Isak tangis Ayunda pun pecah seketika itu juga, dia lupa akan janjinya pada calon anaknya sendiri untuk tidak lagi menangis. Dia lupa jika seharusnya lebih kuat dari sebelumnya. Kenyataannya hari-hari yang dia jalani terasa semakin menyakitkan hati. Dia bukan tidak ingin mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan, mengubah kekecewaan menjadi kesenangan. Namun, hatinya belum mampu untuk tersenyum seperti yang dia inginkan. Dunia ini terlalu kejam baginya, setiap kali melangkahkan kaki serasa menginjak duri yang tajam. Luka tanpa darah jauh lebih menyakitkan dan lebih menyisak. Malam sebelumnya dia terlalu banyak menangis, malam ini dia lebih menangis lagi karena tamparan dari David. Ini sudah membuktikan bahwa Ayunda seharusnya tidak mengatakan apa-apa tentang anak yang ada dikandungannya pada David. Lagi pula David tidak akan pernah mengakuinya jika pun tahu sebenarnya, karena saat ini David telah menikah dengan seorang wanita yang pastinya dia cintai. Jika tidak rasan
Tanpa sadar tangan Ayunda masih memegang tangan David dengan begitu kuatnya. Ternyata setelah diperiksa oleh dokter Ayunda mengalami kontraksi hebat dan bayinya pun harus segera dilahirkan. Padahal usia kehamilan masih sekitar 7 bulan, itu artinya bayi itu akan terlahir prematur. Pembukaan pun sudah mendekati sempurna, artinya sedikit lagi akan tiba waktunya untuk mengejan. Peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya tidak dapat menutupi betapa kesakitannya dia kini. David terdiam sambil menatap wajah Ayunda yang memucat karena menahan rasa sakit. Kini dia hanya diam menatap wajah Ayunda dan tangannya masih dipegang dengan sangat erat. Hingga akhirnya pembukaan pun sudah lengkap, waktunya begitu cepat hingga Ayunda pun mulai mengejan. Beberapa kali dia terlihat berusaha untuk mengikuti arahan sang dokter namun masih belum berhasil. "Tarik nafas panjang, Bu." "Dokter, aku tidak bisa," kata Ayunda dia merasa tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya dan lelahnya. Rasa sakit
Terus saja lukai aku, lukai hati, cinta dan juga batin ku. Akan ku buktikan padamu jika membunuh cinta yang begitu besarnya itu nyata. Akan kamu lihat seperti apa mati rasa seorang wanita, tanpa ada yang tersisa. Semua kenangan hanya tinggal kenangan, aku anggap kamu yang sekarang ini bukanlah kamu yang dahulu. Cinta ku padamu yang terdahulu ada diantara bagian mu yang berbeda. David yang dulu aku cintai telah mati, kini hanya David yang kejam, dia hanya sebatas majikan! Aku kuat, aku tegar menghadapi semuanya. Akan ku simpan dalam-dalam bahwa kamu adalah penjahatnya! Penjahat dalam hidup dan cinta, bahkan hingga dalam tidur pun kamu adalah mimpi buruk ku. *** Setelah beberapa hari berada di rumah sakit akhirnya Ayunda pun kembali bekerja di rumah David. Sebab, dia butuh uang untuk membeli susu formula serta biaya anaknya yang masih berada di dalam inkubator. Untuk saat ini Ayunda tidak memiliki pilihan lain, selain bekerja di rumah David demi bisa mendapatkan
