Share

Bukan Cinderella
Bukan Cinderella
Author: Kanietha

BC ~ 1

Author: Kanietha
last update Last Updated: 2024-09-23 11:59:08

“Litaaa! Anakmu nangis!”

Lita menarik napas panjang. Tidak jadi menyuap sarapan. Sesaat, ia memejamkan mata, kemudian membuang napas perlahan. Sejak skandal itu, sikap sang bapak kepadanya berubah drastis. Radit tidak lagi memberi perhatian dan kasih sayang seperti dulu. Lita tahu, ia telah membuat malu keluarga dengan hamil di luar nikah. Namun, perubahan sikap Raditlah yang membuat Lita semakin serba salah dalam bersikap.

“Tahu begini, ngapain Bapak sekolahin kamu tinggi-tinggi, kalau jatohnya cuma hamil di luar nikah!” Radit masih saja melanjutkan ocehannya. “Rindu yang cuma lulusan SMA bisa nikah sama orang kaya! Suaminya anggota dewan, mertuanya punya perusahaan! Kamu apa?”

Lita kembali menarik napas panjang sembari meninggalkan meja makan dengan langkah tergesa. Ia bergegas ke kamar, membuka pintu dengan hati yang gelisah dan mendapati Tirta, bayi laki-laki hasil hubungan terlarangnya terbangun.

Lita segera masuk kamar dan menutup pintu. Duduk di tepi ranjang, lalu membawa bayi berusia empat bulan itu ke dalam pangkuannya. Dengan cepat Lita membuka kancing kemeja dan segera mengASIhi Tirta.

Sejak Lita hamil di luar nikah, Radit kerap membandingkannya dengan saudara tirinya yang bernama Rindu. Anak gadis Tiara, wanita yang dinikahi Radit beberapa tahun yang lalu.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Lita berbalik cepat memunggungi Radit, yang sepertinya masih belum puas melepas emosinya.

“Kalau sudah begini, laki-laki mana yang mau sama kamu.” Radit kembali berceramah dari bibir pintu kamar Lita. “Perawan bukan, janda juga bukan, tapi punya anak! Keluarga mana yang mau terima, Ta!”

Lita menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya berkedip berkali-kali dan berusaha untuk tidak menangis ketika tengah mengASIhi putranya.

“Ingat baik-baik pesan Bapak,” lanjut Radit. “Jangan pernah lagi bikin malu nama keluarga! Jangan lagi berhubungan dengan suami orang di tempat kerja yang baru! Syukur-syukur mertua Rindu mau ngasih kamu kerjaan. Bikin malu aja!”

“Bapak!” Tiara yang baru saja berbelanja sayur di depan rumah, segera masuk menghampiri sang suami ketika mendengar suara Radit yang terlampau keras. “Sudahlah! Kenapa tiap hari selalu ngomelin Lita dengan masalah yang sama?”

Radit berdecak sambil meninggalkan kamar putrinya. “Gedeg! Dibesarkan biar bisa kerja bener, terus cari suami kaya, malah jadi begitu!”

“Pak!” hardik Tiara bergegas menuju dapur dan meletakkan semua belanjaan di meja makan. Setelah itu, ia kembali menghampiri Radit yang berada di ruang tamu dan tengah memakai kaos kaki. “Jangan begitulah, Pak. Biar begitu, Lita juga anak Bapak.”

“Anak nggak tahu diuntung!” ucap Radit. “Kalau begini, siapa yang mau nikahin dia? Lihat aja badannya habis lahiran. Mukanya juga nggak pernah dirawat lagi. Ditambah, punya anak tapi nggak ada status nikahnya. Siapa yang mau sama dia, Bu?”

“Huss! Harusnya Bapak doain Lita biar dapat jodoh yang bener.”

“Laki-laki kaya mana yang mau sama dia?” ulang Radit mulai memakai sepatunya satu per satu. 

