Xaviera berlari dengan nafas tersengal menuju ruangan Alejandro, tangannya membawa berkas penting yang perlu segera disampaikan. Tanpa memikirkan konsekuensi, dia menerobos masuk ke ruangan bosnya, meninggalkan etiket kantor yang seharusnya dia pegang. “Maaf mengganggu, Mr. ada hal sangat mendesak yang—” Saat pintu terbuka, mata Xaviera terbelalak menyaksikan pemandangan di dalam sana. Xaviera bukan hanya berhenti berbicara, namun juga membelalakkan matanya. Pandangan Xaviera dan kedua insan bertemu beberapa saat. Hingga Xaviera yang sadar lebih dulu, langsung menutup kedua matanya. “Maafkan saya, Mr. maafkan saya, Nona,” ujar Xaviera, sebelum akhirnya keluar. Di luar, Xaviera langsung memegangi dadanya, bukan berdebar karena cemburu, melainkan takut—takut jika Alejandro menghukumnya karena telah mengganggu aktivitasnya. Isabel yang memeluk Alejandro dari belakang, serta satu tangannya berada di area sensitif Alejandro. Sementara Alejandro sendiri sedang memegang lengan Isab
Last Updated : 2025-03-11 Read more