"Setelah pacaran, bukankah langkah berikutnya adalah menikah dan punya anak?" Rafa tersenyum, lalu tiba-tiba melihat wajah Kanaya yang merah karena malu. Aroma rambut dan tubuhnya tercium samar, membuat hati Rafa bergetar.Benar, seperti apa sebenarnya tipe perempuan yang dia sukai? Apakah seperti Mega yang penuh semangat atau seperti Kanaya yang pemalu?"Huweee ...." Dari kamar di ujung barat, Alice terbangun dan mulai menangis.Miko segera berlari dari halaman belakang. "Alice, jangan nangis. Mama di sini."Rafa tersentak dari lamunannya dan buru-buru berkata, "Kanaya, ayo kita selesaikan ini dengan cepat. Ayahmu pasti masih menunggu.""Hm." Kanaya menjawab dengan suara lirih, lalu kembali bekerja sama dengan Rafa. Akhirnya, 3 lembar catatan selesai ditulis.Rafa memperhatikan bahwa wajah Kanaya penuh keringat. Kanaya mengusap keringatnya dan menarik tangan Rafa. "Kak Rafa, ayo kita pergi sekarang. Kita harus segera mengantar daging ke kota sebelum busuk."Rafa berpamitan dengan Miko
"Astaga, lemah sekali mental istri Hansen." Pemilik restoran itu tidak bisa menahan tawa, lalu mengeluarkan 800 ribu dan memberikannya kepada Rafa dan menuliskan tanda terima.[ Hari ini menerima 35 kilogram daging kerbau dari Hansen, Kepala Desa Kenanga, seharga 2,8 juta. Uang tunai dibayar 800 ribu, masih terutang 2 juta. ]Rafa sangat senang, menerima uang dan tanda terima, lalu segera berangkat ke tempat berikutnya bersama Kanaya!Kanaya semakin bersemangat. Dia menepuk punggung Rafa dengan lembut. "Kak Rafa, kamu hebat sekali! Bisa menjual 40 ribu per setengah kilo dan masih bisa membawa pulang 800 ribu!"Awalnya, mereka hanya berencana menjualnya 30 ribu per setengah kilo. Namun, sekarang bisa terjual 40 ribu per setengah kilo. Kalau semuanya laku, hasilnya akan lebih banyak 2 juta dari perkiraan awal! Bagaimana mungkin Kanaya tidak bersemangat?Rafa menoleh dan tersenyum. "Bukan aku yang hebat, ini karena pengaruh Kepala Desa."Padahal bukan karena kepala desa, melainkan karena
Di bawah cahaya malam, Kanaya memeluk Rafa erat-erat dengan penuh perasaan. "Kak Rafa, aku nggak bohong. Ayahku cuma peduli dengan uang. Selama kamu bisa mengumpulkan 160 juta, besok kamu bisa menikahiku dan membawaku pulang."Seratus enam puluh juta sudah bisa membawa Kanaya pulang? Ini sungguh tawaran yang menggiurkan! Uang memang hal yang luar biasa!Namun, Rafa tidak punya uang sebanyak itu. Dia hanya bisa jujur, "Kanaya, tapi aku nggak punya 160 juta ...."Kanaya menangis dalam pelukan Rafa. "Kak Rafa, aku tahu 160 juta itu jumlah yang besar. Tapi, kalau kamu menikahiku, aku akan bekerja keras seumur hidup untukmu. Kita pasti bisa mendapatkan uang itu bersama. Kamu nggak akan rugi!""Kanaya, aku nggak takut rugi. Bukan itu maksudku. Kalau aku punya 160 juta, aku akan kasih kamu tanpa perlu membuatmu bekerja keras." Rafa menghela napas dalam hati dan menenangkannya, "Jangan khawatir soal ini, aku akan pikir pelan-pelan. Kamu masih muda, ayahmu nggak akan buru-buru menikahkanmu."Ka