"Kenapa?" tanya Adel pada David. David menarik napas panjang lalu menoleh pada Adel. Dalam diam tampaknya ada pikiran yang begitu berat membebani, mungkin juga karena kebencian terhadap seseorang yang tak dapat dia redam. "Kamu masih mencintainya?" tanya Adel lagi. David hanya melihat wajah Adel saja tanpa berkata apa-apa. Pria bernama David ini terlalu banyak diam dalam menjalani hari-harinya. Tapi akan ada pengecualiannya jika ada Ayunda di hadapannya. Adel pun tersenyum miring sambil melihat arah pandang David. Kini keduanya ada di balkon kamar, matanya melihat ke bawah sana dimana Ayunda tengah menyiram tanaman kesayangan milik Hera. Tapi tak lama berselang terlihat seorang pria pun menghampirinya. "Neng, Yunda. Bagaimana kabarnya?" tanya Pak Asep. Karena sebelumnya Asep juga ikut mengantarkan Ayunda ke rumah sakit. Keadaan Ayunda saat itu begitu mengkhawatirkan, tapi sepertinya kini sudah cukup baik. "Baik, Pak. Makasih ya udah nganterin Yunda ke rumah sa
Hidung mancung, bibirnya merah muda, bola matanya kecoklatan, rambutnya sangat lebat dan wajahnya cukup mirip dengan David. Entah mengapa bisa semua itu harus diwarisi oleh putranya. Padahal ayahnya juga tidak pernah tahu kalau anak itu adalah darah dagingnya. Lelaki tidak bertanggungjawab seperti David rasanya tak perlu tahu tentang anaknya. Lagi pula belum tentu juga bisa menerimanya melihat seperti apa sikap David padanya sekarang. Tapi untuk apa juga dia masih memikirkan David? Ini semua karena wajah mereka yang memiliki kemiripan. Andai saja wajah Kenzie mirip dirinya ini tidak akan pernah terjadi. Dia akan benar-benar sangat bahagia karena tidak lagi melihat wajah David dalam diri putranya. Tapi Ayunda cukup merasa bahagia karena putranya sudah bisa dibawa pulang setelah beberapa hari ini berjauhan dengannya. Kini hati Ayunda pun lebih tenang bisa bersama dengan bayinya setiap waktu. Meskipun rasanya sangat melelahkan tapi tidak masalah, karena buah hatinya
"Tapi wajah putra mu mengingatkan ku pada David saat bayi dulunya." Ayunda masih saja memikirkan ucapan Hera, ternyata Hera pun mengakui secara langsung jika wajah David dan Kenzie memiliki kemiripan yang begitu jelas. Saat ini Yunda berharap semoga saja David tidak pernah tahu Kenzie adalah putranya untuk selama-lamanya. Rasa bencinya terhadap David sudah terlalu besar sehingga tidak ingin lagi ada hubungan dengan David. Bahkan dia pun berkeinginan untuk segera pergi dari rumah David, sayangnya dia belum mendapatkan pekerjaan di luar sana. Sedangkan Ayunda sangat membutuhkan pekerjaan untuk bisa membeli susu formula. "Yunda!!!" seru Gia. Yunda yang tengah sibuk dengan pikirannya pun seketika dibuat terkejut. "Gia!" kesalnya sambil mengusap dada. "Ya ampun, Yunda. Dari tadi aku manggil kamu," ucap Gia dengan sangat bingung melihat wajah Yunda. "Benarkah?" tanya Ayunda lagi sambil tersenyum malu. Benar-benar pikirannya begitu kacau hingga tidak menyadari kehadiran
Hari ini David pulang lebih awal, pekerjaannya sedikit renggang membuatnya lebih santai dari biasanya. Bahkan, dia juga bisa makan malam bersama di rumah. "Menurut Mama kalian harus ke dokter," Hera pun membuka pembicaraan terlebih dahulu. David yang tengah mengunyah makan malamnya pun segera melihat wajah sang Mama. Dia merasa bingung dengan anjuran sang Mama. "Dokter?" tanya David. Mungkin juga dia sedikit bingung sebab merasa tidak memiliki penyakit yang serius. Jadi mengapa harus ke dokter? Dia pun masih menunggu jawaban dari sang Mama. Semetara Adel masih diam saja sambil terus mengunyah makanannya. "Iya," jawab Hera lagi dengan sangat yakin. "Kenapa seperti itu, Ma?" tanya David lagi yang semakin kebingungan. "Jadi gini, Mama udah nggak sabar menimang cucu. Dan, dulu waktu Mama dan Papa baru menikah tidak lama kemudian kamu hadir di perut Mama. Semetara kalian berdua sudah beberapa bulan menikah belum juga ada tanda-tanda Adel hamil," terang Hera. Adel p
