Home / Romansa / Ayo Menikah, Mas Duda! / Bab 6: Ditolak Dua Kali

Share

Bab 6: Ditolak Dua Kali

Author: Mita Yoo
last update Last Updated: 2025-03-03 22:17:52

Galih membuka pintu rumahnya begitu bel ditekan dua kali. Buket bunga mawar berwarna merah dengan baby breath itu berpindah ke tangan gadis di depannya.

“Makasih banyak, Pak Galih. Ya ampun, saya jadi nggak nyaman,” kata gadis itu.

Galih menghiraukan tatapan tajam dari lelaki tampan yang berdiri di sisi gadis itu —adik kandungnya sendiri. Dia mempersilakan keduanya masuk.

Di meja makan, aneka hidangan yang memanjakan mata dan aroma harum menguar, membuat tak sabar untuk segera mencicipi kelezatan hidangan itu. Galih menarik kursi untuk gadis itu, mempersilakan gadis itu untuk duduk.

“Terima kasih, Pak Galih sudah repot-repot,” kata gadis itu.

“Saya senang sekali, Miss Dea,” katanya.

Galih duduk di hadapan gadis itu. Sedangkan Evan memilih menarik kursi di samping gadis itu. Ketiganya berada dalam suasana tak nyaman.

Galih menatap Dea bergantian dengan wajah menyebalkan Evan. Di hadapannya, keduanya duduk bersisian. Evan bahkan tak tahu malu mulai mengecup tangan gadis itu di depan matanya bahkan ketika mereka baru saja mulai makan.

‘Ini artinya aku ditolak dua kali, ya?’ Galih merasa kali ini patah hatinya lebih berat dibandingkan sebelumnya.

Gadis di depannya hanya mengangguk pelan sambil tersenyum padanya. Galih berharap jika gadis itu akan memilihnya, tetapi dia bisa menerka jawaban gadis itu dari tatapan matanya.

“Mas Galih sekarang percaya, ‘kan sama aku? Aku sama Dea udah rencanain pertunangan kami. Dea juga udah ketemu sama Ibu. Iya, kan Sayang?” Evan menatap gadis di sisinya. Gadis itu mengangguk meski dia berada dalam suasana canggung, tetapi Galih bisa merasakan jika gadis itu benar-benar tak memiliki perasaan apapun terhadapnya.

“Jadi Miss Dea beneran mau nerima adik saya yang menyebalkan dan suka mencari perhatian ini, ya?” Galih menekankan pengucapan kata menyebalkan dan suka mencari perhatian.

Gadis di depannya tersenyum. “Saya minta maaf sebelumnya, Pak Galih. Saya semula memang ragu sama Evan. Tapi, dia … ah, tante Winda juga sudah memberikan restu untuk kami. Saya berharap, Pak Galih bisa menemukan perempuan lain yang lebih baik dari saya. Saya juga berharap, ke depannya, hubungan kita tetap baik. Karena saya akan tetap menjadi tutor matematika Jason, sekaligus menjadi adik ipar Pak Galih.”

Galih tersenyum. Senyum yang dipaksakannya untuk terlihat di wajah. “Baiklah. Saya ucapkan selamat untuk kalian. Dan rasanya saya lebih lega karena Miss Dea terlihat bahagia dengan adik saya. Saya patah hati, jujur. Tapi, saya menghargai keputusan Miss Dea. Dan saya menerima Miss Dea, bukan berarti saya tidak cemburu dengan keberadaan Evan. Saya cemburu dan ingin sekali memukul wajahnya, hanya berusaha menahan diri saja, demi Miss Dea.”

Galih melihat Evan mengepalkan tangan, hendak melayangkan tinju ke wajahnya. Namun, Dea dengan sigap menahan tangan Evan.

“Kamu nggak boleh begitu sama kakakmu sendiri. Dia udah baik banget sama aku selama ini,” kata Dea.

Galih tertawa pelan melihat adiknya menjadi penurut di depan gadis itu. Evan sudah bertemu pawangnya, pikirnya.

“Kita lanjutkan makan malamnya, Miss Dea. Silakan, dihabiskan, ya.” Galih menyodorkan makanan penutup pada gadis di depannya. Dia bisa melihat wajah cemburu Evan karena hal itu, dan ternyata menyenangkan bisa menggoda adiknya.

