Share

ASS 03: Keterkejutan

Penulis: B.E.B.Y
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-29 13:26:30

Keheningan mengambang di udara seperti kabut malam yang enggan beranjak dari aspal. Narumi merasakan dentuman jantungnya sendiri.

Empat bulan perjuangan untuk mempertahankan pendiriannya luruh dalam sekejap oleh satu kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya. Lalu, suara berat dan dalam milik Bramastyo kembali memenuhi gendang telinga Narumi.

[Bagus, kapan kamu akan kembali? Apa perlu dijemput?]

Narumi menelan ludah dengan susah payah, kepalanya refleks menggeleng pelan meski sang ayah tak dapat melihatnya.

“Tidak perlu, Pa,” tolaknya cepat, suaranya sedikit bergetar saat berusaha mempertahankan sisa-sisa kemandirian yang masih ia miliki. “Aku... akan datang dengan kakiku sendiri.”

[Baiklah, Papa tunggu kamu di rumah.]

“Mm,” hanya itu yang mampu Narumi gumamkan, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata-kata lain.

[Putriku, selamat datang kembali.]

Kata-kata terakhir sang Ayah sebelum sambungan terputus bagaikan anak panah yang menembus pertahanan Narumi. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isak tangis yang memberontak ingin keluar.

Sepuluh tahun, waktu yang tidak sebentar untuk menghilang dari kehidupan keluarganya. Rasa bersalah kini menggerogoti hatinya seperti rayap yang perlahan namun pasti menghancurkan kayu.

Sementara itu, di gazebo yang terletak di halaman belakang rumah mewah itu, sosok Ghali mondar-mandir bagai singa terkurung. Keringat dingin membasahi dahinya yang berkerut, matanya tak henti melirik ke arah jendela kamar Narumi di lantai atas. Bayang-bayang kehancuran karirnya menari-nari di pelupuk mata.

“Apa yang harus aku lakukan?” bisiknya parau, lebih kepada bayangan diri sendiri. “Bagaimana kalau wanita itu angkat bicara ke media? Citraku... semuanya bisa hancur dalam sekejap.”

Di ambang pintu gazebo, Suhita berdiri dengan anggun – namun keanggunannya itu kontras dengan tatapan dingin yang menusuk dari matanya yang menyipit. Ia pun ikut menatap ke arah kamar Narumi, seolah dapat menembus dinding-dinding yang memisahkan mereka.

“Tenanglah, Ghali. Apa yang kamu takutkan?”

Ghali mengalihkan pandangannya ke arah sang ibu, matanya menyipit penuh kekhawatiran. “Citraku, Ma. Aku tak mau dipandang buruk oleh masyarakat. Belum lagi investor... semuanya akan berantakan jika nama baikku rusak.”

Suhita melengkungkan senyum misterius, langkahnya anggun namun mengancam ketika mendekati putranya. “Tak perlu khawatir,” suaranya sehalus sutra namun setajam belati, “Jika mantan istrimu membuka mulutnya ke awak media, maka dia akan menjadi mayat...”

Ghali tersentak sejenak, namun keterkejutannya dengan cepat berganti dengan seringai tipis di wajahnya yang tampan. “Aaa... Kenapa aku jadi bodoh begini?” ucapnya dengan nada yang sama misterius.

“Jangan cemas, Mas.” Suara manja Karin memecah ketegangan saat wanita itu menghampiri Ghali, langsung menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu kokoh pria tersebut. “Tak akan ada yang merusak citra mu, aku bisa jamin itu.”

“Termasuk papamu?” Ghali mengangkat satu alisnya, ada nada menantang dalam suaranya.

Karin mengangkat kepalanya, matanya yang berbinar penuh ambisi bertaut dengan mata Ghali. “Iya, termasuk Papa. Aku akan membujuknya agar merestui hubungan kita.”

“Bagus!” Suhita berseru dengan semangat yang kontras dengan kilatan dingin di matanya – kilatan yang menyimpan rahasia gelap yang siap menerkam siapa saja yang berani menghalangi jalan mereka.