Tiara menggeleng melihat sikap Radit yang masih saja keras hati, sejak putrinya ketahuan hamil di luar nikah. Bahkan, hati Radit tidak tersentuh sama sekali ketika melihat cucu pertamanya lahir ke dunia dengan selamat, tanpa kekurangan sesuatu apapun. “Lita hari ini sudah mulai kerja, jadi doain aja. Siapa tahu dapat jodoh di tempat kerja.”

Radit melepas tawa miris. “Sudah bagus-bagus dulu mau dijodohin sama Panji, tapi ogah-ogahan. Padahal Panji itu sudah mapan! Kerjaannya bagus, anaknya juga sopan.”

“Astaga, Pak. Sudah!” pinta Tiara kemudian berdiri, dan mengikuti Radit yang beranjak keluar rumah untuk berangkat kerja. Tanpa ingin memperpanjang masalah, Tiara meraih tangan Radit dan mencium punggung tangan suaminya. “Hati-hati di jalan.”

Karena sudah terlampau kesal, Radit pun tidak membalas ucapan istrinya. Ia segera menaiki motor dan melajukannya ke tempat kerja.

Sementara Tiara, kembali masuk dan langsung pergi ke kamar Lita untuk melihat kondisi putri sambungnya.

“Omongan bapak nggak usah dimasukin ke hati,” ujar Tiara langsung duduk di samping Lita yang tengah menyusui Tirta. “Sekarang, yang penting kamu kerja yang bener, dan fokus dulu sama Tirta juga masa depan. Masalah jodoh, serah—”

“Aku sudah nggak mikirin jodoh, Bu,” putus Lita menatap kosong pada jendela kamarnya. Radit benar. Mana ada pria baik yang mau dengan perempuan seperti Lita. Andaipun ada, Lita tidak yakin keluarga sang pria mau menerimanya dengan apa adanya.

Lita merasa tidak sanggup, jika harus menerima omongan miring dan hinaan dari orang terus-menerus. Belum lagi, jika perbuatanya dahulu kala diungkit-ungkit oleh pasangannya nanti. Untuk menghindari semua itu, Lita sudah memutuskan untuk hidup sendiri dan hanya membesarkan Tirta dengan baik.

Permintaan Lita saat ini tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin hidup berkecukupan dan bisa memberi pendidikan yang layak untuk putranya. Di masa lalu, Lita mungkin bukanlah seorang perempuan yang baik, tetapi di masa depan, ia bertekad untuk menjadi ibu yang luar biasa untuk putranya, Tirta.

“Ta, kamu masih muda, masih cantik,” kata Tiara menyemangati. “Jadi jangan ngomong begitu.”

“Nggak.” Lita sudah memutuskan semua hal dengan baik dan penuh perhitungan. “Aku cuma mau besarin Tirta, dan buktiin ke ayahnya kalau kami bisa hidup dengan baik tanpa dia, dan juga tanpa nafkah dari dia.”

Tiara mengusap punggung Lita dengan penuh rasa haru dan iba. “Ayahnya Tirta sudah tahu kalau kamu lahiran?”

“Nggak ngerti, Bu.” Lita mengendik sebentar. Ketika sadar Tirta sudah tidak lagi menyesap ASI-nya, Lita memperbaiki pakaiannya lalu meletakkan sang bayi kembali ke tempat tidur dengan perlahan. “Dan, aku juga sudah nggak mau tahu. Biarlah dia hidup sama anak istrinya, dan nggak usah lagi berhubungan dengan kami.”

Lita beranjak sambil mengancing kemejanya dengan menahan air mata yang kembali akan tumpah. Tidak ... Lita tidak boleh lagi menangis dan terpuruk seperti kemarin-kemarin.  

Kemudian, Lita menggeleng cepat. Berusaha mengenyahkan pikiran negatif yang hinggap di kepala. Ia mematut diri di cermin, sambil merapikan lagi penampilannya kali ini. Sejenak, Lita menyentuh wajahnya yang kusam dan mengusapnya dengan perlahan. Lita juga melihat tubuhnya yang berisi dan sudah tidak seramping dahulu kala.

Radit benar.

