Semua Bab PLAYBOY KENA BATUNYA: Bab 191 - Bab 200

244 Bab

Bab 191

“Woo, aku tahu mata itu. Aku tahu wajah itu! Tidak, Ton. Pesan dari Evita jelas. Selamatkan Ratih. Titik. Stop. Berhenti!” tukas Gio tidak suka melihat wajah geram Katon. “Kamu berencana mengejar Belkacem? Jangan. Percuma, Ton. Lagipula kau ke sini untuk bisnis dan Ratih sedang sakit. Jangan aneh-aneh, Katon.” Sesa menambahkan kalimat Gio. “Dengar, Grand-mère Evita merahasiakan misi kita dari Mama Papamu, Ton. Jangan khianati usaha beliau dengan kamu mengamuk membabi buta mencari Belkacem. Jangan sekarang,” kata Gio lagi. Katon kembali meredam emosinya, “Berarti boleh aku lakukan nanti? Setelah selesai urusan bisnisku?” tanya Katon berusaha sok tenang ke arah Gio dan Sesa. “Kalian akan membantuku saat itu tiba?” Giovanni bertatapan dengan Francesca. Mereka mengenali angkara Katon. Pria ini tidak akan berhenti membalas dendam. “Bro, saat ini kita fokus bisnismu dan kesehatan Ratih pulih kembali, oke? Hal lain bisa kita bicarakan kemudian,” rayu Giovanni. “Kau mau aku panggilkan L
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-09
Baca selengkapnya

Bab 192

Lorna dan Cia datang selang satu hari setelah drama penyelamatan Ratih. Saat kedua wanita itu datang, kondisi Ratih sudah jauh lebih baik. Lambungnya telah kembali normal, membawa napsu makan tanpa masalah. Ratih hanya perlu menyembuhkan memar dan lecetnya saja. “Kamu benar-benar belahan jiwa Katon ya? Kamu ke sini untuk bulan madu, omong-omong. Bukan malah buka lowongan peperangan,” goda Lorna yang saat bicara duduk di atas tempat tidur menemani Ratih. Cia ada di kursi dekat mereka, mengupas jeruk untuk dua wanita di atas tempat tidur. Ratih mengikik bersamaan dengan Lorna menyelesaikan kalimatnya, membuat Cia yang mengulurkan jeruk kupasan hanya mampu penggeleng tak percaya. Katon keluar dari ruangan lain sambil mengancingkan ujung lengan kemeja, “Sayang, aku akan meninggalkanmu bersama Cia dan Lorna. Jangan takut. Belkacem dan kawanannya tidak melacakku hingga kemari.” “Kamu gimana, Mas?” tanya Ratih tanpa bisa menutupi kekhawatirannya. “Aku?” Katon balas bertanya sambil mer
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Bab 193

Katon menyambut Karim Belkacem dengan bermartabat. Seolah-olah tidak ada kebencian membakar di dalam dirinya karena pria ini telah melukai sang istri. Tapi hatinya dipenuhi bara kebencian yang mendidih. Ia menyembunyikan emosinya di balik wajah yang dingin. Pria ini telah melukai Ratih, secara langsung atau mungkin melalui anak buahnya, dan rasa sakit itu masih segar dalam ingatan. Namun, di hadapan musuhnya, Katon harus bertindak bijaksana. “Mister Belkacem, suatu kehormatan bertemu dengan Anda.” Katon yang telah berdiri, satu tangan mendarat sopan di dadanya sendiri sementara tangan kanannya mengulur untuk menjabat Belkacem. Meskipun hatinya menggerung untuk meremukkan pria itu. Belkacem membalas uluran tangan itu dengan suara serak yang terdengar sangat sakit, seolah-olah napasnya tercekik di tenggorokan. “Aku pun merasa tersanjung bertemu dengan Anda, Tuan,” balasnya dengan senyum yang sulit ditebak. Selanjutnya Gio dan Sesa yang menggantikan tangan Katon untuk menjabat pria Al
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Bab 194

