“Aku suka mata Mas Devran, aku suka hidung Mas Devran, aku suka semuanya...” Nayra berceloteh sembari tidur di atas tubuh Devran.
“Kau pasti lebih suka yang ini!” Tangan Devran membimbing tangan Nayra untuk menggenggam sesuatu di bawah perutnya.
Nayra langsung menarik tangannya sambil memekik geli. “Mas Devran mesum, ah!”
“Kok mesum? Itu kan yang sering bikin kamu menjerit-jerit keenakan?” Devran mengingatkan Nayra.
“Ayo ngaku! Enak apa tidak?” Lagi Devran menggoda.
Gadis itu mencebik, gengsi mengakuinya.
Hal itu menerbitkan rasa gemas Devran karena usahanya bermalam-malam meneyenangkannya ternyata tidak mendapat pengakuan. Padahal seorang pria suka sekali diakui pandai menyenangkan di ranjang.
Dia kemudian bangkit mengubah posisi Nayra yang tadi bergela
“Dev. Ini Rio. Sekretaris sekaligus asisten pribadimu!” Abiyan, paman Devran mengenalkan pria itu di ruang kerjanya.Devran mengalihkan fokusnya dari laptop pada pria muda itu. Mungkin usianya sepantaran dengannya, atau bahkan lebih muda darinya.Tapi, Devran merasa tidak menyukai pria itu.“Aku lebih nyaman bersama Om Musa, Om.” Devran menolak.“Apa yang kau harapkan dari orang tua itu. Dia hanya pengasuhmu. Tidak cakap dalam hal urusan kantor.” Abiyan tak sepakat.“Dia sudah lama ikut papa, bagaimana bisa Om bilang tidak cakap urusan kantor?” Devran masih keberatan. Dia tidak peduli pria yang akan menjadi asistennya itu masih bersama mereka.“Musa akan mendapat tugas baru bersama papamu. Jangan seperti anak kecil. Terima saja ini. Toh kamu yang akan memerintahnya.” Abiyan berkeras. Di
“Bukannya Mas ada meeting?”Nayra melepas sepatu Devran yang rebahan di atas ranjang hotel, sepertinya capek sekali. Devran bahkan tiga hari ini tidak pulang ke apartemen karena sibuk mengurusi banyak hal. Karenanya begitu mendapat pesan Devran agar dia datang ke hotel Jazzy, Nayra langsung berangkat.“Tidak apa, Om Abiyan sudah bersedia memimpin meeting itu.” Devran merentangkan tangan agar Nayra datang kepelukannya.Gadis itu datang dengan patuh dan bergelanyut di pelukan Devran.Tadinya Devran sudah mempelajari hal apa yang akan dibahas dalam meeting dengan perwakilan perusahaan luar negri yang ada di Indonesia itu. Sayangnya dia kurang menguasai. Jadinya memutuskan menelpon Abiyan, dan pria itu menyampaikan agar dia saja yang memimpin meeting.Jadi, kalau sekarang dia punya sedikit waktu bersantai, tentu saja dimanfaatkannya menelpon sang istri untuk sekedar melepas rindunya. Setelah ini akan ada meeting lagi yang harus dia datangi.“Mau dipijitin, Mas?” Nayra menawarkan. Tak teg
“Siapa yang mengundangmu di sini?”Tamara melototi pria yang berwajah sangat kesal itu. Tangannya masih mengepal dan sorot matanya tajam seperti sudah siap menghajar orang.Kalau dia tidak datang tepat waktu, mungkin Damayanti sudah dipukuli pria ini.Padahal ini adalah gladi bersih persiapan acara untuk New York Fashion Week yang besok sudah harus ditampilkan. Tiba-tiba saja pria ini hendak merusak semuanya? Tamara tidak akan membiarkannya. “Jangan ikut campur! Ini urusan rumah tanggaku dengan Damayanti!” pria itu melotot pada Tamara.Dia tahu siapa Tamara tapi tidak peduli. Hatinya panas karena sang istri malah terlihat balik dekat dengan keluarga mantan kekasihnya dulu, di saat berita perceraian mereka merebak di permukaan.“Ini jadi urusanku karena Damayanti sudah aku kontrak untuk acara besok. Kalau dia sampai lecet sedikit saja, aku pastikan kau akan menyesal!”Tamara tidak takut dengan pria yang tampak bengis itu. Ada bodyguard yang siap membelanya dan kini orang-orang itu su
Mobil berhenti di sebuah rumah yang besar dan mewah. Nayra sudah diberitahu Devran kalau dia menunggunya di rumah ini.Tapi dia sebal, kenapa mendadak sekali mengatakannya. Apalagi dia baru pulang dari kampus. Pasti sudah tidak segar lagi dan kusam. Bagaimana nanti kalau keluarga Devran menilainya buruk? Mau memeriksa penampilannya sebentar saja pun sepertinya tidak bisa. Rio sudah membuka pintu mobil untuknya.“Pak Devran sudah menunggu di dalam, Nona?” ujar pria itu dengan sopan.“Terima kasih,” ucap Nayra beranjak keluar.Di halaman, Devran sudah berjalan menyambutnya. Nayra mencebik menerima sambutan itu.“Mas mau mempermalukanku?” tukasnya mencubit lengan Devran saat masuk ke dalam.“Kenapa aku mempermalukanmu?”“Kasih tahu lebih dulu kek kalau kita ke rumah keluarga, Mas. Aku jadi ada persiapan.”“Persiapan apa?”“Aku jelek, Mas. Kusam dan berkeringat sejak tadi ngampus.”“Kau kan memang jelek!” Devran malah menggodanya.“Mas?!” Nayra ngambek. Ini bukan saat untuk bercanda.
