Evan menatap kakak lelakinya tanpa berkedip. Kaus tanpa kerah dengan celana panjang jersey itu membuat penampilan lelaki itu berbeda. Galih yang selama ini perfeksionis, dewasa dan berwibawa mendadak berubah menjadi Jamal yang terlihat sangat ‘biasa saja’ dalam pandangan Evan.
“Mas Galih nggak salah pake baju kayak gini buat nyari cewek?” tanya Evan. Galih mengerutkan kening sebelum berkata sarkas. “Kamu nggak ngerasain gimana susahnya aku karena menjadi Galih selama ini. Jadi nggak usah sok peduli. Kamu sekarang jadi Bos aku. Panggil aku Jamal, bukan Galih!” Evan berusaha kembali memberinya nasehat. “Oke, oke. Tapi maksudnya, Mas Galih yakin ini bakalan berhasil? Gimana kalau misalnya cewek itu justru sakit hati karena kebohongan Mas Galih?” “Itu urusan belakangan. Pokoknya aku cari calon istri yang baik dan tulus tanpa memandang siapa aku,” Galih menyahut sambil mulai memotong kertas dengan pisau pemotong di meja besar. “Tapi aku nggak tanggung jawab ya kalau ada kerugian di tempat Mas Galih karena Mas Galih maksa kerja di sini,” kata Evan sambil meletakkan satu rim kertas di mesin fotokopi. “Aku udah serahin sama Fariz. Dan masalah itu, nggak usah khawatir. Aku bakalan bagi waktu kok,” sahut Galih. “Ada pelanggan. Coba Mas Galih handle yang baru dateng itu,” Evan menunjuk dengan dagunya. Galih mengisyaratkan dengan ibu jarinya. Dia berusaha untuk melayani pembeli yang datang untuk menggunakan jasa mereka. “Ada yang bisa dibantu, Neng Geulis?” tanya Galih. “Ini, Kang. Saya mau fotokopi dokumen ini lima lembar, terus print foto ini ukuran tiga kali empat tiga lembar, sama beli materai sepuluh ribu lima lembar,” kata gadis dengan wajah tertutup poni itu. Galih mengangguk-angguk. Dia segera melakukan tugas pertamanya untuk melayani pembeli. Galih melangkah menuju mesin fotokopi. Dia mendekat ke arah Evan untuk bertanya cara mengoperasikan mesin fotokopi di sana. Untung saja stok kesabaran adik lelakinya itu masih banyak. “Jadi Mas Galih atur dulu posisi kertasnya, terus nanti Mas Galih tekan ini, scan. Terus baru deh diprint.” Galih mengangguk-angguk. “Makasih, Bos! Kayaknya aku perlu training dulu, deh sebulan,” katanya. Evan hanya menepuk-nepuk bahunya. Dia tak tertarik untuk bermain peran dengan Galih alias Jamal. Iwan kemudian mulai memberikan petunjuk pada Galih untuk menggunakan mesin fotokopi di sana, sekaligus memberinya informasi bagaimana agar pekerjaan selesai lebih cepat. Galih yang sedang bermain peran sebagai Jamal itu hanya mengangguk-angguk pleno. Jamal kembali ke meja etalase kaca di mana pemesan jasa mereka menunggu. Dia meletakkan buku milik gadis itu di atas etalase. “Ini fotokopinya, ini pas fotonya dan ini materainya. Semuanya delapan puluh tujuh ribu,” katanya. Gadis itu mengeluarkan selembar uang kertas bergambar pasangan presiden dengan wakil Indonesia pertama. Jamal tersenyum menerimanya. “Sebentar, ya. Kembaliannya,” katanya. Gadis itu mengangguk. Jamal membuka laci untuk mencari uang kembali untuk gadis itu. Evan menunjuk laci kecil di sisinya. “Uang kecil semuanya ada di sini. Tolong diinget harganya, ya. Jangan sampe salah. Aku nggak mau rugi,” kata Evan. Jamal tersenyum dengan menampilkan