Aku termenung. Kepala menunduk menatap sandal selop bulu yang membungkus kaki. Duduk sendirian di ujung tempat tidur entah sudah berapa lama.
Pesta selesai pukul lima sore tadi, lepas itu keluarga lantas berunding, dan keputusan finalnya ialah Bang Fahad memboyongku ke rumah miliknya satu jam kemudian. Papa dan Mama tentu tidak bisa menolak atau menghalangi, karena sekarang aku sudah menjadi istri orang. Kewajiban keduanya sudah selesai. Setibanya di rumah Bang Fahad, ia langsung menunjukkan kamar utama yang akan menjadi kamar kami katanya. Kamar utama ini didominasi warna putih dengan barang-barang berwarna hitam. Hingga perlahan kepalaku mendongak, kemudian menoleh ke belakang dan menatap jam weker di atas nakas yang sudah menunjuk di angka tujuh. Aku masih tidak tahu harus berbuat apa. Andai pernikahanku dan Rakana tidak batal, sudah tentu aku akan serumah dengannya. Melayaninya sebagai suami, seperti yang selalu aku bayangkan sebelum-sebelumnya. Apalagi di luar sedang diguyur hujan. Air turun dari langit seperti ditumpahkan sejak tadi hingga kini belum reda. Seharusnya, menjadi moment yang sangat tepat untuk sepasang pengantin baru bukan? Aku tidak bisa menghindari, saat bayangan tentang Rakana hadir begitu saja. Kami tinggal serumah dan memulai malam pengantin kami lebih awal. Akh, hatiku kembali berdenyut dan itu terasa nyeri. Luka ini kembali tercabik-cabik rasanya. Krieeet! Pintu kamar berderit. Kontan aku menoleh dan Bang Fahad muncul dari balik pintu. Dia masuk dengan baju piyama warna putih lengan pendek. Wajahnya terlihat begitu bercahaya. Kedua alisnya tebal dengan hidung yang bangir. Sejenak kami beradu tatap, sebelum cepat aku memutus dengan menundukkan kepala. "Sudah puas melamun?" tanyanya membuatku mendongak. Ternyata, dia sudah berdiri di hadapanku. "Si—siapa yang melamun?" sanggahku cepat. "Keluar. Saya tunggu di meja makan. Jangan sampai kamu sakit dan orang tuamu mengira saya sudah menelantarkan anak perempuannya!" tegasnya sebelum berlalu keluar dari kamar. Meninggalkanku yang kebingungan. Refleks tanganku mengarah ke belakang leher dan menggaruk tipis tengkuk. Pelan aku pun bangkit dan berjalan keluar. Menyusul Bang Fahad yang sudah mengisi kursi makan. Aku mendekat dan ragu-ragu menghempas bobotku. Bang Fahad tampak menyiapkan piring makan hingga tersaji di hadapannya. Sementara aku masih diam. Sampai ia menatapku cukup tajam, tanpa suara tapi tangannya bergerak. Membalik piring putih di hadapanku. Mencentongkan nasi lalu mengisinya lauk. "Makan! Kalau mau melamun, lakukan itu setelah makan. Biar bertenaga dan kuat melamun sampai pagi!" sindirnya yang kemudian melanjutkan menyuap. Aku cemberut mendengarnya. Aku pun memulai makan malam dengan perasaan entah. Selang beberapa menit, Bang Fahad sudah menyelesaikan makanannya. Tampak ia membersihkan sekitar mulut dengan tisu. "Ini makanan terakhir yang dimasak pembantu di sini. Selesai makan, kamu bereskan mejanya. Setelah itu, buatkan kopi hitam dan antar ke kamar!" titahnya membuatku refleks tersedak. Terbatuk sampai akhirnya aku meneguk segelas air untuk melegakan tenggorokan. "Jadi di sini gak ada pembantu?" tanyaku kaget. Bang Fahad menggeleng. "Sekarang tidak ada. Tadi siang saya memberinya pesangon. Dan sekarang, rumah ini tidak punya lagi ART. Kamu yang bertanggungjawab mengurus rumah saya!" Aku menelan saliva. "E ...." "Selesaikan makanmu. Bicara kalau makanmu sudah selesai!" tukasnya cepat. Ia sudah bangkit dan meninggalkan meja makan. Aku menghela napas kasar. Tangan menggebrak meja dengan perasaan kesal. Mimpi apa aku menikah