Home / Romansa / Lady D Milik Sang Penguasa / Chapter 71 - Chapter 80

All Chapters of Lady D Milik Sang Penguasa: Chapter 71 - Chapter 80

95 Chapters

Bab 71. Keputusan Jean

Malam itu, di rumah Jean yang kecil namun nyaman, Dea duduk di tepi ranjang dengan wajah penuh keraguan. Jean yang tengah merapikan beberapa buku di mejanya menoleh dan menatap Dea dengan tajam."Aku ingin pulang besok, Jean," kata Dea dengan suara pelan, namun cukup jelas untuk didengar oleh sahabatnya.Jean segera meletakkan bukunya dan menatap Dea tajam. "Tidak! Kau tidak boleh pulang."Dalam hati, Jean sebenarnya ingin mengatakan, 'Apalagi setelah ada kesepakatan dengan Yama.' Namun, Jean masih memilih merahasiakan pertemuan singkat mereka.Dea menghela napas. "Tapi, Jean... Aku merasa bersalah meninggalkan Ibu dan Adikku begitu saja. Ayahku juga sedang sakit. Hum,mereka pasti butuh aku."Jean mendengus dan melipat tangannya di dada. "Kau tahu, Dea? Mereka hanya akan terus menguras uangmu. Kau tahu betul itu. Lebih baik kau menghindar sementara sampai keadaan lebih tenang."Dea terdiam, menunduk dan memikirkan perkataan Jean. Ia tahu sahabatnya itu tidak asal bicara. Ada kebenaran
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Bab 72. Rencana Meisya

Pria itu hanya sebuah iklan lewat bagi dirinya yang tidak pernah mempercayai makhluk berjenis kelamin 'laki-laki'. Jean meletakkan ponselnya di meja, lalu berbaring. Matahari besok akan membawa hari baru, dan ia harus siap menghadapi Dea dengan argumen yang lebih kuat agar sahabatnya itu tetap tinggal. ***Pagi-pagi sekali, ponsel Dea sudah bergetar tanpa henti. Nama "Ibu" berkedip di layar, dan seperti yang sudah diduga, panggilan itu bukan sekadar menanyakan kabarnya. "Dea, kamu ada uang, kan? Rumah sakit sudah menagih lagi," suara ibunya terdengar mendesak, tanpa basa-basi. Dea menekan ujung hidungnya yang terasa dingin, berusaha mengusir lelah yang belum sepenuhnya pergi."Tapi semalam, aku baru membayar enam puluh juta dan-""Ya, kau kira operasi itu murah? Itu hanya pembayaran pertama!" potong ibunya tanpa membiarkan kesempatan bagi Dea untuk mengatakan lebih lanjut.
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 73. Lebih dari cukup

Apa maksudnya? Kenapa Meisya tiba-tiba menawarkan bantuan seperti itu? Rasa waspada dalam dirinya meningkat. Namun, di sisi lain, pikirannya dipenuhi oleh kondisi sang ayah. Pengobatan di luar negeri mungkin memang satu-satunya jalan. "Gimana, Dea?" Suara Meisya yang lembut membuyarkan lamunannya. Dea menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Apa yang terjadi?” Meisya tetap tersenyum, seolah memahami kebingungan yang melanda diri Dea. “Ayahku harus menjalani perawatan di luar negeri,” jawabnya akhirnya, dengan nada lesu. Senyum Meisya semakin lebar. “Baguslah.” Dea terkejut. Alisnya bertaut. “Apa maksudmu?” Meisya terkesiap, lalu segera mengoreksi ucapannya. “Maksudku, bukankah lebih baik ada pengobatan yang tepat daripada tidak ada kesembuhan di sini? Bukankah kamu ingin menyembuh
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 74. Rendahan

"Dea, sebelum aku mengatur semuanya, aku ingin memastikan kita memiliki kesepakatan yang resmi," ujar Meisya, suaranya lembut tetapi tegas. Dea merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam cara Meisya berbicara yang membuatnya tak nyaman. Ia meraih map itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu membuka isinya. "Apa ini?" tanyanya, meski ia sudah bisa menebak jawabannya. Meisya menggeser kertas-kertas di dalamnya ke arah Dea. "Ini adalah surat pernyataan bahwa kamu telah menerima bantuan dariku dan bersedia meninggalkan Yama selamanya." Dea menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Ia sudah menduga akan ada sesuatu seperti ini. Meisya bukan tipe orang yang akan membiarkan segalanya berjalan tanpa jaminan. Dan sekarang, ia berada di sudut yang sulit untuk keluar. Dea menyadari bahwa wanita itu sudah mempersiapkan semuanya dengan lengkap, berarti dia sudah merencanakan semua ini juga. Namun, Dea
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 75. Pembayaran Berhasil

Omelan dari wanita paruh baya itu membuat Dea merasa terbakar dalam amarah, Dea sedikit terkejut dengan setiap perkataan dari sang ibu, namun ia tidak punya pilihan selain menurut. Mengikuti langkah dari ibunya yang masih tetap berceloteh panjang lebar.Dengan langkah tergesa, ia menuju ke kasir. Pegawai kasir tersenyum ramah, lalu menyebutkan jumlah tagihannya. "Totalnya tiga ratus dua puluh lima juta rupiah, Bu." Dea membelalakkan mata. Jantungnya berdebar kencang. Jumlah itu lebih dari cukup untuk membeli sebuah apartemen kecil. Tapi ia mencoba tetap tenang. Dengan polos, ia mengeluarkan kartu tipis berlogo phoenix dan menyerahkannya pada kasir. Kasir itu sedikit terpana. Hanya beberapa orang yang memiliki kartu istimewa seperti ini. Dia menegadahkan kepalanya melihat Dea dengan lebih teliti dan wajah penuh kecurigaan.Dea berdehem kecil untuk menutupi kecanggungannya.Akhirnya kasir itu menggesek
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 76. Adegan yang dipaksakan

