Share

2. ingin memeluk suamiku

Penulis: Ria Abdullah
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-22 09:15:25

Melihat putriku menangis tentu keluarga Mas Haryadi heran bercampur tidak suka, aku pun panas dingin dibuatnya. Mereka menatap putriku seperti anak gila yang salah alamat, menangisi orang yang tidak dikenalnya sementara mereka juga tidak tahu bahwa darah yang mengalir dalam tubuh anakku juga darah Mas Haryadi.

"Siapa kamu!" tanya Mbak Dwiana dengan mata mendelik, dirinya yang cantik dengan bola mata besar nampak menakutkan dengan ekspresi demikian. Dia melotot pada anakku dengan kasar. Mungkin karena pengaruh kesedihan wanita itu tidak bisa mengendalikan dirinya.

"Ini ayahku Tante, ayah Alisa," jawab anakku sesenggukan. Dibelainya wajah pucat Mas Haryadi dengan penuh kasih.

"Mana mungkin! Mana ibu kamu?!" tanya seorang wanita, yang kuasumsikan sebagai adik suamiku. Dia nampak syok juga penasaran sekali

"Dia ada, di situ," ucap anakku sambil menunjuk diri ini dengan polosnya.

Kini semua orang tertuju padaku, menatap diri ini dari atas ke bawah dengan roman penuh pertanyaan, mereka memicingkan mata dan memasang wajah tak percaya.

"Sungguhkah?" tanya seorang wanita di sampingku. Dia menyenggol lenganku karena aku tidak kunjung memberikan jawaban. Aku yang gamang, bingung dan galau, antara malu dan takut tak tahu harus menjawab apa. Jika tidak mengaku Alisa akan menangis, tapi jika aku mengaku, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kami.

"Se-sebenarnya anak saya hanya terbawa suasana," jawabku berdusta, aku hendak bangkit dan mengambilnya dari depan jasad ayahnya tapi sayangnya, putriku segera menjawab.

"Enggak kok, Ibu aku emang istri ayah, tadi ayah dari rumah, terus janji mau ngajak Alisa main ke taman hiburan dan beli gelang," jawab anakku yang segera menyanggah pernyataanku sendiri. Aku tak kuasa lagi menahan kejujuran putriku yang cerdas, dia benar benar mewarisi sifat ayahnya yang berani dan kritis.

"Inilah gelang yang kau maksud?" tanya Mbak Dwiana sambil mengeluarkan beberapa buah gelang kaca warna warni dari kantong yang terlihat seperti dibungkus plastik property korban dari instalasi forensik.

"Iya, itu gelangku, ayah janji mau beli gelang seperti itu, tolong berikan Tante," jawab Alisa sambil bergerak mendekat, mencoba menjangkau gelang itu.

"Tunggu! apa kau sungguh anak Haryadi?" tanya Mbak Dwiana sambil mendelik pada putriku, " ... Jangan-jangan Kau hanya orang suruhan yang memanfaatkan kematian suamiku untuk mengambil keuntungan!" tudingnya dengan kasar. Ia angkat gelang kaca itu menjauh dari jangkauan Alisa. Dia sengaja melakukan itu di depan semua orang yang sedang berkabung untuk mempermalukan anakku. Sungguh kasihan diri ini melihat ekspresi Alisa yang terlihat sangat kecewa namun ingin sekali menjangkau gelang yang berada di tangan istri pertama suamiku.

"Kami akan pergi, tolong maafkan kami," ucapku sambil menarik Alisa dari kerumunan itu. Aku berencana untuk segera menjauh, kabur dari tempat itu sebelum suasananya menjadi lebih kacau.

"Tidak, jangan pergi! tunggu," ucap ibu Mas Haryadi. Dia menahan langkahku dan aku pun tidak berani untuk membantahnya,

" ... anaknya memang mirip seperti putraku, dia memang anak Haryadi, aku bisa merasakannya," ujar Ibu mertua sambil menggeser diri, mendekat pada Alisa.

