Home / Romansa / Ayo Menikah, Mas Duda! / Bab 5: Saya Belum Siap

Share

Bab 5: Saya Belum Siap

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-02-08 21:40:04

Dea mengulas senyum lalu mengatupkan bibirnya. Melihat hal itu, Winda justru menggenggam tangan gadis itu.

“Nggak usah terlalu buru-buru. Pelan-pelan aja nggak apa-apa. Nak Dea bisa kenalan lebih dekat sama Galih,” kata Winda.

“Nek,” Jason duduk di sisi wanita itu. Winda mengusap rambut Jason dengan lembut.

“Dokter bilang Papa kelelahan dan stres. Apa mungkin karena kerjaan Papa banyak, Nek?” bocah kecil itu bertanya pada Winda.

“Papamu terlalu banyak menanggung beban. Kasihan dia. Mungkin ini saatnya papamu mencari istri, Jason. Kalau Jason mau punya mama baru?” Kalimat Winda membuat tangan gadis di sisinya terasa dingin.

“Kalau aku terserah Papa, Nek. Pokoknya aku mau yang baik dan cantik, kayak Miss Dea,” Jason menunjuk gadis itu.

Winda kembali menggenggam tangan Dea yang terasa dingin. “Gimana, Nak Dea? Jason sudah setuju. Sekarang tinggal kamunya.”

“Saya …”

Tak lama berselang, lelaki dengan jas dokter itu berada di antara mereka. “Saya sudah kasih Galih obat, Tante. Nanti bisa diminum rutin. Kalau bisa, biarkan dia istirahat selama beberapa hari. Jangan kerja dulu.”

“Makasih ya, Han. Tante banyak berhutang budi sama kamu,” kata Winda.

Lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu tersenyum. “Tante ini kayak sama siapa aja.”

“Kalau Tante punya anak perempuan, bakalan Tante jadiin menantu kamu, Han.”

Dokter itu tertawa pelan. Pandangannya terarah pada Dea. “Tante bisa aja! Kalau gitu aku pamit, ya?”

Winda mengangguk. Dia berjalan di sisi Rayhan, mengantarkannya sampai depan pintu.

Dea melirik jam tangannya ketika Winda kembali duduk di sisinya. “Nak Dea lihat dokter yang tadi itu?”

Dea mengangguk. “Dia anak Ibu juga?” tanyanya.

Winda menggeleng, “bukan. Tapi, Galih banyak bantu dia selama pendidikan dokter. Makanya dia udah anggap kami seperti keluarga.”

Dea mengangguk-angguk. Dia ingin segera keluar dari percakapan itu. “Hm, maaf sebelumnya, Bu. Ini jam belajar Jason sudah selesai. Saya boleh, pamit?”

Winda tertawa pelan. “Kok buru-buru? Tante masih pengen ngobrol lho sama kamu. Soalnya Tante ngerasa, kamu anak baik. Kamu juga cantik banget.”

“Bu …” suara berat lelaki membuat percakapan keduanya terjeda. Winda mendongak, lalu buru-buru berdiri untuk menggamit lengan Galih.

“Kamu disuruh istirahat kok malah turun? Harusnya tidur aja!” kata Winda.

Sebagai seorang ibu, perempuan itu tak tega melihat keadaan putra sulungnya. Namun, putra sulungnya justru sibuk menahan ego sendiri.

“Aku udah nggak apa-apa, Bu. Udah mendingan setelah dikasih obat sama Rayhan tadi,” kata Galih.

“Miss Dea sudah mau pulang, ya?” tanyanya pada gadis itu.

“Iya, Pak Galih,” sahut Dea.

Winda hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Dia mulai membayangkan masa depan Galih bersama gadis itu.

“Maaf saya nggak bisa nganterin Miss Dea pulang,” Galih sungguh menyesal dengan keadaannya.

“Nggak apa-apa, Pak Galih. Saya justru nggak enak kalau ngerepotin. Kalau begitu, saya pamit, Pak. Permisi, Bu. Jason, besok Miss Dea ke sini lagi.” Gadis itu segera mengemasi tas miliknya sebelum melangkah ke luar.

Galih menatap ibunya. Perempuan berusia lima puluhan itu tersenyum-senyum.

“Jangan banyak berharap, Bu. Galih udah pernah sekali ngobrol serius sama dia. Dan hasilnya nggak sesuai harapan,” katanya.

