Semua Bab KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH : Bab 71 - Bab 80

156 Bab

Bab 71

"janda? yang gatel? Ini saya kasih tau mana yang gantel itu, ya! Niiih ... Ini ... Rasakan nih. Makan tuh janda gatel." Ibu dengan beringas mengacak acak rambut Mami Karla dengan kedua tangannya. Mahkota yang pasti ditata di salon dengan bayaran mahal, seketika berubah seperti rambut emak emak yang habis diseruduk kerbau. Berantakan.Perempuan muda yang mirip dokter Viola yang tempo hari bertemu denganku itu berteriak-teriak. "Heh! beraninya keroyokan! Dasar kampungan. Ga tau malu. Lepas!" Pekiknya. Ibu tak menghiraukan. Tangannya tetap lincah mengeksekusi mami Karla yang terlihat memprihatinkan."Makan nih, janda. Anakmu yang gatal, nyamperin anakku terus, sekarang nuduh anakku yang gatal!" Ibu tak menghiraukan ocehan Dokter Viola, maupun lolongan mami yang memprihatinkan."Ampun, dasar kampungan! Lepas! Violaa ... Bantuin Mami, Vi!" Pekiknya.Mendengar Maminya berteriak memanggil, Viola seperti punya kekuatan untuk melepaskan diri. Pak Rudi jadi kewalahan.Aku ngefreeze, terpak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-04
Baca selengkapnya

Bab 72

Setelah puas berorasi di depan, laki-laki itu mengirim pesan padaku. Aku membalas dengan mengirim emoticon "AMPUN SUHU!" eh, tak lama gambar profil laki-laki berjas putih mengenakan stetoskop itu berubah menjadi putih. Aku di blokir. Lucu sekali. Aku menaruh kembali ponsel di atas meja. Melanjutkan pekerjaanku di atas komputer. Terkadang hal hal seperti itu juga aku butuhkan agar tidak mengantuk ketika merangkai rangkai kata."Bunda, tadi kenapa sih, Bun? Siapa yang marah-marah sama kita?" Alif yang mulai paham situasi menghampiriku. Mengharap jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan."Ga ada, Sayang. Hanya orang yang tak rela kita berbuat baik, mengungkapkan kebenaran."Alif menunduk dalam."Kenapa, Sayang? Apa ada yang menganggu pikiranmu?"Alif kembali menatapku."Kemarin di sekolah teman teman ribut ngatain Alif anak pelakor, Bunda. Memang pelakor itu apa, Bunda?"Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Ini akibatnya jika aku sedikit saja salah bertingkah."Ga sayang, bunda bukan pelakor.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-04
Baca selengkapnya

Bab 73

"Maaf Pak, saya tak bisa!" Ucapku tegas."Ga bisa? Kamu bisa seperti sekarang ini karena saya, Tari. Kamu bisa setenar sekarang karena saya! Bisa bisanya kamu menolak saya, sementara diluar sana banyak yang mau menjadi istri saya."Telingaku berdenging mendengar ucapan laki-laki tau tahu diri ini. "Dengar ya, Pak Raka yang terhormat. Sebelum saya mengenal anda, tulisan saya sudah booming. Beberapa rumah produksi menawarkan kerjasama. Tapi, saya memilih Anda. Karena saya melihat anda profesional. Namun, jika anda menganggap keberhasilan saya karena anda. Mohon maaf, saya pamit. Beberapa waktu lalu Rans entertainment menawarkan kerjasama dengan saya. Kali ini saya akan terima.""Lho ... Lho Tari ...kok bawa bawa pekerjaan?"Aku tersenyum sinis."Anda yang duluan, kan! Silahkan buat surat pembatalan kerjasama. Kembalikan semua naskah naskah saya yang sudah masuk. Dan kita tak ada hubungan apa apa lagi!""Ga bisa gitu Tari! Gimana dengan cost yang selama ini keluar?""Hah, itu urusan and
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-05
Baca selengkapnya

