“Nggak. Aku nggak marah. Nggak penting. Dia nggak akan bisa juga, ambil kamu dari aku.”Ayuni lalu mengusapi sisian wajah suaminya itu. “Kalau begitu, aku boleh minta izin nggak, sama kamu?”“Heum?” kata Ryan dengan respon yang benar-benar datar.Ayuni kembali melahap salad buah itu dengan mata menatap Ryan yang masih menunggunya berbicara. Ia hanya menghela napasnya lalu melahap salad lagi.“Yakin, bakalan kenyang hanya dengan makan salad?” tanya Ryan kemudian.“Nanti malam juga makan lagi. Kalau aku gendut, kamu nggak akan berpaling, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Berpaling ke siapa? Nggak ada yang lebih indah dari kamu.”“Pret! Modus!” ucap Shakira sembari menjebirkan bibirnya.“Maunya siapa? Kamu? Memangnya kamu mau, Papa jadiin istri?”“Idih! Mending sama yang masih muda, daripada sama Papa yang udah tua.”Ryan lantas menganga mendengar ucapan dari anaknya itu. “Kamu ini, yaa. Masih kecil cara bicaranya seperti orang dewasa. Astaga, Shakira.” Ryan mendengus kesal kepada anaknya itu.
Waktu sudah menunjuk angka sebelas malam. Ayuni yang baru keluar dari kamar Shakira langsung duduk menghampiri Ryan yang sudah menunggunya sejak tadi.“Mau pelayanan seperti apa? Aku bisa liar dan panas kalau kamu mau.”Ryan terkekeh kemudian menarik tangan Ayuni hingga tubuh perempuan itu terduduk di paha Ryan. Menyelipkan anak rambut perempuan itu lalu menyatukan bibirnya, menguasai bibir itu dengan lembut.“Memang itu, yang aku inginkan,” bisiknya lalu meraup bibir perempuan itu kembali sembari menyibak bra yang dikenakan oleh sang istri. Tangannya menyusup di bawah sana dan bermain dengan irama yang cukup membuat Ayuni bergeliya hebat.“Euuumpphh!” lirihnya yang sudah tidak tahan dengan permainan tangan lelaki itu di bawah sana. Menyusup dengan sempurna dan masuk ke dalam sana.Ryan lantas melepaskan bibirnya lantaran oksigen yang hampir habis. Kemudian mengatur napasnya dan membuka kaus dan celana pendek yang masih menempel di tubuhnya. Lalu menggendong perempuan itu, membawanya
“Keramas mulu lo, tiap hari,” celetuk Vita yang tengah berkunjung ke rumah Ayuni karena ada hal yang ingin ia sampaikan kepada sahabatnya itu.“Sok tahu, lo.” Ayuni lalu menyunggingkan bibirnya. “Baru juga ke sini, udah ngomong begitu aja lo.”Vita lantas tertawa. “Tapi beneran kan, laki elo minta terus tiap malem? Ini cupang belum abis, udah ditambah lagi.”Ayuni menutupi lehernya dengan rambut basahnya itu kemudian menoyor kening Vita. “Kayak nggak punya laki aja, lo. Sibuk banget ngomentarin hidup gue. Lama-lama kayak netijen lo, Vita!”Vita kembali tertawa. “Iyaa, iyaa. Udah sah, yaa wajar aja mau tiap hari juga. Gue mau ke luar negeri, mau ke Itali. Mungkin sampai tiga bulanan di sana. Jangan kangen, yaa.”“Lama amat? Dhita juga pergi, elo pergi. Anjir emang kalian berdua ini.”“Kalau bukan karena kerjaan gue juga ogah, Ayuni. Mending di sini, bisa pergi ke club bareng elo. Iya, nggak?”“Nggak!” Ayuni menatap Vita lekat. “Gue udah nggak boleh main ke club lagi sama ayang. Dan gue
“Bagaimana, Ayuni? Kenapa kamu tidak membalas chat saya?” Samuel menghubungi Ayuni karena tidak membalas pesan yang dia kirim dua hari yang lalu.“Sorry, Pak. Kemarin saya lagi sama suami saya. Lagi minta izin ke dia untuk kerja di kantor kamu,” ucapnya beralasan. Padahal sebenarnya dia lupa, karena Ryan langsung mengajaknya pergi ke suatu tempat.“Oh, begitu. So! Suami kamu mengizinkan?”“Iya, Pak. Suami saya mengizinkan.”Samuel mengulas senyumnya dengan lebar karena bahagia, di kantornya ada Ayuni yang akan bekerja di sana.“Syukurlah kalau suami kamu mengizinkan. Kalau begitu, Selasa depan kamu bisa datang ke kantor? Kita akan mengadakan grand opening.”“Selasa? Selasa besok?” tanya Ayuni kaget.“Iya. Saya pernah bilang sama kamu, kan?”“I—iya sih. Tapi, saya nggak tahu kalau hari Selasa grand opening-nya. Kalau itu, saya tidak bisa, Pak. Karena klinik suami saya juga mengadakan acara di hari itu.”Samuel terdiam sejenak. Kemudian menghela napasnya dan mengangguk di seberang sana.