dengan lelaki sepertinya, Ya Tuhan? Aku mendesah lalu menghabiskan makan malamku. Setelah selesai, kubereskan meja makan bundar ini. Membawa piring-piring kotor ke bak wastafel dan menutup makanan yang tersisa. Seperti titahnya, aku diminta membuatkannya kopi hitam. Masalahnya, selama ini aku tidak pernah turun ke dapur. Di rumah Mama dan Papa, aku dilayani pembantu. Bahkan saat bersama Rakana, aku dan ia sudah sepakat akan menyewa pembantu di rumah kami. Karena dia tahu, aku tidak pernah mengurus rumah. Gila saja sekarang aku harus melayani orang asing seperti Bang Fahad. Gelas kosong sudah siap. Aku mencari-cari toples kopi dan gula putihnya. Dengan pengetahuan terbatas karena baru pertama kalinya masuk ke dapur ini, aku pun menemukannya. Menuangkan beberapa sendok kopi hitam serta gula putihnya, kemudian menyeduh dengan air hangat dari dispenser. Begitu diaduk, wangi kopinya tercium di hidungku. Warnanya juga hitam pekat. Cepat aku membawanya ke kamar utama. Bang Fahad sudah duduk di tepi kasur. Bersandar pada headboard-nya dengan buku di tangan. Entah buku apa yang sedang ia baca, tapi ia terlihat begitu serius membaca di sana. Aku meneruskan langkah lalu menaruh gelas yang kubawa di meja nakas. Bertepatan dengan Bang Fahad yang menutup bukunya kemudian melihatku. "Ini kopinya, Bang," kataku. "Apa? Bang? Barusan kamu panggil apa? Bang? Kamu panggil saya Bang?" tanyanya kemudian dan aku hanya mengangguk mengiyakan. "Kamu pikir saya Abang pedagang bakso?" Aku menggeleng. "Bu—bukan. Usia Abang kan jauh di atasku. Ja—di aku panggil Abang," jelasku padanya. Terdengar ia justru mendecih. "Panggil saya, Mas! Sejak kapan juga saya jadi Abangmu?" Aku hanya melongo dengan ucapannya. Geli sekali rasanya aku harus memanggil dia Mas. Aku tidak bersuara lagi. Masih berdiri mematung di dekat meja nakas tanpa tahu harus berbuat apa. Ah, rasanya kaku dan kikuk sekali hidup bersama orang asing begini. Byurrrr! "FIUHHHH!" Aku tersentak saat Bang Fahad menyemburkan kopi yang baru ia seruput. Bahkan cairan hitam itu mengotori sprei putih yang membungkus tempat tidur. "Saya minta dibuatkan kopi, kenapa yang datang jamu brotowali?" Bang Fahad bertanya sambil menatapku lekat. "Ya—ya, itu kopi, Ba—em, Mas. Itu kopi, bukan jamu!" Terdengar ia mendecih dan melihatku dengan tatapan seperti mengejek. "Kamu tidak bisa membuat kopi, ya?" Aku menggeleng. Jujur. "Di rumah tidak ada yang suka kopi. Jadi, aku tidak pernah membuatkan kopi untuk siapapun." "Sudah saya duga. Gadis manja seperti kamu, tidak akan bisa melayani suaminya dengan baik. Biar saya tebak, kamu cuma bisa menghabiskan waktu untuk berpacaran dan haha hihi saja 'kan?" Kupingku memanas mendengarnya berkata demikian. "Jangan asal bicara, ya?!" Bang Fahad justru terkekeh. Dia turun dari tempat tidur hingga berdiri berhadapan denganku. "Saya gak asal bicara. Itu fakta. Berapa lama kamu berpacaran dengan Raka, hmm? Tujuh tahun 'kan? Dapat apa kamu pacaran selama itu dengan dia? Satu rumah? Satu mobil atau motor? Apa? Tujuh tahun orang lain gunakan untuk menyelesaikan pendidikan hingga mendapat gelar S2. Ambil cicilan rumah atau cicilan mobil. Kalau motor, mungkin sudah dapat dua unit. Terus kamu, apa yang kamu dapatkan dari waktu tujuh tahun bersama Rakana itu?" cecarnya membuatku merasa tersudut. Dagu Bang Fahad terangkat dan menatapku tajam. "Selama tujuh tahun itu, bagian tubuh mana yang sudah kamu berikan cuma-cuma untuk Rakana?" Mataku membulat mendengarnya. Sungguh, dia sudah merendahkanku. "Tutup mulut Anda. Aku memang berpacaran selama itu dengan Rakana, tapi aku