Huànyǐng dan Lei menatap Qing Yǔjiā dengan sorot mata penuh selidik. Nama Chén Lù Quán, sumber mata air legendaris dari Xianlu He, telah lama beredar dalam kisah-kisah para ahli pengobatan dan petualang. Namun, hingga kini tak seorang pun benar-benar membuktikan keberadaannya. Bagi sebagian besar orang, itu hanyalah mitos belaka.
"Qing Gūniang, bukankah Chén Lù Quán hanyalah sebuah legenda?" Lei bertanya dengan lugas. Suaranya terdengar tenang, tetapi sarat keraguan."Jian Si Gōngzǐ, bagi orang lain itu memang hanya legenda. Tetapi, bagi klan kami, Chén Lù Quán sangat nyata keberadaannya," sahut Qing Yǔjiā dengan keyakinan tak tergoyahkan.Di sudut ruangan, Yāo Yu melirik sekilas ke arah Lei sebelum menatap adiknya, Yāo Ming, yang tampak menyimak penjelasan Qing Yǔjiā dengan serius. Tak ada yang tahu apa yang berkecamuk dalam benaknya, tetapi kilatan tekad di matanya tidak dapat disembunyikan."Kalau begitu kau tahu di mana Chén Lù Quán berada?" tMalam semakin larut ketika seorang murid senior datang menjemput Qing Yǔjiā dan Yāo Yu. Setelah itu, mereka bersama-sama menjemput Huànyǐng dan yang lainnya."Qianbei, apakah benar tidak apa-apa?" tanya Ling Qingyu dengan nada penuh kewaspadaan.Dia tidak ingin menambah hukuman lagi akibat pelanggaran yang telah mereka lakukan. Peraturan Akademi Bìxiāo hampir serupa dengan Kediaman Aroma Wisteria—larangan berkeliaran atau menimbulkan keributan setelah jam istirahat malam diterapkan dengan ketat. Hukuman yang diberikan pun tidak ringan. Pagi tadi, mereka telah merasakan sepuluh pukulan tongkat yang tebal dan berat."Jangan khawatir, Jīng Shī Mó sudah memberikan izin," sahut sang senior dengan tenang.Huànyǐng menghela napas lega, meski punggungnya masih terasa nyeri. "Ah, terima kasih, Qianbei." Ia meringis tipis, lega sekaligus mengingatkan diri untuk lebih berhati-hati. Namun, mendadak sesuatu melintas dalam benaknya. "Eh, bukankah Qianbei yang m
“Wah, indah sekali!” Huànyǐng berseru kagum.Di bawahnya terhampar pemandangan yang menakjubkan. Hamparan bambu yang berkilauan di bawah sinar rembulan, seperti lembaran perak yang melambai lembut dalam belaian angin malam. Hutan ini, Yín Guāng Lín, benar-benar sesuai dengan namanya, Hutan Cahaya Perak.“Bukankah itu pohon bambu?” tanya Lei dengan heran, matanya membelalak.Ia pernah melihat keindahan Cuì Zhui Lín yang bagai hamparan zamrud di tengah kesunyian You Gu, tetapi pemandangan ini berbeda, hutan bambu yang terang benderang, seolah memantulkan cahaya bulan, menciptakan panorama yang nyaris tak nyata."Bambu di sini adalah jenis bambu kuning," jelas Liú Zhǎng, suaranya tenang, selaras dengan suasana sekitar. "Yang tumbuh di hutan ini memiliki warna yang bercampur putih. Hingga nyaris keperakan terutama saat terkena sinar bulan.""Pantas saja tempat ini dinamakan Yín Guāng Lín," sahut Yāo Yu, mengangguk paham. Namun, tatapan matany
"Yuè Èr Gōngzǐ?" bisik Liú Zhǎng, keningnya berkerut dalam. Pandangannya tertuju pada sosok yang tengah bermeditasi di sudut kolam dingin, tak bergerak sedikit pun seolah terpisah dari dunia sekitar.Liú Zhǎng baru saja kembali setelah mengantarkan Qing Yǔjiā dan Yāo Yu ke kolam khusus untuk para kultivator wanita. Namun, langkahnya terhenti saat melihat keberadaan seseorang yang tak ia sangka ada di kolam utama. Dari posisinya yang sedikit lebih tinggi, ia bisa melihat dengan jelas sosok yang duduk dalam diam itu adalah Yuè Tiānyin."Liú Xiōng!" Suara yang tiba-tiba menyapanya hampir membuat Liú Zhǎng melompat kaget. Ia menoleh dengan cepat dan menemukan seorang pria berdiri di belakangnya, tersenyum kecil."Aiyo! Yuè Lǜ Shén Jūn!" serunya tertahan. Namun, sebelum suara itu benar-benar terlepas dari bibirnya, ia mendapati dirinya tak bisa bersuara. Bibirnya seolah membeku, tak dapat digerakkan. Seketika kepanikan menyergapnya. "Ehm ...! Ehm ...!" Ia mengg
