Galih baru saja melepaskan kemeja kerjanya, meletakkannya di keranjang baju kotor ketika panggilan telepon masuk ke ponselnya.
Nama Mama dengan emotikon hati tertampil di layar. Galih tersenyum sebelum memulai obrolan via telepon itu dengan sang mama. “Ya, Bu?” katanya mengawali percakapan itu. “Ibu punya kabar gembira buat kamu!” suara mamanya terdengar bahagia. “Ada apa memangnya, Bu? Aku baru pulang dari kantor,” katanya. “Kamu tahu Elda anaknya tante Ranti yang kuliah di Oxford itu? Dia udah selesai kuliah dan balik ke Indo!” mamanya terdengar bersemangat. Galih bisa menebak jalan pikiran mamanya. Sudah kali ke sekian mamanya melakukan hal itu. Mamanya sangat senang membawanya pada teman-teman di lingkaran sosialnya untuk dikenalkan dengan anak gadis mereka. “Ibu mau ngenalin aku sama anaknya tante Ranti? Bukannya mama bilang tante Ranti manipulatif dan suka playing victim ya?” “Aduh … Ibu yakin dia nggak akan nurunin sifat itu. Soalnya ayahnya orang baik-baik,” sanggah sang mama. Galih mendesah. “Ya udah, jadi, kapan aku harus ketemu Elda anaknya tante Ranti itu?” “Gimana kalau besok malam? Di Cafe Djo. Kalian ngobrol santai aja. Kalau udah cocok baru ketemu sama keluarga besarnya,” kata mamanya. “Oke, Bu. Ibu bisa kirim kontaknya ke aku. Nanti aku hubungi dia. Ya, ya, boleh sekalian fotonya juga supaya aku nggak salah orang,” kata Galih. Sambungan telepon terputus. Ketukan di pintu membuat Galih harus kembali menahan tubuhnya yang lelah. Dia mengayun langkah gontai untuk membuka pintu. Wajah tampan anak lelakinya menyambut pandangannya. “Pa. Boleh aku masuk? Aku mau ngobrol,” katanya. “Okay. Tapi, Papa perlu mandi dulu. Papa capek banget hari ini. Boleh?” Jason menganggukkan kepalanya. Dia duduk di kursi empuk depan meja komputer papanya. Galih meraih handuk miliknya dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Di bawah guyuran air hangat yang membuat nyaman otot-otot tegang di seluruh tubuhnya, Galih kembali teringat dengan wajah tutor matematika Jason itu. Dari penolakan gadis itu, dia tak mengerti jika semua pesona yang ada pada dirinya bisa membuat perempuan tak nyaman bahkan menjauh. Dia bahkan tak terlihat seperti laki-laki di depan gadis itu. Usai membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan kaus tanpa kerah dengan celana spandeks sepanjang lututnya, Galih duduk di sisi tempat tidur. Menunggu cerita Jason. “Oke, Boy. Ada cerita apa hari ini?” tanyanya. “Pa, aku mau nanya. Tapi, janji ya, Papa nggak akan marah?” Galih mengernyit, tetapi kemudian mengangguk. “Apa? Apa yang perlu Papa jelasin?” “Pa … apa bener, kalau pegangan tangan sama perempuan itu bisa buat perempuan hamil?” Galih terbelalak. Dia mengorek telinganya dengan kelingking, memastikan jika pendengarannya tak bermasalah. “Papa nggak salah denger, kok. Aku tanya, apa bener, kalau pegangan tangan sama perempuan itu bisa bikin mereka hamil?” Bukannya menjawab, Galih justru balik bertanya pada anak lelakinya itu. “Kamu denger dari mana, Boy? Siapa yang ngasih tau itu sama kamu? Om Evan, ya?” Jason menggeleng. “Aku denger dari cewek di kelas sebelah. Dia nyuruh aku jauh-jauh dari dia. Galak banget lagi!” Galih tertawa