Tentu bergolak raut wajah Mbak Dwiana melihat ibu mertua menarik tangan Alisa dan membelainya.

"Ibu, apa ibu yakin?" tanyanya dengan nafas memburu.

"Tolong kendalikan dirimu, kita bisa lakukan tes setelah ini, jangan buat keributan," tugas ibu mertua yang terlihat cukup berwibawa di usianya yang sudah senja. Mungkin karena istri tentara juga jadi beliau juga punya jiwa ketegasan yang kuat.

Sebenarnya ibu mertua mencoba menghalau keributan, tapi terlambat, karena kini pembicaraan sudah mulai menjalar, orang-orang berbisik dan mulai riuh. Mereka memandangku dan anakku. Kami terlihat seperti dua orang yang tidak diinginkan dan harusnya sudah seperti sampah yang dibuang.

"Jadi kau seorang pelakor? jadi kau wanita simpanan? dan dari hubungan gelap kalian kau dan dia telah menghasilkan anak yang aku yakin tidak punya akta kelahiran, betul kan?"

"Maaf sebelumnya hanya ingin meluruskan, Mbak, kami sudah menikah secara agama menggunakan wali dari keluarga saya juga saksi 4 orang pria yang menyatakan bahwa kami menikah dengan sah!"

"Tetap saja kau pelakor yang hanya berani di belakang layar, kau tidak berani tampil selain datang menunjukkan dirimu di hari kematian suamiku! Kau sungguh menjijikkan!" desis wanita itu.

Putriku mulai menangis melihat rona kemarahan istri pertama Mas Haryadi. Aku bisa bayangkan anak kecil berumur 6 tahun tiba-tiba harus menghadapi kemarahan seorang wanita dewasa dengan wajah garang yang siap menerkam. Tentu putriku sangat syok, dia memelukku dengan erat.

"Bunda, Aku cuma mau peluk ayah dan ambil gelangku. Ambil bunda, ambil, itu punya Alisa,_ rengek anakku tersedu.

"Mau ambil? Nih, ambil!"

Prang

Cring!

Mbak Dwiana melempar gelang itu ke lantai hingga benda perhiasan yang terbuat dari kaca itu pecah berkeping-keping di lantai marmer. Para pelayat terhenyak melihat perlakuan Mbak Dwiana terlebih dia melakukan itu di depan jenazah, tanpa menghormati derajat dan kehormatan mendiang.

Anak kandung Mas Haryadi yang laki laki mulai bangkit dan berusaha menghalau ibunya yang murka .

Sementara anakku, melihat gelang yang didambakannya hancur berkeping-keping tentu Alisa menjadi semakin bersedih dan meraung, dia menangis dan segera memelukku menangisi ayahnya yang pergi juga gelang yang tak akan bisa dipakai lagi.

"Mami, jangan dong, Malu ...." Dirga anak pertama Mas Haryadi segera memegang tangan Mbak Dwiana.

"Dia yang harusnya malu, sudah jadi benalu dan merusak rumah tanggaku! Pantas saja suamiku sudah tidak perhatian lagi beberapa tahun terakhir, rupanya benalu ini yang merusak segalanya," teriak wanita itu menunjukku.

"Pergi kamu dari sini," ucap Dirga memandangku dengan penuh kebencian.

"Baik saya akan pergi tapi izinkan saya mencium tangan suamiku!"

"Aku tidak sudi dan tidak akan pernah mengizinkan kau menyentuh Haryadi. Kau hanya najis yang sudah dipelihara olehnya, aku tidak mau kesucian rumah ini dan suamiku ternodai olehmu lagi, enyah kau!" Ucap Mbak Dwiana yang seakan kesurupan. Situasi rumah itu menjadi riuh dan orang-orang pun ikut penasaran melongok ke dalam rumah. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, sungguh malu dan menyesal sekali diri ini sudah datang melayat.