tidak semurahan itu! Tubuhku masih perawan dan tersegel!" Aku benar-benar murka pada lelaki yang sialannya adalah suamiku. Bang Fahad tertawa. Tawa meledek dengan wajah terlihat menyebalkan itu. "Siapa bisa menjamin? Tujuh tahun bukan waktu sebentar. Kamu juga sering sekali ke rumah kami. Papa di kantor, Mama di ruangan televisi atau pergi arisan, saya di ruang baca dan kamu dengan Raka di lantai atas. Tidak mungkin kalian tidak berbuat apa-apa!" Aku benar-benar geram. Harga diri rasanya terkoyak. Apa orang berpacaran selalu identik dengan hal yang tidak-tidak? "Aku dan Rakana tidak pernah berbuat apa-apa! Aku tidak pernah disentuh Rakana lebih dari sekedar berpegangan tangan! Aku bisa menjaga diri! Aku ini masih suci! Jangan asal bicara!" Aku berteriak sambil memukuli dada Bang Fahad dengan tangan terkepal. Tidak peduli apa yang kulakukan. Yang jelas aku merasa marah. Sangat marah karena Bang Fahad sudah memandangku begitu rendah dan seolah-olah aku ini sudah tidak perawan selama berpacaran dengan Rakana. Brukkk! Aku kalut saat memukuli dada Bang Fahad, tanpa kuduga dia mencekal pergelangan tanganku dan mendorongku terjatuh di tempat tidur bersamanya yang kini berada di atas tubuhku. Matanya mengunci menatapku. Tenaganya begitu kuat saat aku mencoba melepaskan diri. "Masih suci? Masih perawan? Kita buktikan malam ini, hmmm?" ."Si—siapa takut?!"Dia jual, aku borong lah!Entah seperti apa nantinya, yang jelas aku bisa membuktikan dan mematahkan tuduhan liarnya itu terhadapku.Bang Fahad tersenyum asimetris seraya menatapku tajam. Perlahan wajahnya kian diturunkan, aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku. Bang Fahad makin menunduk, aku mulai merasakan sentuhan pada daun telingaku. Pun terpaan napas hangat yang membuatku merasa geli.Sialan.Dia benar-benar ingin membuktikannya malam ini juga?Detik berikutnya kulit pipiku yang merasakan sentuhan. Ujung hidungnya seolah mengabsen tiap inchi pipiku ini. Astaga, kenapa rasanya merinding?Aku tidak bisa mencegahnya. Kedua tanganku ditahan. Hingga saat ini, kepala Bang Fahad semakin turun seperti menyusup di cerukan leherku.Lagi dan lagi, napasnya terasa hangat menyentuh kulitku. Dan itu, berhasil membuat bulu kudukku meremang.Sebenarnya aku tidak siap dan ... tidak rela andai mahkotaku harus diserahkan malam ini. Apalagi dilakukan dengan orang y
"Raka! Apa-apaan kamu? Minggir atau aku akan teriak!" ancamku seketika.Rakana menatapku sayu. "Teriak yang kencang, Chi. Semua ruangan di rumah Abang ini kedap suara. Teriak sampai urat lehermu putus, gak akan ada yang denger," jelasnya dengan suara terdengar lemah."Mau apa kamu?!" Aku bertanya ketus. Tidak mempedulikan jika ancamanku gagal karena aku pun baru tahu kalau ruangan-ruangan di rumah ini kedap suara.Rakana merangsek maju. Refleks aku mundur sampai punggungku membentur dinginnya dinding kamar mandi. Jujur aku takut Rakana berbuat macam-macam terhadapku."Aku gak mau apa-apa, Chi," ucapnya bersama wajah memelas. "Aku cuma mau tanya, kenapa kamu mau saat Bang Fahad menggantikan aku menikahi kamu? Kenapa, Chi? Pesta hari ini adalah pesta untuk kita. Pesta yang kita berdua siapkan dan rancang bersama-sama. Kenapa kamu membiarkan justru Bang Fahad yang menjadi suami kamu?" cecarnya tanpa rasa berdosa.Mataku membola. Memandangnya diikuti gelengan kepala."Masih bisa kamu tany