tetapi menyadari raut wajah anak lelakinya cemberut, dia menghentikan tawanya. “Itu nggak bener, Boy. Dengar, ya. Perempuan itu nggak akan hamil hanya karena pegangan tangan sama kamu, atau mandi di kolam renang yang sama dengan kamu. Semua itu nggak bener. Tapi … ada tapinya, ya. Kamu nggak boleh pegang tangan perempuan sembarangan kalau belum dewasa dan belum siap menikah.” “Jadi kalau udah dewasa dan udah siap menikah boleh ya, Pa?” Galih mengangguk pelan meski ragu. Dia khawatir tak bisa memberikan pemahaman pada Jason. “Aku ngerti sekarang, Pa. Terus Pa, kalau mantap-mantap itu apa, Pa?” Pertanyaan Jason membuat Galih menutup wajahnya. Jason yang sempat kebingungan dengan ayahnya itu bertanya apakah Galih baik-baik saja. “Papa cuma kaget sama pertanyaan kamu. Menurutmu, mantap-mantap itu apa, Boy?” “Ya … sesuatu yang menyenangkan. Kayak main game, pergi jalan-jalan sama Papa atau temen-temen, belajar sama Miss Dea juga.” Wajah dan telinga Galih memerah ketika Jason menyebut nama Dea. Otak lelakinya lantas membayangkan wajah gadis itu dalam dekapannya. “Oke. Kayaknya cukup. Kamu bener. Sekarang kamu udah ngerti, Boy. Ingat, kalau kamu suka sama cewek, bilang. Bukan malah mengganggunya atau bahkan ngajakin pacaran. Kamu belum dewasa. Ada masanya untuk ngajak cewek pacaran sampai menikah. Oke?” Jason mengangguk-angguk. “Thanks ya, Pa! Aku balik ke kamar kalau gitu. Semoga Papa bisa cepet dapet pacar dan menikah,” katanya sebelum berlalu. Galih terkekeh-kekeh mendengar kalimat Jason. Dia ingin menikah, tetapi tidak siap dengan proses panjang sebelum pernikahan. “Apa takdirku nggak bisa nemuin seseorang yang akan jadi pengganti Amel lagi?” Dia bertanya pada takdirnya sendiri. *** Usai pamit pada Jason, Galih melajukan mobilnya menuju Cafe Djo, tempat yang disepakati oleh mamanya dengan tante Ranti untuk bertemu dengan anak gadisnya. Galih memarkir mobil miliknya di luar area parkir Cafe, lalu berjalan menuju Cafe yang ramai dipenuhi pengunjung berusia dewasa muda itu. Galih menghubungi nomor kontak yang diberikan mamanya. Seorang gadis dengan kaus crop top lengan panjang dipadu celana jeans highwaist itu melambaikan tangan ke arahnya sambil mendekatkan ponsel ke telinganya. Galih balas melambai, lalu memutuskansambungan telepon ke nomor gadis itu. Secangkir frappuccino dengan roti panggang dioles selai kacang di atasnya sudah tersedia di meja. Galih mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu. “Galih,” katanya sebelum menarik kursi untuknya sendiri. Perempuan itu menjabat tangannya, “Elda. Kak Galih pasti sudah tau kalau aku anak tante Ranti, ‘kan?” kata perempuan itu, tanpa basa-basi. Galih melepaskan topi baseball miliknya di meja. “Ya, aku tahu. Itu alasan aku setuju ketemu di sini,” katanya. “Tapi maaf, Kak Galih. Jujur aja, ya. Aku kurang suka dengan cara berpakaian Kak Galih. Kaus oblong sama topi itu bukan tipe ideal aku banget untuk jadi suami. Ya meskipun Kak Galih ganteng dan tinggi kayak temen-temen bule aku, tapi kayaknya kita nggak usah lanjutin pertemuan ini, ya? Aku bakalan bilang sama mamaku. Jadi, Kak Galih nggak usah repot-repot lagi dateng ke rumah aku nanti.” Galih hanya