“Kamu ditolak sama dia?” tanya Winda.

Galih mengangguk. “Tapi aku belum nyerah. Tapi, ya … Ibu harus sedikit lebih sabar kalau mau punya menantu baru.”

“Bukan buat Ibu. Tapi buat kamu. Dia harus bisa ngurusin kamu, itu yang paling penting,” kata Winda.

Ada senyum kecil di wajah Galih. “Kayaknya aku harus berusaha lebih keras, Bu.”

“Ibu selalu dukung kamu,” ucapan ibunya membuat Galih mendapat suntikan semangat. Demamnya tiba-tiba seolah hilang. Dia seketika merasa sangat sehat.

***

Galih melambaikan tangan sesaat pada Jason sebelum memacu mobil Audi A5 sportback miliknya. Jalanan Kota Metropolitan yang padat membuatnya tak bisa memacu lebih dari kecepatan 60 kilometer.

Fariz menyambutnya begitu dia sampai ruangan kerja. Lelaki itu bahkan seperti takjub melihatnya kembali bekerja.

“Mas Galih nggak apa-apa udah masuk kerja? Kalau masih sakit istirahat aja dulu. Baru juga tiga hari. Tenang aja, semua aku yang ngurus,” katanya.

“Nggak bisa, Riz. Gimana kemarin sama Danial, lancar meetingnya?” tanyanya.

Fariz mengangguk. “Dia nggak datang. Tapi udah tanda tangan. Yang nganterin si Sasha, sekretarisnya.”

Galih mengangguk-angguk. “Pokoknya aku seneng kalau kerjaan kita lancar.”

“Mas Galih nggak coba deketin Sasha aja? Dia cantik lho,” Fariz menyenggol lengannya.

“Sasha memang cantik. Tapi dia bukan tipe saya,” akunya.

“Terus, tipe yang kayak gimana yang Mas Galih mau? Apa yang mungil tapi seksi gitu?” Fariz makin senang menggodanya.

Galih tertawa pelan. “Ya … kalau dia bisa bikin saya yakin untuk lebih serius, dia orangnya.”

“Mau saya kenalin sama keponakannya istri saya, Mas? Dia yatim piatu. Umurnya baru dua empat. Dia baru keterima kerja di Perpustakaan Kampus Metropolitan. Sebelumnya dia bantuin jaga toko istri saya,” katanya.

Galih terkenang pengalaman buruknya karena dikenalkan dengan seorang perempuan. Dia tak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi untuk kali ke sekian.

“Untuk saat ini, saya akan cari sendiri. Makasih banyak tawarannya. Kita harus kembali kerja,” katanya.

Fariz mengangguk-angguk. “Pokoknya kalau Mas Galih butuh bantuan, saya siap.”

“Terima kasih, Riz,” ucapnya sebelum Fariz keluar melewati pintu ruangan.

Galih beralih ke meja kerjanya. Ketika membuka surat elektronik di komputer kerjanya, ada sebuah pesan dari domain perusahaannya. Tanpa curiga, Galih membuka surat elektronik itu. Ketika dia melihatnya, seketika bahunya turun melihat foto itu. Entah apa maksud si pengirim, Galih bahkan mengarahkan kepalan tangannya ke atas meja.

“Sudah sejauh apa hubungan mereka? Apa karena itu dia nolak aku?”

Galih segera menghubungi kontak dengan nama Evan dari ponsel pribadinya. Beberapa menit panggilan telepon itu diabaikan. Membuatnya semakin kesal. Tak habis akal, Galih mengirimkan pesan pada kontak yang tak menjawab panggilan telepon darinya itu.

Malam ini aku ngundang kamu sama Miss Dea buat makan malam di rumah. Miss Dea harus ikut, hari ini jadwal dia ngajar Jason.

Galih menyimpan ponselnya di laci meja kerja setelah mengirimkan pesan itu. Dia meraih foto yang terbingkai di meja kerjanya.

“Mel, aku kangen. Tapi, aku nggak bisa hidup kayak gini terus. Maafin aku, Mel,” lirihnya.

Selama ini Galih tak pernah terusik perihal pernikahan. Dia tak terburu-buru, juga tak ingin membiarkan dirinya terlalu terbebani. Bagaimanapun, mencari pendamping hidup yang menyayangi Jason juga menerima dirinya tanpa melihat latar belakangnya adalah sebuah kemungkinan kecil dari ribuan peluang tercipta.

