Semua Bab ISTRI YANG TAK DIAKUI: Bab 31 - Bab 40

111 Bab

Kangen Mama

Daniel baru saja keluar dari ruang mayat. Saat berjalan di koridor rumah sakit, matanya tanpa sengaja bertemu dengan seorang pria yang familiar—Renzo. Pria itu langsung menyapanya.“Bukankah kau yang kemarin bersama …” Renzo memulai, sedikit ragu.“Eliza,” sahut Daniel dengan cepat. “Namanya Eliza.”Renzo tersenyum kecil. “Ah, iya. Saya belum sempat mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian kemarin.”Daniel mengangguk sopan. “Nanti akan saya sampaikan,” ujarnya singkat. “Anda sendiri sedang apa di sini?”Renzo menghela napas, raut wajahnya berubah muram. “Putraku, Alvin. Demamnya tinggi sejak tadi malam.”Daniel mengangguk mengerti, lalu mengulurkan tangannya. “Saya Daniel,” katanya. “Bekerja di kepolisian. Kebetulan dulu Letnan Quenza adalah senior saya.”Renzo tertegun mendengar nama itu, ekspresinya mendadak berubah. “Quenza? Kau mengenal mendiang istriku?” tanyanya, suaranya terdengar pelan, hampir berbisik.Daniel terdiam sejenak sebelum mengangguk perlahan. “Ya, saya mengenal
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-24
Baca selengkapnya

Kecurigaan Daniel.

Daniel berdiri tegak di depan pintu, matanya tajam memandang Jasmina dan Yoona yang terlihat enggan menerima kedatangannya. Ia tak bergeming meskipun ucapan mereka bernada kasar."Anda lagi?" sindir Yoona sambil melipat tangan di dada. "Apa di kepolisian tidak ada tugas lain selain terus mengganggu keluarga kami?"Daniel tetap tenang, meskipun jelas kesabarannya mulai diuji. "Aku hanya ingin memastikan, kalau Eliza baik-baik saja."Jasmina melangkah maju, tatapan matanya menusuk. "Eliza baik-baik saja! Kami merawatnya dengan sangat baik di rumah ini. Anda tidak perlu ikut campur urusan keluarga kami, Letnan.""Kalau memang begitu, kenapa saya tidak pernah bisa menghubunginya? Teleponnya mati, tidak ada kabar sama sekali. Ini bukan sikap orang yang baik-baik saja," balas Daniel tegas.Yoona mendengus sambil menatap Daniel dengan tatapan penuh amarah. "Eliza tidak ingin diganggu, apalagi oleh Anda! Anda pikir siapa diri Anda sampai bisa masuk dan mencampuri kehidupan pribadinya?"Daniel
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-24
Baca selengkapnya

Senyum kepalsuan.

bab 33 Senyum kepalsuan.Diego mendorong pintu kamar Eliza perlahan, matanya langsung tertuju pada istrinya yang terbaring diam. Wajahnya tampak tenang, seolah sedang tenggelam dalam tidur yang nyenyak. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang, dan memperhatikan Eliza dengan seksama."Dia masih tidur?" gumam Diego, mengusap lembut rambut Eliza.Jasmina yang berdiri di ambang pintu masuk perlahan. "Di masa pemulihan seperti ini, Eliza memang sering tidur. Itu wajar, Diego. Tubuhnya butuh waktu untuk kembali pulih."Diego menoleh ke arah Jasmina. "Mama sudah merawatnya dengan baik, kan? Aku benar-benar percaya sama Mama.""Tentu saja, Nak," Jasmina menjawab dengan senyum lembut, meskipun matanya menyiratkan sesuatu yang lain. "Eliza adalah menantuku. Aku pastikan dia mendapat perawatan terbaik."Diego mengangguk, membelai rambut Eliza sekali lagi. "Terima kasih, Ma. Kalau Mama tidak ada, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku keluar dulu, biar dia istirahat."Diego berdiri, berjalan menuju pintu
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-24
Baca selengkapnya

Kedatangan Miko.