mengulas senyum. “Kebetulan kalau gitu. Aku juga sama sekali nggak ada niat untuk melanjutkan perkenalan ini lebih jauh. Kalau begitu, silakan nikmati malammu. Aku permisi.” Galih berlalu dari meja cafe Djo tanpa memesan menu apapun selain kekesalan luar biasa. Dia sudah merendahkan diri dengan datang menemui gadis itu. “Emang bener, ya. Buah jauh nggak jauh dari pohonnya. Nggak anak, nggak ibunya. Sama-sama bikin kesal!” Galih mengarahkan tinjunya ke setir mobil. Di tengah emosinya yang tidak stabil, bukannya berbalik menuju rumah, Galih justru memutuskan untuk melajukan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Galih turun dengan tergesa-gesa hingga tak sengaja menabrak kantong belanja seorang perempuan. Kantung berisi kebutuhan rumah tangga itu berserak di lantai. Galih buru-buru berjongkok untuk membantu perempuan itu. “Maaf, maaf. Saya nggak sengaja.” “Nggak ‘pa-pa kok, Mas. Saya yang nggak ngeliat tadi. Nggak ‘pa-pa.” Dari suara perempuan itu, Galih menduga jika dia berusia lebih muda darinya. “Sekali lagi maafin saya,” kata Galih lalu mengulurkan tangannya. Perempuan itu menyambut uluran tangannya lalu berlalu. Galih menatap punggung perempuan itu sesaat sebelum meneruskan langkahnya menuju salah satu toko yang menjual pakaian pria. Dia memang sengaja memakai pakaian yang nyaman untuk bertemu dengan Elda. Namun, melihat reaksi Elda yang langsung menolaknya, membuat Galih tak ingin lagi mencoba dekat dengan perempuan manapun yang direkomendasikan oleh ibunya. Tak peduli lulusan universitas luar negeri sekalipun. “Emang udah bener aku ngejar Miss Dea, bukan malah nerima tawaran ibu untuk kenalan sama cewek-cewek yang cuma bisa ngandelin nama orang tuanya!” tangan Galih mengepal. Dia kesal ketika teringat kejadian tempo hari di rumahnya, ketika Evan dengan terang-terangan mengaku jika dia ada hubungan istimewa dengan Dea. Ditambah lagi, fakta jika dia adik laki-lakinya yang sangat menyebalkan dan haus perhatian! “Cih! Bisa apa sih Evan? Menang muda doang!” Tak ingin menarik perhatian orang sekitar, Galih akhirnya memilih untuk menelan emosinya sendiri. Selesai membayar belanjaan di kasir, dia kembali menuju mobil. Bukannya memutar arah menuju rumah, Galih justru melajukan mobilnya menuju Hotel Bulan.Sudah tiga puluh menit Galih memandangi area lobby Hotel Bulan. Di tangannya satu sloki kosong tak tersisa. Soda dengan lemon di cangkir kecil di sisinya masih tersisa setengah.Dia tak ingin kehilangan kesadaran yang hanya akan berujung penyesalan. Setelah menimbang-nimbang, dia memutuskan untuk berjalan ke arah resepsionis yang segera menyambutnya dengan senyum ramah khas pegawai Hotel Bulan.“Saya minta kamar basic untuk satu malam ya,” katanya sambil menyerahkan kartu identitas pada resepsionis itu.“Mohon ditunggu sebentar, Pak. Akan kami siapkan,” katanya.Selagi menunggu, Galih mengirimkan pesan suara pada Jason melalui aplikasi WhatsApp. Dia berpesan agar anak lelakinya tidak menunggunya pulang malam itu.“Sepertinya aku butuh seseorang malam ini,” gumamnya.Galih masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan baru tersadar ketika resepsionis itu memberinya kartu akses menuju kamarnya.
