Lahat ng Kabanata ng Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir: Kabanata 11 - Kabanata 20

206 Kabanata

BAB 11: NAGA NISKALA

Matahari mulai tenggelam di cakrawala, menciptakan siluet lembut di atas sungai suci yang mengalir tenang di tepi hutan. Airnya jernih dan berkilauan seperti permata biru di bawah sisa-sisa sinar matahari. Raka berdiri di tepi sungai bersama Dyah Sulastri, merasakan aura mistis yang kuat memenuhi udara. Ini adalah tempat yang disebut-sebut sebagai kediaman Naga Niskala, makhluk gaib penjaga aliran kehidupan kerajaan Gilingwesi."Apakah benar ada naga di sini?" tanya Raka, suaranya terdengar ragu namun penuh rasa ingin tahu. Ia menatap air sungai yang tampak begitu tenang, tetapi entah bagaimana ia merasakan bahwa ada sesuatu yang besar—sesuatu yang tidak terlihat—mengamati mereka dari kedalaman.Dyah tersenyum tipis, matanya memancarkan ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang akrab dengan dunia gaib. "Naga Niskala bukanlah makhluk yang bisa dilihat oleh semua orang," katanya pelan. "Hanya mereka yang memiliki hubungan khusus dengan dunia ini yang bisa merasakan kehadirannya."
last updateHuling Na-update : 2025-02-06
Magbasa pa

BAB 12: RAHASIA DYAH SULASTRI

Malam itu, bulan purnama bersinar terang di langit, menyelimuti istana Gilingwesi dengan cahaya perak yang lembut. Namun, di balik keindahan malam itu, ada ketegangan yang menggelayuti udara. Raka duduk di tepi jendela kamarnya, memandangi kegelapan hutan yang membentang luas di luar tembok istana. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Naga Niskala beberapa hari lalu. Makhluk gaib itu telah memberikan banyak jawaban, tetapi juga meninggalkan lebih banyak pertanyaan. Salah satunya adalah tentang Dyah Sulastri—putri kerajaan yang tampaknya menyimpan rahasia besar.Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka pelan. Dyah masuk dengan langkah ringan, wajahnya tampak lebih murung daripada biasanya. Ia mengenakan selendang sutra tipis yang melingkar anggun di tubuhnya, namun matanya yang biasanya penuh ketenangan kini dipenuhi oleh bayangan kekhawatiran."Kau belum tidur?" tanyanya pelan, suaranya seperti bisikan angin malam.Raka menoleh, sedikit terkejut oleh kedatangannya. "Aku... hany
last updateHuling Na-update : 2025-02-06
Magbasa pa

BAB 13: INTRIK POLITIK

Matahari pagi mulai naik tinggi di atas istana Gilingwesi, menyelimuti halaman dalam dengan cahaya emas yang lembut. Namun, suasana di balik dinding-dinding batu istana tidak sesegar udara pagi itu. Di ruang perpustakaan kuno, Ki Jagabaya duduk di depan meja kayu besar yang penuh dengan gulungan naskah tua dan artefak-artefak kuno. Matanya yang tajam memindai setiap simbol dan aksara pada dokumen-dokumen tersebut, mencari petunjuk apa pun tentang Raka—Orang dari Kala Lain.Arya Kertajaya berdiri di sisi lain ruangan, lengan terlipat di dada, wajahnya serius namun penuh keteguhan. Ia menatap Ki Jagabaya dengan ekspresi sabar, meskipun ada rasa tidak puas yang samar-samar terlihat di matanya."Apakah kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Arya akhirnya, suaranya rendah namun penuh urgensi.Ki Jagabaya mengangkat kepala, matanya menyipit saat ia menatap Arya. "Ada banyak hal yang tidak masuk akal tentang pemuda itu," katanya pelan. "Kedatangannya di hutan kita bukanlah kebetulan. Ia memilik
last updateHuling Na-update : 2025-02-06
Magbasa pa

