“Om aku ziarah ke makam orang tuaku dulu, ya?” Nayra meminta Musa mengantar ke makam ayah bundanya.Mereka akan berangkat ke Jakarta dengan penerbangan malam ini. Jadi Nayra masih punya waktu untuk sekedar berpamitan di makam kedua orang tuanya.Sayangnya makam mereka tidak satu tempat. Sintiya yang punya kuasa saat itu untuk memberikan mandat agar ayah Nayra tidak dimakamkan di samping makan bundanya. Dengan alasan bahwa itu pesan dari ayahnya sebelum meninggal.Rasanya wanita itu sungguh tamak. Bahkan sudah meninggalpun masih juga membuat ayah dan bundanya terpisah. Padahal, toh dia tidak mencintainya. Hanya mengincar hartanya semata.Mengingat itu hati Nayra tak berhenti sakit hati.Hanya saja Mbok Mun dan Pak Parmin waktu itu menegarkannya agar mau mengikhlaskan saja. Biar proses pemakaman sang ayah berjalan cepat dan sebagaimana mestinya. Tidak terhambat hanya karena perdebatan wanita yang egois itu.Kasihan saja kalau dikematiannya sanga ayah malah tidak tenang jalannya menuju
“Apa saja kerjaan Mas Devran di Jakarta?” Nayra begelanyut manja di samping tubuh Devran sembari mengelus dada bidangnya.Dia suka sekali melihat Devran bertelanjang dada. Menampakkan perut roti sobek dan dada bidangnya.Dulu dia hanya bisa mengagumi bentukan body seperti ini di idol k-pop yang sering di tontonya di TV. Sekarang siapa sangka ternyata bisa memilikinya.Andai masih punya kontak teman-teman SMA-nya, Nayra akan memamerkan suaminya ini pada mereka.“Mas, kok gak dijawab?” Nayra menciumi wajah Devran agar pria ini mau menyahutinya. Devran pelit sekali menjelaskan sesuatu padanya. Hanya menurut kalau pas di beginikan.“Enggak usah tanya, dijawabpun kamu enggak bakal ngerti!” ujar Devran sembari memejamkan matanya.“Ish, masih jutek saja nih, orang!” Nayra mencubit perut pria itu dengan sebal karena jurusnya ternyata tidak berhasil.Devran membuka matanya dan menatap Nayra lalu menarik tubuh ramping itu di pinggangnya. Membuat gadis itu duduk mengangkangi pinggang Devran.“M
“Maaf, Mas. Apa karena aku mengangkat panggilan Tadi?” Nayra melihat wajah muram Devran saat kembali ke apartemen.Nayra menyesali mengapa tadi harus mengangkat panggilan itu. Dia mengiranya Musa yang memanggil, ternyata dia salah. Itu Tamara, mamanya Devran.“Tidak perlu dibahas. Bersiaplah, bukannya kau mau melihat-lihat kampusmu?” tukas Devran tak ramah.Wajah itu sungguh membuat Nayra tidak enak dan menyalahkan dirinya. Kenapa dia selancang itu mengangkat panggilan orang lain. Dia juga jadi sedih mendengar suara wanita itu yang meninggi setelah mendengar suaranya tadi.Bagaimana ini? Belum apa-apa dia sudah membuat mama mertuanya itu tidak menyukainya.“Kalau Mas Devran banyak kerjaan, aku bisa ke kampus sendiri, kok. Nanti tinggal cari taxi online.”Kata-kata Nayra bukannya malah membuat Devran senang, justru tatapan tajam yang menusuk hati yang didapatnya.“O-oke, Mas. Aku akan siap-siap!” Nayra langsung melipir ke kamar untuk bersiap-siap.“Ugh. Menyebalkan. Kalau niat ngantar
