Semua Bab Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa: Bab 81 - Bab 90

100 Bab

Bab 81

"Nggak apa-apa, Kanaya. Keluarga kalian kehilangan kerbau, itu kerugian besar. Aku bisa ngerti." Rafa mencoba menenangkan."Terima kasih, Kak Rafa." Kanaya tersenyum, lalu berkata lagi, "Warga desa sudah membeli 150 kilo, tapi masih tersisa 100 kilo yang belum laku. Pak Hansen saran, kita berdua naik motor ke kota, coba tawarkan ke restoran-restoran di sana. Mungkin masih bisa terjual."Rafa agak terkejut. "Aku dan kamu ke kota buat jualan daging?"Kanaya memasang wajah memelas. "Iya, Kak Rafa. Pak Hansen dan Pak Hisyam minum sampai mabuk siang tadi, jadi cuma kamu yang bisa pergi. Kakakku juga nggak pandai ngomong atau menghitung uang."Rafa berpikir sejenak, lalu bertanya, "Apa yang dibilang Paman Dungu?""Katanya, di kota ada tiga restoran yang sudah kenal baik dengannya. Kita pakai namanya saja buat jualan.""Kalau begitu, gampang!" Mata Rafa berbinar, lalu dia mengajak Kanaya masuk ke kamarnya. Dengan suara pelan, dia berkata, "Kalau Kepala Desa mau bantu, kita bisa manfaatkan sit
Baca selengkapnya

Bab 82

"Setelah pacaran, bukankah langkah berikutnya adalah menikah dan punya anak?" Rafa tersenyum, lalu tiba-tiba melihat wajah Kanaya yang merah karena malu. Aroma rambut dan tubuhnya tercium samar, membuat hati Rafa bergetar.Benar, seperti apa sebenarnya tipe perempuan yang dia sukai? Apakah seperti Mega yang penuh semangat atau seperti Kanaya yang pemalu?"Huweee ...." Dari kamar di ujung barat, Alice terbangun dan mulai menangis.Miko segera berlari dari halaman belakang. "Alice, jangan nangis. Mama di sini."Rafa tersentak dari lamunannya dan buru-buru berkata, "Kanaya, ayo kita selesaikan ini dengan cepat. Ayahmu pasti masih menunggu.""Hm." Kanaya menjawab dengan suara lirih, lalu kembali bekerja sama dengan Rafa. Akhirnya, 3 lembar catatan selesai ditulis.Rafa memperhatikan bahwa wajah Kanaya penuh keringat. Kanaya mengusap keringatnya dan menarik tangan Rafa. "Kak Rafa, ayo kita pergi sekarang. Kita harus segera mengantar daging ke kota sebelum busuk."Rafa berpamitan dengan Miko
Baca selengkapnya

Bab 83

"Astaga, lemah sekali mental istri Hansen." Pemilik restoran itu tidak bisa menahan tawa, lalu mengeluarkan 800 ribu dan memberikannya kepada Rafa dan menuliskan tanda terima.[ Hari ini menerima 35 kilogram daging kerbau dari Hansen, Kepala Desa Kenanga, seharga 2,8 juta. Uang tunai dibayar 800 ribu, masih terutang 2 juta. ]Rafa sangat senang, menerima uang dan tanda terima, lalu segera berangkat ke tempat berikutnya bersama Kanaya!Kanaya semakin bersemangat. Dia menepuk punggung Rafa dengan lembut. "Kak Rafa, kamu hebat sekali! Bisa menjual 40 ribu per setengah kilo dan masih bisa membawa pulang 800 ribu!"Awalnya, mereka hanya berencana menjualnya 30 ribu per setengah kilo. Namun, sekarang bisa terjual 40 ribu per setengah kilo. Kalau semuanya laku, hasilnya akan lebih banyak 2 juta dari perkiraan awal! Bagaimana mungkin Kanaya tidak bersemangat?Rafa menoleh dan tersenyum. "Bukan aku yang hebat, ini karena pengaruh Kepala Desa."Padahal bukan karena kepala desa, melainkan karena
Baca selengkapnya