Ayuni mengangguk pelan. “Mau, Mas. Sebenarnya dulu aku nggak dibolehin kerja. Dan kamu nggak tahu kalau aku terkekang banget saat itu.”Ryan kemudian mengusapi sisian wajah istrinya itu. “Aku tidak ingin kamu seperti itu lagi. Asalkan kamu percaya, aku juga percaya. Niat kamu hanya bekerja, bukan untuk yang lainnya. Aku hanya minta satu, kepada kamu. Jangan pernah menyalahi kebebasan yang sudah aku berikan pada kamu.“Aku memberikan kamu keluasan untuk mencari apa yang kamu inginkan, bukan berarti kamu bisa seenaknya melakukan di luar batas peraturan. Makan siang jangan hanya berdua dengan dia, harus ramai-ramai. Jangan mau diantar pulang oleh dia. Pak Narto yang akan jemput kamu. Paham, Ayuni?”Ayuni menganggukkan kepalanya. “Paham, Mas. Sekali lagi terima kasih, sudah kasih aku kebebasan meski bukan bebas yang semua orang kira.”Ryan menyunggingkan senyum tipis. “Aku hanya ingin kamu bahagia, Ayuni. Aku menikahimu karena ingin menjadi pria yang bisa membahagiakan kamu. Ingin memberi
“Apaan?” tanya Ayuni ingin tahu.Biru kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ryan. “Laki elo di mana? Shakira di mana?”“Shakira udah balik duluan sama neneknya. Mas Ryan nggak tahu ke mana. Katanya sih mau bicara sama Pak Damian.”Biru manggut-manggut dengan pelan. “Elo tahu nggak, Ryan dapat info apaan tentang bos elo itu?”Ayuni menggeleng pelan. “Gue nggak pernah tahu soal itu. Memangnya ada apa?”Biru menghela napas kasar. “Ryan kasih elo izin kerja di sana karena dia tahu sesuatu yang katanya lagi dia cari lebih lanjut. Elo tahu kan, umur dia udah tiga lima tapi belum nikah?”“Beda tiga tahun sama elo. Elo juga belum nikah.”Biru kemudian menyunggingkan bibirnya. “Tapi, gue masih doyan perempuan, Ayuni. Dia nggak.”Ayuni menaikan kedua alisnya. “Masa, Biru? Maksud elo, Pak Samuel menyimpang?”Biru mengangguk antusias. “Iya. Yaa meskipun masih jadi pertanyaan besar, bener apa nggak. Tapi, setidaknya buat dia lega karena dia nggak bakalan rebut elo darinya.”Ayun
Samuel mengendikan bahunya. “Apa pun itu, saya akan mendengarkan.”Ayuni mengulas senyum kembali. ‘Kata Biru, rumornya ini orang suka sesama jenis. Mana mungkin suka sama gue yang notabennya begini. Cempreng, kurus, tapi banyak makan. Malah yang gue khawatirkan dia malah suka, sama laki gue. Mana ganteng bin kyut begitu laki gue.’Ayuni mengkhawatirkan Samuel menyukai suaminya setelah mendengar cerita dari Biru. Ia tidak mau mengenalkan Ryan lagi kepada lelaki itu.“Ayuni? Kenapa diam?” Samuel mengetuk meja di depan Ayuni.Perempuan itu lantas menoleh dan tersadar dan kembali menatap Samuel. “Maaf, Pak. Saya lagi merancang ucapan-ucapan yang akan sampaikan.” Ayuni lalu menerbitkan cengiran.Samuel geleng-geleng kepala. “Baiklah. Saya akan menunggunya.”Ayuni kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Saya mau tanya soal jam kerja saya dulu, Pak. Seperti apa, yaa?”“Eum! Jam kerja kamu seperti karyawan lainnya. Masuk jam delapan pagi, pulang jam lima sore. Dari Senin sampai Jumat. Sab
Ayuni masuk ke dalam ruangan Samuel lalu duduk di depan lelaki itu.‘Ini orang nggak ada gelagat kalau dia belok. Tapi, rumornya kok udah nyampe ke karyawannya. Sebenarnya dia siapa?’Ayuni menghela napas kasar seraya memikirkan siapa lelaki yang ada di depannya ini. “Ada apa ya, Pak? Saya lagi ngerjain kerjaan pertama saya.”Samuel memberikan ID Card kepada Ayuni. “Ini, tanda pengenal kamu selama bekerja di sini. Tadi, sekretaris saya baru saja memberikannya kepada saya.”“Oh. Baik, Pak. Terima kasih. Hanya ini saja?”Samuel mengangguk. “Kamu mau makan siang di mana?”“Suami saya mau bawakan saya makanan ke sini, Pak. Makanan rumah jauh lebih sehat dari makanan di luar.” Ayuni lalu menerbitkan senyum terpaksa.“Oh, suami kamu mau ke sini?”Ayuni menganga kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Asistennya yang ke sini. Dia lagi ada meeting di rumah sakit, jadi nggak bisa datang kemari.”Samuel manggut-manggut dengan pelan. “Sepertinya suami kamu perhatian sekali ya, kepada kam
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k