Home / Fantasi / Dewi Penyembuh Surgawi / Chapter 101 - Chapter 110

All Chapters of Dewi Penyembuh Surgawi : Chapter 101 - Chapter 110

232 Chapters

Masalah Terselesaikan

Setelah beberapa hari bekerja keras tanpa henti, akhirnya wabah flu babi yang melanda kekaisaran Zhengtang berhasil diatasi. Rakyat yang sebelumnya jatuh sakit kini mulai pulih, sementara mereka yang sehat menjadi lebih waspada dan menjaga kebersihan sesuai arahan Zhao Xueyan. Sorak-sorai penuh sukacita terdengar di seluruh penjuru ibu kota. Nama Zhao Xueyan dielu-elukan dengan penuh rasa syukur."Terima kasih, Nona Zhao! Anda adalah penyelamat kami!" seru seorang wanita tua sambil menangkupkan tangannya ke arah Zhao Xueyan.Kabar tentang keberhasilan ini tidak hanya menyebar di Zhengtang, tetapi jugak sampai ke kekaisaran-kekaisaran tetangga seperti Canghai dan Heifeng. Para pejabat dan bangsawan dari kedua kekaisaran itu membicarakan kehebatan Zhao Xueyan. Mereka terkesima dengan kecerdasannya, pengetahuannya yang luar biasa, serta keberaniannya menghadapi wabah yang bahkan tabib-tabib terbaik kesulitan mengatasinya.“Seorang wanita luar biasa dari Zhengtang?” tanya seorang pejabat
last updateLast Updated : 2025-01-20
Read more

Niat Terselubung Kaisar Zheng Yu

Kekaisaran Zhengtang kembali damai setelah cobaan wabah dan banjir yang melanda. Hari ini, suasana istana tampak lebih tenang, dengan berita baik yang dibawa oleh Jenderal Zhao Yun yang baru saja kembali dari daerah yang terkena banjir. Setelah beristirahat sejenak, Jenderal Zhao Yun langsung menuju istana untuk menghadap Kaisar Zheng Yu, melaporkan bahwa situasi di wilayah luar kini telah terkendali."Yang Mulia, dengan langkah yang telah diambil sesuai perintah Yang Mulia dan dukungan dari rakyat setempat, banjir berhasil ditangani. Wilayah tersebut kini aman, dan warga perlahan-lahan memulihkan kehidupan mereka," lapor Jenderal Zhao Yun tegas.Kaisar Zheng Yu mengangguk puas, namun di dalam hatinya, ia telah menyusun rencana lain. Dengan wajah penuh senyum, ia berkata, "Jenderal Zhao, kerja kerasmu patut diacungi jempol. Kau adalah pilar kekaisaran ini. Sebagai bentuk rasa terima kasihku, aku ingin mengundang kau dan keluargamu ke jamuan makan malam khusus. Ini juga kesempatan untu
last updateLast Updated : 2025-01-20
Read more

Memenuhi Undangan Jamuan

Keesokan harinya, suasana di kediaman keluarga Zhao terasa sibuk. Para pelayan dengan penuh perhatian menyiapkan pakaian untuk Zhao Xueyan, merapikan rambutnya, dan memoles penampilannya. Meski mereka menawarkan berbagai gaya rumit untuk menunjukkan keanggunan dan statusnya, Zhao Xueyan dengan tegas memilih penampilan sederhana namun tetap berkelas. Di dekatnya, Niuniu berdiri sambil menggerutu, seperti biasanya. Dengan wajah penuh rasa kesal, ia berkata, "Nona, apa Kaisar Zheng Yu benar-benar lupa dengan semua yang pernah dia lakukan pada Anda? Bagaimana dia tega mencambuk dan menyiksa Nona hanya karena fitnah dari selir-selir itu? Bukankah dia dulu mengatakan kalau hmm … maaf, dia mengatakan nona adalah wanita bodoh dan buruk rupa? Sekarang setelah nona menjadi seperti ini, dia malah ingin merebut nona kembali. Betapa memuakkan!" Zhao Xueyan mendengarkan dengan tenang, tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Ia memandang bayangannya di cermin dan menjawab, "Niuniu, aku bukan
last updateLast Updated : 2025-01-20
Read more

