Все главы Proposal Cinta Sang Miliarder : Глава 21 - Глава 30

43

Bab 18: Keputusan yang Tertunda

Langit pagi itu tampak cerah, namun hati Aisyah terasa seperti diselimuti kabut tebal. Ia duduk di teras rumah dengan secangkir teh hangat yang sudah mendingin, menatap kosong ke arah taman kecil di depannya. Di benaknya, berbagai pikiran bertumpuk, sulit diredakan.Suara langkah kaki ibunya terdengar dari belakang. "Aisyah, kamu sudah dari tadi di sini?" Ibunya duduk di kursi sebelah, membawa kain yang sedang dijahitnya. Aisyah tersenyum tipis. "Cuma ingin menghirup udara pagi, Bu." Namun, ibunya tidak mudah tertipu. "Kelihatannya lebih seperti sedang melamun. Apa ini tentang Farhan lagi?" Aisyah terdiam sejenak. "Aku bingung, Bu. Aku tahu dia tulus, aku bisa merasakannya. Tapi ... aku juga takut. Bagaimana kalau aku salah membaca niatnya?" Ibunya menatap putrinya dengan penuh kasih. "Aisyah, tidak ada manusia yang sempurna. Kalau kamu merasa dia tulus, mungkin itu adalah pertanda dari Allah. Tapi jika hatimu masih ragu, teruslah ber
last updateПоследнее обновление : 2025-03-13
Читайте больше

Bab 19: Mengungkapkan Rahasia

Pagi itu, Aisyah menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Wajahnya tampak tenang, tetapi hatinya gelisah. Pertemuan terakhir dengan Farhan meninggalkan jejak yang sulit diabaikan. Pengakuan tentang kekayaan Farhan seolah membuka pintu ke dunia yang selama ini ia hindari-dunia kemewahan yang baginya sering kali menutupi nilai-nilai keimanan. Namun, di balik keraguannya, ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh.Sementara itu, Farhan berdiri di depan sebuah jendela besar di kantornya. Kota Jakarta membentang di hadapannya, tetapi pikirannya sibuk dengan satu hal-Aisyah. Kecelakaan kecil yang ia alami sehari sebelumnya tidak membuatnya gentar. Hari ini, ia bertekad untuk lebih jujur. Ia ingin membuka setiap lembar cerita hidupnya, meskipun itu berarti harus menghadapi kemungkinan ditolak."Pak Farhan," suara sekretarisnya membuyarkan lamunannya. "Mobil sudah siap. Apa Anda akan langsung menuju taman?"Farhan mengangguk. "Iya. Tolong pastikan semua dokumen unt
last updateПоследнее обновление : 2025-03-14
Читайте больше

Bab 20: Titik Balik

Mentari pagi menyusup lembut melalui jendela kamar Aisyah, mengiringinya menyiapkan hati untuk hari yang tak mudah. Ia sudah memutuskan untuk bertemu Farhan sekali lagi. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan-kekhawatirannya, harapannya, dan terutama batasan yang ingin ia tetapkan jika hubungan ini masih bisa diperjuangkan.Di sisi lain kota, Farhan sudah bersiap sejak subuh. Pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan. Ia tahu, kali ini ia harus benar-benar jujur dan memberikan Aisyah semua alasan untuk mempercayainya. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan.---Di taman yang menjadi saksi pertemuan mereka selama ini, Aisyah tiba lebih awal dari biasanya. Ia duduk di bangku yang sama, mencoba menenangkan degup jantungnya. Ia menatap bunga-bunga yang bermekaran, seolah mencari jawaban atas keraguannya. Tak lama, langkah Farhan terdengar mendekat. Ia membawa sebuah buku catatan kecil, tampak seperti benda yang sangat berarti baginya. Setelah menyap
last updateПоследнее обновление : 2025-03-15
Читайте больше