giginya. “Tenang, Bos. Aku jamin omzet kita nambah karena ada aku,” katanya sebelum melangkah dengan percaya diri untuk mengembalikan uang milik customer mereka. Evan yang melihat tingkah Jamal hanya bisa menggelengkan kepala. “Yah … semoga ada cewek yang beneran tulus sama dia,” gumamnya. Jamal masih tersenyum ketika customer mereka telah berbalik arah. Iwan yang berdiri tak jauh darinya hanya bisa menahan diri untuk tidak berkomentar. “Dia penjaga perpustakaan Kampus Metro, Pak Galih. Kalau Bapak penasaran, ajak kenalan aja,” kata lelaki berambut keriting itu. Galih menoleh. “Sudah aku bilang, jangan panggil Galih. Panggil Jamal, aku lagi kerja di sini!” “Tapi ‘kan lagi nggak ada orang, Pak, cuma ada Bos Evan aja,” kilahnya. “Pokoknya kalau masih jam kerja kamu harus panggil saya Jamal! Dan saya nggak mau kamu nggak merhatiin kerjaan kamu hanya gara-gara saya kerja di sini!” kata Galih. Iwan hanya mengangguk. Dalam hati dia membatin, kena protes lagi, deh. Nasib … *** Galih sengaja tak mengganti setelan kaos dengan celana trainingnya dengan kemeja dipadu celana hitam katun yang biasa dipakainya ketika ngantor. Dia bahkan menolak tawaran Evan untuk naik ke mobilnya dan memilih naik angkot bersama Iwan. Galih sudah bertekad, dia akan menjalani peran Jamal sampai menemukan calon istri yang sesuai dengan kriterianya. Angkot berhenti di halte Kampus ketika seorang gadis naik. Galih terbelalak ketika gadis itu adalah gadis yang menjadi customer mereka hari itu. “Pulang ke mana, Neng?” dia mengawali percakapan dengan gadis di hadapannya. Galih tersenyum geli karena tingkahnya. Basa-basi bukanlah sifat Galih, tetapi dia berperan sebagai Jamal dan harus menyesuaikan diri dengan karakter Jamal. “Jalan Waru, Kang. Akang perantau, ya di sini? Saya baru lihat Akang kerja hari ini di Percetakan Gemilang,” katanya. Galih tersenyum sekali lagi, “iya, Neng. Saya pegawai baru di sana.” Gadis itu mengangguk-angguk. Dia lalu mengulurkan tangan pada Galih. “Saya Aster Puspita, Kang. Saya sering ke percetakan buat fotokopi atau bantu nge-print tugas-tugas titipan mahasiswa di Kampus,” katanya. “Saya Jamal, Neng. Salam kenal,” Galih menjabat tangan gadis itu sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ketika angkutan umum berbelok ke Jalan Waru, gadis itu berseru, “kiri, Bang!” Ketika angkutan umum berhenti, gadis itu tersenyum ke arah Galih sebelum turun. “Saya duluan, Kang Jamal,” katanya sambil mengangguk sopan. Galih turut mengangguk pelan sambil tersenyum. Dalam hati dia mulai berencana untuk mengambil langkah lebih cepat dibandingkan gadis itu. “Aster Puspita. Nama yang cantik, secantik orangnya,” gumamnya. Galih merasa harinya lebih baik setelah pertemuannya dengan gadis itu. Meski tak dipungkiri, dia masih belum melupakan Dea, tetapi hatinya tak sesakit kemarin. “Jangan melamun, Pak Galih! Nanti kesambet genderuwo!” celetuk Iwan. Galih bahkan melupakan lelaki berambut keriting yang duduk di angkutan umum bersamanya itu. Galih berdecak. ‘Mengganggu saja!’ rutuk batinnya. “Besok saya berangkat pagi-pagi naik ojek online, Wan. Kamu harus sudah ada di percetakan jam enam, atau saya minta Evan pecat kamu!” “Pak Galih