Share

6

Penulis: Ria Abdullah
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-25 07:04:50

Kubawa anakku ke rumah sakit, dia langsung ditangani petugas medis di ruang rawat darurat, lukanya dibersihkan dan diberi jahitan sementara putriku masih merintih menahan sakitnya.

"Ah, Tuhan, ini baru permulaan petaka, berikutnya aku tahu bahwa keluarga Mas Haryadi tak akan membuatku hidup tenang. Mungkin mereka akan mempersulit putriku juga. Ah, Tuhan, aku mohon bantuanmu," gumamku sambil menahan air mataku.

Memang mengatas namakan cinta untuk jadi istri kedua tidaklah baik dan bukan alasan yang tepat di mata masyarakat dan orang orang di lingkungan kita. Bagi mereka yang kedua tetaplah perusak dan benalu yang menghancurkan kebahagiaan orang lain.

Aku bukannya cari pembenaran dengan mengatakan bahwa selama Mas Har menikah denganku dia sama sekali tak pernah bermasalah dengan istrinya karena begitu rapatnya kami menyembunyikan rahasia, tapi, aku benar benar melihat bahwa tak ada satu hukum dunia pun yang bisa membatasi cintaku pada Mas Har. Ya, hanya dia dan satu satunya dia orang yang bisa kucintai.

"Sakit Bund," keluhan anakku menyentakkan lamunan diri ini, segera kugenggam tangannya dan kupeluk tubuhnya, kuminta ia untuk bersabar dan menahan.

"Anak pintar, Alisa anak yang tangguh dan kuat, alisa bisa menghadapi semua ini," bisikku.

"Kenapa kita didorong dan dipukuli Bu, apa salahnya, Ayah meninggal kenapa kita yang disalahkan?"

"Gak tahu sayang, yang pasti jangan pikirkan itu, pikirkan keadaan Alisa ya, Alisa harus sehat dulu," balasku sambil menahan air mata.

"Apa wanita tadi istri ayah, bukannya istri ayah hanya Bunda?"

Ah, hatiku gamang menjawabnya, aku benar benar cemas akan menjatuhkan mental anakku yang kemudian akan tahu bahwa ibunya lah yang nomor dua dan merebut kebahagiaan orang lain. Kasarnya disebut pelakor yang hina.

"Kenapa wanita yang menangis itu jahat sekali dan berteriak pada Bunda, dia juga mendorong Alisa, Bund," keluh anakku.

"Sabar dan maafkan ya, orang orang yang menyakiti semoga mendapatkan hidayah."

"Kalau ternyata memang Bunda yang salah, akankah Bunda mendapat hidayah?"

Pertanyaan alisa membuatku terdiam, sungguh ucapannya ada benarnya juga. Akulah yang bersalah telah menjalin hubungan secara diam-diam tidak pernah datang atau berusaha mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Mas Haryadi. Aku diam dan mendukung Mas Haryadi untuk menutup rapat hubungan kami, tidak berpikir bahwa ke depannya semuanya akan menjadi kesulitan.

Sekarang aku harus bagaimana jika Alisa untuk masuk sekolah. Putriku belum memiliki akte kelahiran kalaupun harus memiliki akta kelahiran maka dia harus memiliki pengakuan dari keluarga Mas Haryadi. Jika kuletakkan nama dia di dalam akte kelahirannya hanya sebagai anakku, maka orang-orang akan berpikir bahwa dia anak yang dilahirkan di luar nikah atau tidak memiliki ayah. Sekali pun aku bersikeras mengatakan pada seluruh dunia bahwa dia punya ayah tentu orang-orang tidak akan percaya karena selama ini aku tidak pernah menunjukkan siapa suamiku, tidak sekalipun aku pernah berjalan bersama dengannya seperti layaknya keluarga yang bahagia. Walaupun kami pernah pergi piknik bersama itu pun diam-diam dan dilakukan di luar kota di mana tidak seorangpun yang mengenal kami.

Ah, aku benar-benar bingung.

