“Jangan buru-buru! Masalah hari ini cukup menguntungkan bagi kita!”“Emm?”“Coba kamu pikir dulu. Kalau jadi kamu, nyawamu hampir dikorbankan demi menyelamatkan anak yang nggak kamu kenal, apa kamu masih akan menyelamatkan anak itu lagi?”Jessica mengejapkan matanya tanda dirinya merasa bingung.Clara melanjutkan, “Setelah kejadian kali ini, Naomi pasti nggak berani menghiraukan Rayden lagi. Siapa juga yang akan bercanda dengan nyawa sendiri?”Jessie kembali mengedipkan matanya. Akhirnya dia mengerti!“Oh, ya! Asalkan Naomi nggak bersedia untuk mengobati Rayden lagi, Caden juga nggak akan hiraukan dia lagi. Bisa jadi, Caden malah akan merasa marah karena dia nggak mengurus Rayden lagi!”“Betul! Makanya jangan buru-buru. Kita nggak usah melakukan apa pun, cukup duduk dan tunggu kabar baik saja. Setelah Naomi menghilang, aku akan cari cara supaya Caden memaafkanmu, memperlakukanmu seperti dulu lagi.”“Oke!”Pemikiran Clara juga sama dengan pemikiran anggota Keluarga Pangestu lainnya. Bah
Ketiga bocah cilik juga tidak berpikir kebanyakan. Setelah pulang sekolah, mereka pun meninggalkan sekolah sesuai dengan pesan.Teman-teman perempuan di taman kanak-kanak masih belum menyerah. Mereka terus memaksa orang tua ketiga bocah untuk melahirkan anak lagi.Setiap kali pulang sekolah, mereka selalu didesak berkali-kali. Bahkan, ada yang mengingatkan ketiga bocah untuk memberi tahu orang tua mereka, mesti melahirkan 9 anak laki-laki!Ketiga bocah cilik hanya bisa mengangguk dengan tidak berdaya.Guru juga melakukan sesuai yang dipesan Tiara. Dia mengantar anak-anak ke rumah, baru meninggalkan tempat.Setelah guru pulang, Braden pun berkata, “Kebetulan Mama lagi nggak ada di rumah. Sore hari nanti, Hayden temani aku untuk ambil barang.”“Barang apa?” tanya Hayden dengan penasaran.Braden menyipitkan matanya. “Barang yang bisa membuat Caden bercerai dengan Mama!”“Serius?”“Emm!”Jayden merasa penasaran. “Apa itu?”“Nanti kamu juga bakal tahu sendiri. Jayden, nanti aku dan Hayden k
Kening Hayden tampak berkerut. “Jangan sok misterius! Ngomong!”Orang tersebut mengenakan jubah panjang, lalu mengangkat tangannya menunjuk ke sisi mereka. “Bunuh! Bunuh! Bunuh!”Kedua bocah melihat ke arah yang ditunjuk orang misterius tersebut. Kemudian, mereka baru menyadari ada seseorang yang sedang berbaring di ujung sana. Seharusnya orang itu sedang pingsan. Dia tidak merespons sama sekali.Sementara itu, posisi orang itu kebetulan adalah posisi barang yang hendak diambil Braden! Barang yang hendak diambilnya ada di bawah tubuh orang tersebut!Braden mengernyitkan keningnya. Dia memberanikan diri untuk berjalan ke sana. Dia pergi melihat kondisi orang itu, sekalian mengambil barang tersebut.Orang bertopeng hantu tidak mengatakan apa pun. Dia hanya melihat Braden menggerakkan tubuh orang yang sedang berbaring di lantai sembari terkekeh.“Dia hanya lagi pingsan.” Braden kembali ke sisi Hayden.Tidak ada lampu jalan di sini. Langit juga agak gelap. Braden tidak dapat melihat wajah
