All Chapters of Terjerat Pesona Sekertaris Lugu Sang CEO: Chapter 21 - Chapter 30

48 Chapters

Bab 21. Memasang Kamera Baru

Hari itu, Xaviera merasa sangat bersemangat saat mengajak Gabriel pergi ke toko buku kesukaannya. Meskipun Gabriel tidak terlalu suka menghabiskan waktu di toko buku, ia tetap setia menemani tunangannya. Xaviera berlari-lari kecil antara rak-rak buku, matanya berbinar saat melihat judul-judul buku yang menarik hatinya.Gabriel, yang biasanya tidak begitu antusias dengan buku, mencoba mencari cara untuk menikmati waktu mereka bersama. Ia mengikuti Xaviera dari satu rak ke rak lain, sesekali membantu mengambilkan buku yang terlalu tinggi untuk dijangkau oleh Xaviera.Saat Xaviera menemukan buku yang sangat ia cari-cari, wajahnya berseri-seri. “Lihat ini, Gabi! Akhirnya aku menemukan buku ini,” ucapnya sambil melompat kecil. Gabriel hanya tersenyum melihat kegembiraan yang tak terbendung dari tunangannya itu.Meski tidak menyukai toko buku, Gabriel mulai merasa ada kebahagiaan tersendiri dalam menemani Xaviera. Ia menyadari bahwa kebahagiaan Xaviera adalah kebahagiaan untuknya juga. Get
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

Bab 22. Keberhasilan Sandiwara Alejandro

Keputusan Alejandro menambah kamera di balkon kamar Xaviera memang tak salah. Hal tersebut sangatlah menguntungkannya, karena memang Xaviera begitu menyukai tempat tersebut. Seperti malam ini, contohnya. Xaviera duduk dengan kaki terlipat dan mulut tiada henti mengunyah kacang. Beruntunglah malam ini Xaviera hanya seorang diri, karena Gabriel masih di tempat kerjanya. Kalau saja ada Gabriel di sana, tidak mungkin suasana hati Alejandro baik seperti sekarang ini. Tanpa sadar tangan Alejandro terangkat, dan mengusap dahinya sendiri. “Dia tidak pernah berubah, tetap sama seperti dulu.” Alejandro sangat menyukai penampilan Xaviera yang sekarang. Memakai hotpants dan dipadukan dengan kaus oversize, serta rambut yang dikuncir kuda. “Lihatlah caranya mengunyah kacang, seperti tupai kecil.” Alejandro tersenyum tipis melihat rekaman Xaveria yang memenuhi layar laptopnya. “Akan sangat menyenangkan jika aku berhasil menangkap dan mengurung tupai kecil ini.” Xaviera, yang sibuk menikmat
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

Bab 23. Gagal

'Aku harap kau tidak akan salah paham lagi. Aku tidak sengaja menumpahkan kopi-ku ke pakaian bos-ku, jadi aku membawa dia ke apartemen kita. Aku harus mengganti pakaiannya dan mengobati lukanya. Cepatlah kembali, aku tidak nyaman hanya berdua dengannya'. Begitulah pesan yang Xaveria kirim pada Gabriel. Dengan menjadikan alasan mengambil obat sebagai alibi, diam-diam Xaviera memainkan ponselnya. Xaviera tentu tak ingin kembali terjadi pertengkaran dengan Gabriel, sehingga ia melakukan hal tersebut. Sekian waktu menunggu tak ada balasan, Xaveria akhirnya memutuskan untuk kembali menemui Alejandro di ruang tamu. Alejandro menatap Xaviera dengan pandangan yang tajam namun tidak marah. Dia mengusap lengannya dengan tangan yang lain, sementara Xaviera dengan cepat mengambil kotak P3K dari lemari. “Bisa tolong gulung lengannya, Mr? Saya akan mengobati lengan Mr.” Xaviera berujar dengan pandangan tak lepas dari lengan Alejandro. Begitu Alejandro menuruti permintaannya, mata Xaviera lan
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

