Luna mengamati Clay yang berjalan menuruni tangga, jika situasinya berbeda mungkin Luna akan merasa kasihan pada Clay Ganeston. Suara siulan pria itu telah lenyap.
Luna hanya mendengar suara langkah kaki yang pelan semakin mendekat, Luna meremas tulang jemarinya berusaha meredam serangan panik yang menyerangnya. 'Jangan biarkan dia melihatku.' Batin Luna. Namun, akal sehat gadis itu mengatakan jika dia tidak mungkin selamanya menghindari Clay. Cepat atau lambat, pria itu akan mengetahui bahwa dia ada di sana. Clay muncul di anak tangga terbawah, memakai jaketnya kembali. Seakan dia ingin menegaskan pada Luna, bagaimana hubungan anak dan ayah tersebut. Jantung Luna berdetak begitu keras, seakan ingin melompat naik ke tenggorokannya. Luna menahan napas, rona malu kini sudah menjalar di pipinya. Clay melangkah ke depan cermin, memeriksa dasi dan rambutnya. Bagi Luna, selama beberapa detik, pria itu tampak rentan jika di amati dari belakang. Namun, Luna mengingatkan dirinya sendiri bahwa Clay bukan hanya kaya raya, tapi juga bersalah. Clay pantas menerima apa yang seharusnya di dapatkan pria itu. Clay bergerak, dan pantulan wajah Luna tampak jelas di cermin. Mata Clay menunjukan keterkejutan, lalu pria itu berbalik untuk menatapnya. "Oh, hai," sapa Clay pada Luna. "Aku tidak melihatmu bersembunyi di situ." Seketika itu juga, Luna menyadari detak jantungnya yang sangat cepat. Tapi, dengan hati-hati dia menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang. Dia hanya mengangguk sekilas, tanpa mengeluarkan suara. Karena dia tidak berniat untuk bertemu dengan pria itu lagi, dia sama sekali belum siap untuk menghadapi semua ini. "Permisi," tambah Clay dengan sopan, seolah dia adalah klien yang sering menunggu di sana untuk urusan bisnis dengan Theodore Ganeston. Clay berbalik, dan melangkah memasuki ruang kerja ayahnya. Dari dalam, terdengar perintah tegas dari kepala keluarga Ganeston. "Tutup pintunya, Clay!" Kelopak mata Luna terpejam, 'Clay tidak mengingatku?' pikir Luna. Luna membuka mata, menatap pintu yang baru saja ditutup. Dia merasa lega karena tidak perlu lagi berhadapan dengan Clay. Namun, pertanyaan itu terus menghantui pikirannya, mengapa Clay tidak mengingatnya? Luna mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengusir kenangan pahit masa lalu. Dia berjalan menuju jendela, menatap kota yang terhampar di bawah. Secara tiba-tiba fakta itu membuat Luna ingin menangis, meskipun hal itu sama sekali tidak masuk akal. Karena sebelumnya dia sendiri yang berharap Clay melewatinya seperti orang asing, dan itulah yang tadi Clay lakukan. Luna menegur dirinya sendiri, mengingatkan pada batinnya bahwa hal itu yang dia inginkan. Luna mengumpulkan amarahnya sebagai pengganti air mata, yang tidak pernah dia izinkan untuk menetes. Dari semua tempat yang pernah dia datangi, tangisan merupakan kelemahan dan kelemahan adalah kebodohan. Itu yang selalu Luna terapkan sejak dulu. Luna Orlando bukanlah gadis yang lemah, atau bodoh. Saat ini situasinya tampak bertolak belakang, namun dalam dua puluh empat jam ke depan semuanya akan berbeda. Dari balik pintu ruang kerja, terdengar suara Clay yang meledak. "Siapa!" Seketika itu, mata Luna yang sempat terpejam kembali terbuka lebar. Clay tidak mengingatku, pikir Luna lagi. Dia menegakan bahunya, dan mengatakan ada diri sendiri bahwa hal itu tidak boleh mengganggunya. Pintu ruang kerja kembali terbuka, Luna berusaha untuk tetap tenang dan tidak peduli saat Clay