Kedua abang beradik bergegas pulang ke rumah. Saat ini, mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengamati mereka dari bagian gelap di ujung sana. Orang yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam dan topeng menakutkan itu sedang bergumam sendiri, “Dasar bocah tengik, nggak patuh! Bocah tengik, nggak patuh!”Tiba-tiba seekor kucing liar menyelinap keluar rerumputan. Dia mengulurkan tangan untuk menangkap kucing itu. Tangannya sangat putih dan jari-jarinya sangat mulus. Dengan sekilas mata, dapat diketahui bahwa dia tidak pernah melakukan pekerjaan berat sebelumnya.Orang itu menggunakan sepasang tangan indahnya mengusap kepala kucing sembari bergumam, “Nggak patuh, mesti dipukul ….”“Krek!” Leher kucing liar itu dipatahkan. Mungkin karena terlalu mendadak, kucing liar tidak sempat menjerit dan meninggal begitu saja.Orang bertopeng hantu mengusapnya dengan lembut. Dia menggali sebuah lubang, lalu mengubur kucing itu dengan penuh hati-hati. Jelas-jelas dia sedang melakukan
“Makanya dia bukan menggugat anaknya Bu Naomi, melainkan menggugat Bu Naomi. Memang nggak ditemukan sidik jari Bu Naomi di tubuhnya, tapi ada sidik jari anaknya Bu Naomi. Jadi, Bu Naomi juga patut untuk dicurigai. Mengenai detailnya, semuanya masih dalam penyelidikan.”“Pergi ke sana dulu. Jangan sampai dia dibawa pergi polisi!”“Baik!”Saat ini, Braden sedang memendam amarah di hatinya, lalu menjelaskan kepada polisi dengan penuh kesabaran, “Semalam aku yang telepon polisi. Aku dan adikku pergi ke taman di saat mamaku nggak di rumah. Kami pun menyadari dia tergeletak pingsan di sana, makanya aku telepon polisi.”Polisi merasa kaget. “Kamu yang lapor polisi?”“Emm, kalau kalian nggak percaya, kalian bisa selidiki masalah ini.”“Kenapa saat kami nggak menemukan kalian ketika kami sampai di sana?”“Karena aku dan adik keluar rumah secara diam-diam. Kami takut ketahuan Mama, nantinya kami malah dimarahi. Jadi, kami pun bersembunyi di balik pohon. Kami baru pergi setelah pak polisi datang.
Suara jerit Naomi terdengar sangat tajam dan menusuk telinga.Braden berdiri di tengah hujan sembari membelalaki Naomi. Dia sungguh marah ketika melihat responsnya!Steven segera meredakan suasana tegang. “Bu Naomi, Kak Caden bisa datang ke sini karena mendengar kabar kalian dilaporkan ke polisi. Dia khawatir kalian nggak sanggup untuk menghadapi polisi.”“Kami nggak butuh bantuan dia! Sebelumnya duluan terjadi sesuatu sama aku. Sekarang bahkan anakku juga terlibat dalam masalah ini. Memangnya gara-gara siapa bisa terjadi masalah seperti ini? Kalau dia ingin membantu kami, seharusnya dia pergi jauh-jauh!” jerit Naomi.Caden sungguh emosi. Hanya saja, dia tidak bisa menemukan kata-kata untuk membantahnya.“Jauhi aku! Jauhi putraku!” Naomi mengusap air hujan di depan matanya. Selesai berbicara, dia langsung berjalan pergi.Saat berjalan ke sisi gerbang, Naomi berpesan kepada sekuriti, “Pak sekuriti, dia bukan penghuni kompleks ini. Mohon lain kali jangan izinkan dia masuk ke dalam komple
Naomi merasa takut ketika mendengar kemungkinan Caden adalah seorang pelaku pembunuhan. Naomi merasa takut ketika mendengar kemungkinan terjadi sesuatu terhadap Camila.Naomi merasa takut ketika dirinya hampir mati ditabrak mobil di jalan.Naomi merasa takut ketika menerima panggilan dari pihak kepolisian, mengatakan ditemukan sidik jari Braden, bahkan dirinya dituntut dengan pasal pembunuhan berencana.Namun, ketika rasa takut itu digabungkan, semuanya tidak bisa dibandingkan dengan apa yang Naomi lihat tadi! Ketika melihat Caden muncul di depan rumahnya tadi, Naomi hampir merasa sesak napas! Jarak Caden dengan Braden dan Hayden hanya dipisahkan oleh selembar pintu saja!Nyaris ….Seandainya Braden dan Hayden ketahuan oleh Caden, apa Naomi sanggup untuk berebut hak asuh dengannya?Ketika kepikiran kemungkinan Braden dan Hayden akan direbut, kemungkinan tidak bisa bertemu dengan Braden dan Hayden lagi, air mata spontan menetes dari sudut matanya ….Hati Naomi terasa sangat amat penat