Usai mendapatkan perawatan dari petugas medis dan memperoleh obat-obatan kuajak Putriku pulang. Masih dengan diantar Jaka kami meluncur menuju ke rumah.

"Maaf ya terima kasih ya sudah mengantarkan kami dan peduli kepada kami," ucapku.

"Ya, sama sama, Ibu."

"Setelah Mas Haryadi pergi mungkin kita akan jarang bertemu, saya tidak bisa memberikan apa-apa kecuali rasa syukur dan terima kasih yang begitu besar kepada Mas Jaka."

"Iya, Bu. Tidak apa apa."

Aku sadar bahwa dia tidak akan lagi menjadi ajudan suamiku, dia akan punya tugas baru dan tidak akan berjumpa dengan kami lagi.

"Saya harap kamu menyimpan semua yang kamu ketahui tentang kami, tolong bantu saya untuk menyimpannya rapat-rapat."

"Insya Allah, karena saya menghormati Pak Haryadi komandan saya."

"Terima kasih ya."

"Sama sama Bu."

*

Jaka sudah menurun karena kami dari mobil dan sekarang tinggal lah aku dan Alysa di depan pintu pagar pekarangan. Kudorong pintu besi yang sejajar dengan dadaku, lalu kami masuk dan menutupnya kembali.

Kali ini semangatku seakan menghilang terlebih ketika menatap pintu utama dan kursi teras di mana Mas Haryadi selalu menghabiskan waktu di malam hari untuk duduk bersamaku dan membicarakan tentang kehidupan kami. Angin berhembus dan terasa melubangi relung hatiku yang baru saja kehilangan seseorang yang paling penting dan kucintai.

"Ya Allah, kenapa Engkau mengambil suamiku begitu cepat, langkahku masih pincang, aku belum tahu harus mengarah kemana untuk membawa kehidupanku dan anakku," keluhku sambil menahan air mata.

Kuputar kunci pintu dengan lesu lalu membukanya. Ketika aku masuk, masih tercium aroma parfum kesukaan suamiku yang dia semprotkan pagi tadi. Hatiku semakin hancur merindukan dirinya yang kini sudah terbaring di tempat peristirahatan terakhir. Ya Allah, beginikah sakitnya ditinggal pergi selamanya? Ya Allah mengapa sesakit ini?

Kuantar Alisa ke kamarnya lalu merebahkan anakku di kasurnya.

"Tidurlah, bunda akan masak makanan kesukaan alisa sebentar lagi."

"Gak usah Bund, Alisa gak lapar. Alisa hanya Rindu Ayah." Sungguh pahit rasanya perasaanku melihat mata putriku yang berkaca kaca, wajahnya sembab, ditambah perban bekas luka yang makin membuat perasaanku hancur lebur rasanya.

Dia merindukan ayahnya, aku harus bagaimana?

*

Biarkan putriku tertidur hingga dia merasa damai di antara pelukan boneka dan bantal gulingnya. Tak bersemangat diri ini untuk ke dapur, aku hanya bisa duduk dan termenung memikirkan hidupku entah harus kubawa kemana.

*

Sore pukul empat

Tiba-tiba mobil Jaka berhenti di depan rumah, aku yang sejak siang tadi tidak beranjak dari ruang tamu langsung tersentak dan bangun untuk memeriksa mengapa Jaka kembali mendatangiku.

Alangkah terkejutnya diri ini karena yang turun dari mobil ajudan suamiku adalah Mbak Dwiana dan kedua anaknya.

Ya Tuhan, apalagi sekarang?