Tawa bahagia mengalun dari gazebo, kontras dengan suasana keruh yang menyelimuti kamar Narumi. Di ujung ranjang, dia duduk termenung, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang telah menjadi saksi bisu tiga tahun kehidupannya. Setiap detail memicu kenangan, baik yang manis maupun pahit.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, Narumi yang kini mengenakan pakaian santai bangkit dari duduknya. Tas travel kecil tergenggam di tangannya; seringan bebannya, seberat keputusannya. Wajahnya memang tenang, tapi matanya menyiratkan kewaspadaan seekor rusa yang siap menghadapi ancaman predator.

Derit halus anak tangga seolah mengiringi setiap langkahnya menuju lantai bawah. Tepat di ujung tangga, takdir seakan mengejeknya dengan mempertemukan Narumi dengan tiga sosok yang paling ingin ia hindari.

"Na, kamu mau kemana?" Karin melontarkan pertanyaan dengan nada manis yang kentara palsu.

Narumi memilih bungkam, terus melangkah melewati mereka hingga sentakan keras di lengannya membuatnya terhenti. "Apa yang Anda lakukan?" tanya Narumi pada Suhita, menjaga nada formalnya meski amarah mulai bergolak.

"Cek semua barang yang dibawa wanita ini!" Wanita paruh baya tersebut malah berseru tajam, mengabaikan pertanyaan Narumi seolah itu hanya angin lalu.

"Lepas!" Jeritan Narumi memenuhi ruangan saat para pelayan berusaha merebut tasnya. "Apa kalian pikir aku membawa barang-barang kalian dari rumah ini?"

Pertanyaannya menggantung di udara, tak berjawab. Yang ada hanya isyarat dingin Suhita pada para penjaga untuk terus menarik tas itu hingga Narumi tersungkur ke lantai dengan suara berdebum pelan.

"Perhatikan dengan jelas," Suhita menginstruksi dengan nada sedingin es, "Jika ada barang mewah, laporkan dia ke polisi!"

Kilatan amarah berkobar di mata Narumi saat menatap mertuanya, sebelum pandangannya beralih pada isi tasnya yang kini berserakan di lantai bagai kepingan harga dirinya yang hancur.

"Tak ada barang yang mahal, Nyonya. Semua pakaian itu terlihat kumal dan lusuh."

Suhita mengangguk puas, seringai mengejek tersungging di bibirnya. "Sangat disayangkan. Aku kira akan menemukan barang berharga, mengingat bagaimana borosnya mantan istri anakku ini."

Kata 'mantan istri' diucapkan dengan penekanan khusus, seolah ingin menggores luka baru di hati Narumi - meski status perceraian mereka belum resmi.

Narumi bangkit dengan wajah merah padam, amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. "Apa Anda sudah puas!" Matanya bergerak liar seperti api yang menjilat-jilat mencari mangsa. "Kalian... tidak pernah cukup untuk menyakitiku."

Tawa Suhita mengudara, memenuhi ruangan dengan nada mengejek yang menyesakkan. "Bukannya aku sudah bilang, aku tak akan pernah melepaskanmu, Narumi. Ini belum seberapa, anggap saja sebagai peringatan dariku!"

"Kalian akan menyesal karena sudah menyinggungku!" Narumi berdecak, suaranya bergetar menahan emosi.

"Oh, kamu sudah mengancam Mama ya Na!" Ghali akhirnya angkat bicara, sementara Karin tersenyum penuh kemenangan di sampingnya, menikmati pertunjukan penghinaan ini.

Senyum miris terpatri pada wajah Narumi, matanya berkaca-kaca menahan air mata kekecewaan. "Aku sudah salah karena jatuh cinta padamu, Mas. Kamu bukanlah orang yang pantas untuk dicintai. Dan... benar, aku mengancam Mamamu!"

