Home / Romansa / Istri Kedua di Antara Kita / Chapter 121 - Chapter 130

All Chapters of Istri Kedua di Antara Kita: Chapter 121 - Chapter 130

157 Chapters

Jangan Dipikirkan

Ayuni masih menatap lekat wajah Ryan. Ia lalu menarik tangan suaminya itu dan menghela napasnya dengan pelan."Soal Arumi. Yang kata kamu dia hanya tahu kalau kamu pernah suka, sama aku."Ryan menaikan alisnya sebelah. "Dan?""Dan ... sebenarnya Arumi tahu, kalau kamu masih cinta hingga kalian menikah."Ryan terdiam sejenak. Apa yang dikatakan oleh Ayuni tadi benar-benar membuatnya tak bisa berucap sedikit pun."Mas?" Ayuni mengusap lengan sang suami.Ryan lalu menoleh pelan kepada Ayuni. "Kenapa Mama hanya bercerita pada kamu, sementara padaku tidak?"Ayuni mengendikan bahunya. "Arumi yang minta. Dia tidak mau kamu tahu soal hal itu. Tapi, kata Mama Melinda. Karena dia sudah tidak ada, kamu sudah menikah denganku. Mungkin lebih baik kamu juga tahu soal ini."Ryan tersenyum lirih. Ia lalu menghela napasnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan."Seharusnya tidak heran karena selama ini pun Arumi tak pernah mau mengobati sakitnya. Mungkin karena tahu soal itu."Ayuni mengangg
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

Bertemu dengan Samuel

Pagi harinya, Ayuni menemani Ryan ke hotel akasia di mana Damian mengadakan pertemuan resmi dengan beberapa tim medis lainnya untuk memberi tahu kepada seluruh para pekerja rumah sakit harapan bila pemegang saham yang baru adalah Ryan."Biru?" Ayuni memanggil Biru yang tengah memainkan ponselnya.Lelaki itu kemudian menoleh dan segera menyimpan ponselnya itu ke dalam saku jas putih yang dia kenakan."Eh! Ada pengantin baru rupanya. Mau jadi MC lo, di sini?"Ayuni lantas menyunggingkan bibirnya. "Nemenin suami gue lah. Ya kali gue jadi pembawa acara di sini. Tahu aja nggak, apa aja yang mau dibahas. Emang pada mau bahas apaan sih?""Malah nanya ke gue. Kenapa kagak elo tanya aja ke laki elo? Ngeselin lama-lama lo!"Ayuni lantas terkekeh. “Just kidding. Gue kalau nggak bikin elo emosi, rasanya kurang aja gitu.”“Emang dasar elo ngeselin. Aneh gue sama Ryan, mau-maunya sama cewek ngeselin kayak elo.”Ayuni lantas memukul lengan Biru. “Udah sana, lo. Ryan aja udah nyampe dari tadi.”Biru
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

Ryan Marah?

“Heuh?” Ayuni tampak bingung dengan pertanyaan Samuel tadi. “Maksudnya gimana ya, Pak? Yaa jelas udahlah. Aneh nih, pertanyaan Pak Samuel.”Ayuni lantas terkekeh kemudian menghela napasnya. Tak lama setelahnya, makanan yang dia pesan itu akhirnya tiba.“Sudah makan, Pak? Saya makan duluan, yaa. Kalau lapar, pesen aja.” Ayuni bertanya tapi dijawab juga oleh dirinya sendiri.“Sudah. Saya baru saja selesai meeting dengan rekan-rekan kerja di sini, sekalian makan siang juga di sana.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Begitu. Memangnya Pak Samuel sendiri, belum menikah?”Samuel menggeleng dengan pelan. “Belum.”Ayuni menghentikan acara makannya. Lalu mengambil air minum dan juga ponselnya. Ada pesan masuk dari sang suami yang memberi tahu bila dirinya sudah selesai meeting.“Eum, Pak! Kalau begitu saya pam … it.” Ayuni menoleh ke arah kiri yang mana Ryan sudah berdiri di sampingnya.Lelaki itu kemudian melipat tangan di dadanya menatap Ayuni yang masih duduk mengadahkan kepalanya menata
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Syarat dari Ryan

