“Mereka semua sudah tidak penting lagi karena bagiku sekarang, kamulah satu-satunya. Tidak dengar pernyataanku langsung di depan Petrit Krasniqi?” tuntut Katon tidak terima. “Hanya membayangkan Mas sudah sama berapa wanita sebelum denganku. Kata Cia, Mas menikahiku supaya bisa tetap ....” Ratih tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Katon memeluk Ratih lebih erat, berusaha menenangkannya, meski ia tahu sulit untuk keluar dari topik ini tanpa terkena imbas. Senyuman tipis tersungging di wajahnya, meski dalam hatinya ia agak cemas. Wanita yang duduk di pangkuannya ini jelas tak akan menyerah begitu saja. "Ratih...," bisiknya lembut, masih mencoba merayu. "Apa pentingnya masa lalu, Sayang? Kita sudah menikah, dan aku milikmu sepenuhnya sekarang." Ratih memelototinya, menolak luluh. "Tentu saja penting, Mas! Bagaimana kalau aku yang punya banyak mantan? Mas pasti tidak akan tinggal diam, kan?" Katon terkekeh, mencoba mengalihkan ketegangan. "Ah, tapi itu beda. Aku lelaki, dan di masa
Terakhir Diperbarui : 2025-02-15 Baca selengkapnya