BAB 14: PETUNJUK PERTAMA

Malam itu, angin dingin berhembus pelan di sekitar istana Gilingwesi. Raka duduk di sudut ruangan kecil yang jarang dikunjungi siapa pun—ruang penyimpanan artefak kuno milik kerajaan. Di sana, ia menemukan sebuah cermin perunggu tua yang tampak usang dan tertutup debu. Cermin itu memiliki pola ukiran rumit di tepinya, dengan simbol-simbol aneh yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Namun, ada sesuatu dalam aura cermin itu yang membuatnya merasa terhubung dengan dunia asalnya.Raka mengambil cermin itu dengan hati-hati, membersihkan debu dari permukaannya. Saat cahaya lilin menyentuh permukaan cermin, kilau redupnya memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Namun, ada sesuatu yang aneh. Bayangan itu tidak hanya menunjukkan dirinya, tetapi juga sosok lain yang samar-samar terlihat di belakangnya—seolah-olah ada seseorang yang berdiri di sana, meskipun ia tahu bahwa ruangan itu kosong.Ia menatap cermin itu lebih lama, mencoba memahami apa yang dilihatnya. Tiba-tiba, suara halus seperti bisi
last updateHuling Na-update : 2025-02-06
Magbasa pa

BAB 15: KONFLIK INTERNAL

Matahari pagi mulai menyinari istana Gilingwesi, namun sinarnya tidak mampu menghangatkan hati Raka. Ia duduk di tepi jendela kamarnya, memandangi hutan yang membentang luas di luar tembok istana. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dan beban tanggung jawab yang semakin berat. Ia merasa seperti terjebak di antara dua dunia—dunianya sendiri yang ia rindukan, dan dunia baru ini yang menuntutnya untuk bertindak.Cermin perunggu yang ia temukan kemarin masih tergeletak di atas meja kayu, retakan besar di permukaannya seolah-olah mencerminkan kebingungan dalam hatinya. Setiap kali ia melihat cermin itu, ia merasakan dorongan kuat untuk memperbaikinya—bukan hanya demi dirinya sendiri, tetapi juga demi Dyah Sulastri dan kerajaan ini. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang ragu. Apakah ia benar-benar bisa kembali? Dan jika ia berhasil, apakah ia akan meninggalkan semua ini begitu saja?Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka pelan. Dyah masuk dengan langkah ringan, waj
last updateHuling Na-update : 2025-02-06
Magbasa pa

BAB 16: SERANGAN DI MALAM HARI

Malam itu, udara di Kerajaan Gilingwesi terasa lebih dingin dari biasanya. Bulan purnama yang seharusnya menerangi istana hanya tampak sebagai cahaya redup di balik awan tebal yang menggantung rendah. Angin berdesir pelan melewati pepohonan di halaman istana, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak wajar.Raka sedang duduk di tepi jendela kamarnya, memandangi kegelapan malam sambil memutar-mutar cermin perunggu kuno di tangannya. Ia masih belum bisa memahami bagaimana artefak ini berhasil membawanya melintasi waktu. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban: Mengapa ia dipilih? Apa hubungannya dengan kerajaan ini? Dan yang paling penting, apakah ia benar-benar bisa kembali ke masa depan?Namun, ketenangan malam tiba-tiba pecah oleh suara gemeretak kayu dan jeritan panik dari arah gerbang utama istana. Raka tersentak, matanya beralih ke luar jendela. Dari kejauhan, ia melihat bayangan-bayangan hitam bergerak cepat di antara pepohonan. Merek
last updateHuling Na-update : 2025-02-06
Magbasa pa

BAB 17: PERTARUNGAN PERTAMA RAKA

Suara jeritan dan dentingan senjata masih menggema di seluruh istana. Api yang berkobar di beberapa sudut halaman menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergerak liar di dinding-dinding istana. Udara dipenuhi oleh aroma asap, keringat, dan ketegangan yang nyaris tak tertahankan. Raka berdiri di ambang pintu kamar pelayan wanita yang ia selamatkan, napasnya memburu, tangannya gemetar memegang tongkat kayu yang mulai retak akibat benturan keras dengan pedang penyerang.Prajurit istana yang tadi menyelamatkannya sudah pergi ke medan pertempuran lain, meninggalkan Raka sendirian di koridor yang sepi. Ia tahu bahwa ia tidak bisa hanya berdiam diri di sini. Ada sesuatu yang salah—sesuatu yang lebih besar dari sekadar serangan biasa. Dan entah bagaimana, ia merasa bahwa penyerang-penyerang itu mungkin sedang mencari dirinya .Tiba-tiba, suara langkah-langkah berat terdengar mendekat dari ujung koridor. Raka menoleh cepat, jantungnya berdebar kencang. Dari balik tikungan muncul seorang pe
last updateHuling Na-update : 2025-02-07
Magbasa pa