Galih semakin yakin untuk melakukan apa yang ada di pikirannya. Dia akan melakukannya segera setelah malam itu berakhir.

***

Jam digital di ponselnya menunjuk angka 03:00 ketika Galih terjaga dari mimpi indahnya. Dia memulai ritual bersih-bersih segera setelah merapikan tempat tidurnya yang sudah sepuluh tahun tak terasa hangat itu. Dia menatap wajahnya di cermin kamar mandi, melihat keindahan ciptaan Tuhan dengan matanya sendiri.

“Mulai sekarang aku bakalan berperan sebagai Jamal. Ya, Jamal orang biasa yang kerjanya sebagai buruh di tempat percetakan. Semoga Tuhan menuntun aku ke tempat yang benar kali ini,” katanya pada diri sendiri.

Galih bahkan menyiapkan kaus tanpa kerah dengan celana training dalam tas ransel lima puluh ribuan yang dibelinya di sebuah toko di pinggir jalan. Dia akan memulai hidupnya yang baru.

Galih mengayun langkah ke kamar Jason, mengecup kepala anak semata wayangnya setelah puas memandangi wajah itu. Tak lupa, selembar kertas dari hasil tulisan tangannya dia tinggalkan di atas tempat tidur Jason.

Galih ke luar dari rumah meninggalkan Audi A5 sportback miliknya tetap di garasi. Dia bahkan membeli ponsel baru untuk menjadi orang baru. Dia tak memikirkan hal lain selain misinya. Dan misinya kali ini harus berhasil. Harus.

Dia memesan driver ojek melalui aplikasi daring dari ponsel barunya. Seorang driver berhenti di depannya tak lama kemudian.

“Dengan Mas Jamal?” tanya lelaki itu sambil menyerahkan helm berwarna hijau padanya.

“Betul, Pak.”

Motor melaju sepanjang jalan protokol sebelum berbelok menuju jalan Sriwijaya. Galih turun setelah driver itu berhenti di depan ruko dua lantai dengan papan iklan bertuliskan Percetakan Gemilang di atasnya.

Galih melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul empat tepat. Dengan semangat baru, dia membuka kunci ruko dua lantai itu.

“Semoga kali ini aku bisa menemukan seseorang yang tepat untuk jadi istri,” katanya.

Galih dengan sigap meraih sapu ijuk dan mulai membersihkan lantai ruko dengan mesin-mesin fotokopi dan keperluan lainnya itu. Dia bahkan membuat lelaki bernama Iwan merasa malu karena masih tertidur di lantai dua ketika Galih sedang sibuk membersihkan ruko.

“Pak Galih, biar saya aja. Ya ampun, kenapa Bapak sampai repot-repot begini? Bos Evan bisa marah sama saya kalau begini,” kata Iwan lalu berusaha mengambil sapu di tangan Galih.

“Nggak usah. Nggak apa-apa. Aku lagi berusaha mendalami peran. Dan jangan panggil aku Galih. Aku sekarang lagi jadi Jamal. Inget, ya! Aku Jamal di sini. Dan aku sebagai teman kamu di sini, sebagai pekerja di sini.” Galih menunjuk wajah Iwan. “Kamu, kalau kamu ember dengan cerita ke yang lain tentang identitasku, aku bisa minta Evan pecat kamu!” ancamnya.

“Ya ampun, Pak. Jangan, dong. Nanti anak sama istri saya makan apa kalau saya dipecat?”

“Ya makanya. Panggil saya Jamal! Saya di sini sebagai pegawai baru. Jadi, kamu harus perlakukan saya kayak teman-teman yang lain.”

Iwan dengan terpaksa mengangguk. Dia tak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena tidak menuruti perkataan kakak dari bosnya itu.

“Jadi, Pak Galih beneran mau jadi Jamal buat menarik perhatian cewek, ya?” Iwan ingin memastikannya sendiri.

“Benar. Saya sedang mencari istri. Dan di sini adalah tempat ideal untuk mencari istri,” katanya.

“Bapak kenapa nggak nyari di kantor aja? Bukannya banyak karyawan perempuan yang masih gadis?” tanya Iwan.

“Aku nggak tertarik dengan orang kantor karena nggak ada yang mirip sama Amel. Sekalinya ada yang mirip, malah sukanya sama Evan,” Galih mendadak mencurahkan isi hatinya pada Iwan.

