Malam semakin larut ketika seorang murid senior datang menjemput Qing Yǔjiā dan Yāo Yu. Setelah itu, mereka bersama-sama menjemput Huànyǐng dan yang lainnya.
"Qianbei, apakah benar tidak apa-apa?" tanya Ling Qingyu dengan nada penuh kewaspadaan.Dia tidak ingin menambah hukuman lagi akibat pelanggaran yang telah mereka lakukan. Peraturan Akademi Bìxiāo hampir serupa dengan Kediaman Aroma Wisteria—larangan berkeliaran atau menimbulkan keributan setelah jam istirahat malam diterapkan dengan ketat. Hukuman yang diberikan pun tidak ringan. Pagi tadi, mereka telah merasakan sepuluh pukulan tongkat yang tebal dan berat."Jangan khawatir, Jīng Shī Mó sudah memberikan izin," sahut sang senior dengan tenang.Huànyǐng menghela napas lega, meski punggungnya masih terasa nyeri. "Ah, terima kasih, Qianbei." Ia meringis tipis, lega sekaligus mengingatkan diri untuk lebih berhati-hati. Namun, mendadak sesuatu melintas dalam benaknya. "Eh, bukankah Qianbei yang m“Wah, indah sekali!” Huànyǐng berseru kagum.Di bawahnya terhampar pemandangan yang menakjubkan. Hamparan bambu yang berkilauan di bawah sinar rembulan, seperti lembaran perak yang melambai lembut dalam belaian angin malam. Hutan ini, Yín Guāng Lín, benar-benar sesuai dengan namanya, Hutan Cahaya Perak.“Bukankah itu pohon bambu?” tanya Lei dengan heran, matanya membelalak.Ia pernah melihat keindahan Cuì Zhui Lín yang bagai hamparan zamrud di tengah kesunyian You Gu, tetapi pemandangan ini berbeda, hutan bambu yang terang benderang, seolah memantulkan cahaya bulan, menciptakan panorama yang nyaris tak nyata."Bambu di sini adalah jenis bambu kuning," jelas Liú Zhǎng, suaranya tenang, selaras dengan suasana sekitar. "Yang tumbuh di hutan ini memiliki warna yang bercampur putih. Hingga nyaris keperakan terutama saat terkena sinar bulan.""Pantas saja tempat ini dinamakan Yín Guāng Lín," sahut Yāo Yu, mengangguk paham. Namun, tatapan matany
"Yuè Èr Gōngzǐ?" bisik Liú Zhǎng, keningnya berkerut dalam. Pandangannya tertuju pada sosok yang tengah bermeditasi di sudut kolam dingin, tak bergerak sedikit pun seolah terpisah dari dunia sekitar.Liú Zhǎng baru saja kembali setelah mengantarkan Qing Yǔjiā dan Yāo Yu ke kolam khusus untuk para kultivator wanita. Namun, langkahnya terhenti saat melihat keberadaan seseorang yang tak ia sangka ada di kolam utama. Dari posisinya yang sedikit lebih tinggi, ia bisa melihat dengan jelas sosok yang duduk dalam diam itu adalah Yuè Tiānyin."Liú Xiōng!" Suara yang tiba-tiba menyapanya hampir membuat Liú Zhǎng melompat kaget. Ia menoleh dengan cepat dan menemukan seorang pria berdiri di belakangnya, tersenyum kecil."Aiyo! Yuè Lǜ Shén Jūn!" serunya tertahan. Namun, sebelum suara itu benar-benar terlepas dari bibirnya, ia mendapati dirinya tak bisa bersuara. Bibirnya seolah membeku, tak dapat digerakkan. Seketika kepanikan menyergapnya. "Ehm ...! Ehm ...!" Ia mengg
"Huànyǐng Xiōng, dingin sekali," bisik Ling Qingyu. Suaranya bergetar halus, menyatu dengan kepulan uap tipis yang menguar dari permukaan kolam. Air sedingin es membungkus tubuhnya, menembus hingga ke tulang, membuat kakinya mati rasa setelah berendam selama beberapa jam. Sensasi dingin ini hampir menyerupai musim dingin yang menusuk, meski di luar langit masih terang oleh cahaya purnama."Ling Gōngzǐ, bertahanlah sedikit lagi. Bukankah punggungmu kini terasa lebih baik?" Qing Héng Zhì bertanya dengan nada hati-hati.Qing Héng Zhì satu-satunya yang tidak terluka di antara mereka. Karena itu dia hanya menemani tanpa benar-benar bermeditasi. Meski begitu, dialah yang tampak paling tenang, seakan udara dingin ini tak berarti baginya."Qing Xiōng, punggungku memang tidak sakit. Tetapi aku kedinginan," keluh Ling Qingyu sembari mendekap kedua tangannya di dada. Jemarinya yang membeku meremas lengannya sendiri, berusaha mencari sedikit kehangatan. Bibi