berdiri menatapnya dari ambang pintu. Persis seperti yang di lakukan ayah pria itu sebelumnya. Mata Clay yang berwarna hazel menusuk Luna, sorot matanya begitu dingin dan tajam. Ekspresi masam di wajah Clay, mengatakan bahwa pria itu tidak mempercayai tuduhan ayahnya. "Luna?" tanya Clay kemudian. Luna mengira akan mendengar amarah dari pria itu, akan tetapi nada suara Clay justru terkesan dingin. "Halo, Clay." Jawab Luna tenang, mencoba untuk pura-pura tidak peduli. Clay melihat Luna bangun dari tempat duduknya, yakin tanpa adanya keraguan. Hampir terkesan angkuh, untuk seukuran gadis seperti itu. Pikir Clay. Tapi, jelas Luna tidak terlihat takut, atau pun memiliki niat memohon. "Kau juga di minta masuk ke ruang kerja," tegas Clay ketus. Dia tetap memandang Luna dengan sorot mata meremehkan, sementara Luna memberikan tatapan dingin pada pria itu. Kemudian, Luna berjalan melewati Clay menuju ruang kerja. Perasaan muak terbaca jelas dari raut wajah Clay. Bahkan, Luna nyaris bisa menciumnya saat jarak mereka begitu dekat. Ruang kerja milik Theodore Ganeston terlihat seperti di dalam dunia dongeng, kaca bening menutupi seluruh permukaan meja yang telah di poles. Buku berjejer rapi di lemari yang menempel, di bagian dinding. Dan ada beberapa lukisan cat minyak sebagai pelengkapnya. "Kelihatannya putraku tidak mengingatmu, iya, kan?" suara Theodore seperti lapisan es pertama di danau Bourget di bulan november, dingin, tajam, dan tipis. "Ya, dia tidak mengingatku." Jawab Luna menatap langsung Theodore. "Apa kau mengingatnya?" tanya Theodore pada putranya, meminta dia untuk berkata jujur. "Tidak." Jawab Clay, yang langsung membangkitkan kemarahan Luna. Bukan karena Luna ingin di ingat, namun dia bisa melihat bahwa Clay sedang berbohong. Lagi pula, dia tidak berharap pria itu akan mengatakan yang sebenarnya. Iya, kan? Lebih dari sekali, Luna menduga jika Clay memiliki banyak uang, untuk mendukung segala macam kebohongan yang dia inginkan. Meskipun begitu, jawaban Clay tetap sangat meyakinkan. Saat Luna berbalik, dia mendapati Clay berdiri terlalu dekat dengannya, hingga membuat gadis itu merasa tak nyaman. Luna menatap Clay dengan sorot mata dingin, sama seperti yang di lakukan oleh ayah pria itu. Clay mengamati sosok Luna dengan teliti, lalu beranjak ke rambut gadis itu. Terlihat pantulan cahaya lampu jatuh di atas rambutnya, Clay menduga bahwa Luna merawat dirinya dengan baik. Sesaat ingatan malam itu kembali muncul, Clay mulai mengingatnya. Namun, dia berusaha untuk tidak menunjukkannya di depan mereka semua. "Sebenarnya, apa maksud semua ini? apa kau menjebak ku?" tuduh Clay. "Sayangnya bukan, dan kau jelas tahu itu," jawab Luna sambil bertanya-tanya berapa lama dia bisa berpura-pura tenang seperti ini. Namun Santo Orlando menyela dengan cepat, dia berteriak dan menunjuk Clay, "Sudah pasti ini bukan jebakan, bajingan. Jadi jangan berpikir untuk meng-" "Kau sedang berada di rumahku," sela Theodore dengan tajam. "Dan jika kau ingin... diskusi ini tetap berjalan, kau harus menjaga sikapmu selama kau berada di sini." Terdapat kesan sinis yang tak tertahankan, dalam penyebutan kata diskusi. Jelas sekali kalau Jakson Orlando tidak mengerti makna kata tersebut. "Lakukan apa pun yang kau mau, untuk membuat bajingan ini buka mulut. Atau aku yang akan memaksanya untuk berkata jujur, seperti yang aku lakukan pada Luna." Seperti ada sesuatu yang merangkak keluar dari dalam diri Clay, pria itu menoleh dengan tajam ke arah