"Kamu..." Ghali mencengkeram lengan Narumi dengan kasar, membuat wanita itu meringis kesakitan. Namun sebelum kalimatnya selesai, kehadiran mendadak para pengawal rumah memotong ucapannya.

"Tuan, di luar..."

BRAK!

Suara tubuh yang terlempar memecah ketegangan, membuat semua terlonjak kaget. Cengkeraman Ghali pada lengan Narumi mengendur tanpa ia sadari.

"Siapa kalian?!" Suhita memekik saat sosok-sosok bertubuh besar dan berpakaian hitam memaksa masuk.

Para pria itu mengabaikan teriakan Suhita, bergerak dengan presisi militer hingga mencapai Narumi. "Nona Narumi," salah satu dari mereka menyodorkan ponsel. "Tuan besar ingin berbicara dengan Anda."

Narumi terpaku, matanya mengikuti arah pandang pria itu ke arah CCTV. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo..."

[Keluar dari rumah itu, sekarang.]

Narumi menelan ludah, matanya melebar menatap layar ponsel yang menghitam. Suara tegas Bramastyo, ayahnya, masih bergema di telinganya. Mendadak semua menjadi masuk akal untuk tatapan pria itu ke CCTV, pengawasan rahasia ayahnya selama ini.

“Jadi, papa mengamati ku?” Batin Narumi bergumam kebingungan, “Tapi sejak kapan?”

"Mari Nona, kami akan mengawal Anda."

Narumi tersentak, ia dengan cepat mengangguk pelan, melangkah di antara para pengawal yang menunduk hormat padanya. Setiap langkahnya kini dipenuhi keyakinan baru.

"Narumi, siapa mereka?" Suara Suhita yang biasanya penuh otoritas kini terdengar goyah.

Narumi terus melangkah dalam diam, tubuhnya dikawal ketat oleh dua puluh pria berbadan tegap, mengabaikan Ghali, Karin, dan Suhita yang masih mengikuti dengan pertanyaan yang sama.

"Narumi ZK! Jawab, siapa mereka?!" Ghali berteriak saat Narumi mencapai pintu utama dan menuruni anak tangga.

"Selamat datang kembali, Nona." Sebuah suara familiar menyapa. Pria berambut putih dengan kacamata bulat membungkuk hormat, sekaligus mengabaikan rasa ingin tahu Ghali.

Kemudian, perhatian mereka teralih pada sosok yang baru keluar dari mobil. Pria bertubuh tinggi dan atletis dengan aura dingin yang mengintimidasi.

“Dia...”

Bab terkait

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 04: Cermin yang Retak

    "Ardiaz..." Nama itu belum selesai bergema saat sosok pemiliknya sudah berdiri tepat di hadapan Narumi, membuat wanita itu refleks mundur selangkah. Jantungnya berdegup kencang, entah karena terkejut atau karena aura maskulin yang terpancar dari pria tersebut. "Terima kasih sudah menentukan pilihan." Suara Ardiaz mengalun dalam. Bibirnya menyentuh punggung tangan Narumi dengan kelembutan bak seorang bangsawan, sementara mata coklat keemasannya memancarkan pesona yang nyaris hipnotis. Momen manis itu pecah oleh sentakan kasar. Ghali menarik Narumi ke arahnya dengan gerakan posesif yang tak terkendali. "Na..." Suaranya bergetar, sebuah anomali yang mencerminkan pergulatan antara amarah dan ketakutan akan kehilangan. "Ada hubungan apa kamu dengannya?" Ghali menghujam mata Narumi dengan tatapan menuntut, mencari-cari secercah jawaban dalam iris hazel yang kini sedingin musim es, tak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ia temukan di sana. "Jangan kasar." Ardiaz bergerak se

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-04
  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 05: Kartu As