“Malam ini ajaklah menginap di rumah ini.” Renata meminta pertimbangan sang cucu.“Kalau Nayra tidak keberatan, aku juga tidak akan menolak.” Devran mengembalikan keputusan di tangan Nayra.Nayra tentu akan segan menolak. Tapi baiklah, untuk menghormati nenek Devran, dia akan menginap di rumah ini. hatinya sudah menghangat karena sikap Renata yang menerimanya dengan tangan terbuka.“Kalau begitu biarkan Nayra beristirahat dulu. Dia pasti capek karena seharian harus kuliah.” Renata masih memikirkan kebaikan Nayra.“Oh, tidak apa kok, Nek. Nayra bisa temani nenek kalau nenek masih mengobrol.”“Nenek juga harus istirahat, Nay. Jangan keterusan di ajak mengobrol?” Devran menyahut.“Oh. Baiklah. Nenek silahkan istirahat. Nayra keluar dulu.” Nayra membungkuk memberi hormat pada Renata kemudian berlalu keluar bersama Devran. Di luar, seorang pelayan sudah menghampiri mereka, “Mas, apa kami perlu menyiapkan kamar untuk Mbak Nayra.”“Tidak perlu. Nayra akan tidur sekamar denganku!”Pelayan it
Jepit rambut dan kutek yang ada di laci Devran pasti barang wanita itu.Nayra tampak terusik sepanjang makan malam mereka berdua. Dia hanya memainkan sendok dan garpunya sementara Devran yang juga sedang makan malah sambil sibuk memeriksa ponselnya.Bagaimana Nayra mau mengungkit dan menanyakan perihal barang-barang itu?Apakah kalau dia bertanya tidak membuat Devran marah padanya?Ya Tuhan. Bahkan sudah berkali-kali memberikan hak pria ini atas tubuhnya, Nayra masih juga merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa yang pantas untuk menanyakan hal sensitif ini.Hatinya semakin gelisah.“Ehem!” Devran berdehem melihat Nayra hanya melamun.Gadis itu tersentak. "Ya, Mas?"“Ada apa?”Nayra menatap Devran yang bertanya itu. Ini adalah kesempatannya untuk membahasnya. Saya
“Hubungan mereka bahkan masih tampak baik-baik saja.“Nayra sampai mengira-ngira sebenarnya bagaimana hubungan mereka selama ini? Dua wanita itu masih tampak akrab meski pernah ada hal yang berakhir setahun yang lalu. “Oh, apa aku yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi?”Nayra kembali bingung. Kalau benar demikian, artinya orang-orang itu benar-benar baik dan dewasa. Tidak lagi memikirkan tentang masa lalu dan tetap menjalin silaturrahmi.Sepanjang waktu itu dia malah sibuk bermonolog dengan diirnya sendiri.Mungkin selepas Devran datang dia akan sedikit membahasnya.Tapi, apa Devran malam ini pulang ke apartemen?Nayra pun menghubunginya dan bertanya apa malam ini dia pulang?[Mas tidak pulang?] Nayra menulis pesan karena ponsel Devran tidak bisa dihubungi.Tidak lama Devran sudah membalas, [Ini di jalan]Oh. Devran sudah di jalan?Nayra langsung mengemasi tugasnya dan menyingkirkannya. Merapikan meja dan sofa lalu membuka lemari es untuk memeriksa stok makanan. Agar kalau ti
“Terus kenapa kamu sedih? Barang itu tidak menunjukan apapun.”Nayra bertambah sedih mendengar ketidakpedulian Devran pada perasaannya. Apa iya ada barang perempuan di kamar seorang pria juga foto mesra itu tidak menunjukkan apapun?“Tapi...” Baru saja Nayra masih ingin membahasnya ada panggilan di ponsel Devran.Pria itu menyempatkan mengangkat panggilannya dulu.“Ya? Apa ada hal serius?” Nada suara Devran tampak cemas. Karenanya Nayra ikut mendengarkan serius.“Oh, baiklah kalau tidak ada apa-apa. Nanti kami akan ke sana.” Devran sudah tampak lega saat menutup panggilan itu.“Ada apa, Mas?” Nayra yang kini jadi penasaran.“Nenek bilang pengen ngobrol sama kamu. Dia kangen sama kamu.”“Oh, kangen?” Nayra bahkan tidak percaya dikangenin Renata. Tapi walau begitu, dia sudah semangat saja untuk ke rumah keluarga tidak mau membuat Renata menunggunya. “Ayo Mas kita ke sana!”Ini sudah di perjalanan menuju rumah keluarga Devran, dan dia sudah melupakan apa yang tadinya ingin ditanyakan
“Tidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.” Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.“Lowongan apa?”Ternyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.“Kayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.”“Hah?!”Bahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?“Kok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?”Nayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.“Sialan kamu!” Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.“Mas Devran kangen tidak sama aku?” Nayra kembali bertanya.“Kangenlah, Sayang!”“Kangen apanya?”“Masa harus didetailkan be