Luna. Tapi, gadis itu tetap terlihat tenang, dengan mata yang terus menatap ke atas meja tempat tangan ayahnya yang sudah tampak memutih. "Kau harus tetap bisa berpikir dengan rasional, Pak. Atau kau dan istrimu harus pergi sekarang juga dari rumahku, dan bawa putrimu bersamamu!" perintah Theodore tegas.Suasana mendadak tegang, otot-otot di leher Santo tampak menonjol. Bagi pria pemabuk itu, kesempatan seperti saat ini sudah dia nantikan sejak lama. Dan, sekarang... di depan matanya kesempatan itu muncul layaknya kartu kemenangan yang jatuh ke tangannya.Santo berbalik menatap Clay secara langsung, "Coba katakan, bajingan. Jika kau tidak pernah bertemu dengan anakku, maka aku akan menjadikanmu mahluk paling menjijikan di muka bumi ini."Semua orang bungkam, sikap arogan pria itu sangat buruk dan membuat Luna merasa ingin muntah."Jangan berpikir hanya karena kau kaya, kau bisa tidur dengan semua orang yang memakai rok dan memberikannya uang tutup mulut." Ejek Santo.Meskipun merasa sangat malu, Luna tahu tidak ada gunanya mendebat ayahnya saat ini. Sepanjang hari, pris itu sudah mabuk-mabukan. Dia sengaja mempersiapkan diri untuk menghadapi pertemuan hari ini.Sejak awal Luna sudah bisa menebak apa yang akan ayahnya lakukan, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa. Jika dia bertindak
Mobil Ferarri warna silver terparkir di jalanan yang berbentuk seperti tapal kuda, tepat di belakang mobil keluarga Luna. Tanpa menunggu, Clay membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.Kemudian duduk dengan tatapan tajam ke arah depan, sedangkan Luna masih mengukur seberapa besar risiko jika dia pergi bersama pria itu. Toh, dia sama sekali tidak mengenal Clay dengan baik.Entah pria itu memiliki tempramen seperti ayahnya atau tidak? atau Clay bisa melakukan kekerasan jika sudah terpojok? atau kemungkinan terburuk yang Luna pikirkan adalah, bagaimana pria itu akan mencegahnya melakukan masalah dalam kehidupan pria itu yang nyaman dan damai.Clay menoleh ke arah Luna, dan melihat wanita itu masih menatap murung ke arah pintu rumahnya, seakan berharap seseorang muncul dan membantunya."Ayolah, kita harus secepatnya menyelesaikan masalah ini." Ucapan Clay sama sekali tidak membuat perasaan Luna membaik."Aku.... aku benar-benar tidak ingin pergi ke mana pun," ujar Luna gugup. Pikirannya
Hening. Luna mengepalkan kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya. Dia melemparkan tatapan tak suka pada Clay."Aku tidak pernah memaksamu, Tuan Ganeston." Sanggah Luna geram.Clay mengabaikan kekesalan Luna, "Apa kau berharap aku akan percaya? setelah semua tuduhan yang kau lemparkan padaku.""Terserah apa katamu, mau kau percaya atau tidak itu urusanmu." Tegas Luna, dia kembali menatap ke arah depan di mana jalanan lurus terbentang. "Aku tidak menginginkan apa pun, kecuali kau membiarkan aku sendirian.""Kalau begitu mengapa kau datang?" Saat Luna masih diam, Clay kembali mendesaknya. "Katakan!"Dengan keras kepala, Luna tetap memilih diam. Dia sama sekali tidak menginginkan simpati, uang, atau pun nama yang kini melekat padanya. Yang dia inginkan hanya pagi segera tiba, agar dia bisa pergi dari sini.Clay merasa marah atas tindakan keras kepala Luna dan sikap ketidakpedulian wanita itu, Clay mengangkat tangan dan menjatuhkannya di bahu Luna. Dia menekan bahu Luna dengan kasar."De