Sebelumnya kerbau terjual sekitar 150 kilogram kepada warga desa, jadi Rahman mendapat sekitar 9 juta. Kini, daging yang dijual ke restoran menghasilkan 8,4 juta. Totalnya menjadi 17,4 juta. Tidak terlalu rugi, 'kan?Masih ada sisa jeroan, tulang, kepala, dan kulit sapi yang bisa dijual lagi. Kalau tidak laku, bisa untuk dimakan sendiri.Kanaya menarik Rafa ke halaman belakang untuk mencuci tangan. Rahman yang sebelumnya sedih dan stres, kini tersenyum lebar dan mengajak semua orang duduk untuk makan malam. Dia pun mengangkat gelasnya, mengajak bersulang.Di masa sulit, seseorang baru bisa melihat siapa yang benar-benar peduli pada mereka. Dalam momen seperti ini, rasa persaudaraan di Desa Kenanga benar-benar terlihat.Tanpa bantuan semua orang, Rahman mungkin tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi masalah sebesar ini.Sementara itu, Rafa sengaja tidak menyerahkan tanda bukti utang dari restoran. Dia berpura-pura lupa dan sibuk mengangkat gelas, terus-menerus bersulang dengan Ha
Pertanyaan ini terlalu mendadak. Rafa tertegun sejenak, lalu menyahut, "Cantik, tentu saja cantik."Linda mengangguk. "Selama kamu punya 160 juta sebagai mahar, aku bisa kenalin kamu ke gadis yang secantik aku. Gimana?"Rafa akhirnya paham. Linda sedang menawarkan adiknya sendiri, Kanaya!Memang begitulah kenyataannya. Saat makan malam tadi, Kanaya bercerita kepada Linda bahwa dia menyukai Rafa dan tidak mau dijodohkan demi Alzam.Linda yang sangat menyayangi adiknya tentu tidak rela melihat hidup Kanaya menderita. Setelah mengamati Rafa, dia merasa pemuda ini adalah pilihan yang baik.Rafa memang masih miskin sekarang, tetapi dia adalah seorang dokter. Masa depannya pasti cerah! Dengan mahar 160 juta, mereka bisa membeli istri untuk Alzam dari luar desa, jadi perjodohan bisa dihindari. Ini adalah solusi yang menguntungkan semua pihak!Jika Kanaya menikah dengan Rafa dan tetap tinggal di desa ini, Kanaya bisa membantu keluarganya, merawat orang tua mereka, dan mengurangi beban Linda se
"Kak Miko, jangan bercanda." Rafa merasa malu dan berkata, "Kak Linda juga bilang maharnya 100 juta.""Seratus juta?" Miko mengernyit, lalu tersenyum dan menggeleng. "Sudahlah, Rafa. Ini bukan soal uang. Kamu sekarang sudah bersama Mega, jadi kamu harus setia dan baik padanya. Mau orang lain secantik bidadari atau kasih kamu uang seratus juta pun, kamu nggak boleh tergoda. Ngerti?"Sebagai kakak ipar, Miko merasa perlu menasihati adik iparnya yang masih muda dan belum banyak pengalaman dalam urusan cinta."Aku nggak tergoda kok, apalagi menerima tawaran Kak Linda." Rafa tersenyum dan mengangguk. "Aku cuma penasaran siapa gadis itu, makanya aku cerita."Miko mengangguk dan menghela napas. "Aku tentu senang kamu sama Mega. Tapi, Mega sendiri yang nggak mau hubungan ini bocor, jadi kita harus merahasiakannya. Sekarang ada orang lain yang ingin menjodohkanmu. Kita jadi serbasalah. Orang yang nggak tahu keadaan pasti mengira kita ini keluarga miskin yang terlalu pemilih."Rafa dan Mega yang
"Kak, bukan aku yang melakukannya." Rafa mengusap hidungnya dan terkekeh-kekeh. "Tapi, aku punya keahlian medis. Aku bisa menyembuhkan mereka. Mereka nggak akan mati."Galih adalah orang yang cerdas. Dia tersenyum dan berujar, "Aku juga tahu bukan kamu. Tapi, kalau kamu bisa menyembuhkan mereka, ikutlah denganku. Pamanku pasti akan sangat berterima kasih padamu!"Rafa tertawa. "Aku ini dokter. Kalau mengobati pasien, tentu harus dibayar.""Tenang saja, kepolisian nggak akan membuatmu rugi!" Galih mendorong Rafa ke mobil sambil bercanda, "Bahkan, Raja Neraka pun nggak berani menunda pembayarannya!"Rafa akhirnya puas. Dia berpamitan dengan Miko, lalu masuk ke mobil.Meskipun Galih terlihat elegan, cara mengemudinya sangat ugal-ugalan. Mobil melaju kencang menuju rumah sakit di kota.Tono dan lainnya, yang sebelumnya muntah darah di dalam tahanan, kini sudah dipindahkan ke rumah sakit.Galih menelepon seseorang untuk memberi kabar bahwa mereka telah tiba. Tak lama kemudian, seorang pria