seneng banget ngancam, ya? Sama sekali nggak sama dengan Bos Evan,” bibir Iwan maju lima senti ketika mengatakan itu. “Memangnya kenapa sama Evan? Dia berbeda dengan saya. Dia urakan, susah diatur, semaunya sendiri. Dia juga sering bikin ulah sampai ribut dengan Ayah,” katanya. “Tapi Bos Evan tuh baik sama karyawan, Pak Galih. Nggak pernah ngancem mecat sesukanya. Bos Evan juga sering traktir kita makanan kalau penjualan lagi bagus. Pak Galih harus belajar dari Bos Evan cara biar nggak kaku,” seloroh Iwan. Galih mengangguk. Perkataan Iwan ada benarnya. Dia menepuk-nepuk bahu Iwan. “Ya udah, mulai besok saya nggak akan bilang pecat-pecat kamu lagi. Saya minta maaf. Mulai sekarang kita jadi teman kerja, karena saya bakalan jadi Jamal,” katanya sambil tersenyum. Iwan tertawa pelan. “Gitu dong, Pak. Senyum, biar cewek-cewek pada suka. Pak Galih ‘kan ganteng, single, mapan lagi. Pasti cewek-cewek pada ngejar-ngejar,” katanya. Galih menimpali, “justru itu, Wan. Saya berperan sebagai Jamal supaya cewek-cewek nggak tahu siapa saya. Status saya, pekerjaan saya juga. Intinya saya pengen calon istri yang nggak akan mandang latar belakang saya.” “Iya, deh. Semoga berhasil ya, Pak. Saya seneng kalau Pak Galih bisa nemuin orang itu,” ucapan Iwan terdengar tulus di telinga Galih. Galih tersenyum sekali lagi. Ya, semoga saja.Galih menatap undangan di tangannya. Undangan itu diantar oleh ibunya sendiri, sepulang dia bekerja di Percetakan Gemilang yang dikelola Evan. Foto gadis yang dikenalnya itu terlihat cantik dalam balutan busana pengantin. Sang pria yang menjadi pasangannya tampak lebih tampan mengenakan jas berwarna hitam. Pria itu, tak lain adalah adik kandungnya sendiri.“Aku harus dateng sama siapa? Masak sama Jason?” keluhan keluar dari bibirnya.Dia kemudian berpikir untuk mengajak gadis itu. Gadis yang baru dikenalnya satu pekan lalu. “Aster, ya? Apa dia mau? Tapi, kalau nggak dicoba, nggak akan pernah tahu hasilnya ‘kan?”Galih sudah memutuskan. Dia akan mendekati gadis itu tanpa menunggu lebih lama. Dia ingin segera membawa gadis itu dalam pelukannya. Namun, bagaimana caranya agar gadis itu tidak mengetahui identitas dirinya yang sesungguhnya?“Kayaknya aku emang harus ngomongin ini sama Evan kalau nggak mau dia ngerusak rencana aku. Da
Jam di ponselnya menunjuk pukul enam tepat, ketika mahasiswa-mahasiswi yang selesai kuliah sore di area Kampus Metropolitan mulai meninggalkan Kampus. Galih pamit pada Iwan untuk pulang lebih dulu. Dia menyandang tas pinggangnya di punggung. Dengan postur tegap itu, dia berjalan menyusur sepanjang jalan menuju Halte terdekat.“Kang Jamal …!” seru suara perempuan. Galih menghentikan langkahnya sejenak sebelum menoleh. Gadis yang mengikat rambut panjangnya mirip ekor kuda itu melambai ke arahnya.Dia bukan laki-laki yang membuat perempuan repot, sehingga Galih berbalik arah untuk menuju gadis itu.“Ih padahal ‘kan nggak apa-apa Kang Jamal nunggu di sana aja,” kata gadis itu.“Saya nggak mau bikin kamu capek, Neng Geulis.”Ada senyum di wajah gadis itu. “Kang Jamal umurnya berapa sih? Hobinya apa?”Pertanyaan dari gadis itu membuat Galih sedikit terkejut. Namun, dia segera mengatur ekspresi wajahnya.