Sejak Lita mengandung, ia sudah tidak pernah melakukan perawatan seperti dahulu kala. Lita sudah tidak memiliki penghasilan, ketika ia memutuskan resign dari perusahaan karena malu dengan aib yang ditanggungnya.

“Ya sudah.” Yang bisa Tiara lakukan saat ini hanyalah memberi dukungan pada Lita. “Sarapan dulu, terus berangkat kerja. Nanti siang, Ibu bawa Tirta ke tempat Rindu. Ada sopir nanti yang jemput jam 10an.”

Lita yang menoleh pelan pada Tiara. Jika tidak ada Tiara dan Rindu, entah apa jadinya hidup Lita saat ini. Lita pun kerap menyesali perbuatan buruk yang selalu dilakukannya pada saudara tirinya di masa lalu. Itu semua Lita lakukan, karena merasa iri dengan kehidupan Rindu yang selalu beruntung.

Dari paras Rindu yang sangat cantik dan bisa bekerja di perusahaan ternama meskipun hanya lulusan SMA. Ditambah, Rindu selalu lebih dulu memiliki barang yang selalu diidam-idamkan Lita. Karena itulah, dahulu kala Lita tidak pernah menyukai saudara tirinya itu sama sekali.

Lita kemudian mengangguk kecil, karena sudah mempercayakan Tirta sepenuhnya pada Tiara. Lita berjanji dalam hati, akan segera mencari pengasuh untuk Tirta ketika menerima gaji pertamanya nanti. Ia tidak ingin berlama-lama merepotkan ibu sambungnya seperti sekarang.

