Semua Bab Dokter Sakti Rebutan Gadis Desa: Bab 71 - Bab 80

100 Bab

Bab 71

Tak lama kemudian, Hansen datang. Dia sendiri pun tidak memahami tindakan Rafa sehingga bertanya dengan alis berkerut, "Rafa, apa kakak iparmu sudah tahu kamu mau jual kerbau?"Rafa berbohong dengan berucap, "Tahu, ini sudah aku diskusikan sama Kak Miko.""Kalau begitu, kalian sepakat dengan harga berapa?" tanya Hansen.Rafa menjelaskan, "Harganya 20 juta. Aku ambil 10 juta saja. Kerbau tua itu bakal jadi milik Paman Rahman.""Ya, benar. Begitulah kesepakatan kami!" timpal Rahman. Dia segera mengangguk-angguk dengan penuh semangat."Harganya 20 juta?" seru Hansen yang akhirnya paham. Rahman ini jelas sedang menipu Rafa.Namun, mereka semua adalah sesama warga desa. Hansen pun tidak bisa langsung mengatakannya. Dia hanya memberi tahu, "Rafa, jual beli kerbau itu urusan besar. Menurutku, lebih baik kamu bicarakan lagi dengan kakak iparmu sebelum mengambil keputusan.""Nggak perlu! Kalau Paman Rahman langsung bayar, aku akan langsung serahkan kerbaunya!" Tekad Rafa sudah bulat. Dia harus
Baca selengkapnya

Bab 72

"Belum tidur, Kak Miko!" ucap Rafa. Kemudian, dia segera bangun dan membuka pintu. Miko berdiri di sana dengan mata merah. Jelas sekali, dia baru saja menangis.Rafa menunduk karena merasa bersalah, lalu berujar, "Kak Miko, aku bersalah. Aku nggak seharusnya mengambil keputusan sendiri dan menjual kerbau itu.""Kata Pak Hansen, aku juga rugi dengan harga segitu .... Aku berjanji, mulai sekarang apa pun itu, aku akan selalu berdiskusi denganmu dulu," lanjut Rafa.Miko meraih tangan Rafa, lalu membalas sambil tersenyum, "Dasar bodoh, justru aku yang salah. Rafa, tadi aku terlalu kaget makanya menakutimu.""Setelah kupikirkan lagi, kamu juga ada benarnya. Kita memang nggak punya waktu untuk mengurus kerbau. Apalagi aku tahu, alasan kamu menjual kerbau itu adalah karena kamu peduli padaku. Kamu takut aku akan terbebani oleh utang pada keluargaku," tambah Miko."Kak Miko ...." Mendengar itu, Rafa terharu hingga hidungnya mengerut. Dia benar-benar ingin memeluk kakak iparnya.Miko mengulurka
Baca selengkapnya

Bab 73

"Besok, aku baru datang lagi untuk makan. Hihi." Yulan tersenyum sambil melambaikan tangan sebelum naik taksi dan pergi.Rafa menyerahkan uang 6 juta kepada Miko, lalu berucap sambil tersenyum, "Kak Miko, aku sudah menebus kesalahanku. Soal jual kerbau kemarin, kamu jangan marah lagi ya?"Miko tertawa sebelum membalas, "Aku bahkan sudah nggak membahasnya lagi. Kenapa kamu masih kepikiran? Kamu ini seperti wanita saja, cerewet banget!"Rafa ikut tertawa. Dia akhirnya menimpali, "Hahaha! Kak Miko benar. Mulai sekarang, aku harus jadi pria sejati!"Dua hari sudah berlalu sejak rumah kecil selesai dicat. Cuacanya kering, jadi lantai dan dinding di sana sudah benar-benar kering.Rafa dan Miko memindahkan peralatan medis ke sana bersama-sama. Memang sudah ada pintu kecil yang menghubungkan rumah besar dengan rumah kecil sehingga cukup praktis.Di ruangan sisi timur rumah kecil, mereka menaruh satu ranjang single. Sementara itu, rak obat ditempatkan di ruang utama. Supaya tidak ada lalat atau
Baca selengkapnya