Selesai Naomi membasuh wajahnya, dia pun berjalan keluar.Dalam sekilas mata, Leon dapat merasakan ada yang aneh dengan dirinya. “Apa yang terjadi? Kenapa raut wajahmu seburuk ini?”Naomi menatap Leon dengan ekspresi kalut, lalu berkata dengan tenang, “Nggak kenapa-napa, cuma lagi flu saja. Lagi nggak fit.”Leon merasa sangat khawatir. “Apa kamu sudah ke dokter? Belakangan ini lagi banyak yang tertular pneumonia dan influenza. Kalau kamu merasa nggak enak badan, segera lakukan pemeriksaan darah di rumah sakit. Biar dokter bisa bukain resep obat buat kamu.”“Aku sudah ke dokter semalam. Kondisiku nggak serius.” Naomi mempersilakan Leon untuk duduk, lalu mengalihkan topik ke diri Camila. “Apa belakangan ini kamu ada kabar dari Camila?”“Masih belum.”“Apa kamu terhubung dengan manajernya?”“Belakangan ini aku terus menghubunginya, tapi panggilanku nggak bisa terhubung. Manajernya itu bagai menghilang saja. Aku meminta bantuan temanku untuk menghubungi anggota keluarga manajernya. Tapi an
Ketika melihat Caden, Naomi terbengong sejenak. “Suamiku?”Caden melihat Naomi telah membuka matanya. Dia pun membalas dengan suara serak, “Emm, apa aku sudah membangunkanmu?”Naomi seperti tidak sedang mendengar saja. Dia mengusap wajah Caden. “Kamu memang suamiku. Aku memimpikanmu lagi.”Sambil berbicara, Naomi mendekati bibir Caden untuk menciumnya. Kemudian, dia tersenyum, seolah-olah telah mendapat keuntungan saja.Selesai mencium, Naomi memejamkan matanya, lalu memasukkan Caden ke dalam pelukannya. “Kupeluk.”Jakun Caden tidak berhenti bergerak. Dia memeluk Naomi dengan patuh.Naomi mencari posisi yang nyaman di dalam pelukan Caden, lalu mulai ketiduran.Caden terdiam membisu. Dia mengira Naomi sudah sadar, ternyata dia sedang mimpi.Caden berusaha untuk bersabar lagi, tidak menggoda Naomi. Dia memeluk Naomi yang sudah memejamkan matanya, lalu tidur bersamanya.Keesokan paginya.Setelah Naomi bangun, belum sempat dia meregangkan tubuhnya, dia pun menyadari ada yang aneh. Ada sese
Yang Caden pedulikan, yang sangat Caden pedulikan ….Orang yang sangat dipedulikan Caden sangatlah sedikit. Selain Naomi dan anak-anak yang muncul belakangan, orang tuanya yang sudah meninggal dini, Steven, dan Andrew, masih ada dia!Dylan, cuma dia saja!Namun sepertinya ada yang aneh. Dirinya mencurigai Dylan adalah orang misterius. Tidak mungkin dia menggunakan dirinya sendiri untuk mengancam Caden!Namun, siapa lagi kalau bukan dia?Caden tidak kepikiran lagi!Pada saat ini, kepala Caden berdengung. Dia tidak bisa berpikir dengan kepala dingin. Ketika melihat video yang ditinggalkan orang tuanya, Caden pun merasa kesal dan marah! Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman!Pada saat ini, Caden semakin kesal lagi dengan adanya telepon dari orang misterius!Rasa benci Caden terhadap orang misterius sudah memuncak. Dia ingin sekali langsung pergi ke hadapan orang misterius, lalu bertarung dengannya! Namun ketika kepikiran dengan akhirnya, Cade
