Home / Romansa / DIMADU TANPA RESTU / 4 - Malam Ini Dengan Sekar

Share

4 - Malam Ini Dengan Sekar

Author: NHOVIE EN
last update Last Updated: 2025-01-02 05:47:28

“Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.

Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”

Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.

“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”

Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.

Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.

Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan terduduk di lantai kamar seraya menyandarkan punggungnya ke daun pintu.

Sekar memegang dada, mencoba menenangkan diri, namun rasa sakit terlalu menusuk jantungnya.

***

Pukul delapan malam dan Sekar masih mengurung diri di dalam kamar.

Wira yang baru saja menikmati makan malam yang ia pesan lewat sebuah aplikasi, berjalan meninggalkan ruang makan, mendekati kamar Sekar.

“Sekar, mau sampai kapan kamu akan mengurung diri di kamar? Ayo makan, ini makanan yang aku belikan dari siang tidak kamu sentuh sama sekali. Memangnya kamu mau mati?” ucap Wira dengan nada tegas dari balik daun pintu.

Sekar yang masih berbalut mukena, segera menyeka air matanya. Ia tenggak air mineral yang sudah ia siapkan ketika Wira dan Amara tidak di rumah tadi siang. Ada beberapa bungkusan roti juga di kamar itu yang belum dimasukkan Sekar ke bak sampah, karena terlalu malas untuk meninggalkan sajadahnya.

“Sekar, buka pintunya. Aku tidak tidak akan bertanggung jawab jika terjadi apa pun padamu di dalam sana. Kau tahu, jika kau sakit, aku juga yang akan repot!”

Kembali terdengar suara Wira yang jelas terdengar marah.

Perlahan, Sekar pun bangkit. Tangannya yang lemah pun mulai membuka gagang pintu.

Amara yang berdiri bersedekap di belakang Wira, bisa melihat dengan jelas wajah sembab dan mata merah Sekar.

Wira menyodorkan sebuah kantong kresek bermerek berisi makanan siap saji yang ia pesan lewat online.

“Aku tidak lapar,” ucap Sekar seraya menolak makanan itu. Suaranya lemah, nyaris tidak terdengar. Terlihat tidak ada perlawanan di dirinya.

Wira meraih tangan Sekar, lalu meletakkan kantong itu di tangan kanan Sekar.

“Jangan keras kepala. Kau itu istriku dan sampai kapan pun kau akan tetap jadi istriku. Malam ini aku ingin tidur di sini,” ucap Wira. Pria itu berusaha masuk ke dalam kamar.

Sekar tidak bisa berkata apa pun. Ia hanya bisa pasrah dan membiarkan Wira masuk ke dalam kamarnya.

“Amara, malam ini aku ingin di sini. Jadi kamu tidur sendiri dulu. Jika tidak ada hal yang mendesak, jangan ganggu aku,” ucap Wira tegas.

Amara terlihat tidak senang, namun ia pun mengangguk pasrah. Dengan langkah gontai, wanita itu pun berjalan menuju kamar yang kini diperuntukkan oleh Wira untuknya.

“Apa lagi yang kau tunggu, Sekar? Tutup pintunya dan segeralah ke sini,” perintah Wira.

Sekar menurut begitu saja. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat karena sudah berjam-jam ia habiskan tenaganya dengan menangis dan bersimpuh di hadapan Rabb-nya.

Sekar meletakkan kantong kresek berisi makanan siap saji di atas meja riasnya. Perlahan, ia buka mukenanya, lalu melipat kain itu dengan baik dan menggantungnya di tempat yang sudah ia sediakan di dalam kamar.

Ketika Sekar baru meraih ujung sajadah dan berniat melipatnya, Wira malah menarik tangan Sekar dengan keras hingga tubuh itu jatuh dalam pelukan Wira.

“M—mas… apa yang kamu lakukan?” tanya Sekar terbata, terlalu terkejut dengan aksi pria itu.

“Apa yang aku lakukan? Kenapa kau masih bertanya? Kau istriku dan aku suamimu, jadi aku berhak atas dirimu.”