Huànyǐng masih terdiam, menunggu. Namun, Huànyǐng tetaplah Huànyǐng—menunggu dalam diam bukanlah sesuatu yang menarik baginya. Perlahan, ia bergerak naik ke tepi kolam, air yang menetes dari tubuhnya menciptakan pola lingkaran kecil di permukaan. Udara malam menyelusup ke kulitnya, membawa hawa dingin yang menggelitik pori-porinya. Dengan gerakan santai, ia mengambil pakaiannya, tetapi alih-alih segera mengenakannya, ia justru melangkah menuju kolam di sebelah tempatnya berendam tadi. Ada kilatan nakal di matanya, dan bibirnya melengkung tipis, menyimpan niat iseng yang belum terungkap.Tanpa ragu, ia menceburkan diri ke dalam air. "Chénxī!" serunya riang, suaranya bergema di antara batu-batu besar yang mengelilingi kolam.Bunyi kecipak air yang tiba-tiba memecah keheningan malam. Riak bergelombang, membaur dengan bayangan bulan yang tergambar di permukaan air. Seorang pemuda yang tengah berendam dalam ketenangan tersentak. Matanya yang semula terpejam pe
Malam semakin larut di Chén Lù Quán. Udara dingin menggigit, menyusup hingga ke tulang, dan air kolam yang tenang berubah menjadi cermin beku yang memantulkan cahaya redup dari cahaya bulan. Namun, hawa dingin itu seakan tak lagi dirasakan oleh dua pemuda yang tengah bermeditasi di atas permukaan air yang tenang. Setidaknya bagi Huànyǐng, yang tetap diam dalam ketenangan sempurna.Di sisi lain, Tiānyin perlahan kehilangan konsentrasinya. Rasa dingin yang mengendap di kulitnya mulai terasa menusuk, memaksa pikirannya kembali ke dunia nyata. Ia membuka matanya perlahan. Mata birunya berkilauan dalam remang malam, mengerjap menyesuaikan diri dengan lingkungan sekelilingnya. Meskipun gelap, penglihatannya tetap tajam, menangkap dengan jelas sosok Huànyǐng yang duduk di sampingnya dalam keheningan sempurna."Jian Yi," gumamnya nyaris tak terdengar, seolah bisikan yang hanya ia sendiri yang mampu mendengar.Tatapannya tertuju pada wajah Huànyǐng yang damai dalam
"Kya!" Teriakan Qing Yǔjiā dan Yāo Yu menggema di antara pepohonan yang melingkupi kolam air dingin. Keduanya buru-buru menutupi wajah dengan telapak tangan. Namun, celah di antara jari-jari mereka masih memungkinkan mata mereka mengintip sekilas pemandangan yang mengejutkan.Jian Lei dan yang lainnya hanya bisa menatap bergantian antara Yuè Tiānyin dan Huànyǐng. Huànyǐng sudah mengenakan kembali pakaiannya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Tiānyin masih setengah telanjang, hanya mengenakan celana panjang yang basah kuyup. Cahaya bulan yang menerobos dedaunan memantulkan kilau samar di kulitnya yang basah, menonjolkan garis otot dada dan perutnya. Kedua gadis itu berteriak, entah karena malu atau terpeson. Meski di antara mereka, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa tubuh Tuan Muda Kedua dari Klan Yuè itu memang sangat bagus. Bahkan Jian Lei, yang berdiri dengan ekspresi dingin, diam-diam mengakui hal itu."Yuè Èr Gōngzǐ, apa yang kau la