Galih membuka matanya ketika alarm di ponselnya berbunyi. Dua kancing kemeja atasnya terbuka, dan perempuan yang menemaninya semalam meninggalkan kamar tidur yang berantakan.“Ah, syukurlah dia udah pulang. Aku nyenyak banget tidurnya.”Galih bermaksud untuk membersihkan diri sebelum kembali dengan rutinitas hariannya ketika nada pesan masuk terdengar dari ponselnya. Nama kontak Miss Dea tercantum di pesan dorong yang tertampil di layar ponselnya.‘Maaf, Pak Galih. Evan jemput saya di rumah. Pak Galih bisa fokus ke pekerjaan Bapak dan saya akan mengajar Jason seperti biasa.’ Isi pesan dari gadis yang menarik perhatiannya itu membuat perasaan Galih sedih sekaligus kesal.“Di antara sekian banyak laki-laki, kenapa harus adek sendiri, sih?” Dia mengacak tatanan rambutnya yang mulai memanjang.“Harusnya Evan cari cewek lain. Kenapa harus Miss Dea yang lebih dewasa secara umur dari dia? Miss Dea itu tipe ideal banget,
Dea mengulas senyum lalu mengatupkan bibirnya. Melihat hal itu, Winda justru menggenggam tangan gadis itu. “Nggak usah terlalu buru-buru. Pelan-pelan aja nggak apa-apa. Nak Dea bisa kenalan lebih dekat sama Galih,” kata Winda. “Nek,” Jason duduk di sisi wanita itu. Winda mengusap rambut Jason dengan lembut. “Dokter bilang Papa kelelahan dan stres. Apa mungkin karena kerjaan Papa banyak, Nek?” bocah kecil itu bertanya pada Winda. “Papamu terlalu banyak menanggung beban. Kasihan dia. Mungkin ini saatnya papamu mencari istri, Jason. Kalau Jason mau punya mama baru?” Kalimat Winda membuat tangan gadis di sisinya terasa dingin. “Kalau aku terserah Papa, Nek. Pokoknya aku mau yang baik dan cantik, kayak Miss Dea,” Jason menunjuk gadis itu. Winda kembali menggenggam tangan Dea yang terasa dingin. “Gimana, Nak Dea? Jason sudah setuju. Sekarang tinggal kamunya.” “Saya …” Tak lama berselang, lelaki dengan jas dokter itu berada di antara mereka. “Saya sudah kasih Galih obat, Tante
Galih membuka pintu rumahnya begitu bel ditekan dua kali. Buket bunga mawar berwarna merah dengan baby breath itu berpindah ke tangan gadis di depannya.“Makasih banyak, Pak Galih. Ya ampun, saya jadi nggak nyaman,” kata gadis itu.Galih menghiraukan tatapan tajam dari lelaki tampan yang berdiri di sisi gadis itu —adik kandungnya sendiri. Dia mempersilakan keduanya masuk.Di meja makan, aneka hidangan yang memanjakan mata dan aroma harum menguar, membuat tak sabar untuk segera mencicipi kelezatan hidangan itu. Galih menarik kursi untuk gadis itu, mempersilakan gadis itu untuk duduk.“Terima kasih, Pak Galih sudah repot-repot,” kata gadis itu.“Saya senang sekali, Miss Dea,” katanya.Galih duduk di hadapan gadis itu. Sedangkan Evan memilih menarik kursi di samping gadis itu. Ketiganya berada dalam suasana tak nyaman.Galih menatap Dea bergantian dengan wajah menyebalkan Evan. Di hadapann
Evan menatap kakak lelakinya tanpa berkedip. Kaus tanpa kerah dengan celana panjang jersey itu membuat penampilan lelaki itu berbeda. Galih yang selama ini perfeksionis, dewasa dan berwibawa mendadak berubah menjadi Jamal yang terlihat sangat ‘biasa saja’ dalam pandangan Evan.“Mas Galih nggak salah pake baju kayak gini buat nyari cewek?” tanya Evan.Galih mengerutkan kening sebelum berkata sarkas. “Kamu nggak ngerasain gimana susahnya aku karena menjadi Galih selama ini. Jadi nggak usah sok peduli. Kamu sekarang jadi Bos aku. Panggil aku Jamal, bukan Galih!”Evan berusaha kembali memberinya nasehat. “Oke, oke. Tapi maksudnya, Mas Galih yakin ini bakalan berhasil? Gimana kalau misalnya cewek itu justru sakit hati karena kebohongan Mas Galih?”“Itu urusan belakangan. Pokoknya aku cari calon istri yang baik dan tulus tanpa memandang siapa aku,” Galih menyahut sambil mulai memotong kertas dengan pisau pemotong di meja besar.