“Hati-hati, ya, Bu, dan … sampein salamku buat Rindu.”

~~~~~~~~~~~~

Haluu, Mba beb, kita melipir ke Jelita dulu yaaa … spin-off Cinderella Hot Story ... hepi ridiing ~~ Kissseesss 💋💋💋

Comments (15)
goodnovel comment avatar
herka ratri
baru bac mbak beb,baru tahu lita udah parkir di mari.m
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
melipir ke sini aq thor
goodnovel comment avatar
Shofi Nadia
wah sodara tiri rindu yak
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Bukan Cinderella   BC ~ 2

    Tutup mata, tutup telinga.Kalimat itulah yang Lita tanamkan ketika nanti bekerja di A-Lee Kontruksi, perusahaan milik mertua saudara tirinya, Rindu. Lita harus fokus pada masa depan dan meninggalkan semua masa lalu kelamnya di belakang. Terus berjalan maju dan menjadikan semua hal yang dialami di hidupnya menjadi pelajaran berharga.Lita yang dulu, bukanlah Lita yang sekarang.Semua sudah berubah. Ada buah hati yang harus dibesarkan dan dididik dengan penuh tanggung jawab, agar tidak mengulangi kesalahan seperti orang tuanya.Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah lamunannya. Saat masih berdiri di pelataran perusahaan, Lita melihat layar ponselnya menampilkan nomor tidak dikenal. Tadinya, Lita enggan menerima panggilan dari nomor yang tidak disimpannya. Namun, saat melihat 10 digit nomor cantik yang tertera di layar, maka Lita memutuskan untuk menerimanya. Ia berasumsi, tidak ada orang yang memakai nomor cantik seperti itu untuk menipu atau sekadar iseng.“Halo?” sapanya dengan sedik

    Last Updated : 2024-09-23
  • Bukan Cinderella   BC ~ 3

    “Kosongkan semua jadwalku di luar kantor jumat ini,” titah Reno pada asisten pribadi yang berjalan di sampingnya. Mereka memasuki lobi perusahaan, sembari membicarakan semua agenda kantor hari itu. “Aku mau istirahat, di kantor aja.”“Siap, Ndan.” Pria yang bernama Willy itu mengangguk santai, sambil menulis titah Reno pada tablet di genggaman.“Aku juga minta—”Brukk!Langkah Reno terhenti ketika seorang wanita tiba-tiba menabraknya.Lita terbelalak dan menahan napas, saat melihat pria yang baru meneleponnya ada di hadapan. Yang lebih parah, Lita baru saja menabrak karena keteledorannya. “Pa-Pak Reno! Maaf!”“Kaaamu.” Reno mendelik saat mendengar Lita menyerukan namanya cukup keras. Namun, ia mencoba menenangkan diri dengan cepat. “Kamu karyawan baru?” tanyanya dengan nada lebih terkendali untuk menjaga wibawanya sebagai seorang direktur. Untung saja Lita memakai pakaian putih hitam layaknya karyawan magang, sehingga Reno bisa berakting maklum dan melemparkan pertanyaan seperti barus

    Last Updated : 2024-09-23
  • Bukan Cinderella   BC ~ 4

    Setelah keluar kamar mandi, Lita buru-buru menjemur handuknya lalu pergi ke kamar. Melewati Radit di meja makan dan enggan menegur pria itu karena tidak akan ada gunanya. Lita saja sampai heran, ke mana perginya Radit yang dulu?Ke mana gerangan sosok bapak yang selalu mengasihinya dan memberi apa pun yang Lita minta. Ya, meskipun terkadang Lita harus sabar menunggu, tetapi Radit pasti akan mengabulkan permintaannya.“Ibu makan dulu,” ujar Lita ketika memasuki kamar. “Istirahat. Biar Tirta sama aku.”“Kamulah yang makan dulu,” balas Tiara masih menepuk-nepuk bókong Tirta yang tidur dalam gendongan jariknya. “Mumpung Tirta tidur.”“Masih ada bapak.” Lita menutup pintu dan memelankan suaranya. “Nanti aja, Bu. Lagian aku sudah makan gorengan di kantor sebelum pulang.”“Kalau lagi ngasih ASI, jangan makan sembarangan.” Tiara membuka gendongannya dengan perlahan, lalu menurunkan Tirta di tempat tidur. “Makan makanan yang bergizi.”Lita mengangguk. Belajar tidak membantah atau melempar prot

    Last Updated : 2024-09-23
