Home / Romansa / Proposal Cinta Sang Miliarder / Bab 15: Menyampaikan Kebenaran

Share

Bab 15: Menyampaikan Kebenaran

Author: Resya
last update Huling Na-update: 2025-03-10 14:52:09

Pagi itu, matahari memancarkan sinarnya yang lembut, namun hati Farhan terasa lebih berat daripada malam yang baru berlalu. Ia duduk di ruang tamu, meresapi keheningan. Pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam dirinya seolah tak memberinya kesempatan untuk bernapas lega. Surat yang ia coba tulis semalam sudah menjadi gumpalan kertas di sudut kamarnya. Kali ini, ia tahu, kata-kata di atas kertas tidak akan cukup. Ia harus bicara langsung kepada Aisyah.

Farhan memandangi ponselnya yang tergeletak di atas meja. Berulang kali ia ingin mengetik pesan untuk Aisyah, memintanya bertemu. Namun, setiap kali jari-jarinya menyentuh layar, hatinya bimbang. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang, lalu membuka mata kembali. "Tidak ada jalan lain," gumamnya pelan. Ia harus mengakhiri semua kebohongan ini.

---

Di rumah Aisyah, suasana tak kalah berat. Setelah percakapan mereka kemarin, Aisyah merasa hidupnya seperti terhenti. Ia mencoba melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, namun bayangan Farhan te
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 16: Konflik yang Semakin Dalam

    Pagi itu, Farhan bangun lebih awal dari biasanya. Setelah salat subuh, ia duduk termenung di depan meja kerjanya, memandangi layar laptop yang masih menampilkan rencana yang ia susun semalam. Namun, rencana itu tampak hanya menjadi coretan tanpa makna jika ia tak tahu pasti bagaimana cara mewujudkannya. Ia ingin membuktikan kepada Aisyah bahwa dirinya layak, bukan hanya sebagai pria yang mencintainya, tetapi sebagai seorang muslim yang jujur dan bertanggung jawab.Langkah pertama yang ia pikirkan adalah berbicara dengan keluarganya. Keluarga Farhan, meskipun jarang tampil di kehidupannya sehari-hari, memiliki peran besar dalam perjalanan bisnisnya. Ia tahu bahwa jika ingin sepenuhnya jujur pada Aisyah, ia juga harus melibatkan keluarganya dalam perubahan besar ini.Setelah mandi dan bersiap-siap, ia memutuskan untuk menelepon ibunya."Assalamu'alaikum, Bu. Apa kabar?" tanya Farhan, mencoba membuka percakapan dengan nada tenang."Wa'alaikumussalam,

    Huling Na-update : 2025-03-11
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 17: Menjaga Keseimbangan

    Pagi itu, Farhan memulai harinya dengan menghadap jendela besar di ruang kerjanya. Kota terlihat sibuk, namun pikirannya terpusat pada satu hal-Aisyah. Ia telah memutuskan bahwa semua tindakan ke depan harus berlandaskan kejujuran. Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Namun, di sisi lain, tanggung jawabnya sebagai pemimpin bisnis besar tetap membebaninya. Ia menyandarkan kepalanya di kaca dingin, lalu bergumam, "Ya Allah, jika niatku untuk mencintai dan menikahi Aisyah ini adalah jalan kebaikan, mudahkanlah. Tapi jika ini hanya akan membawa kerugian untuk kami berdua, berikan aku kekuatan untuk menerima takdir-Mu."Telepon di meja berdering, memecah keheningan. Farhan meraihnya dan menjawab, "Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumussalam, Tuan Farhan," suara sekretarisnya terdengar formal. "Rapat dengan tim keuangan akan dimulai dalam 30 menit. Apakah Anda akan menghadirinya?"Farhan berpikir sejenak. Masalah perusahaan itu penting, tapi prioritasnya kal

    Huling Na-update : 2025-03-12
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 18: Keputusan yang Tertunda

