Semua Bab Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta : Bab 61 - Bab 70

78 Bab

Bab 61

  Di tengah hingar bingar kota yang tak henti-hentinya, Dina duduk sendirian di ruang tamu rumahnya. Matanya menerawang, pikirannya melayang ke tempat yang jauh, memperhatikan setiap detik yang berlalu. Ia menunggu kepulangan Danang. Hari ini ia berencana untuk menanyakan perihal wanita yang dilihatnya dan yang dilihat oleh Alma. "Aku harus menanyakan, siapa wanita itu?" gumam Dina. Ia merasa terbebani dengan rasa penasaran yang membuncah. "Sudah jam sebelas malam, apa dia tidak pulang?"  Dina bangkit dan berjalan menuju jendela, ia menyibakkan tirai jendela untuk melihat keluar dan baru menyadari, ternyata hujan gerimis sedang membasahi tanah. "Hujan," gumam Dina. Dina kemudian meninggalkan jendela dan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Danang. Namun, ponsel Danang tidak aktif. "Kemana lagi dia?" gumam Dina. Ia merasa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Bab 62

"Sayang, ahhh... Sayang !" Seru Danang yang menikmati apa yang dilakukan oleh Sinta, begitu juga Sinta yang menikmati apa yang dilakukan oleh Danang pada tubuhnya. Danang mengangkat kepalanya dan melihat Sinta yang bergerak seperti cacing kepanasan, membuat Danang senang. Lalu ia menurunkan pandangannya pada bawah Sinta dan kemudian menggesek bibirnya pada segitiga milik Sinta yang masih terlindungi. "Mas ! Mas !!" Seru Sinta seraya menekan kepala Danang ke area sensitifnya. Ketika tangan Danang ingin menurunkan celana pendek Sinta, tiba-tiba suara menggelegar disertai kilatan cahaya membuat keduanya tersentak dan Sinta berteriak keras. "Aaargh !!" Pekik Sinta ketakutan. Dan membuat apa yang sedang mereka lakukan terhenti tiba-tiba. Danang berdiri dan membawa Sinta dalam pelukan, karena merasakan rumah bergetar hebat karena sambaran petir. "Apa itu mas ? Apa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

Bab 63

 "Jangan nuduh sembarang, Din. Aku itu kerja ! Bukan main-main!" Kata Danang keras, raut wajahnya terlihat kesal. Ia mencoba menyangkal pertanyaan Dina. "Sudahlah, mas. Jangan berkilah lagi," kata Dina. Ia merasa sangat kecewa dengan perbuatan Danang. "Aku berkata yang sebenarnya. Aku tidak berbohong!" Kata Danang. "Kau bohong mas, kau bohong, aku tahu kau bohong. Katakan siapa wanita yang bersamamu di bioskop? Dua minggu yang lalu aku melihatmu mas, aku melihatmu," tiba-tiba Dina berkata dengan keras. Danang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dina. Dia tidak menyangka Dina melihatnya saat menonton bersama Sinta. "Kau... kau? Apa yang kau katakan?" ucap Danang dengan suara yang gugup karena dia tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Dina.  "Kenapa mas ? kau gugup? Kau kira aku perempuan rumahan yang tidak tahu semua kelakuanmu di luar sana? Katakan m
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Bab 64

Apa?" Danang terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dina. Dia tidak menyangka Dina mengatakan itu semua. "Tidak, tidak," kata Danang. "Kenapa tidak mas? Aku membebaskanmu mas, aku membebaskanmu untuk mencari kebahagiaanmu sendiri. Carilah wanita yang mas anggap pantes untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu," kata Dina dengan tenang. Danang terdiam. Ia merasa sangat terkejut dengan ucapan Dina. Ia tidak menyangka Dina akan mengajukan permintaan untuk berpisah. Ia merasa sangat menyesal atas semua kebohongan yang telah ia lakukan. "Dina, aku mohon, jangan seperti ini," kata Danang. Ia mencoba meraih tangan Dina, namun Dina menarik tangannya. "Aku sudah tidak sanggup lagi, mas. Kau terlalu banyak menuntutku untuk selalu sempurna," kata Dina dengan suara yang lembut, namun penuh kesedihan. Dina kemudian melanjutkan mengeluarkan apa yang selamanya ini te
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Bab 65

Sementara itu, di rumah Danang, Mama Danang merasa heran melihat motor Danang terparkir di garasi. "Danang datang?" tanya Endang, Mama Danang, kepada Dinda. Dinda menggelengkan kepala sambil menjawab, "Nggak tahu, Ma." "Kenapa, Ma?" tanya Dinda. "Ada motornya di garasi," jawab Mama. "Ada motornya, pasti ada orangnya, Ma. Tidak mungkin motornya jalan sendiri ke sini," kata Dinda sambil bergurau. "Jam berapa dia datang? Mama tidak dengar," kata Endang sambil menatap Dinda dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Aku juga tidak dengar, Ma. Jam berapa Mas datang?" jawab Dinda, mencoba mengingat-ingat, namun tak menemukan jawabannya. Keduanya lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar Danang. Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka, dan Danang muncul dengan wajah yang masih mengantuk. Ia mengucek-ngucek matanya dengan mal
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 66