  • Bukan Cinderella   BC ~ 5

    “Tante itu heran, apa yang dilihat mamamu dari Lita?” Maria langsung membeo ketika ia dan Reno keluar dari kamar inap rumah sakit. Ia akan pergi ke hotel dekat rumah sakit dan menginap di sana. Sementara Reno, hanya akan mengantarkannya sampai bawah dan kembali menemani Fathiya. “Cantik juga nggak, akhlak mines, hamil di luar nikah sama suami orang, terus ... dilihat dari sudut mana aja, Lita itu nggak ada enak-enaknya. Janji sama Tante, jangan pernah dekat-dekat sama saudara tirinya Rindu. Kamu juga tahu, kan, bapaknya itu seperti apa?”“Iya, Tan.” Reno tidak bisa membantah, karena ia setuju dengan semua ucapan Maria. “Aku juga nggak pernah tertarik sama Lita.”“Bagus!” Ketika keduanya memasuki lift, Maria mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat daftar nama teman-temannya yang ada di kontaknya. Siapa tahu saja, dengan begini ia mengingat salah satu temannya yang memiliki anak perempuan yang belum menikah. “Nanti, kalau Tante balik ke Jakarta, Tante kenalin sama anak teman-teman T

    Last Updated : 2024-09-23
  • Bukan Cinderella   BC ~ 6

    Akhirnya, Reno berhasil membujuk Fathiya kembali ke Jakarta setelah dua minggu berada di Malaysia. Tentunya dengan bantuan Maria, yang mengatakan akan menjodohkan Reno dengan anak perempuan temannya. Mereka sudah mengatur jadwal dan akan melakukan sebuah kencan setelah Fathiya kembali ke Jakarta.Jadi, di sinilah Fathiya sekarang. Berada di rumah putranya dengan seorang suster yang akan membantu dengan segala sesuatunya.“Bawa mama ke rumah Rindu pagi esok,” pinta Fathiya setelah selesai makan malam. “Mama nak jumpa Dewi.”Reno mengangguk. Mereka tengah bersantai di ruang keluarga dan sedang membicarakan beberapa hal. “Biar aku telpon Dewa bentar lagi.”“Untuk ape?”“Cuma mau ngecek, besok Rindu ada di rumahnya sendiri atau di rumah tante Maria.”“Kesian Rindu,” ucap Fathiya geleng-geleng. “Semoga dia dapat bersabar dengan mertua macam tante kau, tu.”Reno terkekeh karena sudah paham dengan sifat Maria yang sangat cerewet itu. Rindu saja tidak bisa berkata tidak dan mengelak, ketika M

    Last Updated : 2024-09-23
  • Bukan Cinderella   BC ~ 7

    “Huuu ...” Ledekan tersebut kompak terlontar dari mulut Dewa dan Riko. Kemudian, disusul dengan tawa karena Reno telah kalah telak di depan Lita. Wanita itu baru saja pergi dan tenggelam di balik pintu rumah Dewa dengan hentakan kaki yang kasar.“Pak Reno nggak cocok jadi pemeran antagonis,” celetuk Riko melepas pengait besi yang menyangga kap mobil, lalu menutup mesinya. “Jadi, kalem aja, Pak. Nggak usah digalak-galakin.”“Dia lagi stres, Rik,” sambar Dewa lalu duduk pada sudut mobilnya. Ia masih saja terkekeh, karena mengingat Reno yang terdiam di hadapan Lita. “Sudah diburu-buru nikah sama mamanya. Kita tunggu aja undangannya sebentar lagi.”“Undangan kepala lo, Wa.” Reno ikut menjatuhkan bokongnya di samping Dewa. “Minggu depan, mamamu sudah buat jadwal makan malam sama anak temannya.”“Berarti pak Dewa betul,” ujar Riko sedikit bergeser lalu duduk pada pembatas carport. “Kita tinggal tunggu undangan bentar lagi.”Reno mendengkus kasar saat melihat Riko. “Lo pikir, nikah segampang

    Last Updated : 2024-10-04
  • Bukan Cinderella   BC ~ 8

