(10) Rasa Sakit yang Nyata Aku tidur lebih awal. Sepulang meeting siang tadi, Bang Fahad benar-benar memberiku tugas untuk berbelanja. Dia memintaku memenuhi catatan yang sudah dibuatnya. Hingga badanku rasanya pegal karena harus berkeliling swalayan besar. Karena itu menjadi hal pertama bagiku, tentu saja aku lambat melakukannya. Sehingga berbelanja baru selesai saat sore tadi. Gilanya lagi, Bang Fahad juga memintaku membereskan barang belanja yang begitu banyak itu setelah tiba di rumah. Yang benar saja? Aku rasa memang sudah tidak waras laki-laki tua itu. Aku tidak menggubrisnya. Aku memilih bersantai dengan menikmati sore hari tadi di pinggir kolam renang. Entah bagaimana nasib belanjaan itu sekarang. Di tengah-tengah lelapnya tidur, tenggorokan terasa seret. Aku harus minum hingga tidurku pun terbangun. Aku masih lupa menyediakan gelas minum, karena itu semuanya biasanya disiapkan pembantu saat masih tinggal di rumah Mama dan Papa. Meski malas, aku tetap bangun. Mataku rasa
Aku mengerjapkan mata sampai akhirnya terbuka sempurna. Keningku mengernyit, begitu menyadari hal yang pertama kulihat adalah langit-langit kamar. Aku lantas mengedarkan pandangan dan ternyata aku memang berada di kamar, terbaring di atas kasur lalu secepatnya aku pun duduk.Kupejamkan kembali kedua netraku. Mengingat hal terakhir yang aku yakini, bahwa semalam aku tidak tidur di sini. Aku mengurung diri di dalam kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya di sana, sampai aku merasa lelah serta mengantuk dan membiarkan diriku tertidur di sana. Iya, aku ingat sekali. Kenapa sekarang aku ada di sini?Apa jangan-jangan, Bang Fahad yang sudah memindahkan?Kalau iya, kenapa bisa-bisanya aku tidak sadar? Bagaimana kalau dia sudah macam-macam saat aku tertidur?Oh, shit!Aku meraba-raba pakaian yang memang masih melekat sempurna di badan. Tidak ada yang aneh, tapi siapa juga yang tahu 'kan?Aku menggaruk kepal
"Raka ...." Aku menyeru namanya dengan suara terdengar lemah.Tangan Rakana masih mencekal lenganku begitu erat. Dia juga melayangkan tatapan tajam yang sedetik kemudian berubah menjadi tatapan memelas."Pasti kamu 'kan yang udah bicara sama Bang Fahad, supaya dia mengusir aku dan Faula dari sini?" tuduhnya tanpa tedeng aling-aling.Keningku sontak melipat, menatap lelaki itu dengan mata memicing. "Maksud kamu apa?!" Suaraku terdengar meninggi. Tidak terima dengan tuduhannya.Rakana mendecak. "Semalam, pasti kamu mendengar pembicaraan aku sama Faula 'kan? Entah kamu juga melihat atau enggak saat aku menenangkan Faula dengan memeluknya. Aku yakin, kamu pasti cemburu. Aku yakin sekali, kamu gak terima karena aku menenangkan dia seperti itu. Terus, kamu laporan sama Bang Fahad. Kamu bicara sama dia supaya dia mengusir aku pagi ini dari sini. Iya kan? Kenapa, Chi? Kenapa kamu tega? Papa dan Mamaku sudah mengusir aku dari rumah. Ter