    Bau pengap menyergap hidung Narumi. Pemandangan di hadapannya membuat dahi wanita itu berkerut; tumpukan kertas berserakan bagai serpihan usai pesta, bercampur dengan sampah makanan instan yang menggunung di setiap sudut. Apartemen yang biasanya tertata rapi kini lebih mirip medan perang pasca pertempuran. "Ya Tuhan, Siska... apa yang terjadi di sini? Gempa lokal?" Narumi memindai ruangan dengan tatapan tak percaya, sebelum matanya terpaku pada sosok familiar yang nyaris tak dikenalinya. Di balik meja kerja yang tenggelam dalam dokumen, sahabat Narumi itu duduk dengan kondisi memprihatinkan. Kantung mata segelap tinta, rambut kusut tak terurus, dan pakaian yang jelas-jelas sudah menempel di badan selama beberapa hari. "Oh, kamu..." Siska hanya melirik sekilas, suaranya serak dan lelah. Jemarinya tetap menari di atas tumpukan berkas. Narumi berjalan mengendap-endap, menendang pelan sampah yang menghalangi jalannya. "Apa karena ini kamu menghilang tanpa kabar?" Ia menghempaskan

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-08
  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 006: Kata tak Terucap

    “Hei, hei... Ini aku. Kamu kenapa?”Suara berat dan maskulin itu mengalun lembut di telinga Narumi, membuat jantungnya yang sempat berdegup kencang perlahan melambat. “Ada apa?” ulang Ardiaz dengan nada suara mencicit cemas, apalagi wajah calon istrinya itu sudah pucat pasi seperti baru melihat hantu.Narumi membisu, bola matanya bergerak gelisah, menyapu area di belakang Ardiaz dengan sorot was-was. Namun yang tertangkap hanyalah kekosongan. Tawa getir lalu menggema dalam hati Narumi, paranoia ini mulai membuatnya berhalusinasi. “Tidak apa-apa. Aku cuma kaget,” lanjutnya berusaha terdengar tenang, meski suaranya bergetar.“Maaf kalau aku membuatmu kaget. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Tadi kamu terlihat cukup gelisah saat keluar dari lift.”Senyum tipis yang dipaksakan tersungging di bibir Narumi. Ia mencoba berdiri, namun kakinya gemetaran hingga tubuhnya oleng, nyaris mencium lantai basement jika Ardiaz tak sigap menangkap pinggangnya.“Kamu tidak apa-apa?” pria

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-19
  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 07: Salah Kirim atau Sebuah Petunjuk

    Narumi yang pertama menurunkan pandangannya dari Ardiaz, Ia kembali fokus pada ponselnya. Kedua jarinya pun ikut sibuk mencubit layar; membesarkan atau mengecilkan gambar yang baru saja di terimanya. Matanya menyipit, mencoba memahami maksud Siska mengirim gambar aneh itu .“Ada apa?”Suara Bramastyo menyelinap penasaran, memecahkan konsentrasi Narumi hingga ia mendongak, menatap sang ayah di sampingnya.“Temanku... mengirim gambar abstrak,” jawabnya, kembali mengamati layar ponsel.Gambar itu memang membingungkan. Sebuah foto buram memperlihatkan sesuatu yang menyerupai kuku berhias nail art merah. Tapi, ada sesuatu yang tak biasa. Bercak-bercak gelap mengotori permukaannya, seperti darah kering. Jari di foto itu terlihat tidak utuh, seolah-olah... terpotong. Narumi mengerutkan alis, mendekatkan ponselnya lebih ke wajah, mencoba memastikan penglihatannya. “Gambar macam apa ini...” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.Lalu, sebuah suara lain menarik perhatian Narumi. Ia mencuri den

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-21
  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 08: Dekapan Hangat