    Apes bagi Reno karena masuk rumah dalam situasi yang sangat tidak tepat. Bahkan, bisa dibilang sangat tidak menguntungkan karena sang mama langsung menodongnya untuk mengantarkan Tiara. Mamanya cerdik, karena menggunakan nama Tiara sehingga Reno tidak bisa menolak. Terlebih lagi, wanita tua itu adalah ibu kandung Rindu sekaligus mertua Dewa.Jadi, Fathiya sudah menjebak putranya sendiri dan tepat sasaran.Kendati Tiara dan Lita sudah menolak sedemikian rupa, tetapi titah Fathiya tidak bisa terelakkan juga. Reno akhirnya mengantarkan kedua wanita itu dan menyimpan kekesalannya dalam-dalam.“Maaf, ya, Pak Reno,” ucap Tiara sungguh tidak enak hati. Terlebih, status Reno saat ini adalah atasan Lita di kantor. Karena itulah, Tiara tetap bersikap hormat dan merasa segan pada pria itu. “Padahal Lita sudah pesan taksi online.”Reno tersenyum saat menoleh sekilas pada Tiara yang duduk di sebelahnya. Sementara Lita, duduk di belakang sembari memangku Tirta yang tampaknya baru terbangun.“Nggak

    Last Updated : 2024-10-04
  • Bukan Cinderella   BC ~ 9

    Pagi itu, Tiara sampai tidak bisa berkata-kata ketika mendengar Lita bercerita perihal Reno. Sebagai seorang ibu, jelas hatinya terasa pilu ketika tahu Lita ternyata dipandang sebelah mata. Jika berada di posisi Reno, mungkin Tiara bisa memaklumi bila pria itu memiliki pikiran buruk pada Lita karena pernah hamil di luar nikah dan melahirkan tanpa seorang suami. Namun, Tiara merasa Reno tidak perlu sampai berkata demikian pada Lita.Entahlah.Tiara jadi serba salah karena pria itu adalah ipar Rindu. Kendati hanya ipar, tetapi jauh di lubuk hati Tiara yang terdalam, ia memiliki kekhawatiran jika semua ini akan menjadi konflik yang mengganggu rumah tangga Rindu.Di satu sisi, Tiara tidak bisa membiarkan Lita diperlakukan seperti demikian oleh Reno. Namun, di sisi lain ada keharmonisan rumah tangga Rindu yang harus Tiara jaga benar-benar.“Ta ... gimana kalau sambil jalan, kamu cari kerja di tempat lain?” Untuk sementara, hanya saran tersebut yang bisa Lita berikan pada Lita.“Cari kerja d

    Last Updated : 2024-10-04

Latest chapter

  • Bukan Cinderella   BC ~ 70 [FIN]

    “Aban ... jangan lari di tangga!” Reno sudah melarang, tetapi bocah yang sebentar lagi berusia tiga tahun itu tidak mau mendengarnya. “Kalau jatoh kita nggak jadi ulang tahun.”“Tak jatuh pun.”Reno menarik napas mendengar jawaban Tirta yang berucap dengan logat melayu. Benar-benar mirip Fathiya jika sudah berbicara. Reno tidak heran, karena Tirta memang sering menghabiskan hari-harinya dengan Fathiya. Terlebih lagi, Fathiya benar-benar memanjakan Tirta dan selalu menuruti semua permintaan bocah tersebut. “Hati-hati turunnya,” sambar Lita yang berjalan di belakang Reno dan jauh lebih kalem ketika menghadapi sikap putranya. “Kalau jatuh yang sakit Aban, bukan Ibu tau?”“Tau ...”Reno berdecak dan berhenti di ujung tangga. “Kalau jatuh, bahaya.”Lita menepuk keras bòkong Reno sebelum berhenti di sampingnya. Ia terkekeh, karena Reno sontak melotot padanya. “Tirta sudah—”“Kalau pengen bilang,” putus Reno lalu membalas Lita dengan perlakuan yang sama, hingga Lita memekik lalu terkekeh. “K

  • Bukan Cinderella   BC ~ 69

    “Mutasi?”“Kata bu Debby begitu.” Lita mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rindu. Matanya tertuju pada Dewa dan Tirta yang sedang berlatih di dojo. Ia sebenarnya datang untuk memberikan oleh-oleh dari Malaysia dan ngobrol santai dengan Rindu. Namun, ternyata Dewa malah membawa anak-anak ke dojo di belakang rumah.Lita melihat Dewa sibuk mengajari Tirta menendang kick pad yang ada di tangan pria itu. Sementara Dewi, hanya duduk bertepuk tangan dengan tawa geli ketika melihat sepupunya berhasil menendang. Tawa kecil itu selalu pecah, seolah menikmati setiap aksi Tirta yang memang terlihat menggemaskan.Sedangkan di sisi lain, Reno tampak lebih sibuk dengan kameranya. Merekam setiap momen dengan senyum bangga di wajahnya.“Pak Zaldy dimutasi ke Denpasar, tapi naik jadi wakil dirut di sana,” sambung Lita menerangkan. “Jadi ini masih sibuk bolak balik, karena sekalian ngurus pindah sekolah anaknya sama ini itunya. Pantas aja nggak pernah ngerecokin Tirta lagi.”“Emang mau direcokin dia lag