Di tengah kegalauan itu, Galih akhirnya memutuskan untuk menonton serial romantis yang banyak dilihat para perempuan di kantornya. Dia ingin melihat bagaimana mereka bisa tergila-gila pada serial romantis asal negeri Tirai Bambu dan Negeri Ginseng itu.

Salah satu serial memberinya ide. Galih mendadak bersemangat. Dia harus memastikan perasaan gadis itu padanya sebelum memutuskan untuk bisa melupakannya.

“Malam ini semoga ada kejelasan. Aku juga nggak mau berharap lagi kalau memang dia nggak tertarik sama aku,” katanya.

Galih meninggalkan kantor segera setelah jam kerjanya berakhir. Dia menepikan Audi miliknya di sebuah toko dengan hiasan lampu neon bertuliskan Heart itu.

Kaki jenjangnya menyusuri rak rangkaian bunga. Dia tertarik pada rangkaian bunga mawar berwarna merah dengan bunga baby breath itu.

“Semoga dia bakalan suka dengan ini,” harapnya.

Satu-satunya keinginannya untuk malam itu. Semua berjalan sesuai harapannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Seruling Emas
Semangat kak..
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 6: Ditolak Dua Kali

    Galih membuka pintu rumahnya begitu bel ditekan dua kali. Buket bunga mawar berwarna merah dengan baby breath itu berpindah ke tangan gadis di depannya.“Makasih banyak, Pak Galih. Ya ampun, saya jadi nggak nyaman,” kata gadis itu.Galih menghiraukan tatapan tajam dari lelaki tampan yang berdiri di sisi gadis itu —adik kandungnya sendiri. Dia mempersilakan keduanya masuk.Di meja makan, aneka hidangan yang memanjakan mata dan aroma harum menguar, membuat tak sabar untuk segera mencicipi kelezatan hidangan itu. Galih menarik kursi untuk gadis itu, mempersilakan gadis itu untuk duduk.“Terima kasih, Pak Galih sudah repot-repot,” kata gadis itu.“Saya senang sekali, Miss Dea,” katanya.Galih duduk di hadapan gadis itu. Sedangkan Evan memilih menarik kursi di samping gadis itu. Ketiganya berada dalam suasana tak nyaman.Galih menatap Dea bergantian dengan wajah menyebalkan Evan. Di hadapann

    Last Updated : 2025-03-03
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 7: Kelakuan Jamal

    Evan menatap kakak lelakinya tanpa berkedip. Kaus tanpa kerah dengan celana panjang jersey itu membuat penampilan lelaki itu berbeda. Galih yang selama ini perfeksionis, dewasa dan berwibawa mendadak berubah menjadi Jamal yang terlihat sangat ‘biasa saja’ dalam pandangan Evan.“Mas Galih nggak salah pake baju kayak gini buat nyari cewek?” tanya Evan.Galih mengerutkan kening sebelum berkata sarkas. “Kamu nggak ngerasain gimana susahnya aku karena menjadi Galih selama ini. Jadi nggak usah sok peduli. Kamu sekarang jadi Bos aku. Panggil aku Jamal, bukan Galih!”Evan berusaha kembali memberinya nasehat. “Oke, oke. Tapi maksudnya, Mas Galih yakin ini bakalan berhasil? Gimana kalau misalnya cewek itu justru sakit hati karena kebohongan Mas Galih?”“Itu urusan belakangan. Pokoknya aku cari calon istri yang baik dan tulus tanpa memandang siapa aku,” Galih menyahut sambil mulai memotong kertas dengan pisau pemotong di meja besar.

    Last Updated : 2025-03-04
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 8: Diundang atau Mengundang?

    Galih menatap undangan di tangannya. Undangan itu diantar oleh ibunya sendiri, sepulang dia bekerja di Percetakan Gemilang yang dikelola Evan. Foto gadis yang dikenalnya itu terlihat cantik dalam balutan busana pengantin. Sang pria yang menjadi pasangannya tampak lebih tampan mengenakan jas berwarna hitam. Pria itu, tak lain adalah adik kandungnya sendiri.“Aku harus dateng sama siapa? Masak sama Jason?” keluhan keluar dari bibirnya.Dia kemudian berpikir untuk mengajak gadis itu. Gadis yang baru dikenalnya satu pekan lalu. “Aster, ya? Apa dia mau? Tapi, kalau nggak dicoba, nggak akan pernah tahu hasilnya ‘kan?”Galih sudah memutuskan. Dia akan mendekati gadis itu tanpa menunggu lebih lama. Dia ingin segera membawa gadis itu dalam pelukannya. Namun, bagaimana caranya agar gadis itu tidak mengetahui identitas dirinya yang sesungguhnya?“Kayaknya aku emang harus ngomongin ini sama Evan kalau nggak mau dia ngerusak rencana aku. Da