Bab 74

"Bunda, Wildan udah tiga hari ini ga masuk sekolah." Pulang pulang Alif terlihat murung."Kenapa sayang? Wildan sakit?"Alif menggeleng."Alif ga tahu bunda. Ponselnya juga ga aktif. Kata Bu guru, Wildan lagi sakit dan berobat keluar kota bersama ayahnya. Apa dia mau pindah juga, Bun?"Anakku itu tampak sangat sedih. Wildan yang paling dekatnya. Berangkat ngaji pun bersama Aku mensejajarkan tubuh dengan Alif."Ga mungkin, kalau mau pindah dia pasti ngabarin Alif.""Bunda, kita kerumahnya aja, Yuk."Aku berpikir sejenak. Ga ada salahnya aku berkunjung, anggaplah menjalin silaturahmi karena Pak Nadhif juga orang baik. Sebelum kesana, aku pun belanja ke supermarket membeli beberapa jenis buah untuk Pak Nadhif dan cemilan untuk Wildan.Ammar dan Abrar aku titipkan pada Ibu. Khawatir jika nanti benar mereka sakit, dua anak ini akan menganggu istirahat mereka.Setelah semua beres aku dan Alif segera meluncur ke rumah Wildan. Sesampainya disana."Digembok, Bun. Jangan jangan benar mereka u
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-05
Baca selengkapnya

Bab 75

Setelah kunjunganku ke rumah Pak Nadhif beberapa waktu lalu, hubunganku dengan keluarga itu semakin dekat. Wildan sering menginap disini, begitu juga dengan Alif. Anak itu selalu merengek agar aku mengijinkan dia tidur dirumah Wildan."Kalau sama Nadhif kamu ga ada perasaan, Nduk?"Ibu yang sedang menyiangi sayuran memancing dengan pertanyaan."Belum, Bu. Tari masih fokus sama karir Tari. Biaya pendidikan anak-anak besar. Tari mau mereka terpenuhi semua kebutuhannya hingga dewasa nanti. Apalagi Tari pernah gagal. Tari tak mau terulang lagi."Ikan dalam penggorengan sudah matang. Aku bergegas mengeluarkan dan menaruhnya di piring. Wanginya menguar ke penjuru dapur ini."Kamu tak gagal. Hanya diberikan ujian dengan pasangan yang terus menguji keimanan. Dan kamu berhasil melewati semuanya, kan?""Iya, sih, Bu. Tapi, untuk saat ini jangan dulu lah. Tari masih takut. Biarlah seiring berjalannya waktu, jalani aja dulu."Aku menghela napas. Tak kupungkiri, setiap berdoa aku selalu meminta jo
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-06
Baca selengkapnya

Bab 76

"Bun, mau, ya? Alif ingin merasakan makan bareng lagi seperti dulu waktu masih ada papa."Aku membuang napas panjang. Alif benar benar ingin punya seorang ayah seperti Wildan. Anak kelas 5 SD ini masih belum paham jika aku khawatir nanti akan menjadi fitnah. Secara Pak Nadhif juga seorang single parents."Kalau Alif sama Wildan aja gimana? Kan ada Ayahnya Wildan yang jagain. Bunda pulang duluan?" Tawarku pada Alif.Anak itu cemberut."Hayolah, Bu. Sesekali. Kasian Alif. Mereka sudah mengharapkan untuk hari ini."Akhirnya aku pasrah. Kami bersama menaiki mobil Pak Nadhif. Mobilku sendiri aku tinggal dan titipkan ke Pak satpam untuk nanti aku ambil.Wajah Alif langsung berbinar. Dengan riang mereka berlari ke arah dimana mobil Pak Nadhif terparkir."Lho? Wildan kok dibelakang?""Gapapa, Tante. Tante di depan aja. Aku mau duduk sama Alif. Kita mau ngobrol seru."Astaga ... Gimana ini? "Hayo, Bu. Silahkan. Gapapa di depan aja. Anak-anak biar dibelakang."Pak Nadhif membukakan pintu mobil
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-06
Baca selengkapnya

Bab 77

Perempuan itu melepaskan genggamannya dari Elzio. Wajahnya memerah marah."Awas kamu ya, Mbak! Kamu udah bikin abang dan ibuku sengsara. Aku tak akan membiarkan kamu bebas begitu saja!"Ingatanku langsung kembali. Monika. Pantas aku merasa tak asing dengan wajahnya. Sejak menikah hanya beberapa kali bertemu itupun di tahun pertama pernikahan kami. Anak itu katanya kuliah di Bandung. Tapi, sampai aku bercerai dengan abangnya tak pernah ada kabar apapun tetang dia. Entah sudah selesai kuliah, entah sudah kerja, aku tak tahu Mas Arsen tak pernah cerita."Kamu menyalahkan saya? Lupa ya? Makannya tanya sama Abang kamu itu? Selama menikah dengan saya, apa yang sudah dia lakukan pada saya dan anak-anak? Dan sekarang kamu menyalahkan saya? Apa ga terbalik?"Wajah Monika terdiam pucat. Raut garang yang tadi di sombongkan lenyap entah kemana. Dia kira aku masih Tari yang dulu. Sorry, ye!"Saya sudah muak berurusan dengan keluarga kalian. Jangan pernah ganggu keluarga saya lagi. Jika itu terjadi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-07
Baca selengkapnya