  • Bukan Cinderella   BC ~ 68

    Lita berdiri di balkon hotel, memandang ke luar dengan kekaguman. Pemandangan kota yang megah dan hiruk-pikuk kehidupan malam yang berbeda, membuatnya merasa seolah sedang bermimpi.Ia menoleh ke arah Reno, yang menghampirinya lalu memeluk dari belakang. Rasanya, setiap detik liburan yang dihabiskannya, adalah sesuatu yang luar biasa. Dari pengalaman pertamanya naik pesawat, hingga menjelajahi tempat-tempat baru yang menakjubkan.Mereka sempat dua hari berada di kediaman Fathiya dan sisanya Reno memilih memboyong semua anggota keluarga menginap di hotel. Semua itu dilakukan agar Lita, Tiara, maupun Fandy bisa mendapatkan pengalaman baru.Pada liburan kali ini, Radit tidak bisa ikut karena jatah cutinya dari perusahaan sudah habis. Jadi, pria itu menetap di Jakarta dan tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa.“Aban sudah tidur,” bisik Reno memberitahu tepat di telinga Lita. “Kapan kita tidur?”Lita terkekeh mendengar ajakan Reno. Beberapa hari ini, pria itu memang tidak meminta ja

  • Bukan Cinderella   BC ~ 67

    Meskipun tidak sebesar dan semegah resepsi pernikahan Rindu, bagi Lita, acara pernikahannya memiliki keindahan dan kesempurnaan tersendiri. Dengan dekorasi sederhana nan elegan, suasana yang hangat dan penuh kasih sayang dari keluarga serta teman-teman terdekat, membuat hari itu begitu istimewa."Abang, makasih." Lita berucap pelan sambil menatap Reno, kaki-kakinya bergerak canggung saat mereka berdansa di tengah ruangan. Langkah Lita terasa kaku dan hanya berusaha mengikuti irama. Bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti ke mana langkah Reno membawanya. “Sebenarnya aku pengen nangis, tapi air matanya nggak keluar.”Reno terkekeh pelan mendengar ucapan istrinya. Entah sudah berapa kali, Lita mengucapkan kata terima kasih pada Reno, karena telah mempersiapkan sebuah resepsi pernikahan yang tidak terbayangkan. Padahal, semua ini jauh dari kata mewah seperti pernikahan Rindu, tetapi sikap Litalah yang membuat Reno benar-benar merasa sangat dihargai.“Sebenarnya, aku juga mau minta maaf ka

  • Bukan Cinderella   BC ~ 66

    “Ke Malaysia?” Lita menatap Reno dengan mata membesar, jantungnya berdebar kencang. Bibir Lita bergetar, seiring rasa gugup dan bahagia yang tiba-tiba menyelimuti. Masih mencoba mencerna ucapan Reno, karena tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Maksudnya, kita ... ke Malaysia? Aku sama Tirta ikut?”“Kita semua.” Reno mengangguk lalu menangkup wajah Lita. Namun, kedua tangannya langsung disingkirkan Tirta yang sedang berada di pangkuan Lita. “Ditambah ibu sama Fandy,” ucapnya kembali menangkup wajah Lita, tetapi tangannya kembali ditepis, sehingga Reno dengan sengaja kembali melakukan hal tersebut untuk menggoda Tirta.Lita terkekeh melihat tingkah putranya. “Cemburu dia.”“No no cemburu sama Ayah, tau.” Reno menggeleng saat memberi tahukan hal tersebut pada Tirta. “Nggak boleh! No no.”“Nana!” seru Tirta sambil geleng-geleng.“Iya, nana,” ulang Reno lalu menangkup gemas wajah gembil itu dengan kedua tangan, tetapi Tirta segera memberontak. Namun, sejurus itu Tirta justru

  • Bukan Cinderella   BC ~ 65