Bab terkait

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   7

    Apalagi yang mereka inginkan dengan datang kemari dengan wajah sombong dan muka garang. Apa tidak puas mereka mengusikku pagi tadi, menghajarmu di kuburan Mas Haryadi. Tidak bisakah kami semua yang sedang berduka tidak saling mengusik.Tok tok ....Sudah kuduga, ketukan itu akan terdengar cepat. Kuhampiri bufet, kutatap penampilanku di pantulan kaca. Wajahku pucat, mataku sembab dan ada bekas cakaran di pelipis dan pipi kiri. "Aku harap tidak ada teriakan lagi, putriku yang sakit sedang tertidur," gumamku sambil melangkah dengan berat hati menuju ke pintu.Kubuka pintu dan ku temui ketiga orang yang masih menatapku dengan penuh dendam dan kebencian, di belakang mereka ada Jaka yang terlihat menunjukkan wajah tidak enak padaku namun dia sendiri tidak berdaya."Jadi ini rumah tempat kamu dan Hariyadi menyembunyikan hubungan rahasia kalian?" Tanya Mbak Mbak dwiana, masuk merangsek sambil mendorongku, anaknya pun ikut masuk ke dalam dan mengedarkan pandangan mereka."Kumuh sekali tempat

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   8. kurang apa

    "Kurang puas atau seperti apa lagi kau ingin menyebut diri ini? Kalian sudah menghinaku sedemikian rupa, lalu apa lagi yang kalian inginkan? jika kalian cari harta dan uang maka aku tidak memilikinya.""Iya, karena kau rendahan dan bodoh," jawab Mbak Dwi sambil tertawa sinis dan mengajak anaknya pergi. Iya, mereka pergi begitu saja setelah merundung dan mengundang emosiku. Mungkin aku harusnya paham, bahwa dengan cara demikianlah Mbak Dwi bisa mengungkapkan perasaan marahnya padaku. Mungkin dengan cara itu dia bisa lega dari kesedihan dan kekecewaan yang mengejutkan. Aku tidak berusaha mencari pembenaran versi diriku atau pembelaan orang lain. Posisi istri kedua yang dinikahi siri membuat statusku tidak terhormat dan pernikahanku seolah pernikahan yang dilakukan untuk menghalalkan zina saja. Padahal tidaklah demikian.Sekarang aku tahu bahwa langkah yang kuambil seperti telah mencoreng arang di wajahku sendiri. Aku tidak bisa menyalahkan perasaan cinta yang saat itu menggebu dan mem

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-26
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   9

    Karena sudah tidak punya suami yang akan membekali hidupku dengan nafkah dan kasih sayang, juga dukungan secara mental kuputuskan untuk bangkit dan mencoba berdiri diatas kaki sendiri seperti yang pernah kulakukan di masa lalu ketika aku masih belum menikah dan membiayai kehidupan keluargaku.Mulai hari ini aku putuskan untuk menggelar dagangan karena aku harus melanjutkan hidup dan meneruskan biaya pendidikan Alisa, dia akan masuk SD dan tentu saja kebutuhannya akan sangat banyak. Setelah usai mandi dan membersihkan rumah, kukemas makanan dan minuman yang akan kujual di lapak nanti. Kuletakkan tumpukan bermacam-macam kue yang sudah dibungkus plastik mika di dalam sebuah box segi empat. Lalu menutupnya dengan rapat. "Alisa, mau ikut Bunda jualan tidak?" tawarku."Enggak Bund, aku sama Samar saja," jawabnya menyebut nama anak tetanggaku, Mbak Yuli."Tapi, apa itu tidak akan merepotkan ibunya Samar?""Enggak.kok, saya gak repot, malah saya senang jika bisa membantu menjaga Alisa." Ti

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-27
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   10

    Wanita itu mendengus lalu menghempaskan pakaiannya yang sedikit panjang dan membalikkan badan meninggalkanku. Tinggallah diri ini yang duduk lesu memperhatikan kue-kue yang berserakan jatuh ke jalanan. Sebagian masih utuh dan sebagian lagi sudah terlindas oleh motor dan mobil mobil yang lewat.Bukan tentang harga yang aku tangisi tapi tentang kejamnya wanita itu terhadap diri ini. Jika pernikahanku dan Mas Har adalah titik balik yang mengangkat kabut hitam diriku yang pernah ternodai, mengapa setelah kepergiannya, aku kembali seperti sampah yang pantas diinjak. Mbak Dwiana sangat jijik dan melihatku seperti alergi yang harus segera dibasmi.Kukumpulkan kembali kue kue yang masih bersih dan terbungkus plastik, kumasukkan wk dalam box sambil menahan tangis dan rasa malu pada orang-orang yang kebetulan lewat sebagian tukang ojek yang mangkal dan ibu-ibu penjual jajanan sepertiku. Mereka semua menyaksikan apa yang terjadi dari awal sampai akhir. Mereka semua melihat bagaimana kabarnya Mba