Tapi jika tidak datang maka aku akan menyesal karena tidak bisa menyaksikan wajah orang yang kucintai untuk terakhir kalinya. Sungguh dilema yang telah membawakan ku sebuah petaka.

"Ayo pergi dari sini!" Dua orang wanita mendekat dan masing-masing memegang lengan kanan dan kiri ku berusaha mendorongku dan menarik diri ini keluar dari rumah itu.

"Iya saya akan pergi Tapi tolong jangan usir saya begini, saya istrinya dan anak itu adalah anak kandungnya!"

Anakku yang sudah tidak kuasa menahan kesedihannya, hanya berjalan mendekat ke arah jenazah ayahnya dan memunguti gelang-gelang kaca yang pecah di lantai itu. Anakku menangis sesenggukan sambil memasukkan setiap kepingan yang dia tadahkan ke atas jilbabnya. Ya, gamis yang dikenakan Alissa tidak memiliki kantong jadi untuk menampung semua itu dia menggunakan ujung jilbabnya. Orang-orang menjadi iba dan sedih melihat Alisa tapi mereka tidak berani menolongnya karena segan pada istri pertama suamiku.

Sebelum kami keluar dari rumah itu Alisa sempat mendekat dan mencium kedua pipi Haryadi sambil berkata,

"Ayah, kalau Ayah pergi duluan nggak apa-apa, kata guru agama Alissa orang yang meninggal itu akan pergi ke surga. Jadi Alisa nggak akan sedih lagi karena Ayah sudah bahagia. Cium sayang ya," ujarnya sambil mendaratkan kecupan kecil di kening Mas Haryadi.

Orang-orang yang melihat anak kecil menangisi jenazah ayahnya juga ikut menangis, mereka benar-benar kehilangan kata-kata dan tidak bisa memihak satu diantara kami. Setelah memberikan ciuman terakhir kami lalu diseret pergi dan diusir dari rumah mewah itu. Aku diseret seperti anjing yang tidak pantas berada di sana untuk memberikan penghormatan terakhir pada suamiku. Kami diusir sampai benar-benar jauh dari pekarangan rumah itu.

Hari itu aku dan putriku bertangis tangisan di trotoar yang tidak jauh dari rumah duka. Tak perlu digambarkan betapa hancurnya hati kami, Tak ada yang bisa diucapkan selain air mata yang berderai.

"Maafkan aku ya Mas, aku tidak bisa memelukmu untuk terakhir kalinya." Hanya itu yang aku ucapkan sambil menatap sedih pada rumah Mbak Dwiana.

Bab terkait

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   3.

    Sampai jenazah di berangkatkan kami tidak diizinkan untuk mendekat, jangankan bisa memeluk peti jenasah yang telah dikarang bunga, menatap dari kejauhan saja tidak bisa. Kami hanya boleh berdiri di radius seratus meter dari rumah mewah itu. Terlihat peti jenazah di naikkan ke mobil besar berwarna putih, lalu sirine mobil tersebut mulai menggaung memecah suara keramaian tempat itu. Tak banyak yang bisa kulakukan selain hanya menyaksikan mobil itu melewati kami."Mari Mbak, saya antar ke pemakaman," ujar Jaka yang tetap setia dan baik kepada kami."Baik, ayo kita pergi," ajakku pada anakku yang telah lemas karena terus menangis. Patahan gelang gelang kaca itu tetap dirangkum ditangannya dan enggan ia lepaskan."Taruh diplastik aja ya," ujar Jaka yang merasa iba pada anakku. Pria itu membuka dashboard mobilnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik lalu menyerahkan kepada Alisa.Diletakkannya kepingan gelang yang sudah pecah itu ke dalamnya lalu anakku memegangnya erat-erat."Makasih O

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-22
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   4.