"Aku diusir Papa, Chi. Makanya aku ke sini. Mobilku juga disita Papa karena itu memang masih miliknya. Aku hanya mendapat motor butut untuk bisa datang ke sini. Rumah impian kita, sudah Papamu over kredit pada orang lain. Uang muka yang sudah masuk, dibayarkan sepenuhnya, tapi semuanya diambil Papamu, Chi. Aku tidak kebagian sepeserpun. Padahal kamu ingat 'kan, DP rumah itu tujuh puluh lima persennya adalah uangku. Tapi aku hanya gigit jari. Aku kehilangan semuanya, termasuk kamu. Cintaku ...." Rakana berucap dengan lirih. Dagunya terasa bersarang di bahuku. Bohong jika aku merasa biasa saja. Bohong jika aku baik-baik saja. Rakana membuatku kesulitan menentukan sikap.Aku masih mematung. Aku pun baru tahu, kalau rumah di salah satu cluster itu sudah Papa urus. Enam bulan yang lalu, aku dan Rakana memang menandai satu rumah dengan uang muka sebagai tanda jadi. Rumah itu akan kami cicil setelah kami menikah dan langsung menempatinya. Namun rencana tinggalah rencana. Kenyataan tak seinda
"Kenapa kamu diam? Tidak mau? Tidak berani 'kan membuktikannya? Kamu takut kalau apa yang saya katakan adalah kebenaran? Artinya, kamu memang sudah tidak pe ra wan!" tegasnya menekan kata yang terakhir karena aku tidak menjawab tantangannya. Jika semula aku marah dan kesal, kali ini aku bertekad akan melawan ucapannya yang hanya tuduhan. "Anda ingin dilayani malam ini?" tanyaku tak gentar seraya menatap sepasang matanya. Bang Fahad mengangguk. "Huum." "Di mana otak Anda? Setelah menghina-hina, merendahkan dan menyudutkan, sekarang Anda meminta untuk dilayani? Ck," aku mendecak. "Jangan harap!" Kurasakan kedua tangan Bang Fahad di sisi tubuhku itu berubah mengepal. Bodo amat kalau dia kesal dengan ucapanku barusan. "Sudah saya duga. Kamu memang sudah tidak perawan! Benar-benar merugikan. Pesta mewah, uang untuk mahar, dan terikat dalam pernikahan, tapi hanya dapat bekas orang. Benar-benar nasib buruk!" cibirnya dengan wajah meledek. Aku tersenyum miring. "Terserah! Terserah
Jari telunjukku masih berada di dalam mulut Bang Fahad, sampai pelan-pelan dikeluarkan dan cairan merah yang mengucur memang telah berkurang.Bang Fahad berlalu dan aku lagi-lagi mengibaskan jariku yang terasa perih sekarang.Bruk!Tak lama Bang Fahad datang, menghempas kotak P3K di atas kitchen set dan kembali mengambil tanganku."Nasib ... nasib kawin sama bocah ingusan!" gerutu Bang Fahad sambil berlalu membawa kotak P3K usai mengobati jariku. Kini, telunjuk tangan kiriku sudah dibalut kassa tipis.Entah obat apa saja yang tadi Bang Fahad gunakan, tapi memang mampu meredakan rasa perih yang biasanya terasa karena luka sayatan."Buruan dibikin sarapannya! Kalau cuma bengong, bisa pingsan saya!" Bang Fahad bicara sambil menyusulku di ruang dapur ini.Aku hanya mengangguk. Melanjutkan apa yang harus kukerjakan sesuai instruksi. Sampai wajan penggorengan sudah diisi nasi putih dan telur orak-arik. Bang Fahad menambahkan bumbu yang dia mau.Setelah selesai, aku coba mengaduknya. Tapi se
Sepersekian detik aku membeku. Memandangi sepasang manik hitam pekat milik Bang Fahad. Sampai akhirnya aku sadar lalu cepat-cepat menarik diri."Ngapain sih, Bang? Modus banget pake nyenggol kakiku!" sungutku kesal.Bang Fahad yang juga sudah menyusul bangkit dan berdiri di hadapanku hanya tersenyum miring sambil merapikan dasinya. "Lemah! Sekarang kamu siap-siap. Ikut saya meeting!" tegasnya yang terdengar di luar nalarku."Hah? Ikut meeting? Enggak ah. Ngapain? Aku di sini aja!" tolakku mentah-mentah."Di sini masih ada Rakana dan istrinya yang menumpang. Kamu mau jadi satpam buat mereka?" sindirnya yang sudah selesai merapikan dasi.Aku bergeming. Benar juga katanya, Rakana dan Faula masih berada di rumah ini. Kalau Rakana tahu Bang Fahad pergi dan aku sendirian, bukan tidak mungkin dia akan menggangguku seperti saat dia membawaku ke kamar mandi."Cepat. Saya gak suka orang lelet!" tukas Bang Fahad seraya berjalan keluar dari kamar dengan menjinjing sepatunya. Pintu tertutup dan ak