Bab 84

Di bawah cahaya malam, Kanaya memeluk Rafa erat-erat dengan penuh perasaan. "Kak Rafa, aku nggak bohong. Ayahku cuma peduli dengan uang. Selama kamu bisa mengumpulkan 160 juta, besok kamu bisa menikahiku dan membawaku pulang."Seratus enam puluh juta sudah bisa membawa Kanaya pulang? Ini sungguh tawaran yang menggiurkan! Uang memang hal yang luar biasa!Namun, Rafa tidak punya uang sebanyak itu. Dia hanya bisa jujur, "Kanaya, tapi aku nggak punya 160 juta ...."Kanaya menangis dalam pelukan Rafa. "Kak Rafa, aku tahu 160 juta itu jumlah yang besar. Tapi, kalau kamu menikahiku, aku akan bekerja keras seumur hidup untukmu. Kita pasti bisa mendapatkan uang itu bersama. Kamu nggak akan rugi!""Kanaya, aku nggak takut rugi. Bukan itu maksudku. Kalau aku punya 160 juta, aku akan kasih kamu tanpa perlu membuatmu bekerja keras." Rafa menghela napas dalam hati dan menenangkannya, "Jangan khawatir soal ini, aku akan pikir pelan-pelan. Kamu masih muda, ayahmu nggak akan buru-buru menikahkanmu."Ka
Baca selengkapnya

Bab 85

Sebelumnya kerbau terjual sekitar 150 kilogram kepada warga desa, jadi Rahman mendapat sekitar 9 juta. Kini, daging yang dijual ke restoran menghasilkan 8,4 juta. Totalnya menjadi 17,4 juta. Tidak terlalu rugi, 'kan?Masih ada sisa jeroan, tulang, kepala, dan kulit sapi yang bisa dijual lagi. Kalau tidak laku, bisa untuk dimakan sendiri.Kanaya menarik Rafa ke halaman belakang untuk mencuci tangan. Rahman yang sebelumnya sedih dan stres, kini tersenyum lebar dan mengajak semua orang duduk untuk makan malam. Dia pun mengangkat gelasnya, mengajak bersulang.Di masa sulit, seseorang baru bisa melihat siapa yang benar-benar peduli pada mereka. Dalam momen seperti ini, rasa persaudaraan di Desa Kenanga benar-benar terlihat.Tanpa bantuan semua orang, Rahman mungkin tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi masalah sebesar ini.Sementara itu, Rafa sengaja tidak menyerahkan tanda bukti utang dari restoran. Dia berpura-pura lupa dan sibuk mengangkat gelas, terus-menerus bersulang dengan Ha
Baca selengkapnya

Bab 86

Pertanyaan ini terlalu mendadak. Rafa tertegun sejenak, lalu menyahut, "Cantik, tentu saja cantik."Linda mengangguk. "Selama kamu punya 160 juta sebagai mahar, aku bisa kenalin kamu ke gadis yang secantik aku. Gimana?"Rafa akhirnya paham. Linda sedang menawarkan adiknya sendiri, Kanaya!Memang begitulah kenyataannya. Saat makan malam tadi, Kanaya bercerita kepada Linda bahwa dia menyukai Rafa dan tidak mau dijodohkan demi Alzam.Linda yang sangat menyayangi adiknya tentu tidak rela melihat hidup Kanaya menderita. Setelah mengamati Rafa, dia merasa pemuda ini adalah pilihan yang baik.Rafa memang masih miskin sekarang, tetapi dia adalah seorang dokter. Masa depannya pasti cerah! Dengan mahar 160 juta, mereka bisa membeli istri untuk Alzam dari luar desa, jadi perjodohan bisa dihindari. Ini adalah solusi yang menguntungkan semua pihak!Jika Kanaya menikah dengan Rafa dan tetap tinggal di desa ini, Kanaya bisa membantu keluarganya, merawat orang tua mereka, dan mengurangi beban Linda se
Baca selengkapnya

Bab 87

"Kak Miko, jangan bercanda." Rafa merasa malu dan berkata, "Kak Linda juga bilang maharnya 100 juta.""Seratus juta?" Miko mengernyit, lalu tersenyum dan menggeleng. "Sudahlah, Rafa. Ini bukan soal uang. Kamu sekarang sudah bersama Mega, jadi kamu harus setia dan baik padanya. Mau orang lain secantik bidadari atau kasih kamu uang seratus juta pun, kamu nggak boleh tergoda. Ngerti?"Sebagai kakak ipar, Miko merasa perlu menasihati adik iparnya yang masih muda dan belum banyak pengalaman dalam urusan cinta."Aku nggak tergoda kok, apalagi menerima tawaran Kak Linda." Rafa tersenyum dan mengangguk. "Aku cuma penasaran siapa gadis itu, makanya aku cerita."Miko mengangguk dan menghela napas. "Aku tentu senang kamu sama Mega. Tapi, Mega sendiri yang nggak mau hubungan ini bocor, jadi kita harus merahasiakannya. Sekarang ada orang lain yang ingin menjodohkanmu. Kita jadi serbasalah. Orang yang nggak tahu keadaan pasti mengira kita ini keluarga miskin yang terlalu pemilih."Rafa dan Mega yang
Baca selengkapnya

