Semua Bab Penakluk Sihir Iblis : Bab 101 - Bab 110

173 Bab

Kembali Ke Akademi Bìxiāo

Angin malam berembus lembut, membawa aroma embun dan dedaunan yang basah. Di bawah sinar rembulan yang mengintip dari balik awan tipis,Yè Fēng Gé Paviliun Angin Malam, berdiri dengan megah. Diterangi lentera yang berpendar redup. Di tempat inilah para guru akademi berjaga saat giliran patroli malam.Zhēn Wēn Jīng dan Jīng Shī Mó berdiri tegap di serambi, memandang keempat bocah yang menundukkan kepala dengan sikap penuh penyesalan. Keheningan yang melingkupi mereka terasa berat, hanya sesekali terdengar suara dedaunan yang berdesir dihembus angin.Zhēn Wēn Jīng mengalihkan pandangannya ke Jian Wei dan kawan-kawannya, keempat kultivator senior yang telah membawa bocah-bocah itu kembali. Dengan sorot mata yang sulit ditebak, ia akhirnya membuka suara."Tiānyù Jiànzhàn, terima kasih sudah membawa mereka kembali ke akademi," ucapnya dengan tulus.Ia menghargai tanggung jawab yang ditunjukkan Jian Wei dan yang lainnya. Mereka tidak membiarkan adik-adik
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-25
Baca selengkapnya

Dihukum

Pagi di Chén Hóng Jū, Griya Fajar Pelangi, yang biasanya tenang, kini dipenuhi jeritan kesakitan dari empat bocah nakal yang tengah menjalani hukuman."Kalian melanggar peraturan Akademi Bìxiāo. Keluar dari asrama setelah jam istirahat, pukul sembilan malam. Pukul mereka masing-masing sepuluh kali," perintah Zhēn Wēn Jīng dengan suara dingin.Tongkat kayu tebal berayun tanpa ampun, menciptakan suara pukulan yang tajam di udara. Ling Qingyu menangis tersedu, terus memohon ampun dengan suara bergetar. Namun, Huànyǐng dan Lei tetap diam, meskipun tubuh mereka sesekali bergetar saat pukulan mengenai punggung mereka. Wajah Lei sedikit memucat, tapi sorot matanya tetap teguh. Hanya sesekali bibirnya menyeringai menahan sakit.Di kejauhan, Yāo Yu memperhatikan dengan tatapan datar. Seorang pemuda di sampingnya ikut menyaksikan pemandangan itu sebelum akhirnya bertanya dengan nada santai, "Yāo Gūniang, bagaimana bisa saudaramu terseret masalah bersama trio bodoh i
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-25
Baca selengkapnya

Meminta Ijin Pada Jīng Shī Mó

Huànyǐng dan Lei menatap Qing Yǔjiā dengan sorot mata penuh selidik. Nama Chén Lù Quán, sumber mata air legendaris dari Xianlu He, telah lama beredar dalam kisah-kisah para ahli pengobatan dan petualang. Namun, hingga kini tak seorang pun benar-benar membuktikan keberadaannya. Bagi sebagian besar orang, itu hanyalah mitos belaka."Qing Gūniang, bukankah Chén Lù Quán hanyalah sebuah legenda?" Lei bertanya dengan lugas. Suaranya terdengar tenang, tetapi sarat keraguan."Jian Si Gōngzǐ, bagi orang lain itu memang hanya legenda. Tetapi, bagi klan kami, Chén Lù Quán sangat nyata keberadaannya," sahut Qing Yǔjiā dengan keyakinan tak tergoyahkan.Di sudut ruangan, Yāo Yu melirik sekilas ke arah Lei sebelum menatap adiknya, Yāo Ming, yang tampak menyimak penjelasan Qing Yǔjiā dengan serius. Tak ada yang tahu apa yang berkecamuk dalam benaknya, tetapi kilatan tekad di matanya tidak dapat disembunyikan."Kalau begitu kau tahu di mana Chén Lù Quán berada?" t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

