Semua Bab Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta : Bab 81 - Bab 90

99 Bab

Bab 81

 "Di rumah mertuamu, Din? Bisa saja dia menyimpannya di sana," kata Alma, matanya menatap Dina serius."Aku juga berpikir begitu, mungkin di rumah mertuaku atau di kantornya," jawab Dina sambil menghela napas panjang, terlihat lelah dengan situasi yang rumit ini."Di kantor? Kalau dokumen itu memang ada di sana, bagaimana cara kita mengambilnya?" tanya Alma, alisnya terangkat, jelas menunjukkan rasa ingin tahu dan keprihatinan terhadap kesulitan yang dihadapi sahabatnya."Itu yang masih aku bingungkan," kata Dina dengan nada frustrasi, dan raut wajahnya penuh kebingungan."Coba minta seseorang untuk mencarinya di ruang kerjanya," usul Alma dengan nada yakin, matanya menatap Dina penuh harapan."Siapa yang bisa dimintai tolong? Aku bahkan tidak kenal satu pun teman kerja Mas Danang," ucap Dina, suaranya terdengar lemah, menyiratkan keputusasaan yang mendalam. "Serius? Kamu tidak kenal satu orang pun?" tanya Alma sambil mena
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-03
Baca selengkapnya

Bab 82

  Danang langsung menuju rumah mamanya begitu ia pulang. Sesampainya di sana, ia mendapati mamanya di beranda dan menatapnya dengan tatapan mata memicing. "Wajahmu lusuh sekali. Apa Dina tidak memberimu makan?" tanyanya, nada suaranya terdengar cemas. Danang tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan melemparkan tubuh lelahnya ke ke kursi, matanya menatap halaman, seolah mencari ketenangan dengan menatap bunga. "Ada apa, Ma, sampai Mama menyuruh Danang datang?" tanyanya akhirnya, suaranya datar, menunjukkan kelelahan yang mendalam. "Mama tadi sudah kirim uang ke rekeningmu untuk membuka usahamu. Apa kau tidak lihat?" kata mamanya, nada suaranya terdengar tenang namun penuh perhatian. "Uang?" Danang segera meraih ponselnya. Ia memeriksa pesan masuk dan menemukan notifikasi SMS banking dari bank. "Terima kasih, Ma," ucapnya dengan gembira, s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-04
Baca selengkapnya

Bab 83

Dina dan Alma berdiri puas, menatap ruko yang sudah tertata rapi dengan barang-barang seperti mesin jahit dan mesin obras, serta dua lemari besar yang akan digunakan untuk menyimpan bahan kain dan pakaian. Cahaya matahari sore menembus pintu ruko yang terbuka, menyoroti senyum lebar yang terukir di wajah mereka."Akhirnya!" seru Dina dengan wajah ceria, senyumnya merekah saat ia menatap mesin jahit yang baru saja tiba. Tangannya perlahan mengelus mesin itu dengan lembut, seolah sedang menyentuh permata berharga. Matanya berkilau, mencerminkan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam. "Aku tidak mengira momen ini terjadi, Al. Ini bukan mimpikan?" katanya dengan suara yang penuh haru."Ini nyata, Din. Bukan mimpi!" kata Alma dengan semangat, menatap Dina sambil tersenyum lebar.Tanpa menunggu respons, Alma tiba-tiba mencubit lengan Dina. "Aduh!" seru Dina sambil meringis kesakitan, tangannya langsung mengusap bekas cubitan itu."Sakit, kan? Nah, itu tandanya nyata!" kata Alma sambil te
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-05
Baca selengkapnya