(10) Rasa Sakit yang Nyata Aku tidur lebih awal. Sepulang meeting siang tadi, Bang Fahad benar-benar memberiku tugas untuk berbelanja. Dia memintaku memenuhi catatan yang sudah dibuatnya. Hingga badanku rasanya pegal karena harus berkeliling swalayan besar. Karena itu menjadi hal pertama bagiku, tentu saja aku lambat melakukannya. Sehingga berbelanja baru selesai saat sore tadi. Gilanya lagi, Bang Fahad juga memintaku membereskan barang belanja yang begitu banyak itu setelah tiba di rumah. Yang benar saja? Aku rasa memang sudah tidak waras laki-laki tua itu. Aku tidak menggubrisnya. Aku memilih bersantai dengan menikmati sore hari tadi di pinggir kolam renang. Entah bagaimana nasib belanjaan itu sekarang. Di tengah-tengah lelapnya tidur, tenggorokan terasa seret. Aku harus minum hingga tidurku pun terbangun. Aku masih lupa menyediakan gelas minum, karena itu semuanya biasanya disiapkan pembantu saat masih tinggal di rumah Mama dan Papa. Meski malas, aku tetap bangun. Mataku rasa
Aku mengerjapkan mata sampai akhirnya terbuka sempurna. Keningku mengernyit, begitu menyadari hal yang pertama kulihat adalah langit-langit kamar. Aku lantas mengedarkan pandangan dan ternyata aku memang berada di kamar, terbaring di atas kasur lalu secepatnya aku pun duduk.Kupejamkan kembali kedua netraku. Mengingat hal terakhir yang aku yakini, bahwa semalam aku tidak tidur di sini. Aku mengurung diri di dalam kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya di sana, sampai aku merasa lelah serta mengantuk dan membiarkan diriku tertidur di sana. Iya, aku ingat sekali. Kenapa sekarang aku ada di sini?Apa jangan-jangan, Bang Fahad yang sudah memindahkan?Kalau iya, kenapa bisa-bisanya aku tidak sadar? Bagaimana kalau dia sudah macam-macam saat aku tertidur?Oh, shit!Aku meraba-raba pakaian yang memang masih melekat sempurna di badan. Tidak ada yang aneh, tapi siapa juga yang tahu 'kan?Aku menggaruk kepal
Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, menatap langit yang mulai meredup. Senja berganti malam dengan begitu cepat, seperti perasaanku yang tiba-tiba jadi berantakan.Sejak tadi, Bang Fahad sibuk berbicara dengan dokter dan perawat di luar ruangan. Aku bisa mendengar suaranya samar-samar, memastikan semua kebutuhan perawatanku akan terpenuhi. Sementara itu, Mama dan Papa baru saja meninggalkan kamar setelah memastikan aku baik-baik saja—setidaknya, secara fisik.Aku menghela napas, menatap kakiku yang masih terbungkus gips. Rasanya berat, lebih dari sekadar rasa nyeri yang menjalar. Aku tidak hanya kehilangan kebebasan bergerak, tapi juga harus menerima kenyataan bahwa mulai hari ini, aku akan sepenuhnya berada dalam pengawasan Bang Fahad.Apa ini hukuman buatku?Aku mengeratkan jemariku di atas selimut.Sebelumnya, aku ingin dia merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku alami. Aku ingin dia tersiksa, ingin dia tahu rasanya dia
Samar-samar, aku bisa mendengar suara bising di sekeliling. Bau obat-obatan menyeruak mengganggu indera penciuman, bercampur dengan suara langkah kaki yang mondar-mandir. Kelopak mataku terasa berat, tapi akhirnya berhasil terbuka.Aku menatap langit-langit putih di atas kepala. Rasanya asing. Butuh beberapa detik sebelum aku menyadari bahwa aku sedang berada di sebuah ruangan rumah sakit.Mataku mengerjap, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum semuanya menjadi gelap. Perampokan. Tendangan. Rasa sakit yang menjalar di kaki. Aku menggigit bibir, dan saat itulah aku meringis, merasakan nyeri menusuk di bagian wajah."Chiara?"Aku menoleh, menemukan Bang Fahad duduk di samping ranjang. Wajahnya tampak tegang dan sorot mata penuh kecemasan."Kamu sudah sadar?" tanyanya terdengar begitu khawatir.Aku menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan menghindari bertatapan dengannya. Aku bahkan tidak tahu ba