    Last Updated : 2025-03-05
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 9: Kenal Lebih Jauh

    Jam di ponselnya menunjuk pukul enam tepat, ketika mahasiswa-mahasiswi yang selesai kuliah sore di area Kampus Metropolitan mulai meninggalkan Kampus. Galih pamit pada Iwan untuk pulang lebih dulu. Dia menyandang tas pinggangnya di punggung. Dengan postur tegap itu, dia berjalan menyusur sepanjang jalan menuju Halte terdekat.“Kang Jamal …!” seru suara perempuan. Galih menghentikan langkahnya sejenak sebelum menoleh. Gadis yang mengikat rambut panjangnya mirip ekor kuda itu melambai ke arahnya.Dia bukan laki-laki yang membuat perempuan repot, sehingga Galih berbalik arah untuk menuju gadis itu.“Ih padahal ‘kan nggak apa-apa Kang Jamal nunggu di sana aja,” kata gadis itu.“Saya nggak mau bikin kamu capek, Neng Geulis.”Ada senyum di wajah gadis itu. “Kang Jamal umurnya berapa sih? Hobinya apa?”Pertanyaan dari gadis itu membuat Galih sedikit terkejut. Namun, dia segera mengatur ekspresi wajahnya.

    Last Updated : 2025-03-06
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 10: Modal Makan Siang

    Ketika azan dzuhur berkumandang, Iwan pamit lebih dulu pada Galih untuk menunaikan sholat. Galih dengan sigap menggantikan pekerjaan Iwan untuk meneruskan memotong tumpukan kertas yang tebalnya empat sentimeter itu.Buku berjilid hard cover dengan tulisan Skripsi yang diketik dalam huruf kapital Times New Roman itu menarik perhatian Galih. Dia mengenang saat menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi.“Jadi inget perjuangan masa lalu,” gumamnya.Dia juga membantu menutup pintu geser Percetakan Gemilang, mengganti papan pengumuman dari Buka menjadi Istirahat. Iwan dengan rambut basah muncul dari pintu belakang.“Mau makan siang, Bos? Makasih ya udah bantuin kerjaan aku,” kata Iwan.Galih hanya menepuk bahu Iwan. Lelaki itu lalu meninggalkan Percetakan Gemilang menuju rumah makan di depan ruko mereka. Sebuah janji harus ditepatinya.Gadis yang menutupi wajahnya dengan poni depan lurus itu melambai ke ara

    Last Updated : 2025-03-07
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 11: Berkunjung ke Tempat Ayang

    Galih meletakkan ponselnya usai membalas pesan singkat yang dikirimkan sebuah kontak ke nomor kontaknya. Lelaki itu tak sepenuhnya berkonsentrasi pada pekerjaannya.Tasya mengetuk pintu ruangannya, tumpukan berkas di tangan gadis itu membuat Galih memijat pelipisnya. Pasti berkas untuk ditandatangani, pikirnya.“Kalau Bos lagi bete, coba makan cokelat atau minum kopi. Sedikit kafein bisa bikin pikiran fresh lagi,” kata Tasya.Gadis itu berdiri di depannya. Menunggu. Galih membuka satu-persatu kalimat klausa yang ada dalam perjanjian itu sebelum membubuhkan tanda tangan basah di atas namanya.“Saya cuma lagi nggak bisa fokus aja, Sya. Makasih sarannya.” Galih melirik Tasya, menunjuk sofa di ruangannya. “Kamu bisa duduk dulu, Sya. Ini agak lama karena banyak.”“Oke.” Tasya duduk di sofa sambil membuka majalah yang berisi koleksi model mereka dan beberapa kerjasama dengan beberapa jenama terkenal.“Bos,

    Last Updated : 2025-03-08
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 12: Model Iklan