    Karin menunduk, bahunya merosot seolah mencoba menghindari tajamnya kata-kata Mahendra. “Aku tidak mau,” suaranya nyaris tenggelam di udara yang penuh ketegangan. Karin tak berani mengangkat wajah, tak sanggup menatap mata sang ayah yang penuh bara.Suara Mahendra meledak, menggema hingga sudut ruangan. “Dasar anak tak tahu diri!” Tangannya mengentak meja, membuat gelas di atasnya bergetar. “Papa sudah bilang dari awal, jangan ganggu pernikahan Nana! Tapi apa? Kamu... berani-beraninya kamu hamil!”Karin mendongak, perlahan tapi pasti. Matanya memerah, menahan air mata yang sudah membanjiri kelopaknya. “Aku mencintai Mas Ghali, Pa,” katanya lirih. Tatapannya berpindah pada sang ibu, berharap ada secercah pembelaan. Tapi perempuan itu hanya diam, wajahnya kosong seperti tembok dingin.Mahendra mendengus keras, amarahnya memuncak. “Cinta?!” teriaknya dengan nada mengejek. “Cinta tidak akan membayar kebahagiaanmu, Karin! Gugurkan anak itu, dan pergi kembali ke luar negeri. Jangan pern

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-21
  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 09: Jejak

    “Kamu tidur di mana? Kata Karin kamu tidak kembali ke rumah orang tuanya.” Tubuh Narumi menegang. Degup jantungnya berirama tak keruan ketika sepasang lengan kuat melingkupinya dari belakang. Kehangatan tubuh itu membuat darahnya berdesir aneh. “Aku kacau saat kamu tak ada di rumah, Na. Pulanglah... kita bicarakan semuanya di rumah, ya?” suara lembut itu hampir terdengar memohon. Dengan cepat, Narumi melepaskan diri dari pelukan tersebut, berbalik, dan mendapati sosok Ghali berdiri di depannya. Wajahnya tampak lelah, kemeja putih yang dikenakan sudah tidak rapi, dan dasinya menggantung miring seolah dipasang dengan terburu-buru. “Mas Ghali...” suara Narumi tercekat. Ia ingin bersikap tenang, tapi rasa gugup menguasainya. Ghali mengulurkan tangan, mencoba menggenggam tangannya, namun Narumi menarik tangannya menjauh. “Tolong... jangan seperti ini, Mas,” ujar Narumi, berusaha menahan gemuruh emosinya. “Kamu tahu aku tidak akan pulang ke rumahmu lagi.” Wajah Ghali men

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-23
  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 10: Badai Hati

    “Terluka? Darah?” Narumi mengulang kata itu, suaranya bergetar. Pandangannya langsung jatuh ke ujung jarinya. Tubuhnya menegang seketika saat matanya menangkap noda merah yang samar tapi cukup jelas.Tanpa sadar, ia menarik tangannya dengan gerakan cepat, membuat Ghali mengerutkan alis. Tatapan pria itu berubah tajam, penuh selidik.“Apa itu?” tanya Ghali sekali lagi, namun nada suaranya berubah dingin bahkan melangkah maju, mendekati istrinya.“Ini… bukan apa-apa.” Narumi berkilah dengan nada gugup, buru-buru menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Tetapi, getaran di suaranya tak luput dari perhatian Ghali.Pikiran Narumi berputar kacau. Sejak kapan jariku berdarah? Dia mencoba mengingat, tetapi tidak ada kejadian yang menjelaskan asal noda itu. Kemudian, rasa panik mulai menguasainya.Pisau. Ingatan tentang pisau di apartemen Siska mendadak memenuhi pikiran Narumi. Matanya melebar saat kesadaran menghantamnya. Apa mungkin darah ini berasal dari pisau itu?Narumi langsung m

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-24
  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 11: Bayang-Bayang Tepi Pantai