Bab 84

Setelah membersihkan diri, Dina dengan cepat menuju dapur untuk memasak makan malam. Dina berdiri di dapur, menatap bahan-bahan masakan di meja. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa lelah yang tak hanya bersumber dari tubuhnya, tapi juga dari hatinya."Kenapa aku masih melakukan ini? Masak untuk orang yang bahkan tidak peduli..." gumamnya pelan, tangannya mulai memotong bawang dengan gerakan cepat. Ia menggeleng kecil, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. "Rutinitas, ya. Mungkin cuma itu alasannya."Saat aroma tumisan mulai menyebar, Dina berhenti sejenak dan memegang pinggiran meja dapur, matanya terpaku pada wajan. "Aroma ini... dulu aku senang melihat dia tersenyum saat mencium bau masakanku." Dina tersenyum masam, lalu kembali mengaduk bahan di wajan. "Sekarang? Bahkan senyum itu seperti kenangan yang jauh."Selesai menumis, Dina memindahkan masakan ke dalam piring. "Terserah, mau makan atau nggak," katanya pelan, berbicara pada udara kosong, nadanya penuh dingi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-06
Baca selengkapnya

Bab 85

Dina mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Saat melihat nama yang tertera di layar, ia tersenyum kecil. "Deni," ucapnya pelan, menyebut nama sang adik dengan nada hangat. Lalu, ia segera menjawab panggilan itu. "Halo, Deni," katanya, suaranya lembut namun penuh perhatian. "Halo, Kak. Kakak sehat?" suara Deni terdengar ceria di seberang sana, membawa suasana hangat meskipun melalui telepon. "Alhamdulillah, sehat. Bagaimana di sana? Bunda sehat-sehat, kan?" tanya Dina dengan penuh perhatian, menunjukkan kekhawatirannya sebagai kakak. "Alhamdulillah, kami semua sehat di sini, Kak," jawab Deni dengan cepat, suaranya terdengar melegakan. Deni kemudian menambahkan dengan nada riang, "Kak, aku rencana mau ke kota Sabtu ini." "Bersama Bunda juga?" tanya Dina, suaranya penuh rasa bahagia mendengar kabar dari adiknya. Matanya berbinar, berharap ada berita baik yang membuatnya sem
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-07
Baca selengkapnya

Bab 86

Danang tersentak dari lamunannya. Matanya berbinar saat menatap Sinta, sebuah senyuman kecil muncul di wajahnya. Ia menggaruk pipinya yang mulai berkeringat, lalu berkata dengan nada jujur, meski suaranya terdengar sedikit serak, "Aku suka menatap wajah cantikmu, Sinta." Sinta langsung tersipu mendengar kata-kata Danang. Pipinya memerah seperti buah delima yang ranum. Dengan gerakan pelan, ia mengelus pipinya menggunakan jari-jari lentiknya. "Mas ini bisa saja. Siapa bilang aku cantik? Itu kan cuma Mas yang bilang," balasnya dengan suara lembut sambil menundukkan pandangan, jelas tergambar rasa malunya. Danang tersenyum simpul, pandangannya tetap tertuju pada Sinta. "Ya, aku bilang kamu cantik," ucapnya tegas, meski ia menundukkan kepala sedikit, menyembunyikan kegugupannya. Tangannya perlahan menyentuh gelas di depannya, memainkan ujung-ujungnya, seolah mencari sesuatu untuk menenangkan dirinya. Sinta tertawa kecil, sua
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-08
Baca selengkapnya

Bab 87

Danang menggeleng dengan senyum yang lebih lebar. Ia menatap Sinta dengan mata yang penuh perasaan, seolah kata-katanya keluar dari lubuk hatinya. "Cuma ada satu, Sin. Kamu. Kamu satu-satunya yang bisa bikin hati ini berdebar kayak gini," ucapnya dengan nada tulus, tatapannya tak berpaling dari wajah Sinta. Sinta tertawa kecil, suaranya terdengar bercampur rasa kaget dan bahagia. "Mas ini bisa aja. Awas ya, jangan bohong!" katanya sambil menunjuk Danang dengan ekspresi menggemaskan. Ia menatap pria di depannya dengan rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan. "Mas ngomongnya sweet banget, sih. Tapi aku masih penasaran. Serius, Mas suka sama aku se-segitu dalamnya?" tanyanya dengan nada bercanda, meski matanya terlihat menunggu jawaban yang tulus. Danang tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan. "Aku serius, Sin. Aku nggak main-main," katanya dengan nada tenang tapi penuh arti. Ia menarik napas sebelum melanjutkan. "Kamu adalah satu-satunya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-09
Baca selengkapnya

