“Terus kenapa kamu sedih? Barang itu tidak menunjukan apapun.”Nayra bertambah sedih mendengar ketidakpedulian Devran pada perasaannya. Apa iya ada barang perempuan di kamar seorang pria juga foto mesra itu tidak menunjukkan apapun?“Tapi...” Baru saja Nayra masih ingin membahasnya ada panggilan di ponsel Devran.Pria itu menyempatkan mengangkat panggilannya dulu.“Ya? Apa ada hal serius?” Nada suara Devran tampak cemas. Karenanya Nayra ikut mendengarkan serius.“Oh, baiklah kalau tidak ada apa-apa. Nanti kami akan ke sana.” Devran sudah tampak lega saat menutup panggilan itu.“Ada apa, Mas?” Nayra yang kini jadi penasaran.“Nenek bilang pengen ngobrol sama kamu. Dia kangen sama kamu.”“Oh, kangen?” Nayra bahkan tidak percaya dikangenin Renata. Tapi walau begitu, dia sudah semangat saja untuk ke rumah keluarga tidak mau membuat Renata menunggunya. “Ayo Mas kita ke sana!”Ini sudah di perjalanan menuju rumah keluarga Devran, dan dia sudah melupakan apa yang tadinya ingin ditanyakan
“Oh, Maaf-maaf!”Nayra sungguh terkejut ketika berbalik badan dengan sedikit tergesa dia menabrak seseorang hingga menumpahkan minuman di gelas yang dipegangnya.Naasnya, minuman itu tumpah mengenai seseorang itu. Yang kini menatapnya dengan sangat tidak terima.“Saya terburu karena harus mengambil teh untuk nenek. Mohon maaf!” Nayra sekali lagi menunduk di depan wajah yang tak ramah itu.Itu—Tamara. Dia baru datang dan sudah mendapat sambutan seperti ini. Tentu saja emosinya terpancing.“Siapa kamu?!”Tamara menatap tajam gadis yang meringsut itu. Dia belum pernah melihatnya sebelum ini.Apa dia pelayan baru? Atau bisa jadi perawat mertuanya itu.Kalau benar begitu, gadis itu harus dihukum karena mengotori bajunya dengan teh.“S-saya...”Byurrr!Belum sempat Nayra menjelaskan siapa dirinya, Tamara yang kesal dan lelah langsung mengambil cangkir di tangan Nayra dan menyiramkan padanya.“Auh!!!” Nayra terkejut. Teh itu masih lumayan panas. Tamara menyiramkannya di lehernya.“Itu pantas
“Sialan anak itu!” Tamara menggerutu sepanjang jalan teringat betapa malunya dia di depan beberapa pelayan dan diusir oleh Renata.Tamara sungguh sakit hati. Pada mertuanya itu yang tidak pernah bisa melihat dirinya sebagai seorang menantu di keluarganya. Dia bahkan memilih gadis itu dari pada dirinya.Padahal, Tamara juga sepanjang hari memikirkan keluarga ini. Memikirkan perusahaan keluarga mereka. Juga memikirkan kebaikan putra dan cucu wanita itu. Tapi beginikah balasannya?“Ini gara-gara gadis itu!” Lagi Tamara mengumpati Nayra. Benar-benar tidak terima diperlakukan begini. Dan saat persiapan menjelang konfrensi pers itu, Devran menghubunginya. Tamara tahu putranya itu pasti akan membahas tentang kejadian tadi pagi. Karenanya dia tidak mengangkatnya dulu. Takut suasana hatinya rusak dan konfrensi pers berantakan.[Ma, kenapa bersikap begitu pada Nayra?]Tidak diangkat panggilannya, Devran mengirim pesan padanya.Tamara membiarkannya saja. Dia hanya menghela panjang untuk menaha
“Damay?” Tamara menyapa balik.Ketika wanita cantik itu melangkah mencium pipi Tamara, Nayra hanya bisa terdiam menyaksikan hubungan Tamara dan Damayanti yang masih sangat akrab itu.“Apa kabar, Dev?” Damayanti kemudian beralih pada Devran dan tersenyum menyapanya.Nayra diam-diam memperhatikan keduanya yang saling beradu pandang. Meski Devran tampak biasa, tapi dalam hati Nayra merasa mereka masih ada sesuatu.Seperti yang diketahui Nayra, Devran selalu begitu orangnya. Tampak cuek di permukaan tapi sebenarnya tidak begitu adanya.Ada sedikit cemburu terlintas yang berusaha ditepis oleh perasaan Nayra dengan cepat. Mereka hanya bertemu dan tidak melakukan hal apapun. Apa salahnya dan mengapa dia harus cemburu?“Baik. Ini Nayra. Istriku!” Devran merangkul Nayra dan mengenalkannya pada Damayanti.Untuk pertama kalinya, Nayra dan Damayanti saling berjabatan tangan. Nayra tampak canggung mencoba membalas senyum wanita itu.Meski begitu tentang foto dan barang-barang wanita di kamar Devra