Branggg!"Astaga ... malah pecah," gumamku saat tidak sengaja menjatuhkan piring. Aku bermaksud menaruhnya pada rak pengering di sebelah kiri, tapi entah kenapa malah licin dan akhirnya jatuh dari tanganku. Buru-buru aku mencuci tangan yang penuh buih sabun hingga bersih lalu mengeringkannya. Kemudian berjongkok untuk mengumpulkan pecahan beling yang berserakan di lantai dapur ini. "Stop!"Sebuah suara mengejutkan dan menahan gerakan tanganku yang sudah bersiap menyentuh pecahan-pecahan piring itu. Aku menoleh dan tampak Bang Fahad berjalan ke arahku."Tadi keiris pisau sekarang kamu pecahkan piring? Ya Tuhan ... kamu benar-benar tidak pernah ke dapur?" tanyanya yang langsung membuatku menggelengkan kepala.Terdengar Bang Fahad menarik napasnya dalam-dalam. "Kamu mau membereskan pecahan piring ini dengan tangan kosong?" tanyanya lagi dan aku mengangguk kali ini.Bang Fahad mengembus napas kasar. "En
(14)Aku lari terbirit-birit sampai keluar dari kamar."Ada apa?" Bang Fahad datang dari arah dapur.Aku menunjuk ke arah kamar yang pintunya terbuka lebar. "I—itu ... ada nomer gak dikenal yang kirim video ke nomerku," jawabku terbata. Aku masih sangat kaget."Video apa?" tanya Bang Fahad dengan suara datarnya.Aku menggeleng lemah. "Video menjijikkan. Aku gak mau lihat lagi. Abang bantu aku hapus videonya. Aku mau ke dapur!" tukasku kemudian berlari cepat menuju dapur.Duduk di kursi makan lalu menuangkan air. Meneguknya hingga membasahi tenggorokan. Aku mengatur napas yang terengah-engah dengan tatapan lurus pada meja makan ini."Kamu ingin saya menghapus video ini?" tanya Bang Fahad sambil memperlihatkan layar ponselku. Sialnya dia malah menunjukkan tangkapan awal dari video tadi. Membuatku refleks menutup wajah dengan kedua tangan."Ngapain diliatin lagi sih, Bang? Jijik tahu!
Aku mengerjapkan mata dengan cepat. Setelah terbuka, keadaan tampak hanya temaram. Aku mencoba memandangi sekeliling. Ada dua lampu senter menyala di atas meja. Menggerakkan kepalaku hingga menoleh. Dan ternyata ... aku tidur di atas paha Bang Fahad. Pelan-pelan aku lantas bangkit hingga terduduk menghadap pada Bang Fahad. Menatapnya yang tertidur dalam posisi duduk.Aku menatap sekeliling yang masih gelap. Apalagi bagian dalam rumah Bang Fahad. Hanya ruangan ini yang memiliki penerangan, itupun hanya berasal dari dua buah senter di depan kami.Aku memiliki trauma dengan kegelapan dan kesendirian. Melihat ada Bang Fahad denganku, setidaknya aku tidak perlu merasa cemas.Aku meraba-raba ke atas meja. Mengambil ponsel milikku yang ternyata malah tidak aktif. Kemungkinan baterainya habis. Lekas aku mengambil ponsel milik Bang Fahad dan menyalakan layarnya, melihat jam digital yang menunjukkan pukul satu dini hari.Aku mengembus na
Mataku membulat menatap Bang Fahad dengan tak percaya. Aku menarik tanganku cepat sampai terlepas. "Gak mau! Aku gak mau kerja di kantor milik Abang. Seenaknya aja Abang bikin aku diberhentikan dari kantor itu. Nyebelin!" sungutku seraya bangkit dari sofa.Bang Fahad mengangkat kedua bahunya. "Ya terserah kamu. Kalau tidak mau, saya tidak memaksa. Artinya, kamu akan menghabiskan waktu seharian di rumah selama saya bekerja.""Lebih baik seperti itu!" selaku cepat.Kepala Bang Fahad terangguk. "Silakan. Tapi mulai hari ini, akan ada penjaga rumah yang bekerja di pos depan. Menjaga rumah ini dan memantau pergerakan kamu juga."Mataku membeliak dan menatapnya sangat kesal. "Bisa gak sih, sekali aja gak bikin orang naik darah? Kok ada orang nyebelin dan ngeselin kek Abang?!" Aku menghentakkan kaki ke lantai. Meluapkan rasa kesal pada lelaki tua ini.Dia pun seketika berdiri. "Semua tergantung kamu," tukasnya sebelum pe