Sepanjang hari itu, aku memilih untuk tetap berada di dalam kamar meski tidak banyak yang bisa aku lakukan selain tidur dan bermain ponsel. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dari keberadaan Bang Fahad. Tapi tetap saja, ada bagian dari pikiranku yang terus bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan.Sampai akhirnya, menjelang malam, aku keluar untuk mengambil air di dapur. Namun, langkahku terhenti ketika melihat Bang Fahad duduk di ruang tengah, dengan segelas air di tangannya. Matanya tampak kosong, menatap lurus ke depan seakan pikirannya berada entah di mana.Aku tidak berniat menyapa, tapi ketika aku berbalik untuk kembali ke kamar, suaranya lantas terdengar."Kamu mau pergi ke mana besok?" tanyanya, membuatku mengerutkan kening.Aku lantas menoleh. "Maksudmu?"Bang Fahad menghela napas sebelum menoleh ke arahku. "Besok akhir pekan. Saya hanya ingin tahu apakah kamu punya rencana pergi ke luar?"Aku menatapnya curiga. "Kenapa? Mau ikut?"Dia menggeleng. "Tidak. Saya hanya ingin m
Aku bisa merasakan genggaman tangannya yang mengerat, seolah tidak ingin melepaskanku. Sorot matanya yang penuh harapan kini berganti rasa penasaran, terhantam oleh kata-kataku yang dingin."Chi, jangan begini. Saya tidak mau pisah ranjang. Kita baru saja memulai hubungan ini lagi, dan kamu——"Aku menarik tanganku yang ia cekal, lalu mengangkatnya hingga ia berhenti bicara."Aku sudah bilang, jangan memaksa. Dan ini menjadi kesepakatan kita!" ucapku tegas.Aku menatapnya tanpa ekspresi, membiarkan tatapannya menusuk hatiku, tapi aku menolak untuk menunjukkan kelemahanku. "Kamu yang sudah memilih jalan ini, Bang. Kamu yang meminta kesempatan ini, bukan? Aku hanya memastikan kamu menikmati akibatnya." Seringai tipis pun kutunjukkan untuknya.Bang Fahad tampa terdiam, membuatku akhirnya melangkah menuju pintu untuk ke luar. Namun, baru saja aku menyentuh kenop pintu, suara beratnya kembali menahan langkah ini
Hari-hari berlalu, aku masih belum bertemu lagi dengan Bang Fahad.Aku sengaja menghindarinya, belum siap untuk menghadapi perasaanku sendiri, apalagi melihatnya berusaha mendekatiku lagi. Tapi meskipun aku tidak menemuinya, keberadaannya tetap terasa.Ada bunga yang dikirimkan ke rumah, meskipun aku tidak pernah menyentuhnya. Ada pesan yang dikirim ke ponselku, meskipun aku tidak pernah membalasnya. Ada kehadiran yang selalu mengintai, meskipun aku berpura-pura tidak melihatnya.Dan yang paling membuatku gelisah adalah … aku tidak bisa mengabaikan perasaan ini.Rasa rindu yang terkubur dalam-dalam, perlahan mulai muncul ke permukaan.Aku membencinya. Aku membenci diriku sendiri karena membiarkan perasaan ini tumbuh kembali.Tapi apa aku bisa membohongi hati sendiri?Aku pikir dengan menghindarinya, aku bisa mengubur segala perasaan yang mulai merayap diam-diam ke dalam hatiku. Tapi ken