Jamuan Makan Malam

Ketika suara Kasim menggema mengumumkan kedatangan keluarga Jenderal Zhao, Kaisar Zheng Yu segera berdiri dari kursinya. Dengan pakaian terbaik yang memancarkan keagungan, ia memasang senyum ramah. Namun, pandangannya terpaku pada sosok Zhao Xueyan yang berjalan masuk dengan anggun, wajahnya tertutup cadar. Meski demikian, keanggunannya tetap terpancar, membuat hati Kaisar Zheng Yu berdesir. Dalam hatinya, ia merutuki kebodohannya di masa lalu. ‘Bagaimana mungkin aku melepaskan wanita secantik dan sehebat dia?’ pikirnya.Keluarga Zhao menundukkan kepala memberi hormat kepada sang kaisar. “Hormat kami kepada Yang Mulia Kaisar,” ujar Jenderal Zhao Yun dengan tegas. Nyonya Zhao dan Zhao Xueyan mengikuti, memberi salam dengan sopan namun tanpa emosi yang berlebih.Kaisar Zheng Yu mengangguk dengan senyum lebar. “Selamat datang, Jenderal Zhao dan keluarga. Kehadiran kalian adalah kehormatan besar bagi istana,” katanya. Ia kemudian melirik Zhao Xueyan, yang duduk tenang dengan aura mister
last updateLast Updated : 2025-01-21
Read more

Jamuan Yang Kacau

Kaisar Zheng Yu tampaknya tidak tahu malu atau menyerah. Ia terus mencari cara untuk membuat Zhao Xueyan berbicara lebih banyak. “Xueyan, saat mendengar tentang pencapaianmu baru-baru ini, aku tidak bisa tidak merasa bangga. Aku bertanya-tanya, apa kau pernah berpikir untuk kembali ke istana dan membantuku mengelola kekaisaran?”Pernyataan itu membuat suasana ruangan sedikit tegang. Para pelayan yang melayani makan malam terdiam sejenak, dan tatapan Nyonya Zhao berubah tajam. Jenderal Zhao Yun langsung meneguk tehnya perlahan untuk menenangkan diri, sementara Zhao Xueyan menatap lurus ke arah Kaisar Zheng Yu, matanya bersinar dingin di balik cadarnya.“Yang Mulia, saya rasa posisi saya saat ini sudah lebih dari cukup untuk melayani rakyat Zhengtang—” Kehangatan palsu dalam jamuan makan mendadak hancur ketika sesosok wanita dengan wajah rusak parah dan aroma busuk memasuki ruangan. Suaranya melengking, memanggil-manggil Kaisar Zheng Yu. Para pejabat dan pelayan yang hadir tercengang,
last updateLast Updated : 2025-01-21
Read more

Kini Telah Berbalik

Para pejabat saling bertukar pandang, sebagian dari mereka merasa hukuman itu terlalu berat, tetapi mereka tahu betul bahwa membantah Kaisar sama saja menggali kuburan mereka sendiri.Setelah pengawal pergi, Kaisar Zheng Yu duduk kembali di kursinya dengan wajah penuh frustrasi. Ia memandang kosong ke arah meja yang kini terasa begitu sepi tanpa kehadiran Zhao Xueyan. Dalam hati, ia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu ceroboh membiarkan Mei Xiao kabur dari istana dingin. Tetapi yang lebih membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa Zhao Xueyan kembali menolaknya secara halus di depan semua orang.“Zhao Xueyan ....” gumamnya pelan, penuh dengan penyesalan dan obsesi yang semakin dalam.Jamuan makan yang seharusnya menjadi momen mendekatkan diri dengan keluarga Zhao kini berubah menjadi kegagalan total.*****Hukuman cambuk untuk Selir Mei Xiao dilaksanakan di lapangan utama Istana Dingin. Para pelayan, penjaga, dan bahkan beberapa pejabat menyaksikan dengan berbagai ekspresi di wajah m
last updateLast Updated : 2025-01-21
Read more

Mengembalikan Semuanya.

Zhao Xueyan turun dari kereta kuda dengan anggun, diikuti oleh Niuniu yang membawa keranjang kecil berisi catatan dan sampel produk. Wajah Zhao Xueyan tetap tenang, meski dalam hatinya dia sedikit terusik saat melihat sosok yang sangat tidak diharapkannya berdiri di depan tokonya—Kaisar Zheng Yu.Kaisar Zheng Yu mengenakan pakaian rakyat jelata, mencoba menutupi identitasnya. Namun, postur tegap dan tatapan penuh percaya diri itu tidak bisa disembunyikan. Wajahnya berbinar saat melihat Zhao Xueyan, seperti pria yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga.“Nona Zhao Xueyan,” ucap Kaisar Zheng Yu dengan nada lembut, suaranya berbeda dari biasanya, seolah mencoba menarik perhatian dan simpati. “Aku ingin melihat sendiri toko yang telah membuat seluruh kekaisaran berbicara. Aku juga ingin menyampaikan rasa kagumku atas usahamu.”Zhao Xueyan menatapnya dingin, tidak tergesa-gesa membalas. Dengan anggun, dia membetulkan posisi cadarnya, lalu melangkah melewati Kaisar Zheng Yu tan
last updateLast Updated : 2025-01-21
Read more