Malam telah larut ketika mereka kembali ke Akademi. Langit hitam pekat menggantung di atas Yè Jū, diterangi hanya oleh sejumput bintang yang berkelap-kelip samar. Suasana sunyi menyelimuti kompleks itu, hanya terdengar sayup-sayup suara angin menerpa dedaunan di kejauhan.Namun, di dalam kamar Huànyǐng, cahaya lentera masih menyala. Dua sosok kakak beradik dari keluarga Jian masih terjaga, tenggelam dalam obrolan yang tampaknya jauh dari kata serius. Jian Lei duduk bersila di atas dipan, sementara Huànyǐng bersandar santai dengan ekspresi riang."Huànyǐng, mengapa Yuè Èr Gōngzǐ ada di Chén Lù Quán bersamamu?" tanya Jian Lei tiba-tiba, suaranya tenang, tetapi sorot matanya menelisik.Huànyǐng mengangkat bahu, jemarinya dengan malas memainkan pinggiran lengan bajunya. "Aku juga tidak tahu, Lei," jawabnya pelan. "Sampai kami berpisah tadi, Tiānyin belum sempat memberitahu alasannya."Jian Lei menghela napas. "Bukankah seharusnya dia masih bermeditasi
Turnamen Bì Xiāo Guāng Huì, ajang lawan tanding para kultivator muda Akademi Bìxiāo, akan digelar dalam beberapa hari lagi. Akademi Bìxiāo yang biasanya tenang kini dipenuhi kesibukan. Para murid sibuk mempersiapkan diri, sementara tamu undangan dari berbagai sekte, klan, dan bahkan kekaisaran mulai berdatangan.Di salah satu sudut taman akademi, di bawah pohon pinus yang menjulang tinggi, Ling Qingyu duduk santai, memainkan kipas lipatnya dengan gerakan ringan. Di sekelilingnya, Jian bersaudara, Yāo bersaudara, dan Qing Yǔjiā tengah berbincang. Mereka selalu terlihat bersama, jarang berbaur dengan kultivator dari sekte lain. Tak heran jika ada yang menganggap mereka sombong, meskipun sebenarnya mereka hanya lebih nyaman dengan lingkaran kecil mereka sendiri."Menurut kabar, turnamen kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan berbeda dari tradisi yang selama ini dijunjung Akademi Bìxiāo," ujar Ling Qingyu, mengayunkan kipasnya perlahan."Perbedaa
"Yuè Èr Gōngzǐ," bisik Jian Wei, suaranya tenggelam dalam gemuruh angin lembah, saat denting guqin yang melengking jernih semakin memenuhi pendengaran.Di tengah kabut, seorang pemuda berjubah putih, Yuè Tiānyin, melayang anggun di udara. Sinar matahari yang terang memantul pada guqin-nya, membuatnya berkilauan indah. Dengan gerakan halus, jemari Tiānyin menari di atas senar guqin, mengendalikan alunan melodi yang memancar dari alat musik itu. Setiap denting senar memancarkan aura magis, seakan mantra yang menyegel roh-roh liar yang mengamuk tak terkendali. "Chénxī!" seru Huànyǐng, matanya yang ungu berbinar-binar penuh kekaguman. "Lihatlah, Huànyǐng Xiōng! Yuè Èr Gōngzǐ memang tampan dan berbakat! Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya!"Líng Qingyu, yang entah sejak kapan telah berada di sisi Huànyǐng, mengangguk setuju dengan tatapan kagum yang tak disembunyikan. Mereka berdua terpaku menatap Tiānyin yang dengan khidmat memainkan guqin-nya. Seme
Dentingan lonceng menggema samar di telinga Jian Wei. Suara itu bergema di antara riuh rendah pekikan panik, gemuruh langkah kaki, dan desir angin yang membawa hawa asing. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan sumber suara tersebut. "Da Gē! Lihat itu!" Tiba-tiba Jian Xuě berseru, mengalihkan perhatiannya. Jian Wei sontak mengangkat kepala. Langit yang tadinya terbuka kini dipenuhi pusaran energi berbentuk lingkaran. Partikel bercahaya keperakan berputar di udara, memancarkan kilauan ganjil. "Sial!" Jian Wei menggeram, kedua tangannya mengepal erat. Matanya berkilat, menatap adik-adiknya dan anggota sekte lainnya. "A Xuě, lindungi Huànyǐng! Jangan biarkan dia terpengaruh oleh roh-roh di sekitarnya!" "Baik, Da Gē!" Jian Xuě tak ragu sedikit pun. Ia segera berdiri di depan Huànyǐng dengan Xuě terhunus, siap menghadapi apa pun yang datang. "Lei, siapkan Líng Qì Wǎng! Jian Xia, terus pantau situa