“Nggak. Aku nggak marah. Nggak penting. Dia nggak akan bisa juga, ambil kamu dari aku.”Ayuni lalu mengusapi sisian wajah suaminya itu. “Kalau begitu, aku boleh minta izin nggak, sama kamu?”“Heum?” kata Ryan dengan respon yang benar-benar datar.Ayuni kembali melahap salad buah itu dengan mata menatap Ryan yang masih menunggunya berbicara. Ia hanya menghela napasnya lalu melahap salad lagi.“Yakin, bakalan kenyang hanya dengan makan salad?” tanya Ryan kemudian.“Nanti malam juga makan lagi. Kalau aku gendut, kamu nggak akan berpaling, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Berpaling ke siapa? Nggak ada yang lebih indah dari kamu.”“Pret! Modus!” ucap Shakira sembari menjebirkan bibirnya.“Maunya siapa? Kamu? Memangnya kamu mau, Papa jadiin istri?”“Idih! Mending sama yang masih muda, daripada sama Papa yang udah tua.”Ryan lantas menganga mendengar ucapan dari anaknya itu. “Kamu ini, yaa. Masih kecil cara bicaranya seperti orang dewasa. Astaga, Shakira.” Ryan mendengus kesal kepada anaknya itu.
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Tidak Perlu Mencari Perempuan Gatal

Waktu sudah menunjuk angka sebelas malam. Ayuni yang baru keluar dari kamar Shakira langsung duduk menghampiri Ryan yang sudah menunggunya sejak tadi.“Mau pelayanan seperti apa? Aku bisa liar dan panas kalau kamu mau.”Ryan terkekeh kemudian menarik tangan Ayuni hingga tubuh perempuan itu terduduk di paha Ryan. Menyelipkan anak rambut perempuan itu lalu menyatukan bibirnya, menguasai bibir itu dengan lembut.“Memang itu, yang aku inginkan,” bisiknya lalu meraup bibir perempuan itu kembali sembari menyibak bra yang dikenakan oleh sang istri. Tangannya menyusup di bawah sana dan bermain dengan irama yang cukup membuat Ayuni bergeliya hebat.“Euuumpphh!” lirihnya yang sudah tidak tahan dengan permainan tangan lelaki itu di bawah sana. Menyusup dengan sempurna dan masuk ke dalam sana.Ryan lantas melepaskan bibirnya lantaran oksigen yang hampir habis. Kemudian mengatur napasnya dan membuka kaus dan celana pendek yang masih menempel di tubuhnya. Lalu menggendong perempuan itu, membawanya
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Hasil Pemeriksaan Ayuni

“Keramas mulu lo, tiap hari,” celetuk Vita yang tengah berkunjung ke rumah Ayuni karena ada hal yang ingin ia sampaikan kepada sahabatnya itu.“Sok tahu, lo.” Ayuni lalu menyunggingkan bibirnya. “Baru juga ke sini, udah ngomong begitu aja lo.”Vita lantas tertawa. “Tapi beneran kan, laki elo minta terus tiap malem? Ini cupang belum abis, udah ditambah lagi.”Ayuni menutupi lehernya dengan rambut basahnya itu kemudian menoyor kening Vita. “Kayak nggak punya laki aja, lo. Sibuk banget ngomentarin hidup gue. Lama-lama kayak netijen lo, Vita!”Vita kembali tertawa. “Iyaa, iyaa. Udah sah, yaa wajar aja mau tiap hari juga. Gue mau ke luar negeri, mau ke Itali. Mungkin sampai tiga bulanan di sana. Jangan kangen, yaa.”“Lama amat? Dhita juga pergi, elo pergi. Anjir emang kalian berdua ini.”“Kalau bukan karena kerjaan gue juga ogah, Ayuni. Mending di sini, bisa pergi ke club bareng elo. Iya, nggak?”“Nggak!” Ayuni menatap Vita lekat. “Gue udah nggak boleh main ke club lagi sama ayang. Dan gue
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Tugasku jadi Dua

“Bagaimana, Ayuni? Kenapa kamu tidak membalas chat saya?” Samuel menghubungi Ayuni karena tidak membalas pesan yang dia kirim dua hari yang lalu.“Sorry, Pak. Kemarin saya lagi sama suami saya. Lagi minta izin ke dia untuk kerja di kantor kamu,” ucapnya beralasan. Padahal sebenarnya dia lupa, karena Ryan langsung mengajaknya pergi ke suatu tempat.“Oh, begitu. So! Suami kamu mengizinkan?”“Iya, Pak. Suami saya mengizinkan.”Samuel mengulas senyumnya dengan lebar karena bahagia, di kantornya ada Ayuni yang akan bekerja di sana.“Syukurlah kalau suami kamu mengizinkan. Kalau begitu, Selasa depan kamu bisa datang ke kantor? Kita akan mengadakan grand opening.”“Selasa? Selasa besok?” tanya Ayuni kaget.“Iya. Saya pernah bilang sama kamu, kan?”“I—iya sih. Tapi, saya nggak tahu kalau hari Selasa grand opening-nya. Kalau itu, saya tidak bisa, Pak. Karena klinik suami saya juga mengadakan acara di hari itu.”Samuel terdiam sejenak. Kemudian menghela napasnya dan mengangguk di seberang sana.
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Grand Opening Klinik Larissa

