibikin sarapannya! Kalau cuma bengong, bisa pingsan saya!" Bang Fahad bicara sambil menyusulku di ruang dapur ini.Aku hanya mengangguk. Melanjutkan apa yang harus kukerjakan sesuai instruksi. Sampai wajan penggorengan sudah diisi nasi putih dan telur orak-arik. Bang Fahad menambahkan bumbu yang dia mau.Setelah selesai, aku coba mengaduknya. Tapi se

    Last Updated : 2024-10-11
  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Berpindah Tanggungjawab

    Sepersekian detik aku membeku. Memandangi sepasang manik hitam pekat milik Bang Fahad. Sampai akhirnya aku sadar lalu cepat-cepat menarik diri."Ngapain sih, Bang? Modus banget pake nyenggol kakiku!" sungutku kesal.Bang Fahad yang juga sudah menyusul bangkit dan berdiri di hadapanku hanya tersenyum miring sambil merapikan dasinya. "Lemah! Sekarang kamu siap-siap. Ikut saya meeting!" tegasnya yang terdengar di luar nalarku."Hah? Ikut meeting? Enggak ah. Ngapain? Aku di sini aja!" tolakku mentah-mentah."Di sini masih ada Rakana dan istrinya yang menumpang. Kamu mau jadi satpam buat mereka?" sindirnya yang sudah selesai merapikan dasi.Aku bergeming. Benar juga katanya, Rakana dan Faula masih berada di rumah ini. Kalau Rakana tahu Bang Fahad pergi dan aku sendirian, bukan tidak mungkin dia akan menggangguku seperti saat dia membawaku ke kamar mandi."Cepat. Saya gak suka orang lelet!" tukas Bang Fahad seraya berjalan keluar dari kamar dengan menjinjing sepatunya. Pintu tertutup dan ak

    Last Updated : 2024-10-11
  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Rasa Sakit yang Nyata

    (10) Rasa Sakit yang Nyata Aku tidur lebih awal. Sepulang meeting siang tadi, Bang Fahad benar-benar memberiku tugas untuk berbelanja. Dia memintaku memenuhi catatan yang sudah dibuatnya. Hingga badanku rasanya pegal karena harus berkeliling swalayan besar. Karena itu menjadi hal pertama bagiku, tentu saja aku lambat melakukannya. Sehingga berbelanja baru selesai saat sore tadi. Gilanya lagi, Bang Fahad juga memintaku membereskan barang belanja yang begitu banyak itu setelah tiba di rumah. Yang benar saja? Aku rasa memang sudah tidak waras laki-laki tua itu. Aku tidak menggubrisnya. Aku memilih bersantai dengan menikmati sore hari tadi di pinggir kolam renang. Entah bagaimana nasib belanjaan itu sekarang. Di tengah-tengah lelapnya tidur, tenggorokan terasa seret. Aku harus minum hingga tidurku pun terbangun. Aku masih lupa menyediakan gelas minum, karena itu semuanya biasanya disiapkan pembantu saat masih tinggal di rumah Mama dan Papa. Meski malas, aku tetap bangun. Mataku rasa

    Last Updated : 2024-10-15

Latest chapter

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Hanya Ada Rasa Nyaman

    Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap langit yang mulai meredup. Senja berganti malam dengan begitu cepat, seperti perasaanku yang tiba-tiba jadi berantakan.Sejak tadi, Bang Fahad sibuk berbicara dengan dokter dan perawat di luar ruangan. Aku bisa mendengar suaranya samar-samar, memastikan semua kebutuhan perawatanku akan terpenuhi. Sementara itu, Mama dan Papa baru saja meninggalkan kamar setelah memastikan aku baik-baik saja—setidaknya, secara fisik.Aku menghela napas, menatap kakiku yang masih terbungkus gips. Rasanya berat, lebih dari sekadar rasa nyeri yang menjalar. Aku tidak hanya kehilangan kebebasan bergerak, tapi juga harus menerima kenyataan bahwa mulai hari ini, aku akan sepenuhnya berada dalam pengawasan Bang Fahad.Apa ini hukuman buatku?Aku mengeratkan jemariku di atas selimut.Sebelumnya, aku ingin dia merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku alami. Aku ingin dia tersiksa, ingin dia tahu rasanya dia