Jangan Menilai Seseorang Dari Tampilan Luarnya Saja

Malam semakin larut ketika seorang murid senior datang menjemput Qing Yǔjiā dan Yāo Yu. Setelah itu, mereka bersama-sama menjemput Huànyǐng dan yang lainnya."Qianbei, apakah benar tidak apa-apa?" tanya Ling Qingyu dengan nada penuh kewaspadaan.Dia tidak ingin menambah hukuman lagi akibat pelanggaran yang telah mereka lakukan. Peraturan Akademi Bìxiāo hampir serupa dengan Kediaman Aroma Wisteria—larangan berkeliaran atau menimbulkan keributan setelah jam istirahat malam diterapkan dengan ketat. Hukuman yang diberikan pun tidak ringan. Pagi tadi, mereka telah merasakan sepuluh pukulan tongkat yang tebal dan berat."Jangan khawatir, Jīng Shī Mó sudah memberikan izin," sahut sang senior dengan tenang.Huànyǐng menghela napas lega, meski punggungnya masih terasa nyeri. "Ah, terima kasih, Qianbei." Ia meringis tipis, lega sekaligus mengingatkan diri untuk lebih berhati-hati. Namun, mendadak sesuatu melintas dalam benaknya. "Eh, bukankah Qianbei yang m
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

Mata Air Dingin Di Tengah Hutan Cahaya Perak

“Wah, indah sekali!” Huànyǐng berseru kagum.Di bawahnya terhampar pemandangan yang menakjubkan. Hamparan bambu yang berkilauan di bawah sinar rembulan, seperti lembaran perak yang melambai lembut dalam belaian angin malam. Hutan ini, Yín Guāng Lín, benar-benar sesuai dengan namanya, Hutan Cahaya Perak.“Bukankah itu pohon bambu?” tanya Lei dengan heran, matanya membelalak.Ia pernah melihat keindahan Cuì Zhui Lín yang bagai hamparan zamrud di tengah kesunyian You Gu, tetapi pemandangan ini berbeda, hutan bambu yang terang benderang, seolah memantulkan cahaya bulan, menciptakan panorama yang nyaris tak nyata."Bambu di sini adalah jenis bambu kuning," jelas Liú Zhǎng, suaranya tenang, selaras dengan suasana sekitar. "Yang tumbuh di hutan ini memiliki warna yang bercampur putih. Hingga nyaris keperakan terutama saat terkena sinar bulan.""Pantas saja tempat ini dinamakan Yín Guāng Lín," sahut Yāo Yu, mengangguk paham. Namun, tatapan matany
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

Liú Zhǎng Dan Mantra Bisu

"Yuè Èr Gōngzǐ?" bisik Liú Zhǎng, keningnya berkerut dalam. Pandangannya tertuju pada sosok yang tengah bermeditasi di sudut kolam dingin, tak bergerak sedikit pun seolah terpisah dari dunia sekitar.Liú Zhǎng baru saja kembali setelah mengantarkan Qing Yǔjiā dan Yāo Yu ke kolam khusus untuk para kultivator wanita. Namun, langkahnya terhenti saat melihat keberadaan seseorang yang tak ia sangka ada di kolam utama. Dari posisinya yang sedikit lebih tinggi, ia bisa melihat dengan jelas sosok yang duduk dalam diam itu adalah Yuè Tiānyin."Liú Xiōng!" Suara yang tiba-tiba menyapanya hampir membuat Liú Zhǎng melompat kaget. Ia menoleh dengan cepat dan menemukan seorang pria berdiri di belakangnya, tersenyum kecil."Aiyo! Yuè Lǜ Shén Jūn!" serunya tertahan. Namun, sebelum suara itu benar-benar terlepas dari bibirnya, ia mendapati dirinya tak bisa bersuara. Bibirnya seolah membeku, tak dapat digerakkan. Seketika kepanikan menyergapnya. "Ehm ...! Ehm ...!" Ia mengg
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

Dingin

"Huànyǐng Xiōng, dingin sekali," bisik Ling Qingyu. Suaranya bergetar halus, menyatu dengan kepulan uap tipis yang menguar dari permukaan kolam. Air sedingin es membungkus tubuhnya, menembus hingga ke tulang, membuat kakinya mati rasa setelah berendam selama beberapa jam. Sensasi dingin ini hampir menyerupai musim dingin yang menusuk, meski di luar langit masih terang oleh cahaya purnama."Ling Gōngzǐ, bertahanlah sedikit lagi. Bukankah punggungmu kini terasa lebih baik?" Qing Héng Zhì bertanya dengan nada hati-hati.Qing Héng Zhì satu-satunya yang tidak terluka di antara mereka. Karena itu dia hanya menemani tanpa benar-benar bermeditasi. Meski begitu, dialah yang tampak paling tenang, seakan udara dingin ini tak berarti baginya."Qing Xiōng, punggungku memang tidak sakit. Tetapi aku kedinginan," keluh Ling Qingyu sembari mendekap kedua tangannya di dada. Jemarinya yang membeku meremas lengannya sendiri, berusaha mencari sedikit kehangatan. Bibi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