******* Hari pertama bekerja, aku benar-benar dibuat kebingungan. Ternyata perusahaan bang Fahad bergerak di bidang grafis. Melenceng jauh dari pekerjaanku sebelumnya yang berkutat di bidang akuntansi. Hari pertama bekerja sebagai asisten pribadi, aku hanya diminta mempelajari beberapa file berisi data-data yang tidak kupahami sama sekali. Sampai jam pulang tiba, aku tidak mengerjakan apa-apa. Hanya mempelajari file yang sebelumnya Bang Fahad berikan. Tapi itu lebih baik, karena Bang Fahad fokus di meja kerjanya hingga tidak berisik menggangguku. Tapi di hari pertama masuk di kantornya, Bang Fahad sudah menerapkan lembur. Saat kembali ke rumah, benar saja sudah ada seorang penjaga yang mengisi di pos depan. Di dalam rumah, aku langsung menjatuhkan tubuh di sofa panjang ruangan televisi. Meredakan lelah yang terasa membalut sekujur tubuh ini. Jam dinding di ruangan ini menunjukkan di angka delapan. Benar-benar hari yang terasa melelahkan. Bang Fahad datang dari arah dapur masih men
Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap langit yang mulai meredup. Senja berganti malam dengan begitu cepat, seperti perasaanku yang tiba-tiba jadi berantakan.Sejak tadi, Bang Fahad sibuk berbicara dengan dokter dan perawat di luar ruangan. Aku bisa mendengar suaranya samar-samar, memastikan semua kebutuhan perawatanku akan terpenuhi. Sementara itu, Mama dan Papa baru saja meninggalkan kamar setelah memastikan aku baik-baik saja—setidaknya, secara fisik.Aku menghela napas, menatap kakiku yang masih terbungkus gips. Rasanya berat, lebih dari sekadar rasa nyeri yang menjalar. Aku tidak hanya kehilangan kebebasan bergerak, tapi juga harus menerima kenyataan bahwa mulai hari ini, aku akan sepenuhnya berada dalam pengawasan Bang Fahad.Apa ini hukuman buatku?Aku mengeratkan jemariku di atas selimut.Sebelumnya, aku ingin dia merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku alami. Aku ingin dia tersiksa, ingin dia tahu rasanya dia
Samar-samar, aku bisa mendengar suara bising di sekeliling. Bau obat-obatan menyeruak mengganggu indera penciuman, bercampur dengan suara langkah kaki yang mondar-mandir. Kelopak mataku terasa berat, tapi akhirnya berhasil terbuka.Aku menatap langit-langit putih di atas kepala. Rasanya asing. Butuh beberapa detik sebelum aku menyadari bahwa aku sedang berada di sebuah ruangan rumah sakit.Mataku mengerjap, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum semuanya menjadi gelap. Perampokan. Tendangan. Rasa sakit yang menjalar di kaki. Aku menggigit bibir, dan saat itulah aku meringis, merasakan nyeri menusuk di bagian wajah."Chiara?"Aku menoleh, menemukan Bang Fahad duduk di samping ranjang. Wajahnya tampak tegang dan sorot mata penuh kecemasan."Kamu sudah sadar?" tanyanya terdengar begitu khawatir.Aku menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan menghindari bertatapan dengannya. Aku bahkan tidak tahu ba