Permintaannya berhasil membuat tubuhku membeku, seolah-olah waktu berhenti begitu saja. Aku terpaku di tempat, menatap Bang Fahad yang duduk di kursi roda dengan ekspresi tenang. Seakan-akan ia baru saja mengatakan hal yang sepele, padahal ucapannya barusan adalah sesuatu yang benar-benar di luar dugaan.Mama dan Papa pun terdiam. Aku bisa melihat bagaimana wajah Papa mengeras, sedangkan Mama terperangah, jelas tidak menyangka permintaan itu akan muncul detik ini yang dirasa begitu cepat.Bagaimana dengan aku?Aku bahkan tidak tahu harus merespons bagaimana."Kamu baru saja meminta maaf. Baru saja kita bicara tentang menyudahi semua ini. Baru saja kita, ah bukan kita, tapi hanya Papa dan Mama yang mau berdamai, seakan tidak terjadi apa-apa pada kita di masa lalu. Dan sekarang, kamu bilang ingin menikahiku lagi? Secepat ini?" cecarku dengan menunjukkan raut ketidaksukaan.Bang Fahad menatapku lekat-lekat. "Saya tidak ingin memendamnya lebih lama, bahkan mungkin terdengar tidak masuk a
Papa mengusap punggungku dengan lembut berulangkali. Membiarkan menangis sampai isakanku mereda perlahan. "Papa tahu kepergian Althaf menjadi pukulan berat buat kamu, tapi papa dan Mama ada di sini buat kamu. Jangan ragu untuk menceritakan apapun pada kami, Chi. Kamu tetap putri papa dan Mama, apapun yang terjadi, Nak."Aku mengeratkan pelukan pada Papa. Semakin menyadari, bahwa saat seisi dunia menjauh, ada Papa dan Mama yang siap bertarung nyawa demi hidupku. Saat ini pula, aku menyesal dan mengutuk perbuatanku sendiri."Aku minta maaf, Pa. Maaf ...." Hanya itu yang bisa kukatakan. Entah bagaimana membalas kasih sayang dan pengorbanan Papa juga Mama selama ini."Tidak perlu minta maaf, Nak. Papa hanya minta, jangan sembunyikan apapun lagi dari kami," ujar Papa sambil terus mengusap kepalaku.Aku pun hanya bisa mengangguk. Berjanji tidak akan mengulang kesalahan dan kebodohan ini lagi.Aku masih da
"Engg——""Iya, Tante, Om. Satu Minggu yang lalu, Chiara keluar dari sebuah klub jam sebelas malam. Dia diganggu laki-laki asing dan mungkin hendak dibawa paksa. Saya berusaha menolongnya, tapi Chiara malah menuduh kalau saya yang menyuruh laki-laki asing itu untuk mengganggunya. Saya memang selalu mengikuti Chiara diam-diam, karena saya peduli dan ingin memastikan keadaannya baik-baik saja."Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Tidak menyangka Bang Fahad malah membeberkan perbuatanku. Benar-benar sialan."Apa benar itu, Chi?" tanya Papa, nada suaranya terdengar dingin.Aku diam, tak memberi respon dan reaksi apapun. Aku merasa tidak siap untuk jujur. Mama dan Papa pasti akan sangat marah jika tahu yang sebenarnya."Diam artinya, iya. Jadi, kamu sudah berbohong pada mama malam itu, Chi?" Kali ini Mama yang mendesak.Aku masih tidak bereaksi. Hanya menunduk sambil meremas tangan."Maaf Om, Tante. Chiara mungkin tidak mau mengakui, kalau begitu biar saya yang mengatakannya. Saya mendapati
Aku menggigit bibir, menahan kepanikan yang menggelegak dalam dada. Tanganku terus menekan sisi perut Bang Fahad, berusaha mengurangi pendarahan. "Pa, cepat! Kita harus segera sampai!" Mobil melaju kencang membelah jalanan sepi dini hari. Mama menangis tertahan di sampingku, menggenggam tangan Bang Fahad yang kini dingin. "Fahad, bertahanlah. Tolong bertahan!" isak Mama, seolah ketakutan akan kehilangan seseorang lagi setelah Mas Althaf pergi untuk selamanya. Aku menatap wajah Bang Fahad yang semakin pucat. Perasaan aneh berkecamuk dalam dadaku. Harusnya aku tidak peduli. Harusnya aku membiarkan dia mati karena kehabisan darah. Tapi saat ini, melihatnya dalam keadaan seperti ini, jujur saja aku merasa sesak. Aku kasihan padanya. Tidak tega. Apa kebencianku hanya setengah hati? Apa aku tidak benar-benar membencinya? Mobil akhirnya berhenti dengan rem mendadak di depan rumah sakit. Papa tampak buru-buru keluar untuk meminta bantuan. Dalam hitungan detik, beberapa petugas medi