Bab 24. Resign

Kantor masih sangat sepi, bahkan belum ada satu pun orang yang terlihat, namun Alejandro sudah lebih dulu menapaki kakinya di sana. Dengan duduk di ruangannya, kedua netra Alejandro tak lepas dari layar laptopnya. Tanpa dijelaskan pun sepertinya kalian semua tahu apa yang sedang dilakukan Alejandro, memangnya apalagi kalau bukan memantau kegiatan Xaviera. Alejandro menggunakan jadi telunjuknya menggeser touchpad dan meng-klik salah satu rekaman kamera, yang di mana kamera tersembunyi terletak di atas langit-langit kamar. Sehingga pemandangan yang Alejandro saksikan sekarang adalah Gabriel dan Xaviera yang masih berada di tempat tidur. Mata Xaviera terbuka lebar saat sinar mentari menyelinap masuk melalui celah jendela kamar mereka. Perasaan terkejut menyergapnya saat melihat Gabriel, yang biasanya masih terlelap di sampingnya, sudah bangun lebih dulu dengan raut wajah serius membuat jantungnya berdegup kencang. “Gabi ...” Suara serak Xaviera mengusik telinga Gabriel, hingga membu
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

Bab 25. Duduk Di Pangkuan Alejandro

“Xaviera!” Suara Alejandro memanggil, membuat Xaviera yang berada di kursi kerjanya dengan gelagapan berdiri. “Iya, Mr. ada yang bisa saya bantu?” “Masuk cepat!” kata Alejandro kembali berteriak, ia saat ini masih berada di dalam ruangannya. “Baik, Mr.” Xaveria menoleh pada telepon kantor yang menghubungkannya dengan Alejandro, dan tergeletak di meja kerjanya. Padahal hanya dengan meng-klik satu kali, Alejandro bisa dengan mudah menghubunginya. Terkadang Xaviera tak mengerti mengapa Alejandro lebih memilih berteriak daripada menggunakan telepon tersebut. Aneh memang bos-nya itu. Begitu masuk, Xaviera disuguhi pemandangan berupa punggung lebar Alejandro yang sedang berdiri menghadap sebuah lemari besar berisi piala berupa penghargaannya sebagai seorang pengusaha, juga di sisi lain terdapat puluhan berkas yang berjejer rapi. “Aku kesulitan menemukan berkas kerja sama dengan perusahaan GORES, bantu aku mencarinya!” Alejandro berujar tanpa memandang Xaveria yang masih berdiri d
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Bab 26. Cincin Xaveria Hilang

Xaviera melangkah di sepanjang lorong NOWZ COMPANY dengan senyum percaya diri. Pakaian formal berupa rok span selutut berwarna yang dipadukan dengan blouse putih, membalut tubuh indahnya. Serta rambut panjangnya yang diikat rapi, menambah kesan apik pada dirinya.“Mr. Alejandro pasti senang mendengar berita ini.” Sambil memegang sebuah map berwarna hitam di tangannya, Xaviera bergumam pelan.Langkah kakinya yang terbalut heels, membawa Xaviera menuju ruang CEO berada. Namun sebelum itu, Xaviera mengetuk pintu terlebih dahulu tentunya. “Maaf mengganggu, Mr. ini saya, Xaviera.”Bukan suara perintah yang biasa Xaviera dengar dari sang bos, melainkan pintu yang dibuka langsung oleh Alejandro. “Kau sudah kembali?” ujar pria yang hanya memakai kemeja tanpa jas itu.“Iya, Mr. saya membawa kabar baik.”“Masuk!” titah Alejandro singkat.Karena permintaan pertemuan dengan klien yang berbarengan, sementara keduanya sangatlah penting bagi Al
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Bab 27. Xaviera Menangis, Alejandro Bahagia

Xaviera saat ini berada di ruang kendali CCTV menatap layar monitor dengan mata yang penuh harapan. Ruangan itu dipenuhi deretan monitor yang menunjukkan berbagai sudut kantor. Xaviera duduk dengan tubuhnya yang tegang, rambutnya yang sebelumnya terikat rapi, kini sudah tidak lagi.Di samping Xaviera, operator CCTV dengan serius mengganti-ganti tampilan kamera, mencoba membantu Xaviera menemukan rekaman yang tepat.“Apakah ini meja Anda, Nona?” tanya operator itu, menunjuk ke sebuah sudut yang terpampang di salah satu layar.“Iya, itu dia,” jawab Xaviera dengan nada berharap, matanya tidak berkedip menatap layar. “Tolong diperbesar!” pinta Xaviera sambil semakin mendekatkan dirinya dan menatap penuh layar tersebut.Rekaman itu memperlihatkan sudut meja kerja Xaviera, namun karena posisi kamera yang tidak menguntungkan, hanya sebagian kecil saja yang terlihat. Xaviera menggigit bibirnya, merasa frustrasi. Tidak ada tanda-tanda yang aneh, tidak ada
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Bab 28. Rencana Perjodohan