Bersama Chénxī Lagi

Huànyǐng masih terdiam, menunggu. Namun, Huànyǐng tetaplah Huànyǐng—menunggu dalam diam bukanlah sesuatu yang menarik baginya. Perlahan, ia bergerak naik ke tepi kolam, air yang menetes dari tubuhnya menciptakan pola lingkaran kecil di permukaan. Udara malam menyelusup ke kulitnya, membawa hawa dingin yang menggelitik pori-porinya. Dengan gerakan santai, ia mengambil pakaiannya, tetapi alih-alih segera mengenakannya, ia justru melangkah menuju kolam di sebelah tempatnya berendam tadi. Ada kilatan nakal di matanya, dan bibirnya melengkung tipis, menyimpan niat iseng yang belum terungkap.Tanpa ragu, ia menceburkan diri ke dalam air. "Chénxī!" serunya riang, suaranya bergema di antara batu-batu besar yang mengelilingi kolam.Bunyi kecipak air yang tiba-tiba memecah keheningan malam. Riak bergelombang, membaur dengan bayangan bulan yang tergambar di permukaan air. Seorang pemuda yang tengah berendam dalam ketenangan tersentak. Matanya yang semula terpejam pe
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

Tiānyin Bertindak Konyol Lagi

Malam semakin larut di Chén Lù Quán. Udara dingin menggigit, menyusup hingga ke tulang, dan air kolam yang tenang berubah menjadi cermin beku yang memantulkan cahaya redup dari cahaya bulan. Namun, hawa dingin itu seakan tak lagi dirasakan oleh dua pemuda yang tengah bermeditasi di atas permukaan air yang tenang. Setidaknya bagi Huànyǐng, yang tetap diam dalam ketenangan sempurna.Di sisi lain, Tiānyin perlahan kehilangan konsentrasinya. Rasa dingin yang mengendap di kulitnya mulai terasa menusuk, memaksa pikirannya kembali ke dunia nyata. Ia membuka matanya perlahan. Mata birunya berkilauan dalam remang malam, mengerjap menyesuaikan diri dengan lingkungan sekelilingnya. Meskipun gelap, penglihatannya tetap tajam, menangkap dengan jelas sosok Huànyǐng yang duduk di sampingnya dalam keheningan sempurna."Jian Yi," gumamnya nyaris tak terdengar, seolah bisikan yang hanya ia sendiri yang mampu mendengar.Tatapannya tertuju pada wajah Huànyǐng yang damai dalam
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

Yuè Èr Gōngzǐ, Jaga Sikapmu!

"Kya!" Teriakan Qing Yǔjiā dan Yāo Yu menggema di antara pepohonan yang melingkupi kolam air dingin. Keduanya buru-buru menutupi wajah dengan telapak tangan. Namun, celah di antara jari-jari mereka masih memungkinkan mata mereka mengintip sekilas pemandangan yang mengejutkan.Jian Lei dan yang lainnya hanya bisa menatap bergantian antara Yuè Tiānyin dan Huànyǐng. Huànyǐng sudah mengenakan kembali pakaiannya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Tiānyin masih setengah telanjang, hanya mengenakan celana panjang yang basah kuyup. Cahaya bulan yang menerobos dedaunan memantulkan kilau samar di kulitnya yang basah, menonjolkan garis otot dada dan perutnya. Kedua gadis itu berteriak, entah karena malu atau terpeson. Meski di antara mereka, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa tubuh Tuan Muda Kedua dari Klan Yuè itu memang sangat bagus. Bahkan Jian Lei, yang berdiri dengan ekspresi dingin, diam-diam mengakui hal itu."Yuè Èr Gōngzǐ, apa yang kau la
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
910111213
...
18
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status