Hening sejenak, Luna awalnya sudah tidak ingin berdebat dengan pria itu. Sangat melelahkan untuknya beradu argumen dengan Clay, tapi komentar pedas Clay berhasil membuat amarah Luna tidak lagi terbendung.
Dengan gerakan cepat, dia membalikan tubuhnya lalu memberikan pukulan keras di tengah tulang dada Clay. Akibat tidak waspada, Clay terkesiap dan terhuyung ke belakang. "Aduh, itu sakit, sialan!" "Wow, yang benar saja! memuakan sekali bicara denganmu, kau sendiri yang pikun dan melupakan kejadian itu. Bisa-bisanya sekarang kau menuduhku berbohong? dasar kau bandot egois!" Sambil mengusap dadanya yang sakit, Clay bergumam. "Apa kau selalu seperti ini?" Luna mengedikan kedua bahunya, "Aku tak tak tahu. Ini pertama kalinya aku memukul pria. Bukankah kau sudah terbiasa dengan pukulan kecil seperti itu, ketika pacarmu hamil? atau bagaimana reaksi mereka?" Dengan hati-hati Clay menjaga jarak dengan Luna, dia tidak ingin mendapat pukulan untuk yang kedua. "Bagaimana jika sekarang kita berhenti saling menghina, oke? lupakan saja tentang sejarah malam panas kita, dan hadapi fakta bahwa kita melakukan kencan buta." "Kau yang mulai duluan!" Clay mengangguk, "Ya, aku yang mulai. Jadi... sekarang bisakah kita diskusi? malam itu kita berdua sama-sama minum alkohol terlalu banyak, kau bilang kau masih perawan tapi di sisi lain kau tidak bisa membuktikan bahwa anak yang kau kandung adalah anakku." "Tanggal bisa menjadi bukti. Menurut perkiraan, bayi ini akan lahir pada bulan april tanggal empat." Luna menarik napas kasar kemudian membuangnya melalui hidung. "Hanya itu bukti yang aku miliki untuk menegaskan bahwa kaulah ayahnya." "Maafkan aku jika aku keterlaluan, tapi karena kau bilang tidak menginginkan apa-apa dariku, mengapa sekarang kau berusaha begitu keras untuk meyakinkan aku?" tanya Clay di selimuti kebingungan. "Aku hanya.... aku... awalnya aku tidak ada niat untuk meyakinkanmu, sampai kau mengatakan jika mungkin saja aku hamil dengan pria lain. Aku melakukannya hanya untuk membela diri, tidak lebih dari itu." Sesaat Luna tersadar bahwa semakin lama dia terdengar semakin memohon untuk di akui, akhirnya Luma bergumam, "Sial, mengapa aku harus menyia-nyiakan napas untuk berdebat denganmu!" Luna kembali berbalik ke arah jalanan, meninggalkan Clay dengan suara langkah kakinya yang semakin jauh. Kali ini, Clay membiarkan Luna. Dia berdiri di sana dalam kegelapan dengan satu tangan di masukan ke dalam saku celananya. Dia berpikir jika Luna merupakan wanita yang paling mengesalkan yang pernah dia temui, membuatnya frustasi dalam hitungan detik. Terlebih saat dia teringat bahwa dia telah bercinta dengan wanita itu! kemudian, dengan senyum pedih, Clay mengoreksi ucapannya sendiri. Mengubah kata bercinta menjadi berhubungan badan, dengan wanita itu. Clay mendengarkan langkah Luna yang semakin jauh sambil berpikir, dia ingin mengucapkan kata selamat tinggal pada wanita menyebalkan itu. Namun, pada akhirnya dia tidak bisa membiarkan Luna pergi begitu saja di tengah malam begini. "Luna! berhenti, jangan bodoh kau bisa jatuh jika berjalan seperti ini!" bujuk Clay. Hal itu membuat ego Luna lebih terluka, saat dia terus menyusuri jalanan berbatu tanpa merespon ucapan Clay. "Berhenti, Luna. Kita hanya berjarak dua mil dari rumahku, dan