“Papa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!”Devran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. “Aku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.”“Mari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.” Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.“Kenapa memanggilku paman?”Ludwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?“Maaf, maksudku—Tuan Ludwig.” Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln
“Sekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.”Renata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.“Sudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.” Alana mencoba menenangkan Renata.“Bagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?” “Papa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.” Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.“Tapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se
“Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa
“Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin
“Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di
“Ah, Mas?”Nayra menjambaki rambut kepala Devran yang terus menyerusuk di dadanya mencari kenyamanan diri. Tapi pria ini bukannya berhenti justru semakin bersemangat hingga seperti biasa Nayra menjerit-jerit dan menggelinjang. Tampaknya dia suka sekali mendengar Nayra mengeluarkan suara mesra itu di bawah kuasanya.Ciumannya tak cukup lagi di bibir, leher, dan dada. Tapi dengan nakalnya malah melorot semakin ke bawah.Nayra hampir meledak dibuai kelakuan pria ini. Tapi Devran mana mau melepasnya begitu saja kalau tidak sampai serak tenggorokan Nayra karena desahan jeritan manjalitanya.Beberapa gaya mereka coba eksplor, dari dengan berdiri, duduk, nungging, atau tiduran. Di bathtub, di meja, di sofa dan berakhir di tempat tidur, semuanya mereka lakukan dengan sama—sama bergairah dan menyenangkan.Hingga Nayra lemas, belum bisa mengimbangi tenaga pria ini yang sungguh bak kuda yang tak habis-habis. Tubuh Nayra kini jadi seperti jeli yang hanya bisa terkulai di tempat tidur karena
“Aku hanya mau sambang kantor cabang sebentar, Nay.”Devran mencoba melepas pelukan Nayra karena tidak membiarkannya bangkit dari tempat tidur mereka.“Katanya ke sini karena aku, kok masih kerja?” dengan manja Nayra masih menahan Devran. Seperti bocah kecil yang takut ditinggal emaknya.Devran terkekeh. Lalu dengan lembut mengelus punggung Nayra dan menciumi puncak kepalanya. Mereka beberapa hari ini selalu lengket berdua. Tahu Devran bilang mau menyempatkan ke kantor perusahaannya yang ada di kota ini, Nayra jadi sedikit bete.“Semalam masih belum puas, nyonya? Nanti deh aku puasin lagi sampai lemas. Sekarang aku kerja dulu ya...” bisik pria itu.Nayra langsung mendongak menatap Devran seolah menyangkal dia merajuk karena minta dikelonin pria ini. “Aku enggak minta begituan?”“Oh, yah?” Tatapan Devran tidak percaya.“Mas Devran tahu enggak kenapa aku tidak suka Mas Devran ke kantor? Itu karena aku ingat, dulu Mas Devran suka sekali peluk-peluk cewek di ruangan Mas Devran. Sekarang
“Apa kau yang mengancamnya hingga harus meninggalkanku?” Tidak tahan Alana langsung mengintrogasi Tamara.“Siapa yang kau bicarakan?” Tamara menatap suaminya itu dengan heran. Walau dengan cepat otaknya menyambungkan bahwa Alana sedang membahas tentang istri ke duanya.Tamara juga sudah diberitahu Ludwig, bahwa Alana pergi ke Eropa beberapa bulan kemarin untuk mencari wanita itu. “Aku yakin kau bukan orang yang tidak tahu siapa yang aku maksudkan, Tamara.”Tamara justru tertawa kecil, melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu kini menatapnya dengan menahan geram dan rasa penasaran yang tinggi.Itu sungguh membuat Alana tersinggung.“Sekretaris cantikmu yang kau nikahi waktu itu kah yang kau maksud?” tanya Tamara.Alana merasa tak perlu menyahuti pertanyaan itu.“Bagaimana aku bisa mengancamnya, Alan? Dia sudah meninggal, kan?” dengan santainya Tamara mengingatkan hal itu.Alana juga sudah mencari tahu informasi itu bertahun-tahun sejak wanita itu meninggalkannya. Hingg