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Semakin Rumit

    Samar-samar, aku bisa mendengar suara bising di sekeliling. Bau obat-obatan menyeruak mengganggu indera penciuman, bercampur dengan suara langkah kaki yang mondar-mandir. Kelopak mataku terasa berat, tapi akhirnya berhasil terbuka.Aku menatap langit-langit putih di atas kepala. Rasanya asing. Butuh beberapa detik sebelum aku menyadari bahwa aku sedang berada di sebuah ruangan rumah sakit.Mataku mengerjap, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum semuanya menjadi gelap. Perampokan. Tendangan. Rasa sakit yang menjalar di kaki. Aku menggigit bibir, dan saat itulah aku meringis, merasakan nyeri menusuk di bagian wajah."Chiara?"Aku menoleh, menemukan Bang Fahad duduk di samping ranjang. Wajahnya tampak tegang dan sorot mata penuh kecemasan."Kamu sudah sadar?" tanyanya terdengar begitu khawatir.Aku menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan menghindari bertatapan dengannya. Aku bahkan tidak tahu ba

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Tidak Boleh Terpengaruh

    Sepanjang hari itu, aku memilih untuk tetap berada di dalam kamar meski tidak banyak yang bisa aku lakukan selain tidur dan bermain ponsel. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dari keberadaan Bang Fahad. Tapi tetap saja, ada bagian dari pikiranku yang terus bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan.Sampai akhirnya, menjelang malam, aku keluar untuk mengambil air di dapur. Namun, langkahku terhenti ketika melihat Bang Fahad duduk di ruang tengah, dengan segelas air di tangannya. Matanya tampak kosong, menatap lurus ke depan seakan pikirannya berada entah di mana.Aku tidak berniat menyapa, tapi ketika aku berbalik untuk kembali ke kamar, suaranya lantas terdengar."Kamu mau pergi ke mana besok?" tanyanya, membuatku mengerutkan kening.Aku lantas menoleh. "Maksudmu?"Bang Fahad menghela napas sebelum menoleh ke arahku. "Besok akhir pekan. Saya hanya ingin tahu apakah kamu punya rencana pergi ke luar?"Aku menatapnya curiga. "Kenapa? Mau ikut?"Dia menggeleng. "Tidak. Saya hanya ingin m

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Dia Harus Tahu

    Aku bisa merasakan genggaman tangannya yang mengerat, seolah tidak ingin melepaskanku. Sorot matanya yang penuh harapan kini berganti rasa penasaran, terhantam oleh kata-kataku yang dingin."Chi, jangan begini. Saya tidak mau pisah ranjang. Kita baru saja memulai hubungan ini lagi, dan kamu——"Aku menarik tanganku yang ia cekal, lalu mengangkatnya hingga ia berhenti bicara."Aku sudah bilang, jangan memaksa. Dan ini menjadi kesepakatan kita!" ucapku tegas.Aku menatapnya tanpa ekspresi, membiarkan tatapannya menusuk hatiku, tapi aku menolak untuk menunjukkan kelemahanku. "Kamu yang sudah memilih jalan ini, Bang. Kamu yang meminta kesempatan ini, bukan? Aku hanya memastikan kamu menikmati akibatnya." Seringai tipis pun kutunjukkan untuknya.Bang Fahad tampa terdiam, membuatku akhirnya melangkah menuju pintu untuk ke luar. Namun, baru saja aku menyentuh kenop pintu, suara beratnya kembali menahan langkah ini

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Selamat Datang

    Hari-hari berlalu, aku masih belum bertemu lagi dengan Bang Fahad.Aku sengaja menghindarinya, belum siap untuk menghadapi perasaanku sendiri, apalagi melihatnya berusaha mendekatiku lagi. Tapi meskipun aku tidak menemuinya, keberadaannya tetap terasa.Ada bunga yang dikirimkan ke rumah, meskipun aku tidak pernah menyentuhnya. Ada pesan yang dikirim ke ponselku, meskipun aku tidak pernah membalasnya. Ada kehadiran yang selalu mengintai, meskipun aku berpura-pura tidak melihatnya.Dan yang paling membuatku gelisah adalah … aku tidak bisa mengabaikan perasaan ini.Rasa rindu yang terkubur dalam-dalam, perlahan mulai muncul ke permukaan.Aku membencinya. Aku membenci diriku sendiri karena membiarkan perasaan ini tumbuh kembali.Tapi apa aku bisa membohongi hati sendiri?Aku pikir dengan menghindarinya, aku bisa mengubur segala perasaan yang mulai merayap diam-diam ke dalam hatiku. Tapi ken

