Semua Bab Istri yang Tergadai : Menjadi Kekasih Gelap Tuan CEO: Bab 121 - Bab 130

133 Bab

Tak Sudi Punya Menantu Sepertimu

Deretan mobil dan motor mengular di perempatan, membentuk barisan panjang yang bergerak tersendat. Siena duduk di kursi belakang taksi dengan wajah masam, jemarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel tanpa tujuan.Gadis itu mendesah kesal. Waktu begitu lambat bergerak, sementara pikirannya dipenuhi berbagai rencana yang harus segera ia wujudkan.“Kenapa siang-siang begini macet?” gumamnya sambil melirik ke luar jendela.Sopir taksi hanya melirik sekilas lewat kaca spion, enggan menanggapi keluhan penumpangnya yang tampak gelisah. Siena berulang kali melirik jam di layar ponsel, memastikan ia tidak kehilangan banyak waktu. Setelah beberapa puluh menit, akhirnya taksi itu berhenti tepat di depan rumah yang dikelilingi pagar bercat putih.Tanpa mengucapkan terima kasih, Siena membuka pintu dan melangkah turun dengan tergesa-gesa. Ia menutup pintu mobil dengan sedikit keras, lalu merapikan gaunnya sebelum berjalan ke arah teras rumah. Di sana, Bu Dewi tengah duduk di kursi rotan bersama seora
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Menghilang untuk Selamanya

Taksi yang membawa Siena melaju dengan kecepatan sedang, menembus jalanan siang yang mulai dipadati kendaraan. Siena menggigit bibirnya dengan gelisah, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Di sampingnya, Bu Ratna tampak memegangi tangan Bu Dewi yang terkulai lemas, mencoba memijat jemari yang dingin itu dengan harapan bisa memberikan sedikit kehangatan.“Cepat, Pak! Tolong lebih cepat!” suara Siena pecah dalam kepanikan, matanya terus memantau raut wajah pucat Bu Dewi yang tak menunjukkan tanda-tanda kesadaran.Sopir taksi hanya mengangguk singkat, mencoba menyalip beberapa kendaraan di depannya. Setelah berkutat dengan kemacetan, akhirnya bangunan megah rumah sakit umum mulai terlihat di kejauhan.Begitu taksi berhenti di depan pintu IGD, Siena buru-buru membuka pintu. Dengan tangan gemetar, ia berlari masuk ke gedung rumah sakit, menghampiri meja perawat dengan napas tersengal.“Tolong… tolong ada pasien serangan jantung di luar!” teriaknya hampir histeris.Seketika, dua petugas medis
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Cincin Tanda Cinta

Detektif yang sejak tadi berada dalam genggaman Alastar tampak menelan ludah. Matanya berkedip gugup ketika tatapan tajam Alastar menembus ketenangannya. Dengan suara bergetar, detektif itu menghela napas panjang sebelum menundukkan kepala sedikit. "Maafkan saya, Tuan Alastar. Saya hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Tuan Narendra. Saya akan menyampaikan pesan Anda kepadanya," ujarnya dengan nada penuh penyesalan. Alastar menatap pria itu sejenak ekspresinya tetap dingin tanpa sedikit pun belas kasih. Namun, setelah beberapa detik, ia mengendurkan genggamannya."Pergilah," tukasnya singkat.Detektif itu segera mengangguk hormat sebelum berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Alastar dalam pikirannya sendiri. Setelah memastikan pria itu benar-benar pergi, Alastar berbalik dan melangkah menuju Joya, yang masih sibuk berbincang dengan beberapa staf outlet. Wajah wanita itu nampak ceria dengan senyum manis yang terukir di bibirnya. Alastar memperhatikan sang kekasih sesaat,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Hubungan Kita Putus