    Galih mengalihkan pandangannya karena takut jika gadis itu akan marah. Namun, tangan gadis itu lebih dulu meraihnya. Membuatnya bertemu dengan tatapan penuh ingin dari gadis itu. Sekali lagi, hal menyenangkan itu terjadi.Rasa manis yang membuatnya candu itu berasal dari bibir gadis itu. Galih menarik diri lebih dulu, tak ingin menjadi sebab hubungan yang belum lama itu kembali retak.“Aku nggak masalah, Kang. Tapi, lain kali kita cari tempat lain.”Galih tergagap-gagap menjawab, “la-lain kali,  di hari pernikahan kita.”Gadis itu tersenyum. “Amin. Kang Jamal udah siap?”Pertanyaan itu membuat Galih mengangguk. “Siap lahir batin, Neng. Ta-tapi… ”“Tapi apa, Kang?” gadis itu bertanya, tatapan matanya penuh harap.Galih perlahan menjawab, “tapi kita harus terbuka satu sama lain, Neng. Kita harus saling kenal luar-dalam.”“Iya, Kang. Aku juga maunya sebelum pernikahan, nggak

    Last Updated : 2025-03-09
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 13: Minta Sekali Aja

    Galih bersiul-siul sambil menyisir rambutnya dengan jari. Dia sengaja bercermin di depan pintu kaca butik itu. Ketika seseorang menyentuh lengannya, Galih mengalihkan pandangannya ke  arah gadis itu.“Maaf ya, Kang. Aku lama, ya?” tanya gadis itu.Galih menggeleng. “Nggak kok, Neng. Aku juga baru sampai,” kata Galih, tak ingin membebani gadis itu. Dia mengulurkan lengannya pada gadis itu. “Yuk, masuk. Kita pilih baju buat Neng Pita pergi ke kondangan.”Aster menyeringai sebelum menepis lengan Galih. “Nggak usah, Kang. Nggak enak dilihat orang lain.”Galih tersenyum, lalu celingukan sambil menggaruk tengkuknya. Langkahnya mengikuti gadis itu. Pramuniaga di Butik Sarah & Co. menyambut Galih dengan senyum ramah.“Tolong bawakan dress berwarna lila yang tidak terlalu terbuka dan cocok untuk undangan pernikahan, Mbak,” kata Galih.“Baik, Pak. Mari, saya tunjukkan,” perempuan itu menyilakan Galih dan gadis

    Last Updated : 2025-03-10

Latest chapter

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 36: Ulang Tahun Jason

    Aster semula ragu untuk menjawab telepon masuk dari nomor tak dikenalinya. Dia hanya membiarkan sambungan telepon itu terputus dengan sendirinya.Sebuah pesan masuk melalui aplikasi pesan daring muncul di notifikasi dorong ponselnya. Kening Aster berlipat-lipat melihat isi pesan itu.[+62 8122234555]: halo, tante. ini aku, Jason. Aku dpt nomr tante dr papa“Ini nomor Jason? Ya ampun! Mimpi apa aku sampe dihubungi sama anaknya,” katanya.Aster segera membalas pesan itu.[Aster]: hai, Jason. Kalau gitu tante save kontaknya yaTak lama setelah menyimpan nomor ponsel Jason di kontak, dering telepon masuk kembali terdengar di ponsel Aster. Gadis itu menjawabnya, lalu berdehem sebelum bersuara.“Halo,” katanya.“Tante. Ini nomor Jason,” sahutan suara dari telepon itu membuat Aster menutup mulutnya untuk menutupi suara tawanya.“Iya, tante udah simpen nomor kamu,” jawab Aster.“Kalau gitu, aku mau ngundang tante ke acara ulang tahun aku. Tante bisa ‘kan kosongin jadwal buat aku?”Aster membu

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 35: Rencana Jason

    Selama sepuluh tahun, Jason selalu menyerahkan urusan dekorasi ulang tahunnya pada event organizer yang dibayar oleh Galih untuk mengurusi semuanya. Namun, di ulang tahunnya yang akan menginjak angka sebelas, dia ingin melakukan semuanya sesuai dengan keinginannya.Jason berdiskusi dengan orang dari event organizer itu mengenai konsep yang diinginkannya. “Aku mau konsepnya superhero kayak Papa. Kak Tara tahu ‘kan? Papaku orangnya dingin banget kalau lagi kerja, tapi dia bisa ketawa kalau udah ketemu sama aku. Terus, aku juga nggak mau ngundang orang banyak-banyak. Aku maunya privat aja, mungkin seratus orang cukup. Ada temen-temen deket aku sama keluarga. Yang paling penting, nanti harus ada home band yang nyanyiin lagu buat dansa. Terus hiasan balon-balonnya, warna gold sama navy, bisa?”“Baik, kalau begitu Jason mau yang seperti ini?” perempuan itu menunjukkan gambar di tablet miliknya.Jason mengangguk setelah melihat rancangan konsep itu. “Tapi nanti tolong siapin pembawa acara bu

