Home / Romansa / DIMADU TANPA RESTU / 6 - Ejekan Dari Wira

Share

6 - Ejekan Dari Wira

Author: NHOVIE EN
last update Huling Na-update: 2025-03-22 12:39:30

“Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.

“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.

Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.

Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.

Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.

Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbanding dengan rumahnya sendiri.

“Sekar, kamu belum pulang?” tanya bu Lastri, rekan sesama guru.

“Iya, Bu. Sebentar lagi. Ini masih ada yang aku kerjakan,” ucap Sekar, lalu membalik-balik sebuah buku.

Lastri mendekat. “Sekar, kamu baik-baik sajakan? Ibu lihat hari ini kamu sedikit pucat dan mata kamu sembab. Kamu juga tidak sesemangat biasanya.”

Sekar menggeleng, berusaha mengukir senyum. “Aku baik-baik saja kok, Bu. Lagi malas saja pulang, soalnya di rumah sepi,” bohong Sekar.

“Suami kamu masih di luar kota?”

Sekar mengangguk lemah, tapi wajahnya tertunduk.

“Ya sudah, ibu duluan ya. Kalau kamu butuh teman cerita, ibu siap jadi teman cerita kamu,” ucap Lastri, mencoba menawarkan diri.

Sekar hanya membalas dengan anggukan.

Lastri pun keluar dari ruang guru itu, meninggalkan Sekar sendirian di sana.

Disaat ruangan itu benar-benar sudah sepi, Sekar pun berpikir, Buat apa aku terus-terusan di sini? Hidup terus berjalan, bukan? Jadi semuanya harus aku hadapi. Menghindar tidak akan menyelesaikan semuanya.

Sekar segera mengemasi barang-barangnya, masuk ke dalam citycar kecil miliknya dan segera meninggalkan area sekolah menuju rumahnya.

“Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar sesampai di rumah.

Namun wanita itu tidak mendapati jawaban apa pun dari dalam.

Sekar menarik gagang pintu, dan pintu terbuka. Perlahan Sekar pun masuk ke rumahnya. Rumah itu terlihat sepi, seolah tidak ada siapa-siapa di sana.

Sekar terus berjalan menuju kamarnya. Namun sebelum kakinya melangkah masuk, matanya tertuju pada ruang makan yang memang berada tepat di samping kamarnya.

Keadaan meja makan, sama berantakannya seperti ia tinggalkan tadi pagi. Mata Sekar tertuju pada cangkir kopi yang ia siapkan untuk Wira. Ia pun mendekati cangkir itu, membuka tutupnya dan melihat isinya masih utuh. Sekar juga membuka wadah berisi sandwich yang sudah ia siapkan. Sama, masih utuh tak tersentuh.

Sekar mendesah, ia kecewa. Wira sama sekali tidak menyentuh sarapan yang sudah susah payah ia siapkan.

“Eh, mbak Sekar sudah pulang? Maaf ya, aku tidak sempat membereskan dapur. Mbak tahu sediri kalau aku sedang hamil. Jadi aku sangat lelah.”

Sebuah suara tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Sekar.

Sekar membalik tubuhnya. “Mas Wira sarapan di mana?”

“Aku nggak tahu. Tadi dia terlambat bangun. Gimana nggak terlambat, mainnya sampai pagi gitu. Mas Wira memang punya nafsu yang tinggi. Pantas saja nggak cukup sama satu istri.” Kata-kata yang keluar dari bibir Amara seolah memanas-manasi Sekar.

Sekar tidak menjawab. Ia segera menekan Langkah menuju kamarnya.

“Mbak, aku mau makan. Tolong siapkan!” perintah Amara.

Tanpa menoleh, Sekar menjawab, “Kamu bisa siapkan sendiri. Kalau tidak bisa, kamu bisa membelinya. Ingat, aku istri pertama di sini, bukan pembantu.”

Amara mendekat. “Jadi kamu tidak mau menyiapkannya untukku? Mau aku adukan pada mas Wira? Apa kamu mau ditendang dari rumah ini?”

Sekar emosi, tapi ia berusaha mengendalikan diri. Ia memutar tubuhnya, menatap tajam wajah Amara.

“Aku lelah. Seharian aku bekerja mengajar anak-anak di sekolah dasar. Aku tidak punya waktu melayani orang yang sudah menghancurkan rumah tanggaku,” tegas Sekar. Segera ia balikkan badannya dan masuk ke dalam kamar.

Lagi-lagi, Sekar hanya bisa menangis dari balik pintu. Ingin rasanya ia membakar rumah ini agar Amara dan Wira bisa merasakan sakitnya terbakar keadaan.