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Sisi Lain dalam Diri

    Permintaannya berhasil membuat tubuhku membeku, seolah-olah waktu berhenti begitu saja. Aku terpaku di tempat, menatap Bang Fahad yang duduk di kursi roda dengan ekspresi tenang. Seakan-akan ia baru saja mengatakan hal yang sepele, padahal ucapannya barusan adalah sesuatu yang benar-benar di luar dugaan.Mama dan Papa pun terdiam. Aku bisa melihat bagaimana wajah Papa mengeras, sedangkan Mama terperangah, jelas tidak menyangka permintaan itu akan muncul detik ini yang dirasa begitu cepat.Bagaimana dengan aku?Aku bahkan tidak tahu harus merespons bagaimana."Kamu baru saja meminta maaf. Baru saja kita bicara tentang menyudahi semua ini. Baru saja kita, ah bukan kita, tapi hanya Papa dan Mama yang mau berdamai, seakan tidak terjadi apa-apa pada kita di masa lalu. Dan sekarang, kamu bilang ingin menikahiku lagi? Secepat ini?" cecarku dengan menunjukkan raut ketidaksukaan.Bang Fahad menatapku lekat-lekat. "Saya tidak ingin memendamnya lebih lama, bahkan mungkin terdengar tidak masuk a

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Permintaan Gila

    Papa mengusap punggungku dengan lembut berulangkali. Membiarkan menangis sampai isakanku mereda perlahan. "Papa tahu kepergian Althaf menjadi pukulan berat buat kamu, tapi papa dan Mama ada di sini buat kamu. Jangan ragu untuk menceritakan apapun pada kami, Chi. Kamu tetap putri papa dan Mama, apapun yang terjadi, Nak."Aku mengeratkan pelukan pada Papa. Semakin menyadari, bahwa saat seisi dunia menjauh, ada Papa dan Mama yang siap bertarung nyawa demi hidupku. Saat ini pula, aku menyesal dan mengutuk perbuatanku sendiri."Aku minta maaf, Pa. Maaf ...." Hanya itu yang bisa kukatakan. Entah bagaimana membalas kasih sayang dan pengorbanan Papa juga Mama selama ini."Tidak perlu minta maaf, Nak. Papa hanya minta, jangan sembunyikan apapun lagi dari kami," ujar Papa sambil terus mengusap kepalaku.Aku pun hanya bisa mengangguk. Berjanji tidak akan mengulang kesalahan dan kebodohan ini lagi.Aku masih da

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Tidak Ada Artinya Lagi

    "Engg——""Iya, Tante, Om. Satu Minggu yang lalu, Chiara keluar dari sebuah klub jam sebelas malam. Dia diganggu laki-laki asing dan mungkin hendak dibawa paksa. Saya berusaha menolongnya, tapi Chiara malah menuduh kalau saya yang menyuruh laki-laki asing itu untuk mengganggunya. Saya memang selalu mengikuti Chiara diam-diam, karena saya peduli dan ingin memastikan keadaannya baik-baik saja."Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Tidak menyangka Bang Fahad malah membeberkan perbuatanku. Benar-benar sialan."Apa benar itu, Chi?" tanya Papa, nada suaranya terdengar dingin.Aku diam, tak memberi respon dan reaksi apapun. Aku merasa tidak siap untuk jujur. Mama dan Papa pasti akan sangat marah jika tahu yang sebenarnya."Diam artinya, iya. Jadi, kamu sudah berbohong pada mama malam itu, Chi?" Kali ini Mama yang mendesak.Aku masih tidak bereaksi. Hanya menunduk sambil meremas tangan."Maaf Om, Tante. Chiara mungkin tidak mau mengakui, kalau begitu biar saya yang mengatakannya. Saya mendapati

  • DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU   Entah Kebetulan atau Hanya Skenario

    Aku menggigit bibir, menahan kepanikan yang menggelegak dalam dada. Tanganku terus menekan sisi perut Bang Fahad, berusaha mengurangi pendarahan. "Pa, cepat! Kita harus segera sampai!" Mobil melaju kencang membelah jalanan sepi dini hari. Mama menangis tertahan di sampingku, menggenggam tangan Bang Fahad yang kini dingin. "Fahad, bertahanlah. Tolong bertahan!" isak Mama, seolah ketakutan akan kehilangan seseorang lagi setelah Mas Althaf pergi untuk selamanya. Aku menatap wajah Bang Fahad yang semakin pucat. Perasaan aneh berkecamuk dalam dadaku. Harusnya aku tidak peduli. Harusnya aku membiarkan dia mati karena kehabisan darah. Tapi saat ini, melihatnya dalam keadaan seperti ini, jujur saja aku merasa sesak. Aku kasihan padanya. Tidak tega. Apa kebencianku hanya setengah hati? Apa aku tidak benar-benar membencinya? Mobil akhirnya berhenti dengan rem mendadak di depan rumah sakit. Papa tampak buru-buru keluar untuk meminta bantuan. Dalam hitungan detik, beberapa petugas medi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status