Senja mulai turun, memberikan semburat jingga di ufuk barat. Farhan berdiri di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang rapi. Rumah itu milik keluarga Aisyah. Ia menggenggam kotak kecil berisi beberapa buah tangan, menenangkan detak jantungnya yang tak karuan."Bismillah," gumamnya pelan sambil mengetuk pintu.Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, memperlihatkan wajah Ibu Aisyah yang penuh kehangatan. "Oh, Farhan. Silakan masuk.""Terima kasih, Bu," ucap Farhan, berusaha terdengar tenang meski hatinya sedikit gugup.Ia dipersilakan duduk di ruang tamu. Ruangan itu terasa hangat, dengan hiasan sederhana namun mencerminkan kepribadian pemiliknya. Tak lama kemudian, Pak Ahmad datang. Pria itu tampak serius seperti biasanya, tetapi tetap menunjukkan sikap hormat."Farhan, saya tidak menyangka kamu akan datang lagi secepat ini," ucap Pak Ahmad, mengambil tempat duduk di sofa seberang Farhan."Saya ingin berbicara langsung dengan Bapak dan Ibu," jawab Farhan, mencoba memulai percak
Terakhir Diperbarui : 2025-03-04 Baca selengkapnya