Kediaman Alejandro malam itu tampak lebih ramai dari biasanya, cahaya lampu yang hangat menerangi setiap sudut ruangan yang dipenuhi tawa dan perbincangan. Di meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni, terdapat Alejandro yang duduk dengan postur tegap, kedua orang tuanya yang tampak ceria, dan kedua orang tua Isabel yang selalu terlihat ramah. Pembicaraan mengalir dari satu topik ke topik lain, terutama ketika Adriana—ibu Isabel mulai bercerita tentang kenakalan yang pernah dilakukan oleh Alejandro dan Isabel saat mereka masih kecil. “Kau anak perempuan, tapi kenakalanmu tidak jauh berbeda dengan Alejandro,” ujar Adriana, membuat Isabel menutup mulutnya malu. Isabel, yang kini menjadi seorang wanita yang anggun dan menawan, sesekali tertawa kecil mendengar cerita itu. Tawanya yang merdu itu seolah menjadi musik latar yang menambah kehangatan suasana. Namun, di sisi lain, Alejandro hanya memberikan respon seadanya. Mata Alejandro yang tajam menatap lurus ke depan, seolah dia berad
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

Bab 29. Keberanian Isabel

Pagi itu, sinar mentari menerobos masuk melalui jendela kantor Alejandro, namun tak sedikit pun mampu menerangi kegelapan yang melanda hatinya. Sambil menatap layar komputer yang penuh dengan laporan kerugian, Alejandro meremas kertas-kertas tersebut dalam kekesalan. Tiba-tiba, pintu ruangan tersebut terbuka dengan suara yang agak keras. Isabel, dengan gaun cerah dan senyum yang lebar, masuk tanpa permisi. Entah di mana Xaviera berada, hingga tak menghalangi langkah Isabel yang anggun. “Alejandro, ayo kita keluar! Cuaca cerah sekali hari ini,” ujar Isabel dengan nada yang ceria namun menyebalkan bagi Alejandro. Alejandro menatap Isabel dengan tatapan tajam. “Tidak bisa. Kau tahu aku sedang sibuk. Aku tidak punya waktu untuk itu,” sahutnya dengan nada rendah namun penuh penekanan. Namun, Isabel tak kenal menyerah. Dia mendekat ke meja Alejandro dan menarik lengan bajunya. “Ayolah, sedikit angin segar pasti akan membuatmu lebih baik. Aku bosan harus selalu mengurus pekerjaan, ak
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

Bab 30. Xaviera Dimarahi

Xaviera berlari dengan nafas tersengal menuju ruangan Alejandro, tangannya membawa berkas penting yang perlu segera disampaikan. Tanpa memikirkan konsekuensi, dia menerobos masuk ke ruangan bosnya, meninggalkan etiket kantor yang seharusnya dia pegang. “Maaf mengganggu, Mr. ada hal sangat mendesak yang—” Saat pintu terbuka, mata Xaviera terbelalak menyaksikan pemandangan di dalam sana. Xaviera bukan hanya berhenti berbicara, namun juga membelalakkan matanya. Pandangan Xaviera dan kedua insan bertemu beberapa saat. Hingga Xaviera yang sadar lebih dulu, langsung menutup kedua matanya. “Maafkan saya, Mr. maafkan saya, Nona,” ujar Xaviera, sebelum akhirnya keluar. Di luar, Xaviera langsung memegangi dadanya, bukan berdebar karena cemburu, melainkan takut—takut jika Alejandro menghukumnya karena telah mengganggu aktivitasnya. Isabel yang memeluk Alejandro dari belakang, serta satu tangannya berada di area sensitif Alejandro. Sementara Alejandro sendiri sedang memegang lengan Isab
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status