David pun penasaran dengan ucapan sang Mama. Dia pun segera pergi menuju kamar Ayunda untuk melihat baby Kenzie. Benarkah apa yang dikatakan oleh Mamanya? Dia harus membuktikan sendiri, jiwa penasarannya semakin menjadi-jadi sebelum melihatnya. Dia masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Baginya dia adalah penguasa, dirumahnya dia bebas melakukan apa saja termasuk keluar masuk dengan bebas di kamar siapa saja tanpa terkecuali. Namun, saat itu dirinya tidak melihat wajah Ayunda. Tapi apa yang dia cari dia temukan, baby Ken tengah tertidur pulas di atas ranjang. Sesaat itu David pun mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Dia kini menyimpulkan bahwa Ayunda tengah mandi di dalam sana. Di rumah David bukan hanya kamar majikan dan kamar tamu yang memiliki masing-masing kamar mandi. Tapi kamar pembantu memiliki kamar mandi masing-masing juga tanpa terkecuali, meskipun tidak sebesar kamar mandi di kamar majikannya. Sebab menurutnya pembantu
Hari ini adalah hari libur, sehingga Ayunda tidak berangkat bekerja. Akan tetapi dia juga tidak bermalas-malasan, dia menyirami tanaman miliknya yang begitu indah. Ada banyak bunga mawar di sana. Dia sangat hobi berkebun dan menikmati keindahannya adalah hal yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Ayunda juga memperbaiki beberapa bagian yang kurang bagus, dia merawat dengan penuh perasaan. Bahkan selama dia pergi pun bunganya masih sangat indah, sebab Wina ikut merawatnya. Ayunda pun tersenyum sambil mencium sebuah bunga mawar, dia menghirup aroma yang sangat menenangkan diri. Hiburan tersendiri yang sangat membahagiakan untuknya. "Selamat pagi, Bunda," sapa David. Ayunda yang sedang tersenyum bahagia menikmati keindahan pagi ini seketika berubah kesal. Tentunya karena kehadiran David yang sangat tidak diinginkan. Tidak tahu kenapa David sangat suka datang ke rumahnya, apakah pria tersebut tidak punya rasa malu? Entahlah. Putus asa, tapi dia juga ingin
Tere baru saja sampai di apartemennya tapi ternyata ada Erwin yang berdiri di sana. Tere tidak tahu apa tujuan sang Kakak menemuinya. Namun, dia berharap jika Erwin memberikan kabar tentang Mama mereka. Dengan langkah yang cepat Tere pun berjalan ke arah Erwin yang masih berdiri di depan pintu apartemennya. "Kak Erwin," katanya sambil tersenyum pada sang Kakak. "Aku mau bicara." Tere pun mengangguk cepat, kemudian dia pun membukakan pintu agar mereka bisa berbicara di dalam. Setelah Tere masuk Erwin juga ikut masuk. Mereka masih berada di dekat pintu yang terbuka lebar. "Kak, kabar Mama gimana?" tanya Tere tak sabar. "Mama koma, kamu mau bertemu dengan Mama?" tanya Erwin. "Iya, Kak," Tere pun mengangguk cepat karena dia juga sangat merindukan ibunya. "Kamu harus membuat Ayunda mau kembali pada ku!" ucap Erwin. Tere pun dibuat terkejut mendengar ucapan sang Kakak. Rasanya sangat tidak mungkin karena dulunya Erwin sudah sangat yakin menceraikan Ayunda. Bahk