“Mahal sekali?” Nayra melihat harga buku-buku kuliahnya.Tapi dia baru ingat ada banyak uang di saldo rekening yang bisa diaksesnya di ponsel yang diberi Devran.“Kalau tidak jadi saya kembalikan ke tempatnya!” Penjaga toko buku itu menatap Nayra dengan kurang ramah. Dia merasa tidak suka dengan mahasiswa yang hanya tanya-tanya harga tapi mengeluh mahal dan tidak jadi membelinya. “Lagian mahasiswa miskin pakai ambil jurusan kedokteran?” gerutunya sembari melirik sebal. Mungkin dia lelah seharian menjaga toko. Nayra berpikiran positif saja.“Jadi kok, Bu. Saya transfer pakai aplikasi pembayaran, ya?” Nayra mengeluarkan ponselnya. Menscan barcode di meja kasir dan mengisi nominal yang akan dibayarnya.Memeriksa laporan keunagan yang masuk, wanita itu mulai mengembangkan senyumnya.“Baik, ini bukunya. Tetima kasih sudah berbelanja di toko kami!” ucapnya yang kini menjadi ramah.“Terima kasih kembali, Bu!” Nayra membalasnya dan berlalu.Benar apa kata temannya, hidup di Jakarta kalau tida
“Aku suka mata Mas Devran, aku suka hidung Mas Devran, aku suka semuanya...” Nayra berceloteh sembari tidur di atas tubuh Devran.“Kau pasti lebih suka yang ini!” Tangan Devran membimbing tangan Nayra untuk menggenggam sesuatu di bawah perutnya.Nayra langsung menarik tangannya sambil memekik geli. “Mas Devran mesum, ah!”“Kok mesum? Itu kan yang sering bikin kamu menjerit-jerit keenakan?” Devran mengingatkan Nayra.“Ayo ngaku! Enak apa tidak?” Lagi Devran menggoda.Gadis itu mencebik, gengsi mengakuinya.Hal itu menerbitkan rasa gemas Devran karena usahanya bermalam-malam meneyenangkannya ternyata tidak mendapat pengakuan. Padahal seorang pria suka sekali diakui pandai menyenangkan di ranjang.Dia kemudian bangkit mengubah posisi Nayra yang tadi bergela
“Dev. Ini Rio. Sekretaris sekaligus asisten pribadimu!” Abiyan, paman Devran mengenalkan pria itu di ruang kerjanya.Devran mengalihkan fokusnya dari laptop pada pria muda itu. Mungkin usianya sepantaran dengannya, atau bahkan lebih muda darinya.Tapi, Devran merasa tidak menyukai pria itu.“Aku lebih nyaman bersama Om Musa, Om.” Devran menolak.“Apa yang kau harapkan dari orang tua itu. Dia hanya pengasuhmu. Tidak cakap dalam hal urusan kantor.” Abiyan tak sepakat.“Dia sudah lama ikut papa, bagaimana bisa Om bilang tidak cakap urusan kantor?” Devran masih keberatan. Dia tidak peduli pria yang akan menjadi asistennya itu masih bersama mereka.“Musa akan mendapat tugas baru bersama papamu. Jangan seperti anak kecil. Terima saja ini. Toh kamu yang akan memerintahnya.” Abiyan berkeras. Di
“Bukannya Mas ada meeting?”Nayra melepas sepatu Devran yang rebahan di atas ranjang hotel, sepertinya capek sekali. Devran bahkan tiga hari ini tidak pulang ke apartemen karena sibuk mengurusi banyak hal. Karenanya begitu mendapat pesan Devran agar dia datang ke hotel Jazzy, Nayra langsung berangkat.“Tidak apa, Om Abiyan sudah bersedia memimpin meeting itu.” Devran merentangkan tangan agar Nayra datang kepelukannya.Gadis itu datang dengan patuh dan bergelanyut di pelukan Devran.Tadinya Devran sudah mempelajari hal apa yang akan dibahas dalam meeting dengan perwakilan perusahaan luar negri yang ada di Indonesia itu. Sayangnya dia kurang menguasai. Jadinya memutuskan menelpon Abiyan, dan pria itu menyampaikan agar dia saja yang memimpin meeting.Jadi, kalau sekarang dia punya sedikit waktu bersantai, tentu saja dimanfaatkannya menelpon sang istri untuk sekedar melepas rindunya. Setelah ini akan ada meeting lagi yang harus dia datangi.“Mau dipijitin, Mas?” Nayra menawarkan. Tak teg
