Home / Romansa / DIMADU TANPA RESTU / 7 – Terpaksa

Share

7 – Terpaksa

Author: NHOVIE EN
last update Last Updated: 2025-04-03 00:48:58

Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.

“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”

“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.

Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.

“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”

Ibu?

Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.

Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sekar tidak seperti Wira saat ini. Pria itu dulunya sangat setia dan sangat mengayomi keluarga kecilnya hingga maut menjemputnya ketika Sekar baru saja menikah dengan Wira.

Kali ini Sekar tidak mampu menahan air matanya. Masih segar dalam ingatannya ketika sang ayah dengan kursi roda dan selang infus di tangan, datang ke masjid tempat acara pernikahan digelar dan jadi wali nikah putri semata wayangnya.

“Cepat siapkan dan jangan membantah!” perintah Wira seraya berlalu dari pintu kamar Sekar menuju kamar Amara.

Amara bersedekap, tersenyum sinis seolah mengejek wanita yang ada di hadapannya.

“Ingat, Sekar! Jangan membantah perkataan mas Wira,” lirih Amara dengan nada penuh kesombongan, sebelum berlalu menyusul Wira.

Sekar menghela napas. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya enggan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah karena ada Amara yang bersikap seolah nyonya besar di rumah itu. Padahal ia adalah istri pertama.

Tapi lagi-lagi Sekar melemah. Wejangan dari mendiang ibunya, kembali terngiang di benaknya. Akhirnya, Sekar pun keluar kamar, mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa ia kerjakan. Bukan demi Wira apalagi Amara, tapi demi mendiang ibunya.

Satu jam berselang, aroma wangi bumbu masakan mulai tercium di rumah itu. Sembari membersihkan area dapur serta piring-piring, Sekar sekaligus menggoreng ikan tuna kesukaan suaminya yang memang sudah ia persiapkan di lemari pembeku.

Sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar Amara. Ada rasa sakit yang terasa, apalagi ketika membayangkan suaminya sedang bermesraan dengan orang lain di rumahnya, sementara dirinya bekerja di dapur bak pembantu.

Ya, sejak Wira pulang kantor dan masuk ke dalam kamar Amara, pria itu tidak kunjung keluar lagi.

Seraya mengusap air matanya, Sekar terus mengerjakan pekerjaannya. Hingga beberapa menit kemudian, dapur sudah bersih dan makanan pun sudah terhidang di atas meja makan.

Sekar melepas celemek, kemudian berjalan menuju kamar Amara. Dengan perasaan berat, ia tetap mengetuk pintu kamar itu dengan lembut sebanyak tiga kali.

Pintu terbuka, Amara dengan piyama seksinya muncul dari balik daun pintu.

“Ssstt... Jangan berisik. Mas Wira sedang tidur. Maklum, nggak dapat makanan dari kamu, akhirnya aku yang ngasih makan sampai ia lemas. Lihat tuh.” Kedua mata Amara melirik ke arah Wira yang terlelap tanpa busana di atas ranjang.

Sekar emosi, tapi berusaha ia kendalikan. Matanya berkaca-kaca, tapi berusaha tidak ia tumpahkan.

“Aku hanya ingin bilang ke mas Wira, kalau makanannya sudah siap. Itu saja,” ucap Sekar seraya berlalu dari hadapan Amara.

Amara berdecak, lalu menutup pintu kamarnya perlahan. Ia mendekat ke arah ranjang, duduk di tepinya lalu mengelus lembut rambut Wira.

Amara mencium telinga Wira, menggigitnya pelan. Ke dua tangannya kembali mengelus kulit tubuh pria itu. Lembut, perlahan, mulai dari leher, dada hingga alat vital milik Wira.

“Amara...” Terdengar erangan lembut dari bibir Wira.

“Bangun, Sayang... Makanan sudah siap,” ucap Amara

“Hhmm... Siapa yang siapkan?”

Amara berdecak sedikit, tidak senang dengan jawaban Wira.

“Memang kamu maunya siapa yang menyiapkan, Mas? Kamu tahu sendiri kondisi aku bagaimana saat ini? Apa lagi tadi kamu main terus sama aku. Jadi apa yang bisa kamu harapkan, Mas?” Ucap Amara.

Wira duduk, lalu meraih celana pendek yang ada di lantai. Ia mengenakan celana itu seketika.

“Aku tahu pasti Sekar yang menyiapkan. Dia memang bisa diandalkan kalau urusan dapur. Tapi kalau urusan ranjang, tetap kamu pemenangnya,” jawab Wira lalu mencium bibir Amara dengan lembut.

Amara tersenyum manja. Senang diperlakukan seperti itu oleh suaminya.

Tapi tanpa mereka sadari, sepasang mata kembali melihat adegan itu dan sepasang telinga mendengar perkataan menyakitkan Wira. Siapa lagi kalau bukan Sekar.

Sekar yang awalnya berniat menunggu Wira, segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam kamarnya.

Sekar menutup pintu, menguncinya dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya ke daun pintu. Perlahan, tubuhnya merosot ke lantai, tidak tahan memuntahkan semua sesak yang sedari tadi ia tahan.

Kenapa, Mas? Kenapa? Dulu kamu mengatakan kalau aku yang pertama dan utama. Dulu katamu aku adalah surga. Dulu katamu kamu sangat puas bersamaku. Tapi sekarang kenapa seperti ini? Batin Sekar.

Namun tangisnya segera terhenti oleh ketukan pintu. Ketukan pintu itu menggema di tubuhnya karena ia memang masih menyandarkan punggungnya di sana.

NHOVIE EN

Terimakasih sudah membaca. Salam Sayang Penuh Cinta, KISS ^_^

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • DIMADU TANPA RESTU   1- Kejutan Yang Tak Diharapkan

    Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   2 - Bahagia Di Atas Derita

    Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   3 - Permintaan Amara

    Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   4 - Malam Ini Dengan Sekar

    “Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   5 - Kontras

    Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   6 - Ejekan Dari Wira

    “Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin

    Last Updated : 2025-03-22

Latest chapter

  • DIMADU TANPA RESTU   7 – Terpaksa

    Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek

  • DIMADU TANPA RESTU   6 - Ejekan Dari Wira

    “Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin

  • DIMADU TANPA RESTU   5 - Kontras

    Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem

  • DIMADU TANPA RESTU   4 - Malam Ini Dengan Sekar

    “Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan

  • DIMADU TANPA RESTU   3 - Permintaan Amara

    Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam

  • DIMADU TANPA RESTU   2 - Bahagia Di Atas Derita

    Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak

  • DIMADU TANPA RESTU   1- Kejutan Yang Tak Diharapkan

    Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status