Meisya mengibaskan tangannya, "pergi sana. Laksanakan semua sesuai rencana. Jangan ada kesalahan sama sekali!"Pria itu mengangguk, lalu pergi. Meisya menyandarkan punggungnya, menikmati perasaan puas yang mengalir dalam dirinya. Jika Dea pergi, Yama akan menjadi miliknya sepenuhnya. Tidak ada lagi gangguan, tidak ada lagi ancaman dari wanita itu."Langkah terakhir adalah bersama dengan Yama, pergi mengunjungi Nenek di Rumah Sakit," ucap Meisya lalu menyesap minumannya perlahan seraya memuji dirinya yang bahkan bisa mengajak sang nenek untuk ikut dalam drama yang dimainkan olehnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Sanjaya. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Jangan kecewakan aku." Sanjaya yang saat itu masih berada di rumah sakit membaca pesan itu sekilas, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia menatap Dea dengan tatapan penuh strategi. Jika ini berhasil, ia tidak hanya mendapatkan uang dari Meisya, teta
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 77. Aku bilang cukup!

Dia memang memilih menjalani skenario ini tanpa sadar. Dia memang murahan! Di hadapan mereka. Di hadapan semua orang saat ini. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, mengalir membasahi pipinya. Dia mengepalkan tangannya, menatap punggung Yama yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang berubah dalam diri pria itu. Dan perubahan itu membuat Dea semakin merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Tidak sanggup dia jelaskan sendiri.Walaupun Dea berusaha menanamkan pikiran bahwa Yama hanya pria yang singgah dalam waktu seminggu dan belum memiliki arti apa-apa, namun entah mengapa, hatinya terasa nyeri saat ini. Sementara itu, Sanjaya masih berdiri di tempatnya. Dengan nada mengejek, ia berkata, "Tak perlu menangis, Dea. Toh, sejak awal kau memang tidak punya pilihan." "Apa maksudmu?" Dea menoleh tajam ke arahnya, kemarahan bercampur dengan luka menguasai tatapannya. "Aku lebih baik mati daripada diperm
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 78. Tahan dia

Nenek yang mendengar suara itu hanya menoleh sekilas. Tatapannya dingin, tak ada kepedulian dalam sorot matanya. Ia menatap luka kecil di jari Meisya sebentar, lalu dengan sikap acuh, ia kembali memalingkan wajahnya. Meisya merasakan sesuatu mencubit perasaannya. Ia tahu bahwa dirinya bukan cucu kesayangan neneknya, hanya calon cucu menantu yang akan terlihat seperti bawahannya.Meisya mengerti perbedaan dalam status mereka, tetapi betapa dinginnya wanita itu tetap saja membuatnya merasa tidak berarti. Seolah-olah keberadaannya tidak penting. Seolah-olah ia hanyalah bayangan yang tidak perlu diperhatikan. Perasaan itu menggerogoti hatinya, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa duduk diam, menatap apel yang belum selesai ia kupas, dan membiarkan perasaan tidak berharga itu semakin mengakar dalam dirinya."Pergilah kalau kamu sudah selesai. Nenek ingin istrahat." Suara nan ketus dari wanita tua itu membuat Meisya
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

Bab 79. Aku sedang bertengkar dengan pacarku!

Tanpa pikir panjang, dia menghampiri pintu itu dan mendapati bahwa terkunci. Namun, itu tidak menghentikannya. Brak! Pintu kamar mandi terbuka dengan keras akibat tendangan Yama. Dea, yang tengah mandi di balik tirai shower, terlonjak kaget dan memekik. Segera menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Yama?! Apa yang kau lakukan?!" serunya dengan panik, tangannya buru-buru menarik handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah. Namun Yama tidak menjawab. Nafasnya memburu, emosinya menggelegak, dan sebelum Dea sempat berbuat lebih banyak, dia melangkah maju dan meraih dagu gadis itu dengan kasar. "Kau pikir bisa kembali kepada mantan kekasihmu itu?" suaranya dalam dan sarat emosi. "Di mana harga dirimu, Dea?" "Lepaskan aku! Kau sudah gila!" Dea meronta, berusaha mendorong Yama
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

Bab 80. Kau menilaiku seperti itu?

"Sial!" Jean memaki dalam hati. Dia tertangkap lagi oleh Bob. Tubuhnya dipikul di bahu Bob dengan mudah seperti memikul karung goni. Bob, yang masih kesakitan, bangkit dengan cepat. Matanya membara penuh kemarahan. "Kau membuatku benar-benar marah sekarang." Jean melakukan perlawan dengan memukul punggung Bob, kedua matanya mencari sesuatu untuk mempertahankan diri. Jean bisa mendengar dengan jelas, suara Dea di dalam kamar mandi. Temannya juga sedang dilecehkan oleh Yama.  Tubuhnya bergetar karena marah! Kebencian Jean berkilat di matanya.  Saat Bob menurunkan tubuhnya. Matanya melirik vas bunga di meja sudut. Ia meraihnya dengan cepat dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Jangan mendekat, Bob!" ancamnya dengan suara gemetar. Bob menyeringai, lalu melangkah maju. "Dan kalau aku tetap maju? Kau mau apa?" Jean tidak ragu. Dengan sekuat tenaga, ia
last updateLast Updated : 2025-03-26
Read more
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status