"Nggak apa-apa, Kanaya. Keluarga kalian kehilangan kerbau, itu kerugian besar. Aku bisa ngerti." Rafa mencoba menenangkan."Terima kasih, Kak Rafa." Kanaya tersenyum, lalu berkata lagi, "Warga desa sudah membeli 150 kilo, tapi masih tersisa 100 kilo yang belum laku. Pak Hansen saran, kita berdua naik motor ke kota, coba tawarkan ke restoran-restoran di sana. Mungkin masih bisa terjual."Rafa agak terkejut. "Aku dan kamu ke kota buat jualan daging?"Kanaya memasang wajah memelas. "Iya, Kak Rafa. Pak Hansen dan Pak Hisyam minum sampai mabuk siang tadi, jadi cuma kamu yang bisa pergi. Kakakku juga nggak pandai ngomong atau menghitung uang."Rafa berpikir sejenak, lalu bertanya, "Apa yang dibilang Paman Dungu?""Katanya, di kota ada tiga restoran yang sudah kenal baik dengannya. Kita pakai namanya saja buat jualan.""Kalau begitu, gampang!" Mata Rafa berbinar, lalu dia mengajak Kanaya masuk ke kamarnya. Dengan suara pelan, dia berkata, "Kalau Kepala Desa mau bantu, kita bisa manfaatkan sit
Baca selengkapnya