Menyuruh Steven mengatasi masalah ini juga demi melindungi mereka.Steven memahami maksud Caden. Dia pun mengangguk. “Kamu pergi dengan tenang. Serahkan masalah di sini kepadaku!”Selesai membereskan barang, Caden mengenakan jaketnya, lalu berkata dengan raut dingin, “Setelah aku pergi, kamu langsung atur pengawal untuk beraksi. Berapa pun bukan masalah. Habisi mereka semua!”“Emm! Jaga dirimu!”Baru saja Caden pergi, Steven pun menerima panggilan dari pengawal. “Kak Steven, sudah terjadi sesuatu dengan Dinala. Seorang pria yang bernama Lojel mengancamnya dengan menggunakan adiknya. Sekarang dia sedang diinterogasi.”Kening Steven berkerut. “Apa Dinala terluka?”“Dia diculik oleh komplotan Lojel.”Amarah Steven meluap. “Bagaimana kalian mengawasinya?”Pengawal merasa tidak berdaya. “Lojel adalah temannya Dinala. Dia langsung pergi ke rumah Dinala. Kita juga nggak berhasil mewaspadainya, juga nggak berani bertindak gegabah.”Kening Steven berkerut. “Sekarang aku ke sana. Kalian cari kes
“Kak Caden, aku curiga ada pengkhianat dalam tim penjemputan! Pengkhianat itu diam-diam menghubungi Paman Darman dan juga Bibi Wanda, sedangkan Paman Darman dan Bibi Wanda nggak tahu mereka adalah pengkhianat. Mereka bertemu secara diam-diam, lalu memberikan virus palsu kepada mereka.”“Sementara, pengkhianat itu nggak tahu kalau virus itu palsu. Setelah mendapatkannya, mereka segera mengutus orang untuk membunuh Paman Darman dan Bibi Wanda! Saat menyadari virus itu palsu, Paman Darman dan Bibi Wanda sudah meninggal. Mereka sama sekali nggak bisa mencari tahu keberadaan virus asli. Jadi, mereka hanya bisa memfokuskan perhatian ke dirimu!”Steven mengepal erat tangannya sembari menganalisis dengan sangat gusar.Kening Caden berkerut. Raut wajahnya sangat muram. Sekeliling terasa dingin!Steven juga sudah mengerti. Dia juga semakin paham lagi. Tanpa perlu curiga lagi, kenyataan memang seperti itu!Tim yang ditugaskan untuk menjemput Darman dan Wanda saat itu tidak seperti yang dikatakan
“Karena aku dan mamamu khawatir ada pengkhianat. Nirman pernah mengingatkan kami untuk lebih berwaspada. Selain itu, kalau negara langsung mengambil tindakan, targetnya akan terlalu mencolok dan kemungkinan besar akan terdeteksi oleh Negara Amuriko.”“Jadi, kami berencana mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk membawa virus ini kembali ke negara kita terlebih dahulu. Sementara itu, kami akan membawa virus versi palsu untuk diserahkan kepada tim penjemput. Inilah yang kumaksud.”Darman mengangkat sebuah kotak kecil dan menunjukkannya ke depan kamera. Kotak itu hampir identik dengan yang ditemukan Caden.Darman membuka kotak. Di dalamnya terdapat sebuah tabung. “Ini yang palsu. Kalau semuanya berjalan lancar, setelah kami kembali dari luar negeri, aku akan segera kembali untuk mengambil yang asli dari Kota Amari, lalu menyerahkannya kepada negara.”“Kalau sampai aku dan mamamu mati, virus asli juga nggak akan jatuh ke tangan orang jahat! Caden, ingat, kalau terjadi sesuatu dengan a
Rekaman video lanjut diputar ….Darman menenangkan Wanda, lalu mulai menceritakan soal asal mula virus generasi ke-8.“Waktu itu karena tekanan Keluarga Pangestu, aku dan mamamu nggak memiliki tempat untuk tinggal di dalam negeri. Jadi, kami terpaksa memilih untuk menetap di luar negeri. Dari rekomendasi teman kami, kami pun datang ke Kota Karl.”“Kota Karl terletak di area pinggiran kota, yang jauh dari keributan pusat kota. Tempat itu tenang, pemandangan di tempat juga indah. Hawa seni sangat kental di sana. Kehidupan, pendidikan, dan pengobatan di sana tergolong sangat bagus.”“Lagi pula, kebanyakan penduduk Kota Karl adalah orang dari Negara Carika. Tempat itu sangat cocok dengan kami. Jadi, aku dan mamamu memutuskan untuk menetap di sana! Orang yang merekomendasi kami kemari adalah orang dari Negara Amuriko, namanya Nirman. Dia adalah teman yang Papa kenal saat sekolah.”“Dia memang berasal dari Negara Amuriko, tapi Papa berharap kamu bisa mengingatnya! Karena dia adalah orang yan