Rafa masih menggenggam tangan Hatta dan mengamati wajahnya dengan serius. "Kamu paman Kak Galih. Aku nggak bisa membiarkanmu dalam bahaya tanpa berbuat apa-apa."Hatta mengernyit. "Dokter Rafa, maksudmu apa?""Kamu punya penyakit dan bukan penyakit ringan." Rafa berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Melihat raut wajahmu, sepertinya ada masalah di lambung. Kalau kamu percaya padaku, biarkan aku periksa denyut nadimu."Hatta terkejut. "Memang benar lambungku sering bermasalah. Jangan-jangan ... aku kena penyakit mematikan? Baiklah, tolong periksa aku."Galih juga terkejut dan segera membawa Rafa serta pamannya naik ke mobilnya.Di dalam mobil, Rafa mulai meraba denyut nadi Hatta. Lima menit kemudian, Rafa melepaskan tangannya dan berkata, "Dugaanku benar. Kamu terkena ... kanker lambung. Menurut diagnosis kedokteran modern, ini sudah hampir masuk stadium menengah."Hatta mengernyit. "Nggak mungkin. Aku baru saja melakukan endoskopi setahun yang lalu.""Saat aku memeriksa nadimu tadi, po
Wanita itu mengira Rafa tidak puas, jadi berkata dengan nada menyesal, "Aku tahu kamu mungkin kurang puas, tapi aku cuma bisa kasih segitu. Tapi, aku bisa menambahkan 20 juta sebagai tanda terima kasih karena sudah membantuku tadi.""Nggak, nggak ... aku sangat puas." Rafa berbicara jujur. Dia tersenyum dan meneruskan, "Dalam bisnis, memang harus begitu, harus adil. Soal uang terima kasih, aku nggak bisa terima. Aku bantu bukan karena uang.""Jarang sekali ada orang baik sepertimu." Wanita itu tersenyum. "Baiklah, aku antar kamu ke pasar, biar aku langsung kasih uangnya."Mobil pun melaju menuju pasar obat tradisional."Namaku Karina. Kamu bisa panggil aku Kak Karina." Sambil menyetir, wanita itu bertanya, "Siapa namamu? Dari mana asalmu?""Aku Rafa, dari Desa Kenanga.""Oh, oh ...." Karina mengambil sebuah kartu nama dan tersenyum. "Kalau nanti kamu datang ke kota ini lagi, hubungi saja aku kalau butuh bantuan. Mau jual atau beli obat, aku bisa bantu. Aku jamin kamu bisa jual dengan h
Perampok yang satunya marah besar! Dia mengayunkan kunci inggrisnya ke arah kepala Rafa!"Matilah!" Rafa dengan sigap mengayunkan ranselnya, memukul kunci inggris itu hingga terlempar. Kemudian, dia menyusul dengan satu tendangan tepat ke perut perampok itu!"Aaaarrgh ... ughhh ...." Perampok kedua langsung jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi, keringat bercucuran."Berani-beraninya kalian menindas wanita!" Rafa masih dipenuhi amarah. Dia kembali melayangkan tendangan bertubi-tubi, membuat wajah kedua perampok itu penuh luka lebam.Wanita yang memakai rok pendek itu ketakutan. Dia bergegas bangkit dan berteriak cemas, "Dik, cukup! Kalau terus dipukul, mereka bisa mati!"Rafa baru menghentikan aksinya. Dua perampok itu merangkak ke mobil mereka dengan tubuh penuh darah. Dengan sempoyongan, mereka masuk ke mobil, menyalakan mesin, lalu kabur."Fiuh ...." Wanita itu menghela napas lega. Dia merapikan rambut dan pakaiannya, lalu mengangguk ke arah Rafa. "Terima kasih banyak ya.""Sama-sama.