Wira mulai menekan kuat pinggang Sekar hingga menempel ke tubuhnya.

“T—tapi, Mas.” Sekar berusaha menjauhkan wajahnya ketika Wira berniat menciumnya.

Harusnya Sekar senang karena suaminya menginginkan dirinya malam ini, namun ia malah tidak nyaman. Ia merasa sangat jijik, apalagi ketika tubuhnya berada dalam dekapan Wira dan jarak wajahnya dengan wajah suaminya hanya beberapa sentimeter saja.

Setiap melihat wajah Wira, kembali terngiang di benaknya ekspresi penuh kenikmatan yang diperlihatkan Wira ketika ditindih dan menindih Amara.

Itu adalah rasa sakit yang luar biasa bagi Sekar.

Wira menyeringai sesaat, lalu membalik tubuh Sekar. Dengan cepat, ia lepas baju kaos dan celana panjang ia kenakan. Pria itu hanya menyisakan boxer untuk menutupi bagian inti tubuhnya.

Dengan pergerakan lambat namun pasti, Wira pun mulai melepas satu demi satu kancing piyama Sekar.

Sekar berusaha menahan tangan suaminya, namun Wira sepertinya berada di puncak birahi, hingga pria itu tidak memedulikan tangan lembut Sekar yang berusaha menahan tangannya.

“Kenapa tidak dengan Amara saja, Mas? Bukankah kamu lebih menyukainya? Bukankah ia lebih panas di ranjang dibanding diriku?” ucap Sekar dengan suara tercekat, ketika Wira hendak menarik celana panjang yang ia kenakan.

Tangan Wira seketika terhenti, sorot matanya tajam menatap istri pertamanya itu.

“Apa maksudmu, Sekar?”

Sekar tidak menjawab, ia hanya menangis. Kata-kata Wira yang ia dengar tadi subuh, semakin bergelora di telinganya.

“Apa kau ingin menolakku? Apa kau ingin jadi istri durhaka?” gertak Wira dengan nada sedikit tinggi.

Sekar masih diam seraya memalingkan wajah. Ia terlalu jijik melihat wajah tampan suaminya itu.

“Malam ini aku menginginkanmu, titik!” tegas Wira.

Dengan cepat, ia tarik celana panjang Sekar, lalu ia lempar sembarangan ke lantai.

Tidak ada kelembutan dalam sentuhannya. Wira terlihat lebih brutal dan kasar.

Sekar berusaha memberontak, tapi Wira malah semakin kasar. Pria itu seolah sangat menikmati sikap Sekar. Seakan punya imajinasi bermain yang baru.

Sekar hanya bisa menangis. Ia sama sekali tidak bisa menikmati. Yang ada hanya rasa sakit dan perih yang ia rasakan.

“Mas, ampun… ini sakit,” lirih Sekar. Ia menendang Wira dengan kuat hingga sedikit menjauh dari tubuhnya.

“K—kamu… kamu melukaiku,” kata Sekar, menahan rasa sakit dan ngilu.

“Kau itu istriku, Sekar. Jangan mau kalah dari Amara. Amara saja bisa membuatku puas, kenapa kamu tidak?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • DIMADU TANPA RESTU   5 - Kontras

    Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   6 - Ejekan Dari Wira

    “Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin

    Last Updated : 2025-03-22
  • DIMADU TANPA RESTU   7 – Terpaksa

    Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek

    Last Updated : 2025-04-03
  • DIMADU TANPA RESTU   1- Kejutan Yang Tak Diharapkan

    Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   2 - Bahagia Di Atas Derita

    Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak

    Last Updated : 2025-01-02
  • DIMADU TANPA RESTU   3 - Permintaan Amara

    Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam

    Last Updated : 2025-01-02

Latest chapter

  • DIMADU TANPA RESTU   7 – Terpaksa

    Sekar masih terpana. Air matanya nyaris membanjiri wajah cantik alami itu, namun Sekar susah payah menahannya. Ia memang rapuh, tapi tidak ingin terlihat lemah di depan Wira dan Amara.“Sekar, aku lelah. Segera bereskan dapur itu dan siapkan makanan. Atau aku akan mencari makanan di luar bersama Amara.”“Kenapa mas tidak mencari pembantu saja, Mas? Bukankah mas Wira mampu menafkahi dua istri. Jadi pasti mas Wira juga mampu membayar pembantu di rumah ini,” jawab Sekar, masih dengan nada sopan.Kedua bola mata Wira menatap tajam istrinya itu. Tidak pernah selama ini Sekar melihat pandangan tajam seperti itu dari kedua mata suaminya.“Apa kamu mulai membantah perintah suamimu, ha? Kamu lupa pesan-pesan mendiang ibu?”Ibu?Ya, ibu Sekar sebelum meninggal memang banyak memberikan wejangan hidup kepada wanita itu. Wejangan-wejangan baik khususnya untuk suami.Ibu Sekar dulunya adalah pribadi yang sangat taat pada agama. Ia juga sangat taat pada suaminya. Tapi untungnya, mendiang ayahnya Sek

  • DIMADU TANPA RESTU   6 - Ejekan Dari Wira

    “Assalamu’alaikum…,” ucap Sekar dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan di depan semua anak-anak didiknya.“Wa’alaikumussalam, Bu,” jawab mereka serentak.Sekar tersenyum. Rasa lelah di hatinya seolah sirna di depan anak-anak didik yang sangat ia cintai. Dua puluh anak kelas tiga yang ada di hadapannya kini, tersenyum manis tanpa beban. Ia pun harus bisa mengimbangi sikap dan senyuman itu tanpa peduli hatinya yang saat ini sedang tercabik-cabik.Detik-demi detik pun terus berlalu, hingga pagi yang cerah kini berubah menjadi sore yang cerah. Cahaya matahari yang tadinya bersinar di ufuk timur, kini mulai turun.Sekar melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Tugasnya sebagai tenaga pendidik hari ini sudah selesai. Saatnya ia pulang dan Kembali dengan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.Namun hari ini terasa sangat berbeda. Untuk pertama kalinya Sekar enggan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang guru. Untuk pertama kalinya ruang guru itu lebih nyaman disbandin

  • DIMADU TANPA RESTU   5 - Kontras

    Keesokan paginya, Sekar terjaga dan tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Yang ia ingat, semalam ia masih tidur dengan Wira.Setelah puas melampiaskan hasratnya, Wira terlelap begitu saja. Sementara Sekar berusaha mengais hatinya yang hancur berkeping-keping, hingga jatuh tertidur karena lelah.Sekar awalnya ingin mencari. Namun urung karena ia yakin kalau Wira pasti ada di kamar Amara.Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Sekar tetap berupaya untuk bangun membereskan kamar itu sebelum ia berangkat ke sekolah—untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak SD yang sangat ia cintai.Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi saat Sekar keluar dari kamar. Masih ada waktu untuk menyiapkan sarapan untuknya dan suaminya, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat bekerja.Namun, lagi-lagi kedua matanya terbelalak melihat dapur dan ruang makan yang sangat kotor, dengan sisa kantong belanjaan dan bekas makanan siap saji yang tergeletak begitu saja.Sekar tidak akan pernah terbiasa dengan pem

  • DIMADU TANPA RESTU   4 - Malam Ini Dengan Sekar

    “Mas, aku lapar. Mau makan nasi goreng. Tapi kepalaku masih sakit, belum kuat untuk masak,” ucap Amara dengan nada lembut, mendayu sepeninggal Sekar.Wira menghela napas. “Ya sudah, kita delivery saja. Kamu istirahat saja di kamar. Aku akan pesankan makanan untuk kita. Sekalian nanti aku mau bawa kamu ke dokter.”Mendengar kata “dokter”, raut wajah Amara langsung berubah.“Ke dokter? Nggak usah, Mas. Aku masih punya obat yang diberikan dokter kandungan tempat aku memeriksakan diri beberapa hari yang lalu. Kata dokter, kondisi seperti ini wajar terjadi. Di awal kehamilan, ibu memang lebih sering mual, muntah dan sakit kepala. Aku hanya butuh vitamin, istirahat dan perhatian.”Amara terlihat manja. Ia rekatkan tubuhnya pada Wira, lalu ia daratkan sebuah ciuman manis ke bibir pria itu.Sayangnya, Sekar harus menyaksikan semua itu dari balik daun pintu. Rasa penasaran dan sakit hati, membuat rasa keingintahuannya memuncak.Sekar segera merapatkan kembali pintu kamar, membalik tubuhnya dan