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 34: Undangan Ulang Tahun

    Pertemuan di Cafe Bougenville itu semakin membuat Aster jatuh hati pada Galih. Pasalnya, lelaki tampan berstatus duda dengan anak satu itu bukan hanya melindunginya tetapi juga secara gentle mengakui statusnya di depan Ryn, sahabat Aster.Dia bahkan memperkenalkan Jason sebagai anak kandungnya, sekaligus mengatakan keseriusan untuk menjalin hubungan ke jenjang lebih serius bersama Aster. Gadis itu bahagia, karena Ryn bukan hanya mendukung hubungan mereka tetapi juga mendoakan agar hubungan itu bertahan sampai pernikahan bahkan hingga maut memisahkan.Aster sampai tersenyum-senyum mengingat kejadian itu ketika dia duduk di meja kerjanya. Semua pengunjung Perpustakaan hari itu bahkan merasakan kebahagiaannya.Aster membuka buku kumpulan puisi karya Mita Yoo itu, membaca dalam hati bait puisi di sana.Kita adalah anomali yang disatukan semesta. Kau dengan ketenanganmu, sedang aku serupa sumbu pendek yang bisa meledak kapan saja.

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 33: Masih tentang Masa Lalu

    Aster melambaikan tangan pada Galih usai lelaki itu mengantarnya kembali sampai depan pintu rumah. Gadis itu mengayun langkah menuju kamar. Dia tersenyum-senyum membayangkan ingatan semalam.“Kang Jamal ternyata bisa romantis banget. Dan yang paling penting, dia ngejaga aku dan nggak mau ngelakuin hal-hal yang lebih dari itu. Aku beruntung bisa sama dia,” gumamnya sambil menatap langit-langit kamar kontrakannya.Aster membuka ponselnya, beberapa pesan masuk dari nomor tanpa nama di kontaknya membuat Aster mengernyit. Dia membuka pesan itu.[+62 86533421111]: besok jam 2 siang aku tunggu di Cafe BougenvilleAster membalas pesan itu, menanyakan identitas pengirim pesan itu. Ketika balasan pesan itu masuk tak lama kemudian, Aster mendadak terkejut.[+62 86533421111]: RasyidAster menghembuskan napas setelah menarik napasnya dalam-dalam. Dia butuh oksigen lebih banyak untuk mengisi paru-parunya agar bisa

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 32: Masa Lalu

    Aster mengikuti langkah panjang-panjang Galih dengan terburu-buru hingga hampir tersandung kakinya sendiri. Gadis itu tahu jika kekasihnya tak suka dengan kehadiran Rasyid.“Kang, kita mau ke mana?” tanya Aster, karena lelaki itu terus menarik tangannya untuk mengikuti langkah lelaki itu.Galih tak menjawab. Dia tak punya tujuan, hanya terus mengayunkan langkah hingga lelah. Ketika langkahnya terhenti, Galih menoleh sekeliling. Dia menatap Aster yang terengah-engah.Galih melepaskan tangan Aster ketika melihat kotak neon berkedip-kedip menampilkan nama Penginapan Vella itu. “Aku mau masuk ke situ, Neng. Kalau kamu memang cinta dan percaya sama aku, kamu cukup ikutin aku,” kata Galih, memberi isyarat dengan dagunya.Mata Aster terbelalak sesaat. Ketika lelaki bertubuh tegap itu mengayun langkah mendahuluinya, dia menyusul lelaki itu dengan langkah kecilnya.‘Yang paling penting aku harus tetep sadar dan harus bisa