Bab 74

Pertarungan ini benar-benar terasa tidak adil. Rafa berpikir keras, tetapi tetap tidak mengerti alasan Alzam tiba-tiba mengamuk seperti orang gila.Sementara itu, Alzam masih berjongkok di tanah. Dia menangis sambil berteriak, "Rafa, kamu keterlaluan! Kamu bikin keluargaku celaka!"Rafa makin bingung. Dia pun bertanya, "Apa maksudmu? Gimana caranya aku bikin keluargamu celaka?"Rafa adalah orang yang selalu berbuat baik, bahkan semut pun tidak tega diinjaknya. Setiap hari, dia selalu melakukan perbuatan baik. Di Desa Kenanga, dia bahkan terkenal sebagai orang paling baik. Bagaimana mungkin dia mencelakai keluarga seseorang?Arumi juga tidak paham. Dia pun maju untuk menenangkan Alzam, "Alzam, jangan nangis. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Kita semua tetangga, jangan main pukul!"Alzam masih menangis keras. Dia lanjut berseru, "Kerbau keluargaku mati! Ayahku mau gantung diri! Ibuku mau lompat ke sungai! Ini semua gara-gara Rafa! Dialah yang menghancurkan keluargaku!""Kerbau kel
Baca selengkapnya

Bab 75

Byuurrr!Tiba-tiba terdengar suara air bercipratan. Alzam dan Vina sama-sama terjatuh ke dalam genangan kotoran ternak.Vina langsung marah besar. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang belepotan kotoran. Sebaliknya, dia langsung mencengkeram Alzam sambil memaki, "Dasar bocah kurang ajar! Kamu mau membunuhku ya!"Alzam berusaha bangkit, tetapi celananya malah tersangkut di tangan Vina. Kakinya yang sudah licin terkena kotoran malah membuatnya terpeleset lagi. Seiring terdengarnya suara, dia jatuh telentang dengan tangan dan kaki mengarah ke atas.Arumi dan yang lainnya yang melihat kejadian itu tidak tahu harus tertawa atau merasa kasihan. Namun karena takut kotoran ternak menempel di tubuh mereka, tidak ada yang berani maju untuk meleraikan.Mereka hanya bisa berdiri di kejauhan sambil berteriak panik, "Tolong! Tolong! Ada orang yang mau mati nih!"Rafa yang sudah berlari agak jauh pun mendengar keributan itu. Dia berhenti dan menoleh ke belakang. Begitu melihat situasi yang konyol itu
Baca selengkapnya

Bab 76

Lompatan ini seperti kuda yang melompati sungai dan mengguncang bumi, juga seperti ikan yang melompati sungai dan terbang tinggi menuju langit."Rafa, jangan lari!" Alzam si pemalas bangkit dengan tubuh penuh kotoran. Semangatnya berkobar, dia langsung menerjang ke depan.Rafa mulai ketakutan. Dia mengayunkan tongkat bambu ke arah Alzam, lalu berbalik dan berlari. "Sialan kamu! Pergi bersihin badan dulu, baru kita duel lagi!"Pel dicelup tinja, seluruh tubuh berlumuran kotoran, seperti kelahiran kembali monster kotoran!Dengan tampang Alzam yang kotor sampai ke giginya, jangankan Rafa, bahkan pasukan besar pun tidak akan berani melawannya!Alzam sempat tertahan oleh tongkat Rafa. Langkah kakinya terhenti sejenak. Dia lantas menyeka kotoran di wajahnya dan menatap ke depan. Rafa sudah lari jauh!Vina juga dipenuhi kotoran. Dia mengadang di depan Alzam sambil membentak, "Dasar anak nggak tahu diri! Tunggu saja, aku bakal hancurin jamban rumahmu!"Arumi tertawa terbahak-bahak, lalu berser
Baca selengkapnya

Bab 77

Rafa tersenyum. "Kak, menurutmu aku orang seperti itu?""Tentu saja nggak, tapi orang-orang di desa suka bergosip ...." Miko menghela napas dan berkata, "Tunggu sebentar, kita ke sana untuk melihat situasinya. Kalau bisa bantu, kita bantu. Kalau nggak bisa, kita beli beberapa kilo daging kerbau. Setidaknya bisa mengurangi kerugian Paman Rahman."Miko memang baik hati. Rafa tersenyum. "Kak, kamu nggak perlu ikut. Aku yang pergi, aku tahu harus berbuat apa."Miko mengangguk, lalu mengeluarkan 400 ribu dan menyerahkannya kepada Rafa. "Lakukan yang terbaik, hibur Paman Rahman."Rafa melambaikan tangan dan berjalan menuju rumah Keluarga Damanik dengan santai. Suasana di rumah itu benar-benar suram.Hisyam si tukang jagal sudah dipanggil. Dia telah menguliti kerbau dan sedang memotong daging serta memisahkan tulang. Di tanah terbentang lembaran plastik bermotif bunga, tempat dia bekerja.Rahman berjongkok di sudut tembok, menghabiskan satu per satu batang rokok. Matanya merah. Istrinya merat
Baca selengkapnya