Suasan malam di rumah Diego sedikit berbeda. Nampak sebuah mobil hitam di ikuti dua mobil lainnya terparkir di halaman. Dari dalam mobil, keluar seorang pria paruh baya dengan aura berwibawa, di ikuti seorang anak lelaki yang memegang tangannya erat."Mama! Papa!" teriak bocah itu dengan suara ceria.Yoona, yang berdiri di depan pintu, langsung tersenyum lebar. "Miko! Sayangku!" serunya sambil membuka tangan untuk memeluk putranya yang berlari ke arahnya.Yoona menggendong Miko dengan penuh kasih, lalu berjalan menghampiri pria itu. "Papa, akhirnya sampai juga," katanya Yoona.Pria mengangguk pelan, tatapannya tegas namun penuh wibawa. "Aku ingin memastikan Miko baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Yoona?""Aku baik, Papa. Terima kasih sudah mengantar Miko ke sini," jawab Yoona sambil tersenyum.Di sudut lain, Jasmina dan Casandra, yang mengintip dari balik tirai jendela, tampak terkejut. Casandra berbisik, "Bukankah itu Tuan Viktor? Ayahnya Yoona?"Jasmina mengangguk ragu. "Sepertinya
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-24
Baca selengkapnya

Usir Eliza.

Bab 36 Usir Eliza!Eliza semakin tak terkendali, tubuhnya gemetar penuh amarah, dan tatapannya tajam menusuk. Diego berdiri kaku di tempat, matanya memindai situasi dengan kebingungan yang nyata. Ini bukan Eliza yang dia kenal."Dia sudah gila!" seru Yoona sambil menunjuk wajah Eliza, suaranya melengking penuh kepanikan. "Dia sengaja melakukan ini untuk mengusirku dan Miko!" Yoona menatap Diego tajam, seolah menuntut pembelaan.Diego mengusap wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terdengar berat. "Yoona, aku... aku tidak tahu apa yang sedang terjadi," gumamnya hampir tak terdengar, matanya terpaku pada Eliza yang berdiri seperti singa terluka di tengah ruangan."Masukkan saja dia ke rumah sakit jiwa!" seru Casandra dengan nada penuh kepanikan, berdiri di sebelah Jasmina yang langsung mengangguk setuju."Benar, Diego," sambung Jasmina, nadanya dingin dan tegas. "Dia sudah tidak waras. Kau harus mengambil tindakan sebelum semuanya semakin buruk."Diego menggeleng, mencoba memproses sem
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-31
Baca selengkapnya

Kenangan.

Bagi Jasmina dan Casandra, Eliza sudah kehilangan akal sehat. Perilakunya yang tak terduga dan keberaniannya menentang mereka di luar dugaan. Setiap tindakan Eliza seolah mengguncang ketenangan mereka.Bagi Yoona, Eliza bukan lagi sekadar istri pertama Diego. Dia adalah ancaman besar yang bisa menghancurkan rencana yang sudah lama disusunnya. Setiap gerak Eliza membuat Yoona semakin gelisah.Sementara bagi Diego, Eliza bukan lagi sosok yang lemah dan penurut. Namun, Eliza sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Dia tidak lagi peduli pada peraturan atau ancaman dari Diego. Setiap hari, Eliza terus melawandJasmina, Casandra, dan Yoona. Mereka mencoba menekan dan menghancurkan mentalnya, namun Eliza tidak gentar. Dia melawan balik dengan keberanian yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ketika Jasmina menghinanya, Eliza membalas dengan kata-kata tajam. Ketika Casandra mencoba mengintimidasinya, Eliza berdiri teguh tanpa gentar.Dan ketika Yoona berusaha meny
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-31
Baca selengkapnya

Rindu mama

“Kenapa kau bawa wanita ini ke rumah?” Isabel menatap Renzo dengan tajam, suaranya penuh ketidaksetujuan.Renzo, yang sedang menuangkan air ke gelas, menghela napas panjang sebelum menjawab, “Dia pernah menolongku. Apa salahnya kalau aku membalas budi?”Isabel mendekat, melipat tangan di depan dada. “Tapi kau tidak tahu siapa dia, Renzo. Bisa saja dia penjahat atau orang yang akan membawa masalah.”Renzo menatap Isabel dengan tenang, namun dingin. “Kau terlalu banyak curiga. Kalau dia berbahaya, kenapa dia dibiarkan tergeletak di jalan? Aku hanya melakukan hal yang benar.”Isabel mendesah keras, tapi sebelum ia sempat menjawab, suara lembut memotong pembicaraan mereka.“Terima kasih,” ucap Eliza lemah, mencoba duduk di ranjang sambil meraba kepalanya yang sudah diperban.Renzo dan Isabel serentak menoleh. Eliza menatap Renzo dengan sorot mata yang sulit diartikan, antara rasa syukur dan sedikit kebingungan.“Seharusnya kau istirahat,” kata Renzo, mendekat sambil meletakkan gelas air d
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-31
Baca selengkapnya