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 31: Kembali ke Kenyataan

    Galih percaya jika kebaikan akan kembali kepada dirinya sendiri. Hal itu juga yang membuatnya hanya fokus belajar ketika masih duduk di bangku sekolah. Bahkan ketika menyelesaikan pendidikan tinggi, dia sama sekali tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dia tak pernah sekalipun berpacaran sebelum bertemu dengan Amel di usianya yang kedua puluh tiga tahun.Ketika itu, dia yang sedang membantu ayahnya di Percetakan Gemilang bertemu dengan mahasiswi cantik yang membuat Galih tertarik. Galih memberanikan diri untuk mendekati perempuan itu, dimulai dari perkenalan, lalu berlanjut dengan saling bertukar pesan singkat.Dari sana, hubungan Galih dan Amel berlanjut ke tahap saling mengenal pribadi masing-masing. Galih menganggap Amel adalah pelengkap dunianya. Dia yang selalu tak ingin melakukan kesalahan, sedangkan Amel adalah orang yang akan menertawakan kesalahan itu.“Amelia Soedjono, will you marry me?” Galih mengutarakan perta

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 30: Ibu Sakit

    Galih setengah berlari menuju ruangan bertuliskan IGD di Rumah Sehat Mentari itu. Dia melihat Evan dengan Dea tengah duduk di bangku tunggu. Ayahnya berada di sisi pasangan itu dengan memegang tongkat jalannya.“Van, gimana keadaan Ibu?” tanya Galih.“Masih di dalem, Mas. Kita belum boleh masuk karena dokter masih fokus biar Ibu ngelewatin masa kritisnya,” sahut Evan.Galih berjalan melongok ke kaca ruangan itu, tetapi dia tak bisa melihat apapun. Dia berjalan gontai lalu menyandarkan tubuhnya di sisi ayahnya.“Gimana ceritanya Ibu bisa tiba-tiba pingsan, Yah?” tanya Galih pada lelaki yang rambutnya mulai berwarna perak di sisinya.“Tadi lagi cuci baju di kamar mandi, terus Ayah denger teriakan ibu kamu. Pas Ayah ke kamar mandi posisi ibu kamu udah jatuh. Ayah nggak tahu karena tiba-tiba aja ibumu pingsan, dipanggil nggak nyahut,” katanya.Tak lama kemudian, lelaki berjubah dokter membuka pintu ruang

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 29: Dengarkan Dulu Penjelasanku!

    Tanpa berpamitan dengan Galih, Aster segera meninggalkan Toko Buku itu setelah membayar buku-buku yang dibelinya. Dia lalu segera menghentikan sebuah angkutan umum yang mengantarnya ke rumah kontrakan yang ditinggalinya selama memutuskan tinggal sendiri.Rasanya marah, sekaligus sedih melihat lelaki yang menjadi kekasihnya itu sedang bermesraan dengan perempuan lain. Terlebih lagi, perempuan itu terlihat jauh lebih seksi dari dirinya.“Nyebelin! apa bener semua cowok sama aja, ya?”Aster kembali menyembunyikan wajahnya di balik lutut. “Padahal aku udah yakin kalau Kang Jamal beda sama cowok lain, nggak gampang tergoda. Apalagi mantan istrinya juga udah meninggal lama banget dan dia belum nikah lagi ‘kan? Ternyata sama aja.”Tak lama berselang, pintu rumah kontrakannya itu diketuk. Suara lelaki yang terdengar familiar di telinganya itu membuat Aster buru-buru berdiri. Dia melangkah menuju jendela, membuka tirai untuk melihat ses

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 28: Cinta Pertama

    Memberikan kejutan tanpa memikirkan momen ternyata cukup menyenangkan. Bagi Galih, melihat senyum Aster adalah dunianya saat itu. Hari itu dia sengaja membuat janji dengan kekasihnya untuk pergi ke toko buku yang terletak di Mall kawasan Metropolitan.Aster menyetujui rencana itu. Keduanya bertemu di depan Percetakan Gemilang, tempat Galih memerankan Jamal dan bekerja sebagai pegawai percetakan di sana. Sebagai seorang perfeksionis, Galih membenci kesalahan-kesalahan kecil di hidupnya. Namun, dia senang membuat kesalahan di depan Aster, membuat gadisnya itu melayangkan cubitan kecil di lengannya. Dan hal itu membuat Galih melihat sisi imut dari seorang Aster.Galih melambaikan tangan ketika gadis itu menyebrangi jalan untuk mendekatinya. Dia mengenakan kaus berwarna denim dengan celana spandeks model jogger berwarna abu. Tas pinggang kecil menempati bahu sisi kanannya.“Kang Jamal udah lama nunggunya?” tanya Aster.“Nggak, kok. Belum lam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status