"Huànyǐng Xiōng, dingin sekali," bisik Ling Qingyu. Suaranya bergetar halus, menyatu dengan kepulan uap tipis yang menguar dari permukaan kolam. Air sedingin es membungkus tubuhnya, menembus hingga ke tulang, membuat kakinya mati rasa setelah berendam selama beberapa jam. Sensasi dingin ini hampir menyerupai musim dingin yang menusuk, meski di luar langit masih terang oleh cahaya purnama."Ling Gōngzǐ, bertahanlah sedikit lagi. Bukankah punggungmu kini terasa lebih baik?" Qing Héng Zhì bertanya dengan nada hati-hati.Qing Héng Zhì satu-satunya yang tidak terluka di antara mereka. Karena itu dia hanya menemani tanpa benar-benar bermeditasi. Meski begitu, dialah yang tampak paling tenang, seakan udara dingin ini tak berarti baginya."Qing Xiōng, punggungku memang tidak sakit. Tetapi aku kedinginan," keluh Ling Qingyu sembari mendekap kedua tangannya di dada. Jemarinya yang membeku meremas lengannya sendiri, berusaha mencari sedikit kehangatan. Bibi
Huànyǐng masih terdiam, menunggu. Namun, Huànyǐng tetaplah Huànyǐng—menunggu dalam diam bukanlah sesuatu yang menarik baginya. Perlahan, ia bergerak naik ke tepi kolam, air yang menetes dari tubuhnya menciptakan pola lingkaran kecil di permukaan. Udara malam menyelusup ke kulitnya, membawa hawa dingin yang menggelitik pori-porinya. Dengan gerakan santai, ia mengambil pakaiannya, tetapi alih-alih segera mengenakannya, ia justru melangkah menuju kolam di sebelah tempatnya berendam tadi. Ada kilatan nakal di matanya, dan bibirnya melengkung tipis, menyimpan niat iseng yang belum terungkap.Tanpa ragu, ia menceburkan diri ke dalam air. "Chénxī!" serunya riang, suaranya bergema di antara batu-batu besar yang mengelilingi kolam.Bunyi kecipak air yang tiba-tiba memecah keheningan malam. Riak bergelombang, membaur dengan bayangan bulan yang tergambar di permukaan air. Seorang pemuda yang tengah berendam dalam ketenangan tersentak. Matanya yang semula terpejam pe
Malam semakin larut di Chén Lù Quán. Udara dingin menggigit, menyusup hingga ke tulang, dan air kolam yang tenang berubah menjadi cermin beku yang memantulkan cahaya redup dari cahaya bulan. Namun, hawa dingin itu seakan tak lagi dirasakan oleh dua pemuda yang tengah bermeditasi di atas permukaan air yang tenang. Setidaknya bagi Huànyǐng, yang tetap diam dalam ketenangan sempurna.Di sisi lain, Tiānyin perlahan kehilangan konsentrasinya. Rasa dingin yang mengendap di kulitnya mulai terasa menusuk, memaksa pikirannya kembali ke dunia nyata. Ia membuka matanya perlahan. Mata birunya berkilauan dalam remang malam, mengerjap menyesuaikan diri dengan lingkungan sekelilingnya. Meskipun gelap, penglihatannya tetap tajam, menangkap dengan jelas sosok Huànyǐng yang duduk di sampingnya dalam keheningan sempurna."Jian Yi," gumamnya nyaris tak terdengar, seolah bisikan yang hanya ia sendiri yang mampu mendengar.Tatapannya tertuju pada wajah Huànyǐng yang damai dalam