    "Hentikan Dwiana! Kau mempermalukan mendiang dengan cara begitu, Nak, sabar dulu ...." Ibu mertua berusaha membujuk menantu pertamannya untuk tetap tenang.Aku yang sudah panik langsung mengambil putriku dan memeluknya, menyeka darah yang keluar dari dahinya dengan bagian depan gamisku yang panjang. Hatiku sangat hancur, perasaanku terluka dan luka yang sudah ada itu semakin seolah ditambahkan cuka. Putriku ingin segera kubawa ke rumah sakit tapi mbak Dwiana yang sudah menggila menghadang langkahku."Ibu ingin aku sabar? Bagaimana caranya ketika tiba-tiba seorang wanita membawa anak dan mengakui status mereka dihadapan jenazah suamiku Apa yang harus kulakukan?!" Kini wanita itu juga ikut menangis. "Coba berdiri di Posisiku sekali saja ibu, musibah kematian nya saja sudah begitu membuat diri ini tumbang kini ditambah lagi dengan kenyataan baru bahwa dia telah menduakanku dan diam-diam memiliki anak dengan wanita lain, sungguh itu adalah perbuatan yang tidak adil bagi kesetiaan ini!""

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-22
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   5

    "Aku tahu, posisiku sebagai yang kedua selalu akan membuat diri ini dinilai sebagai perebut yang tidak tahu adab dan norma...""Nah kau tahu diri, Lon**!" teriak Mbak Dwi."... aku tahu sebutan pelakor itu amat menjijikkan! tapi aku dan suamiku ... kami bersepakat tidak ada aturan baku atau hukum manapun yang akan memenjarakan luasnya cinta dan perasaan kami." Mereka yang mendengar, Mbak Dwi, anak anak, juga ibu mertua dan Adik perempuan Mas Har terdiam." .... buku nikah hanya dokumen yang bisa dimanipulasi siapa saja, bahkan aku bisa mencetaknya jadi lima! Tapi aku tak mau seperti itu. Kuputuskan jalani hidup ini apa adanya, hanya sebagai istri dan cinta Mas Har. Jadi, andai tak punya buku nikah pun, kenyataannya aku adalah istri Mas Haryadi!""Dasar jalang bermulut rendahan!" desis Mbak Dwi, " ... aku heran mengapa Mas Har sampai berselera pada wanita yang sama sekali tak berkelas ini," ujarnya sambil merendahkan cara dia menatapku. Dia mendelik sambil tersenyum sinis, amat amat

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-22
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   6

    Kubawa anakku ke rumah sakit, dia langsung ditangani petugas medis di ruang rawat darurat, lukanya dibersihkan dan diberi jahitan sementara putriku masih merintih menahan sakitnya."Ah, Tuhan, ini baru permulaan petaka, berikutnya aku tahu bahwa keluarga Mas Haryadi tak akan membuatku hidup tenang. Mungkin mereka akan mempersulit putriku juga. Ah, Tuhan, aku mohon bantuanmu," gumamku sambil menahan air mataku.Memang mengatas namakan cinta untuk jadi istri kedua tidaklah baik dan bukan alasan yang tepat di mata masyarakat dan orang orang di lingkungan kita. Bagi mereka yang kedua tetaplah perusak dan benalu yang menghancurkan kebahagiaan orang lain.Aku bukannya cari pembenaran dengan mengatakan bahwa selama Mas Har menikah denganku dia sama sekali tak pernah bermasalah dengan istrinya karena begitu rapatnya kami menyembunyikan rahasia, tapi, aku benar benar melihat bahwa tak ada satu hukum dunia pun yang bisa membatasi cintaku pada Mas Har. Ya, hanya dia dan satu satunya dia orang ya