Siena duduk di bangku ruang tunggu seraya meremas jarinya yang terasa dingin. Napasnya pendek, matanya nanar menatap lantai yang dipenuhi bayangan samar dari lampu-lampu neon di atasnya. Suara monitor yang berdetak dari balik pintu ruang IGD, seperti mengingatkan bahwa kehidupan seseorang sedang berada di ujung batas. Setiap detik yang berlalu terasa begitu berat, dan Siena hanya bisa berharap agar Bu Dewi bisa bertahan.Sesekali, dokter dan perawat berlalu-lalang dengan tergesa, sibuk menangani pasien lain yang juga tengah berjuang antara hidup dan mati. Siena meremas jemarinya semakin erat, hatinya berdebar tiap kali pintu ruang IGD terbuka sedikit, berharap ada kabar baik yang datang.Langkah-langkah tergesa yang mendekat, membuat Siena mengangkat kepala. Dari kejauhan, sosok pria dengan kemeja biru muda tampak berlari ke arahnya. ‘Denis.Mata lelaki itu langsung mencari-cari Siena dengan penuh kepanikan. Saat pandangan mereka bertemu, wajahnya yang dipenuhi kecemasan langsung be
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Terluka Parah

Benturan logam yang dahsyat menggema, tatkala mobil Denis menghantam tiang listrik. Kaca depan retak, bagian kap mobil penyok, dan kepulan asap mulai muncul dari mesin yang ringsek. Suara klakson panjang meraung di udara, seakan menjadi tanda bahaya bagi siapa saja yang berada di sekitar.Siena terkulai di kursi penumpang dengan darah merembes dari dahinya yang terbentur dashboard. Napasnya tersengal, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya tertutup rapat. Tangannya yang tadi mencengkeram kemudi dengan emosi kini terkulai lemah di pangkuannya. Tubuh gadis itu penuh luka, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah darah yang mengalir deras dari kedua kakinya, membasahi jok mobil dengan warna merah pekat yang mencengangkan.Di sisi lain, Denis tak sadarkan diri dengan luka yang tak kalah parah. Kepala pria itu terantuk keras pada kemudi, menyebabkan robekan di pelipisnya.Kedua kakinya terjepit di antara dashboard dan kursi, membuatnya tak bisa bergerak. Sementara tangan kanan Denis t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-26
Baca selengkapnya

Perpisahan Terakhir

Joya terbangun lebih dulu dari Alastar, merasakan kehangatan tubuh pria itu yang masih terlelap di sisinya. Dengan hati-hati, ia menyingkirkan tangan Alastar yang melingkar erat di pinggangnya. Setelah berhasil melepaskan diri, ia turun perlahan dari ranjang, membiarkan kakinya menyentuh lantai dingin.Dengan langkah ringan, Joya menuju meja di mana ponselnya tergeletak. Begitu ia menyalakannya, layar yang redup segera terang, menampilkan sebelas panggilan tak terjawab dari dua nomor berbeda.Kening Joya berkerut, hatinya bertanya-tanya ada urusan penting apa sehingga ia dihubungi terus-menerus. Belum sempat berpikir lebih jauh, matanya tertuju pada dua pesan masuk dari nomor tak dikenal. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat saat ia membuka pesan pertama.{Selamat pagi. Ini dari Kepolisian. Kami meminta Ibu Joya segera datang ke Rumah Sakit Cendana. Adik Anda, Bu Siena, dan suami Anda, Pak Denis Kusuma, mengalami kecelakaan dan saat ini dalam kondisi kritis.]Darah Joya seolah membek
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-27
Baca selengkapnya

Duka Cita Mendalam

Mobil melaju dengan tenang di sepanjang jalan yang basah oleh embun pagi, tetapi suasana di dalamnya begitu kelam. Joya bersandar di bahu Alastar, membiarkan kehangatan lelaki itu meresap ke dalam kulitnya yang terasa dingin. Sejak menerima kabar duka, bibir Joya terkunci rapat. Kata-kata seolah tertahan di kerongkongan, dadanya sesak oleh kesedihan yang tak tertahankan. Alastar, yang duduk di samping Joya, tak banyak bicara. Ia hanya mengeratkan pelukan di bahu sang kekasih, sesekali mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih. Ia tahu, saat ini, tak ada kata-kata yang bisa mengurangi kepedihan yang dirasakan Joya. Di tengah kesunyian, Alastar merasakan kepalanya mulai berdenyut. Pandangannya sempat berkunang, tetapi ia mengerjapkan mata cepat-cepat, berusaha mengabaikan rasa pusing yang kian menguasai kepala. Ini bukan saatnya untuk jatuh sakit. Joya lebih membutuhkan dukungannya sekarang dibanding kapan pun. Alastar pun menggenggam tangan Joya, meremasnya lembut seakan ingin me
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-27
Baca selengkapnya

