Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.
“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.
Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.
Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.
“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”
Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.
“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”
Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.
“Apa? Kamu menikah lagi tanpa memberitahuku, Mas?”
Amara, yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. “Mbak Sekar, saya minta maaf. Tapi saya juga punya hak atas Mas Wira. Kami ingin hidup bersama.”
Sekar mengalihkan pandangannya ke Amara. Sorot matanya tajam, penuh dengan kemarahan yang membuncah.
“Hak? Kau pikir aku akan menerima kalian setelah semua ini?”
Wira mendengus pelan. “Sekar, jangan berlebihan. Ini bukan akhir dunia. Kau masih istriku.”
Sekar tertawa getir. Seluruh tubuhnya terasa kebas. Bagaimana bisa, suaminya berkata semudah itu?
“Mas, kamu pikir aku akan berbagi suami? Kamu pikir aku akan menyambut wanita lain yang kamu bawa ke rumah ini dengan senang hati?”
“Kau harus menerima ini,” Wira berkata tegas. Raut wajahnya tampak begitu dingin. Sekar nyaris tidak mengenali pria yang berdiri di hadapannya ini.
“Aku ingin kalian hidup berdampingan. Aku akan adil.”
Sekar menatapnya tak percaya. Dadanya seolah terhimpit oleh beban berat mendengar ucapan Wira.
“Mas, kamu sudah memutuskan segalanya tanpa memberitahuku! Dan sekarang kamu masih bicara soal adil?”
Wira menghela napas, seolah lelah dengan sikap Sekar. Seolah-olah apa yang dirasakan Sekar bukan hal penting.
“Aku tidak punya waktu untuk ini. Aku dan Amara akan tinggal di sini mulai sekarang.”
Darah Sekar berdesir. Ia menatap Wira lekat. “Tidak. Kalian tidak akan bisa tinggal di sini. Ini rumah warisan orang tuaku!”
“Kamu lupa?” sahut Wira mulai kesal. “Rumah ini sudah dipindahkan atas namaku. Jadi aku berhak atas rumah ini!”
Sekar terdiam, ia merasakan dadanya membara.
Setelah menikah dengan Wira, hak kepemilikan atas rumah itu memang tercatat atas nama suaminya. Itulah bukti betapa Sekar sangat cinta dan percaya pada suaminya.
Namun, ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi.
Amara kemudian melangkah maju, menatap Sekar dengan tatapan penuh perhitungan.
“Mbak Sekar, kalau boleh jujur, saya kasihan melihat Mbak seperti ini. Menolak kenyataan hanya akan membuat hidup Mbak semakin sulit. Mas Wira mencintai saya. Kami akan punya anak bersama. Bukankah lebih baik Mbak menerima kami?”
Sekar mengepalkan tangan. “Kalau dia mencintaimu, kenapa dia tetap tinggal bersamaku selama ini?”
Amara tersenyum miring. “Mbak tahu jawabannya. Mas Wira tetap di sini karena rasa tanggung jawab. Lagi pula bukankah selama ini Mbak belum bisa memberinya anak? Masih untung lho aku mau berbagi suami. Aku yakin kalau Mas Wira akan bersikap adil untuk kita. Lagi pula anakku nanti akan jadi anak Mbak juga kan? Harusnya Mbak berterima kasih sama aku karena sekarang aku sedang mengandung anaknya Mas Wira.”
Wira hanya diam, membiarkan Amara mengambil alih kendali. Sekar menatap pria yang selama ini ia cintai dengan penuh kebencian.
“Kamu bahkan tidak bisa berbicara untuk dirimu sendiri, Mas? Atau memang kamu memang lebih memilih wanita ini?”
Amara menggenggam lengan Wira lebih erat, seolah ingin memastikan dominasi dirinya.
“Mas Wira sudah memilih saya, Mbak. Dan sebaiknya Mbak menerimanya, karena saya tidak akan pergi.”
Sekar menatapnya tajam. “Kau pikir aku sudi membiarkanmu tinggal di rumah ini?”
Amara tersenyum puas. “Mas Wira yang memutuskan, bukan Mbak.”
Sekar merasakan kepalanya berdenyut hebat. Napasnya memburu. Ini terlalu sakit. Amara tahu betul cara menusuknya di tempat yang paling dalam.
Wira akhirnya buka suara. “Sekar, aku ingin kita membicarakan ini dengan baik.”
“Setelah kamu menghancurkan semuanya, Mas?” Sekar menatap suaminya nanar. Raut wajahnya menyiratkan luka dan kecewa mendalam.
Namun, Amara menghela napas panjang, lalu berbisik pelan, meski cukup tajam untuk melukai.
“Mbak Sekar, saya hanya ingin yang terbaik untuk semua. Mas Wira adalah ayah dari anak saya. Kami keluarga sekarang.”
“Kau benar-benar tidak tahu malu ya? Kau mencuri suamiku. Beraninya kau bicara soal keluarga?”
Amara tersenyum tipis. “Cinta datang dengan cara yang tidak terduga, Mbak. Lagi pula kami sudah saling mencintai jauh sebelum Mas Wira mengenal Mbak.”
Kesabaran Sekar habis. Ia meraih gelas di meja dan melemparkannya ke arah Amara. Amara terkejut, mundur selangkah, tapi tetap menampilkan senyum kemenangan.
“Sudah cukup!” bentak Sekar. “Kalian tidak akan tinggal di sini! Pergi sekarang!”
Wira belum sempat melakukan apapun, tapi Amara dengan wajah basah dan dagu terangkat, mendorong tubuh Sekar yang tidak siaga hingga ia terhuyung menjauh dari pintu.
Wanita hamil itu berjalan dengan gemulai memasuki rumah. “Ayo, Mas. Ini juga rumah kita,” katanya.
Sekar terlalu terkejut untuk bereaksi saat Amara dan Wira masuk ke dalam rumah seolah tidak terjadi apa-apa.
Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak
Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam
“Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan
Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem
“Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin
Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek
Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek
“Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin
Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem
“Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan
Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam
Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak
Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A