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-28
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   11

    Keesokan harinya. Kusambut pagi dengan menunaikan dua rakaat salat subuh, lalu memanjangkan doa semoga Tuhan meringankan sedikit beban yang ada di hidupku.Kulipat mukena lalu meletakkannya ke dekat kaca rias, lalu kubuka jendela kamar untuk membiarkan hawa pagi berebut masuk menukar udara tertutup yang ada di dalam kamar. Pagi ini, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, rencananya aku akan langsung ke pasar untuk membeli bahan-bahan kue, lalu kembali ke rumah untuk mengolah bahan tersebut kemudian menjualnya sore hingga malam nanti.*Pukul delapan aku kembali dari pasar, membuka pintu pagar lalu masuk ke rumah dengan keranjang belanjaan penuh. Kubongkar barang barang yang sudah kubeli untuk memastikan bahwa tidak ada yang terlupakan. Kucuci tangan lalu menyiapkan bahan untuk membuat adonan, tapi, baru saja menuangkan terigu, tiba tiba pintu rumahku diketuk dengan ketukan keras."Astaghfirullah, siapa itu, ketukannya kasar sekali seperti seorang rentenir yang hendak menagih hu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-29
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   12

    Tidak mau anakku menyaksikan semua kekacauan yang dibuat Mbak Dwi di dalam rumah ini, aku segera memutuskan untuk bangkit dan membereskan kembali lemari dan pakaian yang berserakan.Kususun baju dan juga gamisku yang tadi diinjak-injak olehnya, tak terasa air mata ini kembali tumpah, aku tak mengira bahwa diriku akan lemah dan serapuh ini. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membela diri karena tahu bahwa diriku bersalah di matanya, aku adalah orang kedua yang kemudian dia anggap sebagai pengganggu dan perusak.Sebenarnya, kalau kuperhatikan rumah tangga Mas Har dan Mbak Dwi baik baik saja. Mas Har tidak terlalu sering mengeluhkan tingkah istrinya, dia hanya bilang bahwa Mbak Dwi boros dan susah diatur tapi Mas Haryadi tidak pernah berniat untuk menceraikan istrinya. Jadi mengapa ia begitu memusuhiku, haruskah aku meminta bantuan kepolisian agar bisa melindungi diri dan anakku. Akankah polisi mau membantu untuk melindungiku dari Mbak Dwiana, di sisi lain aku juga sadar bahwa Mbak Dwi

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-30
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   13

    Sudah kudapatkan surat pengantar untuk kepengurusan kartu keluarga dan akte kelahiran Alisa. Oleh karena itu pagi ini aku berinisiatif untuk segera pergi ke Disdukcapil untuk mengurus semuanya.Dengan diantar tukang ojek aku sampai di tempat itu lalu mengambil nomor antri dan menunggu di kursi yang disediakan. Sembari menunggu, kubuka ponsel lalu memeriksa pesan dan apa saja yang kemungkinan belum Kuperiksa. Sesaaat aku terdiam, menatap wallpaper bergambar Mas Har lengkap dengan seragam dinas dan kacamata hitam. Dia nampak tampan dan gagah sekali layaknya ksatria dan pria sejati. Tiba tiba kerinduan melesak dari dasar hatiku, membuat sudut mata ini basah karena masih ingin menghabiskan waktu dengannya."Tak kusangka bahwa waktu kami sangat singkat." Kuusap netra sebelum orang orang yang duduk di sekitarku memperhatikan.Lepas dari foto Mas Haryadi, aku beralih ke foto putri tunggalku yang terdapat banyak di galeri. Kubelai layar ponsel sambil memperhatikan Alisa yang manis dan tulu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   14