Tak Mau Kehilanganmu

Usai prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat, Joya masih bersimpuh di sisi makam Siena. Tanah merah yang baru saja ditaburkan bunga itu masih lembap, seakan belum sepenuhnya menyadari bahwa kini seorang jiwa telah terbaring abadi di bawahnya. Di sekelilingnya, para pelayat sudah mulai meninggalkan tempat peristirahatan terakhir itu. Hanya menyisakan kesunyian dan desir angin, yang menyapu dedaunan pohon kamboja di sudut pemakaman.Alastar yang berdiri tak jauh dari Joya akhirnya ikut berjongkok. Dengan gerakan lembut, ia menyentuh bahu wanita itu, memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya udara senja. "Baby, langit sudah mendung," suaranya terdengar lembut. "Kita harus kembali sekarang. Bukankah kau ingin melihat kondisi Bu Dewi di rumah sakit?"Joya mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Matanya merah dan sembab, tetapi kesedihan yang mendalam masih terpancar jelas dari sana. Ia menoleh ke arah makam Siena sekali lagi, seakan ingin mengukir sosok sang adik d
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-28
Baca selengkapnya

Aku Tetap Menunggumu

Joya berjalan mondar-mandir di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, langkahnya tak beraturan, seiring dengan debar jantung yang tak menentu. Matanya yang sejak tadi berkaca-kaca semakin terasa perih. Telapak tangannya terasa dingin dan basah oleh keringat yang tak henti mengalir. Kecemasan menguasai hatinya, menyelimuti setiap tarikan napasnya dengan kekhawatiran yang sulit terjelaskan. Sudah beberapa waktu berlalu, tetapi belum ada satu pun dokter yang keluar untuk memberi kabar tentang kondisi Alastar.Saat Joya hampir kehilangan kesabaran, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa menghampirinya. Ia menoleh dan melihat Arman, asisten setia Alastar, datang bersama seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian elegan. Sekilas, ada garis wajah yang mengingatkan Joya pada Alastar. Dugaan Joya benar. Wanita itu adalah Alena, kakak Alastar.Alena segera menghampiri Joya dengan ekspresi tegang. “Kau Joya, bukan? Aku Alena, kakak Alastar. Apa yang terjadi? Kenapa Alastar bisa pingsa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-29
Baca selengkapnya

Dia sudah Pergi

Di ruang Instalasi Gawat Darurat, Joya masih duduk di sisi tempat tidur Alastar, menatap wajah pucat pria yang dicintainya dengan sorot mata penuh duka. Tangannya masih menggenggam jemari Alastar yang dingin, seakan berusaha menyalurkan sedikit kekuatan.Namun, kebersamaan singkat itu terganggu oleh kehadiran beberapa perawat yang mendekat. Salah satu dari mereka memeriksa kembali monitor yang masih menunjukkan detak jantung Alastar, sedangkan yang lain mulai melepas satu per satu alat medis yang melekat di tubuh pria itu. Selang infus yang menyalurkan cairan ke dalam tubuhnya dicabut dengan hati-hati, diikuti oleh elektrode yang menempel di dadanya. Satu perawat lainnya membebaskan Alastar dari alat bantu oksigen yang sejak awal menopang pernapasannya, sedangkan seorang lagi sudah bersiap dengan brankar khusus yang akan membawa tubuh lemah itu ke dalam ambulans.Joya menatap semua itu dengan pandangan kosong, perasaan tidak rela merayapi dirinya. Hatinya menjerit melihat pria yang d
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-30
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
91011121314
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status