Sepanjang hari itu, aku memilih untuk tetap berada di dalam kamar meski tidak banyak yang bisa aku lakukan selain tidur dan bermain ponsel. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dari keberadaan Bang Fahad. Tapi tetap saja, ada bagian dari pikiranku yang terus bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan.Sampai akhirnya, menjelang malam, aku keluar untuk mengambil air di dapur. Namun, langkahku terhenti ketika melihat Bang Fahad duduk di ruang tengah, dengan segelas air di tangannya. Matanya tampak kosong, menatap lurus ke depan seakan pikirannya berada entah di mana.Aku tidak berniat menyapa, tapi ketika aku berbalik untuk kembali ke kamar, suaranya lantas terdengar."Kamu mau pergi ke mana besok?" tanyanya, membuatku mengerutkan kening.Aku lantas menoleh. "Maksudmu?"Bang Fahad menghela napas sebelum menoleh ke arahku. "Besok akhir pekan. Saya hanya ingin tahu apakah kamu punya rencana pergi ke luar?"Aku menatapnya curiga. "Kenapa? Mau ikut?"Dia menggeleng. "Tidak. Saya hanya ingin m
Aku bisa merasakan genggaman tangannya yang mengerat, seolah tidak ingin melepaskanku. Sorot matanya yang penuh harapan kini berganti rasa penasaran, terhantam oleh kata-kataku yang dingin."Chi, jangan begini. Saya tidak mau pisah ranjang. Kita baru saja memulai hubungan ini lagi, dan kamu——"Aku menarik tanganku yang ia cekal, lalu mengangkatnya hingga ia berhenti bicara."Aku sudah bilang, jangan memaksa. Dan ini menjadi kesepakatan kita!" ucapku tegas.Aku menatapnya tanpa ekspresi, membiarkan tatapannya menusuk hatiku, tapi aku menolak untuk menunjukkan kelemahanku. "Kamu yang sudah memilih jalan ini, Bang. Kamu yang meminta kesempatan ini, bukan? Aku hanya memastikan kamu menikmati akibatnya." Seringai tipis pun kutunjukkan untuknya.Bang Fahad tampa terdiam, membuatku akhirnya melangkah menuju pintu untuk ke luar. Namun, baru saja aku menyentuh kenop pintu, suara beratnya kembali menahan langkah ini
Hari-hari berlalu, aku masih belum bertemu lagi dengan Bang Fahad.Aku sengaja menghindarinya, belum siap untuk menghadapi perasaanku sendiri, apalagi melihatnya berusaha mendekatiku lagi. Tapi meskipun aku tidak menemuinya, keberadaannya tetap terasa.Ada bunga yang dikirimkan ke rumah, meskipun aku tidak pernah menyentuhnya. Ada pesan yang dikirim ke ponselku, meskipun aku tidak pernah membalasnya. Ada kehadiran yang selalu mengintai, meskipun aku berpura-pura tidak melihatnya.Dan yang paling membuatku gelisah adalah … aku tidak bisa mengabaikan perasaan ini.Rasa rindu yang terkubur dalam-dalam, perlahan mulai muncul ke permukaan.Aku membencinya. Aku membenci diriku sendiri karena membiarkan perasaan ini tumbuh kembali.Tapi apa aku bisa membohongi hati sendiri?Aku pikir dengan menghindarinya, aku bisa mengubur segala perasaan yang mulai merayap diam-diam ke dalam hatiku. Tapi ken
Permintaannya berhasil membuat tubuhku membeku, seolah-olah waktu berhenti begitu saja. Aku terpaku di tempat, menatap Bang Fahad yang duduk di kursi roda dengan ekspresi tenang. Seakan-akan ia baru saja mengatakan hal yang sepele, padahal ucapannya barusan adalah sesuatu yang benar-benar di luar dugaan.Mama dan Papa pun terdiam. Aku bisa melihat bagaimana wajah Papa mengeras, sedangkan Mama terperangah, jelas tidak menyangka permintaan itu akan muncul detik ini yang dirasa begitu cepat.Bagaimana dengan aku?Aku bahkan tidak tahu harus merespons bagaimana."Kamu baru saja meminta maaf. Baru saja kita bicara tentang menyudahi semua ini. Baru saja kita, ah bukan kita, tapi hanya Papa dan Mama yang mau berdamai, seakan tidak terjadi apa-apa pada kita di masa lalu. Dan sekarang, kamu bilang ingin menikahiku lagi? Secepat ini?" cecarku dengan menunjukkan raut ketidaksukaan.Bang Fahad menatapku lekat-lekat. "Saya tidak ingin memendamnya lebih lama, bahkan mungkin terdengar tidak masuk a