    Langit pagi itu tampak cerah, namun hati Aisyah terasa seperti diselimuti kabut tebal. Ia duduk di teras rumah dengan secangkir teh hangat yang sudah mendingin, menatap kosong ke arah taman kecil di depannya. Di benaknya, berbagai pikiran bertumpuk, sulit diredakan.Suara langkah kaki ibunya terdengar dari belakang. "Aisyah, kamu sudah dari tadi di sini?" Ibunya duduk di kursi sebelah, membawa kain yang sedang dijahitnya. Aisyah tersenyum tipis. "Cuma ingin menghirup udara pagi, Bu." Namun, ibunya tidak mudah tertipu. "Kelihatannya lebih seperti sedang melamun. Apa ini tentang Farhan lagi?" Aisyah terdiam sejenak. "Aku bingung, Bu. Aku tahu dia tulus, aku bisa merasakannya. Tapi ... aku juga takut. Bagaimana kalau aku salah membaca niatnya?" Ibunya menatap putrinya dengan penuh kasih. "Aisyah, tidak ada manusia yang sempurna. Kalau kamu merasa dia tulus, mungkin itu adalah pertanda dari Allah. Tapi jika hatimu masih ragu, teruslah ber

    Huling Na-update : 2025-03-13
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 19: Mengungkapkan Rahasia

    Pagi itu, Aisyah menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Wajahnya tampak tenang, tetapi hatinya gelisah. Pertemuan terakhir dengan Farhan meninggalkan jejak yang sulit diabaikan. Pengakuan tentang kekayaan Farhan seolah membuka pintu ke dunia yang selama ini ia hindari-dunia kemewahan yang baginya sering kali menutupi nilai-nilai keimanan. Namun, di balik keraguannya, ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh.Sementara itu, Farhan berdiri di depan sebuah jendela besar di kantornya. Kota Jakarta membentang di hadapannya, tetapi pikirannya sibuk dengan satu hal-Aisyah. Kecelakaan kecil yang ia alami sehari sebelumnya tidak membuatnya gentar. Hari ini, ia bertekad untuk lebih jujur. Ia ingin membuka setiap lembar cerita hidupnya, meskipun itu berarti harus menghadapi kemungkinan ditolak."Pak Farhan," suara sekretarisnya membuyarkan lamunannya. "Mobil sudah siap. Apa Anda akan langsung menuju taman?"Farhan mengangguk. "Iya. Tolong pastikan semua dokumen unt

    Huling Na-update : 2025-03-14
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 20: Titik Balik

    Mentari pagi menyusup lembut melalui jendela kamar Aisyah, mengiringinya menyiapkan hati untuk hari yang tak mudah. Ia sudah memutuskan untuk bertemu Farhan sekali lagi. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan-kekhawatirannya, harapannya, dan terutama batasan yang ingin ia tetapkan jika hubungan ini masih bisa diperjuangkan.Di sisi lain kota, Farhan sudah bersiap sejak subuh. Pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan. Ia tahu, kali ini ia harus benar-benar jujur dan memberikan Aisyah semua alasan untuk mempercayainya. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan.---Di taman yang menjadi saksi pertemuan mereka selama ini, Aisyah tiba lebih awal dari biasanya. Ia duduk di bangku yang sama, mencoba menenangkan degup jantungnya. Ia menatap bunga-bunga yang bermekaran, seolah mencari jawaban atas keraguannya. Tak lama, langkah Farhan terdengar mendekat. Ia membawa sebuah buku catatan kecil, tampak seperti benda yang sangat berarti baginya. Setelah menyap

    Huling Na-update : 2025-03-15
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 21: Ujian Terakhir

    Pagi itu, udara segar menyambut Aisyah yang baru saja keluar dari rumah. Ia berjalan dengan langkah pelan, menatap pemandangan sekitar yang mulai hidup. Di kejauhan, anak-anak bermain riang di halaman masjid, sementara orang-orang tua tampak sibuk berkumpul di warung kopi. Namun, hatinya tidak begitu tenang. Sesuatu yang mengganjal selalu ada dalam pikirannya, bahkan saat ia memutuskan untuk bertemu dengan Farhan lagi. Sejak pertemuan terakhir mereka di taman, banyak hal yang belum bisa ia pahami sepenuhnya. Farhan, dengan segala perubahan yang ia tunjukkan, terasa semakin dekat, namun ada juga rasa was-was yang tak bisa ia hindari. Aisyah tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada perasaan, meskipun ia menginginkan hubungan ini. Ia butuh kepastian. Dan di balik perubahan Farhan yang begitu mendalam, ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ini benar-benar karena dirinya, atau hanya sekadar upaya untuk menebus kesalahan di masa lalu? ****

    Huling Na-update : 2025-03-16
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 22: Tekanan dari Keluarga