Pintu lift terbuka dengan denting lembut. Menjadi kode untuk Sesa dan Giovanni yang langsung mengarahkan revolvernya ke pintu yang terbuka, sementara Katon berdiri dengan wajah dingin dan revolver tergantung di tangan kanannya. Sesa mengarahkan senjata ke kanan saat Gio mengarahkan ke arah sebaliknya. “Aman,” desis Sesa. Katon melangkah keluar, lurus menuju ke kamarnya dengan wajah murung diliputi amarah. Kartu kunci sudah diserahkan ke Sesa, maka wanita itu yang membuka pintu dan mempersilakan Katon masuk lebih dulu. Pria itu melempar revolvernya ke atas tempat tidur lalu membuka jas dan membantingnya sekalian. Amarahnya telah tiba di ubun-ubun karena rencana indahnya bersama Ratih telah dikacaukan Belkacem. Di sisi lain kota, tepatnya di Constantine Hotel. Lorna yang telah menerima instruksi dari Sesa, segera sigap memeriksa keluar kamar dengan cara memindai sekitar dari balkonnya. Cia, yang menerima pesan dari Giovanni menyiagakan senjata dan menyiapkan untuk kekasihnya maupun
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Bab 195

Di kamar hotel murah yang disewa Katon. Pria itu berdiri di depan jendela memikirkan istrinya. Ia baru akan bergerak mengambil ponsel di celana sebelum kemudian tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar. Sesa yang duduk di tepi ranjang dan Giovanni yang mondar-mandir, segera menoleh ke arah pintu. “Menurutmu itu mereka?” bisik Giovanni tajam. Tanpa menunggu konfirmasi lebih lanjut, Katon memberi kode agar mereka bersiap. Sejurus kemudian, pintu didobrak. Daun pintu seketika jebol dalam sekali tendang, membuat serpihan kayu berhamburan menyiram Giovanni yang berada paling ujung. Pria itu melindungi mata sembari satu tangan meraih revolvernya. Lima pria berbadan tegap dengan mata dingin tanpa ampun menyerbu masuk. Dua orang langsung menyerang Giovanni tak memberinya kesempatan menarik revolver. Menendang senjata api itu hingga jatuh. Satu orang meluruk dan menyerang Sesa. Dua lain melaju ke arah Katon. Revolver Katon jauh di atas tempat tidur, akibat dilemparnya tadi. Ia juga tida
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-10
Baca selengkapnya

Bab 196

Malam mulai turun di Konstantin saat mobil yang dikendarai Giovanni melaju dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalan-jalan yang sempit dan berkelok-kelok, menjauhi pusat kota. Lorna dan Cia duduk di belakang, sementara Ratih dalam pelukan Katon di jok tengah, tak berhenti melihat ke belakang, memastikan Belkacem dan anak buahnya tak membuntuti mereka lagi. Di jok depan, Sesa dan Giovanni fokus ke depan, meski jantung mereka berdebar seiring perasaan bahaya yang terus membayang. “Kita akan ke mana sekarang?” tanya Ratih ragu kepada suami yang memeluknya. Barang-barang mereka semua tertinggal di dalam Hotel Constantine. Katon tidak menjawab tetapu menatap ke arah Giovanni melalui spion depan. “Safe house yang disediakan Nadia,” jawab pria itu pendek. Katon berganti menunduk ke wajah sang istri yang menatapnya penuh pengharapan untuk mengirimkan senyum menenangkan. Ketika mobil yang mereka tumpangi mendekati jembatan gantung yang terkenal di Konstantin, pemandangan spektakuler terbuka
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Bab 197

“Pait, Neng,” keluh Katon seraya mengernyit. Ratih yang sempat terkesiap karena Katon mendadak menciumi lehernya, seketika tertawa. “Lah memang! Kan barusan Mas olesin salep! Aku juga kaget Mas tiba-tiba nyium di situ, gak sempet nolak,” kekeh wanita itu sambil berusaha melap bibir Katon dengan ibu jarinya. “Kamu sih, Neng. Godain mulu,” gerutu Katon. “Cium di sini saja,” ujar Ratih sambil tertawa pelan dan mengelus rahang suaminya. Sementara jari telunjuk kanan ia tempatkan di tengah bibirnya yang ranum. Katon senang bukan kepalang, baru akan mendesak sang istri saat pintu kamarnya diketuk. “Ton,” panggil Giovanni pelan. Katon mendengus sebal, tidak jadi menindih sang istri yang sudah pasrah. “Istirahatlah, Neng. Aku keluar sebentar.” “Ke mana?” Dengan segera Ratih yang baru dilepas Katon balas mencengkeram lengan suaminya. Matanya mengerut mencurigai sang suami. “Keluar kamar, kan dipanggil Gio. Masa Gio kusuruh masuk di mari,” jawab Katon sabar. “Jangan pergi, Mas. Jangan b
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Bab 198