Jangan pergi

"Mama mu tak pernah melarangmu makan coklat?" tanya Eliza, suaranya lembut namun penuh perhatian.Kelvin menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan polos, "Kata papa, mama sudah pergi ke surga."Eliza terdiam, hatinya terasa berdenyut sakit. Kata-kata Kelvin membangkitkan perasaan yang sulit diungkapkan, rasa kesedihan yang mendalam. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri."Bukankah yang bersama papamu itu mamamu?" tanya Eliza, suara sedikit gemetar.Kelvin menggeleng cepat, matanya serius dan tanpa ragu, "Itu tante Isabel, pacarnya papa!"Eliza tersenyum kecil, meski ada rasa haru yang menggenang di dalam hati. Tanpa berkata-kata lagi, dia meraih tubuh mungil Kelvin, menariknya dengan lembut dan duduk di pangkuannya. Eliza memeluknya erat, seolah memberikan kehangatan yang mungkin dibutuhkan oleh keduanya. Kelvin merasa nyaman dalam pelukan itu, tak berkata apa-apa, hanya menikmati kehangatan yang tiba-tiba ada di sekitarnya.Eliza menutup matanya, membiarkan momen itu me
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-12-31
Baca selengkapnya

Bicaralah sesuka hatimu.

Sementara di rumah, Diego yang sudah melaporkan hilangnya Eliza kepada pihak berwajib, merasa cemas. Di sisi lain, Yoona yang selama ini menunggu kesempatan, merasa lega karena duri dalam daging yang bernama Eliza akhirnya menghilang. Jasmina dan Casandra yang sebelumnya terlihat tegang, kini bisa bernapas lega. Mereka berpikir masalah mereka dengan Eliza telah selesai.Namun, suasana tenang itu tiba-tiba pecah. Pintu terbuka, dan Eliza berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak lelah, namun matanya menyiratkan tekad yang tak biasa. Diego yang melihatnya, langsung berdiri dengan wajah penuh kelegaan, tak percaya."Eliza... kau... masih hidup?" Diego bertanya dengan suara serak, antara syok dan lega, lalu segera melangkah maju dan memeluk Eliza dengan erat.Eliza tidak membalas pelukannya. Tubuhnya terasa kaku, namun tak ada ekspresi marah atau kesal. Ia hanya menatap kosong, mencoba mencerna kenyataan bahwa dirinya kembali ke tempat yang penuh dengan kebohongan ini."Aku khawatir, kau d
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-05
Baca selengkapnya

Jatuh ke kolam.

Hari berikutnya, sikap Eliza semakin tidak biasa. Hampir setiap hari ia pergi ke rumah Renzo, hanya untuk mengamati dari kejauhan. Ia bersembunyi di balik pagar atau semak-semak, matanya terus mengikuti setiap gerakan di rumah itu. Beberapa kali, dia bahkan diam-diam menemui Kelvin, berbicara dengannya saat Isabel atau Renzo tidak memperhatikan.Suatu sore, seperti biasa, Eliza berada di tempat persembunyiannya. Dari balik pagar, ia melihat Kelvin sedang bermain di dekat kolam renang yang luas di halaman samping rumah Renzo. Anak itu terlihat riang, tertawa kecil sambil berjalan mendekati kolam renang orang dewasa.Tak jauh dari situ, Isabel duduk di kursi malas. Tapi perhatian Isabel sepenuhnya tertuju pada ponselnya, jari-jarinya sibuk mengetik pesan. Sekali pun dia tidak melirik ke arah Kelvin.Eliza mengernyit, nalurinya mulai merasa cemas. "Kelvin... jangan terlalu dekat..." gumamnya lirih, tangannya mengepal. Jantungnya berdebar kencang saat melihat Kelvin berdiri di ujung kolam
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-05
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123456
...
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status