Nayra mencoba menghubungi Devran. Ini sudah lebih dari se jam saat dirinya memutuskan keluar dari ruangan Tamara.Kenapa Devran tidak mencarinya?Barulah dia tahu ponselnya kehabisan paket data hingga tidak berhasil menghubungi Devran atau sebaliknya.Untuk urusan seperti ini Nayra kurang memperhatikannya. Karena biasanya di apartemen sudah tersedia wi-fi. Bahkan di kampusnya pun juga sudah tersedia jaringan internet terbuka.Nayra pun memutuskan untuk balik ke ruangan itu. Mudah-mudahan Devran sudah di sana dan sedang menunggunya.Bisa jadi mamanya tidak ada yang menunggu jadi tidak bisa meninggalkannya.Tapi, apa Damayanti masih ada di ruangan itu?Dari pada terus bertanya-tanya sendiri, bukankah akan lebih baik langsung balik saja?Nayra sudah mengetuk pintu dan bersiap masuk ruang perawatan. Tapi, situasi di dalam sepi karena bahkan Tamara pun sudah tertidur. Hanya ada seorang perempuan yang menungguinya di sofa samping ranjang pasien. Itu asisten Tamara.“Maaf, Mbak. Nyonya s
“Aku kesiangan, Mas. Aku berangkat dulu!” Nayra melihat jam tangannya dan memang ini sudah siang. Dia terlalu lama menghabiskan waktu tadi hanya untuk tertegun dan melamun di meja makan.“Nay?” Devran benar-benar tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.Nayra sudah bangkit menyingkirkan gelas dan piringnya di kitchen sink. Memncucinya sebentar dan bergegas mengambil tasnya.“Aku antar!” Devran menghabiskan susunya dan bangkit. Dia tak perlu bertanya apakah Nayra mau dia yang mengantarnya atau tidak. Dia jadi tahu, bahasa tubuh Nayra kalau sedang marah. Nayra lebih banyak diam.“Damayanti tiba-tiba sakit. Dia tidak membawa kendaraan, jadi mama memintaku untuk mengantarnya pulang. Maaf, ya?” Devran menyelipkan penjelasan itu saat mereka di jalan.Nayra melirik Devran. Pria ini apa masih peduli untuk menjelaskan sesuatu padanya?“Jangan perhitungan. Kau juga aku hubungi lho. katanya kau ada sedikit urusan. Saat aku balik ke rumah sakit, kau juga sudah tidak ada di sana. Eva
“Jam 12 malam, konter sebelah klinik sudah pada tutup. Aku tanya-tanya di mana konter yang masih buka? Jadinya sampai capek begini jalan jauh.” Nayra mengurut kakinya sendiri sembari melanjutkan penjelasannya.Mumpung ditanya. Sekalian saja agar pria ini tahu. Di saat dia khawatir mantan kekasihnya itu kenapa-kenapa di jalan di tengah malam. Nayra bahkan berjalan kaki tengah malam buta itu.“Jam 12 malam? Jalan kaki sendirian?” Devran mengulang ucapan Nayra sendiri. Seolah dia tidak percaya.Nayra mengangguk. Dia mengambil cream itu dan bangkit berjalan tertatih mengembalikannya ke laci.“Jangan becanda, Nay!” Seolah masih tidak percaya kalau kemarin dia meninggalkan Nayra di klinik. Padahal dia sempat balik ke klinik sebelum itu dan Nayra sudah tidak ada di sana.Eva juga tidak tahu apa-apa. Mamanya sudah tidur. Karenanya dia mengira Nayra memang sudah pulang.menghubungi pelayan di rumah keluarga untuk bertanya apakah Nayra pulang ke sana? Ternyata Nayra tidak ke sana. Akhirnya D
“Jangan dimonyongin begitu bibirnya, aku cium lagi baru tahu rasa!” Devran mengantar Nayra ke kampus karena sepagi ini sudah merepotkan gadis itu untuk memenuhi hasyratnya yang tak bisa dipuaskan hanya sekali mereka bercinta. Padahal hari ini gadis ini ada ujian, sudah telat hampir se-jam-an. Nayra pasti kesal sekali hingga sepanjang jalan bibirnya tak bisa ditarik seperti biasa. “Mas tahu tidak peraturan kampus? Bagaimana kalau mereka nanti mengeluarkanku? Aku susah-susah lho masuk universitas ini? Jangan seenaknya sendiri, dong!” Nayra masih sebal. Ingin sekali dia menjambak dan memukuli pria di sampingnya itu. sayangnya dia mana mungkin berani melakukannya? Menolaknya tadi saja tidak mampu. “Salah sendiri! Kamu bikin tegang mlulu. Kan sudah enak tadi habis keramas langsung pakai baju dan berangkat. Malah sliwar-sliwer gondal-gandul pakai bra dan celana dalam doang. Mana tahan aku melihatmu begitu, Sayangku?”
“Tidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.” Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.“Lowongan apa?”Ternyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.“Kayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.”“Hah?!”Bahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?“Kok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?”Nayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.“Sialan kamu!” Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.“Mas Devran kangen tidak sama aku?” Nayra kembali bertanya.“Kangenlah, Sayang!”“Kangen apanya?”“Masa harus didetailkan be
“Papa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!”Devran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. “Aku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.”“Mari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.” Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.“Kenapa memanggilku paman?”Ludwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?“Maaf, maksudku—Tuan Ludwig.” Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln
“Sekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.”Renata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.“Sudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.” Alana mencoba menenangkan Renata.“Bagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?” “Papa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.” Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.“Tapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se
“Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa
“Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin
“Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di
“Ah, Mas?”Nayra menjambaki rambut kepala Devran yang terus menyerusuk di dadanya mencari kenyamanan diri. Tapi pria ini bukannya berhenti justru semakin bersemangat hingga seperti biasa Nayra menjerit-jerit dan menggelinjang. Tampaknya dia suka sekali mendengar Nayra mengeluarkan suara mesra itu di bawah kuasanya.Ciumannya tak cukup lagi di bibir, leher, dan dada. Tapi dengan nakalnya malah melorot semakin ke bawah.Nayra hampir meledak dibuai kelakuan pria ini. Tapi Devran mana mau melepasnya begitu saja kalau tidak sampai serak tenggorokan Nayra karena desahan jeritan manjalitanya.Beberapa gaya mereka coba eksplor, dari dengan berdiri, duduk, nungging, atau tiduran. Di bathtub, di meja, di sofa dan berakhir di tempat tidur, semuanya mereka lakukan dengan sama—sama bergairah dan menyenangkan.Hingga Nayra lemas, belum bisa mengimbangi tenaga pria ini yang sungguh bak kuda yang tak habis-habis. Tubuh Nayra kini jadi seperti jeli yang hanya bisa terkulai di tempat tidur karena
“Aku hanya mau sambang kantor cabang sebentar, Nay.”Devran mencoba melepas pelukan Nayra karena tidak membiarkannya bangkit dari tempat tidur mereka.“Katanya ke sini karena aku, kok masih kerja?” dengan manja Nayra masih menahan Devran. Seperti bocah kecil yang takut ditinggal emaknya.Devran terkekeh. Lalu dengan lembut mengelus punggung Nayra dan menciumi puncak kepalanya. Mereka beberapa hari ini selalu lengket berdua. Tahu Devran bilang mau menyempatkan ke kantor perusahaannya yang ada di kota ini, Nayra jadi sedikit bete.“Semalam masih belum puas, nyonya? Nanti deh aku puasin lagi sampai lemas. Sekarang aku kerja dulu ya...” bisik pria itu.Nayra langsung mendongak menatap Devran seolah menyangkal dia merajuk karena minta dikelonin pria ini. “Aku enggak minta begituan?”“Oh, yah?” Tatapan Devran tidak percaya.“Mas Devran tahu enggak kenapa aku tidak suka Mas Devran ke kantor? Itu karena aku ingat, dulu Mas Devran suka sekali peluk-peluk cewek di ruangan Mas Devran. Sekarang
“Apa kau yang mengancamnya hingga harus meninggalkanku?” Tidak tahan Alana langsung mengintrogasi Tamara.“Siapa yang kau bicarakan?” Tamara menatap suaminya itu dengan heran. Walau dengan cepat otaknya menyambungkan bahwa Alana sedang membahas tentang istri ke duanya.Tamara juga sudah diberitahu Ludwig, bahwa Alana pergi ke Eropa beberapa bulan kemarin untuk mencari wanita itu. “Aku yakin kau bukan orang yang tidak tahu siapa yang aku maksudkan, Tamara.”Tamara justru tertawa kecil, melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu kini menatapnya dengan menahan geram dan rasa penasaran yang tinggi.Itu sungguh membuat Alana tersinggung.“Sekretaris cantikmu yang kau nikahi waktu itu kah yang kau maksud?” tanya Tamara.Alana merasa tak perlu menyahuti pertanyaan itu.“Bagaimana aku bisa mengancamnya, Alan? Dia sudah meninggal, kan?” dengan santainya Tamara mengingatkan hal itu.Alana juga sudah mencari tahu informasi itu bertahun-tahun sejak wanita itu meninggalkannya. Hingg