"Kau menyakitiku lagi," ujar Luna dengan suara pelan, membuat Clay menyadari jika kini dia sudah meremas pipi Luna terlalu kuat.Clay menurunkan tangannya, dia terus mengamati wanita di sampingnya. Luna memiliki wajah yang tidak mudah untuk di lupakan, hidung mancung dan lurus, pipi tinggi dengan rona kemerahan, mata biru yang berusaha tidak berkedip yang saat ini sedang menatapnya secara langsung.Bibir Luna saat ini tampak cemberut, tapi dia ingat saat bibir itu menyunggingkan senyum. Rambut Luna panjang sepinggang, dengan warna hitam kelam. Dan, ada beberapa helai yang jatuh di atas kening.Luna memiliki tubuh yang ramping dan mungil, meskipun Clay tidak bisa mengingatnya dengan jelas, dia bisa menduga jika tubuh Luna sesuai dengan tubuh wanita idamannya. Berkaki panjang, pinggul yang berlekuk, dan bagian dadanya tidak terlalu besar.Seperti Venus, pikir Clay.Setelah merasa lebih tenang dengan memikirkan Venus, Clay kembali lagi mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi di a
Hening sejenak, Luna awalnya sudah tidak ingin berdebat dengan pria itu. Sangat melelahkan untuknya beradu argumen dengan Clay, tapi komentar pedas Clay berhasil membuat amarah Luna tidak lagi terbendung.Dengan gerakan cepat, dia membalikan tubuhnya lalu memberikan pukulan keras di tengah tulang dada Clay.Akibat tidak waspada, Clay terkesiap dan terhuyung ke belakang. "Aduh, itu sakit, sialan!""Wow, yang benar saja! memuakan sekali bicara denganmu, kau sendiri yang pikun dan melupakan kejadian itu. Bisa-bisanya sekarang kau menuduhku berbohong? dasar kau bandot egois!" Sambil mengusap dadanya yang sakit, Clay bergumam. "Apa kau selalu seperti ini?"Luna mengedikan kedua bahunya, "Aku tak tak tahu. Ini pertama kalinya aku memukul pria. Bukankah kau sudah terbiasa dengan pukulan kecil seperti itu, ketika pacarmu hamil? atau bagaimana reaksi mereka?"Dengan hati-hati Clay menjaga jarak dengan Luna, dia tidak ingin mendapat pukulan untuk yang kedua. "Bagaimana jika sekarang kita berhe
Wajah Clay berubah pias, bukan hanya terkejut mendengar pengakuan Luna. Dia juga tak menyangka jika wanita itu akan berkata demikian tentang ayahnya, kebencian terasa begitu jelas saat Luna mengatakan tentang ayahnya. "Lantas, apa yang di inginkan ayahmu dari keluargaku?" Clay kembali bertanya. Luna memikirkannya sejenak, dia mempertimbangkan pada akhirnya dia memilih untuk bicara terus terang. "Uang." Luna bisa melihat mimik wajah Clay tampak syok, bibirnya sedikit terbuka dan kedua bola matanya melotot seakan dia sedang memastikan pendengaran. Clay mengamati Luna melalui cahaya remang-remang yang berasal dari mobil, lalu berseru, "Kau mengakuinya?" "Tentu saja aku mengakuinya. Sangat bodoh jika aku tidak bisa melihat apa yang ayahku inginkan. Dia mencium uang dari situasi ini, selama ini dia tidak pernah merasa cukup dengan uang." Luna menjeda sejenak ucapannya, dia menghela napas panjang dan kembali melanjutkan ucapannya. "Dia berpikir bisa memanfaatkan situasi saat ini untu
Clay mengerang pelan, dia mengusak rambutnya dengan kasar. "Ya tuhan..." "Ya," ulang Luna setengah menyindir. "Ya tuhan..." "Jadi, kau bisa mengingat malam itu lebih baik dari pada aku?" saat ini dia merasa malu pada dirinya sendiri. Luna mengedikan kedua bahunya, "Aku tidak berbeda dengan gadis lain, itu merupakan pengalaman pertamaku. Tidak mudah bagiku melupakannya, atau menganggap kejadian itu tidak pernah ada." Kebisuan kembali terasa di antara mereka, ketenangan Luna sirna dalam hitungan detik. Dia merasakan simpati dari tatapan Clay, dan itu membuatnya gelisah. Setelah beberapa saat berlalu Clay berhasil mengendalikan rasa terkejutnya. Dia menghela napas dan menopangkan sebelah sikunya di tepi kaca jendela, Clay memiringkan wajah lalu memijit pangkal hidungnya. Kebisuan yang semakin menghimpit, menjadi menyakitkan dengan bayangan yang melintas di kelapa mereka. Pada akhirnya Clay memaksakan pikirannya kembali pada kenyataan, aspek ancaman yang ayah Luna katakan sang