Iwan menepuk bahunya sebagai rasa solidaritas. “Sabar, ya. Pak Galih pasti ketemu jodoh kedua.”

“Makasih. Dan kamu harus panggil aku Jamal! Jamal, bukan Galih!”

“Tapi, Pak Galih mending ganti baju dulu, deh. Kayaknya celana kain sama kemeja nggak cocok sama imej Jamal,” kata Iwan.

Galih melihat dirinya lalu menjatuhkan sapu ijuk seketika. Dia buru-buru membawa tas ranselnya ke kamar mandi. Menyisakan Iwan yang tertawa-tawa karena melihat lelaki perfeksionis itu melakukan hal konyol untuk pertama kali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Seruling Emas
Goodluck, Jamal ...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 7: Kelakuan Jamal

    Evan menatap kakak lelakinya tanpa berkedip. Kaus tanpa kerah dengan celana panjang jersey itu membuat penampilan lelaki itu berbeda. Galih yang selama ini perfeksionis, dewasa dan berwibawa mendadak berubah menjadi Jamal yang terlihat sangat ‘biasa saja’ dalam pandangan Evan.“Mas Galih nggak salah pake baju kayak gini buat nyari cewek?” tanya Evan.Galih mengerutkan kening sebelum berkata sarkas. “Kamu nggak ngerasain gimana susahnya aku karena menjadi Galih selama ini. Jadi nggak usah sok peduli. Kamu sekarang jadi Bos aku. Panggil aku Jamal, bukan Galih!”Evan berusaha kembali memberinya nasehat. “Oke, oke. Tapi maksudnya, Mas Galih yakin ini bakalan berhasil? Gimana kalau misalnya cewek itu justru sakit hati karena kebohongan Mas Galih?”“Itu urusan belakangan. Pokoknya aku cari calon istri yang baik dan tulus tanpa memandang siapa aku,” Galih menyahut sambil mulai memotong kertas dengan pisau pemotong di meja besar.

    Last Updated : 2025-03-04
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 8: Diundang atau Mengundang?

    Galih menatap undangan di tangannya. Undangan itu diantar oleh ibunya sendiri, sepulang dia bekerja di Percetakan Gemilang yang dikelola Evan. Foto gadis yang dikenalnya itu terlihat cantik dalam balutan busana pengantin. Sang pria yang menjadi pasangannya tampak lebih tampan mengenakan jas berwarna hitam. Pria itu, tak lain adalah adik kandungnya sendiri.“Aku harus dateng sama siapa? Masak sama Jason?” keluhan keluar dari bibirnya.Dia kemudian berpikir untuk mengajak gadis itu. Gadis yang baru dikenalnya satu pekan lalu. “Aster, ya? Apa dia mau? Tapi, kalau nggak dicoba, nggak akan pernah tahu hasilnya ‘kan?”Galih sudah memutuskan. Dia akan mendekati gadis itu tanpa menunggu lebih lama. Dia ingin segera membawa gadis itu dalam pelukannya. Namun, bagaimana caranya agar gadis itu tidak mengetahui identitas dirinya yang sesungguhnya?“Kayaknya aku emang harus ngomongin ini sama Evan kalau nggak mau dia ngerusak rencana aku. Da

    Last Updated : 2025-03-05
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 9: Kenal Lebih Jauh

    Jam di ponselnya menunjuk pukul enam tepat, ketika mahasiswa-mahasiswi yang selesai kuliah sore di area Kampus Metropolitan mulai meninggalkan Kampus. Galih pamit pada Iwan untuk pulang lebih dulu. Dia menyandang tas pinggangnya di punggung. Dengan postur tegap itu, dia berjalan menyusur sepanjang jalan menuju Halte terdekat.“Kang Jamal …!” seru suara perempuan. Galih menghentikan langkahnya sejenak sebelum menoleh. Gadis yang mengikat rambut panjangnya mirip ekor kuda itu melambai ke arahnya.Dia bukan laki-laki yang membuat perempuan repot, sehingga Galih berbalik arah untuk menuju gadis itu.“Ih padahal ‘kan nggak apa-apa Kang Jamal nunggu di sana aja,” kata gadis itu.“Saya nggak mau bikin kamu capek, Neng Geulis.”Ada senyum di wajah gadis itu. “Kang Jamal umurnya berapa sih? Hobinya apa?”Pertanyaan dari gadis itu membuat Galih sedikit terkejut. Namun, dia segera mengatur ekspresi wajahnya.