"Ke pemandian ... bisa lihat apa?" Rafa bingung."Lihat apa? Lihat burung! Di pemandian banyak burung, silakan lihat sepuasnya!" sahut pria tua itu dengan ketus."Buset! Begini caramu berdagang?" Rafa murka, menatap tajam pria itu. "Ya sudah! Aku nggak akan pergi ke pemandian hari ini. Aku akan tetap di sini, melihat burung tuamu!"Tiga pegawai wanita di toko itu saling melirik dan menahan tawa. Mereka memberi isyarat agar Rafa segera pergi."Sial, pagi-pagi sudah bertemu iblis. Sial sekali!" Rafa memelototi pria tua itu, menggerutu sambil berjalan pergi.Awalnya, Rafa masih merasa ada kedekatan dengan tanah leluhurnya. Namun, hari ini dia bukan hanya diincar pencuri, tetapi juga bertemu dengan kakek menyebalkan ini. Perasaan hangat itu lenyap seketika.Dia bahkan mulai berpikir, mungkin nenek moyangnya yang pindah ke Desa Kenanga dulu telah mengambil keputusan yang tepat! Tempat ini benar-benar buruk!Rafa masuk ke toko di seberang. Karena telah belajar dari pengalaman, kali ini dia l
Mata Rafa juga sedikit panas, tetapi dia menahan air matanya. Dia menghapus air mata Miko dan berucap, "Kak, tenang saja. Aku tahu tanggung jawabku, aku nggak akan mengecewakanmu."Miko mengangguk, lalu perlahan melepaskan pelukannya. Dia melihat Rafa pergi semakin jauh.Di timur, langit mulai memancarkan sinar fajar. Rafa berjalan cepat melewati jalan setapak menuju Kota Muara. Sesampainya di sana, dia menyewa sebuah mobil van dan langsung menuju stasiun kereta api kota kabupaten.Lima jam perjalanan dengan kereta api. Akhirnya sebelum tengah hari, Rafa tiba di Kota Obat, pusat perdagangan herbal terbesar!Di kota kecil biasa, paling-paling hanya ada satu atau dua toko obat. Di kota besar, mungkin hanya ada satu pasar obat. Namun di sini, bukan sekadar pasar, melainkan kota khusus untuk obat!Dari namanya saja, sudah terasa perbedaan skala yang luar biasa. Sebagai keturunan langsung dari tabib legendaris, Rafa merasa bersemangat.Dia berjalan sambil mengamati suasana hingga akhirnya t
Rafa sungguh kehabisan kata-kata. Dia mengayunkan tangannya, lalu jarum peraknya langsung menusuk punggung tangan Arumi."Aaaahhh ...!" Arumi menjerit kesakitan.Sebelum Arumi pergi, beberapa warga desa mulai berdatangan. Sorenya, semakin banyak yang datang berobat. Ini karena makan daging kerbau, lalu mengalami panas dalam.Rafa akhirnya menjual habis semua ramuan herbalnya untuk meredakan panas dalam, juga semua persediaan pil.Inilah yang disebut efek domino. Kerbau tua milik Rahman mati, membuat seluruh desa menderita panas dalam, tetapi justru memberi Rafa keuntungan kecil.Satu pasien bisa menghasilkan 20 ribu, jadi totalnya dia berhasil mendapatkan 400 ribu. Uang receh tetap uang!Saat makan malam, Rafa berdiskusi dengan Miko. "Kak, besok aku harus pergi jauh. Aku mau ke Kota Obat, kampung halamanku, untuk beli beberapa bahan obat."Dia harus menjual batu empedu kerbau itu, menukarnya dengan uang, lalu membeli obat untuk menyembuhkan Diah."Kampung halaman?" Miko tidak mengerti,
"Kak, ini klinik. Kita ... bicarakan soal pengobatan." Rafa mulai berkeringat. Matanya menghindar, tidak berani menatap wajah Hana. "Sebenarnya ... apa yang sakit?"Baru saat itu, Hana melepaskan tangannya dari pipi dan mendekatkan wajahnya. "Gigiku sakit."Rafa mengangguk, mengambil senter untuk memeriksa mulut Hana, lalu meraba nadinya. "Nggak apa-apa, Kak. Kamu cuma kepanasan ....""Kepanasan?" Hana tersenyum. "Ya, aku memang kepanasan. Bisa nggak kamu bantu meredakan?""Ten ... tentu bisa ...." Rafa langsung gugup dan terbata-bata. "Kak, kamu makan apa dua hari ini?""Apa lagi? Ya daging kerbau yang kamu kasih 1,5 kilo kemarin, karena kamu kasihan padaku," sahut Hana dengan nada penuh keluhan."Daging kerbau?" Rafa langsung paham.Di cuaca panas seperti ini, makan daging kerbau berlebihan memang bisa menyebabkan panas dalam. Niat baiknya justru membawa masalah untuk diri sendiri."Nggak apa-apa. Aku akan bantu kamu redain panasnya .... Eh, maksudku, aku akan racik obat untukmu." Ka