Ketika azan dzuhur berkumandang, Iwan pamit lebih dulu pada Galih untuk menunaikan sholat. Galih dengan sigap menggantikan pekerjaan Iwan untuk meneruskan memotong tumpukan kertas yang tebalnya empat sentimeter itu.Buku berjilid hard cover dengan tulisan Skripsi yang diketik dalam huruf kapital Times New Roman itu menarik perhatian Galih. Dia mengenang saat menjalani pendidikan di Perguruan Tinggi.“Jadi inget perjuangan masa lalu,” gumamnya.Dia juga membantu menutup pintu geser Percetakan Gemilang, mengganti papan pengumuman dari Buka menjadi Istirahat. Iwan dengan rambut basah muncul dari pintu belakang.“Mau makan siang, Bos? Makasih ya udah bantuin kerjaan aku,” kata Iwan.Galih hanya menepuk bahu Iwan. Lelaki itu lalu meninggalkan Percetakan Gemilang menuju rumah makan di depan ruko mereka. Sebuah janji harus ditepatinya.Gadis yang menutupi wajahnya dengan poni depan lurus itu melambai ke ara
Galih meletakkan ponselnya usai membalas pesan singkat yang dikirimkan sebuah kontak ke nomor kontaknya. Lelaki itu tak sepenuhnya berkonsentrasi pada pekerjaannya.Tasya mengetuk pintu ruangannya, tumpukan berkas di tangan gadis itu membuat Galih memijat pelipisnya. Pasti berkas untuk ditandatangani, pikirnya.“Kalau Bos lagi bete, coba makan cokelat atau minum kopi. Sedikit kafein bisa bikin pikiran fresh lagi,” kata Tasya.Gadis itu berdiri di depannya. Menunggu. Galih membuka satu-persatu kalimat klausa yang ada dalam perjanjian itu sebelum membubuhkan tanda tangan basah di atas namanya.“Saya cuma lagi nggak bisa fokus aja, Sya. Makasih sarannya.” Galih melirik Tasya, menunjuk sofa di ruangannya. “Kamu bisa duduk dulu, Sya. Ini agak lama karena banyak.”“Oke.” Tasya duduk di sofa sambil membuka majalah yang berisi koleksi model mereka dan beberapa kerjasama dengan beberapa jenama terkenal.“Bos,
Galih mengalihkan pandangannya karena takut jika gadis itu akan marah. Namun, tangan gadis itu lebih dulu meraihnya. Membuatnya bertemu dengan tatapan penuh ingin dari gadis itu. Sekali lagi, hal menyenangkan itu terjadi.Rasa manis yang membuatnya candu itu berasal dari bibir gadis itu. Galih menarik diri lebih dulu, tak ingin menjadi sebab hubungan yang belum lama itu kembali retak.“Aku nggak masalah, Kang. Tapi, lain kali kita cari tempat lain.”Galih tergagap-gagap menjawab, “la-lain kali, di hari pernikahan kita.”Gadis itu tersenyum. “Amin. Kang Jamal udah siap?”Pertanyaan itu membuat Galih mengangguk. “Siap lahir batin, Neng. Ta-tapi… ”“Tapi apa, Kang?” gadis itu bertanya, tatapan matanya penuh harap.Galih perlahan menjawab, “tapi kita harus terbuka satu sama lain, Neng. Kita harus saling kenal luar-dalam.”“Iya, Kang. Aku juga maunya sebelum pernikahan, nggak
Galih bersiul-siul sambil menyisir rambutnya dengan jari. Dia sengaja bercermin di depan pintu kaca butik itu. Ketika seseorang menyentuh lengannya, Galih mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu.“Maaf ya, Kang. Aku lama, ya?” tanya gadis itu.Galih menggeleng. “Nggak kok, Neng. Aku juga baru sampai,” kata Galih, tak ingin membebani gadis itu. Dia mengulurkan lengannya pada gadis itu. “Yuk, masuk. Kita pilih baju buat Neng Pita pergi ke kondangan.”Aster menyeringai sebelum menepis lengan Galih. “Nggak usah, Kang. Nggak enak dilihat orang lain.”Galih tersenyum, lalu celingukan sambil menggaruk tengkuknya. Langkahnya mengikuti gadis itu. Pramuniaga di Butik Sarah & Co. menyambut Galih dengan senyum ramah.“Tolong bawakan dress berwarna lila yang tidak terlalu terbuka dan cocok untuk undangan pernikahan, Mbak,” kata Galih.“Baik, Pak. Mari, saya tunjukkan,” perempuan itu menyilakan Galih dan gadis