hanya tuhan yang tahu seberapa jauh rumahmu dari tempat ini. Cepat kembali ke sini." Seru Clay lagi. Malam yang sunyi menggemakan suara Luna. "Terserah padamu, Clay Ganeston!" Clay mengumpat, dia masuk kembali ke dalam mobil, memutar kunci sangat keras hingga nyaris membuat kunci itu patah. Kemudian, lampu sorot menyala, berbalik dan mobil miliknya melaju menuruni bukit, mengikuti Luna yang masih melanjutkan jalan kakinya. Clay melewati Luna hingga menyebarkan debu dan batu kerikil, sekitar enam puluh kaki di depan Luna, di bawah kaki bukit tempat mereka kini berada, Clay menghentikan mobilnya. Dia membiarkan lampu sorot tetap menyala, di ikuti beberapa lampu interior yang menyala saat Clay keluar dari mobilnya. Dia berdiri di depan pintu sambil menopangkan siku pada bagian atas pintu, dan berdiri menunggu Luna. Dia yakin, wanita itu akan mengabaikannya lagi, tapi Clay tidak akan membiarkannya. Saat Luna tiba di depannya, Clay merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi langkah wanita tersebut, "Masuk, dasar kau wanita keras kepala," ujar Clay. "Aku tidak akan meninggalkan mu di sini, tidak peduli seberapa besar aku tidak menyukaimu." Cahaya dari lampu mobil menerangi wajah Luna yang merah padam, saat wanita itu menggigit bibir bagian dalam dan mengangkat sebelah alisnya meremehkan Clay. "Aku pasti sudah tidak waras sampai mau datang ke rumahmu. Seharusnya, aku sadar tidak ada gunanya melakukan semua ini." "Kalau begitu, kenapa kau tetap melakukannya?" desak Clay, dia memegangi lengan Luna dengan jarak yang cukup jauh hingga wanita itu tidak mungkin bisa memukulnya lagi. Luna menatap lekat netra abu-abu milik Clay, "Karena... aku pikir orang tuamu tidak pantas mendapatkan perlakuan kasar dari ayahku. Aku benar-benar berpikir jika aku ikut, aku bisa menghindarkan orang tuamu dari ketidaknyamanan yang tidak pantas mereka terima." Sudut bibir Clay terangkat, membentuk seringai. "Kau pikir aku bisa mempercayainya?" "Aku tidak peduli mau kau percaya atau tidak, sekarang lepaskan tanganku, Clay Ganeston!" Luna menarik paksa tangannya, dia berbalik dengan cepat. Luna menghela napas kasar, lalu kembali bicara. "Kau sudah lihat sendiri sikap ayahku, tidak butuh waktu lama untuk menebak apa yang dia inginkan. Ayahku orang yang sudah kecanduan alkohol, dia kejam, perusak, dan pemalas. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan." Clay terkejut sebab Luna membuka aib ayahnya di depannya, "Mengapa kau mengatakan itu padaku?" "Karena, ayahku menargetkan keluargamu untuk meraup keuntungan selama sisa hidupnya." Jawab Luna lirih.Wajah Clay berubah pias, bukan hanya terkejut mendengar pengakuan Luna. Dia juga tak menyangka jika wanita itu akan berkata demikian tentang ayahnya, kebencian terasa begitu jelas saat Luna mengatakan tentang ayahnya. "Lantas, apa yang di inginkan ayahmu dari keluargaku?" Clay kembali bertanya. Luna memikirkannya sejenak, dia mempertimbangkan pada akhirnya dia memilih untuk bicara terus terang. "Uang." Luna bisa melihat mimik wajah Clay tampak syok, bibirnya sedikit terbuka dan kedua bola matanya melotot seakan dia sedang memastikan pendengaran. Clay mengamati Luna melalui cahaya remang-remang yang berasal dari mobil, lalu berseru, "Kau mengakuinya?" "Tentu saja aku mengakuinya. Sangat bodoh jika aku tidak bisa melihat apa yang ayahku inginkan. Dia mencium uang dari situasi ini, selama ini dia tidak pernah merasa cukup dengan uang." Luna menjeda sejenak ucapannya, dia menghela napas panjang dan kembali melanjutkan ucapannya. "Dia berpikir bisa memanfaatkan situasi saat ini untu