    “Ardiaz...” Suara Narumi terdengar pelan, seperti gumaman yang terhempas angin laut.“Iya, ini aku,” jawab Ardiaz sambil melangkah mendekat. “Kenapa kamu sendirian di sini?” tanyanya, nada suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.Narumi berbalik, namun hanya untuk memunggungi Ardiaz. Matanya kembali menatap lautan yang bergelombang. “Aku hanya ingin menikmati laut... dan aku memang ingin sendiri,” katanya dengan nada datar.Tanpa banyak bicara, Ardiaz berdiri di sisinya, memberikan ruang, tapi cukup dekat untuk merasakan keberadaannya. Sekilas, matanya melirik wajah Narumi yang samar-samar tampak basah oleh sisa air mata.“Kamu menangis lagi,” ucap Ardiaz pelan, hampir seperti bisikan.Narumi menoleh, alisnya bertaut dengan kerutan kecil di dahinya. Namun, senyum tipis menghiasi bibirnya, meski lebih mirip dengan senyum getir. “Apa aku tak boleh menangis?” balasnya, mencoba terdengar santai.“Tentu saja boleh,” jawab Ardiaz, sorot matanya bertemu dengan mata Narumi. “Tapi... apa kamu

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-25

Bab terbaru

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 27: Email

    Suara Ardiaz mengalir begitu tenang, namun sorot matanya yang tajam, menuntut penjelasan, membuat Narumi tersentak. Sejenak ia hanya diam, mencari keberanian untuk membuka mulut. Pikiran Narumi berkecamuk, mencari cara yang tepat untuk menjawab.Sampai ia menunduk, matanya terpaku pada kancing di tangannya, lalu memutar-mutar benda kecil itu, seolah berharap menemukan jawaban di dalamnya. “Larry bilang, jika kancing ini adalah jawaban atas kematian Siska. Lalu aku menyimpulkan… kalau kancing ini ditemukan di dekat tempat kejadian.”Keheningan kembali menyelimuti mereka. Angin pantai berembus dingin, tetapi Ardiaz bergeming. Tatapannya tetap tajam, menuntut penjelasan lebih jauh.“Kancing ini sama persis dengan yang ada di mantelku. Itu sudah cukup, jadi alasan buat menuduhku sebagai pelaku.” lanjut Narumi, suaranya pelan namun jelas.“Dari mantelmu?” ulang Ardiaz, tatapannya berpindah ke kancing di tangan Narumi. “Tapi, bagaimana kancing itu bisa sampai di sana?”Narumi menggeleng p

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 26: Pelukan Sang Pengawas

    Tak lama setelah Ardiaz memutuskan lamunannya, dering ponsel memecah keheningan di ruangan. Dengan cepat, ia menerima panggilan itu, menempelkan perangkat ke telinganya. Suara seseorang di ujung telepon segera terdengar.[Bos, Nona Narumi ada di pinggir pantai saat ini.]Mendengar laporan itu, senyum kecil muncul di sudut bibir Ardiaz. “Bagus, awasi terus gerak-geriknya. Laporkan jika ada yang mencurigakan.” Nada suaranya terdengar tegas dan penuh kendali. Setelah memberikan instruksi singkat, ia memutuskan panggilan secara sepihak tanpa menunggu respons lebih lanjut.Ardiaz kembali menatap langit yang cerah melalui jendela besar di kantornya. Tanpa menoleh, ia memanggil nama seseorang. “Julita.”Pintu ruangan terbuka, dan seorang wanita berpakaian merah dengan penampilan mencolok masuk dengan langkah anggun. Senyum genit menghiasi wajahnya. “Ya, Pak?” jawab Julita dengan nada lembut namun menggoda.“Reschedule semua meeting saya hari ini,” perintahnya tegas. “Meeting dengan Pak S