Clay menarik napas panjang, dan membuangnya melalui hidung dengan kasar. "Pembicaraan ini sudah melenceng dari masalah yang kau abaikan.""Aku yakin, itu adalah masalah yang kau abaikan." Sahut Luna tak mau kalah."Biasanya wanita lebih teliti, dan melakukan pencegahan lebih dulu. Jadi, secara otomatis aku menduga...""Biasanya?" Luna melemparkan tangannya ke udara, dan kembali bicara dengan nada jengkel. "Jadi, kau ingin mengatakan semua ini salahku?""Bukan begitu, biar aku jelas..."Namun, kali ini Luna memotong ucapan Clay. "Aku sudah bilang padamu, itu pengalaman pertamaku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menggunakan alat kontrasepsi!""Jangan berharap aku akan mempercayai ucapanmu! sekarang zaman sudah canggih, yang perlu kau lakukan hanya mencari di internet dan mempelajarinya. Atau kau belum mendengar jika sudah lama wanita menggunakannya? hanya wanita yang memiliki akal sehat, yang selalu mengantisipasi pengalaman pertama mereka, andai saja kau melakukan hal yang sama
Luna termenung di kamarnya, percakapan dengan Mrs. Bonny masih terngiang-ngiang di kepalanya, selama ini dia sudah kabur dan terus mencoba menghindari Clay. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Luna bingung. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang tertera di layar membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Luna menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Selama ini ia terus berusaha menjauh, tapi sekarang sepertinya Clay sendiri yang menghubunginya. Apakah ini pertanda ia tak bisa lagi menghindar? Dengan ragu, Luna menggeser layar dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo?" Suara di seberang terdengar rendah, tapi jelas. "Luna, kita perlu bicara. Aku ingin bertemu denganmu." Luna menelan ludah, hatinya berdebar. "Tentang apa?" "Aku janji, ini tidak akan lama. Temui aku di kafe dekat taman jam tujuh malam," ucap Clay, nadanya sedikit memohon. Luna terdiam. Ia bisa saja menolak, tapi ia juga tahu bahwa menghindar selamanya bukanlah solusi. Mrs. Bonny b
"Pada siapa?"Ekspresi bingung membuat alis Luna berkerut. "Pada siapa?" ulangnya dengan suara ragu. Namun, Mrs. Bonny hanya duduk dengan sabar, menunggu Luna memberikan jawaban."Pada... padaku?" tanya Luna dengan suara kecil yang dipenuhi keraguan."Dan?"Luna menelan ludah. Kata-kata itu terasa berat untuk diucapkan. "Dan pada ayah dari bayiku.""Ada lagi yang lain?""Memangnya siapa lagi?"Hening. Suasana berubah sunyi untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Mrs. Bonny bersuara dengan nada pelan, "Bayimu?"Luna tersentak. "Bayiku?" Matanya melebar, seolah kata itu adalah sesuatu yang asing baginya. "Semua ini bukan salahku!""Tentu saja bukan," ujar Mrs. Bonny tenang. "Tapi aku pikir kau mungkin akan tetap memikirkan bayi itu. Mungkin karena kehadirannya membuatmu harus meninggalkan sekolah, atau setidaknya memperlambat langkahmu hingga kau bingung akan tujuan hidupmu."Luna menggeleng kuat. "Aku bukan orang seperti itu!"Mrs. Bonny hanya menghela napas. "Mungkin sekarang tidak, t