  • DIMADU TANPA RESTU   3 - Permintaan Amara

    Pukul sembilan pagi.Sinar matahari menembus celah jendela, menyinari lantai yang masih dingin. Sekar melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajah tanpa ekspresi.Ia sudah mandi, berusaha menyegarkan tubuhnya yang lelah, tapi tak ada air yang mampu membersihkan luka batinnya.Langkahnya terhenti di tengah ruangan. Matanya menyapu seluruh isi rumah. Berantakan. Sama seperti hatinya.Piring-piring kotor masih berserakan di meja makan. Pemandangan yang masih sama seperti yang ia lihat subuh tadi.Sekar menghela napas panjang.“Ini rumahku. Aku yang membangun rumah ini, aku yang membersihkannya, aku yang menjaga kenyamanannya,” lirih Sekar.Tapi kenapa ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri?Sekar menutup matanya sejenak. Ia mengingat pesan ibunya dulu.“Jangan biarkan rumahmu kotor, Nak. Jangan biarkan suamimu kelaparan. Jangan biarkan suamimu menunggu jika ia membutuhkan kehangatan.”Sekar menggigit bibirnya.Ia ingin mengabaikan semuanya. Ingin membiarkan rumah ini dalam

  • DIMADU TANPA RESTU   2 - Bahagia Di Atas Derita

    Dada Sekar bergemuruh hebat. Tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah dengan napas memburu.Dengan kasar, ia membanting pintu kamar hingga bergetar, lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.Sepanjang malam itu, Sekar sama sekali tidak bisa tidur. Hatinya terlalu sakit.Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu, mengenakan mukena, lalu berdiri di atas sajadah—menegakkan shalat tahajud dalam kesunyian malam.Tangisnya kembali pecah saat ia bersujud.Sekar menengadahkan tangan, berdoa dengan segenap hati. Ia percaya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.Usai berdoa, ia masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Hatinya sedikit lebih tenang, meskipun pedih itu belum sepenuhnya hilang.Lelah karena air mata yang terus mengalir, Sekar akhirnya tertidur begitu saja di atas sajadahnya, dengan mukena masih membalut tubuhnya.Malam yang terasa panjang itu ak

  • DIMADU TANPA RESTU   1- Kejutan Yang Tak Diharapkan

    Malam itu, Sekar berdiri di depan meja makan yang telah ia susun dengan sempurna. Hidangan kesukaan suaminya, mulai dari ayam panggang hingga sup sayuran segar, sudah tertata rapi.“Akhirnya, malam ini dia pulang,” gumamnya penuh harap.Bel pintu berbunyi. Sekar buru-buru menuju pintu dengan langkah penuh semangat. Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung memudar.Berdiri di depannya, Wira tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus berdiri dengan senyum tipis.“Sekar...” suara Wira terdengar tenang, tanpa ragu. “Ini Amara,” katanya. “Dia hamil. Kami sudah menikah secara siri.”Sekar mematung. Dunia seakan berhenti berputar. Matanya menatap tak percaya ke arah Wira, lalu ke Amara, dan kembali ke Wira.“Mas… apa maksudnya ini?” tanyanya dengan suara bergetar.“Aku sudah menikahinya, Sekar. Anak yang dia kandung adalah anakku, dan aku akan bertanggung jawab.”Sekar merasa dadanya sesak. Ia menatap Wira dengan air mata yang mulai menggenang.“A

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status