Galih menatap dirinya di cermin. Setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna biru dongker itu membuatnya terlihat bersinar. Rambutnya tersisir rapi, jam tangan di pergelangan tangan kirinya membuatnya semakin tampan.Galih melangkah ke luar kamar, menuju kamar Jason. Bocah itu sudah mengenakan tuksedo berwarna hitam dengan rambut tersisir rapi.“Udah siap, Boy?” Galih mengulurkan tangan pada duplikat dirinya versi kecil itu.“Udah, Pa. Kita langsung ke gedung tempat pernikahannya, Pa?” tanya bocah lelaki itu.Sambil berjalan menuju garasi, Galih menjawab, “iya, Boy. Papa anterin kamu dulu ke sana sama Nenek dan Kakek, ya. Karena Papa mau jemput seseorang.”“Calon Bunda aku ya, Pa?” pertanyaan Jason membuat Galih tertawa pelan.“Semoga ya Boy. Semoga jalan Papa menjadikan dia Bunda kamu berjalan lancar,” kata Galih.“Amin, Pa.”Galih membukakan pintu mobil untuk putrany
“Gimana kalau kita ke panggung buat kasih selamat ke mempelai, Neng?” Galih mengulurkan tangannya pada gadis itu.Aster meraih tangan Galih, menggamit lengan kekar itu menuju panggung. Senyum Aster mengembang ketika memberi ucapan selamat kepada keluarga dan kedua mempelai.Galih memeluk Evan, lalu memberi pelukan yang sama pada Dea sekali lagi. Ketika bertemu dengan Jason di panggung, Galih tersenyum ketika bocah kecil itu memberikan jempol ke arahnya.‘Aman. Kayaknya nggak ada orang kantor yang dateng jam segini,’ batinnya.Galih segera menggandeng tangan Aster menuju tempat makan, menjauh dari panggung utama. Aster memindahkan beberapa cake yang dikemas dalam wadah kecil itu ke piring datar yang diambilnya.“Kang Jamal nggak makan? Itu ada siomay, kayaknya enak deh,” gadis itu menunjuk ke arah rak di sisinya.Galih menggeleng. “Aku udah kenyang, nggak bisa makan kebanyakan, Neng.”“Kang Jamal diet, ya?”Galih terkekeh-kekeh. “Nggak, bukan diet. Cuma aku kebiasaan intermittent fasti
Aster semula ragu untuk menjawab telepon masuk dari nomor tak dikenalinya. Dia hanya membiarkan sambungan telepon itu terputus dengan sendirinya.Sebuah pesan masuk melalui aplikasi pesan daring muncul di notifikasi dorong ponselnya. Kening Aster berlipat-lipat melihat isi pesan itu.[+62 8122234555]: halo, tante. ini aku, Jason. Aku dpt nomr tante dr papa“Ini nomor Jason? Ya ampun! Mimpi apa aku sampe dihubungi sama anaknya,” katanya.Aster segera membalas pesan itu.[Aster]: hai, Jason. Kalau gitu tante save kontaknya yaTak lama setelah menyimpan nomor ponsel Jason di kontak, dering telepon masuk kembali terdengar di ponsel Aster. Gadis itu menjawabnya, lalu berdehem sebelum bersuara.“Halo,” katanya.“Tante. Ini nomor Jason,” sahutan suara dari telepon itu membuat Aster menutup mulutnya untuk menutupi suara tawanya.“Iya, tante udah simpen nomor kamu,” jawab Aster.“Kalau gitu, aku mau ngundang tante ke acara ulang tahun aku. Tante bisa ‘kan kosongin jadwal buat aku?”Aster membu
Selama sepuluh tahun, Jason selalu menyerahkan urusan dekorasi ulang tahunnya pada event organizer yang dibayar oleh Galih untuk mengurusi semuanya. Namun, di ulang tahunnya yang akan menginjak angka sebelas, dia ingin melakukan semuanya sesuai dengan keinginannya.Jason berdiskusi dengan orang dari event organizer itu mengenai konsep yang diinginkannya. “Aku mau konsepnya superhero kayak Papa. Kak Tara tahu ‘kan? Papaku orangnya dingin banget kalau lagi kerja, tapi dia bisa ketawa kalau udah ketemu sama aku. Terus, aku juga nggak mau ngundang orang banyak-banyak. Aku maunya privat aja, mungkin seratus orang cukup. Ada temen-temen deket aku sama keluarga. Yang paling penting, nanti harus ada home band yang nyanyiin lagu buat dansa. Terus hiasan balon-balonnya, warna gold sama navy, bisa?”“Baik, kalau begitu Jason mau yang seperti ini?” perempuan itu menunjukkan gambar di tablet miliknya.Jason mengangguk setelah melihat rancangan konsep itu. “Tapi nanti tolong siapin pembawa acara bu
