Semua Bab Proposal Cinta Sang Miliarder : Bab 11 - Bab 20

43 Bab

Bab 8: Farhan Menghadapi Tekanan Keluarga Aisyah

Malam itu, rumah Aisyah terasa lebih sunyi dari biasanya. Aisyah duduk di ruang tamu, ditemani secangkir teh hangat yang perlahan mendingin. Di hadapannya, Pak Ahmad duduk dengan raut wajah serius. Sejak sore tadi, Aisyah sudah merasa ada sesuatu yang ingin dibicarakan ayahnya. Dan benar saja, setelah beberapa basa-basi, Pak Ahmad mulai membuka topik yang membuat hati Aisyah berdebar. “Aisyah,” suara Pak Ahmad terdengar dalam, “Ayah sudah lama memikirkan ini. Kamu sudah cukup dewasa, dan Ayah ingin kamu mempertimbangkan masa depanmu.” Aisyah menunduk, memutar-mutar cangkir di tangannya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Maksud Ayah, tentang pernikahan?” tanyanya pelan. Pak Ahmad mengangguk. “Iya. Ayah tahu kamu ingin menikah dengan cara yang sesuai syariat, dan Ayah sangat menghargai itu. Tapi, Ayah juga ingin kamu mempertimbangkan calon yang benar-benar bisa menjamin masa depanmu. Bukan hanya soal agama, tapi juga soal kestabilan hi
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-10
Baca selengkapnya

Bab 9: Farhan Mulai Merencanakan Langkah Serius

Malam semakin larut, tetapi pikiran Farhan masih enggan diajak istirahat. Ia duduk di balkon rumahnya, ditemani secangkir teh yang sejak tadi tak disentuh. Angin malam berembus pelan, membawa dingin yang menusuk hingga ke hati. Pesan yang diterimanya beberapa jam lalu dari nomor tak dikenal itu kembali terngiang. Isi pesan itu begitu sederhana, namun penuh tekanan: “Jangan coba-coba mendekati Aisyah jika kamu tidak serius.” Farhan menghela napas panjang. Pesan itu terasa seperti peringatan, entah dari siapa. Ia tahu bahwa keputusan untuk mendekati Aisyah tidaklah mudah. Tapi, di balik kerumitan itu, ada keyakinan yang terus mendorongnya: Aisyah adalah orang yang ia cari selama ini. Seseorang yang akan melengkapi hidupnya, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Farhan mengambil ponselnya dan menatap layar, ada nama Adrian di daftar panggilan terakhir. Temannya itu selalu menjadi tempatnya berbagi cerita, terutama ketika ia berada di persimpangan seperti sekarang. Dengan satu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Bab 10: Percakapan yang Menentukan

Senja mulai turun, memberikan semburat jingga di ufuk barat. Farhan berdiri di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang rapi. Rumah itu milik keluarga Aisyah. Ia menggenggam kotak kecil berisi beberapa buah tangan, menenangkan detak jantungnya yang tak karuan."Bismillah," gumamnya pelan sambil mengetuk pintu.Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, memperlihatkan wajah Ibu Aisyah yang penuh kehangatan. "Oh, Farhan. Silakan masuk.""Terima kasih, Bu," ucap Farhan, berusaha terdengar tenang meski hatinya sedikit gugup.Ia dipersilakan duduk di ruang tamu. Ruangan itu terasa hangat, dengan hiasan sederhana namun mencerminkan kepribadian pemiliknya. Tak lama kemudian, Pak Ahmad datang. Pria itu tampak serius seperti biasanya, tetapi tetap menunjukkan sikap hormat."Farhan, saya tidak menyangka kamu akan datang lagi secepat ini," ucap Pak Ahmad, mengambil tempat duduk di sofa seberang Farhan."Saya ingin berbicara langsung dengan Bapak dan Ibu," jawab Farhan, mencoba memulai percak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