Setelah mendengar analisis Rafa yang begitu logis dan masuk akal, Miko akhirnya merasa tenang. Namun, dia masih bertanya, "Rafa, apa Pak Dika ... benar-benar akan mati?""Kak, coba ingat-ingat. Aku sudah menangani pasien selama setengah bulan ini, apa pernah aku salah mendiagnosis?" tanya Rafa balik."Memang benar yang kamu katakan ...." Miko mengangguk, lalu menghela napas. "Sayangnya, Pak Dika nggak mau mendengarkanmu. Satu nyawa hilang begitu saja."Rafa hanya mengangkat bahunya. Kalau orang memang ingin mati, apa yang bisa dia lakukan?Setelah kembali ke kamar, Rafa mengambil batu empedu yang didapatkannya. Di mana dia bisa menjual barang berharga ini?Di kota kecil? Tidak mungkin. Tempat kecil seperti itu tidak akan ada orang yang bisa menilai harganya. Selain itu, jika kabar ini bocor dan Rahman tahu, pasti akan muncul masalah lagi.Ke Kota Obat saja! Tanah kelahiran leluhur mereka, sang tabib legendaris, pusat perdagangan obat tradisional terbesar di negara ini!Namun, bukan sek
"Baik, baik." Dika mengangguk dan melambaikan tangan ke sekeliling. "Hari ini, dengan kesaksian warga desa, Pak Galih, serta Pak Hansen, aku bertaruh dengan Rafa. Hari ini aku biarkan dia lolos, tapi 3 hari kemudian, aku akan datang lagi. Jangan sampai ada yang bilang aku menindasnya!"Galih, Hansen, dan warga desa terdiam menatap Rafa. Taruhan ini terlalu besar!Rafa juga melambaikan tangan dan berseru dengan lantang, "Hari ini aku bertaruh dengan Pak Dika! Tiga hari kemudian, kalau beliau masih bisa muncul dengan sehat di depan rumahku, aku sendiri yang akan membakar klinikku dan menyerahkannya kepadanya!"Kerumunan mulai berbisik-bisik.Rafa menatap Dika dan berkata, "Pak Dika, aku sarankan kamu jangan mempertaruhkan nyawa dalam taruhan ini. Aku akan memberimu resep. Pergilah ke rumah sakit di ibu kota provinsi, jalani operasi. Gunakan ramuan herbal coptis chinensis dan houpoea officinalis, seduh dengan teh, dan minum setiap hari. Itu bisa menyelamatkan nyawamu.""Terima kasih! Tiga
"Aku beli untuk dimakan sendiri, boleh 'kan? Badanku kurang sehat, jadi aku memang suka makan obat."Rafa tersenyum, lalu meneruskan, "Kamu menuduhku membuka klinik, mengobati pasien, mencari uang secara ilegal. Silakan tunjukkan buktinya. Siapa yang kuobati? Aku menerima uang dari siapa? Tolong tunjukkan bukti itu."Kemudian, Rafa menoleh ke arah warga desa yang berkumpul di depan pintu dan melambaikan tangan. "Saudara-saudara sekalian, apa ada di antara kalian yang pernah sakit dan mencariku untuk berobat?"Orang-orang tertawa serempak. "Semua penduduk Desa Kenanga sehat walafiat!""Kamu ...!" Dika terdiam, tidak bisa membalas. Dia menoleh ke Hansen dan membentak, "Pak Hansen! Kemari dan bersaksi! Ini urusan desa kalian!"Hansen menggaruk kepalanya dan mendekat. "Bersaksi gimana?""Bersaksi kalau Rafa menghasilkan uang dengan mengobati orang!""Oh, oh ...." Hansen berpikir sejenak, lalu menghela napas. "Kalau soal mengobati orang, memang ada. Ayahnya dulu seorang tabib, jadi meningga