    “Bahagia sangat Mama tengok kau setiap hari,” ucap Fathiya sambil melempar pelan sebuah bola pada Tirta, agar batita itu menendangnya. Saat bola itu luput dari tendangan Tirta, Fathiya pun tertawa. “Macam tak ada beban.”“Makasih, Ma.” Reno tidak lagi bisa berkata-kata untuk mengungkapkan kebahagiaannya. Ia merangkul Fathiya dan membiarkan Tirta bermain seorang diri di taman sembari mengawasi. “Maaf, kalau aku nekat nikahin Lita, padahal Mama nggak setuju.”“Dah terjadi, dah,” ucap Fathiya sudah tidak ingin mengungkit masa lalu. “Yang penting kau bahagia, Mama pun bahagia.”“Nggak usah ditanya.” Reno tersenyum kecil. Mengingat bagaimana cara Lita menghormati dan melayaninya. Hampir tanpa cela, karena wanita itu selalu bisa menempatkan diri dan membaca situasi hati Reno. “Aku bahagia.”“Buatkan Tirta adik kalau macam tu.”Reno tertawa kecil, kendati hatinya sedikit tercubit karena permintaan Fathiya. Bukannya tidak mau, tetapi Lita belum siap jika harus hamil lagi ketika Tirta masih but

  • Bukan Cinderella   BC ~ 64

    “Bikin puding pesanan orang lagi?”Tidak menemukan istrinya ketika bangun tidur, Reno lantas segera pergi ke dapur. Tidak hanya Lita, tetapi Tirta pun sudah tidak ada di kasurnya. Padahal, hari itu adalah hari libur tetapi Lita sudah tidak ada di sampingnya ketika Reno membuka mata.“Ehh, Ayah sudah bangun.” Lita memberi senyum semanis mungkin, karena mendengar nada bicara Reno yang tampaknya tidak terlalu suka dengan kegiatan yang dilakukannya.Dengan segera, Lita mengalungkan tangan pada pinggang Reno yang berdiri di sebelahnya lalu berjinjit. Memberi satu kecupan singkat di pipi dan kembali mengaduk adonan pudingnya.“Sayang, ini masih subuh.” Reno memelankan suaranya. Melihat Tirta yang asyik sendiri di kursi makannya, dengan potongan buah pisang yang sudah tidak berbentuk. “Masih gelap, tapi kamu sudah bawa Tirta ke dapur.”“Tirta bangun waktu aku selesai mandi,” ujar Lita sambil melihat Tirta yang berada di samping kitchen island. Tidak jauh dari tempat Lita berdiri, agar lebih

  • Bukan Cinderella   BC ~ 63

    “Mimi ...” Tirta berjalan sempoyongan ketika melihat Fathiya duduk di ruang tengah. Sempat terjatuh, lalu kembali bangkit dan berjalan menghampiri wanita itu.Reno yang berada di belakangnya, memang sengaja membiarkan batita itu dan tidak menolong sama sekali. Semua itu dilakukan agar Tirta tidak cengeng dan tidak putus asa untuk belajar berjalan.“Tok Umilaaa ...” Fathiya bertepuk tangan menyambut Tirta agar segera menghampirinya. “Bukan mimi.”“Lydia belum datang, Ma?” tanya Lita yang baru saja memasuki ruang tengah setelah menyibukkan diri di dapur. Sementara Tirta, sejak tadi berada bersama Reno karena pria itu sendiri yang meminta. “Sudah jam segini. Mama sudah minum obat belum.”“Dah.” Fathiya menangkap tubuh Tirta yang berhenti di depannya. Namun, batita itu tidak mau diangkat dan dipangku karena lebih memilih kembali berjalan menyusuri ruang tengah. “Hari ni Lydia izin.”“Nggak ada penggantinya?” tanya Reno sambil mengambil mobil-mobilan aki yang dibelinya, lalu meletakkan di t

  • Bukan Cinderella   BC ~ 62

    “Sayangnya Ibuuu.” Lita mencium gemas pipi gembil putranya hingga berkali-kali, ketika akhirnya bertemu kembali. “Kamu nggak kangen sama Ibu, heemm.”Tirta hanya bisa terkekeh, ketika Lita menjatuhkan kecupan bertubi-tubi tanpa bisa melawan.“Ayahnya,” ujar Reno yang duduk bersila di samping Lita, setelah bersalaman dengan Fathiya dan Tiara yang duduk di sofa.Lita terkekeh setelah berhenti mencium putranya. Menatap Reno, sembari mendudukkan Tirta di pangkuannya dengan posisi yang nyaman. Belum sempat ia bicara, Tirta sudah lebih dulu berceletuk ketika melihat Reno.“Aban!”Reno buru-buru meraih tangan Tirta, kemudian menepukkan tangan mungil tersebut ke dada bayi pintar itu. “Ini Aban Tirta,” kata Reno lalu melepas tangan Tirta dan mengangkatnya ke pangkuan. “Ini Ayah.”“Aban.”“Ayah,” ujar Reno kembali meralat sambil menyapit gemas bibir mungil itu. “Pelan-pelan aja,” kata Tiara ikut merasa bahagia melihat binar ceria dari sorot mata Lita. Rasanya, satu beban yang ada di pundak Tia

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status