"Target utama kita adalah roh yang sudah kita kunci tadi. Setelah itu kita bisa berburu roh lain di zona yang sudah terbuka," jelas Jian Wei sembari melompat ke depan gua yang tersembunyi di celah tebing es yang menjulang tinggi. Sinar matahari siang memantul di permukaan es, menciptakan kilauan tajam seperti pecahan kaca."A Xue, ayo kita gunakan Xiáng Líng Zhèn untuk menangkap Xuě Láng Wang!" serunya pada Jian Xuě."Baik, Da Gē!" Jian Xuě menyusul, melompat ringan ke depan gua."Gunakan energi es, kau bisa menggabungkannya dengan energi es milik Huànyǐng," saran Jian Wei.Jian Xuě mengangguk mantap, lalu mulai menggambar pola formasi lingkaran dengan elemen energi es di udara. Garis-garis bersinar biru keperakan muncul di udara, membentuk corak rumit yang berpendar lembut. Begitu formasi selesai, ia menyegelnya dan mengarahkannya ke dalam gua. Dari dalam terdengar geraman marah, berat dan bergema, mengguncang lapisan es di sekitar mereka.
Jian Wei memimpin mereka mendekati lokasi jejak roh terdekat. Langkah-langkah mereka nyaris tak bersuara, seolah menyatu dengan hembusan angin dingin yang menyelusup di antara celah-celah tebing. Beberapa roh dikenal sangat peka terhadap suara, bahkan sekadar desir angin pun bisa membangkitkan kewaspadaan mereka."A Xue, gunakan Bīng Suǒ Shù untuk memperlambat pergerakannya," bisiknya lirih. "Jejak energinya akan lebih lama bertahan dan memudahkan kita melacaknya."Jian Xuě tanpa ragu menghunus pedangnya, Bīng Xīn Shèng Jiàn, pedang suci hati es yang berkilauan di bawah cahaya samar. Dengan satu gerakan ringan, udara di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih dingin. Teknik Bīng Suǒ Shù pun dilepaskan, menciptakan embusan es yang membekukan area sekitar tanpa menimbulkan suara."Dia masih berada di dalam gua sempit itu," ucap Jian Xuě pelan.Jian Wei mengangguk. "Baiklah! Kita harus segera menguncinya!" ujarnya, tetap dalam bisikan. Ia menoleh k
Tiān Bīng Yá, Tebing Langit EsTebing Langit Es adalah salah satu lokasi paling ekstrem di Shén Wù Gǔ. Kabut putih pekat menyelimuti tempat ini, bercampur dengan serpihan es kecil yang melayang di udara, menciptakan suasana dingin dan penuh misteri. Angin berembus kencang, membawa butiran salju yang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh membentuk lapisan putih tebal di sepanjang permukaan tebing.Di tengah pemandangan yang memukau sekaligus mematikan ini, Huànyǐng dan saudara-saudaranya berdiri dalam balutan mantel tebal, berusaha menahan hawa menusuk yang merasuk hingga ke tulang."Wow! Dingin sekali!" Seruan itu terdengar dari beberapa orang yang segera mengerahkan energi spiritual mereka untuk menstabilkan suhu tubuh. Namun, meski telah mengenakan pakaian hangat dan melindungi diri dengan energi, hawa dingin di Tebing Langit Es tetap menggigit.Huànyǐng menengadah, menatap tebing-tebing yang menjulang tinggi di hadapannya. Permukaannya yang ter