Bab 78

Hisyam mengangguk, lalu memotong dua potong besar daging kerbau dan menimbangnya. Tepat 25 kilogram. Keahlian memotongnya benar-benar luar biasa.Hisyam yang baik hati pun berpesan, "Rafa, ini bukan daging dari bangkai. Sebelum kerbau tua ini mati, aku sudah menyembelihnya, jadi dagingnya tetap enak seperti kerbau yang disembelih biasa. Tapi, ini musim panas, agak susah menyimpannya. Kamu beli banyak. Kalau nggak habis, bisa simpan di kulkas rumahku.""Terima kasih, Paman." Rafa mengangguk, lalu menoleh ke Rahman dan berkata, "Dua puluh lima kilo daging kerbau ini cuma 1,5 juta. Tambahkan juga hati dan parunya, kita anggap lunas!"Di lantai, tampak hati dan paru kerbau yang masih berlumuran darah dan dibiarkan begitu saja, tidak ada yang berniat mengambilnya.Hati kerbau punya energi panas, bisa digunakan sebagai obat tradisional untuk meredakan reumatik yang diderita Diah. Namun, bagi kebanyakan orang, hati kerbau yang dimasak rasanya seperti kayu bakar, kasar dan susah dimakan.Rahma
Baca selengkapnya

Bab 79

"Wah, batu empedu! Batu empedu alami!" Rafa terkejut. Pantas saja kerbau tua itu mati, ternyata karena batu empedu.Batu empedu kerbau inilah yang disebut bezoar dalam pengobatan tradisional. Harganya sebanding dengan emas!'Sialan, aku kaya!' Dengan penuh semangat, Rafa membelah kantong empedu kerbau itu. Benar saja, ada batu kuning mengilap dengan berat lebih dari 0.25 kilogram!Hati dan paru itu dibeli Rafa dengan uang sendiri. Jadi, batu empedu ini tentu saja miliknya!Rafa sangat senang, tetapi dia tidak berani memberi tahu siapa pun, termasuk Miko. Diam-diam, dia menyimpan batu empedu itu di kamarnya, lalu kembali mengurus hati kerbau seperti biasa. Setelah dicuci bersih, dia memasukkannya ke panci.Kemudian, Rafa membawa 2 potong daging yang sudah dibagi. Satu bagian dia titipkan di rumah Hisyam untuk dibekukan, sementara satu bagian lagi dia antarkan ke Desa Putih dengan motor pinjaman.Saat tiba di Desa Putih, keluarga Miko sedang makan siang. Yogi mengernyit dan bertanya, "Ra
Baca selengkapnya

Bab 80

"Nggak boleh!" Rafa buru-buru menjelaskan, "Benda ini bisa dijadikan obat, bagus buat vitalitas pria dan memperkuat ginjal. Makanya, aku bawa pulang!"Wajah Miko semakin merah. Dia memutar bola mata. "Dasar bocah tengil, kamu saja belum punya istri, buat apa kuat-kuatan segala?""Kak, jangan salah paham! Ini bukan buat aku, aku simpan untuk nanti, kalau ada pasien yang butuh ...." Memang di usia Rafa sekarang, dia belum membutuhkan. Lagi pula, Mega juga tidak datang setiap hari."Sudahlah! Pokoknya yang pakai obat beginian pasti bukan orang baik. Orang waras mana butuh ini?" Miko tertawa ringan."Kak, aku ini dokter. Yang penting uang masuk. Mau pasien itu baik atau jahat, bukan urusanku," sahut Rafa.Setelah makan, Rafa meletakkan peralatan makan dan bergegas meracik obat dengan alat kelamin kerbau itu, lalu merendamnya dalam arak putih.Sementara itu, Miko memotong daging sapi yang direbus dengan air garam, mengambil sekitar 1,5 kilogram, lalu menyerahkannya kepada Rafa. "Bawa ini bu
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status