“Siapa yang mengundangmu di sini?”Tamara melototi pria yang berwajah sangat kesal itu. Tangannya masih mengepal dan sorot matanya tajam seperti sudah siap menghajar orang.Kalau dia tidak datang tepat waktu, mungkin Damayanti sudah dipukuli pria ini.Padahal ini adalah gladi bersih persiapan acara untuk New York Fashion Week yang besok sudah harus ditampilkan. Tiba-tiba saja pria ini hendak merusak semuanya? Tamara tidak akan membiarkannya. “Jangan ikut campur! Ini urusan rumah tanggaku dengan Damayanti!” pria itu melotot pada Tamara.Dia tahu siapa Tamara tapi tidak peduli. Hatinya panas karena sang istri malah terlihat balik dekat dengan keluarga mantan kekasihnya dulu, di saat berita perceraian mereka merebak di permukaan.“Ini jadi urusanku karena Damayanti sudah aku kontrak untuk acara besok. Kalau dia sampai lecet sedikit saja, aku pastikan kau akan menyesal!”Tamara tidak takut dengan pria yang tampak bengis itu. Ada bodyguard yang siap membelanya dan kini orang-orang itu su
“Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa
“Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin
“Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di
“Ah, Mas?”Nayra menjambaki rambut kepala Devran yang terus menyerusuk di dadanya mencari kenyamanan diri. Tapi pria ini bukannya berhenti justru semakin bersemangat hingga seperti biasa Nayra menjerit-jerit dan menggelinjang. Tampaknya dia suka sekali mendengar Nayra mengeluarkan suara mesra itu di bawah kuasanya.Ciumannya tak cukup lagi di bibir, leher, dan dada. Tapi dengan nakalnya malah melorot semakin ke bawah.Nayra hampir meledak dibuai kelakuan pria ini. Tapi Devran mana mau melepasnya begitu saja kalau tidak sampai serak tenggorokan Nayra karena desahan jeritan manjalitanya.Beberapa gaya mereka coba eksplor, dari dengan berdiri, duduk, nungging, atau tiduran. Di bathtub, di meja, di sofa dan berakhir di tempat tidur, semuanya mereka lakukan dengan sama—sama bergairah dan menyenangkan.Hingga Nayra lemas, belum bisa mengimbangi tenaga pria ini yang sungguh bak kuda yang tak habis-habis. Tubuh Nayra kini jadi seperti jeli yang hanya bisa terkulai di tempat tidur karena
“Aku hanya mau sambang kantor cabang sebentar, Nay.”Devran mencoba melepas pelukan Nayra karena tidak membiarkannya bangkit dari tempat tidur mereka.“Katanya ke sini karena aku, kok masih kerja?” dengan manja Nayra masih menahan Devran. Seperti bocah kecil yang takut ditinggal emaknya.Devran terkekeh. Lalu dengan lembut mengelus punggung Nayra dan menciumi puncak kepalanya. Mereka beberapa hari ini selalu lengket berdua. Tahu Devran bilang mau menyempatkan ke kantor perusahaannya yang ada di kota ini, Nayra jadi sedikit bete.“Semalam masih belum puas, nyonya? Nanti deh aku puasin lagi sampai lemas. Sekarang aku kerja dulu ya...” bisik pria itu.Nayra langsung mendongak menatap Devran seolah menyangkal dia merajuk karena minta dikelonin pria ini. “Aku enggak minta begituan?”“Oh, yah?” Tatapan Devran tidak percaya.“Mas Devran tahu enggak kenapa aku tidak suka Mas Devran ke kantor? Itu karena aku ingat, dulu Mas Devran suka sekali peluk-peluk cewek di ruangan Mas Devran. Sekarang
“Apa kau yang mengancamnya hingga harus meninggalkanku?” Tidak tahan Alana langsung mengintrogasi Tamara.“Siapa yang kau bicarakan?” Tamara menatap suaminya itu dengan heran. Walau dengan cepat otaknya menyambungkan bahwa Alana sedang membahas tentang istri ke duanya.Tamara juga sudah diberitahu Ludwig, bahwa Alana pergi ke Eropa beberapa bulan kemarin untuk mencari wanita itu. “Aku yakin kau bukan orang yang tidak tahu siapa yang aku maksudkan, Tamara.”Tamara justru tertawa kecil, melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu kini menatapnya dengan menahan geram dan rasa penasaran yang tinggi.Itu sungguh membuat Alana tersinggung.“Sekretaris cantikmu yang kau nikahi waktu itu kah yang kau maksud?” tanya Tamara.Alana merasa tak perlu menyahuti pertanyaan itu.“Bagaimana aku bisa mengancamnya, Alan? Dia sudah meninggal, kan?” dengan santainya Tamara mengingatkan hal itu.Alana juga sudah mencari tahu informasi itu bertahun-tahun sejak wanita itu meninggalkannya. Hingg