    Mendapatkan tertawaan dan hinaan orang orang aku segera bangun dan membenahi tas serta pakaianku yang kotor. Ingin sekali kujambak wanita itu dan kucakar wajahnya tapi aku tahu itu bukan pilihan terbaik saat ini. Aku tidak mau orang orang yang sudah mencibirku dengan sebutan pelakor tambah menghina diri ini karena berani memberikan perlawanan."Terima kasih atas semua penghinaan yang Mbak berikan, saya ikhlas menerimanya dan semoga ini menjadi pahala kesabaran saya. Tentang siapa yang salah dan berdosa biar itu di mata tuhan saja," balasku sambil mengemasi tas dan pergi begitu saja.Huuuu ....Orang orang menyoraki dan mencibir, bahkan ada yang merekam kejadian ini dengan ponsel. Aku tahu mungkin setelah hari ini kami akan viral, aku sudah pasrah dengan keadaan. "Biarlah tidak mengapa aku yang disakiti, asal Alisa anakku baik baik saja," gumamku.Kulangkahkan kaki meninggalkan tempat itu dengan perasaan remuk redam dan malu sekali, kunaiki ojek dengan iringan pandang kebencian semua

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01

Bab terbaru

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   37

    Ketika kuantar Mbak Dwi ke depan pintu, tiba tiba ibu mertua sudah hadir bersama kedua adik iparku widhi dan Widya. Dalam keharuan mendalam yang baru kurasakan dengan Kakak kini tiba tiba ibu juga menunjukan ekspresi haru yang sama, menangis sambil tersenyum. "Dwi, Susi, Alhamdulillah, Nak." "Ibu ...." Aku dan Mbak Dwi mendekat dan menghambur ke pelukan mertua kami. Beliau memeluk kami dengan erat dan menciumi kami bergantian. "Alhamdulillah, jika kalian sudah saling memaafkan dan menerima kesalahan masing masing." Lelehan bening dari netra ibu mertua menunjukan bahwa dia sangat bersyukur atas apa yang terjadi barusan. "Kami sedang berusaha Mami," jawab Mbak Dwi dengan wajah canggung. "Tidak apa apa Nak, mami memuji kelapangan hatimu menerima kenyataan, menerima Susi sebagai bagian dari hidup Haryadi dan kau sudah berdamai dengan kenyataan. Alhamdulillah, Mami benar benar bersyukur, Mami menghargaimu, Nak," ucap Ibu dengan senyum mengembang paling manis yang pernah kulihat. Sela

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   36

    Secara mengejutkan Mbak Dwiana datang ke kedai di jam delapan pagi. Saat itu kedaiku masih tutup, tapi aku sudah membuka pintu samping dan sibuk menyapu. Melihatnya sudah berdiri di ujung pintu aku hanya tertegun, kami saling berpandangan dengan perasaan masing masing lalu ... di sinilah kami duduk berdua saling berhadapan dan sibuk dalam kebungkaman masing masing."Ada apa Mbak, tumben datang kemari pagi sekali?" Sebenarnya aku tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana."Aku ingin bicara?"Dia mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya, foto yang cukup mengejutkan di mana aku dan Mas Haryadi juga Alisa ketika masih balita dalam frame yang sama. "Darimana Mbak dapat foto itu?" Tanyaku dengan tenggorokan terasa kering karena begitu penasaran."Seharusnya pertanyaan itu diganti, menjadi sejak kapan foto itu ada padaku," gumam wanita itu."Jadi mbak sudah tahu kalau aku adalah istri Mas Har jauh sebelum beliau meninggal?" tanyaku.Tanpa kuduga air mata meluncur begitu saja dari netra