Clay mengerang pelan, dia mengusak rambutnya dengan kasar. "Ya tuhan..." "Ya," ulang Luna setengah menyindir. "Ya tuhan..." "Jadi, kau bisa mengingat malam itu lebih baik dari pada aku?" saat ini dia merasa malu pada dirinya sendiri. Luna mengedikan kedua bahunya, "Aku tidak berbeda dengan gadis lain, itu merupakan pengalaman pertamaku. Tidak mudah bagiku melupakannya, atau menganggap kejadian itu tidak pernah ada." Kebisuan kembali terasa di antara mereka, ketenangan Luna sirna dalam hitungan detik. Dia merasakan simpati dari tatapan Clay, dan itu membuatnya gelisah. Setelah beberapa saat berlalu Clay berhasil mengendalikan rasa terkejutnya. Dia menghela napas dan menopangkan sebelah sikunya di tepi kaca jendela, Clay memiringkan wajah lalu memijit pangkal hidungnya. Kebisuan yang semakin menghimpit, menjadi menyakitkan dengan bayangan yang melintas di kelapa mereka. Pada akhirnya Clay memaksakan pikirannya kembali pada kenyataan, aspek ancaman yang ayah Luna katakan sang
Clay menarik napas panjang, dan membuangnya melalui hidung dengan kasar. "Pembicaraan ini sudah melenceng dari masalah yang kau abaikan.""Aku yakin, itu adalah masalah yang kau abaikan." Sahut Luna tak mau kalah."Biasanya wanita lebih teliti, dan melakukan pencegahan lebih dulu. Jadi, secara otomatis aku menduga...""Biasanya?" Luna melemparkan tangannya ke udara, dan kembali bicara dengan nada jengkel. "Jadi, kau ingin mengatakan semua ini salahku?""Bukan begitu, biar aku jelas..."Namun, kali ini Luna memotong ucapan Clay. "Aku sudah bilang padamu, itu pengalaman pertamaku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menggunakan alat kontrasepsi!""Jangan berharap aku akan mempercayai ucapanmu! sekarang zaman sudah canggih, yang perlu kau lakukan hanya mencari di internet dan mempelajarinya. Atau kau belum mendengar jika sudah lama wanita menggunakannya? hanya wanita yang memiliki akal sehat, yang selalu mengantisipasi pengalaman pertama mereka, andai saja kau melakukan hal yang sama
Clay mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, menambah kecepatan dan melewati jalanan yang mulai sepi. Luna bersandar, tanpa mengeluarkan suara setelah perdebatan tadi. Dia merasa kehilangan arah, Luna menatap pepohonan yang berlalu seiring dengan mobil yang terus bergerak. Mobil Clay melambat, berbelok, dan menyusuri jalanan tempat rumahnya berada."Apa menurutmu, orang tuamu masih ada di rumahku?" tanya Clay."Entahlah, orang gila seperti ayahku kemungkinan besar akan bertahan di sana.""Sepertinya mereka sudah pergi," ujar Clay, begitu menyadari mobil sedan di depan rumahnya sudah tidak ada."Kalau begitu, antarkan aku ke rumah saja," kata Luna, kemudian dia menambahkan sambil menatap ke luar jendela mobil. "Aku benar-benar minta maaf harus melibatkanmu."Clay berhenti ketika berada di lampu merah, dia duduk menunggu dengan pura-pura sabar. Saat Luna terus diam dan hanya menatap ke luar jendela, Clay terpaksa mengajukan pertanyaan, "Lewat mana arah rumahmu?"Di bawah cahaya lampu