Pertemuan di Cafe Bougenville itu semakin membuat Aster jatuh hati pada Galih. Pasalnya, lelaki tampan berstatus duda dengan anak satu itu bukan hanya melindunginya tetapi juga secara gentle mengakui statusnya di depan Ryn, sahabat Aster.Dia bahkan memperkenalkan Jason sebagai anak kandungnya, sekaligus mengatakan keseriusan untuk menjalin hubungan ke jenjang lebih serius bersama Aster. Gadis itu bahagia, karena Ryn bukan hanya mendukung hubungan mereka tetapi juga mendoakan agar hubungan itu bertahan sampai pernikahan bahkan hingga maut memisahkan.Aster sampai tersenyum-senyum mengingat kejadian itu ketika dia duduk di meja kerjanya. Semua pengunjung Perpustakaan hari itu bahkan merasakan kebahagiaannya.Aster membuka buku kumpulan puisi karya Mita Yoo itu, membaca dalam hati bait puisi di sana.Kita adalah anomali yang disatukan semesta. Kau dengan ketenanganmu, sedang aku serupa sumbu pendek yang bisa meledak kapan saja.
Aster melambaikan tangan pada Galih usai lelaki itu mengantarnya kembali sampai depan pintu rumah. Gadis itu mengayun langkah menuju kamar. Dia tersenyum-senyum membayangkan ingatan semalam.“Kang Jamal ternyata bisa romantis banget. Dan yang paling penting, dia ngejaga aku dan nggak mau ngelakuin hal-hal yang lebih dari itu. Aku beruntung bisa sama dia,” gumamnya sambil menatap langit-langit kamar kontrakannya.Aster membuka ponselnya, beberapa pesan masuk dari nomor tanpa nama di kontaknya membuat Aster mengernyit. Dia membuka pesan itu.[+62 86533421111]: besok jam 2 siang aku tunggu di Cafe BougenvilleAster membalas pesan itu, menanyakan identitas pengirim pesan itu. Ketika balasan pesan itu masuk tak lama kemudian, Aster mendadak terkejut.[+62 86533421111]: RasyidAster menghembuskan napas setelah menarik napasnya dalam-dalam. Dia butuh oksigen lebih banyak untuk mengisi paru-parunya agar bisa
Aster mengikuti langkah panjang-panjang Galih dengan terburu-buru hingga hampir tersandung kakinya sendiri. Gadis itu tahu jika kekasihnya tak suka dengan kehadiran Rasyid.“Kang, kita mau ke mana?” tanya Aster, karena lelaki itu terus menarik tangannya untuk mengikuti langkah lelaki itu.Galih tak menjawab. Dia tak punya tujuan, hanya terus mengayunkan langkah hingga lelah. Ketika langkahnya terhenti, Galih menoleh sekeliling. Dia menatap Aster yang terengah-engah.Galih melepaskan tangan Aster ketika melihat kotak neon berkedip-kedip menampilkan nama Penginapan Vella itu. “Aku mau masuk ke situ, Neng. Kalau kamu memang cinta dan percaya sama aku, kamu cukup ikutin aku,” kata Galih, memberi isyarat dengan dagunya.Mata Aster terbelalak sesaat. Ketika lelaki bertubuh tegap itu mengayun langkah mendahuluinya, dia menyusul lelaki itu dengan langkah kecilnya.‘Yang paling penting aku harus tetep sadar dan harus bisa