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   35

    Kumatikan ponsel sambil menggeleng pelan, kutarik napas dalam dalam sambil menetralisir perasaan yang sekiranya mengajakku untuk terus membuat dosa. Seharusnya aku tak begitu pada ibunda Dirga dan Bella, tapi Mbak Dwi memaksaku untuk terus jahat mengikuti alur beliau.Sebenarnya, dalam hati kecil, bukannya aku tak punya malu atau rasa bersalah, aku ingin sekali minta maaf atas semua yang terjadi selama ini dan bicara baik baik pada Mbak Dwiana. Andai beliau bisa diajak duduk dan bicara, tapi sayang kakak maduku itu sangat temperamen dan kasar. Dia terus memendam sakit hati dan dendamnya hingga batas waktu yang tak ditentukan.Mungkin aku tak akan pernah dimaafkan, fine, aku menerima itu, tapi bisakah di antara kami tidak saling mengganggu saling mengusik dan menjahati? Bisakah?**Kuketuk rumah berlantai dua dengan dua pilar megah penyanggah depannya. Aku tahu kedatanganku ke tempat ini sama dengan menempatkan diri ke dalam kandang singa. Tapi aku tak punya pilihan."Siapa?" Suara ben

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   34

    Maaf ada kesalahan sehingga bab cerita tertukar ❤️🙏"Apa?" Mbak Dwiana terbelalak mendengar kata-kata ibu. Bagaimana tidak kata-kata itu sangat menyentil dan menyinggung sekali."Ibu bilang apa?""Aku tidak mau mengusik hidup dan mengganggu kencanmu! Kurang baik seperti apa lagi aku?!"Demi apa raut wajah Mbak Dwi sangat pucat dan dia langsung kelihatan sedih serta terguncang sekali."Sudah kukatakan apa urusanmu dengan hidup Susi! Jangan ganggu dia lagi sehingga kalian pun bisa hidup dengan aman dan damai!""Dia sudah memerasku sebanyak 20 juta Bu!" Mbak Dwi berteriak di luar kedai."Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam mobil," ucap Ibu sambil mengalihkan perhatian dan berusaha untuk tidak membuat malu semua orang."Masuk ke mobil, Susi, Dwi, ayo masuk!" perintah ibu."Ba-baik."Di sinilah kami, saling berhadapan di mobil ibu mertua yang cukup mewah dan luas. Jok tengahnya bisa diputar sehingga ibu bisa mengintrogasi kami yang duduk di baris paling belakang."Jadi katakan, apa maks

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   33

    Tak lama setelah Mbak Dwi meninggalkan kedai kami, mobil ibu mertua tiba. Dengan pintu yang dibukakan supir, ibu terlihat turun dan menghampiri tempat kami. Aku yang sadar diri dan tahu rasa hormat segera membuka pintu kaca dan menyambutnya dengan uluran tangan serta menyalaminya."Akhirnya Ibu datang juga," ucapku."Hmmm, aku penasaran apa yang hendak kau sampaikan," jawabnya sambil menarik kursi dan duduk di salah satu meja pelanggan."Sesuatu yang serius, mungkin juga tidak begitu penting bagi ibu, tapi yang pasti saya ingin menunjukkannya.""Pastikan bahwa aku akan sangat tertarik," ucap ibu dengan tarikan muka tegas dan bibir yang dia sungginggkan miring."Ini tentang Mbak Dwi," gumamku."Ada apa dengannya?""Sebelum bicara, saya ingin tahu, apakah ibu tahu sesuatu tentang kakak maduku?""Tentang apa?""Hal yang dalam tanda kutip sesuatu yang dirahasiakan, aib dan lain sebagainya," jawabku setengah pelan.Iu mengernyit tidak paham, dia menggeleng dan nampak penasaran."Kataka

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   32

    Aku memang tak percaya pada siapapun saat ini, aku tidak percaya pada hal hal yang akan kuanggap mudah. Sekarang semua langkah dalam hidupku harus tertata dalam dua rencana di mana jika rencana a tidak sesuai maka aku harus melakukan rencana cadangan.Mbak dwiana sudah mengatakan akan memberikan jaminan tapi aku pun tidak bisa memberikan janji padanya. Mau tak mau, aku harus tetap memperlihatkan pada ibu mertua tentang wajah asli menantu sulungnya. Ibu harus tahu seperti apa menantu yang selama ini dia banggakan sebagai wanita anggun dan berkelas.Kutelpon Ibu mertua, kukatakan padanya bahwa aku membutuhkan dia sore nanti, aku akan berkunjung padanya."Tidak usah datang padaku karena kau akan sibuk di kedaimu, biar Ibu saja yang datang dan mengunjungi Alisa sekalian.""Ibu jangan lama, karena akan ada hal yang ibu lewatkan, kalau bisa datanglah dari pukul tiga," jawabku."Baik, tidak masalah dengan catatan bahwa hal yang akan kau sampaikan bukan sesuatu yang recehan.""Tidak demi Tuha