"Anak Bunda," seru Ayunda sambil menciumi seluruh wajah sang putra. Tidak bertemu sejak kemarin membuatnya menahan rindu yang begitu besar. Saat itu Ayunda memeluk sang anak dengan begitu erat. Berulangkali Ayunda mencium pipi mungil putranya, rasanya belum juga puas. "Yunda, apa benar Kakak kamu sudah menikah dengan Tere?" tanya Wina secara langsung. Dia sudah sangat penasaran hingga tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu Ayunda pun mulai menatap wajah sang Mama dengan serius. Artinya Zidan sudah menceritakan apa yang dia alami di desa. "Kak Zidan udah cerita?" tanya Ayunda kembali. "Iya, kemarin katanya dia menyusul kamu karena ingin melindungi kamu dari David. Tapi, ternyata sesampainya di sana terjadi insiden yang tak terduga, dia di paksa untuk menikah dengan Tere, pagi tadi Kakak mu pulang dengan wajah yang lelah dan Mama juga syok mendengarnya," terang Wina dengan panjang lebar. Wajah Wina juga penuh kekecewaan mengetahui bahwa anaknya menikah den
David pun memeluk Ayunda dari belakang, dia mencium tengkuk leher Ayunda dengan begitu liarnya. Sedangkan tangannya mulai menjalar ke seluruh tubuh wanita itu. Tubuh Ayunda yang basah menampakkan lekuk tubuh yang indah. Kini tubuh Ayunda lebih berisi dari sebelumnya, membuat David semakin panas dingin jika bertemu begini. Dada wanita itu begitu besar dan penuh. David semakin menjadi-jadi karena tidak dapat mengendalikan diri. Lantas bagaimana dengan Ayunda? Ayunda pun tersenyum sambil menikmati pelukan hangat David. Tangan liar David membuat Ayunda melayang jauh di awan. Sesaat kemudian David pun melumat bibirnya dengan sangat rakus. Ayunda pun membalasnya dengan tidak kalah panas. Saat itu tangan David mulai menelusup masuk ke dalam dress Ayunda. Meremas gunung kembar yang selalu menentang jiwa kelelakiannya selama ini. Saat itu terdengar suara teriakan. "Ahhhhh!" Teriak itu membuyarkan lamunannya, David kecewa ternyata apa yang terjadi barusan hanya se
Sepanjang malam Tere tak bisa terlelap, dia masih menangis karena apa yang barusan menimpanya. "Tere, udah dong nangisnya. Aku jadi ikut sedih tau," kata Ayunda yang berbaring di sampingnya. Jika dulu Tere yang memeluknya, tapi kini sebaliknya. Ayunda memeluk sahabatnya itu penuh dengan kesedihan, dia ikut prihatin dengan kejadian itu. "Kenapa ya semuanya jadi begini?" tanyanya. "Aku juga bingung, tapi udah dong nangisnya. Lagian tadi cuma nikah siri aja, yang penting kamu nggak kena gantung," ucap Ayunda yang benar-benar ingin membuat Tere berhenti menangis. "Ya sih, tapi......" "Gampang, nanti pas kita udah balik kamu bisa minta diceraikan, satu kata cerai, sah," kata Ayunda lagi. Tere pun menatap wajah Ayunda, dia mencerna apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut. "Tapi aku jadi janda?" "Tidak ada yang tahu, lagi pula kamu juga nggak ngapa-ngapain sama Kak Zidan." "Aku tidak melakukan apa-apa, tapi mereka malah berpikir buruk." "Iya, aku tahu, kita berdua
"Baiklah, kebetulan di sini ada penghulu," kata Pak Kades. "Maaf, Pak tapi apa harus menikah?" tanya Tere memberanikan diri. "Jadi mau kamu bagaimana? Wanita kota bisanya mengotori desa orang!" seru seorang warga. "Pak, Bu, sebenarnya apa yang barusan terjadi hanya salah paham. Aku tidak tahu kalau ada dia di sana," kata Tere lagi. "Kau pikir aku mengintip mu begitu?!" sahut Zidan yang merasa disudutkan oleh Tere. Tere pun menggelengkan kepalanya dengan cepat karena tidak bermaksud demikian. "Nggak usah banyak omong, karena kami sudah melihatnya!" jawab warga. "Jangan-jangan mereka ingin mengatakan kalau kita bohong!" timpal warga lagi. "Bukan begitu, Pak, Bu. Maksudnya, kami punya keluarga, keluarga kami di kota. Apa tidak bisa tunggu sampai keluarga kami datang dulu?" tanya Ayunda. "Bilang saja kalian mau melarikan diri!" sahut seorang warga yang dibenarkan juga oleh warga lainnya. "Banyak bicara, ayo gantung saja mereka di pohon tanpa pakaian!" "Ayo!" "Tunggu