Luna bertanya-tanya apakah ayahnya yang telah melakukan itu. Clay memelototkan mata, memerangkap Luna sehingga ia hanya bisa melihat wajah pria itu atau sweater berwarna tembaga yang ada di depan matanya. Luna memilih untuk menatap sweater pria itu. "Lupakan saja. Ayahmu mengancamku, dan ancaman itu bisa mengakhiri karierku di bidang hukum. Sesuatu harus dilakukan untuk menghentikannya. Aku mendapatkan ide untuk memberikan pembalasan pada ayahmu, seperti yang juga kau inginkan. Sekarang, bisakah kita membahas alternatif yang masuk akal?" Mata Luna terpejam ia tidak mampu berpikir cukup cepat. "Dengar, aku harus pergi sekarang, sungguh. Tapi, aku akan meneleponmu malam ini. Kita bisa membicarakannya saat itu." Sesuatu mengatakan kepada Clay untuk tidak mempercayai Luna sepenuhnya, tapi ia tidak bisa terus memerangkap Luna di sana untuk selamanya. Bisa saja, ia lakukan hal yang menyebabkan Luna tetap bertahan di sana untuk sementara waktu. Ia sadar bisa dengan mudah mencari tahu di
Rambut hitam Luna bergerak ke kanan dan kiri, dia terus melangkah dengan cepat. Merasa kesal karena Luna tidak mau berhenti, Clay kembali menarik tangan wanita itu dan memaksa Luna berhenti. "Aku lelah bermain kejar-kejaran denganmu, kali ini bisakah kau berhenti?" tekan Clay. Luna menolehkan kepalanya dengan marah, dia berdiri di depan Clay sambil melotot. Terlihat Luna tidak bisa ke mana-mana lagi, selain mengikuti perintah Clay. Saat itulah, Clay melepas cengkeraman di lengan Luna setelah yakin bahwa wanita itu tidak akan melarikan diri lagi. "Aku menitipkan pesan pada sepupumu agar kau bisa menghubungiku, apa kau tidak menerima pesan itu?" tanya Clay. Tapi bukannya menjawab, Luna justru mengoceh tidak jelas. "Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu secepat ini, aku pikir kampus ini cukup luas untuk kita berdua. Aku akan terus menghargaimu jika kau merahasiakan keberadaanku di kampus ini." "Baiklah, aku juga akan menghargai permintaanmu jika saja kau mau memberiku waktu
Clay mengalihkan pandangan ke arah seberang jalan untuk membebaskan mata dan pikirannya dari delusi. Namun, semua itu tidak ada gunanya. Beberapa saat kemudian, dia kembali mendapati dirinya mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Dia mencari wanita bersweter putih dengan rambut pirang yang tergerai di punggung. Sayangnya, wanita itu sudah pergi. Terdengar konyol memang, tapi Clay tidak bisa memikirkan hal lain kecuali Luna. Pada akhirnya, Clay mengikuti kata hati dengan menerobos kerumunan orang di depannya. Hingga sesaat kemudian, netra Clay menangkap sosok wanita yang memiliki postur tubuh sama persis seperti Luna, hanya saja warna rambutnya yang berbeda. Jika itu Luna, dia berpikir tidak mungkin Luna akan mewarnai rambutnya menjadi hitam. Clay memilih mengikuti langkah wanita itu dengan jarak yang aman, agar tidak terlalu mencurigakan. Saat wanita itu sampai ke jalan raya, dia terlihat ragu-ragu untuk menyeberang. Selang beberapa detik, ketika wanita itu mulai melangkah
Kali kejadiannya sangat cepat, sehingga Clay tidak bisa melihat apa-apa. Clay keluar dari mobil setelah pulang dari restoran, tanpa melihat ke depan tiba-tiba muncul bayangan besar dari belakang bangunan megah di depannya. Lengan Clay di tarik dengan kasar, lalu di lempar ke samping mobilnya di susul tinjuan keras yang menghantam perutnya. Tidak meninggalkan bekas, tapi cukup untuk membuatnya kesulitan bernapas. Tubuh Clay jatuh tersungkur ke tanah dalam posisi berlutut. Di sela-sela rasa sakit yang dia alami, Clay mendengar suara serak di depannya. "Itu dari Orlando. Dia kabur ke negara seberang." Setelah melempar surat ke arah Clay, orang itu pergi begitu saja dan menghilang di kegelapan malam. *** Keesokan harinya, Ruby langsung menghubungi Luna. Dia tidak sabar untuk memberitahu sepupunya itu tentang kejadian semalam di pesta. Begitu sambungan telepon terhubung, Ruby langsung berkata dengan napas sedikit terengah. "Lun, kau harus tahu. Aku bertemu dengannya di pesta s