Keheningan kembali melanda, Clay merasa tidak bisa membiarkan wanita itu pergi begitu saja. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa pun."Apa aku bisa tetap memberimu uang?" tanya Clay, suaranya sangat rendah hampir seperti berbisik."Tidak, aku sungguh tidak menginginkan apa pun darimu, entah kau mau percaya atau tidak itu semua terserah padamu."Kali ini, Clay mempercayainya. Tekad Luna bukan hanya di bibir, tapi wanita itu benar-benar menerapkan ucapannya tanpa berniat untuk berubah pikiran."Seandainya... kau berubah pikiran, apa... kau mau menghubungiku?""Aku tidak akan berubah pikiran," Luna menggeser posisinya lebih jauh sampai Clay tidak bisa lagi menyentuhnya.Clay menatap Luna yang sudah membuka pintu mobil, "Semoga beruntung.""Iya, kau juga." Jawab Luna begitu turun dari mobilnya.Saat Luna hendak menutup pintu, Clay kembali memanggilnya. "Itu... apa marga keluargamu?""Orlando. Itu nama keluargaku, nama yang sangat biasa hingga mudah sekali terlupakan."Setelah mengatakan hal t
Clay menarik napas panjang, dia menatap ke arah ayahnya dengan pandangan sayu. "Dia..." "Mungkin saja hati nuraninya bergerak, setelah dia menyalahkan putra kita." Potong Vivian cepat. "Ibu." Clay menghela napas sambil menatap ibunya. Betapa pucat wajah ibunya saat ini, setelah make up terlepas dari wajahnya. Perasaan Clay di selimuti rasa bersalah karena sudah mengecewakan hati ibunya, Clay beranjak mendekati kursi ibunya. Mengulurkan kedua tangan dan menggenggam tangan ibunya dengan lembut. "Ibu, aku tidak mungkin bisa menjadi pengacara, jika aku tidak bisa menginterogasi saksi dengan baik, iya kan?" tanya Clay dengan lembut. "Jika secara jujur aku bisa mengatakan bahwa bayi itu bukan anakku, aku sudah pasti mengatakannya padamu. Tapi... aku tidak bisa, aku memiliki alasan yang kuat bahwa bayi yang di kandung Luna memang anakku." Mata Vivian yang terkejut menyorotkan kekecewaan pada putranya, "Tapi, Clay. Kau tidak tahu apa-apa tentang wanita itu. Bagaimana kau bisa yakin
Suasana mendadak hening, Clay tidak bisa menyangkal tuduhan ayahnya. Bahkan Luna sendiri sudah membenarkan hal itu."Ayah tidak bertanggung jawab atas tindakanku." Sahut Clay sarkas."Benar, aku memang tidak bertanggung jawab. Tapi, apa kau berpikir alasan seperti itu bisa di terima oleh pria seperti Santo Orlando? dia menginginkan ganti rugi atas hilangnya keperawanan putrinya, dia pasti tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.""Apa, pria itu menyebutkan berapa jumlah uang yang dia inginkan pada Ayah?" tanya Clay, meski dia sendiri takut mendengar jawabannya."Tidak, cukup di lihat dari tingkahnya saja aku sudah bisa menebak jika di kepala pria itu tertulis nominal yang sangat besar. Dan, ada hal lain yang harus di pertimbangkan." Tatapan Theodore yang di berikan pada istrinya, mengatakan bahwa Vivian juga mengetahuinya."Aku sedang di dekati oleh anggota partai politik setempat, mereka menginginkan aku agar mencalonkan diri sebagai jaksa wilayah. Aku belum