Bab 21: Ujian Terakhir

Pagi itu, udara segar menyambut Aisyah yang baru saja keluar dari rumah. Ia berjalan dengan langkah pelan, menatap pemandangan sekitar yang mulai hidup. Di kejauhan, anak-anak bermain riang di halaman masjid, sementara orang-orang tua tampak sibuk berkumpul di warung kopi. Namun, hatinya tidak begitu tenang. Sesuatu yang mengganjal selalu ada dalam pikirannya, bahkan saat ia memutuskan untuk bertemu dengan Farhan lagi. Sejak pertemuan terakhir mereka di taman, banyak hal yang belum bisa ia pahami sepenuhnya. Farhan, dengan segala perubahan yang ia tunjukkan, terasa semakin dekat, namun ada juga rasa was-was yang tak bisa ia hindari. Aisyah tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada perasaan, meskipun ia menginginkan hubungan ini. Ia butuh kepastian. Dan di balik perubahan Farhan yang begitu mendalam, ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ini benar-benar karena dirinya, atau hanya sekadar upaya untuk menebus kesalahan di masa lalu? ****
last updateПоследнее обновление : 2025-03-16
Читайте больше

Bab 22: Tekanan dari Keluarga

Pagi itu, di ruang makan rumah Pak Ahmad, suasana terasa lebih berat dari biasanya. Sambil menyendokkan nasi ke piring, Pak Ahmad menatap Aisyah dengan serius. Wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya, dan tatapannya tajam, seolah ingin memastikan bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya akan dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh oleh putrinya."Aisyah, ayah sudah banyak berpikir," kata Pak Ahmad setelah sejenak diam, mengatur suapan nasi. "Tentang Farhan."Aisyah menurunkan sendoknya, memandang ayahnya dengan tatapan bingung. "Farhan? Ada apa dengan Farhan, Ayah?"Pak Ahmad meletakkan sendoknya dengan pelan. Lalu, ia menatap putrinya dengan tatapan penuh makna. "Ayah ingin kamu berpikir ulang tentang hubungan ini. Tentang apa yang sebenarnya kamu cari dalam sebuah pernikahan. Tentang Farhan ... aku rasa kamu harus lebih berhati-hati."Aisyah terdiam. Ada ketegangan dalam suasana itu, dan ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati ayahn
last updateПоследнее обновление : 2025-03-17
Читайте больше

Bab 23: Konfrontasi yang Tak Terelakkan

Hari itu, suasana di rumah Pak Ahmad terasa lebih tegang dari biasanya. Aisyah yang baru saja selesai shalat Subuh, duduk di ruang tengah dengan wajah yang tak bisa disembunyikan. Matanya masih merah, bekas begadang semalam setelah menemukan artikel yang mengguncang seluruh keyakinannya tentang Farhan. Pikiran-pikiran yang berkecamuk, rasa kecewa yang tumbuh semakin besar, dan rasa bingung yang mendalam, semuanya bercampur dalam satu kegelisahan. Tapi hari ini, ia harus menghadapi kenyataan itu-sesuatu yang ia takuti, yang harus dihadapi dengan kepala dingin.Pagi ini, Pak Ahmad meminta Farhan untuk datang ke rumah mereka. Aisyah tahu betul bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa. Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya, sesuatu yang tak bisa lagi dihindari.Saat Farhan datang, ia disambut dengan tatapan tajam Pak Ahmad yang duduk di ruang tamu, sementara Aisyah hanya bisa diam, duduk di sudut ruangan. Farhan mengangguk hormat kepada Pak Ahmad, meski di dalam
last updateПоследнее обновление : 2025-03-18
Читайте больше

Bab 24: Keyakinan Aisyah

Pagi itu, Aisyah duduk termenung di teras rumahnya, memandang halaman yang tampak tenang. Burung-burung berkicau di pohon-pohon yang rindang, seolah tak peduli dengan kegelisahan yang mengganggu hati Aisyah. Pikirannya berlarian ke sana kemari, memutar ulang percakapan panjang yang baru saja terjadi. Kata-kata Farhan, kata-kata ayahnya, dan bahkan apa yang ia temui dalam artikel bisnis yang menunjukkan status kekayaan Farhan, semua itu membingungkan dirinya. Di satu sisi, ia merasa dikhianati oleh kebohongan yang terungkap begitu lama disembunyikan. Namun, di sisi lain, hatinya berontak, mempertanyakan apakah Farhan benar-benar berdusta ataukah ada alasan di balik semua ini.Aisyah, menggenggam erat secangkir teh yang sudah mulai dingin. Pandangannya kosong, terfokus pada sesuatu yang tak terlihat. Sejak awal, ia tahu bahwa ia harus memilih jalan yang benar, jalan yang tidak hanya berdasarkan pada perasaan, tetapi juga prinsip agama yang selama ini ia pegang teguh. Namun, k
last updateПоследнее обновление : 2025-03-19
Читайте больше