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   7

    Apalagi yang mereka inginkan dengan datang kemari dengan wajah sombong dan muka garang. Apa tidak puas mereka mengusikku pagi tadi, menghajarmu di kuburan Mas Haryadi. Tidak bisakah kami semua yang sedang berduka tidak saling mengusik.Tok tok ....Sudah kuduga, ketukan itu akan terdengar cepat. Kuhampiri bufet, kutatap penampilanku di pantulan kaca. Wajahku pucat, mataku sembab dan ada bekas cakaran di pelipis dan pipi kiri. "Aku harap tidak ada teriakan lagi, putriku yang sakit sedang tertidur," gumamku sambil melangkah dengan berat hati menuju ke pintu.Kubuka pintu dan ku temui ketiga orang yang masih menatapku dengan penuh dendam dan kebencian, di belakang mereka ada Jaka yang terlihat menunjukkan wajah tidak enak padaku namun dia sendiri tidak berdaya."Jadi ini rumah tempat kamu dan Hariyadi menyembunyikan hubungan rahasia kalian?" Tanya Mbak Mbak dwiana, masuk merangsek sambil mendorongku, anaknya pun ikut masuk ke dalam dan mengedarkan pandangan mereka."Kumuh sekali tempat

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   8. kurang apa

    "Kurang puas atau seperti apa lagi kau ingin menyebut diri ini? Kalian sudah menghinaku sedemikian rupa, lalu apa lagi yang kalian inginkan? jika kalian cari harta dan uang maka aku tidak memilikinya.""Iya, karena kau rendahan dan bodoh," jawab Mbak Dwi sambil tertawa sinis dan mengajak anaknya pergi. Iya, mereka pergi begitu saja setelah merundung dan mengundang emosiku. Mungkin aku harusnya paham, bahwa dengan cara demikianlah Mbak Dwi bisa mengungkapkan perasaan marahnya padaku. Mungkin dengan cara itu dia bisa lega dari kesedihan dan kekecewaan yang mengejutkan. Aku tidak berusaha mencari pembenaran versi diriku atau pembelaan orang lain. Posisi istri kedua yang dinikahi siri membuat statusku tidak terhormat dan pernikahanku seolah pernikahan yang dilakukan untuk menghalalkan zina saja. Padahal tidaklah demikian.Sekarang aku tahu bahwa langkah yang kuambil seperti telah mencoreng arang di wajahku sendiri. Aku tidak bisa menyalahkan perasaan cinta yang saat itu menggebu dan mem

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   9

    Karena sudah tidak punya suami yang akan membekali hidupku dengan nafkah dan kasih sayang, juga dukungan secara mental kuputuskan untuk bangkit dan mencoba berdiri diatas kaki sendiri seperti yang pernah kulakukan di masa lalu ketika aku masih belum menikah dan membiayai kehidupan keluargaku.Mulai hari ini aku putuskan untuk menggelar dagangan karena aku harus melanjutkan hidup dan meneruskan biaya pendidikan Alisa, dia akan masuk SD dan tentu saja kebutuhannya akan sangat banyak. Setelah usai mandi dan membersihkan rumah, kukemas makanan dan minuman yang akan kujual di lapak nanti. Kuletakkan tumpukan bermacam-macam kue yang sudah dibungkus plastik mika di dalam sebuah box segi empat. Lalu menutupnya dengan rapat. "Alisa, mau ikut Bunda jualan tidak?" tawarku."Enggak Bund, aku sama Samar saja," jawabnya menyebut nama anak tetanggaku, Mbak Yuli."Tapi, apa itu tidak akan merepotkan ibunya Samar?""Enggak.kok, saya gak repot, malah saya senang jika bisa membantu menjaga Alisa." Ti

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-27
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   10