Theodore menatap dalam mata Vivian yang berkilau oleh kepedihan, mata itu berbentuk oval dengan warna hazel yang hangat. Tanpa make up sekalipun wajah Vivian sudah sangat cantik menurut Theodore, make up yang hampir setiap hari melekat di wajah istrinya semakin memperindah wanita itu. Theodore Ganeston, di usianya yang menginjak lima puluh enam tahun masih dan selalu menyukai mata itu meski tanpa make up sekalipun. Perasaannya masih sama seperti saat usia mereka masih berkepala dua, dan istrinya sering menggunakan mata itu untuk merayunya ketika sedang merajuk. Theodore mengelus hangat tangan Vivian, dia tidak perlu menjawab. Dia tunduk pada penilaian istrinya, dan memberi penegasan cintanya pada Vivian dengan usapan lembut dari tangannya. Clay merasakan kuatnya cinta yang terpancar dari orang tuanya, cinta itu tak pernah luntur selalu terpancar selama yang bisa dia ingat. Apa yang sedang dia lihat di depannya, adalah hal yang selama ini Clay inginkan dari seorang wanita. Dia in
Luna termenung di kamarnya, percakapan dengan Mrs. Bonny masih terngiang-ngiang di kepalanya, selama ini dia sudah kabur dan terus mencoba menghindari Clay. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Luna bingung. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang tertera di layar membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Luna menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Selama ini ia terus berusaha menjauh, tapi sekarang sepertinya Clay sendiri yang menghubunginya. Apakah ini pertanda ia tak bisa lagi menghindar? Dengan ragu, Luna menggeser layar dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo?" Suara di seberang terdengar rendah, tapi jelas. "Luna, kita perlu bicara. Aku ingin bertemu denganmu." Luna menelan ludah, hatinya berdebar. "Tentang apa?" "Aku janji, ini tidak akan lama. Temui aku di kafe dekat taman jam tujuh malam," ucap Clay, nadanya sedikit memohon. Luna terdiam. Ia bisa saja menolak, tapi ia juga tahu bahwa menghindar selamanya bukanlah solusi. Mrs. Bonny b
"Pada siapa?"Ekspresi bingung membuat alis Luna berkerut. "Pada siapa?" ulangnya dengan suara ragu. Namun, Mrs. Bonny hanya duduk dengan sabar, menunggu Luna memberikan jawaban."Pada... padaku?" tanya Luna dengan suara kecil yang dipenuhi keraguan."Dan?"Luna menelan ludah. Kata-kata itu terasa berat untuk diucapkan. "Dan pada ayah dari bayiku.""Ada lagi yang lain?""Memangnya siapa lagi?"Hening. Suasana berubah sunyi untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Mrs. Bonny bersuara dengan nada pelan, "Bayimu?"Luna tersentak. "Bayiku?" Matanya melebar, seolah kata itu adalah sesuatu yang asing baginya. "Semua ini bukan salahku!""Tentu saja bukan," ujar Mrs. Bonny tenang. "Tapi aku pikir kau mungkin akan tetap memikirkan bayi itu. Mungkin karena kehadirannya membuatmu harus meninggalkan sekolah, atau setidaknya memperlambat langkahmu hingga kau bingung akan tujuan hidupmu."Luna menggeleng kuat. "Aku bukan orang seperti itu!"Mrs. Bonny hanya menghela napas. "Mungkin sekarang tidak, t
