"Ibu gimana Tari aja, Nak. Ibu tidak mau memaksakan. Jika Tari bersedia, ibu pun tidak akan keberatan."Aduh, dadaku tiba-tiba bergemuruh. Suara itu sangat kukenal. Pasti Pak Nadhif. "Saya minta izin untuk bicara langsung dengan Tari, Bu.""Oh, boleh boleh, sebentar Ibu panggilkan, ya."Aku bergegas masuk ke kamar begitu mendengar langkah kaki ibu mendekat."Nduk, ada Nadhif diluar. Dia mau membicarakan sesuatu padamu." Aku menoleh, dada ini benar-benar tak bisa kompromi. Debarnya makin menjadi jadi."Mau membicarakan apa, Bu?" Tanyaku hanya untuk mengulur waktu. Ibu duduk disamping lalu merangkul pundakku."Nduk, Nak Nadhif mau melamar kamu. Sekarang dia menunggu diluar untuk menanyakan langsung. Keluar lah, temui dia. Jawab sesuai dengan hati nurani kamu. Jangan karena terpaksa atau karena merasa tak enak."Aku menundukkan kepala. Lalu menghirup udara dengan rakus. Mencoba menyelami ke dalam sana. Apakah jawaban yang terlintas dalam benak ini berasa dari sana atau hanya karena ha
Terakhir Diperbarui : 2025-02-08 Baca selengkapnya