    Wanita itu mendengus lalu menghempaskan pakaiannya yang sedikit panjang dan membalikkan badan meninggalkanku. Tinggallah diri ini yang duduk lesu memperhatikan kue-kue yang berserakan jatuh ke jalanan. Sebagian masih utuh dan sebagian lagi sudah terlindas oleh motor dan mobil mobil yang lewat.Bukan tentang harga yang aku tangisi tapi tentang kejamnya wanita itu terhadap diri ini. Jika pernikahanku dan Mas Har adalah titik balik yang mengangkat kabut hitam diriku yang pernah ternodai, mengapa setelah kepergiannya, aku kembali seperti sampah yang pantas diinjak. Mbak Dwiana sangat jijik dan melihatku seperti alergi yang harus segera dibasmi.Kukumpulkan kembali kue kue yang masih bersih dan terbungkus plastik, kumasukkan wk dalam box sambil menahan tangis dan rasa malu pada orang-orang yang kebetulan lewat sebagian tukang ojek yang mangkal dan ibu-ibu penjual jajanan sepertiku. Mereka semua menyaksikan apa yang terjadi dari awal sampai akhir. Mereka semua melihat bagaimana kabarnya Mba

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-28

Bab terbaru

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   37

    Ketika kuantar Mbak Dwi ke depan pintu, tiba tiba ibu mertua sudah hadir bersama kedua adik iparku widhi dan Widya. Dalam keharuan mendalam yang baru kurasakan dengan Kakak kini tiba tiba ibu juga menunjukan ekspresi haru yang sama, menangis sambil tersenyum. "Dwi, Susi, Alhamdulillah, Nak." "Ibu ...." Aku dan Mbak Dwi mendekat dan menghambur ke pelukan mertua kami. Beliau memeluk kami dengan erat dan menciumi kami bergantian. "Alhamdulillah, jika kalian sudah saling memaafkan dan menerima kesalahan masing masing." Lelehan bening dari netra ibu mertua menunjukan bahwa dia sangat bersyukur atas apa yang terjadi barusan. "Kami sedang berusaha Mami," jawab Mbak Dwi dengan wajah canggung. "Tidak apa apa Nak, mami memuji kelapangan hatimu menerima kenyataan, menerima Susi sebagai bagian dari hidup Haryadi dan kau sudah berdamai dengan kenyataan. Alhamdulillah, Mami benar benar bersyukur, Mami menghargaimu, Nak," ucap Ibu dengan senyum mengembang paling manis yang pernah kulihat. Sela

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   36

    Secara mengejutkan Mbak Dwiana datang ke kedai di jam delapan pagi. Saat itu kedaiku masih tutup, tapi aku sudah membuka pintu samping dan sibuk menyapu. Melihatnya sudah berdiri di ujung pintu aku hanya tertegun, kami saling berpandangan dengan perasaan masing masing lalu ... di sinilah kami duduk berdua saling berhadapan dan sibuk dalam kebungkaman masing masing."Ada apa Mbak, tumben datang kemari pagi sekali?" Sebenarnya aku tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana."Aku ingin bicara?"Dia mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya, foto yang cukup mengejutkan di mana aku dan Mas Haryadi juga Alisa ketika masih balita dalam frame yang sama. "Darimana Mbak dapat foto itu?" Tanyaku dengan tenggorokan terasa kering karena begitu penasaran."Seharusnya pertanyaan itu diganti, menjadi sejak kapan foto itu ada padaku," gumam wanita itu."Jadi mbak sudah tahu kalau aku adalah istri Mas Har jauh sebelum beliau meninggal?" tanyaku.Tanpa kuduga air mata meluncur begitu saja dari netra

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   35

    Kumatikan ponsel sambil menggeleng pelan, kutarik napas dalam dalam sambil menetralisir perasaan yang sekiranya mengajakku untuk terus membuat dosa. Seharusnya aku tak begitu pada ibunda Dirga dan Bella, tapi Mbak Dwi memaksaku untuk terus jahat mengikuti alur beliau.Sebenarnya, dalam hati kecil, bukannya aku tak punya malu atau rasa bersalah, aku ingin sekali minta maaf atas semua yang terjadi selama ini dan bicara baik baik pada Mbak Dwiana. Andai beliau bisa diajak duduk dan bicara, tapi sayang kakak maduku itu sangat temperamen dan kasar. Dia terus memendam sakit hati dan dendamnya hingga batas waktu yang tak ditentukan.Mungkin aku tak akan pernah dimaafkan, fine, aku menerima itu, tapi bisakah di antara kami tidak saling mengganggu saling mengusik dan menjahati? Bisakah?**Kuketuk rumah berlantai dua dengan dua pilar megah penyanggah depannya. Aku tahu kedatanganku ke tempat ini sama dengan menempatkan diri ke dalam kandang singa. Tapi aku tak punya pilihan."Siapa?" Suara ben