Luna bertanya-tanya apakah ayahnya yang telah melakukan itu. Clay memelototkan mata, memerangkap Luna sehingga ia hanya bisa melihat wajah pria itu atau sweater berwarna tembaga yang ada di depan matanya. Luna memilih untuk menatap sweater pria itu. "Lupakan saja. Ayahmu mengancamku, dan ancaman itu bisa mengakhiri karierku di bidang hukum. Sesuatu harus dilakukan untuk menghentikannya. Aku mendapatkan ide untuk memberikan pembalasan pada ayahmu, seperti yang juga kau inginkan. Sekarang, bisakah kita membahas alternatif yang masuk akal?" Mata Luna terpejam ia tidak mampu berpikir cukup cepat. "Dengar, aku harus pergi sekarang, sungguh. Tapi, aku akan meneleponmu malam ini. Kita bisa membicarakannya saat itu." Sesuatu mengatakan kepada Clay untuk tidak mempercayai Luna sepenuhnya, tapi ia tidak bisa terus memerangkap Luna di sana untuk selamanya. Bisa saja, ia lakukan hal yang menyebabkan Luna tetap bertahan di sana untuk sementara waktu. Ia sadar bisa dengan mudah mencari tahu di
Rambut hitam Luna bergerak ke kanan dan kiri, dia terus melangkah dengan cepat. Merasa kesal karena Luna tidak mau berhenti, Clay kembali menarik tangan wanita itu dan memaksa Luna berhenti. "Aku lelah bermain kejar-kejaran denganmu, kali ini bisakah kau berhenti?" tekan Clay. Luna menolehkan kepalanya dengan marah, dia berdiri di depan Clay sambil melotot. Terlihat Luna tidak bisa ke mana-mana lagi, selain mengikuti perintah Clay. Saat itulah, Clay melepas cengkeraman di lengan Luna setelah yakin bahwa wanita itu tidak akan melarikan diri lagi. "Aku menitipkan pesan pada sepupumu agar kau bisa menghubungiku, apa kau tidak menerima pesan itu?" tanya Clay. Tapi bukannya menjawab, Luna justru mengoceh tidak jelas. "Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu secepat ini, aku pikir kampus ini cukup luas untuk kita berdua. Aku akan terus menghargaimu jika kau merahasiakan keberadaanku di kampus ini." "Baiklah, aku juga akan menghargai permintaanmu jika saja kau mau memberiku waktu
Clay mengalihkan pandangan ke arah seberang jalan untuk membebaskan mata dan pikirannya dari delusi. Namun, semua itu tidak ada gunanya. Beberapa saat kemudian, dia kembali mendapati dirinya mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Dia mencari wanita bersweter putih dengan rambut pirang yang tergerai di punggung. Sayangnya, wanita itu sudah pergi. Terdengar konyol memang, tapi Clay tidak bisa memikirkan hal lain kecuali Luna. Pada akhirnya, Clay mengikuti kata hati dengan menerobos kerumunan orang di depannya. Hingga sesaat kemudian, netra Clay menangkap sosok wanita yang memiliki postur tubuh sama persis seperti Luna, hanya saja warna rambutnya yang berbeda. Jika itu Luna, dia berpikir tidak mungkin Luna akan mewarnai rambutnya menjadi hitam. Clay memilih mengikuti langkah wanita itu dengan jarak yang aman, agar tidak terlalu mencurigakan. Saat wanita itu sampai ke jalan raya, dia terlihat ragu-ragu untuk menyeberang. Selang beberapa detik, ketika wanita itu mulai melangkah
Kali kejadiannya sangat cepat, sehingga Clay tidak bisa melihat apa-apa. Clay keluar dari mobil setelah pulang dari restoran, tanpa melihat ke depan tiba-tiba muncul bayangan besar dari belakang bangunan megah di depannya. Lengan Clay di tarik dengan kasar, lalu di lempar ke samping mobilnya di susul tinjuan keras yang menghantam perutnya. Tidak meninggalkan bekas, tapi cukup untuk membuatnya kesulitan bernapas. Tubuh Clay jatuh tersungkur ke tanah dalam posisi berlutut. Di sela-sela rasa sakit yang dia alami, Clay mendengar suara serak di depannya. "Itu dari Orlando. Dia kabur ke negara seberang." Setelah melempar surat ke arah Clay, orang itu pergi begitu saja dan menghilang di kegelapan malam. *** Keesokan harinya, Ruby langsung menghubungi Luna. Dia tidak sabar untuk memberitahu sepupunya itu tentang kejadian semalam di pesta. Begitu sambungan telepon terhubung, Ruby langsung berkata dengan napas sedikit terengah. "Lun, kau harus tahu. Aku bertemu dengannya di pesta s