Di luar, Amara berdecak kesal. Ia Kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia ambil ponselnya lalu ia ketikkan sesuatu untuk Wira.

***

Pukul lima sore.

Mobil Innova hitam sudah terparkir di depan rumah Sekar. Itu adalah mobil Wira—suaminya. Biasanya, Sekar dengan senyum merona akan menunggu kepulangan sang suami. Tapi kali ini tidak, Sekar sama sekali tidak keluar kamar sejak ia pulang mengajar.

Wira turun dan masuk ke dalam rumah itu.

“Selamat sore, Mas,” ucap Amara, menyambut dengan wajah segar dan pakaian mini.

Wira tersenyum, mencium bibir wanita itu sesaat lalu menebar pandang ke sekeliling rumah.

“Sekar mana?”

“Di kamarnya. Dia tidak keluar sejak pulang kerja. Mas, kenapa sih mbak Sekar itu jahat sama aku? Kamu lihat ini.” Amara memperlihatkan siku kirinya pada Wira.

“Kenapa ini?” tanya Wira.

“Tadi aku minta tolong sama mbak Sekar buatin aku nasi goreng, karena aku memang ngidam nasi goreng buatan mbak Sekar. Kata kamu nasi goreng buatan mbak Sekar sangat enak. Tapi mbak Sekar malah marah dan melempar wajan ke arah aku. Aku mencoba mengelak tapi malah kena siku. Terus mbak Sekar juga memaksa aku membereskan dapur.” Amara menyentuh sikunya dan pura-pura meringis.

Wira berjalan mendekat ke arah kamar Sekar. Sebelum mendekati pintu kamar, ia alihkan pandangannya ke arah dapur. Kondisi dapur itu sama berantakannya seperti tadi pagi sebelum ia berangkat kerja.

“Mas, maafkan aku. Bukannya aku nggak mau beresin, tapi kamu tahu sendiri kalau aku lagi sakit, Mas. Aku ini lagi hamil muda. Tadi aku sudah coba bereskan sedikit, tiba-tiba aku pusing.” Amara memberi alasan.

Wira mendekati pintu kamar Sekar, mengetuknya pelan.

“Sekar, keluar.”

Tidak butuh waktu lama, pintu itu pun terbuka. Kini Sekar berdiri di hadapan Wira.

“Ada apa, Mas?” tanya Sekar.

“Apa benar kamu sudah melempar wajan ke tangan Amara?”

Sekar menghela napas. Ia alihkan pandangannya ke arah Amara, mengerti kalau ia baru saja dihasut oleh wanita itu.

“Sekar, jawab pertanyaanku,” tegas Wira.

“Apa kamu masih percaya sama aku, Mas?” balas Sekar.

“Sekar, aku mohon. Bisa nggak di rumah ini kita hidup dengan tenang dan damai. Kamu tahu kalau Amara sedang hamil. Dia hamil muda dan kamu tahu sendiri kalau orang hamil itu banyak pantangannya.”

Sekar hanya diam, mencoba menelaah wajah suaminya.

“Oiya, kamu mana mengerti. Kamukan tidak pernah hamil,” lanjut Wira.

DHUAR!!

Sekar merasakan hatinya disambar petir yang dahsyat saat ini. Suaminya, orang yang sangat ia cintai dan hormati, kini seakan mengejek dirinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • DIMADU TANPA RESTU   7 – Terpaksa

    Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek

    Huling Na-update : 2025-04-03
  • DIMADU TANPA RESTU   1- Kejutan Yang Tak Diharapkan

    Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A

    Huling Na-update : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   2 - Bahagia Di Atas Derita

    Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak

    Huling Na-update : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   3 - Permintaan Amara

    Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam

    Huling Na-update : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   4 - Malam Ini Dengan Sekar

    “Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan

    Huling Na-update : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   5 - Kontras

    Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem

    Huling Na-update : 2025-01-02

Pinakabagong kabanata

  • DIMADU TANPA RESTU   7 – Terpaksa

    Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek

  • DIMADU TANPA RESTU   6 - Ejekan Dari Wira

    “Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin

  • DIMADU TANPA RESTU   5 - Kontras

    Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem

  • DIMADU TANPA RESTU   4 - Malam Ini Dengan Sekar

    “Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan

  • DIMADU TANPA RESTU   3 - Permintaan Amara

    Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam

  • DIMADU TANPA RESTU   2 - Bahagia Di Atas Derita

    Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak

  • DIMADU TANPA RESTU   1- Kejutan Yang Tak Diharapkan

    Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status