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   34

    Maaf ada kesalahan sehingga bab cerita tertukar ❤️🙏"Apa?" Mbak Dwiana terbelalak mendengar kata-kata ibu. Bagaimana tidak kata-kata itu sangat menyentil dan menyinggung sekali."Ibu bilang apa?""Aku tidak mau mengusik hidup dan mengganggu kencanmu! Kurang baik seperti apa lagi aku?!"Demi apa raut wajah Mbak Dwi sangat pucat dan dia langsung kelihatan sedih serta terguncang sekali."Sudah kukatakan apa urusanmu dengan hidup Susi! Jangan ganggu dia lagi sehingga kalian pun bisa hidup dengan aman dan damai!""Dia sudah memerasku sebanyak 20 juta Bu!" Mbak Dwi berteriak di luar kedai."Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam mobil," ucap Ibu sambil mengalihkan perhatian dan berusaha untuk tidak membuat malu semua orang."Masuk ke mobil, Susi, Dwi, ayo masuk!" perintah ibu."Ba-baik."Di sinilah kami, saling berhadapan di mobil ibu mertua yang cukup mewah dan luas. Jok tengahnya bisa diputar sehingga ibu bisa mengintrogasi kami yang duduk di baris paling belakang."Jadi katakan, apa maks

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   33

    Tak lama setelah Mbak Dwi meninggalkan kedai kami, mobil ibu mertua tiba. Dengan pintu yang dibukakan supir, ibu terlihat turun dan menghampiri tempat kami. Aku yang sadar diri dan tahu rasa hormat segera membuka pintu kaca dan menyambutnya dengan uluran tangan serta menyalaminya."Akhirnya Ibu datang juga," ucapku."Hmmm, aku penasaran apa yang hendak kau sampaikan," jawabnya sambil menarik kursi dan duduk di salah satu meja pelanggan."Sesuatu yang serius, mungkin juga tidak begitu penting bagi ibu, tapi yang pasti saya ingin menunjukkannya.""Pastikan bahwa aku akan sangat tertarik," ucap ibu dengan tarikan muka tegas dan bibir yang dia sungginggkan miring."Ini tentang Mbak Dwi," gumamku."Ada apa dengannya?""Sebelum bicara, saya ingin tahu, apakah ibu tahu sesuatu tentang kakak maduku?""Tentang apa?""Hal yang dalam tanda kutip sesuatu yang dirahasiakan, aib dan lain sebagainya," jawabku setengah pelan.Iu mengernyit tidak paham, dia menggeleng dan nampak penasaran."Kataka

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   32

    Aku memang tak percaya pada siapapun saat ini, aku tidak percaya pada hal hal yang akan kuanggap mudah. Sekarang semua langkah dalam hidupku harus tertata dalam dua rencana di mana jika rencana a tidak sesuai maka aku harus melakukan rencana cadangan.Mbak dwiana sudah mengatakan akan memberikan jaminan tapi aku pun tidak bisa memberikan janji padanya. Mau tak mau, aku harus tetap memperlihatkan pada ibu mertua tentang wajah asli menantu sulungnya. Ibu harus tahu seperti apa menantu yang selama ini dia banggakan sebagai wanita anggun dan berkelas.Kutelpon Ibu mertua, kukatakan padanya bahwa aku membutuhkan dia sore nanti, aku akan berkunjung padanya."Tidak usah datang padaku karena kau akan sibuk di kedaimu, biar Ibu saja yang datang dan mengunjungi Alisa sekalian.""Ibu jangan lama, karena akan ada hal yang ibu lewatkan, kalau bisa datanglah dari pukul tiga," jawabku."Baik, tidak masalah dengan catatan bahwa hal yang akan kau sampaikan bukan sesuatu yang recehan.""Tidak demi Tuha