    Pagi itu, di ruang makan rumah Pak Ahmad, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Sambil menyendokkan nasi ke piring, Pak Ahmad menatap Aisyah dengan serius. Wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya, dan tatapannya tajam, seolah ingin memastikan bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya akan dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh oleh putrinya."Aisyah, ayah sudah banyak berpikir," kata Pak Ahmad setelah sejenak diam, mengatur suapan nasi. "Tentang Farhan."Aisyah menurunkan sendoknya, memandang ayahnya dengan tatapan bingung. "Farhan? Ada apa dengan Farhan, Ayah?"Pak Ahmad meletakkan sendoknya dengan pelan. Lalu, ia menatap putrinya dengan tatapan penuh makna. "Ayah ingin kamu berpikir ulang tentang hubungan ini. Tentang apa yang sebenarnya kamu cari dalam sebuah pernikahan. Tentang Farhan ... aku rasa kamu harus lebih berhati-hati."Aisyah terdiam. Ada ketegangan dalam suasana itu, dan ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati ayahn

    Huling Na-update : 2025-03-17
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 23: Konfrontasi yang Tak Terelakkan

    Hari itu, suasana di rumah Pak Ahmad terasa lebih tegang dari biasanya. Aisyah yang baru saja selesai shalat Subuh, duduk di ruang tengah dengan wajah yang tak bisa disembunyikan. Matanya masih merah, bekas begadang semalam setelah menemukan artikel yang mengguncang seluruh keyakinannya tentang Farhan. Pikiran-pikiran yang berkecamuk, rasa kecewa yang tumbuh semakin besar, dan rasa bingung yang mendalam, semuanya bercampur dalam satu kegelisahan. Tapi hari ini, ia harus menghadapi kenyataan itu-sesuatu yang ia takuti, yang harus dihadapi dengan kepala dingin.Pagi ini, Pak Ahmad meminta Farhan untuk datang ke rumah mereka. Aisyah tahu betul bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa. Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya, sesuatu yang tak bisa lagi dihindari.Saat Farhan datang, ia disambut dengan tatapan tajam Pak Ahmad yang duduk di ruang tamu, sementara Aisyah hanya bisa diam, duduk di sudut ruangan. Farhan mengangguk hormat kepada Pak Ahmad, meski di dalam

    Huling Na-update : 2025-03-18

Pinakabagong kabanata

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 40: Harmoni yang Kembali

    Suara adzan Subuh menggema lembut, menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Di dalam rumah sederhana mereka, Farhan membuka matanya perlahan, menghela napas panjang, seolah mengumpulkan energi untuk hari yang baru. Di sampingnya, Aisyah sudah bangkit lebih dulu, menyiapkan air wudhu di kamar mandi kecil mereka."Farhan, ayo bangun," panggil Aisyah lembut.Farhan mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia bergegas mengambil wudhu, bergabung dengan Aisyah untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Saat sujud terakhir, hati Farhan bergetar. Ia memohon pada Allah agar hubungan mereka yang sempat retak kini dikuatkan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang baru.Usai salat, mereka duduk berdampingan di sajadah. Aisyah membuka Al-Quran dan mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang penuh kekhusyukan. Farhan hanya bisa memandangnya dengan rasa syukur yang dalam. Ia tahu, apa yang mereka miliki saat ini bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan kembali.

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 39: Penjelasan Hana

    Langit pagi itu dipenuhi cahaya lembut matahari, seolah memberikan kehangatan yang baru kepada Aisyah. Di sebuah taman kecil, ia dan Farhan duduk di bangku panjang, menikmati udara segar. Suasana di antara mereka terasa canggung namun penuh harapan. Setelah pertemuan terakhir yang penuh emosi, Farhan berusaha membangun kembali kepercayaan Aisyah dengan cara yang berbeda."Aku ingin memperbaiki semuanya, Aisyah," kata Farhan pelan, memecah kesunyian. "Aku sadar, kejujuran itu hal yang nggak bisa ditawar dalam hubungan kita."Aisyah menatap Farhan, matanya memancarkan kelelahan yang bercampur dengan sisa keraguan. "Aku butuh waktu, Farhan. Semua yang terjadi ... terlalu banyak yang harus aku pikirkan."Farhan mengangguk, menghormati perasaan Aisyah. Ia menyadari bahwa cinta saja tidak cukup. Perlu tindakan nyata untuk menunjukkan kesungguhannya."Makanya, aku ingin kita nggak cuma bicara soal cinta. Aku mau kita sama-sama bergerak. Kamu tahu, selama