Galih menatap undangan di tangannya. Undangan itu diantar oleh ibunya sendiri, sepulang dia bekerja di Percetakan Gemilang yang dikelola Evan. Foto gadis yang dikenalnya itu terlihat cantik dalam balutan busana pengantin. Sang pria yang menjadi pasangannya tampak lebih tampan mengenakan jas berwarna hitam. Pria itu, tak lain adalah adik kandungnya sendiri.“Aku harus dateng sama siapa? Masak sama Jason?” keluhan keluar dari bibirnya.Dia kemudian berpikir untuk mengajak gadis itu. Gadis yang baru dikenalnya satu pekan lalu. “Aster, ya? Apa dia mau? Tapi, kalau nggak dicoba, nggak akan pernah tahu hasilnya ‘kan?”Galih sudah memutuskan. Dia akan mendekati gadis itu tanpa menunggu lebih lama. Dia ingin segera membawa gadis itu dalam pelukannya. Namun, bagaimana caranya agar gadis itu tidak mengetahui identitas dirinya yang sesungguhnya?“Kayaknya aku emang harus ngomongin ini sama Evan kalau nggak mau dia ngerusak rencana aku. Da
Jam di ponselnya menunjuk pukul enam tepat, ketika mahasiswa-mahasiswi yang selesai kuliah sore di area Kampus Metropolitan mulai meninggalkan Kampus. Galih pamit pada Iwan untuk pulang lebih dulu. Dia menyandang tas pinggangnya di punggung. Dengan postur tegap itu, dia berjalan menyusur sepanjang jalan menuju Halte terdekat.“Kang Jamal …!” seru suara perempuan. Galih menghentikan langkahnya sejenak sebelum menoleh. Gadis yang mengikat rambut panjangnya mirip ekor kuda itu melambai ke arahnya.Dia bukan laki-laki yang membuat perempuan repot, sehingga Galih berbalik arah untuk menuju gadis itu.“Ih padahal ‘kan nggak apa-apa Kang Jamal nunggu di sana aja,” kata gadis itu.“Saya nggak mau bikin kamu capek, Neng Geulis.”Ada senyum di wajah gadis itu. “Kang Jamal umurnya berapa sih? Hobinya apa?”Pertanyaan dari gadis itu membuat Galih sedikit terkejut. Namun, dia segera mengatur ekspresi wajahnya.
Ketika azan dzuhur berkumandang, Iwan pamit lebih dulu pada Galih untuk menunaikan sholat. Galih dengan sigap menggantikan pekerjaan Iwan untuk meneruskan memotong tumpukan kertas yang tebalnya empat sentimeter itu.Buku berjilid hard cover dengan tulisan Skripsi yang diketik dalam huruf kapital Times New Roman itu menarik perhatian Galih. Dia mengenang saat menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi.“Jadi inget perjuangan masa lalu,” gumamnya.Dia juga membantu menutup pintu geser Percetakan Gemilang, mengganti papan pengumuman dari Buka menjadi Istirahat. Iwan dengan rambut basah muncul dari pintu belakang.“Mau makan siang, Bos? Makasih ya udah bantuin kerjaan aku,” kata Iwan.Galih hanya menepuk bahu Iwan. Lelaki itu lalu meninggalkan Percetakan Gemilang menuju rumah makan di depan ruko mereka. Sebuah janji harus ditepatinya.Gadis yang menutupi wajahnya dengan poni depan lurus itu melambai ke ara
Aster semula ragu untuk menjawab telepon masuk dari nomor tak dikenalinya. Dia hanya membiarkan sambungan telepon itu terputus dengan sendirinya.Sebuah pesan masuk melalui aplikasi pesan daring muncul di notifikasi dorong ponselnya. Kening Aster berlipat-lipat melihat isi pesan itu.[+62 8122234555]: halo, tante. ini aku, Jason. Aku dpt nomr tante dr papa“Ini nomor Jason? Ya ampun! Mimpi apa aku sampe dihubungi sama anaknya,” katanya.Aster segera membalas pesan itu.[Aster]: hai, Jason. Kalau gitu tante save kontaknya yaTak lama setelah menyimpan nomor ponsel Jason di kontak, dering telepon masuk kembali terdengar di ponsel Aster. Gadis itu menjawabnya, lalu berdehem sebelum bersuara.“Halo,” katanya.“Tante. Ini nomor Jason,” sahutan suara dari telepon itu membuat Aster menutup mulutnya untuk menutupi suara tawanya.“Iya, tante udah simpen nomor kamu,” jawab Aster.“Kalau gitu, aku mau ngundang tante ke acara ulang tahun aku. Tante bisa ‘kan kosongin jadwal buat aku?”Aster membu