Bab 88

"Kak, bukan aku yang melakukannya." Rafa mengusap hidungnya dan terkekeh-kekeh. "Tapi, aku punya keahlian medis. Aku bisa menyembuhkan mereka. Mereka nggak akan mati."Galih adalah orang yang cerdas. Dia tersenyum dan berujar, "Aku juga tahu bukan kamu. Tapi, kalau kamu bisa menyembuhkan mereka, ikutlah denganku. Pamanku pasti akan sangat berterima kasih padamu!"Rafa tertawa. "Aku ini dokter. Kalau mengobati pasien, tentu harus dibayar.""Tenang saja, kepolisian nggak akan membuatmu rugi!" Galih mendorong Rafa ke mobil sambil bercanda, "Bahkan, Raja Neraka pun nggak berani menunda pembayarannya!"Rafa akhirnya puas. Dia berpamitan dengan Miko, lalu masuk ke mobil.Meskipun Galih terlihat elegan, cara mengemudinya sangat ugal-ugalan. Mobil melaju kencang menuju rumah sakit di kota.Tono dan lainnya, yang sebelumnya muntah darah di dalam tahanan, kini sudah dipindahkan ke rumah sakit.Galih menelepon seseorang untuk memberi kabar bahwa mereka telah tiba. Tak lama kemudian, seorang pria
Baca selengkapnya

Bab 89

Rafa masih menggenggam tangan Hatta dan mengamati wajahnya dengan serius. "Kamu paman Kak Galih. Aku nggak bisa membiarkanmu dalam bahaya tanpa berbuat apa-apa."Hatta mengernyit. "Dokter Rafa, maksudmu apa?""Kamu punya penyakit dan bukan penyakit ringan." Rafa berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Melihat raut wajahmu, sepertinya ada masalah di lambung. Kalau kamu percaya padaku, biarkan aku periksa denyut nadimu."Hatta terkejut. "Memang benar lambungku sering bermasalah. Jangan-jangan ... aku kena penyakit mematikan? Baiklah, tolong periksa aku."Galih juga terkejut dan segera membawa Rafa serta pamannya naik ke mobilnya.Di dalam mobil, Rafa mulai meraba denyut nadi Hatta. Lima menit kemudian, Rafa melepaskan tangannya dan berkata, "Dugaanku benar. Kamu terkena ... kanker lambung. Menurut diagnosis kedokteran modern, ini sudah hampir masuk stadium menengah."Hatta mengernyit. "Nggak mungkin. Aku baru saja melakukan endoskopi setahun yang lalu.""Saat aku memeriksa nadimu tadi, po
Baca selengkapnya

Bab 90

"Pamanku menyuruhku meminta saran darimu, Dokter Sakti." Galih tersenyum, lalu mengeluarkan 16 juta dari tas kerjanya dan berkata, "Ini 16 juta. Sepuluh juta adalah biaya jasamu untuk mengobati Tono dan lainnya tadi pagi. Sisanya sebagai tanda terima kasih dari pamanku karena kamu telah menyelamatkan nyawanya."Rafa tidak sungkan dan menerima uang itu. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Jika mengikuti metode pengobatan modern, pamanmu pasti harus dioperasi. Hampir setengah lambungnya akan dipotong, yang tentu saja akan sangat melemahkan tubuhnya.""Kalau aku yang menangani, aku bisa menggunakan pengobatan herbal dan akupunktur untuk mengecilkan kanker serta mencegah penyebarannya. Tapi, dalam 3 tahun ke depan, dia harus rutin minum obat dan menjaga pola makan dengan ketat.""Intinya, baik pengobatan modern maupun pengobatan tradisional, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Kalian bisa diskusikan mana yang terbaik."Kanker lambung adalah penyakit serius dan Rafa tidak ingi
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status