"Kya!" Teriakan Qing Yǔjiā dan Yāo Yu menggema di antara pepohonan yang melingkupi kolam air dingin. Keduanya buru-buru menutupi wajah dengan telapak tangan. Namun, celah di antara jari-jari mereka masih memungkinkan mata mereka mengintip sekilas pemandangan yang mengejutkan.Jian Lei dan yang lainnya hanya bisa menatap bergantian antara Yuè Tiānyin dan Huànyǐng. Huànyǐng sudah mengenakan kembali pakaiannya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Tiānyin masih setengah telanjang, hanya mengenakan celana panjang yang basah kuyup. Cahaya bulan yang menerobos dedaunan memantulkan kilau samar di kulitnya yang basah, menonjolkan garis otot dada dan perutnya. Kedua gadis itu berteriak, entah karena malu atau terpeson. Meski di antara mereka, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa tubuh Tuan Muda Kedua dari Klan Yuè itu memang sangat bagus. Bahkan Jian Lei, yang berdiri dengan ekspresi dingin, diam-diam mengakui hal itu."Yuè Èr Gōngzǐ, apa yang kau la
Malam telah larut ketika mereka kembali ke Akademi. Langit hitam pekat menggantung di atas Yè Jū, diterangi hanya oleh sejumput bintang yang berkelap-kelip samar. Suasana sunyi menyelimuti kompleks itu, hanya terdengar sayup-sayup suara angin menerpa dedaunan di kejauhan.Namun, di dalam kamar Huànyǐng, cahaya lentera masih menyala. Dua sosok kakak beradik dari keluarga Jian masih terjaga, tenggelam dalam obrolan yang tampaknya jauh dari kata serius. Jian Lei duduk bersila di atas dipan, sementara Huànyǐng bersandar santai dengan ekspresi riang."Huànyǐng, mengapa Yuè Èr Gōngzǐ ada di Chén Lù Quán bersamamu?" tanya Jian Lei tiba-tiba, suaranya tenang, tetapi sorot matanya menelisik.Huànyǐng mengangkat bahu, jemarinya dengan malas memainkan pinggiran lengan bajunya. "Aku juga tidak tahu, Lei," jawabnya pelan. "Sampai kami berpisah tadi, Tiānyin belum sempat memberitahu alasannya."Jian Lei menghela napas. "Bukankah seharusnya dia masih bermeditasi
"Chén Gēge! Apa kita hanya menunggu salah satu di antara mereka kalah?" tanya Lei, suaranya hampir tenggelam dalam deru angin dingin yang memeluk medan pertempuran.Di hadapan mereka, pertarungan antara Wù Yǒng Lóng, si naga kabut abadi, dan Hán Shuāng Jù Rén, Titan Es kolosal, berlangsung sengit. Setiap gerakan keduanya meninggalkan jejak kehancuran—kabut beracun yang menciptakan ilusi berbahaya, serta gelombang es yang seakan membekukan waktu. Beberapa kali mereka harus berpindah tempat, menghindari ancaman yang begitu dekat."Kau mau menunggu?" Mo Chén berbalik bertanya, dengan senyum tipis yang terlukis di wajahnya. Tatapan jenakanya meluncur ke arah Lei, penuh keingintahuan."Tunggu saja sampai besok pagi!" jawab Jian Wei sambil memukul kepala Lei dengan gemas.Jian Xia tertawa melihat kejenakaan kakak dan adiknya. "Bisa-bisanya kalian bercanda di situasi seperti ini?" keluhnya. Namun, sorot matanya tetap hangat, penuh kasih sayang kepada ked
Angin dingin menderu lewat celah-celah tebing, membawa serta butiran salju yang berputar liar seperti pasir perak di tengah badai. Medan Perburuan Roh kembali diselimuti ketegangan. Mo Chén berdiri tegak di atas batu tinggi, jubah hitamnya berkibar tertiup angin tajam, sementara matanya yang tajam mengawasi perubahan cuaca yang tak lazim.Apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Suara pekikan yang memekakkan telinga terdengar dari kejauhan—sebuah raungan yang membelah langit kelabu."Aiyo! Wù Yǒng Lóng!" teriak para kultivator yang masih terjebak di jalur utama medan berburu. Kabut putih pekat mulai menyelimuti tanah, menyusup ke setiap celah batu dan ranting yang tertutup es.Tanpa menunda waktu, Mo Chén mengangkat tangannya dan melepaskan sinyal cahaya ke langit. Asap keperakan membentuk pusaran kecil sebelum pecah menjadi semburat cahaya yang terlihat dari segala penjuru. Itu adalah isyarat—bukan hanya kepada para pemimpin sekte dan klan untuk mulai men