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   31

    Pagi pagi sekali, aku yang sedang membuang sampah membersihkan kedai bekas pengunjung semalam didatangi oleh wanita yang sudah bosan sekali kuhadapi kedatangannya.Selagi aku menunduk dan sibuk menyapu dia sudah berdiri sambil berkacak pinggang kali ini dia tidak datang mengenakan jilbab tapi baju olahraga ketat, rambut tergerai dengan setelan sepatu olahraga juga."Ada apa lagi?" tanyaku sambil bangkit."Apa yang sudah kau katakan kepada kedua anakku?""Memangnya apa yang mereka katakan?! kami semalam berbincang banyak dan bercerita, bagian mana yang tidak kau sukai!""Hah, sekarang kau berani mengejek dan melawan, ya!" ujarnya yang hendak menjambakku seperti biasa. Tapi, dengan segera kutepis tangannya dengan ujung gagang sapu lidi yang kupegang."Mengapa tidak aku juga punya tangan dan kaki, aku juga punya uang dari sumber daya seperti dirimu jadi bagian manakah aku akan takut?!" tanyaku sambil mengangkat dagu."Pelakor tak tahu malu!" Teriaknya di trotoar jalan."Daripada kamu, i

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   30

    Tak mau ikut campur tapi aku juga harus memanfaatkan kesempatan yang ada, setelah merekam kejadian itu aku segera beranjak dari restoran dan pergi melanjutkan niatku untuk belanja bahan kue."Syukurnya wanita itu tidak menyadari bahwa aku ada di sana." Sensasi gemetar dan kaget juga sports jantung membuatku sangat gugup dan takut."Sekarang akan kugunakan hal itu untuk memberi Mbak Dwi pelajaran jika dia masih menyakitiku," ujarku sambil tersenyum sendiri.Setelah sampai di toko beli bahan makanan yang aku butuhkan lalu meluncur pulang lalu membuat adonan dengan cekatan, kuproses semua bahan kue sambil menghitung waktu dan mengejar jadwal pulang sekolah Alisa.Pukul sepuluh, kutinggalkan pekerjaan untuk menjemput anakku ke sekolah yang kini tak begitu jauh dari tempatku. Ibu mertua yang baik hati memilihkan tempat yang cukup strategis dan dekat dari ruko yang kami beli sekarang. Alhamdulillah tidak begitu banyak kendala yang membuat hidupku terhalangkan dengan kesusahan. Mungkin k

  • AIB YANG TERUNGKAP DI HARI PEMAKAMAN SUAMIKU   29

    Alhamdulillah hari ini adalah hari pertama pembukaan kedai kopi dan roti milikku. Kami adakan syukuran kecil dengan mengundang tetangga dan orang-orang yang ada di sekitar tempat ini membaca doa dan menikmati hidangan kecil.Ketika tamu undangan sudah pergi, aku dan anakku sibuk membereskan bekas acara karena beberapa jam lagi kami akan melayani pelanggan dan menerima pesanan.Padahal mengejutkan ketika aku membuang sampah ke tong yang ada di sebelah kiri jalan. Mungkin itu adalah pemandangan yang cukup mengherankan namun aku masih berpikir positif dan wajar saja. Kulihat mobil Mbak Dwiana lewat, dia duduk di depan bersama seorang pria dan mereka terlihat tertawa dan bercanda, sangat akrab, tidak mungkin seakrab itu seorang supir dengan majikannya."Itu siapa ya ... Ah, terserahlah, bukan urusanku," gumamku dalam hati.Meski penasaran aku tak hendak mencari tahu, biarlah jika memang itu sahabat terdekatnya, mungkin kakak maduku butuh teman untuk bercerita, perlu bergaul untuk meluas

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status