Selama sepuluh tahun, Jason selalu menyerahkan urusan dekorasi ulang tahunnya pada event organizer yang dibayar oleh Galih untuk mengurusi semuanya. Namun, di ulang tahunnya yang akan menginjak angka sebelas, dia ingin melakukan semuanya sesuai dengan keinginannya.Jason berdiskusi dengan orang dari event organizer itu mengenai konsep yang diinginkannya. “Aku mau konsepnya superhero kayak Papa. Kak Tara tahu ‘kan? Papaku orangnya dingin banget kalau lagi kerja, tapi dia bisa ketawa kalau udah ketemu sama aku. Terus, aku juga nggak mau ngundang orang banyak-banyak. Aku maunya privat aja, mungkin seratus orang cukup. Ada temen-temen deket aku sama keluarga. Yang paling penting, nanti harus ada home band yang nyanyiin lagu buat dansa. Terus hiasan balon-balonnya, warna gold sama navy, bisa?”“Baik, kalau begitu Jason mau yang seperti ini?” perempuan itu menunjukkan gambar di tablet miliknya.Jason mengangguk setelah melihat rancangan konsep itu. “Tapi nanti tolong siapin pembawa acara bu
Pertemuan di Cafe Bougenville itu semakin membuat Aster jatuh hati pada Galih. Pasalnya, lelaki tampan berstatus duda dengan anak satu itu bukan hanya melindunginya tetapi juga secara gentle mengakui statusnya di depan Ryn, sahabat Aster.Dia bahkan memperkenalkan Jason sebagai anak kandungnya, sekaligus mengatakan keseriusan untuk menjalin hubungan ke jenjang lebih serius bersama Aster. Gadis itu bahagia, karena Ryn bukan hanya mendukung hubungan mereka tetapi juga mendoakan agar hubungan itu bertahan sampai pernikahan bahkan hingga maut memisahkan.Aster sampai tersenyum-senyum mengingat kejadian itu ketika dia duduk di meja kerjanya. Semua pengunjung Perpustakaan hari itu bahkan merasakan kebahagiaannya.Aster membuka buku kumpulan puisi karya Mita Yoo itu, membaca dalam hati bait puisi di sana.Kita adalah anomali yang disatukan semesta. Kau dengan ketenanganmu, sedang aku serupa sumbu pendek yang bisa meledak kapan saja.
Aster melambaikan tangan pada Galih usai lelaki itu mengantarnya kembali sampai depan pintu rumah. Gadis itu mengayun langkah menuju kamar. Dia tersenyum-senyum membayangkan ingatan semalam.“Kang Jamal ternyata bisa romantis banget. Dan yang paling penting, dia ngejaga aku dan nggak mau ngelakuin hal-hal yang lebih dari itu. Aku beruntung bisa sama dia,” gumamnya sambil menatap langit-langit kamar kontrakannya.Aster membuka ponselnya, beberapa pesan masuk dari nomor tanpa nama di kontaknya membuat Aster mengernyit. Dia membuka pesan itu.[+62 86533421111]: besok jam 2 siang aku tunggu di Cafe BougenvilleAster membalas pesan itu, menanyakan identitas pengirim pesan itu. Ketika balasan pesan itu masuk tak lama kemudian, Aster mendadak terkejut.[+62 86533421111]: RasyidAster menghembuskan napas setelah menarik napasnya dalam-dalam. Dia butuh oksigen lebih banyak untuk mengisi paru-parunya agar bisa
Aster mengikuti langkah panjang-panjang Galih dengan terburu-buru hingga hampir tersandung kakinya sendiri. Gadis itu tahu jika kekasihnya tak suka dengan kehadiran Rasyid.“Kang, kita mau ke mana?” tanya Aster, karena lelaki itu terus menarik tangannya untuk mengikuti langkah lelaki itu.Galih tak menjawab. Dia tak punya tujuan, hanya terus mengayunkan langkah hingga lelah. Ketika langkahnya terhenti, Galih menoleh sekeliling. Dia menatap Aster yang terengah-engah.Galih melepaskan tangan Aster ketika melihat kotak neon berkedip-kedip menampilkan nama Penginapan Vella itu. “Aku mau masuk ke situ, Neng. Kalau kamu memang cinta dan percaya sama aku, kamu cukup ikutin aku,” kata Galih, memberi isyarat dengan dagunya.Mata Aster terbelalak sesaat. Ketika lelaki bertubuh tegap itu mengayun langkah mendahuluinya, dia menyusul lelaki itu dengan langkah kecilnya.‘Yang paling penting aku harus tetep sadar dan harus bisa