    Last Updated : 2025-03-06
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 10: Modal Makan Siang

    Ketika azan dzuhur berkumandang, Iwan pamit lebih dulu pada Galih untuk menunaikan sholat. Galih dengan sigap menggantikan pekerjaan Iwan untuk meneruskan memotong tumpukan kertas yang tebalnya empat sentimeter itu.Buku berjilid hard cover dengan tulisan Skripsi yang diketik dalam huruf kapital Times New Roman itu menarik perhatian Galih. Dia mengenang saat menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi.“Jadi inget perjuangan masa lalu,” gumamnya.Dia juga membantu menutup pintu geser Percetakan Gemilang, mengganti papan pengumuman dari Buka menjadi Istirahat. Iwan dengan rambut basah muncul dari pintu belakang.“Mau makan siang, Bos? Makasih ya udah bantuin kerjaan aku,” kata Iwan.Galih hanya menepuk bahu Iwan. Lelaki itu lalu meninggalkan Percetakan Gemilang menuju rumah makan di depan ruko mereka. Sebuah janji harus ditepatinya.Gadis yang menutupi wajahnya dengan poni depan lurus itu melambai ke ara

    Last Updated : 2025-03-07
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 11: Berkunjung ke Tempat Ayang

    Galih meletakkan ponselnya usai membalas pesan singkat yang dikirimkan sebuah kontak ke nomor kontaknya. Lelaki itu tak sepenuhnya berkonsentrasi pada pekerjaannya.Tasya mengetuk pintu ruangannya, tumpukan berkas di tangan gadis itu membuat Galih memijat pelipisnya. Pasti berkas untuk ditandatangani, pikirnya.“Kalau Bos lagi bete, coba makan cokelat atau minum kopi. Sedikit kafein bisa bikin pikiran fresh lagi,” kata Tasya.Gadis itu berdiri di depannya. Menunggu. Galih membuka satu-persatu kalimat klausa yang ada dalam perjanjian itu sebelum membubuhkan tanda tangan basah di atas namanya.“Saya cuma lagi nggak bisa fokus aja, Sya. Makasih sarannya.” Galih melirik Tasya, menunjuk sofa di ruangannya. “Kamu bisa duduk dulu, Sya. Ini agak lama karena banyak.”“Oke.” Tasya duduk di sofa sambil membuka majalah yang berisi koleksi model mereka dan beberapa kerjasama dengan beberapa jenama terkenal.“Bos,

    Last Updated : 2025-03-08
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 12: Model Iklan

    Galih mengalihkan pandangannya karena takut jika gadis itu akan marah. Namun, tangan gadis itu lebih dulu meraihnya. Membuatnya bertemu dengan tatapan penuh ingin dari gadis itu. Sekali lagi, hal menyenangkan itu terjadi.Rasa manis yang membuatnya candu itu berasal dari bibir gadis itu. Galih menarik diri lebih dulu, tak ingin menjadi sebab hubungan yang belum lama itu kembali retak.“Aku nggak masalah, Kang. Tapi, lain kali kita cari tempat lain.”Galih tergagap-gagap menjawab, “la-lain kali,  di hari pernikahan kita.”Gadis itu tersenyum. “Amin. Kang Jamal udah siap?”Pertanyaan itu membuat Galih mengangguk. “Siap lahir batin, Neng. Ta-tapi… ”“Tapi apa, Kang?” gadis itu bertanya, tatapan matanya penuh harap.Galih perlahan menjawab, “tapi kita harus terbuka satu sama lain, Neng. Kita harus saling kenal luar-dalam.”“Iya, Kang. Aku juga maunya sebelum pernikahan, nggak

    Last Updated : 2025-03-09
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 13: Minta Sekali Aja