Kabut turun begitu tebal hingga nyaris menutupi seluruh lembah Shén Wu Gu. Awan kelabu menggantung berat di langit, dan udara mendadak terasa jauh lebih dingin. Hembusan angin membawa aroma tajam tanah basah bercampur dengan hawa es yang menggigit tulang."Apa ini?" Jìng Zhenjun Wángyé bergumam pelan, suaranya nyaris terseret oleh desir angin. Ia memandang sekeliling dengan dahi berkerut, matanya menyapu pemandangan yang tertelan kabut.Di sisi lain, Mo Chén, Jian Wei, dan Líng Zhì berdiri kaku, memandangi kabut pekat yang kini mulai menipis, perlahan mengurai seperti tirai sutra yang ditarik angin. Udara berubah drastis—lebih dingin dari biasanya."Salju?" Líng Zhì menatap ke langit yang mulai dihiasi bintik-bintik putih. Butiran salju turun perlahan, mendarat di bahu dan rambutnya, seolah waktu sendiri melambat menyambut datangnya sesuatu."Sialan!" Jian Wei mengumpat, mendadak waspada. Ia langsung me
Roh-roh yang berada dalam zona penahanan kini benar-benar terperangkap. Mereka menggeliat gelisah, terbungkus pusaran energi yang membatasi gerak. Suasana mulai terkendali, meski udara masih berat oleh sisa kekacauan yang sebelumnya meledak liar. Suhu di sekitar merosot drastis, membuat napas para kultivator tampak seperti uap tipis di udara yang mengkristal."Biarkan klan dan sekte kecil menangani roh-roh itu," kata Líng Zhì dengan tenang, suaranya nyaris tenggelam dalam desir angin bersalju.Ia berdiri di sisi tebing es bersama Jian Wei dan Mo Chén, menatap ke bawah tanpa ekspresi. Kabut tebal yang menyelimuti lembah seakan menjadi tirai pembatas antara mereka dan dunia yang sedang berkecamuk.Mereka bertiga tampak seperti bayangan di atas sana—menyaksikan kekacauan yang baru saja reda, namun tak terlibat langsung. Sikap mereka tenang, bahkan nyaris santai. Sebuah pengingat bahwa bagi mereka, ini bukan soal menang atau kalah, tapi kes
Para penjaga Perburuan Roh yang berasal dari Klan Wu datang bersama para kultivator dari Klan Jìng dan Sekte Gerbang Sembilan Kuali."Bagaimana situasinya?" tanya pemimpin penjaga Perburuan Roh pada Jian Wei dan yang lainnya."Seperti yang kau lihat. Kacau!" sahut Jian Wei seraya menunjuk ke bawah dengan dagunya. Di bawah mereka, para kultivator dari berbagai sekte dan klan berusaha menangkap roh-roh yang terpanggil oleh teknik Wàn Líng Zhèn Míng."Tiānyù Jiànzhàn, apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan?" Kini Jìng Zhenjun Wángyé yang bertanya. Ia datang bersama Qing Yǔjiā dan Qing Héng Zhì. Wajahnya terlihat serius dan penuh tanda tanya.Jian Wei tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia justru menoleh menatap Mo Chén, yang berdiri sedikit lebih jauh. Pria berjubah hitam itu tampaknya tidak terlalu terpengaruh dengan situasi yang sedang berlangsung. Mo Chén masih tampak santai, meskipun keadaan sudah sangat genting. Dengan senyum leba