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 38: Kebenaran yang Terungkap

    Pagi itu, langit tampak cerah meski angin sejuk menyelimuti kota. Farhan duduk di ruang kerjanya, menatap ponsel dengan pandangan kosong. Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja mendapatkan kabar bahwa rumor yang disebarkan Hana mulai tersebar luas. Namun, ia tidak tinggal diam. Farhan segera melakukan klarifikasi, mengumpulkan bukti-bukti yang bisa membuktikan bahwa segala yang dituduhkan kepada dirinya adalah kebohongan belaka.Dengan hati yang penuh tekad, Farhan mengetik pesan panjang, menjelaskan segala hal yang terjadi dan mengirimkannya kepada Aisyah. Ia tahu bahwa ini adalah saat yang sangat penting. Jika ia ingin mendapatkan kepercayaan Aisyah kembali, ia harus menunjukkan bukti konkret bahwa ia tidak pernah mengkhianatinya. Namun, meskipun pesan itu sudah terkirim, hatinya tetap terasa berat."Aisyah, aku tahu kamu sedang terluka, dan aku hanya bisa meminta maaf. Semua yang terjadi bukan salahmu, dan aku akan berusaha membuktikan bahwa aku benar-benar menci

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 37: Penyesalan Farhan

    Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Farhan duduk di ruang kerjanya, pandangannya kosong menatap ke luar jendela. Di balik jendela kaca yang bersih, pemandangan kota yang sibuk tampak biasa saja, tidak ada yang spesial. Namun hatinya, sebaliknya, begitu kacau. Pagi itu, hidupnya terasa lebih kosong daripada sebelumnya.Ia menghela napas panjang, menatap layar ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Sudah berjam-jam, namun tak ada satu pesan pun dari Aisyah. Ia tahu, ini adalah konsekuensi dari perbuatannya. Ia telah melukai hati wanita yang selama ini ia cintai. Dan sekarang, ia harus bertanggung jawab."Aisyah ...," Farhan berbisik pelan, seakan berharap bahwa suaranya bisa menjangkau wanita itu di tempat yang jauh, di rumah orang tuanya.Ia menatap layar ponsel lagi. Tiba-tiba, pesan dari Hana muncul, menambah rasa cemas yang sudah mendera hatinya sejak semalam. "Farhan, aku ingin bicara tentang kita," tulis Hana, dengan kata-kata yang seo

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 36: Puncak Konflik

    Malam itu, angin berhembus pelan, membawa udara yang lebih dingin dari biasanya. Aisyah berjalan tergesa-gesa keluar dari acara sosial itu, perasaannya bercampur aduk. Hatinya seperti dihantam badai, bergejolak tanpa arah. Sesekali, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun rasanya semakin berat.Farhan berlari mengejarnya, langkahnya terdengar berat di telinga Aisyah. Setiap detik yang berlalu membuat perasaan mereka semakin jauh. Aisyah tahu bahwa perasaan yang ditimbulkan oleh kehadiran Hana di acara itu bukan hanya cemburu, tetapi lebih dari itu-ia merasa seperti ada yang telah dihancurkan di antara mereka, sesuatu yang sulit untuk dibangun kembali."Aisyah, tunggu!" Farhan memanggilnya, suaranya tegang dan penuh penyesalan.Aisyah berhenti sejenak, namun tidak menoleh. "Kenapa, Farhan? Kenapa harus begini?" suaranya serak, hampir seperti tersumbat oleh air mata yang berusaha ia tahan.Farhan menghentikan langkahnya beberapa la

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 35: Tekanan dalam Pernikahan