Galih percaya jika kebaikan akan kembali kepada dirinya sendiri. Hal itu juga yang membuatnya hanya fokus belajar ketika masih duduk di bangku sekolah. Bahkan ketika menyelesaikan pendidikan tinggi, dia sama sekali tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dia tak pernah sekalipun berpacaran sebelum bertemu dengan Amel di usianya yang kedua puluh tiga tahun.Ketika itu, dia yang sedang membantu ayahnya di Percetakan Gemilang bertemu dengan mahasiswi cantik yang membuat Galih tertarik. Galih memberanikan diri untuk mendekati perempuan itu, dimulai dari perkenalan, lalu berlanjut dengan saling bertukar pesan singkat.Dari sana, hubungan Galih dan Amel berlanjut ke tahap saling mengenal pribadi masing-masing. Galih menganggap Amel adalah pelengkap dunianya. Dia yang selalu tak ingin melakukan kesalahan, sedangkan Amel adalah orang yang akan menertawakan kesalahan itu.“Amelia Soedjono, will you marry me?” Galih mengutarakan perta
Galih setengah berlari menuju ruangan bertuliskan IGD di Rumah Sehat Mentari itu. Dia melihat Evan dengan Dea tengah duduk di bangku tunggu. Ayahnya berada di sisi pasangan itu dengan memegang tongkat jalannya.“Van, gimana keadaan Ibu?” tanya Galih.“Masih di dalem, Mas. Kita belum boleh masuk karena dokter masih fokus biar Ibu ngelewatin masa kritisnya,” sahut Evan.Galih berjalan melongok ke kaca ruangan itu, tetapi dia tak bisa melihat apapun. Dia berjalan gontai lalu menyandarkan tubuhnya di sisi ayahnya.“Gimana ceritanya Ibu bisa tiba-tiba pingsan, Yah?” tanya Galih pada lelaki yang rambutnya mulai berwarna perak di sisinya.“Tadi lagi cuci baju di kamar mandi, terus Ayah denger teriakan ibu kamu. Pas Ayah ke kamar mandi posisi ibu kamu udah jatuh. Ayah nggak tahu karena tiba-tiba aja ibumu pingsan, dipanggil nggak nyahut,” katanya.Tak lama kemudian, lelaki berjubah dokter membuka pintu ruang
Tanpa berpamitan dengan Galih, Aster segera meninggalkan Toko Buku itu setelah membayar buku-buku yang dibelinya. Dia lalu segera menghentikan sebuah angkutan umum yang mengantarnya ke rumah kontrakan yang ditinggalinya selama memutuskan tinggal sendiri.Rasanya marah, sekaligus sedih melihat lelaki yang menjadi kekasihnya itu sedang bermesraan dengan perempuan lain. Terlebih lagi, perempuan itu terlihat jauh lebih seksi dari dirinya.“Nyebelin! apa bener semua cowok sama aja, ya?”Aster kembali menyembunyikan wajahnya di balik lutut. “Padahal aku udah yakin kalau Kang Jamal beda sama cowok lain, nggak gampang tergoda. Apalagi mantan istrinya juga udah meninggal lama banget dan dia belum nikah lagi ‘kan? Ternyata sama aja.”Tak lama berselang, pintu rumah kontrakannya itu diketuk. Suara lelaki yang terdengar familiar di telinganya itu membuat Aster buru-buru berdiri. Dia melangkah menuju jendela, membuka tirai untuk melihat ses
Memberikan kejutan tanpa memikirkan momen ternyata cukup menyenangkan. Bagi Galih, melihat senyum Aster adalah dunianya saat itu. Hari itu dia sengaja membuat janji dengan kekasihnya untuk pergi ke toko buku yang terletak di Mall kawasan Metropolitan.Aster menyetujui rencana itu. Keduanya bertemu di depan Percetakan Gemilang, tempat Galih memerankan Jamal dan bekerja sebagai pegawai percetakan di sana. Sebagai seorang perfeksionis, Galih membenci kesalahan-kesalahan kecil di hidupnya. Namun, dia senang membuat kesalahan di depan Aster, membuat gadisnya itu melayangkan cubitan kecil di lengannya. Dan hal itu membuat Galih melihat sisi imut dari seorang Aster.Galih melambaikan tangan ketika gadis itu menyebrangi jalan untuk mendekatinya. Dia mengenakan kaus berwarna denim dengan celana spandeks model jogger berwarna abu. Tas pinggang kecil menempati bahu sisi kanannya.“Kang Jamal udah lama nunggunya?” tanya Aster.“Nggak, kok. Belum lam