Di tengah kekacauan yang mengguncang Perburuan Roh, Jian Wei, Mo Chén, Héxié Zhìzūn, dan Ling Zhì berkumpul dalam keheningan yang tegang, merencanakan langkah selanjutnya. Angin kencang menyapu kabut tebal di Shen Wu Gu. Namun, tidak mengurangi hiruk-pikuk yang terjadi di medan tersebut. Suara gemerisik roh-roh yang mulai menguasai medan itu memecah kesunyian, menggema di setiap sudut.“Kita harus menghentikan kekacauan ini tanpa mengacaukan medan dan peraturan Perburuan Roh,” ucap Líng Zhì dengan nada serius. Wajahnya yang tenang tidak menggambarkan betapa dalamnya situasi yang tengah mereka hadapi.“Líng Ménzhǔ, ini cukup sulit,” sahut salah seorang dari klan kecil yang turut bersama mereka. Suaranya terdengar ragu, hampir seperti seorang anak yang berusaha memecahkan teka-teki rumit.“Memang benar, ini sulit!” sahut Mo Chén. Suara baritonnya yang dalam seolah berusaha memberi penekanan pada kata-katanya. Pria tampan berjubah hitam dan berambut putih itu
"Yuè Èr Gōngzǐ," bisik Jian Wei, suaranya tenggelam dalam gemuruh angin lembah, saat denting guqin yang melengking jernih semakin memenuhi pendengaran.Di tengah kabut, seorang pemuda berjubah putih, Yuè Tiānyin, melayang anggun di udara. Sinar matahari yang terang memantul pada guqin-nya, membuatnya berkilauan indah. Dengan gerakan halus, jemari Tiānyin menari di atas senar guqin, mengendalikan alunan melodi yang memancar dari alat musik itu. Setiap denting senar memancarkan aura magis, seakan mantra yang menyegel roh-roh liar yang mengamuk tak terkendali. "Chénxī!" seru Huànyǐng, matanya yang ungu berbinar-binar penuh kekaguman. "Lihatlah, Huànyǐng Xiōng! Yuè Èr Gōngzǐ memang tampan dan berbakat! Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya!"Líng Qingyu, yang entah sejak kapan telah berada di sisi Huànyǐng, mengangguk setuju dengan tatapan kagum yang tak disembunyikan. Mereka berdua terpaku menatap Tiānyin yang dengan khidmat memainkan guqin-nya. Seme
Dentingan lonceng menggema samar di telinga Jian Wei. Suara itu bergema di antara riuh rendah pekikan panik, gemuruh langkah kaki, dan desir angin yang membawa hawa asing. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan sumber suara tersebut. "Da Gē! Lihat itu!" Tiba-tiba Jian Xuě berseru, mengalihkan perhatiannya. Jian Wei sontak mengangkat kepala. Langit yang tadinya terbuka kini dipenuhi pusaran energi berbentuk lingkaran. Partikel bercahaya keperakan berputar di udara, memancarkan kilauan ganjil. "Sial!" Jian Wei menggeram, kedua tangannya mengepal erat. Matanya berkilat, menatap adik-adiknya dan anggota sekte lainnya. "A Xuě, lindungi Huànyǐng! Jangan biarkan dia terpengaruh oleh roh-roh di sekitarnya!" "Baik, Da Gē!" Jian Xuě tak ragu sedikit pun. Ia segera berdiri di depan Huànyǐng dengan Xuě terhunus, siap menghadapi apa pun yang datang. "Lei, siapkan Líng Qì Wǎng! Jian Xia, terus pantau situa
"Target utama kita adalah roh yang sudah kita kunci tadi. Setelah itu kita bisa berburu roh lain di zona yang sudah terbuka," jelas Jian Wei sembari melompat ke depan gua yang tersembunyi di celah tebing es yang menjulang tinggi. Sinar matahari siang memantul di permukaan es, menciptakan kilauan tajam seperti pecahan kaca."A Xue, ayo kita gunakan Xiáng Líng Zhèn untuk menangkap Xuě Láng Wang!" serunya pada Jian Xuě."Baik, Da Gē!" Jian Xuě menyusul, melompat ringan ke depan gua."Gunakan energi es, kau bisa menggabungkannya dengan energi es milik Huànyǐng," saran Jian Wei.Jian Xuě mengangguk mantap, lalu mulai menggambar pola formasi lingkaran dengan elemen energi es di udara. Garis-garis bersinar biru keperakan muncul di udara, membentuk corak rumit yang berpendar lembut. Begitu formasi selesai, ia menyegelnya dan mengarahkannya ke dalam gua. Dari dalam terdengar geraman marah, berat dan bergema, mengguncang lapisan es di sekitar mereka.