Hanya saja, setidaknya ayah dan ibu akan selalu menemani Caden, setidaknya ada yang mencintainya. Namun setelah mereka meninggal, bahkan tidak ada yang mencintai putranya lagi ….Jadi, mereka baru merasa bersalah dan bersedih! Pada saat yang sama, mereka juga merasa sangat khawatir akan disalahkan oleh putra mereka!Steven sangat emosional. Air mata sudah membasahi wajahnya.Darman dan Wanda adalah pahlawan, pantas untuk mendapat ucapan terima kasih dari semua orang. Namun, bagaimana dengan Caden? Dia adalah putranya seorang pahlawan. Dia juga sudah dikorbankan! Justru karena orang tuanya sudah berkorban, dia baru melewati hidupnya dengan begitu menderita. Saat usianya masih kecil, dia mesti menanggung semuanya sendiri, tanpa ada satu pun yang mencintainya ….Video masih diputar. Caden menekan tombol jeda dengan mata memerah. Dia mengambil rokok dan mancis, berjalan keluar untuk merokok sebatang demi sebatang.Video 20 tahun silam ini membangkitkan rasa rindu Caden terhadap orang tuany
Darman menepuk-nepuk pundak Wanda dengan perlahan, lalu menatap ke kamera dengan mata memerah. “Caden, mungkin ini rekaman video terakhir yang Papa dan Mama tinggalkan buat kamu. Ada yang mau kami sampaikan di sini, tepatnya berhubungan dengan rahasia virus generasi ke-8! Caden, kamu mesti ingat, Papa dan Mama mencintaimu, sangat amat mencintaimu! Kami mencintaimu untuk selamanya!”“Kamu adalah buah dari percintaan kami, darah daging kami, dan juga orang yang paling kami cintai di dunia ini! Karena virus ini, kami mengambil risiko untuk mengorbankan nyawa kami. Tapi semua itu nggak berarti kami akan mencampakkanmu. Kami lagi melindungimu, melindungi sebangsa kita!”“Kalau kamu bisa melihat rekaman ini, kamu pasti sudah mengetahui betapa berbahayanya virus generasi ke-8! Ada yang ingin mencelakai kita! Mereka ingin menggunakan dengan senjata biologis untuk mengendalikan kita!”“Kalau sampai virus generasi ke-8 sampai tersebar, negara dan semua penduduk negara kita akan lenyap atau menj
Ketika melihat tulisan familier sang ibu, hati Caden terasa lara. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya, lalu mencoba untuk memasukkan kata sandi sekali. Salah!Caden mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap salah!Steven merasa agak panik. “Kak Caden ….”Wanda telah berpesan hanya boleh memasukkan kata sandi sebanyak 5 kali. Tidak mungkin dia hanya sedang menakuti orang-orang saja.Waktu itu, Wanda dan Darman mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencuri sampel dan mengantarnya kembali ke negara.Mereka juga bukan bermaksud untuk merusaknya, melainkan demi menyerahkannya kepada penelitian ilmiah di Negara Carika.Menghancurkan sampel itu tidak berarti sama sekali. Pihak luar negeri juga akan kembali meneliti sampel yang baru. Jadi, hanya dengan peneliti Negara Carika menemukan penawar untuk mengatasi virus itu, bahaya baru akan diatasi.Namun, demi berjaga-jaga, Wanda dan Darman tetap mengambil tindakan pencegahan, yaitu dengan memasang bom di dalam kotak!Jika diperlukan, mereka lebih memi