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 25: Kepingan

    “Apa yang kamu katakan, Na?” suara Karin tiba-tiba memecah keheningan, mengambil alih pembicaraan. Wanita itu berdiri dari tempatnya dan mendekati Narumi dengan ekspresi yang penuh kemarahan. “Jangan asal tuduh!”Narumi menatap Karin dengan mata cokelatnya yang menyala tajam. Tatapan itu berbicara lebih banyak daripada kata-kata, menyalurkan amarah dan ketegasan yang tak bisa diganggu gugat. “Aku tidak asal menuduh,” balasnya dingin, nada suaranya penuh dengan keyakinan. “Lagi pula, aku tidak bertanya padamu.”Langkah Narumi maju, memaksa Karin untuk tetap diam di tempat. Ia berdiri begitu dekat hingga hampir tidak ada jarak di antara mereka. “Keluarlah dari ruangan ini,” ucapnya lugas, menyingkirkan Karin dengan nada perintah.Mata Karin membelalak, dan sudut bibirnya sedikit bergetar. Ia tampak terkejut namun tidak mau mengalah. “Aku tidak mau keluar!” sergahnya, mengepalkan tangannya dengan erat. “Seharusnya kamulah yang keluar! Apa kamu tidak berkaca bagaimana penampilanmu saa

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 24: Jejak di Kancing

    Langit yang semula cerah tiba-tiba berubah mendung. Awan gelap menggantung berat, dan hujan turun deras tanpa peringatan, seakan menandakan sesuatu yang buruk. Narumi tetap di tempatnya, tubuhnya gemetar di bawah guyuran hujan. Tangannya meremas tanah makam Siska, dan isakannya tertahan dalam tenggorokannya.“Bagaimana Siska bisa meninggal?” tanyanya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh derasnya hujan.Kilatan petir menyambar, mengisi keheningan yang terasa begitu menyesakkan. Larry tidak menjawab. Sebaliknya, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan melemparkannya ke depan batu nisan Siska. Benda itu jatuh dengan suara pelan, tapi cukup untuk menarik perhatian Narumi.“Hanya pemiliknya yang tahu bagaimana kekasihku meninggal,” ucap Larry dingin.Narumi terdiam, matanya tertuju pada benda kecil di tanah. Sebuah kancing. Matanya membulat saat menyadari sesuatu. Ia mengenali kancing itu, kancing dari mantel yang sering ia pakai. Tangannya yang gemetar perlahan mengambil benda

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 23: Kebenaran yang Menghancurkan

    Begitu Narumi tiba di Cafe Art, matanya langsung menangkap sosok Larry yang berdiri di dekat pintu masuk. Namun, Siska tidak ada di sana. Rasa kecewa menyelinap di hati Narumi, meski ia berusaha menyembunyikannya. “Ikuti aku. Jangan bicara di tempat terbuka!” kata Larry dengan nada dingin sambil menatap tajam.Narumi mengerutkan dahi, merasa bingung sekaligus terganggu. Bukankah dia sendiri yang memilih tempat ini untuk bertemu? pikirnya. Jika Larry tidak ingin berbicara di tempat terbuka, mengapa memilih kafe yang ramai seperti ini? Namun, ia menahan diri untuk tidak membalas perkataan pria itu.Narumi menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya, lalu mengikuti langkah Larry yang tampak terburu-buru. Pria itu bahkan berjalan cepat, nyaris tidak memedulikan Narumi yang harus mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal. Kemudian, mereka melewati kerumunan pengunjung dan pelayan hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan besar di bagian belakang kafe.Ruangan itu terlihat privat, pin

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 22: Karena Surat

    Jemari Narumi sedikit bergetar ketika ia membaca bait pertama surat itu:‘Jika surat ini ada di tanganmu, maka aku mungkin sudah tiada.’Kalimat itu menusuk hatinya. Air matanya mengenang di sudut mata, membayangkan Siska, sahabatnya, yang begitu putus asa hingga harus meninggalkan pesan seperti ini. Semakin ia membaca, semakin rasa pedih menyelimutinya. Surat itu penuh dengan penyesalan Siska, penyesalan karena tidak mampu menyelesaikan kasus perceraiannya dengan Ghali.Namun, yang lebih mengusik adalah ingatannya akan perilaku Larry tempo hari. Sesuatu tentang pria itu terasa janggal, seolah ada rahasia besar yang coba ia tutupi. Tapi Narumi tak punya waktu untuk memikirkannya lebih jauh. Surat itu menuntut seluruh perhatiannya.Matanya terus bergerak membaca setiap baris hingga tiba di bagian penutup yang membuat dahinya berkerut tajam:‘Na, jika suatu saat kamu harus berurusan dengan kelompok dari kalangan elit, berhati-hatilah dalam bergaul dengan mereka. Hal ini juga berlaku un