“Kau sudah makan?” Tamara menyambut suaminya itu sembari memeluk dan mencium kedua pipinya.“Sudah tadi sama mama.” Alana duduk di sofa dengan wajah yang tidak bersemangat.“Ada apa?” Tamara tak menyukai ekspresi wajah suaminya itu. Sudah merasai sendiri bahwa pria itu tidak enak hati padanya. Bisa jadi Renata sudah mengadu yang bukan-bukan.“Jangan protes kenapa aku tidak di rumah keluarga. Mamamu itu mengusirku dari rumahnya.”Jangan-jangan kehadiran Alana di butiknya kali ini ingin membahas dirinya yang tidak tinggal di rumah keluarga sekedar menemani sang mertua yang baru sembuh dari sakit.“Biar bagaimana, apa yang kau lakukan tetaplah salah, Tamara. Kita sudah tua, malu sama usia kita yang sudah pantas punya cucu. Sikapmu masih seperti menantu yang baru bergabung dengan keluarga suaminya.” Alana sekalian mengingatkan istrinya itu.Sejak dulu hingga hampir 30 tahun mereka berumah tangga, masih juga konflik antara istri dan mamanya itu belum juga berubah.“Di matamu aku tidak
“Dari Devran?” tanya Renata pada sang putra.Mereka minum teh bersama di teras rumah menikmati kebersamaan di waktu yang singkat ini.“Benar, Ma.”“Kukira Nayra sibuk sehingga jarang datang ke rumah, ternyata dia selalu bermasalah dengan Tamara.”Renata juga baru tahu hal ini. Dia penasaran dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga cucunya. Jadi meminta Musa yang baru datang untuk mencarikan informasi. Dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa.Yang mengejutkannya, kasus pembulian viral itu, yang menyeret nama mantan kekasih Devran, ternyata korbannya adalahh Nayra.Renata ikut geram melihat video yang viral itu. Walau wajah Nayra disamarkan, entah bagaimana Renata bisa mengenali gestur tubuh gadis malang itu. Lalu diperkuat oleh informasi yang baru di dapat Musa tentang kebenarannya. Musa tentu dengan mudah mengetahuinya dari Yas. Anak muda itu juga adalah anak buahnya sebelum ini. Dia juga secara rahasia diberi tahu Yas bahwa semua kejadian ini atas inisiatif sang nyonya besar, Tamar
Di dalam kamar yang dulu difungsikan sebagai ruang kerjanya, Devran menerima pesan dari Musa dan Yas.Pesan dari Musa memintanya menghubungi papanya yang baru datang, sementara pesan dari Yas menyampaikan tentang Akte pernikahan mereka yang sudah diambilnya.Kemarin saat bertelponan dengan Nayra yang meminta maaf dan berterima kasih padanya dengan perasaan yang manis, Devran jadi merindukan istrinya dan tak menunda untuk pergi ke Kota tempat istrinya berada. Padahal hari itu papanya juga akan datang. Jadi mereka belum sempat bertemu.Sekarang Devran sedang menghubunginya. “Halo, Pa!”“Dev? Kau tidak di Jakarta?” suara papanya terdengar.“Maaf, Pa. Devran ke Kota Diraja sebentar. Nayra ada di sini sudah seminggu yang lalu.”“Kenapa? Kalian bermasalah?”Alana masih dengan perhatiannya menanyakan apakah putranya itu punya masalah? Mungkin karena itu, Devran lebih bisa menurut pada sang papa daripada mamanya yang bahkan jarang memperhatikan hal kecil begini. “Ada sedikitlah, Pa. Its o