Venus diam sejenak, dia bisa melihat betapa frustasinya Clay saat ini. Namun, dia sendiri merasa marah karena pria itu mengambil kesimpulan sepintas hingga membuatnya terjebak dalam masalah. "Kau membuatnya hamil karena bertengkar denganku, apa kau sadar sikapmu itu sangat menyakitiku, Clay?" "Aku tahu, aku sudah menebak kau akan bersikap seperti ini. Aku memang pantas mendapatkannya. Seluruh situasi yang menyedihkan ini adalah kesalahan yang fatal. Ayah wanita itu sangat gila, dia bahkan melakukan segala cara untuk meraih keuntungan." Clay menggenggam tangan Venus semakin erat. "Percayalah padaku, baik aku mau pun wanita itu. Kami tidak mau berurusan dengan satu sama lain, tapi ada, katakanlah mungkin ada situasi mendesak yang harus membuatku memintanya menikah denganku." Mendengar itu, Venus tertawa sinis. "Oh, dia pasti akan sangat senang karena mendapatkan mu. Di dunia ini siapa yang tidak ingin memilikimu? hampir semua wanita ingin memilikimu, Clay." Clay menghela napas panj
Jari-jari tangan Venus yang lentik serta memiliki kuku yang indah dan terawat sehingga tampak mengkilat, ketika wanita itu memainkan gelasnya, keanggunan Venus ketika bersandar di kursi, dengan satu lengan yang di letakan di kursi yang dia duduki. Venus seperti berlian murni sepuluh karat, wanita itu memang di takdirkan berada di tempat seperti ini di kelilingi kemewahan dan kekayaan. Berbeda dengan Luna Orlando, jika Clay membawa Luna ke tempat seperti ini, wanita itu pasti akan terlihat seperti mute plastik yang di tempatkan di kotak emas. Namun, Venus... dia memiliki aura yang tidak bisa Clay tampik. Wanita itu selalu menjunjung tinggi harga diri dan martabatnya, hal itulah yang membuat Clay mengaguminya. "Malam ini, kau sangat cantik, Venus." Puji Clay, tapi terdapat kesan menyakitkan dari cara bicara Clay. "Terima kasih, tapi malam ini pujian itu tidak berarti karena kau mengatakannya dengan nada seperti itu, belum lagi tatapan matamu yang aneh, lain halnya kalau kau meng
"Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Clay. Hening. Ruby tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia mengamati Clay lebih seksama dan saat itulah dia menyadari kantung mata yang menghitam di bawah kelopak mata pria itu. "Masih sama seperti sebelumnya." Jawab Ruby setelah bungkam beberapa saat. Tatapan Clay kembali mengarah pada Venus, lalu kembali lagi pada Ruby. "Aku belum pernah mendapat telepon darinya, apa kau sudah menyampaikan pesanku padanya?" "Ya, aku sudah mengatakannya." "Bisakah... kau memintanya untuk menghubungiku segera mungkin?" "Dia tidak tertarik, aku sudah membujuknya." Jawab Ruby jujur. Hingga tiba-tiba, seseorang di belakang Ruby tanpa sengaja mendorong gadis itu hingga bergeser lebih dekat ke arah Clay. Tidak ingin membuang kesempatan, Clay menggunakan kesempatan itu untuk mendesak Ruby, "Katakan padanya, jika ada masalah serius. Aku harus bicara dengannya." Namun, pada saat itu Venus kembali ke sisi Clay, menggandeng lengan pria itu dengan mesra. Kuku Ve