Galih percaya jika kebaikan akan kembali kepada dirinya sendiri. Hal itu juga yang membuatnya hanya fokus belajar ketika masih duduk di bangku sekolah. Bahkan ketika menyelesaikan pendidikan tinggi, dia sama sekali tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dia tak pernah sekalipun berpacaran sebelum bertemu dengan Amel di usianya yang kedua puluh tiga tahun.Ketika itu, dia yang sedang membantu ayahnya di Percetakan Gemilang bertemu dengan mahasiswi cantik yang membuat Galih tertarik. Galih memberanikan diri untuk mendekati perempuan itu, dimulai dari perkenalan, lalu berlanjut dengan saling bertukar pesan singkat.Dari sana, hubungan Galih dan Amel berlanjut ke tahap saling mengenal pribadi masing-masing. Galih menganggap Amel adalah pelengkap dunianya. Dia yang selalu tak ingin melakukan kesalahan, sedangkan Amel adalah orang yang akan menertawakan kesalahan itu.“Amelia Soedjono, will you marry me?” Galih mengutarakan perta
Galih setengah berlari menuju ruangan bertuliskan IGD di Rumah Sehat Mentari itu. Dia melihat Evan dengan Dea tengah duduk di bangku tunggu. Ayahnya berada di sisi pasangan itu dengan memegang tongkat jalannya.“Van, gimana keadaan Ibu?” tanya Galih.“Masih di dalem, Mas. Kita belum boleh masuk karena dokter masih fokus biar Ibu ngelewatin masa kritisnya,” sahut Evan.Galih berjalan melongok ke kaca ruangan itu, tetapi dia tak bisa melihat apapun. Dia berjalan gontai lalu menyandarkan tubuhnya di sisi ayahnya.“Gimana ceritanya Ibu bisa tiba-tiba pingsan, Yah?” tanya Galih pada lelaki yang rambutnya mulai berwarna perak di sisinya.“Tadi lagi cuci baju di kamar mandi, terus Ayah denger teriakan ibu kamu. Pas Ayah ke kamar mandi posisi ibu kamu udah jatuh. Ayah nggak tahu karena tiba-tiba aja ibumu pingsan, dipanggil nggak nyahut,” katanya.Tak lama kemudian, lelaki berjubah dokter membuka pintu ruang
Tanpa berpamitan dengan Galih, Aster segera meninggalkan Toko Buku itu setelah membayar buku-buku yang dibelinya. Dia lalu segera menghentikan sebuah angkutan umum yang mengantarnya ke rumah kontrakan yang ditinggalinya selama memutuskan tinggal sendiri.Rasanya marah, sekaligus sedih melihat lelaki yang menjadi kekasihnya itu sedang bermesraan dengan perempuan lain. Terlebih lagi, perempuan itu terlihat jauh lebih seksi dari dirinya.“Nyebelin! apa bener semua cowok sama aja, ya?”Aster kembali menyembunyikan wajahnya di balik lutut. “Padahal aku udah yakin kalau Kang Jamal beda sama cowok lain, nggak gampang tergoda. Apalagi mantan istrinya juga udah meninggal lama banget dan dia belum nikah lagi ‘kan? Ternyata sama aja.”Tak lama berselang, pintu rumah kontrakannya itu diketuk. Suara lelaki yang terdengar familiar di telinganya itu membuat Aster buru-buru berdiri. Dia melangkah menuju jendela, membuka tirai untuk melihat ses
Memberikan kejutan tanpa memikirkan momen ternyata cukup menyenangkan. Bagi Galih, melihat senyum Aster adalah dunianya saat itu. Hari itu dia sengaja membuat janji dengan kekasihnya untuk pergi ke toko buku yang terletak di Mall kawasan Metropolitan.Aster menyetujui rencana itu. Keduanya bertemu di depan Percetakan Gemilang, tempat Galih memerankan Jamal dan bekerja sebagai pegawai percetakan di sana. Sebagai seorang perfeksionis, Galih membenci kesalahan-kesalahan kecil di hidupnya. Namun, dia senang membuat kesalahan di depan Aster, membuat gadisnya itu melayangkan cubitan kecil di lengannya. Dan hal itu membuat Galih melihat sisi imut dari seorang Aster.Galih melambaikan tangan ketika gadis itu menyebrangi jalan untuk mendekatinya. Dia mengenakan kaus berwarna denim dengan celana spandeks model jogger berwarna abu. Tas pinggang kecil menempati bahu sisi kanannya.“Kang Jamal udah lama nunggunya?” tanya Aster.“Nggak, kok. Belum lam