    Farhan berjalan perlahan di lorong rumah, langkahnya terdengar berat, seakan-akan setiap langkah membawa beban yang semakin berat. Pikirannya berkelana ke mana-mana, membayangkan perbincangan yang akan segera dimulai. Ia sudah tahu apa yang akan datang: sebuah pembicaraan yang akan menguji integritasnya, dan yang lebih penting, menguji cintanya kepada Aisyah.Pagi itu, setelah percakapan yang tegang dengan Aisyah semalam, Farhan merasa terjepit di antara dua dunia. Di satu sisi, ada Aisyah, istri yang telah ia cintai dengan sepenuh hati, yang menuntut komitmen dan kesetiaan. Di sisi lain, ada Hana, sahabat lama yang secara halus berusaha menariknya jauh dari Aisyah. Meskipun Farhan berusaha menjaga jarak. Namun, hubungan mereka semakin sulit untuk dipertahankan hanya dengan kata-kata.Hari ini, ia harus berbicara dengan Pak Ahmad, ayah Aisyah, yang jelas-jelas mengetahui situasi tersebut. Tidak hanya sebagai seorang ayah yang sangat melindungi anaknya, Pak Ahmad ju

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 34: Retaknya Kepercayaan

    Hari itu, langit terlihat lebih kelabu dari biasanya, seolah-olah turut merasakan ketegangan yang semakin mencekam di dalam rumah Farhan dan Aisyah. Suasana yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan, kini terasa dingin dan jauh. Sejak pertemuan malam itu, hubungan mereka tampaknya retak di bagian yang paling dalam, di tempat yang selama ini mereka anggap sebagai pondasi kepercayaan.Aisyah duduk di ruang tamu, tangannya memegang cangkir teh yang sudah lama dingin. Matanya menatap kosong ke luar jendela, sementara pikirannya berputar-putar, mencoba mengurai perasaan yang terpendam. Di depannya, Farhan duduk diam, matanya menunduk. Suasana itu begitu sunyi, seakan-akan kata-kata yang mereka tunggu tak mampu keluar dari mulut masing-masing.Farhan akhirnya mengangkat wajahnya, memecah keheningan dengan suara yang rendah dan berat. "Aisyah ... aku harus jujur padamu. Hana ... dia mencoba mendekatiku. Aku sudah berusaha menahan diri, tapi aku tahu aku harus mengatakan

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 33: Manipulasi Hana

    Suasana malam itu terasa berbeda. Angin yang biasanya membawa kesejukan kini datang dengan hembusan yang berat, seperti sebuah pertanda. Farhan duduk di ruang tamu, matanya menatap layar ponsel, namun pikirannya melayang jauh. Pikiran-pikiran tentang Aisyah, Hana, dan perasaan yang kini begitu kabur, membuatnya merasa seperti terjebak dalam kebimbangan yang tak kunjung reda.Aisyah, di sisi lain, duduk di teras rumah, mencoba menenangkan dirinya. Sejak kejadian tadi malam, perasaannya begitu kacau. Ia merasa kehilangan kendali atas hatinya yang selama ini yakin dan mantap. Cemburu bukanlah perasaan yang ia harapkan hadir dalam kehidupan pernikahannya, tetapi Hana, sahabatnya yang selama ini begitu dekat, telah berhasil mengusik ketenangan hatinya.Ketegangan antara mereka bertambah besar setelah Aisyah menemukan pesan-pesan manis yang dikirimkan Hana kepada Farhan. Meski Farhan berusaha meyakinkannya bahwa itu hanya salah paham, Aisyah merasa perasaan cemasnya buka

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 32: Bibit Konflik

    Kehidupan yang dulunya penuh dengan keheningan dan ketenangan kini mulai terasa berbeda. Setelah beberapa minggu menjalani hidup bersama sebagai pasangan suami istri, Farhan dan Aisyah merasa semakin dekat, meskipun di sisi lain ada ketegangan yang perlahan tumbuh. Ada sesuatu yang tidak terucap, namun terasa, seperti udara berat yang menunggu untuk pecah. Hana, sahabat Aisyah, hadir begitu sering dalam kehidupan mereka, dan meskipun Aisyah tidak menyadarinya, Farhan mulai merasakan ada ketidaknyamanan yang semakin mengganggu hatinya.Hana yang dulu datang dengan niat baik, hanya untuk membantu proyek dakwah dan mendukung Aisyah, kini semakin sering datang tanpa alasan yang jelas. Mungkin, awalnya Farhan berpikir itu adalah hal yang wajar-sebuah bentuk persahabatan, mungkin juga keinginan Hana untuk lebih dekat dengan suaminya demi mendukung kegiatan sosial mereka. Tapi lambat laun, ada yang mulai berubah. Farhan bisa merasakannya: sikap Hana yang mulai lebih genit, lebih menggebu-geb

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status