    Galih bersiul-siul sambil menyisir rambutnya dengan jari. Dia sengaja bercermin di depan pintu kaca butik itu. Ketika seseorang menyentuh lengannya, Galih mengalihkan pandangannya ke  arah gadis itu.“Maaf ya, Kang. Aku lama, ya?” tanya gadis itu.Galih menggeleng. “Nggak kok, Neng. Aku juga baru sampai,” kata Galih, tak ingin membebani gadis itu. Dia mengulurkan lengannya pada gadis itu. “Yuk, masuk. Kita pilih baju buat Neng Pita pergi ke kondangan.”Aster menyeringai sebelum menepis lengan Galih. “Nggak usah, Kang. Nggak enak dilihat orang lain.”Galih tersenyum, lalu celingukan sambil menggaruk tengkuknya. Langkahnya mengikuti gadis itu. Pramuniaga di Butik Sarah & Co. menyambut Galih dengan senyum ramah.“Tolong bawakan dress berwarna lila yang tidak terlalu terbuka dan cocok untuk undangan pernikahan, Mbak,” kata Galih.“Baik, Pak. Mari, saya tunjukkan,” perempuan itu menyilakan Galih dan gadis

    Last Updated : 2025-03-10
  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 14: Pernikahan Rival

    Galih menatap dirinya di cermin. Setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna biru dongker itu membuatnya terlihat bersinar. Rambutnya tersisir rapi, jam tangan di pergelangan tangan kirinya membuatnya semakin tampan.Galih melangkah ke luar kamar, menuju kamar Jason. Bocah itu sudah mengenakan tuksedo berwarna hitam dengan rambut tersisir rapi.“Udah siap, Boy?” Galih mengulurkan tangan pada duplikat dirinya versi kecil itu.“Udah, Pa. Kita langsung ke gedung tempat pernikahannya, Pa?” tanya bocah lelaki itu.Sambil berjalan menuju garasi, Galih menjawab, “iya, Boy. Papa anterin kamu dulu ke sana sama Nenek dan Kakek, ya. Karena Papa mau jemput seseorang.”“Calon Bunda aku ya, Pa?” pertanyaan Jason membuat Galih tertawa pelan.“Semoga ya Boy. Semoga jalan Papa menjadikan dia Bunda kamu berjalan lancar,” kata Galih.“Amin, Pa.”Galih membukakan pintu mobil untuk putrany

    Last Updated : 2025-03-11

Latest chapter

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 36: Ulang Tahun Jason

    Aster semula ragu untuk menjawab telepon masuk dari nomor tak dikenalinya. Dia hanya membiarkan sambungan telepon itu terputus dengan sendirinya.Sebuah pesan masuk melalui aplikasi pesan daring muncul di notifikasi dorong ponselnya. Kening Aster berlipat-lipat melihat isi pesan itu.[+62 8122234555]: halo, tante. ini aku, Jason. Aku dpt nomr tante dr papa“Ini nomor Jason? Ya ampun! Mimpi apa aku sampe dihubungi sama anaknya,” katanya.Aster segera membalas pesan itu.[Aster]: hai, Jason. Kalau gitu tante save kontaknya yaTak lama setelah menyimpan nomor ponsel Jason di kontak, dering telepon masuk kembali terdengar di ponsel Aster. Gadis itu menjawabnya, lalu berdehem sebelum bersuara.“Halo,” katanya.“Tante. Ini nomor Jason,” sahutan suara dari telepon itu membuat Aster menutup mulutnya untuk menutupi suara tawanya.“Iya, tante udah simpen nomor kamu,” jawab Aster.“Kalau gitu, aku mau ngundang tante ke acara ulang tahun aku. Tante bisa ‘kan kosongin jadwal buat aku?”Aster membu

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 35: Rencana Jason

    Selama sepuluh tahun, Jason selalu menyerahkan urusan dekorasi ulang tahunnya pada event organizer yang dibayar oleh Galih untuk mengurusi semuanya. Namun, di ulang tahunnya yang akan menginjak angka sebelas, dia ingin melakukan semuanya sesuai dengan keinginannya.Jason berdiskusi dengan orang dari event organizer itu mengenai konsep yang diinginkannya. “Aku mau konsepnya superhero kayak Papa. Kak Tara tahu ‘kan? Papaku orangnya dingin banget kalau lagi kerja, tapi dia bisa ketawa kalau udah ketemu sama aku. Terus, aku juga nggak mau ngundang orang banyak-banyak. Aku maunya privat aja, mungkin seratus orang cukup. Ada temen-temen deket aku sama keluarga. Yang paling penting, nanti harus ada home band yang nyanyiin lagu buat dansa. Terus hiasan balon-balonnya, warna gold sama navy, bisa?”“Baik, kalau begitu Jason mau yang seperti ini?” perempuan itu menunjukkan gambar di tablet miliknya.Jason mengangguk setelah melihat rancangan konsep itu. “Tapi nanti tolong siapin pembawa acara bu