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   31

    Pagi pagi sekali, aku yang sedang membuang sampah membersihkan kedai bekas pengunjung semalam didatangi oleh wanita yang sudah bosan sekali kuhadapi kedatangannya.Selagi aku menunduk dan sibuk menyapu dia sudah berdiri sambil berkacak pinggang kali ini dia tidak datang mengenakan jilbab tapi baju olahraga ketat, rambut tergerai dengan setelan sepatu olahraga juga."Ada apa lagi?" tanyaku sambil bangkit."Apa yang sudah kau katakan kepada kedua anakku?""Memangnya apa yang mereka katakan?! kami semalam berbincang banyak dan bercerita, bagian mana yang tidak kau sukai!""Hah, sekarang kau berani mengejek dan melawan, ya!" ujarnya yang hendak menjambakku seperti biasa. Tapi, dengan segera kutepis tangannya dengan ujung gagang sapu lidi yang kupegang."Mengapa tidak aku juga punya tangan dan kaki, aku juga punya uang dari sumber daya seperti dirimu jadi bagian manakah aku akan takut?!" tanyaku sambil mengangkat dagu."Pelakor tak tahu malu!" Teriaknya di trotoar jalan."Daripada kamu, i

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   30

    Tak mau ikut campur tapi aku juga harus memanfaatkan kesempatan yang ada, setelah merekam kejadian itu aku segera beranjak dari restoran dan pergi melanjutkan niatku untuk belanja bahan kue."Syukurnya wanita itu tidak menyadari bahwa aku ada di sana." Sensasi gemetar dan kaget juga sports jantung membuatku sangat gugup dan takut."Sekarang akan kugunakan hal itu untuk memberi Mbak Dwi pelajaran jika dia masih menyakitiku," ujarku sambil tersenyum sendiri.Setelah sampai di toko beli bahan makanan yang aku butuhkan lalu meluncur pulang lalu membuat adonan dengan cekatan, kuproses semua bahan kue sambil menghitung waktu dan mengejar jadwal pulang sekolah Alisa.Pukul sepuluh, kutinggalkan pekerjaan untuk menjemput anakku ke sekolah yang kini tak begitu jauh dari tempatku. Ibu mertua yang baik hati memilihkan tempat yang cukup strategis dan dekat dari ruko yang kami beli sekarang. Alhamdulillah tidak begitu banyak kendala yang membuat hidupku terhalangkan dengan kesusahan. Mungkin k

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   29

    Alhamdulillah hari ini adalah hari pertama pembukaan kedai kopi dan roti milikku. Kami adakan syukuran kecil dengan mengundang tetangga dan orang-orang yang ada di sekitar tempat ini membaca doa dan menikmati hidangan kecil.Ketika tamu undangan sudah pergi, aku dan anakku sibuk membereskan bekas acara karena beberapa jam lagi kami akan melayani pelanggan dan menerima pesanan.Padahal mengejutkan ketika aku membuang sampah ke tong yang ada di sebelah kiri jalan. Mungkin itu adalah pemandangan yang cukup mengherankan namun aku masih berpikir positif dan wajar saja. Kulihat mobil Mbak Dwiana lewat, dia duduk di depan bersama seorang pria dan mereka terlihat tertawa dan bercanda, sangat akrab, tidak mungkin seakrab itu seorang supir dengan majikannya."Itu siapa ya ... Ah, terserahlah, bukan urusanku," gumamku dalam hati.Meski penasaran aku tak hendak mencari tahu, biarlah jika memang itu sahabat terdekatnya, mungkin kakak maduku butuh teman untuk bercerita, perlu bergaul untuk meluas

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status