Papa mengusap punggungku dengan lembut berulangkali. Membiarkan menangis sampai isakanku mereda perlahan. "Papa tahu kepergian Althaf menjadi pukulan berat buat kamu, tapi papa dan Mama ada di sini buat kamu. Jangan ragu untuk menceritakan apapun pada kami, Chi. Kamu tetap putri papa dan Mama, apapun yang terjadi, Nak."Aku mengeratkan pelukan pada Papa. Semakin menyadari, bahwa saat seisi dunia menjauh, ada Papa dan Mama yang siap bertarung nyawa demi hidupku. Saat ini pula, aku menyesal dan mengutuk perbuatanku sendiri."Aku minta maaf, Pa. Maaf ...." Hanya itu yang bisa kukatakan. Entah bagaimana membalas kasih sayang dan pengorbanan Papa juga Mama selama ini."Tidak perlu minta maaf, Nak. Papa hanya minta, jangan sembunyikan apapun lagi dari kami," ujar Papa sambil terus mengusap kepalaku.Aku pun hanya bisa mengangguk. Berjanji tidak akan mengulang kesalahan dan kebodohan ini lagi.Aku masih da
"Engg——""Iya, Tante, Om. Satu Minggu yang lalu, Chiara keluar dari sebuah klub jam sebelas malam. Dia diganggu laki-laki asing dan mungkin hendak dibawa paksa. Saya berusaha menolongnya, tapi Chiara malah menuduh kalau saya yang menyuruh laki-laki asing itu untuk mengganggunya. Saya memang selalu mengikuti Chiara diam-diam, karena saya peduli dan ingin memastikan keadaannya baik-baik saja."Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Tidak menyangka Bang Fahad malah membeberkan perbuatanku. Benar-benar sialan."Apa benar itu, Chi?" tanya Papa, nada suaranya terdengar dingin.Aku diam, tak memberi respon dan reaksi apapun. Aku merasa tidak siap untuk jujur. Mama dan Papa pasti akan sangat marah jika tahu yang sebenarnya."Diam artinya, iya. Jadi, kamu sudah berbohong pada mama malam itu, Chi?" Kali ini Mama yang mendesak.Aku masih tidak bereaksi. Hanya menunduk sambil meremas tangan."Maaf Om, Tante. Chiara mungkin tidak mau mengakui, kalau begitu biar saya yang mengatakannya. Saya mendapati
Aku menggigit bibir, menahan kepanikan yang menggelegak dalam dada. Tanganku terus menekan sisi perut Bang Fahad, berusaha mengurangi pendarahan. "Pa, cepat! Kita harus segera sampai!" Mobil melaju kencang membelah jalanan sepi dini hari. Mama menangis tertahan di sampingku, menggenggam tangan Bang Fahad yang kini dingin. "Fahad, bertahanlah. Tolong bertahan!" isak Mama, seolah ketakutan akan kehilangan seseorang lagi setelah Mas Althaf pergi untuk selamanya. Aku menatap wajah Bang Fahad yang semakin pucat. Perasaan aneh berkecamuk dalam dadaku. Harusnya aku tidak peduli. Harusnya aku membiarkan dia mati karena kehabisan darah. Tapi saat ini, melihatnya dalam keadaan seperti ini, jujur saja aku merasa sesak. Aku kasihan padanya. Tidak tega. Apa kebencianku hanya setengah hati? Apa aku tidak benar-benar membencinya? Mobil akhirnya berhenti dengan rem mendadak di depan rumah sakit. Papa tampak buru-buru keluar untuk meminta bantuan. Dalam hitungan detik, beberapa petugas medi