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 34: Undangan Ulang Tahun

    Pertemuan di Cafe Bougenville itu semakin membuat Aster jatuh hati pada Galih. Pasalnya, lelaki tampan berstatus duda dengan anak satu itu bukan hanya melindunginya tetapi juga secara gentle mengakui statusnya di depan Ryn, sahabat Aster.Dia bahkan memperkenalkan Jason sebagai anak kandungnya, sekaligus mengatakan keseriusan untuk menjalin hubungan ke jenjang lebih serius bersama Aster. Gadis itu bahagia, karena Ryn bukan hanya mendukung hubungan mereka tetapi juga mendoakan agar hubungan itu bertahan sampai pernikahan bahkan hingga maut memisahkan.Aster sampai tersenyum-senyum mengingat kejadian itu ketika dia duduk di meja kerjanya. Semua pengunjung Perpustakaan hari itu bahkan merasakan kebahagiaannya.Aster membuka buku kumpulan puisi karya Mita Yoo itu, membaca dalam hati bait puisi di sana.Kita adalah anomali yang disatukan semesta. Kau dengan ketenanganmu, sedang aku serupa sumbu pendek yang bisa meledak kapan saja.

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 33: Masih tentang Masa Lalu

    Aster melambaikan tangan pada Galih usai lelaki itu mengantarnya kembali sampai depan pintu rumah. Gadis itu mengayun langkah menuju kamar. Dia tersenyum-senyum membayangkan ingatan semalam.“Kang Jamal ternyata bisa romantis banget. Dan yang paling penting, dia ngejaga aku dan nggak mau ngelakuin hal-hal yang lebih dari itu. Aku beruntung bisa sama dia,” gumamnya sambil menatap langit-langit kamar kontrakannya.Aster membuka ponselnya, beberapa pesan masuk dari nomor tanpa nama di kontaknya membuat Aster mengernyit. Dia membuka pesan itu.[+62 86533421111]: besok jam 2 siang aku tunggu di Cafe BougenvilleAster membalas pesan itu, menanyakan identitas pengirim pesan itu. Ketika balasan pesan itu masuk tak lama kemudian, Aster mendadak terkejut.[+62 86533421111]: RasyidAster menghembuskan napas setelah menarik napasnya dalam-dalam. Dia butuh oksigen lebih banyak untuk mengisi paru-parunya agar bisa

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 32: Masa Lalu

    Aster mengikuti langkah panjang-panjang Galih dengan terburu-buru hingga hampir tersandung kakinya sendiri. Gadis itu tahu jika kekasihnya tak suka dengan kehadiran Rasyid.“Kang, kita mau ke mana?” tanya Aster, karena lelaki itu terus menarik tangannya untuk mengikuti langkah lelaki itu.Galih tak menjawab. Dia tak punya tujuan, hanya terus mengayunkan langkah hingga lelah. Ketika langkahnya terhenti, Galih menoleh sekeliling. Dia menatap Aster yang terengah-engah.Galih melepaskan tangan Aster ketika melihat kotak neon berkedip-kedip menampilkan nama Penginapan Vella itu. “Aku mau masuk ke situ, Neng. Kalau kamu memang cinta dan percaya sama aku, kamu cukup ikutin aku,” kata Galih, memberi isyarat dengan dagunya.Mata Aster terbelalak sesaat. Ketika lelaki bertubuh tegap itu mengayun langkah mendahuluinya, dia menyusul lelaki itu dengan langkah kecilnya.‘Yang paling penting aku harus tetep sadar dan harus bisa