Venus diam sejenak, dia bisa melihat betapa frustasinya Clay saat ini. Namun, dia sendiri merasa marah karena pria itu mengambil kesimpulan sepintas hingga membuatnya terjebak dalam masalah. "Kau membuatnya hamil karena bertengkar denganku, apa kau sadar sikapmu itu sangat menyakitiku, Clay?" "Aku tahu, aku sudah menebak kau akan bersikap seperti ini. Aku memang pantas mendapatkannya. Seluruh situasi yang menyedihkan ini adalah kesalahan yang fatal. Ayah wanita itu sangat gila, dia bahkan melakukan segala cara untuk meraih keuntungan." Clay menggenggam tangan Venus semakin erat. "Percayalah padaku, baik aku mau pun wanita itu. Kami tidak mau berurusan dengan satu sama lain, tapi ada, katakanlah mungkin ada situasi mendesak yang harus membuatku memintanya menikah denganku." Mendengar itu, Venus tertawa sinis. "Oh, dia pasti akan sangat senang karena mendapatkan mu. Di dunia ini siapa yang tidak ingin memilikimu? hampir semua wanita ingin memilikimu, Clay." Clay menghela napas panj
Jari-jari tangan Venus yang lentik serta memiliki kuku yang indah dan terawat sehingga tampak mengkilat, ketika wanita itu memainkan gelasnya, keanggunan Venus ketika bersandar di kursi, dengan satu lengan yang di letakan di kursi yang dia duduki. Venus seperti berlian murni sepuluh karat, wanita itu memang di takdirkan berada di tempat seperti ini di kelilingi kemewahan dan kekayaan. Berbeda dengan Luna Orlando, jika Clay membawa Luna ke tempat seperti ini, wanita itu pasti akan terlihat seperti mute plastik yang di tempatkan di kotak emas. Namun, Venus... dia memiliki aura yang tidak bisa Clay tampik. Wanita itu selalu menjunjung tinggi harga diri dan martabatnya, hal itulah yang membuat Clay mengaguminya. "Malam ini, kau sangat cantik, Venus." Puji Clay, tapi terdapat kesan menyakitkan dari cara bicara Clay. "Terima kasih, tapi malam ini pujian itu tidak berarti karena kau mengatakannya dengan nada seperti itu, belum lagi tatapan matamu yang aneh, lain halnya kalau kau meng
"Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Clay. Hening. Ruby tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia mengamati Clay lebih seksama dan saat itulah dia menyadari kantung mata yang menghitam di bawah kelopak mata pria itu. "Masih sama seperti sebelumnya." Jawab Ruby setelah bungkam beberapa saat. Tatapan Clay kembali mengarah pada Venus, lalu kembali lagi pada Ruby. "Aku belum pernah mendapat telepon darinya, apa kau sudah menyampaikan pesanku padanya?" "Ya, aku sudah mengatakannya." "Bisakah... kau memintanya untuk menghubungiku segera mungkin?" "Dia tidak tertarik, aku sudah membujuknya." Jawab Ruby jujur. Hingga tiba-tiba, seseorang di belakang Ruby tanpa sengaja mendorong gadis itu hingga bergeser lebih dekat ke arah Clay. Tidak ingin membuang kesempatan, Clay menggunakan kesempatan itu untuk mendesak Ruby, "Katakan padanya, jika ada masalah serius. Aku harus bicara dengannya." Namun, pada saat itu Venus kembali ke sisi Clay, menggandeng lengan pria itu dengan mesra. Kuku Ve