Bab 11: Identitas Farhan Terancam Terbongkar

Farhan berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu kecil di pekarangan rumah Aisyah, berusaha menenangkan pikiran yang penuh pertanyaan. Setiap langkahnya seolah membawa beban baru, beban yang semakin berat seiring waktu. Meskipun pertemuan terakhir dengan Pak Ahmad telah berjalan cukup lancar, hati Farhan tak bisa benar-benar tenang. Ia tahu, semakin lama ia menyembunyikan identitasnya, semakin besar risiko yang harus ia hadapi.Hari itu, seperti biasa, Farhan datang lebih awal untuk menunggu Aisyah selesai dengan kegiatan dakwahnya. Ia duduk di salah satu bangku taman yang ada di depan rumah keluarga Aisyah, menatap langit senja yang perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan. Sejak pertama kali melihat Aisyah, ia merasa ada sesuatu yang menenangkan setiap kali melihat langit seperti itu. Seperti ada ketenangan yang luar biasa setiap kali Aisyah berada di dekatnya.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Pikiran Farhan kembali berputar pada percakapan dengan Pak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya

Bab 12: Kecurigaan yang Memuncak

Langit malam masih memancarkan semburat jingga ketika Farhan tiba di rumahnya. Cahaya rembulan yang temaram menyapa wajahnya yang penuh kegundahan. Ia memandangi layar ponsel yang masih menampilkan pesan singkat tadi, pesan dari seseorang yang tak ia kenal. "Pak Ahmad mulai curiga. Kamu harus segera menjelaskan semuanya sebelum terlambat."Farhan menarik napas panjang, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Ada pertarungan di dalam dirinya. Ia tahu menyembunyikan identitas sebagai miliarder bukanlah perkara yang mudah, namun itu adalah pilihannya. Pilihan untuk mencintai Aisyah dengan cara yang benar-tanpa bayang-bayang kekayaannya. Tetapi, semakin hari, ia sadar perjuangannya semakin berat. Kecurigaan Pak Ahmad adalah sinyal bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi. Farhan berdiri, menatap jendela dengan pandangan kosong. Malam terasa begitu panjang. "Ya Allah," gumamnya perlahan, "Jika ini jalan yang Kau ridhai, maka berikanlah aku kekuata
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-06
Baca selengkapnya

Bab 13: Ketegangan dalam Hati Aisyah

Langit senja merona jingga, seolah memahami kegundahan yang mengisi hati Aisyah. Di kamarnya, ia duduk di tepi ranjang, memandangi mushaf yang terbuka di pangkuannya. Namun, pikirannya melayang, tak lagi tertambat pada ayat-ayat yang biasanya menenangkan. Hatinya terasa berat, penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab. Tatapan tajam ayahnya kepada Farhan siang tadi terus membayang di benaknya."Farhan menyembunyikan sesuatu ...," gumam Aisyah pelan, hampir seperti berbisik kepada dirinya sendiri.Ia mencoba menepis pikiran itu. Farhan adalah pria yang tulus, pikirnya. Namun, bayangan percakapan mereka terus berputar. Sikap ayahnya, pertanyaan yang menggantung di udara, dan kegelisahan yang terpancar dari wajah Farhan semuanya menyisakan rasa tidak nyaman.Aisyah menghela napas panjang, merasakan hawa malam yang perlahan menelisik ke dalam kamarnya. Ia bangkit, berjalan ke jendela, dan menatap bulan yang menggantung redup di langit. Ia ingin mempercayai Far
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

Bab 14: Pergulatan Batin Farhan

Malam yang hening menyelimuti rumah Farhan. Di balik jendela kamarnya, cahaya bulan menerobos masuk, menciptakan bayangan samar di dinding. Namun, keindahan malam itu tak mampu mengusir kekacauan di hatinya. Ia duduk di kursi kerja, membisu. Di depannya, laptop masih menyala, namun layar itu kosong. Tangan Farhan mengusap wajahnya yang letih, seolah berharap sentuhan itu mampu meringankan beban pikirannya. Hati Farhan terasa seperti medan perang. Ada suara kecil yang terus berbisik, mendesaknya untuk mengakui segalanya kepada Aisyah. Namun, ada pula ketakutan besar yang menghentikannya. "Kalau aku bilang sekarang, apakah dia masih bisa percaya?" pikirnya berulang-ulang. Ia berdiri, melangkah pelan menuju jendela. Tangannya menyentuh kaca yang dingin, matanya menerawang jauh ke arah kota yang sudah sunyi. Ia mengingat kembali pertemuan dengan Aisyah siang tadi. Wajahnya yang tenang, tapi penuh luka. Tatapan matanya yang seolah bertanya, "Kenapa kamu tida
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