Alma memeluk Dina, "Tenang Din. Jangan keluarkan air mata untuk laki-laki seperti itu," kata Alma pada sahabatnya yang baru selesai menceritakan apa yang terjadi padanya. "Aku ingin pisah! Aku sudah tidak sanggup lagi menjadi istrinya," kata Dina di sela-sela isakan. "Kamu yakin dengan keputusanmu ini, Din?" tanya Alma. Ia tahu betapa Dina mencintai Danang. "Aku sudah berusaha, Alma," kata Dina. "Aku sudah mencoba menyelamatkan pernikahan kami. Tapi Danang terlalu egois. Dia tidak peduli perasaanku. Lama-lama aku bisa gila menghadapinya." "Lakukan, Din," kata Alma. "Aku akan selalu ada untukmu." "Terima kasih, Alma," kata Dina. Ia merasa terhibur oleh kehadiran Alma. "Sekarang kamu harus kuat, Din," kata Alma. "Kamu harus fokus pada dirimu sendiri." "Aku akan baik-baik saja, Alma," kata Dina. "Aku akan melakukan yang terbaik untuk diriku
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Bab 67

Dina terdiam, merenungkan perkataan Alma. Ia mencoba  memikirkan apa yang ingin ia lakukan di masa depan. Ia  mengingat masa-masa ketika ia bekerja di pabrik sarung tangan. Ia merasa bosan dan lelah dengan pekerjaan itu. Ia ingin mencoba sesuatu yang baru. "Kenapa kau tidak menerima jahitan saja. Kau kan bisa menjahit," kata Alma untuk membuka pikiran Dina mengenai apa yang akan dilakukannya setelah bercerai. "Aku ada melihat ruko di dekat rumahku, bisa dijadikan tempat menjahit Dina," kata Alma dengan bersemangat. "Aku melihat ada ruko di dekat rumahku. Ruko itu bisa dijadikan tempat menjahit, Dina," kata Alma dengan bersemangat. "Menjahit? Apa aku mampu?" gumam Dina, ragu. "Ini yang aku nggak suka darimu, Din. Kamu itu langsung mempertanyakan kemampuanmu. Jangan pesimis, Din. Harus optimis, biar bisa sukses," kata Alma dengan nada serius. "Aku kan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Bab 68

Dina sudah mantap untuk berpisah dengan Danang dan mulai merancang masa depan tanpa ada Danang di dalamnya. Sedangkan Danang masih bergulat dengan suara Dina yang mau berpisah dengannya. Sampai-sampai Danang berulang kali salah dalam mengerjakan tugasnya."Aahhh!" Danang menggeram dan mengepalkan kedua tangannya di atas meja kerjanya."Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu, Dina. Kau akan menjadi istriku selamanya. Seorang pria kan bisa memiliki istri lebih dari satu," kata Danang dalam hati. "Kesederhanaan Dina, membuat aku nyaman. Tapi, aku membutuhkan istri yang bisa diajak untuk bersosialisasi, dan dari Sinta bisa ketemukan itu."Tok..tok, suara ketukan disertai suara mengagetkan Danang yang melamun. "Dan, melamun saja. Ada apa? Apa gaji mu sudah habis," Toni, rekan kerjanya masuk dan duduk di depan meja kerja Danang.Danang tersentak kaget dan langsung menutup layar laptopnya. Ia mencoba menutupi kesedihannya dengan senyum palsu."Ah, Toni. Nggak apa-apa. Lagi mikirin proyek b
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Bab 69

Jika tidak mendapatkan kebahagiaan dalam hal-hal besar, temukanlah kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Kebahagiaan tidak selalu bersumber dari pencapaian besar, tetapi juga dari apresiasi terhadap apa yang kita miliki. Nikmati keindahan sederhana, seperti senyum seorang anak, secangkir kopi hangat di pagi hari, atau cahaya matahari yang menyinari wajah. Kebahagiaan sejati terletak dalam rasa syukur dan penghargaan terhadap momen-momen kecil yang kita alami setiap hari. ~~**~~ "Eh, Bu Linda, berapa sih harga sewanya?" tanya Alma. Suaranya menunjukkan keingintahuan yang mendalam. "Harga sewanya 5 juta per bulan," jawab Bu Linda. Suaranya menunjukkan kepercayaan diri, menawarkan harga sewa yang terjangkau. "Wah, cukup mahal juga ya," kata Dina dalam hati. Raut wajahnya menunjukkan keprihatinan, mencoba mempertimbangkan harga sewa yang ditawarkan. "Bisa di tawar. Kalau ambil pertahun bi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

Bab 70

"Bagaimana kalau kita kembali untuk nego harga sewa?" kata Alma. "Ya, baiklah. Aku mau coba nego lagi," kata Dina. Ia berharap bisa mendapatkan harga sewa yang lebih rendah. "Kita coba aja, Din," kata Alma. "Yang penting kita berusaha dan tidak menyerah." Keduanya kemudian kembali ke toko milik Bu Linda. Dina mencoba mengumpulkan semua keberaniannya untuk bernegosiasi dengan Bu Linda. Tiba di ruko, Bu Linda masih berada di rukonya tersebut dan tersenyum ramah melihat kedatangan Alma dan Dina. "Permisi, Bu," kata Dina. "Kami ingin menanyakan tentang harga sewa toko lagi. Apakah bisa dikurangi?" "Ya, Bu. Kami mencoba menghitung biaya yang dibutuhkan. Dan ternyata harga sewanya sedikit tinggi untuk kami. Apakah bisa dikurangi sedikit?" tanya Dina. "Hmm, kalau ambil setahun bisa saya berikan diskon 10%. Tapi kalau hanya sebulan, maaf ya, saya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-22
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status