Bab 88

 "Lumayan," gumam Dina sambil menatap dapur kecil di ruko yang baru saja disewanya untuk memulai usaha. Matanya mengamati setiap sudut dengan seksama—kompor sederhana yang ia beli dari tabungannya, rak kecil tempat menyimpan beberapa peralatan dapur, dan kulkas kecil yang mulai terisi bahan-bahan untuk masakan. Meski sederhana, ruangan ini terasa seperti langkah awal menuju impian besarnya. Ia menghela napas panjang, melepaskan sedikit lelah setelah seharian membereskan ruko itu. Di sudut ruangan, sebuah tikar mungil terbentang, tempat ia sekarang duduk. Tikar itu baru saja ia beli di pasar dekat rumah, menjadi pengganti sementara karena ia belum mampu membeli kursi makan.  Dina meraih segelas teh hangat yang ia letakkan di sebelahnya, menyesap perlahan sambil memandang ruangan itu lagi. "Ini baru permulaan," katanya dalam hati, mencoba menguatkan diri. Ia membayangkan ruko ini kelak menjadi tempat yang ramai, penuh p
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-10
Baca selengkapnya

Bab 89

  "Bunda, bau semur jengkolnya harum banget sampai kecium di depan rumah," seru Deni sambil masuk ke dapur dengan langkah santai. Di tangannya ada kantong plastik berisi keripik singkong dan talas yang ia beli di pasar untuk bekal ke kota. Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja, lalu menarik kursi untuk duduk. Bundanya menoleh dari cobek yang sedang ia gunakan untuk menghaluskan bumbu, lalu tersenyum kecil. "Masa sih, Den? Bunda biasa saja masaknya," jawabnya, meskipun senyumnya menunjukkan ia cukup senang mendengar pujian Deni. "Iya, Bunda, serius! Harumnya enak banget," sahut Deni dengan nada meyakinkan. "Nggak salah kalau semur jengkol buatan Bunda dibilang terenak di kampung ini," tambahnya sambil terkekeh, mencoba menggoda bundanya. Bundanya tertawa kecil, lalu menggelengkan kepala. "Kamu ini suka banget muji setinggi langit. Jadi, ada nggak kripiknya?" tanyanya, sambil melirik kantong pl
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-11
Baca selengkapnya

Bab 90

  "Kena kau!!" seru Dinda dalam hati, amarahnya membuncah hingga wajahnya memerah. Tangannya gemetar saat ia terus merekam kemesraan Danang dan Sinta dari dalam taksi. Matanya tidak lepas dari layar ponselnya, memastikan setiap detik momen itu terekam dengan jelas. "Kau selingkuh, Mas! Aku tidak akan tinggal diam. Kak Dina harus tahu!" ucap Dinda dengan suara keras, penuh emosi. Perkataannya menggema di dalam taksi, membuat sang sopir melirik ke arah kaca spion dengan rasa penasaran.  "Aku tidak akan membela Mas Danang. Walaupun dia saudaraku, aku tidak bisa diam melihat ini!" lanjut Dinda, suaranya penuh tekad. Wajahnya memancarkan kemarahan, sementara jemarinya sibuk mengetik pesan di ponselnya, bersiap untuk mengirimkan video itu kepada Dina. Namun, ketika ia hendak menekan tombol kirim, Dinda berhenti sejenak. Pikirannya diliputi keraguan. "Tidak... kalau aku langsung mengirim video ini
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-12
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status