Bab 15: Menyampaikan Kebenaran

Pagi itu, matahari memancarkan sinarnya yang lembut, namun hati Farhan terasa lebih berat daripada malam yang baru berlalu. Ia duduk di ruang tamu, meresapi keheningan. Pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam dirinya seolah tak memberinya kesempatan untuk bernapas lega. Surat yang ia coba tulis semalam sudah menjadi gumpalan kertas di sudut kamarnya. Kali ini, ia tahu, kata-kata di atas kertas tidak akan cukup. Ia harus bicara langsung kepada Aisyah.Farhan memandangi ponselnya yang tergeletak di atas meja. Berulang kali ia ingin mengetik pesan untuk Aisyah, memintanya bertemu. Namun, setiap kali jari-jarinya menyentuh layar, hatinya bimbang. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang, lalu membuka mata kembali. "Tidak ada jalan lain," gumamnya pelan. Ia harus mengakhiri semua kebohongan ini.---Di rumah Aisyah, suasana tak kalah berat. Setelah percakapan mereka kemarin, Aisyah merasa hidupnya seperti terhenti. Ia mencoba melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, namun bayangan Farhan te
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Bab 16: Konflik yang Semakin Dalam

Pagi itu, Farhan bangun lebih awal dari biasanya. Setelah salat subuh, ia duduk termenung di depan meja kerjanya, memandangi layar laptop yang masih menampilkan rencana yang ia susun semalam. Namun, rencana itu tampak hanya menjadi coretan tanpa makna jika ia tak tahu pasti bagaimana cara mewujudkannya. Ia ingin membuktikan kepada Aisyah bahwa dirinya layak, bukan hanya sebagai pria yang mencintainya, tetapi sebagai seorang muslim yang jujur dan bertanggung jawab.Langkah pertama yang ia pikirkan adalah berbicara dengan keluarganya. Keluarga Farhan, meskipun jarang tampil di kehidupannya sehari-hari, memiliki peran besar dalam perjalanan bisnisnya. Ia tahu bahwa jika ingin sepenuhnya jujur pada Aisyah, ia juga harus melibatkan keluarganya dalam perubahan besar ini.Setelah mandi dan bersiap-siap, ia memutuskan untuk menelepon ibunya."Assalamu'alaikum, Bu. Apa kabar?" tanya Farhan, mencoba membuka percakapan dengan nada tenang."Wa'alaikumussalam,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

Bab 17: Menjaga Keseimbangan

Pagi itu, Farhan memulai harinya dengan menghadap jendela besar di ruang kerjanya. Kota terlihat sibuk, namun pikirannya terpusat pada satu hal-Aisyah. Ia telah memutuskan bahwa semua tindakan ke depan harus berlandaskan kejujuran. Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Namun, di sisi lain, tanggung jawabnya sebagai pemimpin bisnis besar tetap membebaninya. Ia menyandarkan kepalanya di kaca dingin, lalu bergumam, "Ya Allah, jika niatku untuk mencintai dan menikahi Aisyah ini adalah jalan kebaikan, mudahkanlah. Tapi jika ini hanya akan membawa kerugian untuk kami berdua, berikan aku kekuatan untuk menerima takdir-Mu."Telepon di meja berdering, memecah keheningan. Farhan meraihnya dan menjawab, "Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumussalam, Tuan Farhan," suara sekretarisnya terdengar formal. "Rapat dengan tim keuangan akan dimulai dalam 30 menit. Apakah Anda akan menghadirinya?"Farhan berpikir sejenak. Masalah perusahaan itu penting, tapi prioritasnya kal
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status