BAB 18: ARYA KERTAJAYA CURIGA

Matahari mulai terbit di cakrawala, menyapu sisa-sisa kekacauan malam sebelumnya. Asap tipis masih mengepul dari beberapa sudut istana yang hangus akibat serangan pasukan bayangan. Bau asap yang menyengat memenuhi udara, menciptakan rasa tidak nyaman bagi para penduduk istana. Suara tangisan keluarga korban terdengar dari kejauhan, menambah beban emosional pada suasana yang sudah penuh ketegangan. Prajurit-prajurit tampak sibuk membersihkan reruntuhan dan menghitung korban. Namun, ketegangan di udara belum sepenuhnya hilang. Di tengah suasana yang masih penuh waspada, Arya Kertajaya berjalan dengan langkah cepat melewati halaman istana, wajahnya muram dan matanya tajam seperti elang yang sedang memburu mangsa.Di ruang pertemuan utama istana, Rakai Wisesa duduk di singgasananya, wajahnya tegang namun tetap tenang. Para pembesar kerajaan berkumpul di sekitarnya, termasuk Resi Agung Darmaja dan Ki Jagabaya. Raka berdiri di ujung ruangan, tangannya masih terbalut perban sederhana akibat
last updateHuling Na-update : 2025-02-07
Magbasa pa

BAB 19: DYAH SULASTRI MEMPERCAYAI RAKA

Matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, menciptakan siluet lembut yang menyelimuti istana Gilingwesi. Cahaya senja yang hangat perlahan memudar, digantikan oleh bayang-bayang malam yang semakin pekat. Suasana di istana masih tegang setelah serangan pasukan bayangan semalam, tetapi ada juga rasa kebersamaan yang tumbuh di antara para penghuni istana—terutama bagi mereka yang merasa terhubung oleh rasa saling melindungi.Di halaman dalam istana, Dyah Sulastri berdiri di bawah pohon kenanga besar, matanya menatap jauh ke arah cakrawala. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya mengungkapkan beban berat yang ia tanggung. Di sampingnya, Raka duduk di bangku batu, tangannya masih terbalut perban akibat luka ringan dari pertempuran semalam. Ia memperhatikan Dyah dengan diam, mencoba membaca emosi yang tersembunyi di balik ketenangannya.Pagi itu, Rakai Wisesa kembali mengumpulkan para pembesar kerajaan di ruang sidang utama untuk membahas insiden serangan malam sebelumnya. Arya Kert
last updateHuling Na-update : 2025-02-07
Magbasa pa

BAB 20: RESI AGUNG DARMAJA MENGUNGKAP RAHASIA

Matahari mulai terbit di cakrawala, menyapu sisa-sisa kegelapan malam dengan sinar lembutnya. Udara pagi yang segar membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang dibasahi embun. Namun, ketenangan alam ini tidak sebanding dengan ketegangan yang masih menyelimuti istana Gilingwesi. Setelah serangan pasukan bayangan semalam, suasana di istana dipenuhi oleh rasa waspada dan curiga. Di tengah semua itu, Raka merasa dirinya seperti seorang asing yang terjebak dalam pusaran misteri yang semakin dalam.Raka duduk sendirian di tepi kolam istana, memandangi air yang tenang sambil memikirkan kejadian-kejadian belakangan ini. Ia masih mencoba memahami bagaimana ia bisa terseret ke dunia yang penuh mistis ini—dunia yang jauh dari logika dan akal sehat. Tiba-tiba, suara langkah kaki pelan mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh dan melihat Resi Agung Darmaja berdiri di sana, wajahnya tertutup bayangan topi kerucutnya yang besar. Mata resi itu tampak tajam, seolah-olah bisa membaca pikiran Raka."Anak mu
last updateHuling Na-update : 2025-02-07
Magbasa pa
PREV
123456
...
21
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status