Bab 78

Kami pun berjalan bersisian kembali ke meja. Wildan dan Alif ternyata sudah selesai makan. Untung mereka tidak tahu kejadian tadi dibelakang. Kasian mental anakku nanti.Usai makan kami pun segera pulang. Aku sendiri memilih memesan taksi online untuk kembali ke sekolah mengambil mobil. Namun, Pak Nadhif melarang dan memaksa mengantarku kesana. Sesampainya aku dan Alif memisahkan diri, pulang dengan mobilku sendiri. Kami pun beriringan dan berpisah di persimpangan."Bunda, Alif suka sama Om Nadhif. Sebenarnya, Om Nadhif itu baik banget tau, Bun. Rajin sholat. Kalau Alif main disana. Setiap adzan kita pasti ke mesjid."Aku tersenyum sambil terus fokus menyetir."Bunda juga suka ...""Bunda juga suka? Waah, asiiik, berarti bunda mau dong menikah dengan Om Nadhif? Horeee ... Horee ... Punya ayah baru ... Hore ...!"Aku yang sedang menyetir tersentak panik. "Alif ... Alif dengarkan bunda dulu.""Ga perlu lagi Bunda. Alif sudah senang bunda akhirnya jujur. Nanti Alif akan bilang ke Wildan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-07
Baca selengkapnya

Bab 79

"Ibu gimana Tari aja, Nak. Ibu tidak mau memaksakan. Jika Tari bersedia, ibu pun tidak akan keberatan."Aduh, dadaku tiba-tiba bergemuruh. Suara itu sangat kukenal. Pasti Pak Nadhif. "Saya minta izin untuk bicara langsung dengan Tari, Bu.""Oh, boleh boleh, sebentar Ibu panggilkan, ya."Aku bergegas masuk ke kamar begitu mendengar langkah kaki ibu mendekat."Nduk, ada Nadhif diluar. Dia mau membicarakan sesuatu padamu." Aku menoleh, dada ini benar-benar tak bisa kompromi. Debarnya makin menjadi jadi."Mau membicarakan apa, Bu?" Tanyaku hanya untuk mengulur waktu. Ibu duduk disamping lalu merangkul pundakku."Nduk, Nak Nadhif mau melamar kamu. Sekarang dia menunggu diluar untuk menanyakan langsung. Keluar lah, temui dia. Jawab sesuai dengan hati nurani kamu. Jangan karena terpaksa atau karena merasa tak enak."Aku menundukkan kepala. Lalu menghirup udara dengan rakus. Mencoba menyelami ke dalam sana. Apakah jawaban yang terlintas dalam benak ini berasa dari sana atau hanya karena ha
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-08
Baca selengkapnya

Bab 80

Aku mengangguk cepat. Bersyukur Pak Nadhif sangat bijak tidak mendesakku atau menguasai pikiran ini. Dalam jeda waktu itu aku bisa meminta petunjuk pada Allah atas jawaban yang akan kuberikan nanti. Seminggu, InsyaAllah cukup untuk aku memutuskan.***"Benar dugaanmu, Dek. Arsen masih berkeliaran di sekolah. Mas tadi sudah menghajar dan mengancam akan memenjarakan dia jika masih berani mendekati Alif atau Ammar."Mas Fatan yang baru pulang dari sekolah Alif bercerita. Diwajahnya masih terlihat emosi."Lalu? Dia gimana, Mas?""Iya, Nak. Kamu yakin dia tak akan menganggu Alif lagi?"Ibu pun cemas."InsyaAllah setelah ini dia tak akan berani lagi datang ke sekolah Alif. Fatan juga sudah meminta tolong sama security untuk tidak mengijinkan orang lain menjemput Alif kecuali Fatan dan Tari, Bu."Aku dan ibu sama sama menghela napas lega. Walau, kekhawatiran ini tak sepenuhnya hilang. Aku yakin Mas Arsen mencari celah lain agar bisa bertemu Alif. Siang ini aku sendiri yang akan menjemput Al
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-08
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
678910
...
16
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status