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 21: Ketegangan

    “Kamu baik-baik saja, Na?” Suara Ardiaz memecah kesunyian, nadanya terdengar tenang tapi juga penuh perhatian.Narumi menoleh sesaat ke arah pria itu yang sedang fokus mengemudi, namun ia tidak menjawab. Sebaliknya, ia kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mencoba menghindari tatapan tajam yang seolah bisa membaca isi hatinya.“Kamu butuh sesuatu?” tanya Ardiaz lagi, suaranya tetap lembut namun sedikit lebih mendesak.Narumi menghela napas pelan, merasa terusik oleh perhatian berulang itu. “Tidak, terima kasih,” jawabnya singkat tanpa menoleh.Mobil kembali hening, hanya suara mesin yang terdengar di sela-sela kemacetan. Namun, Ardiaz tidak menyerah. “Maaf, bukan maksud cerewet. Aku hanya ingin mencairkan suasana,” katanya, kali ini dengan nada lebih ringan, seolah ingin mengimbangi kekakuan yang melingkupi mereka.Pernyataan itu sontak membuat Narumi menoleh ke arahnya. Matanya menatap Ardiaz dengan tatapan bingung sekaligus penasaran. Ia tidak mengerti mengapa pria ini

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 20: Pilihan Terakhir

    Ardiaz menyembunyikan tatapan tajam di balik senyuman yang terlihat tenang. Namun di dalam hati, gelombang emosi bergejolak. Ia menyusun rencana dengan sabar, menantikan sejauh mana Narumi mampu bertahan di bawah tekanan yang sengaja ia ciptakan.“Baiklah, katakan saja bila nantinya kamu ingin mengganti pengacara lain,” ujarnya dengan nada ramah yang hanya sekadar basa-basi.Narumi terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab singkat, “Tentu.”Kepala Ardiaz mengangguk pelan. “Apa ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi lagi setelah ini?” tanyanya, suaranya tetap terdengar ringan.“Tidak, aku pikir sebaiknya kita pulang.”Ardiaz mengangguk setuju, lalu mereka berdua kembali berjalan menuju mobil. Namun, tepat saat mereka hendak masuk ke mobil, sebuah mobil sport merah berhenti mendadak di depan kendaraan mereka. Mata Ardiaz langsung tertuju pada mobil itu, alisnya terangkat saat melihat seorang pria turun dengan tergesa-gesa.“Mas Ghali,” gumam Narumi, mengenali pemilik mobil tersebut

  • Ambil Saja Suamiku, Biar Kucari yang Baru!   ASS 19: Intrik

    Narumi menarik napas panjang dengan ekspresi malas, siap untuk menyahut, tetapi kata-katanya terpotong oleh Ardiaz yang berbicara lebih dulu.“Laporkan saja,” ujar Ardiaz santai, namun dengan nada tajam. “Mungkin dia ingin merasakan pukulanku untuk kedua kalinya.”Narumi menoleh ke arah Ardiaz dengan satu alis terangkat, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Karin yang terkejut. Wanita itu jelas sedang mengingat memar di wajah Ghali, dan ekspresinya mencerminkan amarah yang tertahan.“Jadi... Kamu yang membuat wajah tampan Mas Ghali babak belur? Dasar preman!” geram Karin dengan suara yang semakin keras, menarik perhatian para pengunjung di sekitar mereka.Narumi memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah maju ke depan Ardiaz, berhadapan langsung dengan Karin.“Cukup, Karin!” ucapnya tegas, sorot matanya tajam. “Jangan pernah menghina calon suamiku.”“Apa?” Karin tersentak mendengar kata-kata itu, matanya melebar penu

DMCA.com Protection Status