Mengembalikan Hadiah

Di ruangannya, Kaisar Zheng Yu duduk dengan penuh percaya diri, tersenyum membayangkan bagaimana Zhao Xueyan akan terpesona dengan hadiah-hadiah yang dikirimkannya. "Wanita mana yang tidak suka perhiasan dan kain mewah?" gumamnya dalam hati. Namun, lamunannya terputus ketika seorang prajurit masuk dengan tergesa-gesa dan memberi hormat."Yang Mulia, Jenderal Zhao Yun datang untuk menghadap," lapor prajurit itu.Kaisar Zheng Yu tersenyum penuh keyakinan. “Ah, pasti dia datang untuk mengucapkan terima kasih atas hadiah-hadiahku. Bagaimana mungkin mereka tidak terkesan?” Dengan langkah ringan dan senyuman yang masih terpatri, dia berjalan menuju aula pertemuan.Prajurit yang memberikan laporan ingin menyela, namun ia takut untuk mengatakan jika jenderal Zhao Yun datang dengan membawa beberapa peti. Jadi, prajurit itu hanya diam sambil mengikuti langkah kaisar Zheng Yu. Saat pintu aula terbuka, Kaisar Zheng Yu melihat Jenderal Zhao Yun berdiri tegap dengan ekspresi serius. Di belakangnya
last updateLast Updated : 2025-01-22
Read more

Kematian Selir Mei Xiao

Setelah Jenderal Zhao Yun pergi meninggalkan istana, Kaisar Zheng Yu duduk termenung di ruangannya. Wajahnya menunjukkan campuran emosi antara kemarahan dan frustrasi, tetapi pikirannya terus kembali kepada Zhao Xueyan.Tiba-tiba, seorang prajurit masuk dengan tergesa-gesa, memberi hormat sambil menyampaikan berita mendesak. "Yang Mulia, maaf mengganggu, tetapi saya harus melaporkan bahwa Selir Mei Xiao ... telah meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dari hukuman cambuk beberapa hari lalu."Ruangan itu menjadi sunyi, hanya terdengar suara napas tertahan dari prajurit yang menunggu reaksi Kaisar Zheng Yu. Namun, di luar dugaan, Kaisar Zheng Yu tetap duduk tenang, tanpa menunjukkan ekspresi kesedihan atau kehilangan.Setelah beberapa detik hening, dia akhirnya berbicara dengan suara dingin. “Persiapkan pemakamannya. Jangan buat keributan. Lakukan yang perlu saja.”Prajurit itu terkejut, tetapi segera menunduk dan menjawab, “Baik, Yang Mulia.”Setelah prajurit itu pergi, Kais
last updateLast Updated : 2025-01-22
Read more

Pemakaman Selir Mei Xiao

Pemakaman Selir Mei Xiao berlangsung dengan suasana yang suram dan memalukan. Tidak ada upacara mewah yang biasanya diberikan untuk seorang selir kekaisaran, bahkan kehadiran tokoh-tokoh penting pun sangat minim. Kaisar Zheng Yu sendiri memilih untuk tidak menghadiri pemakaman, membuat banyak orang semakin yakin bahwa Selir Mei Xiao benar-benar telah kehilangan tempat di hatinya.Rakyat yang hadir lebih karena rasa penasaran daripada simpati. Mereka berkerumun di pinggir jalan, berbisik-bisik sambil menyaksikan prosesi sederhana itu."Lihatlah, bahkan pemakamannya pun seperti ini," ujar seorang wanita tua dengan nada mengejek."Dia dulu hidup di atas awan, tapi lihat apa yang terjadi sekarang. Karma itu nyata," tambah pria lain sambil menggeleng.Beberapa pelayan yang pernah bekerja di bawah Selir Mei Xiao juga terlihat hadir, meski raut wajah mereka lebih menunjukkan kelegaan daripada duka."Ini pembalasan atas semua yang dia lakukan pada kami," bisik seorang pelayan muda kepada tema
last updateLast Updated : 2025-01-22
Read more
PREV
1
...
910111213
...
24
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status