Pukul sembilan pagi.
Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.
Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.
Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.
Sekar menghela napas panjang.
“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.
Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?
Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.
“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”
Sekar menggigit bibirnya.
Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam keadaan berantakan, membiarkan Wira dan perempuan itu hidup dengan kekacauan yang mereka buat sendiri. Tapi didikan ibunya telah tertanam begitu kuat.
Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah ke dapur, menggulung lengan bajunya, mengenakan celemek lalu mulai membereskan meja makan. Sekar melakukannya semuanya dengan sangat telaten.
Meja makan sudah rapi, Sekar pun mulai mencuci piring-piring kotor yang sudah ia susun di atas bak cuci piring.
Saat itu, terdengar langkah ringan mendekat.
Sekar melirik sekilas. Amara masuk ke dapur dengan pakaian santai, wajahnya tampak segar meski masih ada bekas kantuk di matanya. Dengan suara lembut yang terdengar seperti duri bagi Sekar, Amara menyapanya.
“Selamat pagi, Mbak Sekar.”
Sekar tidak menjawab. Tangannya tetap sibuk membersihkan piring.
“Mbak Sekar sudah bangun dari tadi? Wah, rajin sekali. Rumah jadi rapi kalau ada Mbak Sekar, ya.” Amara bersedekap seraya memperhatikan kondisi dapur.
Sekar masih diam.
Amara tidak menyerah. Ia melangkah lebih dekat, lalu berdiri di samping Sekar.
“Mbak... boleh minta tolong?” tanyanya dengan nada lembut.
Sekar mengeratkan rahangnya.
“Aku lagi ngidam nasi goreng buatan Mbak Sekar. Katanya dulu Mas Wira sering dibuatin, ya?” ucap Amara.
Tangan Sekar yang memegang spons berhenti bergerak.
“Aku mau banget coba nasi goreng buatan istri pertama suamiku,” lanjut Amara dengan nada lembut yang menggelitik amarah.
BRUKK!
Sekar membanting spons cuci piring dan sebuah gelas melamin ke dalam bak cuci.
Suara itu menggema di dapur.
Amara tersentak, tapi hanya sebentar. Setelah itu, ia tetap memasang wajah manisnya.
Sekar mengangkat wajah, menatap Amara dengan tatapan tajam.
“Dengar baik-baik, Amara.” Suaranya rendah, tetapi ada bara dalam setiap katanya. “Aku bukan pembantu di rumah ini. Kalau kau lapar, masak sendiri.”
Amara mengerjapkan mata.
“Tapi aku masih pusing, Mbak. Aku lelah, semalaman aku sibuk melayani suamiku sampai subuh...”
Kalimat itu seperti belati yang ditancapkan ke jantung Sekar. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Nafasnya memburu, matanya mulai memanas.
Di saat yang sama, suara pintu kamar terbuka.
Wira keluar dengan wajah mengantuk, rambutnya sedikit berantakan, tapi tatapannya langsung waspada saat melihat Sekar dan Amara di dapur.
“Ada apa ini?” tanyanya sambil berjalan mendekat.
Amara langsung memanfaatkan momen itu. Ia memegang lengannya, menatapnya dengan wajah pura-pura sedih.
“Mas...” suaranya terdengar gemetar, “Mbak Sekar marah sama aku. Aku cuma minta dibuatkan nasi goreng, tapi dia membentakku dan membanting sesuatu ke arahku.”
Sekar tersentak.
Matanya membulat, tak percaya dengan kebohongan yang baru saja keluar dari mulut perempuan itu.
Wira langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
“Sekar, kamu bentak Amara?” tanya Wira.
Sekar tertawa sinis. “Kamu benar-benar menanyakan itu ke aku, Mas?” suaranya terdengar getir. “Perempuan ini datang ke rumahku, tidur dengan suamiku di ranjangku, dan sekarang dia minta aku buatkan sarapan untuknya? Dan kamu malah membelanya?”
Wira menghela napas, mengusap wajahnya seolah lelah dengan situasi ini.
“Sekar, sudahlah. Aku nggak mau bertengkar pagi-pagi begini.”
“Kamu nggak mau bertengkar?” Sekar mendekat, menatap suaminya dengan mata yang mulai basah. “Tapi kamu sudah mengkhianati aku!”
Amara memeluk lengan Wira lebih erat, menempelkan kepalanya ke bahu pria itu.
“Mas... aku takut...” suaranya terdengar seperti gadis kecil yang ketakutan. “Aku nggak bermaksud bikin Mbak Sekar marah. Aku cuma pengin nasi goreng...”
Sekar mengetatkan rahang. “Kalau kamu mau makan, masak sendiri, Amara. Jangan berharap aku akan melayani perempuan yang menghancurkan rumah tanggaku.”
Ia melepas celemek yang sempat ia kenakan.
“Sekar, kamu kan bisa ngomong baik-baik ke Amara. Lagipula, cuma bikin nasi goreng, apa susahnya?”
Sekar menatap Wira tak percaya, berharap ia salah dengar. Tapi pria itu hanya menatapnya datar.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Sekar meninggalkan dapur.
Di belakangnya, Wira tidak mengejar. Sementara Amara kini memasang senyum kecil penuh kemenangan.
“Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan
Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem
“Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin
Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek
Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A
Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak
Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek
“Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin
Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem
“Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan
Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam
Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak
Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A