Di ruangan yang suram, Ivanka terikat di kursi kayu tua. Tangisnya memecah keheningan yang mencekam. “Apa salahku, Mama? Tolong lepaskan aku,” ratap Ivanka dengan suara serak, menatap Adela yang berdiri dengan ekspresi dingin.Adela, dengan langkah yang terukur, mendekat ke arah Ivanka. “Kamu tahu, Ivanka, ini semua untuk kebaikan kita. Sarah butuh lebih banyak warisan dan karena kamu, semuanya hilang tidak bersisa!” seru Adela tanpa empati.Ivanka merasa dunianya runtuh, air mata mengalir deras membasahi pipinya. “Tapi, Mama, aku sakit. Aku butuh obatku. Aku tidak ingin mati,” desah Ivanka, suaranya semakin lemah.“Obat sialanmu tidak ada di sini. Kalau pun ada, apa kamu pikir aku akan memberikannya. Dasar anak bodoh, tidak berguna!” cacinya sudah sangat kesal.“Mama aku sakit.”Adela hanya menghela napas, matanya tak menunjukkan belas kasihan. “Itu bukan urusanku lagi, Ivanka. Sarah adalah prioritasku sekarang,” katanya sambil berbalik meninggalkan ruangan, meninggalkan Ivanka yang
Last Updated : 2025-03-13 Read more