Di meja makan, suara gelak tawa ringan memenuhi suasana. Katon duduk di ujung meja sambil menyesap teh mint yang disajikan Nadia. Di sebelahnya, Ratih sibuk menyodorkan piring berisi chakchouka yang ia buat dengan bangga. "Kamu harus coba ini, Mas. Aku buat sendiri loh!" Ratih berkata sambil tersenyum lebar, bangga dengan hasil masakannya. Katon menatap piring itu dengan mata menyipit bercanda. "Hmm, kalau ini bikinanmu pasti enak, Neng Ayu" ujarnya sambil mengangkat garpu dan mulai mencicipi. Wajahnya berubah seketika, seolah mencicipi sesuatu yang luar biasa. "Wah, rasanya ... lezat banget, Neng!" tambahnya dengan nada menggoda. Ratih tertawa bahagia seperti anak kecil yang dipuji atas kerja kerasnya. Nadia yang duduk di depan mereka, tersenyum melihat interaksi Katon dan Ratih, lalu menatap ke arah Nyonya Anindito itu. "Ratih, hari ini bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Belezma National Park? Kudengar kamu suka hiking. Ada beberapa tempat menarik yang aku bisa tunjukkan padamu.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-11
Baca selengkapnya

Bab 199

Katon yang jatuh bergulingan bersama Karim, tak sempat menjawab atau mengkhawatirkan bunyi letusan senjata bak peperangan di telinganya. Ia tengah menghadapi lawannya sendiri. Dua orang bodyguard Belkacem telah memasuki ruang VIP delapan dan tidak memberi kesempatan pada korbannya. Keduanya meluruk dengan cepat ke arah Katon dan Karim. Katon berguling untuk menghindari tendangan membahayakan lalu sigap berdiri sambil melayangkan tendangan juga ke arah kaki lawan. Ia bertarung satu lawan satu dan dalam tiga kali gerakan, Katon segera menyadari jika Karim tidak pandai bela diri. “Fuck!” Makinya kesal, membuat pukulan tinjunya lebih mematikan. Katon menjotos muka lawannya yang baru saja menghindari kumite. Ia tidak menggunakan karate tetapi murni jotosan kuat langsung ke titik hidung. Empat kali Katon menyarangkan jotosan tak berperikemanusiaan. Menghancurkan tulang hidung dan mata lawannya, membuat lawannya mati kutu dan jatuh menabrak barisan vas aromaterapi di atas meja. Katon te
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya

Bab 200

Suara mesin mobil terdengar meraung keras, membelah jalanan keluar dari bangunan spa. Katon menancap gas kuat-kuat, mengejar sedan hitam yang membawa Belkacem dan dua sahabat wanitanya. Karim duduk di sampingnya, wajah masih berdarah dan lebam tetapi tatapan matanya tajam meski satu mata bengkak besar. Mereka berdua tahu, satu kesalahan kecil bisa berujung maut. Apalagi dengan medan menantang seperti jembatan gantung Aljazair, Jembatan Sidi M’Cid yang menjulang tinggi di atas lembah. “Jembatan di depan!” teriak Karim, menunjuk ke depan. Sedan hitam yang mereka kejar mulai memasuki jembatan yang terkenal dengan angin kencang. Pemandangan di sekitar jembatan sungguh memukau. Namun, sekarang itu tidak berarti karena Katon menghadapi situasi hidup dan mati. Tidak hanya Lorna dan Cia yang ada di depannya, tetapi juga Sesa dan Gio di tempat lain. Katon menggenggam erat kemudi, mempercepat laju mobilnya, “Kita harus menghentikan mereka sebelum keluar dari jembatan,” desisnya. Angin berd
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-13
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1819202122
...
25
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status