"Sepertinya ini desanya, sesuai dengan alamat di sini, ini gambar rumah tempat Yunda menginap," kata Zidan sambil membandingkan sebuah gambar di ponselnya dan rumah sederhana di hadapannya yang dia dapatkan dari karyawan perusahaan Yusuf. Kemudian matanya pun melihat mobil David yang terparkir di samping mobilnya. "Si gila ini ternyata sudah tiba duluan," ucap Zidan. Zidan benar-benar menjaga adiknya, ibunya memang tidak begitu membenci David lagi. Tapi bukan berarti bisa diterima kembali seperti dulu, apa lagi jika David menjadi suami Ayunda. Tidak mungkin! Kemudian dia pun berjalan menuju teras, tapi saat itu sebuah pas bunga gantung jatuh di kepalanya. "Akh....." Zidan pun menatap ke bawah, tanahnya berserakan di lantai. Kemudian dia melihat ke atas, ternyata pengait pas bunga itu terlepas. Zidan pun merasa tidak nyaman saat ada tanah yang masuk ke dalam bajunya. Dia pun mencoba untuk menepuk-nepuk pundaknya. Sayangnya masih terasa tidak nyaman, saat itu Zid
Sedangkan David merasa khawatir karena sejak tadi Ayunda tidak bisa dihubungi. Bukankah Ayunda mengatakan untuk tidak menghubunginya selama 1 jam saja? Tapi ini apa? Sudah berjam-jam wanita tersebut tidak bisa dihubungi. David pun semakin merasa cemas, dan dia tidak bisa diam saja. Segera menuju rumah Ayunda dan bertepatan dengan Wina yang sedang menggendong Ken di teras. "Selamat sore, Tenta," sapa David. "Iya." David pun menatap wajah putranya yang sudah terlelap dalam gendongan Wina. Kemudian kembali menatap Wina. "Tante, Ayunda sudah pulang ke rumah ya?" tanyanya. Tak peduli jika pun Wina kesal padanya, sebab kini lebih sering berkunjung ke sana. Yang terpenting bisa bertemu dengan Ayunda dan anaknya adalah hal yang membuatnya bahagia. "Ayunda pergi dengan teman-teman kantornya ke desa, tapi Tante juga lupa nama desanya. Katanya menginap di sana," terang Wina. David pun dibuat terkejut mendengar penjelasan Wina. Ayunda tak memberitahu jika dia akan perg
Desa yang masih begitu asri, tempat dimana mereka akan memulai proyek untuk kemajuan desa tersebut. Sekaligus membuka lapangan pekerjaan, dimana penduduknya banyak yang merantau ke kota karena sulitnya mencari pekerjaan di sana. Ayunda sampai terkagum-kagum melihat desa tersebut. Terbiasa tinggal di kota membuatnya merasa nyaman dengan kondisi desa yang begitu asri ini. "Suaranya indah banget," kata Ayunda sambil membuka tangannya lebar-lebar menikmati udara segar yang berhembus. Kemudian dia pun menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskan secara perlahan. "Semua beban rasanya hilang," ucapnya lagi. "Iya, ini indahnya kebangetan," ucap Tere yang juga membenarkan. Perjalanan dari kota ke desa tersebut memakan waktu tempuh lebih kurang 7 jam, sehingga mereka pun tidak mungkin dalam satu hari pulang dan pergi. Apa lagi melihat pemandangan yang sangat indah ini. Tapi mereka sudah disediakan rumah oleh kepala desa tersebut untuk menginap selama satu malam ini.