Di panggung kehormatan yang menjulang di atas arena perburuan, angin berembus lembut, membawa aroma teh dan arak yang disajikan dalam poci giok. Cahaya matahari yang menyaring dari sela-sela tirai sutra tipis menerangi wajah para tamu kehormatan—para ketua sekte, pemimpin klan, tetua berpengaruh, serta pejabat kekaisaran. Dan tentu saja, di pusat segala perhatian, duduk dengan tenang Kaisar Jìng Yǔhàn, mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam keemasan yang memancarkan wibawa.Sementara para peserta perburuan bergegas ke zona pelacakan, para tamu berbincang dengan santai, sesekali menyesap teh atau arak hangat dari cawan mereka."Yīnlǜ Shengzhe, sudah lama dirimu tidak menghadiri Perburuan Roh. Apakah ada sesuatu yang membuatmu tertarik kali ini?" tanya seorang ketua klan dengan nada penuh rasa ingin tahu.Pria yang dipanggil Yīnlǜ Shengzhe itu hanya tersenyum tipis. Garis ketampanannya jelas menurun pada kedua putranya, tetapi ekspresi tenangnya membuatny
Perburuan Roh Musim Gugur dimulai. Seperti tradisi setiap tahunnya, ada tiga babak yang harus dilalui para peserta sebelum meraih kemenangan dan hadiah istimewa yang selalu dinantikan."Pelacakan, pertempuran strategi, dan penangkapan akhir adalah tiga babak dalam Perburuan Roh. Kita harus melewati babak pelacakan terlebih dahulu sebelum bisa menghadapi tantangan berikutnya," jelas Jian Xue kepada adik-adiknya.Mereka tengah menunggu Jian Wei yang pergi mengambil undian untuk menentukan zona awal perburuan. Penentuan ini bertujuan memisahkan sekte-sekte besar di tahap awal agar pertarungan lebih seimbang. Dengan begitu, sekte kecil memiliki kesempatan untuk bersinar, sementara ketegangan antar sekte besar tetap terjaga hingga pertemuan di babak selanjutnya.Jian Xia, yang sejak tadi terlihat cemas, akhirnya bersuara. "Èr Gē, apakah kau sudah mempelajari zona perburuan kali ini?"Jian Xue menoleh dan mengangkat bahu dengan ekspresi sedikit meringis
“Jian Gūniang!”Seruan menggema dari tribun penonton saat Jian Xia melintasi panggung kehormatan. Pemuda dan gadis-gadis bersorak memanggil namanya, melemparkan bunga dan hadiah ke udara. Namun, Jian Xia hanya membalas dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, seolah kegaduhan itu tak benar-benar menyentuhnya.“Kya! Tiānyù Jiànzhàn! Tampan sekali!” Seruan lain terdengar. Kali ini dari sekumpulan gadis yang mencuri pandang penuh kagum ke arah pria berjubah hitam dan ungu yang duduk tenang, matanya tak bergeming dari jalan di depannya."Jian Èr Gōngzǐ juga tampan!""Eh, itu Jian Si dan Jian Wu Gōngzǐ, bukan?"Teriakan dari tribun semakin riuh.“Tampan seperti kakak mereka!”“Jian Wu Gōngzǐ imut dan menggemaskan!”Kalimat terakhir itu nyaris membuat Jian Xue dan Jian Lei jatuh dari kuda mereka. Mereka saling bertukar pandang sebelum terkikik geli. Imut dan menggemaskan? Itu tentu mengacu pada Huànyǐng, adik mereka y
Shén Wù Gǔ adalah perpaduan luar biasa antara kabut mistis yang melayang di udara, hijaunya pepohonan yang menjulang tinggi, serta sungai berkilauan yang berkelok-kelok di antara tebing-tebing batu. Setiap zona perburuan di dalamnya memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari lembah berkabut yang penuh rahasia, hutan lebat yang dipenuhi makhluk spiritual, hingga air terjun gemuruh yang menyembunyikan tantangan tak terduga. Tempat ini bukan sekadar indah, melainkan sarat dengan aura magis dan bahaya tersembunyi.Itulah kesan pertama yang tertangkap saat para peserta Perburuan Roh menyaksikan Shén Wù Gǔ yang terbentang luas di hadapan mereka."Indahnya! Sungguh sesuai dengan julukannya, Lembah Kabut Dewa!" seruan-seruan kagum terdengar bersahut-sahutan di antara para kultivator muda.Bahkan Huànyǐng dan saudara-saudaranya pun tak bisa mengalihkan pandangan. Langit biru membentang luas, menaungi lautan kabut yang berputar perlahan seakan memiliki nyawa. Pucuk-pu