Ayuni mengangguk pelan. “Mau, Mas. Sebenarnya dulu aku nggak dibolehin kerja. Dan kamu nggak tahu kalau aku terkekang banget saat itu.”Ryan kemudian mengusapi sisian wajah istrinya itu. “Aku tidak ingin kamu seperti itu lagi. Asalkan kamu percaya, aku juga percaya. Niat kamu hanya bekerja, bukan untuk yang lainnya. Aku hanya minta satu, kepada kamu. Jangan pernah menyalahi kebebasan yang sudah aku berikan pada kamu.“Aku memberikan kamu keluasan untuk mencari apa yang kamu inginkan, bukan berarti kamu bisa seenaknya melakukan di luar batas peraturan. Makan siang jangan hanya berdua dengan dia, harus ramai-ramai. Jangan mau diantar pulang oleh dia. Pak Narto yang akan jemput kamu. Paham, Ayuni?”Ayuni menganggukkan kepalanya. “Paham, Mas. Sekali lagi terima kasih, sudah kasih aku kebebasan meski bukan bebas yang semua orang kira.”Ryan menyunggingkan senyum tipis. “Aku hanya ingin kamu bahagia, Ayuni. Aku menikahimu karena ingin menjadi pria yang bisa membahagiakan kamu. Ingin memberi
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Ada yang Dicari Ryan

“Apaan?” tanya Ayuni ingin tahu.Biru kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ryan. “Laki elo di mana? Shakira di mana?”“Shakira udah balik duluan sama neneknya. Mas Ryan nggak tahu ke mana. Katanya sih mau bicara sama Pak Damian.”Biru manggut-manggut dengan pelan. “Elo tahu nggak, Ryan dapat info apaan tentang bos elo itu?”Ayuni menggeleng pelan. “Gue nggak pernah tahu soal itu. Memangnya ada apa?”Biru menghela napas kasar. “Ryan kasih elo izin kerja di sana karena dia tahu sesuatu yang katanya lagi dia cari lebih lanjut. Elo tahu kan, umur dia udah tiga lima tapi belum nikah?”“Beda tiga tahun sama elo. Elo juga belum nikah.”Biru kemudian menyunggingkan bibirnya. “Tapi, gue masih doyan perempuan, Ayuni. Dia nggak.”Ayuni menaikan kedua alisnya. “Masa, Biru? Maksud elo, Pak Samuel menyimpang?”Biru mengangguk antusias. “Iya. Yaa meskipun masih jadi pertanyaan besar, bener apa nggak. Tapi, setidaknya buat dia lega karena dia nggak bakalan rebut elo darinya.”Ayun
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Rumor tentang Samuel

Samuel mengendikan bahunya. “Apa pun itu, saya akan mendengarkan.”Ayuni mengulas senyum kembali. ‘Kata Biru, rumornya ini orang suka sesama jenis. Mana mungkin suka sama gue yang notabennya begini. Cempreng, kurus, tapi banyak makan. Malah yang gue khawatirkan dia malah suka, sama laki gue. Mana ganteng bin kyut begitu laki gue.’Ayuni mengkhawatirkan Samuel menyukai suaminya setelah mendengar cerita dari Biru. Ia tidak mau mengenalkan Ryan lagi kepada lelaki itu.“Ayuni? Kenapa diam?” Samuel mengetuk meja di depan Ayuni.Perempuan itu lantas menoleh dan tersadar dan kembali menatap Samuel. “Maaf, Pak. Saya lagi merancang ucapan-ucapan yang akan sampaikan.” Ayuni lalu menerbitkan cengiran.Samuel geleng-geleng kepala. “Baiklah. Saya akan menunggunya.”Ayuni kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Saya mau tanya soal jam kerja saya dulu, Pak. Seperti apa, yaa?”“Eum! Jam kerja kamu seperti karyawan lainnya. Masuk jam delapan pagi, pulang jam lima sore. Dari Senin sampai Jumat. Sab
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more
PREV
1
...
111213141516
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status