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 31: Kembali ke Kenyataan

    Galih percaya jika kebaikan akan kembali kepada dirinya sendiri. Hal itu juga yang membuatnya hanya fokus belajar ketika masih duduk di bangku sekolah. Bahkan ketika menyelesaikan pendidikan tinggi, dia sama sekali tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dia tak pernah sekalipun berpacaran sebelum bertemu dengan Amel di usianya yang kedua puluh tiga tahun.Ketika itu, dia yang sedang membantu ayahnya di Percetakan Gemilang bertemu dengan mahasiswi cantik yang membuat Galih tertarik. Galih memberanikan diri untuk mendekati perempuan itu, dimulai dari perkenalan, lalu berlanjut dengan saling bertukar pesan singkat.Dari sana, hubungan Galih dan Amel berlanjut ke tahap saling mengenal pribadi masing-masing. Galih menganggap Amel adalah pelengkap dunianya. Dia yang selalu tak ingin melakukan kesalahan, sedangkan Amel adalah orang yang akan menertawakan kesalahan itu.“Amelia Soedjono, will you marry me?” Galih mengutarakan perta

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 30: Ibu Sakit

    Galih setengah berlari menuju ruangan bertuliskan IGD di Rumah Sehat Mentari itu. Dia melihat Evan dengan Dea tengah duduk di bangku tunggu. Ayahnya berada di sisi pasangan itu dengan memegang tongkat jalannya.“Van, gimana keadaan Ibu?” tanya Galih.“Masih di dalem, Mas. Kita belum boleh masuk karena dokter masih fokus biar Ibu ngelewatin masa kritisnya,” sahut Evan.Galih berjalan melongok ke kaca ruangan itu, tetapi dia tak bisa melihat apapun. Dia berjalan gontai lalu menyandarkan tubuhnya di sisi ayahnya.“Gimana ceritanya Ibu bisa tiba-tiba pingsan, Yah?” tanya Galih pada lelaki yang rambutnya mulai berwarna perak di sisinya.“Tadi lagi cuci baju di kamar mandi, terus Ayah denger teriakan ibu kamu. Pas Ayah ke kamar mandi posisi ibu kamu udah jatuh. Ayah nggak tahu karena tiba-tiba aja ibumu pingsan, dipanggil nggak nyahut,” katanya.Tak lama kemudian, lelaki berjubah dokter membuka pintu ruang

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 29: Dengarkan Dulu Penjelasanku!

    Tanpa berpamitan dengan Galih, Aster segera meninggalkan Toko Buku itu setelah membayar buku-buku yang dibelinya. Dia lalu segera menghentikan sebuah angkutan umum yang mengantarnya ke rumah kontrakan yang ditinggalinya selama memutuskan tinggal sendiri.Rasanya marah, sekaligus sedih melihat lelaki yang menjadi kekasihnya itu sedang bermesraan dengan perempuan lain. Terlebih lagi, perempuan itu terlihat jauh lebih seksi dari dirinya.“Nyebelin! apa bener semua cowok sama aja, ya?”Aster kembali menyembunyikan wajahnya di balik lutut. “Padahal aku udah yakin kalau Kang Jamal beda sama cowok lain, nggak gampang tergoda. Apalagi mantan istrinya juga udah meninggal lama banget dan dia belum nikah lagi ‘kan? Ternyata sama aja.”Tak lama berselang, pintu rumah kontrakannya itu diketuk. Suara lelaki yang terdengar familiar di telinganya itu membuat Aster buru-buru berdiri. Dia melangkah menuju jendela, membuka tirai untuk melihat ses

  • Ayo Menikah, Mas Duda!   Bab 28: Cinta Pertama

    Memberikan kejutan tanpa memikirkan momen ternyata cukup menyenangkan. Bagi Galih, melihat senyum Aster adalah dunianya saat itu. Hari itu dia sengaja membuat janji dengan kekasihnya untuk pergi ke toko buku yang terletak di Mall kawasan Metropolitan.Aster menyetujui rencana itu. Keduanya bertemu di depan Percetakan Gemilang, tempat Galih memerankan Jamal dan bekerja sebagai pegawai percetakan di sana. Sebagai seorang perfeksionis, Galih membenci kesalahan-kesalahan kecil di hidupnya. Namun, dia senang membuat kesalahan di depan Aster, membuat gadisnya itu melayangkan cubitan kecil di lengannya. Dan hal itu membuat Galih melihat sisi imut dari seorang Aster.Galih melambaikan tangan ketika gadis itu menyebrangi jalan untuk mendekatinya. Dia mengenakan kaus berwarna denim dengan celana spandeks model jogger berwarna abu. Tas pinggang kecil menempati bahu sisi kanannya.“Kang Jamal udah lama nunggunya?” tanya Aster.“Nggak, kok. Belum lam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status