Bab 25: Dukungan Tak Terduga

Pagi itu, Aisyah duduk di beranda rumahnya, menatap sekeliling dengan perasaan yang berat. Udara pagi yang sejuk tidak mampu mengusir kegelisahan yang meresap dalam hatinya. Di kejauhan, tampak anak-anak bermain di halaman masjid, sementara ibu-ibu berbincang di warung kopi. Semua terasa biasa, namun bagi Aisyah, dunia seakan terhenti. Perasaan bingung, cemas, dan ragu bercampur aduk dalam dadanya. Apa yang seharusnya ia lakukan? Haruskah ia percaya pada Farhan, ataukah ia akan kembali ke jalur yang lebih aman, menjauh dari segala yang tidak pasti?Pikirannya melayang ke masa lalu, saat pertama kali ia bertemu Farhan. Sosok yang sederhana, penuh semangat dalam berdakwah, yang selalu ada untuk membantu orang lain. Tetapi, setelah semua yang terjadi, setelah semuanya terbuka tentang kekayaan Farhan, rasa sakit itu muncul. Ia merasa seperti dikhianati, meski ia tahu, pada dasarnya, Farhan tidak pernah menyembunyikan dirinya. Hanya saja, Aisyah merasa jauh lebih sulit untuk men
last updateПоследнее обновление : 2025-03-20
Читайте больше

Bab 26: Pengorbanan Besar

Pagi itu, Farhan duduk di ruang kerjanya, memandang lembaran-lembaran dokumen yang tersebar di mejanya. Semua itu adalah rencana dan perhitungan untuk proyek sosial yang sedang ia jalankan-proyek yang menuntut lebih dari sekadar ide atau niat baik, tetapi juga pengorbanan besar. Setelah percakapan dengan Pak Ahmad, segala yang sebelumnya Farhan anggap biasa, kini terasa berbeda. Ia sudah bersiap untuk melepaskan sebagian besar aset pribadinya demi memastikan keberlanjutan proyek ini. Semua demi satu hal: membuktikan niatnya yang tulus, bukan hanya untuk Aisyah, tetapi juga untuk diri sendiri, dan tentu saja, untuk masyarakat yang membutuhkan.Farhan menghela napas panjang, menatap layar laptopnya yang menampilkan rencana anggaran dan alur kerja proyek. Ia tahu, jika proyek ini gagal, bukan hanya kepercayaan dari Pak Ahmad yang hilang, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan kepada semua orang, terutama Aisyah, bahwa ia bisa mengorbankan kekayaannya demi sesuatu yang lebih
last updateПоследнее обновление : 2025-03-21
Читайте больше

Bab 27: Titik Kepercayaan

Pagi itu, langit di atas kota tampak cerah meskipun angin berhembus agak kencang, membawa kesegaran yang menenangkan. Farhan berjalan menyusuri trotoar yang rapi di depan kafe favoritnya, tempat ia sering bertemu dengan Aisyah. Ia memeriksa ponselnya sekali lagi-Aisyah sudah mengirim pesan. "Ketemu di kafe jam 10? Ada yang ingin aku bicarakan."Pesan itu terasa seperti benih harapan yang mulai tumbuh. Farhan tahu ini bukan hanya tentang proyek sosial yang baru saja selesai dengan sukses, meskipun itu juga bagian penting dari pertemuan mereka. Yang lebih besar dari itu adalah percakapan yang sedang menunggu mereka. Percakapan yang bisa menentukan masa depan mereka.Setibanya di kafe, Farhan mencari Aisyah yang sudah duduk di meja yang biasa mereka pilih. Gadis itu terlihat sedikit gelisah, menatap ke luar jendela, tampaknya sedang berpikir keras. Farhan menarik kursi dan duduk di hadapannya."Pagi," ucap Farhan dengan senyum tipis, mencoba mencair
last updateПоследнее обновление : 2025-03-22
Читайте больше
Предыдущий
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status